sejarah singkat berdirinya universitas gadjah mada

Download Sejarah Singkat Berdirinya Universitas Gadjah Mada

Post on 30-Dec-2016

214 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 28

    Sejarah Singkat Berdirinya Universitas Gadjah Mada Heri Santosa

    Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada

    Sejarah Balai Perguruan Tinggi berdasarkan Laporan Dies yang

    kesatu tahun 1974 tertulis Siapakah mula-mula yang mempunyai pikiran

    untuk mendirikan Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada?

    Pada tanggal 24 Januari 1946 di Gedung S.M.T. Kotabaru,

    Yogyakarta diadakan pertemuan antara beberapa cerdik pandai untuk

    mendiskusikan kemungkinan mendirikan balai perguruan tinggi (universitas

    swasta) di Yogyakarta, sebagai promotor Sdr. Mr. Boediarto (ketua), Sdr. Ir.

    Marsito, Sdr. Prof. Dr. Prijono dan Sdr. Mr. Soenardjo. Pengurus terdiri dari

    Dr. Soeleiman, Dr. Boentaran, Dr. Soeharto, B.P.H. Bintoro, Prof. H. Farid

    Maruf, Mr. Mangunjudo, K.P.H. Nototaruno, dan Prof. Ir. Rooseno.

    Setelah persiapan selesai, pada tanggal 3 Maret 1946 di Gedung

    K.N.I. Malioboro Yogyakarta diadakan pertemuan resmi untuk

    mengumumkan berdirinya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada dengan

    bagian fakultas hukum dan fakultas kesusasteraan.

    Dengan demikian, pada tahun 1946 di Yogyakarta ada dua

    perguruan tinggi, yaitu Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada dan Sekolah

    Tinggi Teknik (berdiri tanggal 17 Februari 1946). Sekolah Tinggi Teknik ini

    merupakan usaha penghidupan kembali Sekolah Tinggi Teknik Bandung,

    yang terpaksa ditutup karena suasana perang antara Indonesia dan tentara

    sekutu. Sekolah Tinggi Teknik Bandung dipimpin oleh Prof. Ir. Rooseno dan

    Prof. Ir. Wreksodhiningrat. Oleh karena itu, mahasiswa Fakultas Teknik

  • 29

    Bandung dapat melanjutkan pendidikannya dan menempuh ujian insinyur

    di Sekolah Tinggi Teknik Yogyakarta.

    Tidak dapat dilupakan bahwa yang memberi dukungan besar untuk

    berlangsungnya Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada itu adalah Sri Sultan

    Hamengku Buwono ke IX. Setelah penyerbuan Belanda ke Yogyakarta, 19

    Desember 1948, kedua perguruan tinggi di atas terpaksa ditutup. Para

    dosen dan mahasiswanya memilih berjuang menentang Belanda daripada

    melanjutkan proses belajar mengajar, namun peralatan kuliah tetap

    dipelihara dengan baik oleh para mahasiswa.

    Pindah ke Klaten

    Sejarah pendirian fakultas kedokteran bermula dari kota Klaten.

    Tahun 1946 Klaten terkenal sebagai kota pendidikan, di sini berdiri

    perguruan tinggi, antara lain Perguruan Tinggi Kedokteran (berdiri 5 Maret

    1946), Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan (berdiri 20 September 1946),

    Sekolah Tinggi Farmasi (berdiri 27 September 1946), dan Perguruan Tinggi

    Pertanian (berdiri 27 September 1946).

    Mengapa Klaten dipilih sebagai tempat pendirian beberapa

    perguruan tinggi? Karena Klaten terletak di pedalaman. Kota-kota besar

    seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya tidak mungkin lagi

    menyelenggarakan pendidikan tinggi. Hal ini disebabkan ketiga kota

    tersebut seringkali dibom oleh tentara sekutu. Para pejuang Indonesia di

    tiga kota tersebut tidak tinggal diam. Mereka juga membalas menyerang

    sekutu sehingga ketiga kota tersebut menjadi ajang pertempuran. Alasan

    lainnya adalah adanya laboratorium pendukung dan lnstitut Pasteur, serta

    laboratorium disediakan oleh Rumah Sakit Tegalyoso. Sedangkan Institut

    Pasteur di Bandung, setelah diambil alih oleh bangsa Indonesia dari tangan

  • 30

    Jepang, 1 September 1945, dipindahkan ke Klaten. Salah seorang yang

    turut memindahkan institut ini adalah Prof. Dr. M. Sardjito.

    Kehidupan perguruan tinggi di Klaten makin marak dengan

    berdirinya Fak. Kedokteran Gigi pada awal tahun 1948. Hal ini berlangsung

    sampai 19 Desember 1948, saat Belanda menyerbu ke dalam daerah

    Republik Indonesia.

    Tujuh bulan sebelum penyerbuan Belanda ke Republik Indonesia,

    tepatnya awal Mei 1948, Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan

    Kebudayaan sesungguhnya sudah mendirikan Akademi Ilmu Politik di

    Yogyakarta. Akademi ini berdiri atas usul Kementerian Dalam Negeri, untuk

    mendidik calon-calon pegawai Departemen Dalam Negeri, Departemen

    Luar Negeri, dan Departemen Penerangan.

    Setelah berdirinya Akademi Ilmu Politik yang dipimpin oleh Prof.

    Djokosoetono, S.H. Beberapa pegawai Departemen Dalam Negeri yang

    belajar di sini, antara lain: Djumadi lsworo, Soempono Djojowadono, Irnan

    Soetikno, Bambang Soegeng Wardi, dan Dradjat. Akan tetapi, akademi ini

    tidak bertahan lama. Setelah pemberontakan PKI Madiun meletus

    (September 1948) akademi ini ditinggalkan oleh para mahasiswanya.

    Mereka ikut menumpas pemberontakan dan membangun kembali

    kerusakan-kerusakan yang terjadi, kemudian akademi ini terpaksa ditutup.

    Jika di Klaten dan Yogyakarta ada perguruan tinggi terpaksa ditutup, di Solo

    ada perguruan tinggi yang sudah dibuka namun terpaksa batal diresmikan,

    yaitu Balai Pendidikan Ahli Hukum (berdiri 1 November 1948) sebagai hasil

    kerjasama Kementerian Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan dengan

    Kementerian Kehakiman.

  • 31

    Bersamaan dengan itu, panitia pendirian perguruan tinggi swasta di

    Solo, yang dipimpin oleh Drs. Notonagoro, S.H., Koesoemadi, S.H., dan

    Hardjono, S.H., juga merencanakan pendirian Sekolah Tinggi Hukum

    Negeri. Panitia ini menyarankan agar Balai Pendidikan Ahli Hukum

    digabung saja dengan Sekolah Tinggi Hukum Negeri untuk melakukan

    efisiensi, dan usul tersebut diterima oleh pemerintah. Hal ini tertuang

    dalam Peraturan Pemerintah No. 73 tahun 1948 yang menyebutkan bahwa

    Balai Pendidikan Ahli Hukum digabungkan ke dalam Sekolah Tinggi Hukum

    Negeri.

    Menurut Prof. Dr. M. Sardjito, Sekolah Tinggi Hukum Negeri Solo ini

    akan diresmikan tanggal 28 Desember 1948. Akan tetapi, sembilan hari

    sebelum peresmian, Belanda sudah menyerbu ke wilayah Republik

    Indonesia. Apa boleh buat, perjuangan menentang Belanda menjadi

    prioritas. Akibatnya, sekolah tinggi ini layu sebelum menguntum dan

    terpaksa bubar sebelum diresmikan.

    Kembali ke Yogyakarta

    Tidak banyak yang ingat kapan persisnya timbul ide untuk

    menggabungkan beberapa perguruan tinggi perjuangan (sebutan ini,

    diberikan oleh Prof. Ir. Herman Johannes) tersebut di atas menjadi sebuah

    perguruan tinggi. Akan tetapi, menurut Prof. Dr. M. Sardjito, tanggal 20 Mei

    1949, ada rapat Panitia Perguruan Tinggi, di Pendopo Kepatihan

    Yogyakarta. Rapat ini dipimpin oleh Prof. Dr. Soetopo, dengan anggota

    rapat antara lain, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Prof. Dr. M. Sardjito,

    Prof. Dr. Prijono, Prof. Ir. Wreksodhiningrat, Prof. Ir. Harjono, Prof. Sugardo

    dan Slamet Soetikno, S.H. Salah satu hasil rapat adalah beberapa anggota

  • 32

    rapat menyanggupi pendirian perguruan kembali di wilayah republik, yaitu

    Yogyakarta. Mereka yang bersedia adalah Prof. Ir. Wreksodhiningrat, Prof.

    Dr. Prijono, Prof. Ir. Harjono dan Prof. Dr. M. Sardjito.

    Kesulitan utama yang ditemui para guru besar dalam mendirikan

    kembali perguruan tinggi di Yogya adalah tidak adanya ruangan untuk

    kuliah. Beruntung Sri Sultan Hamengku Buwono IX bersedia meminjamkan

    kraton dan beberapa gedung di sekitar kraton untuk ruang kuliah. Masalah

    utama pun terpecahkan, setelah itu persiapan lain pun dimatangkan.

    Usaha keras para guru besar tersebut akhirnya membuahkan hasil.

    Tanggal 1 November 1949, di Kompleks Peguruan Tinggi Kadipaten,

    Yogyakarta, berdiri kembali Fakultas Kedokteran Gigi dan Farmasi, Fakultas

    Pertanian, dan Fakultas Kedokteran. Pembukaan ketiga fakultas ini dihadiri

    oleh Bung Karno. Pada pembukaan ini, menurut Prof. Dr. M. Sardjito,

    diadakan sebuah renungan bagi para dosen dan mahasiswa yang telah

    gugur dalam peperangan melawan Belanda, yaitu: Prof. Dr. Abdulrachman

    Saleh, Ir. Notokoesoemo, Roewito, Asmono, Hardjito dan Wurjanto.

    Keesokan harinya, 2 November 1949, giliran Fakultas Teknik, Akademi Ilmu

    Politik dan beberapa fakultas yang berada di bawah naungan Yayasan Balai

    Perguruan Tinggi Gadjah Mada yang diresmikan. Kota Yogyakarta pun

    kembali marak dengan mahasiswa. Sebulan kemudian, tepatnya 3

    Desember 1949, dibuka pula Fakultas Hukum di Yogyakarta. Fakultas ini

    merupakan pindahan Sekolah Tinggi Hukum Negeri Solo. Orang yang

    berjasa dalam pemindahan ini adalah Prof. Drs. Notonagoro, S.H.

    Universiteit Negeri Gadjah Mada

    Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 23 tanggal 16 Desember

    1949 tentang Peraturan Sementara Penggabungan Perguruan Tinggi

    menjadi Universiteit, merupakan jalan pembuka untuk menyelenggarakan

  • 33

    sebuah universitas nasional yang bernama Universitas Gadjah Mada. Pada

    tanggal 19 Desember 1949 Pemerintah Republik Indonesia secara resmi

    mulai menyelenggarakan perguruan tinggi negeri yang dikenal sebagai

    Universiteit Negeri Gadjah Mada yang berkedudukan di Yogyakarta.

    Universiteit Negeri Gadjah Mada ini merupakan penggabungan dari

    beberapa Perguruan Tinggi yang telah ada lebih dulu yaitu:

    1. Fakultas Kedokteran, Kedokteran Gigi, Farmasi, Kedokteran

    Hewan, dan Fakultas pertanian yang didirikan di Klaten pada

    tahun 1946

    2. Sekolah Tinggi Teknik di Yogyakarta yang didirikan pada tanggal 12

    Februari 1946

    3. Sekolah Tinggi Hukum dan Sekolah Tinggi Sastra yang didirikan

    oleh Yayasan Balai Perguruan Tinggi Yogyakarta Pada tanggal 3

    Maret 1946

    Pada saat berdirinya, menurut Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun

    1949, Uni

Recommended

View more >