referat irritable bowel syndrome

Download Referat Irritable bowel syndrome

Post on 02-Aug-2015

407 views

Category:

Documents

55 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Referat

IRRITABLE BOWEL SYNDROME

oleh : Olvaria Misfa 110.2006.202

Pembimbing : Letkol CKM Dr. Eny Ambarwati, Sp.PD, FINASIM

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT DALAM RS. TK II MOHAMMAD RIDWAN MEURAKSA KESDAM JAYA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI PERIODE NOVEMBER 2011

KATA PENGANTARSegala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkah dan karunia-Nya, sehingga dapat menyelesaikan penulisan tugas referat yang berjudul Irritable Bowel Syndrome. Referat ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan kepaniteraan di bagian ilmu penyakit dalam di RS. Moch. Ridwan Meuraksa Jakarta. Terwujudnya referat ini adalah berkat bantuan dan dorongan berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Dr. Eny Ambarwati, Sp.PD, FINASIM 2. Dr. Andi Sutanto, Sp.PD, FINASIM 3. Dr. Ismi Purnawan, Sp.JP 4. Dr. Endah Aryastuti , Sp.P 5. Seluruh Staf di Klinik Bagian Ilmu Penyakit Dalam

Penulis menyadari bahwa referat ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga penyusunan ini dapat lebih baik sesuai dengan hasil yang diharapkan. Akhir kata dengan mengucapkan Alhamdulillah, semoga Allah SWT selalu meridhoi kita semua dan tulisan ini dapat bermanfaat.

Jakarta, november 2011

( Olvaria Misfa )

DAFTAR ISIHalaman KATA PENGANTAR .......................... i DAFTAR ISI ............ ii BAB I. PENDAHULUAN ................ 1 BAB II. IRRITABLE BOWEL SYNDROME........................................................3 1. Definisi...............................................3 2. Epidemiologi......................................................3 3. Etiologi...........................................................................................................3 4. Klasifikasi......................................................................................................5 5. Patofisiologi...................................................................................................6 6. Manifestasi klinik.........................................................................................10 7. Kriteria diagnostik........................................................................................11 8. Pemeriksaan penunjang................................................................................14 9. Diagnosis banding........................................................................................14 10. Penatalaksanaan.........................................................................................16 11. Pencegahan................................................................................................20 12. Prognosis....................................................................................................20 BAB III. RINGKASAN .....................................................................................21 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................20

BAB I PENDAHULUAN

Irritable

bowel

syndrome

(IBS)

adalah

salah

satu

penyakit

gastrointenstinal fungsional. Irritable bowel syndrome memberikan gejala berupa adanya nyeri perut, distensi dan gangguan pola defekasi tanpa gangguan organik. (Manan, Chudahma & Ari Fahrial Syam. 2008) Pada dua dekade terakhir, Irritable bowel syndrome telah mendapatkan perhatian yang cukup besar di bidang kesehatan akibat semakin tingginya prevalensi dan gejala yang muncul bervariasi. IBS termasuk dalam kelompok penyakit gastrointestinal kronik yang disebut sebagai functional bowel disorders (FBD) yang diklasifikasikan oleh the Rome foundation. (Grundmann, oliver & Saunjoo L Yoon. 2009) Menurut Kriteria Rome II, prevalensi kejadian IBS di negara-negara seperti Singapura (8,6%) dan Jepang (9,8%) sebanding dengan Australia (6,9%) dan Eropa (9,6%), dan prevalensi tertinggi terdapat di Kanada dan Amerika (12%). (Ann Gwee, Kok et al. 2009) Gejala klinik IBS berupa nyeri perut atau rasa tidak nyaman di abdomen dan perubahan pola buang air besar seperti diare, konstipasi atau diare dan konstipasi bergantian serta rasa kembung. Didiagnosis atas dasar gejala-gejala yang khas tanpa adanya gejala alarm seperti penurunan berat badan, perdarahan per rektal, demam atau anemia. Pemeriksaan fisik dan tes diagnostik yang sekarang tersedia tidak cukup spesifik untuk menegakkan diagnosis IBS, sehingga diagnosis IBS ditegakkan atas dasar gejala-gejala yang khas tersebut.

Oleh karena patofisiologi dan penyebab IBS yang kurang dipahami, pengobatan utama difokuskan pada gejala-gejala yang muncul untuk

mempertahankan fungsi sehari-hari dan meningkatkan kualitas hidup orang dengan IBS. (Grundmann, oliver & Saunjoo L Yoon. 2009)

BAB II IRRITABLE BOWEL SYNDROME

1. Definisi Irritable bowel disease merupakan gangguan fungsional pada saluran cerna bagian bawah berupa adanya nyeri perut, distensi dan gangguan pola defekasi tanpa gangguan organik. Gejala-gejala IBS biasanya tidak spesifik, gejalanya biasanya seperti gejala yang sering ditunjukkan pada hampir semua individu. (Quigley Eamonn et all.2009)

2. Epidemiologi Kejadian dari IBS mencapai 20 % dari penduduk Amerika, hal ini didasarkan pada gejala yang sesuai dengan kriteria IBS. Kejadian IBS lebih banyak pada perempuan dan mencapai 3 kali lebih besar dari laki-laki. Prevalensi IBS bisa mencapai 3,6-21, 8 % dari jumlah penduduk dengan rata-rata 11 %. (Manan, Chudahma dan Ari Fahrial Syam. 2008)

3. Etiologi Sampai saat ini tidak ada teori yang menyebutkan bahwa IBS disebabkan oleh salah satu faktor saja. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya IBS antara lain gangguan motilitas, intoleransi makanan, abnormalitas sensoris, abnormalitas dari interaksi aksis brain-gut, hipersensitivitas viseral,dan pasca infeksi usus. Adanya IBS predominan diare atau predominan konstipasi menunjukkan bahwa pada IBS terjadi sesuatu perubahan motilitas. Pada IBS tipe diare terjadi peningkatan kontraksi usus dan memendeknya waktu transit kolon dan usus halus. Sedangkan IBS tipe konstipasi terjadi penurunan kontraksi usus dann memanjangnya waktu transit kolon dan usus halus. IBS yang terjadi pasca infeksi dilaporkan hampir pada 1/3 kasus IBS. Keluhan-keluhan IBS muncul setelah 1 bulan infeksi. Penyebab IBS paska infeksi antara lain virus, giardia atau amuba. Pasien IBS paska infeksi biasanya

mempunyai gejala perut kembung, nyeri abdomen dan diare. (Manan, Chudahma dan Ari Fahrial Syam. 2008)

Para peneliti telah menyimpulkan bahwa penyebab dari IBS adalah gabungan dari beberapa faktor yang akan mengakibatkan gangguan fungsional dari usus. Faktor-faktor yang dapat mengganggu kerja dari usus adalah sebagai berikut :

a. Faktor psikologis Stress dan emosi dapat secara kuat mempengaruhi kerja kolon. Kolon memiliki banyak saraf yang berhubungan dengan otak. Seperti jantung dan paru, sebagian kolon dikontol oleh SSO, yang berespon terhadap stress. Sebagai comtoh pada saat kita takut detak jantung kita akan bertambah cepat dan tekanan darah akan naik. Begitu pula dengan kolon, kolon dapat berkontraksi secara cepat atau sebaliknya. Para peneliti percaya bahwa sistim limbik ikut terlibat. Pada percobaan dengan binatang, perangsangan stress akan menyebabkan pelepasan faktor kortikotropin.

Gambar 1. Multicomponent model of irritable bowel syndrome (IBS). (Sumber: Anthony J, et all. 1999)

b. Sensitivitas terhadap makanan Gejala IBS dapat ditimbulkan oleh beberapa jenis makanan seperti kafein, coklat, produ-produk susus, makanan berlemak, alkohol, sayur-sayuran yang dapat memproduksi gas ( kol dan brokoli) dan minuman bersoda c. Genetik Beberapa penelitian menyatakan bahwa ada kemungkinan IBS diturunkan dalam keluarga. d. Peneliti menemukan bahwa gejala IBS sering muncul pada wanita yang sedang menstruasi, mengemukakan bahwa hormon reproduksi dapat meningkatkan gejala dari IBS.

e. Obat obatan konvensional Banyak pasien yang menderita IBS melaporkan bertambah beratnya gejala setelah menggunakan obat-obatan konvensional seperti antibiotik, steroid dan obat anti inflamasi.

4. Klasifikasi Menurut kriteria Roma III dan berdasarkan pada karakteristik feses pasien, subklasifikasi IBS dibagi menjadi: IBS predominan diare (IBS-D) : - Feses lunak >25 % dan feses keras 25% dan feses lunak 3 kali per hari), kelainan bentuk kotoran (kotoran keras atau kotoran encer/berair), defekasi strining, urgency, juga perasaan tidak tuntas saat buang air besar, mengeluarkan mukus dan perut kembung. (Perkembangan Terkini Dalam Diagnosis Dan Penatalaksanaan Irritable Bowel Syndrome. I Ketut Mariadi dan I Dewa Nyoman Wibawa. Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam FK Unud/ RSUP Sanglah Denpasar.2007)

Tabel 1. Kriteria Rome II Sedikitnya 12 minggu atau lebih (tidak harus berurutan) selama 12 bulan terakhir dengan rasa nyeri atau tidak nyaman di abdomen, disertai dengan adanya 2 dari 3 hal berikut : Nyeri hilang dengan defekasi Awal kejadian dihubungkan dengan perubahan frekuensi defekasi Awal kejadian dihubungkan dengan adanya perubahan feses Gejala lain : o Ketidaknormalan frekuensi defekasi o Kelainan bentuk feses o Ketidaknormalan proses defekasi (harus dengan mengejan , inkontinensia defekasi, atau rasa defekasi tidak tuntas) Adanya mukus/lendir Kembung Sumber : Manan, Chudahma & Ari Fahrial Syam. 2008

Tabel 2. Kriteria Manning Gejala yang sering didapat :

Feces cair pada saat nyeri Frekuensi BAB bertambah pada saat nyeri Nyeri kurang setelah BAB Tampak abdomen distensi

Gejala tambahan yang sering muncul :

Lendir saat BAB Perasaan tidak lampias pada saat BAB

Sumber : Manan, Chudahma & Ari Fahrial Syam. 2008

Tabel 3. Perbandingan kriteria Roma II dan III

Sumber:

Recommended

View more >