Sindrom Down

Download Sindrom Down

Post on 08-Aug-2015

89 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Skenario A Blok 4 Hanny Michael (40 tahun) dan Rossy (38 tahun) merasa ada yang ganjil pada fisik anak pertamanya, Hanny yang berhidung datar/Flattened nose, berjidat sempit, berleher pendek dan lebar, telinga kecil dan mulut terbuka dengan macroglossia disertai jarak kedua mata berjauhan. Celakanya lagi, meski telah berusia 3 tahun, penampilan fiisk anaknya tidak sebaik dan sepintar teman sebayanya baik dalam perilaku maupun bertutur kata. Belum pernah ada yang mempunyai anak berpenampilan fisik seperti itu di keluarga mereka. Pernah mengalami abortus tahun lalu, membuat Rossy cemas dan khawatir akan memperoleh anak lagi. Dengan kondisi Hanny yang tidak normal ini, mereka bersepakat untuk menambah satu anak lagi yang tentu saja tanpa cacat. Saudara diminta unutk memberikan penjelasan kelainan yang diderita Hnny dan langkahlangkah apa saja yang mereka lakukan untuk mendapatkan anak normal.

I.

Klarifikasi Istilah 1. Macroglossia = ukuran lidah yang besar (tidak normal/lidah yang menjulur keluar. 2. Hidung datar = oss nasal yang sejajar dengan ozygomatis. 3. Abortus = fetus yang mati/non viabel (beratnya kurnag dari 500 gr ketika lahir). 4. Cacat = keadaan yang tidak normal.

II. Identifikasi Masalah 1. Hanny yang berhidung datar/Flattened nose, berjidat sempit, berleher pendek dan lebar, telinga kecil dan mulut terbuka dengan macroglossia disertai jarak kedua mata berjauhan. 2. Meski telah berusia 3 tahun, penampilan fiisk anaknya tidak sebaik dan sepintar teman sebayanya baik dalam perilaku maupun bertutur kata. 3. Belum pernah ada yang mempunyai anak berpenampilan fisik seperti itu di keluarga mereka. 4. Pernah mengalami abortus tahun lalu, membuat Rossy cemas dan khawatir akan memperoleh anak lagi. 5. Dengan kondisi Hanny yang tidak normal, mereka bersepakat untuk menambah satu anak lagi yang tentu saja tanpa cacat.

1

III. Analisis Masalah 1. Identifikasi Masalah I a. Apa saja kemungkinan penyakit yang ditandai dengan kelainan-kelainan berhidung datar/Flattened nose, berjidat sempit, berleher pendek dan lebar, telinga kecil dan mulut terbuka dengan macroglossia disertai jarak kedua mata berjauhan? Gejala-gejala fisik yang dipaparkan di atas spesifik dengan suatu kelainan genetik yang dikenal sebagai Sindrom Down. Penderita kelainan ini dengan mudah dapat dilihat yaitu wajah yang khas dengan mata sipit yang membujur keatas, jarak kedua mata yang berjauhan dengan jembatan hidung yang rata, hidung yang kecil, mulut kecil dengan lidah yang besar sehingga cenderung dijulurkan dan telinga letak rendah. Tangan dengan telapak yang pendek dan mempunyai rajah telapak tangan yang melintang lurus (horisontal/ tidak membentuk huruf M), jari pendek-pendek, jari ke 5 sangat pendek hanya mempunyai 2 ruas dan cenderung melengkung (clinodactily). Tubuh umumnya pendek dan cenderung gemuk.

b. Michel (40 tahun) dengan Rossy (38 tahun) mempunyai ank pertama bernama Hanny yang mempunyai kelainan . Apa penyebab penyakitnya? Secara umum, Syndrome Down dapat disebabkan oleh 3 hal. 1. Nondisjunction Nondisjunction adalah kegagalan dua kromosom homolog untuk memisahkan sel-sel yang membelah selama divisi meiosis. Nondisjunction dapat terjadi pada meiosis I dan II atau selama mitosis (Mujosemedi, 2008), namun kemungkinan terjadinya pada waktu meiosis I 3x lebih besar dari pada waktu meiosis II. Terjadinya nondisjunction dapat dilihat pada gambar 3.

2

Banyak kesalahan dapat terjadi selama pembelahan sel. Pada meiosis, pasang kromosom yang seharusnya untuk berpisah dan pergi ke tempat yang berbeda dalam sel membagi, peristiwa ini disebut "disjungsi". Namun, kadang-kadang salah satu pasangan tidak membagi, dan seluruh pasangan pergi ke satu tempat. Ini berarti bahwa dalam sel-sel yang dihasilkan, seseorang akan memiliki 24 kromosom dan yang lain akan memiliki 22 kromosom. Kecelakaan ini disebut "nondisjunction. Jika sperma atau sel telur dengan jumlah abnormal

kromosom menyatu dengan pasangan normal, sel telur dibuahi yang dihasilkan akan memiliki jumlah abnormal kromosom. Pada sindrom Down, 95% dari semua kasus disebabkan oleh acara ini: satu sel memiliki dua kromosom 21, bukan satu, sehingga telur yang dibuahi yang dihasilkan memiliki tiga kromosom 21. Oleh karena itu nama ilmiah, trisomi 21. Penelitian terbaru telah menunjukkan bahwa dalam kasus ini, sekitar 90% dari sel-sel abnormal telur. Penyebab kesalahan nondisjunction tidak diketahui, tetapi pasti ada kaitannya dengan usia ibu. Penelitian saat ini bertujuan untuk mencoba untuk menentukan penyebab dan waktu acara nondisjunction. Adapun penyebab terjadinya nondisjunction sampai saat ini belum diketahui secarapasti, namun beberapa pakar berpendapat bahwa, nondisjunction ini disebabkan karena: a. Production line Hypothesis: Pada hipotesis ini oosit matur pada usia dewasa identik dengan oogonia yang memasuki fase meiosis pada saat fetal. Oogonia yang memasuki tahap meiosis lebih lama memungkinkan untuk mengalami kecacatan pada saat pembentukan kiasma. Hal ini menyebabkan

kemungkinan terjadinya nondisjunction.6 Dalam penelitian ini juga3

ditemukan frekuensi abortus pada Ibu terdapat pada 3 kasus. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa sekitar 80% dari kehamilan dengan trisomi 21 berakhir dengan abortus spontan dan bayi lahir mati, kira kira 2% dari abortus spontan dan 1% dari bayi lahir mati kemungkinan adalah trisomi 21. b. Limited oocyte pool model: Pada hipotesis ini, jumlah dari folikel akan menurun seiring dengan kenaikan usia ibu. Ketika jumlah folikel rendah , hal ini memungkinkan oosit yang tidak berada dalam kondisi optimal akan mengalami ovulasi. c. Abberant Recombination : Pada penelitian terdapat asosiasi antara usia ibu dan perubahan rekombinasi genetik yang merupakan dua faktor risiko penting dalam nondisjunction kromosom 21. Perubahan pola dari rekombinasi genetik ini terlihat pada nondisjunction wanita usia muda. Rekombinasi kromosom 21 (pada telomere ketiga atau pericentromer region) rupanya memberikan ketidakstabilan meiosis dibandingkan dengan

perpindahan pada pertengahan kromosom. Pada penelitian terbaru ditemukan bahwa sexual intercourse yang terlalu cepat atau terlalu lama setelah terjadinya ovulasi meningkatkan risiko kelahiran anak dengan Sindrom Down.

2. Translokasi Translokasi adalah peristiwa terjadinya perubahan struktur kromosom,

disebabkan karena statu potongna kromosom bersambungan dengan potongan kromosom lain yang bukan homolognya (Suryo, 2008). Pada kasus Down Syndrome, biasanya diperoleh dari kromosom ibu yang terdapat translokasi sedangkan ayah normal. Kromosom tersebut nampak berjumlah 46 kromosom, padahal kromosom yang seharusnya terdapat pada kromosom 21 menempel pada kromosom lain (biasanya 14 atau 15). Translokasi Robertsonian Translokasi adalah peristiwa terjadinya perubahan struktur kromosom, disebabkan karena suatu potongan kromosom bersambung dengan potongan kromosom lainnya yang bukan homolognya. Pada sindrom down translokasi, lengan panjang dari autosom nomor 21 melekat pada autosom lain, kadang kadang dengan autosom nomor 15, tetapi yang lebih sering

4

dengan autosom nomor 14. Dengan demikian individu yang menderita sindroma Down translokasi memiliki 46 kromosom. 3. Mosaicisme Sisa kasus trisomi 21 adalah karena mosaicism. Orang-orang ini memiliki campuran garis sel, beberapa di antaranya memiliki satu set kromosom normal dan lainnya yang memiliki trisomi 21. Dalam mosaicism seluler, campuran ini terlihat dalam sel yang berbeda dari jenis yang sama. Dalam mosaicism jaringan, satu set sel, seperti semua sel darah, mungkin memiliki kromosom normal, dan jenis lain, seperti semua sel-sel kulit, mungkin memiliki trisomi 21.

c. Apa hubungan usia orang tua terhadap kelainan yang ditunjukan pada anak mereka? Hingga saat ini, diketahui adanya hubungan antara usia sang ibu ketika mengandung dengan kondisi bayi. Yaitu semakin tua usia ibu, maka semakin tinggi pula risiko melahirkan anak dengan down syndrome (Monks, Knoers, Haditono, 50-1). Apabila umur ibu di atas 35 tahun, diperkirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan terjadinya disjunction pada kromosom. perubahan endokrin, seperti menurunnya kadar peningkatan tajam kadar LH dan FSH secara tiba-tiba saat mendekati menopause. Selain itu, hal ini ada hubungannya dengan prosuksi tel telur ibu. Sel telur wanita telah dibentuk pada saat wanita tersebut masih dalam kandungan yang akan dimatangkan satu per satu setiap bulan pada saat wanita tersebut akil balik. Karena itu, pada saat wanita menjadi tua, kondisi sel telur tersebut kadang-kadang menjadi kurang baik dan pada waktu dibuahi oleh sel telur laki-laki, sel benih ini mengalami pembelahan yang kurang sempurna. Faktor resiko tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut : o Ibu berusia di atas 35 tahun memiliki kecenderungan mendapatkan anak dengan kelainan genetik down syndrome. Resiko ini meningkat sesuai dengan meningkatnya usia saat hamil. o Ayah yang berusia lebih dari 40 tahun bila beristrikan wanita berusia lebih dari 35 tahun memiliki resiko 2 kali lipat dibanding biasanya. Akan tetapi bila

5

wanita berada di bawah usia 35 tahun, usia ayah tidak berpengaruh walaupun Down syndrome tetap dapat terjadi. o Dengan usia ibu 35 tahun, risikonya adalah 1 dalam 385. o Dengan usia ibu 40 tahun, risikonya adalah 1 dalam 106. o Dengan usia ibu 45 tahun, risikonya adalah 1 dalam 30.

d. Bagaimana patofisiologi kelainan fisik tersebut?

2. Identifikasi MasaIah II a. Bagaimana hubungan penyakit yang diderita Hanny dengan perkembangan mental dan kecerdasan? Kelainan fisik dan mental yang dialami oleh Hanny menunjukan bahwa Hanny menderita Syndrome Down. Anak yang menderita Sindrom Down mempunyai jumlah kromosom 21 yang berlebih ( 3 kromosom ) di dalam tubuhnya. Adanya kelebihan kromosom menyebabkan perubahan dalam proses normal yang mengatur embriogenesis. Materi genetik yang