referat coas

of 23 /23
REFERAT EFEK SAMPING KEMOTERAPI PADA PENDERITA KANKER Oleh: Ali Ma’ruf G9911112011 Devika Yuldharia G9911112047 Pembimbing : dr. Supriyanto Muktiatmodjo, SpPD KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU PENYAKIT DALAM 1

Upload: alimaruf

Post on 18-Nov-2015

23 views

Category:

Documents


4 download

DESCRIPTION

referat coas

TRANSCRIPT

REFERAT

EFEK SAMPING KEMOTERAPI PADA PENDERITA KANKER

Oleh:

Ali MarufG9911112011Devika YuldhariaG9911112047

Pembimbing :

dr. Supriyanto Muktiatmodjo, SpPD

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU PENYAKIT DALAMFAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDIS U R A K A R T A2012BAB IPENDAHULUANLatar BelakangKanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia maupun di Indonesia. Di dunia, 12% seluruh kematian disebabkan oleh kanker danpembunuh nomor 2 setelah penyakit kardiovaskular. WHO dan Bank Dunia, 2005 memperkirakan setiap tahun, 12 juta orang di seluruh dunia menderita kanker dan 7,6 juta di antaranya meninggal dunia. Jika tidak dikendalikan, diperkirakan 26 juta orang akan menderita kanker dan 17 juta meninggal karena kanker pada tahun 2030. Menurut International Union Against Cancer /UICC, 2009) Ironisnya, kejadian ini akan terjadi lebih cepat di negara miskin dan berkembang. 15 Menurut Prof. Tjandra Yoga, di Indonesia prevalensi tumor/kanker adalah 4,3 per 1000 penduduk. Kanker merupakan penyebab kematian nomor 7 (5,7%) setelah stroke, TB, hipertensi, cedera, perinatal, dan DM (Riskesdas, 2007). Sedangkan berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2007, kanker payudara menempati urutan pertama pada pasien rawat inap di seluruh RS di Indonesia (16,85%), disusul kanker leher rahim (11,78%). Hal ini sama dengan estimasi Globocan (IACR) tahun 2002.15Kanker adalah sel yang pertumbuhan tidak terkendali dan mempunyai sifat ganas yang dapat menyebar dan merusak organ-organ di dalam tubuh. Sampai saat ini penyebab kanker masih menjadi perdebatan, ada yang berpendapat diturunkan secara genetik namun ada pula yang berpendapat karena toksin dari lingkungan, dan lain-lain.1,2,3,4 Secara umum pengobatan terdiri dari pengobatan bedah, radioterapi dan kemoterapi. Kemoterapi bekerja dengan prinsip sitotoksik yaitu merusak proses mitosis dari sel-sel kanker sehinga sel-sel kanker tidak dapat membelah.2,3,4 Hal ini terutama efektif pada sel-sel kanker yang mempunyai kemampuan pembelahan sel yang cepat. Namun sampai saat ini para ahli belum dapat menemukan kemoterapi yang spesifik bagi sel kanker sehingga kemoterapi juga akan mengganggu proses mitosis sel-sel tubuh normal lainnya, terutama sel-sel tubuh yang membelah dengan cepat seperti sumsum tulang, folikel rambut, sel-sel epitel mukosa saluran pencernaan.1,2,3,4 Efek samping kemoterapi merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan dalam rangka pengobatan kanker, hal ini dikarenakan efek samping kemoterapi dapat berakibat sangat fatal bahkan dapat berakhir dengan kematian.3,4 Efek samping kemoterapi berbeda satu dengan lainnya, dimana akan bergantung pada jenis kemoterapi, cara pemberian dan toleransi masing-masing penderita kanker.1,3,4 Dalam sari pustaka ini akan dibahas mengenai efek samping yang sering muncul dalam penggunaan kemoterapi dan penanganannya.

BAB IITINJAUAN PUSTAKAKEMOTERAPIA. DefinisiMerupakan bentuk pengobatan kanker dengan menggunakan obat sitostatika yaitu suatu zat-zat yang dapat menghambat proliferasi sel-sel kanker. Kemoterapi merupakan cara pengobatan kanker dengan jalan memberikan zat/obat yang mempunyai khasiat membunuh sel kanker atau menghambat proliferasi sel-sel kanker dan diberikan secara sistematik.11B. Tujuan kemoterapi: 111) Pengobatan.2) Mengurangi massa tumor selain pembedahan atau radiasi.3) Meningkatkan kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup.4) Mengurangi komplikasi akibat metastase.C. Manfaat kemoterapi: 111) PengobatanBeberapa jenis kanker dapat disembuhkan secara tuntas dengan satu jenis kemoterapi atau beberapa jenis kemoterapi.2) KontrolKemoterapi ada yang bertujuan untuk menghambat perkembangan kanker agar tidak bertambah besar atau menyebar ke jaringan lain.3) Mengurangi gejala/terapi paliatifBila kemoterapi tidak dapat menghilangkan kanker, maka kemoterapi yang diberikan bertujuan untuk mengurangi gejala yang timbul pada penderita, seperti meringankan rasa sakit dan memberi perasaan lebih baik serta memperkecil ukuran kanker pada daerah yang diserang.D. Prinsip kerja obat kemoterapi (sitostatika) terhadap kanker.Adanya perbedaan kecepatan pertumbuhan (growth) dan pembelahan (division) antara sel kanker dan sel normal yang disebut siklus sel (cell cycle) merupakan titik tolak dari cara kerja sitostatika. Hampir semua sitostatika mempengaruhi proses yang berhubungan dengan sel aktif seperti mitosis dan duplikasi DNA. Sel yang sedang dalam keadaan membelah pada umumnya lebih sensitif daripada sel dalam keadaan istirahat. 12

Gambar. Principles Of Chemotherapy; Cell Cycle12Berdasar siklus sel kemoterapi ada yang bekerja pada semua siklus, artinya bisa pada sel yang dalam siklus pertumbuhan sel bahkan dalam keadaan istirahat. Ada juga kemoterapi yang hanya bisa bekerja pada siklus pertumbuhan tertentu. Obat yang dapat menghambat replikasi sel pada fase tertentu pada siklus sel disebut cell cycle specific. Sedangkan obat yang dapat menghambat pembelahan sel pada semua fase termasuk fase G0 disebut cell cycle nonspecific. Obat-obat yang tergolong cell cycle specific antara lain :Anti metabolits, Bleomycin, Podophylin alkaloids, Plan alkaloids. Obat antikanker yang tergolong cell cycle nonspecific antara lain Alkylating agents antibiotic, Cisplatin, Nitrosurea.12

Gambar. Cell cycle and drug activity12E. Obat-Obat Kemoterapi (Sitostastik)Pembagian obat sitostatik berdasarkan farmakologik yaitu :131) Alkylating agents 2) Antibiotic antineoplastics3) Antimetabolites4) Antineoplastic that alter hormone balance5) Biological response modifiers6) Miscellaneous antineoplasticsSecara umum disebutkan bahwa efek sitostatik obat adalah merusak DNA/RNA yang pada akhirnya akan menimbulkan apoptosis. Disamping itu kespesifikan mekanisme kerja masing masing obat tersebut juga telah dikenal, misalnya etoposid bekerja sebagai anti-topoisomerase II, paklitaksel dan dosetaksel dengan cara menstabilisasi mikrotubul, gemsitabin sebagai kompetitor sistidin, sedangkan sisplatin atau karboplatin berikatan dengan guanin dan adenin. Perbedaan target agen masing-masing obat menyebabkan penggunaan lebih dari 1 obat dianjurkan, karena memberikan respons objektif yang lebih baik dari pada penggunaan obat tunggal.14

Gambar. drug activity in Chemotherapy12Pola pemberian kemoterapi111) Kemoterapi InduksiDitujukan untuk secepat mungkin mengecilkan massa tumor atau jumlah sel kanker, contoh pada tomur ganas yang berukuran besar (Bulky Mass Tumor) atau pada keganasan darah seperti leukemia atau limfoma, disebut juga dengan pengobatan penyelamatan.2) Kemoterapi AdjuvanBiasanya diberikan sesudah pengobatan yang lain seperti pembedahan atau radiasi, tujuannya adalah untuk memusnahkan sel-sel kanker yang masih tersisa atau metastase kecil yang ada (micro metastasis).3) Kemoterapi PrimerDimaksudkan sebagai pengobatan utama pada tumor ganas, diberikan pada kanker yang bersifat kemosensitif.4) Kemoterapi Neo-AdjuvanDiberikan sebelum terapi yang lain seperti pembedahan atau penyinaran diberikan. Tujuannya adalah untuk mengecilkan massa tumor.F. Efek samping kemoterapiObat sitostatika bekerja dengan mempengaruhi metabolisme asam nukleat terutama DNA atau biosintesis protein. Hal inilah yang menyebabkan obat sitostatika bekerja tidak selektif karena bersifat toksik baik pada sel kanker maupun sel normal, terutama sel normal yang kecepatan proliferasinya tinggi seperti pada sum-sum tulang belakang. Karena itu efek samping kemoterapi muncul pada bagian-bagian tubuh yang sel-selnya membelah dengan cepat. Efek samping dapat muncul ketika sedang dilakukan pengobatan atau beberapa waktu setelah pengobatan. 3,4. Efek samping kemoterapi dipengaruhi oleh : 31) Masing-masing agen memiliki toksisitas yang spesifik terhadap organ tubuh tertentu.2) Dosis.3) Jadwal pemberian.4) Cara pemberian (iv, im, peroral, per drip infus).5) Faktor individual pasien yang memiliki kecenderungan efek toksisitas pada organ tertentu.1. Umumnya efek samping kemoterapi terbagi atas :1) Efek amping segera terjadi (Immediate Side Effects) yang timbul dalam 24 jam pertama pemberian, misalnya mual dan muntah.2) Efek samping yang awal terjadi (Early Side Effects) yang timbul dalam beberapa hari sampai beberapa minggu kemudian, misalnya netripeni dan stomatitis.3) Efek samping yang terjadi belakangan (Delayed Side Effects) yang timbul dalam beberapa hari sampai beberapa bulan, misalnya neuropati perifer, neuropati.4) Efek samping yang terjadi kemudian (Late Side Effects) yang timbul dalam beberapa bulan sampai tahun, misalnya keganasan sekunder. 32. Gejala-gejala umum yang sering timbul akibat kemoterapi dan penanganannya

Gambar. Efek samping Umum kemoterapi11

A. Depresi sumsum tulangSumsum tulang merupakan cairan yang berada di bagian dalam tulang, yang berfungsi memproduksi sel-sel darah merah, sel-sel darah putih dan trombosit. Sumsum tulang sangat sensitif terhadap efek dari kemoterapi.3 Penurunan sel-sel darah tidak akan terjadi pada awal kemoterapi, karena kemoterapi tidak menghancurkan darah yang berada di aliran darah tepi tetapi darah yang baru saja diproduksi oleh sumsum tulang.3,4 Masing-masing sel darah mempunyai masa hidup yang berbeda-beda. Netrofil yang merupakan bagian dari sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh mempunyai umur 6 jam, sedangkan trombosit mempunyai umur 10 hari, dan sel darah merah mempunyai umur yang terpanjang yaitu 120 hari. Sehingga netrofil akan turun lebih cepat dibandingkan sel darah merah yaitu satu sampai dua minggu sedangkan sel darah merah sekitar 4 minggu.4Menurut National Cancer Institute USA, keadaan yang perlu diperhatikan yaitu Neutropenia dimana jumlah netrofil di bawah 1000 sel per meter kubik-jika dibawah 500 sel per meter kubik disebut severe neutropenia. Hal ini disebabkan oleh karena tubuh jadi mudah terkena infeksi. Gejala yang sering menyertai neutropenia antara lain panas, nyeri tenggorok, batuk, pilek, sesak, nyeri saat buang air kecil, phlebitis. Demam merupakan gejala yang paling sering muncul sebagai akibat dari infeksi pada keadaan neutropenia yang biasa dikenal dengan demam neutropenia yang perlu perhatian dan penanganan khusus. Dalam keadaan ini biasanya kemoterapi akan ditunda kemudian diberikan antibiotik, anti jamur, anti virus dan obat perangsang pertumbuhan netrofil.4 Perdarahan sebagai akibat dari kekurangan trombosit pada pengobatan kemoterapi merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Lennan menyebutkan bahwa kadar trombosit kurang dari 20.000 akan berpotensi signifikan menimbulkan perdarahan spontan apabila kemoterapi dilanjutkan. Untuk meningkatkan kadar trombosit diperlukan tranfusi trombosit concentrate, selain tranfusi dapat juga diberikan oprelvelkin untuk merangsang pembentukan trombosit.5,6Anemia merupakan keadaan lain yang juga harus diperhatikan, kadar hemoglobin dibawah 12 g/dl atau hematokrit kurang dari 37 % merupakan definisi dari anemia. Dalam keadaan yang berat transfusi sel darah merah diperlukan untuk mengatasi kegawatan, tindakan lain yaitu dengan memberikan erithropoetin untuk mempercepat pembentukan darah merah.6Pada beberapa pusat pendidikan dan protokol kemoterapi menerapkan syarat profil hematologi yang aman untuk menerima kemoterapi. Kadar hemoglobin minimal 10 g/dl, hitung leukosit diatas 2000 dan atau jumlah neutropil absolut diatas 1000 serta hitung trombosit diatas 50.000 dipandang aman untuk pemberian kemoterapi. Persyaratan profil hematologi ini berbeda di setiap pusat pendidikan atau protokol kemoterapi.B. Mual dan muntahEfek samping yang juga sering timbul pada pengggunaan kemoterapi adalah mual dan muntah (CINV). Ada yang timbul dalam waktu 12-24 jam setelah kemoterapi (Acute nausea vomiting), timbul sampai 5hari setelah operasi (delayed nausea vomiting), atau timbul sebelum kemoterapi (anticipatory nausea vomiting). Ada beberapa penjelasan mengenai munculnya muntah oleh karena efek samping kemoterapi. Pertama oleh karena teriritasinya mukosa usus halus sehingga akan merangsang saraf-saraf tertentu yang akan mengaktifasi vomiting center dan chemoreseptor trigger zone di otak. Kedua area di otak ini juga dapat diaktifasi oleh karena obstruksi saluran cerna, peradangan, perlambatan pengosongan lambung yang kesemuanya dapat disebabkan oleh kemoterapi. Efek samping mual muntah juga berhubungan dengan emetogenic potential masing-masing obat 3,4

Gambar. Emetic mechanism due to chemotherapy and radiotherapy 12Penangulangan mual dan muntah yang disebabkan oleh karena efek samping kemoterapi antara lain dengan pemberian kombinasi dexametason (golongan steroid) dengan golongan penghambat serotonin seperti ondansentron sehingga perangsangan pada vomiting center dan chemoreseptor trigger zone di otak tidak terjadi.6 Selain pemberian preparat anti mual dan anti muntah dapat juga diberikan ekstrak jahe, akupuntur, akupresure dan terapi relaksasi.4,6C. Kerontokan rambutKemoterapi akan menyebabkan kerusakan pada folikel rambut sehingga rambut akan mudah patah dan rontok. Kerontokan rambut ini secara klinis tidak membahayakan, akan tetapi dapat mengganggu aspek sosial dan psikologis dari penderita kanker. Kerontokan rambut ini tidak bersifat permanen sehingga apabila kemoterapi dihentikan maka rambut akan tumbuh kembali. Penggunaan kompres dingin di kepala untuk pencegahan kerontokan rambut masih menjadi kontroversi.5,6 D. Kerusakan epitel mukosa saluran pencernaan Epitel mukosa saluran pencernaan merupakan sel normal tubuh yang sering menerima dampak kemoterapi oleh karena sel epitel mukosa saluran pencernaan membelah dengan cepat. Manifestasi klinis dari rusaknya sel epitel mukosa saluran cerna dapat berupa stomatitis, ulcer, diare dan kolitis.1,3 Stomatitis merupakan salah satu efek samping kemoterapi yang sering timbul akibat kemoterapi. Hal ini disebabkan oleh karena rusaknya mukosa akibat dari pemberian kemoterapi. Biasanya stomatitis muncul setelah dua sampai dengan empat minggu setelah kemoterapi, dan akan sembuh sempurna setelah kemoterapi dihentikan.1,3,4 Kerusakan mukosa juga akan menimbulkan gejala diare. Hal yang perlu diperhatikan adalah gejala dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit yang terjadi akibat diare. Kolitis dan ulcer merupakan perlukaan pada lambung dan usus akibat lesi pada sel epitel.2,3E. Gangguan jantung, hati dan ginjalBeberapa kemoterapi meyebabkan gangguan pada otot pada otot jantung. Hal ini dapat menyebabkan terjadi kegagalan pompa jantung. Untuk menghindari efek fatal dari gangguan jantung sebelum kemoterapi dimulai biasanya dilakukan pemeriksaan untuk menilai fungsi jantung seperti EKG, CK, CKMB, dan Ekokardiografi.4,5 Pemecahan sebagian jenis obat kemoterapi terjadi di hati dan ginjal, namun disayangkan kemoterapi juga merusak hati dan ginjal. Namun seperti efek samping yang lainnya, hal ini hanya bersifat sementara. Apabila obat kemoterapi dihentikan maka fungsi jantung, hati dan ginjal akan kembali normal.5 Pemeriksaan penunjang ureum dan kreatinin harus rutin dilakukan untuk memantau fungsi ginjal. Peningkatan ureum diatas 50 mg/dl dan kreatinin diatas 1 mg/dl harus diwaspadai bila akan memberikan kemoterapi. Untuk pemantauan fungsi hati dilakukan pemeriksaan enzim SGOT dan SGPT, apabila terjadi peningkatan diatas 3-4 kali lipat dari kadar normal perlu dilakukan penyesuaian dosis atau bahkan penghentian kemoterapi.4,5 F. FatiqueFatique adalah perasaan lelah atau kurang energi. Definisi pasti mengenai fatique sampai saat ini belum ada kesepakatan. Penyebab dan mekanisme pastinya sampai saat ini belum diketahui. Namun demikian fatique hampir selalu timbul pada setiap penderita yang menjalani kemoterapi. Fatique akibat efek samping kemoterapi berbeda dengan kondisi fatique sehari-hari yang biasanya hilang setelah istirahat. Fatique akibat kemoterapi biasanya muncul tiba-tiba dan tidak hilang atau berkurang dengan istirahat.1,4 Gejala fatique berbeda pada setiap individu dan sangat subyektif, tergantung juga pada jenis obat dan dosis obat kemoterapi yang digunakan. Dapat berlangsung dalam waktu seminggu atau bahkan sampai sebulan, tetapi biasanya berkurang sesuai sel kanker yang respon terhadap kemoterapi yang dilakukan.5,6G. NeuropatiNeuropati perifer sering terjadi pada penggunaan vinkristin. Neuropati perifer ini dapat berupa gejala ringan seperti kesemutan pada ujung-ujung jari sampai dengan kelemahan sehingga tidak dapat melakukan pekerjaan. Pemberian vitamin E sebagai profilaksis pada kemoterapi dapat mengurangi kejadian neuropati.8,9 BAB IIIPENUTUP

1. Kemoterapi selain membunuh sel kanker juga akan merusak sel tubuh, terutama sel-sel tubuh yang tumbuh dengan cepat, seperti sumsum tulang, folikel rambut dan sel epitel mukosa.2. Efek samping kemoterapi yang sering muncul: anemia, leukopenia, trombositopenia, kerontokan rambut, stomatitis, ulcer, diare, mual, muntah, fatique, gangguan fungsi hati, jantung dan ginjal dan neuropati.3. Efek samping kemoterapi sangat bergantung pada masing-masing individu, jenis obat, dosis, dan cara penggunaan, oleh sebab itu diperlukan pemantauan dan penanganan efek samping kemoterapi secara ketat dan tepat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Zeller JL, Lnym C, Glass RC, 2008. Cancer chemotherapy. JAMA; 299(22):27062. National Cancer Institute. Chemotherapy: side effects and way to manage. www.cancer.gov. diunduh pada tanggal 7 September 20123. Gralla RJ, Houlihan NG, Pick R. Understanding and managing chemotherapy side effects. www.cancercare.org diunduh pada 7 September 20124. National Care Institute. Chemotherapy. www.cancer.gov diunduh pada tanggal 7 September 20125. American Cancer Society. What are the possible effects of chemotherapy. www.cancer.org. 2008. diunduh pada tanggal 7 September 20126. Heiken M, 2008. Cancer treatment side effects. www.caring.com. diunduh 7 September 20127. Cancer Research UK. Individual cancer drugs. www.cancerhelp.org.uk 2002. diunduh pada tanggal 7 September 20128. Bay A, Yilamz C, Yilmaz N, Oner AF, 2006. Vincristine induced polyneuropathy. Indian Journal of Pediatrics. Vol 739. Argyriou AA et al, 2005. Vitamin E for prophylaxis against chemotherapy-induced neuropathy: a randomized controlled trial. Neurology: 64(1): 26-3110. Dexamethasone dalam Penanganan Mual-Muntah Terkait Kemoterapi dan Pasca-operasi. CDK-192/ vol. 39 no. 4, th. 2012. Diunduh tanggal 12 September 201211. A.Harryanto Reksodiputrod, 2012. Khemoterapi oleh Internis. Divisi Hematologi-Onkologi Medik Dept.I.P.Dalam, FKUI-RSCM-RSKD12. Kartika Widayati Taroeno-Hariadi, 2012. Cancer Chemotherapy. Division Of Hematology and Medical Oncology. Department of Internal Medicine Faculty of Medicine Universitas Gadjah Mada. DR. Sardjito Hospital Yogyakarta.13. Ellis R, Priff N. Chemotherapy and cancer treatment. In: Chemotherapy handbook. Spring House, Pensylvania. 1994, p.1-4114. Anwar Jusuf et al 2008. Kemoterapi Kanker Paru. Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RS Persahabatan, Jakarta.15. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2010. Jika Tidak Dikendalikan 26 Juta Orang Di Dunia Menderita Kanker www. depkes.go.id diunduh pada tanggal 7 September 2012

1