skrining hipokratik

of 24 /24
SKRINING HIPOKRATIK A. TUJUAN 1. Memahami dan terampil melakukan skrining farmakodinamik obat menggunakan teknik skrinning hipokratik. 2. Memahami dan mampu menganalisa hasil-hasil skrining farmakologi obat. B. LANDASAN TEORI Bahan alam yang digunakan sebagai obat telah digunakan masyarakat sejak zaman dahulu. Masyarakat pada zaman dahulu sudah memahami makna penting kesehatan, baik dari segi preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Pemakaian bahan alam hingga saat ini cenderung meningkat, terutama setelah kemajuan teknologi yang berkembang pesat. Permasalahan yang dihadapi adalah belum adanya pembuktian secara ilmiah tentang keamanan serta khasiat obat bahan alam tersebut yang dapat diaplikasikan secara klinis dalam penyembuhan segala macam penyakit. Bahan alam (terutama tumbuhan) merupakan keanekaragaman hayati yang masih sangat sedikit menjadi subjek penelitian ilmiah di Indonesia, padahal Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati terbesar didunia dengan lebih kurang 30.000 jenis tumbuh-tumbuhan serta biota lautnya. Dari sekian besar jumlah tersebut baru sekitar 940 species yang diketahui berkhasiat terapautik (mengobati) melalui penelitian ilmiah

Author: iswanpermadi

Post on 28-Dec-2015

43 views

Category:

Documents


17 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

SKRINING HIPOKRATIK

A. TUJUAN1. Memahami dan terampil melakukan skrining farmakodinamik obat menggunakan teknik skrinning hipokratik.2. Memahami dan mampu menganalisa hasil-hasil skrining farmakologi obat.

B. LANDASAN TEORIBahan alam yang digunakan sebagai obat telah digunakan masyarakat sejak zaman dahulu. Masyarakat pada zaman dahulu sudah memahami makna penting kesehatan, baik dari segi preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Pemakaian bahan alam hingga saat ini cenderung meningkat, terutama setelah kemajuan teknologi yang berkembang pesat. Permasalahan yang dihadapi adalah belum adanya pembuktian secara ilmiah tentang keamanan serta khasiat obat bahan alam tersebut yang dapat diaplikasikan secara klinis dalam penyembuhan segala macam penyakit.Bahan alam (terutama tumbuhan) merupakan keanekaragaman hayati yang masih sangat sedikit menjadi subjek penelitian ilmiah di Indonesia, padahal Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati terbesar didunia dengan lebih kurang 30.000 jenis tumbuh-tumbuhan serta biota lautnya. Dari sekian besar jumlah tersebut baru sekitar 940 species yang diketahui berkhasiat terapautik (mengobati) melalui penelitian ilmiah dan hanya sekitar 180 species diantaranya yang telah dimanfaatkan dalam temuan obat tradisional oleh industri obat tradisional Indonesia (DepKes, 2000). Hal ini disebabkan karena pemanfaatan tumbuhan di Indonesia untuk mengobati suatu penyakit biasanya hanya berdasarkan pengalaman empiris yang diwariskan secara turun temurun tanpa disertai data penunjang yang memenuhi persyaratan (Sirait, 2001). Skrining hipokratik adalah salah satu cara untuk menapis aktivitas suatu obat/bahan obat yang belum diketahui sebelumnya, baik yang berasal dari alam ataupun senyawa sintesis/semisintesis. Cara ini didasarkan atas bahwa obat bila berinteraksi dalam materi biologis dalam tubuh akan menghasilkan efek tertentu tergantung pada dosis yang diberikan. Penapisan farmakologi pendahuluan dilakukan menurut metode Malon Robichoud mengenai penapisan hipokratik yang dimodifikasi. Prinsipnya adalah melihat gejala-gejala yang timbul pada hewan percobaan setelah diberi suatu obat. Skrining ini dapat membedakan suatu obat/bahan yang berguna dan yang tidak berguna dengan cepat dan biaya yang relatif murah. Darinya akan dihasilkan profil farmakodinamik obat/bahan. Selain itu dapat diketahui efek farmakologi pada suatu obat yang belum diketahui sebelumnya, sehingga diperoleh perkiraan efek farmakologi berdasarkan pendekatan data parameter-parameter yang diketahui.Penelitian ini menggunakan metode penapisan hipokratik yang dipertajam dengan uji-uji spesifik diantaranya seperti uji viskositas, uji aktivitas motorik, uji perpanjangan waktu tidur, uji anti konvulsi dan uji efek hipotensi.Skrining/penapisan farmakologi adalah suatu metode untuk mengetahui aktivitas farmakologik suatu zat. Prinsipnya adalah melihat gejala-gejala yang timbul pada hewan setelah diberi zat uji.Penapisan atau skrining farmakologi dilakukan untuk mengetahui aktivitas farmakologi suatu zat yang belum diketahui efeknya. Hal ini dilakukan dengan melihat gejala-gejala yang timbul pada hewan coba setelah diberi zat uji. Prinsip dasar penapisan atau skrining farmakologi ini adalah mencari persen aktivitas yang terjadi pada setiap kelompok efek-efek tersebut, kemudian dapat ditarik kesimpulan berdasarkan persen aktivitas yang paling besar. Semakin besar persen aktivitas pada suatu efek maka zat atau obat uji semakin mempunyai kecenderungan berasal dari kelompok efek tersebut.Uji ini merupakan tahap awal penelitian farmakologi atau zat-zat yang belum diketahui efeknya serta untuk mengetahui apakah obat tersebut memiliki efek fisiologis atau tidak sehingga disebut sebagai penapisan hipokratik (penapisan awal). Penapisan ini masih merupakan prediksi.Sistem saraf terbagi menjadi susunan saraf pusat (otak dan sumsum tulang belakang). Serta susunan saraf perifer yang terdiri atas saraf motoris dan susunan saraf otonom.Farmakodinamik adalah cabang ilmu farmakologi yang mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat serta mekanisme kerjanya. Menurut teori pendudukan reseptor, intensitas efek obat berbanding lurus dengan fraksi reseptor yang diduduki atau diikatnya, dan intensitas efek mencapai maksimal bila seluruh reseptor diduduki oleh obat. Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor.1. ParasimpatomimetikParasimpatomimetika atau kolinergika adalah sekelompok zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan parasimpatis, karena melepaskan neurohormon asetilkolin diujung-ujung neuronnya. Efek-efek yang muncul setelah pemberian kolinergik adalah : Stimulasi pencernaan dengan jalan memperkuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah dan getah lambung (HCl), juga sekresi air mata, dll. Memperlambat sirkulasi, antara lain dengan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi, dan penurunan tekanan darah. Memperlambat pernapasan, antara lain dengan menciutkan bronchi, sedangkan sekresi dahak diperbesar. Kontraksi otot mata dengan efek penyempitan pupil (miosis) dan menurunnya tekanan intraokulere akibat lancarnya pengeluaran air mata. Kontraksi kandung kemih dan ureter dengan efek memperlancar pengeluaran urin. Dilatasi pembuluh dan kontraksi otot kerangka. Menekan ssp setelah pada permulaan menstimulasinya.2. SimpatomimetikSimpatomimetik atau adrenergik adalah zat-zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan stimulasi susunan sipaticus dan melepaskan noradrenalin di ujung-ujung sarafnya. Efek yang ditimbulkan adalah: Vasokontriksi otot polos dan menstimulasi sel-sel kelenjar dengan bertambahnya sekresi liur dan keringat. Menurunkan peristaltik usus. Memperkuat daya dan frekuensi kontraksi jantung. Bronkodilatasi dan stimulasi metabolisme glikogen dan lemak.3. SimpatolitikSimpatolitik atau adrenolitik adalah zat-zat yang melawan sebagian atau seluruh aktivitas susunan saraf simpatis. Efeknya melawan efek yang ditimbulkan oleh simpatomimetik.4. AnalgetikAnalgetik atau obat penghalang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran.5. VasodilatorVasodilator didefinisikan sebagai zat-zat yang berkhasiat melebarkan pembuluh darah secara langsung.6. VasokontriksorBerlawanan dengan vasodilator7. CNS ActivationZat yang dapat merangsang SSP. Efek yang ditimbulkan adalah: Konvulsi Meningkatkan laju pernapasan Aktivitas motorik meningkat Naiknya temperatur Rasa ingin tahu meningkat8. CNS DepressantZat yang dapat menekan SSP. Efek yang ditimbulkan berlawanan dengan CNS Activation.9. Muscle RelaxantEfek yang ditimbulkan mirip dengan CNS depressant.

Parameter yang diamati dalam faktor bobot :NOPARAMETERFAKTOR BOBOTKIRETERIA AKTIVITAS

1Kelopak mata turun1Pen. SSP/Smpl/Rel. Ot

2Bulu berdiri0,5Simm/Parasimm

3Ekor berdiri0,5Analg

4Bola mata menonjol1,5Simm

5Ekor/telinga memerah1Vasodilatasi

6Ekor/telinga pucat2Vasokontriksi

7Fasikulasi1Stim. SSP/Parasimm

8Tremor1STIM. SSP

9Aktivitas motorik menurun1Pen.SSP/Simpl/Rel. Ot

10Aktivitas motorik meningkat1Stim. SSP

11Respirasi meningkat2Stim. SSp

12Respirasi menurun2Pen. SSP/Rel. Ot

13Gerak berputar1Stim. SSP/Analg

14Ekor bergelombang1Stim. SSP

15Agresif1Stim. SSP

16Rasa ingin tahu meningkat1Stim. SSP

17Rasa ingin tahu menurun1Pen. SSP/Rel.Ot

18Refleks kornea hilang1Pen. SSp

19Refleks telinga hilang1Pen. SSP/Rel. Ot

20Refleks balik hilang1Pen SSP

21Salivasi2Pen SSP/Rel. Ot

22Lakrimasi meningkat0,5Parasimm

23Lakrimasi menurun2Simm

24Air mata berdarah1,5Parasimm

25Paralisa kaki1Pen. SSP/Rel. Ot

26Tremor1Stim. SSp

27Konvulsi1Stim. SSP/SIMM/SimL/Parasim

28Urinasi2Parasimm

29Diare1Parasimm

30Temperatur rektum meningkat2Stim. SSP/SIMM

31Temperatur rektum menurun1Pen. SSP/Siml/Parasimm

32Jatuh dari rotaroad1Pen. SSP/Rel.Ot

33Katalepsi1Pen. SSP

34Tonus tubuh menurun1,5Pen. SSP/Rel. Ot

35Tonus tubuh meningkat2Stim. SSP

36Reaksi plat panas menurun1Pen. SSP/Rel. Ot/Analg

37Reaksi jepit ekor menurun1Pen. SSP/Rel. Ot/Analg

38Menggeliat0,5Rel. Ot

39Pandangan tak lurus2Pen. SSP

40Pupil mengecil1,5Parasimm/Siml/Pen.SSP

41Pupil melebar0,5Simm/Parasiml/Analg

42Ekor naik0,5Analg

43Berat badan turun1,5

44Berat badan naik2

C. CARA KERJA1. Timbang hewan, tandai dan tentukan dosis yang akan diberikan.2. Amati parameter-parameter seperti yang tertera pada tabel 2 dan beri skor 1 atau 0 untuk respon kualitatif dan 1, 2, 3 untuk respon kuantitatif3. Gunakan alat yang tersedia untuk mendeteksi gejala tertentu seperti :a. Tonus otot melalui kemampuan hewan memegang jaring atau bergelantung pada alat gelatungb. Laju pernafasan dihitung persatuan waktu memakai stopwatchc. Reaksi jepit ekor menggunakan pinsetd. Reaksi plat panas menggunakan hotplatee. Temperatur tubuh menggunakan thermometer4. Setelah semua parameter teramati (pada keadaan belum diberi obat=kontrol) injeksi masing-masing hewan pada dosis yang telah ditentukan secara intraperitonial5. Amati semua parameter diatas pada waktu 5,10,15, 30, dan 60 menit setelah penyuntikan obat.6. Evaluasi hasil yang didapatkan.a. Kumpulkan nilai menurut bobot untuk masing-masing parameter sesuai dengan dosis.b. Lakukan hal yang sma untuk semua parameter lain.c. Hitung skor total dengan mengalikan skor dengan faktor bobot untuk masing-masing parameter pada setiap dosis dan bandingkan dengan skor maksimum.d. Kumpulkan nilai parameter-parameter yang relevan untuk aktifitas tertentu, misalnya untuk aktivitas sistem saraf pusat.e. Rangking % respon aktivitas yang didapat menurut dosis dan kategori aktivitas.f. Bahas dan buat beberapa kemungkinan yang terjadi.

D. HASIL PRAKTIKUM

Tanggal:4 April 2014Hewan:MencitBB:22 gramDosis:1 g/kgVAO:0,22 mlKonsentrasi:100 mg/ml

ParameterNilai (1-3) atau terukur pada waktu

K 510153060

Kelopak mata turun010011

Bulu berdiri000000

Ekor berdiri000000

Bola mata menonjol000000

Ekor/telinga memerah010000

Ekor/telinga pucat000000

Fasikulasi000000

Tremor010000

Aktivitas motorik menurun000110

Aktivitas motorik meningkat011000

Respirasi meningkat022200

Respirasi menurun000022

Gerak berputar000000

Ekor bergelombang000000

Agresif000000

Rasa ingin tahu meningkat000110

Rasa ingin tahu menurun011000

Refleks kornea hilang000000

Refleks telinga hilang000000

Refleks balik hilang000000

Salivasi000000

Lakrimasi meningkat000000

Lakrimasi menurun000000

Air mata berdarah000000

Paralisa kaki000000

Tremor010000

Konvulsi000000

Urinasi000000

Diare000000

Temperatur rektum meningkat3900011

Temperatur rektum menurun3911100

Jatuh dari rotaroad3800002

Katalepsi000000

Tonus tubuh menurun000000

Tonus tubuh meningkat000000

Reaksi plat panas menurun011001

Reaksi jepit ekor menurun000111

Menggeliat000000

Pandangan tak lurus000000

Pupil mengecil01,50000

Pupil melebar000000

Ekor naik000000

Berat badan turun2200000

Berat badan naik2200000

1. SimpatolitikParameterSkor TotalJumlahSkor MaxJumlah

Kelopak mata 3 x 135 x 1 x 15

Aktivitas motorik 2 x 125 x 1 x 15

Konvulsi0 x 105 x 0 x 1

Temperature rectum 3 x 135 x 1 x 15

Jumlah815

2. Aktivitas penekan sistem saraf pusatParameterSkor TotalJumlahSkor MaxJumlah

Kelopak mata 3 x 135 x 1 x 15

Aktivitas motorik 2 x 125 x 1 x 15

Respirasi 4 x 2 85 x 2 x 220

Rasa ingin tahu 2 x 125 x 1 x 15

Reflex kornea hilang0 x 105 x 0 x 10

Reflex telinga hilang0 x 105 x 0 x 10

Reflex balik hilang0 x 105 x 0 x 10

Paralisa kaki0 x 105 x 0 x 10

Temperatur rectum 3 x 135 x 1 x 15

Jatuh dari rotaroad2 x 125 x 2 x 110

Katalepsi0 x 105 x 0 x 10

Tonus tubuh 0 x 1,505 x 0 x 1,50

Reaksi jepit ekor 3 x 135 x 1 x 15

Pandangan tak lurus0 x 205 x 0 x 20

Jumlah 2355

3. Relaksasi OtotParameterSkor TotalJumlahSkor MaxJumlah

Kelopak mata 3 x 135 x 1 x 15

Aktivitas motorik 2 x 125 x 1 x 15

Respirasi 4 x 2 85 x 2 x 220

Rasa ingin tahu 2 x 125 x 1 x 15

Reflex telinga hilang0 x 105 x 0 x 10

Paralisa kaki0 x 105 x 0 x 10

Jatuh dari rotaroad2 x 125 x 2 x 110

Tonus tubuh 0 x 1,505 x 0 x 1,50

Reaksi jepit ekor 3 x 135 x 1 x 15

Menggeliat0 x 0,505 x 0 x 20

Jumlah 2050

4. SimpatomimetikParameterSkor TotalJumlahSkor MaxJumlah

Bola mata menonjol0 x 1,505 x 0 x 1,50

Lakrimasi 0 x 205 x 0 x 20

Konvulsi0 x 105 x 0 x 10

Temperatur rectum 2 x 245 x 2 x 220

Jumlah420

5. ParasimpatomimetikParameterSkor TotalJumlahSkor MaxJumlah

Bulu berdiri0 x 0,505 x 0 x 0,50

Fasikulasi0 x 105 x 0 x 10

Salivasi0 x 2 05 x 0 x 20

Lakrimasi 0 x 0,505 x 0 x 0,50

Air mata berdarah0 x 1,505 x 0 x 1,50

Konvulsi0 x 105 x 0 x 10

Urinasi0 x 205 x 0 x 20

Diare0 x 105 x 0 x 10

Temperatur rectum 3 x 135 x 1 x 15

Jumlah 35

6. AnalgetikParameterSkor TotalJumlahSkor MaxJumlah

Ekor berdiri0 x 0,505 x 0 x 0,50

Gerak berputar0 x 105 x 0 x 10

Reaksi jepit ekor 3 x 135 x 1 x 15

Jumlah35

7. VasokontriksiParameterSkor TotalJumlahSkor MaxJumlah

Ekor/telinga pucat0 x 105 x 0 x 10

Jumlah00

8. VasodilatasiParameterSkor TotalJumlahSkor MaxJumlah

Ekor/telinga memerah1 x 115 x 1 x 15

Jumlah15

9. Stimulasi sistem saraf pusatParameterSkor TotalJumlahSkor MaxJumlah

Fasikulasi0 x 105 x 0 x 10

Tremor1 x 115 x 1 x 15

Aktivitas motorik 2 x 125 x 1 x 15

Respirasi 6 x 2125 x 2 x 220

Gerak berputar0 x 105 x 0 x 10

Ekor bergelombang0 x 105 x 0 x10

Agresif0 x 105 x 0 x 10

Rasa ingin tahu 2 x 125 x 1 x 15

Konvulsi0 x 105 x 0 x 10

Temperatur rectum 2 x 245 x 2 x 220

Tonus tubuh0 x 1,505 x 0 x 1,50

Jumlah 2150

10. ParasimpatolitikParameterSkor TotalJumlahSkor MaxJumlah

Pupil mata melebar0 x 0,505 x 0 x 0,50

Jumlah00

Perhitungan % aktivitas

1. 2. Aktivitas penekan sistem saraf pusat = 41,8%

3. Simpatolitik = 53,3%4. Relaksasi otot = 40%5. Simpatomimetik = 20%6. Parasimpatomimetik = 60%7. Analgetik = 60%8. Vasodilatasi = 20%9. Vasokontriksi = 0%10. Stimulasi sistem saraf pusat = 42%11. Parasimpatolitik = 0%

E. PEMBAHASANPada dasarnya, percobaan skrining hipokratik ini dilakukan untuk mengetahui atau menapis aktivitas suatu obat atau bahan yang belum diketahui sebelumnya baik yang berasal dari bahan alami maupun senyawa sintesis atau semisintesis. Hal itu disebut dengan skrining hipokratik. Obat yang diberikan belum diketahui aktifitas maupun golongan senyawa tersebut. Oleh karena itu, pada percobaan skrining hipokratik ini digunakan hewan uji yaitu berupa mencit. Mencit selanjutnya disuntikkan obat secara intraperitonial dengan dosis 1 g/kg BB dan konsentrasi obat sebesar 100 mg/ml. Kemudian setelah itu mencit diamati berdasarkan parameter fisiologis yang terjadi pada menit ke-5, 10, 15, 30, dan 60.Pada data pengamatan berdasarkan persentase, efek yang paling besar adalah parasimpatomimetik (60%) dan analgetik (60%). Efek-efek lainnya terjadi dengan persentase bervariasi, antara lain stimulasi sistem saraf pusat (42%), aktifitas penekan sistem saraf pusat (41,8%), simpatolitik (53,3%), relaksasi otot (40%), simpatomimetik (20%), dan vasodilatasi (20%).Berdasarkan parameter-parameter yang diamati pada percobaan, obat yang disuntikkan merupakan golongan parasimpatomimetik dan analgetik.Analgetika atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghasilkan kesadaran. Nyeri adalah gejala penyakit atau fungsi saraf pusat secara selektif, digunakan untuk mengurangi rasa sakit tanpa mempengaruhi kesadaran. Analgesik bekerja dengan meningkatkan nilai ambang persepsi rasa sakit. Berdasarkan mekanisme kerja pada tingkat molekul, analgetika dibagi menjadi analgetik narkotik dan analgetik non narkotik. Ketidakakuratan hasil yang diperoleh mungkin saja terjadi dalam percobaan ini dikarenakan kesalahan-kesalahan yang terjadi, mungkin disebabkan karena pengamatan dari efek terapi mencit yang subjektif, masih terlalu susah untuk menentukan apakah terjadi perubahan signifikan pada mencit.

F. KESIMPULAN Skrining hipokratik adalah salah satu cara untuk menapis aktivitas suatu obat/bahan yang belum diketahui sebelumnya baik yang berasal darri bahan alami maupun sintesis atau semisintesis. Berdasarkan parameter yang diamati pada percobaan. Obat yang disuntikkan merupakan golongan parasimpatomimetik dan golongan analgetik sebesar 60%. Efek-efek lainnya terjadi dengan persentase bervariasi, antara lain stimulasi sistem saraf pusat (42%), aktifitas penekan sistem saraf pusat (41,8%), simpatolitik (53,3%), relaksasi otot (40%), simpatomimetik (20%), dan vasodilatasi (20%). Faktor yang mempengaruhi hasil eksperimen dalam hal ini kondisi mencit yaitu keadaan kandang, suasana kandang baru yang asing, pengamatan hewan dalam kandang, dan keadaan ruangan tempat hidup hewan percobaan (cuaca) dan juga faktor lainnya seperti kesalahan yang mungkin dilakukan oleh praktikan.

PEMBAHASAN SOAL

1. Apa beda skrining buta dan skrining spesifik?Jawab :Skrining buta adalah program skrining terhadap senyawa baru yang tidak diketahui aktivitas farmakologinya. Sedangkan skrining spesifik adalah program skrining yang dilakukan pada senyawa yang telah dapat diperkirakan khasiatnya.

2. Apa kelebihan metode skrining hipokratik dibandingkan dengan skrining spesifik? Apa pula kelemahannya?Jawab :Kelebihan :a. Caranya sederhana dan peralatan yang digunakan relative mudah.b. Aktivitas bahan/obat yang diuji dapat diketahui dengan cepat.Kekurangan :a. Dalam pengamatannya sedikit rumit karena waktu pengamatan membutuhkan waktu yang singkat (5 menit) sedangkan parameter yang diamati banyak.

3. Apakah toksisitas bahan obat dapat diramalkan menggunakan cara skrining ini?Jawab :Bisa. Karena dari skrining hipokratik ini diperoleh seberapa besar aktivitas dari berbagai kriteria yang diamati. Bila pada skrining hipokratik ini pada dosis yang besar dapat memberikan efek yang sangat berlebihan, maka bisa dinyatakan berefek toksik.

4. Jelaskan tahap-tahap penelitian yang harus dilalui untuk suatu obat baru agar dapat digunakan secara klinis?Jawab :Pengembangan dan penilaian obat ini meliputi 2 tahap uji :1. Uji praklinika. Uji farmakodinamikb. Uji farmakokinetikc. Uji toksikologid. Uji farmasetika2. Uji klinika. Uji klinik fase I. Merupakan pengujian suatu obat baru untuk pertama kalinya pada manusiab. Uji klinik fase II. Dicobakan pada pasien sakitc. Uji klinik fase III. Pada manusia sakit, ada kelompok kontrol dan kelompok pembanding.d. Uji klinik fase IV. Uji terhadap obat yang telah dipasarkan.

5. Jelaskan hubungan parameter-parameter yang diamati dengan jenis aktivitas-aktivitas yang ditentukan.Jawab : Piloerection atau bulu mencit berdiri menunjukkan adanya kompensasi temperatur yang rendah atau aktivitas simpatomimetik. Skin colour atau warna kulit khususnya daun telinga, bila berubah dari merah muda menjadi merah maka menunjukkan adanya vasodilatasi akibat pengaruh simpatolitik. Warna putih menunjukkan vasokontriksi pengaruh simpatomimetik. Heart rate atau detak jantung dapat dipercepat oleh aktivitas parasimpatomimetik dan dapat diperlambat oleh depresan pernafasan dan SSP, khususnya pada dosis tinggi. Ukuran pupil dibandingkan antara sebelum dan sesudah diberi obat. Pelebaran pupil menandakan bahwa hewan terpengaruh oleh obat parasimpatolitik atau simpatomimetik.

DAFTAR PUSTAKA

Nurmeilis, dkk. 2009. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program Studi Farmasi FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Katzung, Bertram G, (2004), Basic & clinical pharmacology, 9th Edition, Lange Medical Books/Mcgraw-Hill: New York, Hal : 6, 152 (e-book version of the text). Tan, Hoan Tjay dan Kirana Rahardja. 2003. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia Woodley, Michele. 1995. Pedoman Pengobatan. Yogyakarta.