serambi rumah dan hotel di hindia-belanda dalam konsep ... serambi rumah dan hotel di hindia-belanda

Download Serambi Rumah dan Hotel di Hindia-Belanda dalam Konsep ... Serambi Rumah dan Hotel di Hindia-Belanda

Post on 21-Apr-2019

217 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Serambi Rumah dan Hotel di Hindia-Belanda

dalam Konsep Denotasi dan Konotasi Roland Barthes

Achmad Sunjayadi

Pendahuluan

Serambi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) merupakan beranda atau selasar

yang agak panjang, bersambung dengan induk rumah. Biasanya terletak lebih rendah daripada

induk rumah. Sedangkan beranda merupakan ruang beratap terbuka yang tidak berdinding di

bagian samping atau depan rumah, biasanya dipakai untuk tempat duduk santai sambil makan

angin.

Kata beranda berasal dari veranda atau verandah yang diambil dari bahasa Portugis

varanda. Secara etimologi kata ini diperkenalkan dari India yang merupakan kombinasi antara

kata bahar yang berarti di luar dan andar yang artinya di dalam. Bentuk kombinasi bahar-andar

atau baharanda mengalami proses anglisasi menjadi veranda yang berarti sebuah ruangan baik

di dalam maupun di luar.

Serambi merupakan bagian dari bangunan di Hindia-Belanda yang mendapatkan

pengaruh budaya. Dalam perkembangannya serambi di rumah-rumah di Hindia-Belanda pada

awalnya memiliki fungsi tertentu yang sifatnya domestik. Kelak, serambi juga digunakan oleh

hotel-hotel sebagai salah satu fasilitas yang dinikmati oleh publik.

Dalam artikel ini dibahas perkembangan fungsi dan berbagai kegiatan di serambi dari

masa VOC hingga Hindia-Belanda berdasarkan pengaruh budaya Indis terhadap fungsi bangunan

yang dikaitkan dengan konsep denotasi dan konotasi Roland Barthes dengan menitikberatkan

pada fungsi pada salah satu bagian bangunan rumah yaitu serambi.

Makna serambi atau beranda rumah di Hindia-Belanda berdasarkan konsep denotasi dan

konotasi Roland Barthes

Pada awalnya (sekitar abad 17) bentuk rumah-rumah yang dibangun dan ditinggali oleh orang-

orang Belanda di Hindia-Belanda serupa dengan rumah-rumah di Belanda. Terutama rumah-

rumah yang berada dalam benteng di Batavia, maupun di kota-kota lainnya. Bangunan rumah

tersebut berupa bangunan berlantai satu atau dua dengan dinding samping yang menempel

dengan bangunan di sebelahnya.

Pada masa itu di Batavia ada peraturan bangunan yang mewajibkan penggunaan bata

untuk bangunan di dalam kota karena bahaya kebakaran (Blackburn 2011: 23). Rumah-rumah

yang terbuat dari batu tersebut tidak semua memiliki serambi. Apabila kita melihat denah rumah

di dalam kastil Batavia sekitar 1698 (gambar 1) dan foto rumah di Spinhuisgracht Batavia

(sekarang Jalan Petak Asem dan Tiang Bendera II) terlihat tidak adanya serambi (gambar 2).

Gambar 1. Denah dua rumah untuk Opperkoopman di Kastil Batavia sekitar 1698 ( sumber:

www.atlasmutualheritage.nl)

Bila melihat denah rumah di atas yang berbentuk segi empat, mengacu pada McLuhan

(1994 [1964]), dapat dikatakan merupakan rumah pada masyarakat modern karena masyarakat

modern adalah masyarakat yang stabil, berbeda dengan masyarakat nomaden (Dant 1999: 62).

Gambar 2. Rumah Oud Hollands di Spinhuisgracht Batavia sekitar 1920-an (Koleksi KITLV)

Tidak banyak rumah batu pada masa VOC yang memiliki serambi. Apalagi jika rumah

tersebut tidak memiliki halaman. Namun, apabila sebuah rumah memiliki serambi maka tempat

itu merupakan tempat yang paling digemari oleh penduduk Batavia pada masa VOC. Di tempat

inilah kebanyakan warga Eropa maupun penduduk pribumi bersantai, melewatkan waktu

senggang mereka. Apalagi orang Eropa menyukai area terbuka di depan rumah. Demikian pula

halnya dengan para mardijker, warga etnis Asia lain serta para pelancong yang baru tiba dengan

kapal (Soekiman 2000:141; Niemeijer 2005: 168; Blackburn 2011:23).

Menurut Niemeijer kata serambi lebih sering muncul dalam dokumen-dokumen notaris

dibandingkan veranda (beranda). Hal ini mungkin disebabkan karena penamaan yang lebih

baru (Niemeijer 2005:375). Sementara itu Mingaars (2005:612) memberikan gambaran

serambi/beranda sebagai berikut:

Rumah-rumah kuno Indis biasanya memiliki atap yang ditopang dengan pilar-pilar. Bagian

beratap antara pilar dan dinding disebut serambi depan, serambi samping dan belakang. Luasnya

tergantung dari rumahnya tetapi setiap rumah memiliki sebuah serambi depan. Bagian ini

merupakan tempat orang di kursi malas, berlindung dari matahari, menerima tamu.

Aktivitas yang dilakukan orang di serambi adalah duduk-duduk santai sambil mengobrol

berbagai hal dan persoalan, memperbincangkan beraneka peristiwa atau menggunjingkan

berbagai kelakuan orang dan sahabat. Mereka yang berjalan-jalan di Batavia pada malam hari

pada masa itu, pasti melewati sejumlah serambi yang penuh sesak dengan orang yang sibuk

berceloteh (Niemeijer 2005:168 ). Seperti pengalaman Joan Bitter yang baru datang dari Belanda

pada 1675. Pada suatu malam tahun 1683 ia berkesempatan pergi menjenguk anak-anaknya di

malam hari, dia harus melewati begitu banyak orang yang duduk atau berseliweran di serambi

dan jalan (Blusse 1997 : 160)

Pada masa VOC serambi merupakan pos ronda ideal, lokasi yang strategis untuk tempat

pengamatan karena selain letaknya yang bersinggungan langsung dengan derap kehidupan di

jalan umum juga membatasi ranah kehidupan pribadi. Serambi juga merupakan tempat untuk

dapat duduk santai di luar, apalagi rumah-rumah batu pada masa itu letaknya in de rij (berderet)

dan tidak memiliki halaman (lihat gbr. 2). Sehingga tempat masuk utama ke dalam rumah-rumah

Batavia melalui serambi yang biasanya merupakan emperan sempit memanjang, sambung

menyambung di depan dereten rumah. Biasanya di atas emperan dibuat atap sederhana yang

ditopang tiang-tiang kayu dan ada juga yang dilengkapi dengan pagar kayu sederhana. Emperan

yang agak besar dengan mudah menjadi serambi depan rumah (voorgalerij) yang cukup luas

untuk menampung orang banyak (Soekiman 2000:141; Niemeijer 2005:168)

Serambi yang agak sempit pun dapat dijadikan tempat untuk bercengkrama. Para pria

asyik mengisap pipa, menenggak arak atau segelas anggur dari Tanjung Harapan. Sedangkan

para wanita sibuk menikmati teh sambil mencicipi kue-kue kering lalu mengunyah sirih dan

pinang untuk menyegarkan mulut (Niemeijer 2005:169)

Untuk serambi yang agak luas (besar) biasanya menjadi tempat duduk untuk para tamu

karena mengacu kepada kebiasaan di Timur, para tamu jarang sekali diperbolehkan masuk ke

dalam rumah. F de Haan dalam Oud Batavia (1922) mengatakan bahwa serambi dengan berbagai

kegiatannya berasal dari gaya hidup khas Holland (Belanda).

Memang pembagian ruang di banyak rumah, khususnya di Batavia mungkin merupakan

ciri khas Belanda tetapi serambi beserta berbagai aktivitasnya merupakan ciri khas Asia. Di

kebanyakan rumah warga Cina juga ada serambi yang juga berfungsi sebagai tempat bersantai.

Dalam daftar warisan warga Cina ditemukan pula barang-barang yang lazim dipakai untuk

menghias serambi seperti kandang burung, aneka guci dan bangku-bangku bambu (Niemeijer

2005:169).

Barang-barang lainnya yang juga menghiasi serambi rumah-rumah warga Cina adalah

lukisan, lampu gantung, hiasan dinding (lihat gambar 3). Barang-barang yang masuk dalam

daftar warisan tersebut menurut Kopytoff (1986) memiliki biografi. Barang-barang yang masuk

daftar warisan tersebut mungkin saja berasal dari nenek moyang mereka di daratan Cina yang

awalnya memiliki fungsi sebagai perabot rumah tangga biasa (bangku, guci) lalu benda-benda itu

dibawa ke Nusantara menjadi benda yang diwariskan turun-menurun dan sangat bernilai serta

memiliki makna bagi keluarga tersebut. Sehingga dapat dikatakan tidak hanya manusia yang

memiliki kehidupan sosial, benda pun memiliki kehidupan sosial (Woodward 2007:103).

Gambar 3. Rumah warga Cina di Molenvliet West Batavia (Jl. Hayam Wuruk-Gajah Mada)

sekitar 1860-1865 (sumber: koleksi KITLV)

Meskipun sebagai salah satu pusat tempat kehidupan sosial, serambi merupakan tempat

pribadi (domestik) yang tidak dapat dimasuki begitu saja. Apabila seorang tetangga mengumbar

lelucon atau penghinaan yang keterlaluan, seringkali yang merasa tersinggung berteriak dari

serambinya, menantang si pembual lancang itu berkelahi di jalan karena berkelahi di serambi

dianggap sebagai pelanggaran yang jauh lebih berat ketimbang berkelahi di jalan (Niemeijer

2005: 169)

Bila pada sore dan malam hari, para pria mendominasi serambi maka pada siang hari,

biasanya para wanita lah yang banyak beraktivitas di serambi. Para nyonya kulit putih, nyonya

indo dan para wanita pribumi menghabiskan waktu dengan duduk santai di bawah atap serambi.

Di sini dapat dikatakan serambi menjadi tempat gender space (ruang gender) berdasarkan time

(waktu). Dari tempat yang strategis itu mereka dapat mengawasi para budak dengan lebih ketat

sambil mengobrol dengan tetangga. Oleh karena itu tidak mengherankan jika orang yang baru

pertama kali menginjakkan kaki di Batavia pada masa itu dan berjalan melewati deretan rumah

sering berkata dalam hati betapa para nyonya di Batavia tidak punya kegiatan lain selain sibuk

mengawasi dan memerintah para budak (Niemeijer 2005:170)

Mengenai para wanita yang melakukan kegiatan di serambi, Nicolaus de Graaf

bergumam mereka [para wanita] menuntut agar dilayani seperti puteri-puteri raja dan be

Recommended

View more >