referat abses peritonsil- kelompok 1 tht rspad gs

Download Referat Abses Peritonsil- Kelompok 1 THT RSPAD GS

Post on 02-Aug-2015

119 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan ridho-NYA penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Abses Peritonsil . Referat yang berjudul Abses Peritonsil ini bertujuan untuk mengetahui tentang kelainan dan mengenali tanda-tanda terjadinya abses peritonsilar secara lebih luas melalui definisi, etiologi, patogenesis, faktor resiko, epidemiologi, gejala klinis, diagnosis, penatalaksanaan, komplikasi, prognosis, dan pencegahan. Penyusun menyadari dalam penulisan referat ini masih banyak kekurangan dan masih banyak yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan saran dan kritik yang membangun guna menambah ilmu dan pengetahuan penyusun dalam ruang lingkup Ilmu Telinga, Hidung dan Tenggorokan, khususnya yang berhubungan dengan referat ini. Tak lupa penyusun ucapkan terima kasih pada seluruh pembimbing di Departemen THT RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, atas ilmu dan bimbingannya selama ini, khususnya kepada dr. Susilaningrum, SpTHT. selaku pembimbing dalam penyusunan referat ini. Semoga referat ini bermanfaat bagi para pembaca.

Jakarta, Agustus 2012

Penyusun

i

Daftar Isi

KATA PENGANTAR..i Daftar Isi.....................................................................................................................................ii Daftar Gambar..iii BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................................1 BAB II ABSES PERITONSIL.2 1. 2. Anatomi....2 Fisiologi.5

2.1 Faring5 2.2 Laring6 2.3 Tonsil7 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Definisi.8 Epidemiologi..8 Etiologi8 Patologi9 Gejala klinis9 Diagnosis10 Komplikasi.12

10. Penatalaksanaan ..12 11. Prognosis..14 BAB III KESIMPULAN15 DAFTAR PUSTAKA 16ii

Daftar Gambar

Gambar 1. Anatomi Rongga Mulut.....................................................................................2 Gambar 2. Anatomi Tonsil Palatina dan jaringan sekitarnya..............................................4 Gambar 3. Proses Menelan..................................................................................................5 Gambar 4. Tonsilitis akut (sebelah kiri) dan abses peritonsil (sebelah kanan)..............10 Gambar5.Absesperitonsil........................................................................................................10

iii

BAB I

PENDAHULUANAbses peritonsil dapat terjadi pada umur 10-60 tahun, namun paling sering

terjadi pada umur 20-40 tahun. Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka yang menurun sistem imunnya, tapi infeksi bisa menyebabkan obstruksi jalan napas yang signifikan pada anak-anak. Infeksi ini memiliki proporsi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Bukti menunjukkan bahwa tonsilitis kronik atau penggunaan antibiotik oral untuk tonsilitis percobaan multipel

akut merupakan predisposisi pada orang

untuk berkembangnya abses peritonsil. Di Amerika insiden tersebut kadang-kadang berkisar 30 kasus per 100.000 orang per tahun, dipertimbangkan hampir 45.000 kasus setiap tahun.1 Abses leher dalam terbentuk dalam ruang potensial diantara fasia leher dalam

sebagai akibat dari penjalaran infeksi dari berbagai sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher tergantung ruang mana yang terlibat.Gejala dan tanda klinik dapat berupa nyeri dan pembengkakan.Abses peritonsil (Quinsy) merupakan salah satu dari Abses leher dalam dimana selain itu abses leher dalam dapat juga abses retrofaring,abses parafaring,abses submandibula dan angina ludovici (Ludwig Angina) . 2 Abses peritonsil adalah penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada bagian kepala dan leher. Gabungan dari bakteri aerobic dan anaerobic di daerah peritonsil. Tempat yang bisa berpotensi terjadinya abses adalah adalah didaerah pillar tonsil anteroposterior, fossa piriform inferior, dan palatum superior.1 Abses penyebaran yang organisme bakteri penginfeksi peritonsil terbentuk oleh karena

tenggorokan kesalah satu ruangan areolar

longgar

disekitar faring menyebabkan pembentukan abses, dimana infeksi telah

menembus kapsul tonsil tetapi tetap dalam batas otot konstriktor faring.3

1

BAB II

ABSES PERITONSIL

1. AnatomiTonsil palatina adalah massa jaringan limfoid yang terletak didalam fosa tonsillaris pada dinding lateral orofaring. Tonsil palatina merupakan bagian dari cincin

waldeyer.Jaringan limfoid yang mengelilingi faring, pertama kali digambarkan anatominya oleh Heinrich von Waldeyer, seorang ahli anatomi Jerman. Jaringan limfoid lainnya yaitu adenoid (tonsil pharingeal), tonsil lingual, pita lateral faring dan kelenjar-kelenjar limfoid. Kelenjar ini tersebar dalam fossa Rossenmuler, dibawah mukosa dinding faring posterior faring dan dekat orificium tuba eustachius (tonsil Gerlachs).4 Faring dibagi menjadi nasofaring, orofaring dan laringofaring. Nasofaring merupakan bagian dari faring yang terletak diatas pallatum molle, orofaring yaitu bagian yang terletak diantara palatum molle dan tulang hyoid, sedangkan laringofaring bagian dari faring yang meluas dari tulang hyoid sampai ke batas bawah kartilago krikoid. Orofaring terbuka ke rongga mulut pada pilar anterior faring.Pallatum molle (vellum palati) terdiri dari serat otot yang ditunjang oleh jaringan fibrosa yang dilapisi oleh mukosa. Penonjolan di median membaginya menjadi dua bagian. Bentuk seperti kerucut yang terletak disentral disebut uvula.2

Gambar 1. Anatomi rongga mulut

2

Tonsil palatina terdiri dari5: Korteks : Didalamnya terdapat germinating folikel, tempat pembentukan limfosit, plasma sel. Medula : Terdiri dari jaringan ikat yang merupakan kerangka penyokong tonsil & berhubungan dengan kripta. Batas-batas tonsil palatina5: Lateral : Kapsul fibrous yang berhubungan dengan fasia pharingo-basilaris yang menutupi m. konstriktor pharing superior. Masuk ke dalam parenkim tonsil akan membentuk septa dan membawa pembuluh darah dan saraf. Medial : Mukosa yang dibentuk oleh epitel selapis gepeng, kripta, dan mikrokripta. Posterior : Pilar posterior yang dibentuk oleh palatopharingeus yang berjalan dari bagian bawah pharing menuju aponeurosis palatum molle. Anterior : Pilar anterior yang dibentuk oleh palatoglossus yang berjalan dari permukaan bawah lidah menuju aponeurosis palatum molle. Palatoglosus mempunyai origo seperti kipas dipermukaan oral palatum mole dan berakhir pada sisi lateral lidah. Palatofaringeus merupakan otot yang tersusun vertikal dan diatas melekat pada palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak. Otot ini meluas kebawah sampai kedinding atas esofagus. Otot ini lebih penting daripada palatoglosus dan harus diperhatikan pada operasi tonsil agar tidak melukai otot ini. Kedua pilar bertemu diatas untuk bergabung dengan paltum mole. Di inferior akan berpisah dan memasuki jaringan pada dasar lidah dan lateral dinding faring. Plika triangularis (tonsilaris) merupakan lipatan mukosa yang tipis, yang menutupi pilar anterior dan sebagian permukaan anterior tonsil. Plika semilunaris (supratonsil) adalah lipatan sebelah atas dari mukosa yang mempersatukan kedua pilar. Fossa supratonsil merupakan celah yang ukurannya bervariasi yang terletak diatas tonsil diantara pilar anterior dan posterior. Celah atau ruangan ini terjadi karena tonsil tidak mengisi penuh fossa tonsil. Tonsil palatina lebih padat dibandingkan jaringan limfoid lain, berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm. Permukaan sebelah dalam tertutup oleh membran epitel skuamosa berlapis yang sangat melekat. Permukaan lateral-nya ditutupi oleh kapsul tipis dan di permukaan3

medial terdapat kripta. Kripta tonsil berbentuk saluran tidak sama panjang dan masuk ke bagian dalam jaringan tonsil yang mengandung jaringan limfoid dan disekelilingnya terdapat jaringan ikat. Ditengah kripta terdapat muara kelenjar mukus. Permukaan kripta ditutupi oleh epitel yang sama dengan epitel permukaan medial tonsil. Umumnya berjumlah 8-20 buah untuk masing-masing tonsil, kebanyakan terjadi penyatuan beberapa kripta.Saluran kripta ke arah luar biasanya bertambah luas. Secara klinik kripta dapat merupakan sumber infeksi, baik lokal maupun umum karena dapat terisi sisa makanan, epitel yang terlepas, kuman.4

Gambar 2. Anatomi Tonsil Palatina dan Jaringan Sekitarnya

Bagian luar tonsil terikat pada m.konstriktor faringeus superior, sehingga tertekan setiap kali menelan, m. palatoglusus dan m. palatofaring juga menekan tonsil. Selama masa embrio, tonsil terbentuk dari kantong pharyngeal kedua sebegai tunas dari sel endodermal. Singkatnya setelah lahir, tonsil tumbuh secara irregular dan sampai mencapai ukuran dan bentuk, tergantung dari jumlah adanya jaringan limphoid.2 Struktur di lateral terdapat kapsul yang dipisahkan dari m.konstriktor faring superior oleh jaringan areolar longgar. V. palatina externa berjalan turun dari palatum molle dalam jaringan ikat longgar ini, untuk bergabung dengan pleksus venosus pharyngeus. Lateral terhadap m.konstriktor faring superior terdapat m. styloglossus dan lengkung a.facialis. A. Carotis interna terletak 2,5 cm di belakang dan lateral tonsilla.6 Tonsilla palatina mendapat vaskularisasi dari ramus tonsillaris yang merupakan cabang dari arteri facialis, cabang cabang a. lingualis, a. palatina ascendens a. pharyngea ascendens.Sedangkan inervasinya diperoleh dari n. glossopharyngeus dan n. palatinus minor. Pembuluh limfe masuk dalam nl. cervicales profundi. Nodus paling penting pada kelompok ini adalah nodus jugulodigastricus, yang terletak di bawah dan belakang angulus mandibulae.44

Ruang Peritonsiler7,8 Ruang peritonsil letaknya berbatasan sebelah medial dengan kapsul tonsil palatine, sebelah lateral dengan muskulus kontriktor faring superior, sebelah anterior dengan pilar anterior dan sebelah posterior dengan pilar posterior. Akumulasi nodus ber