ramalan sabdo

17
Ramalan Sabdo Palon ( Terjemahan bebas bahasa Indonesia ) 1. Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong. 2. Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan  baik.” 3. Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah. 4. Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa. 5. Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain- lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya. 6. Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi. 7. Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya  banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia. 8. Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya. 9. Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang  bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan. 10. Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang

Upload: made-narzies

Post on 14-Jul-2015

429 views

Category:

Documents


60 download

TRANSCRIPT

Page 1: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 1/17

 

Ramalan Sabdo Palon( Terjemahan bebas bahasa Indonesia )

1.Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu

itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi olehPunakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

2.Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya

sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”

3.Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja

serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja ditanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

4.Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat.

Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi),saya sebar seluruh tanah Jawa.

5.Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda

akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkanlaharnya.

6.Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang.

Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itusudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah

lagi.

7.Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji.

Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

8.Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkindisingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya

dunia ini ada yang membuatnya.

9.Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak 

mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang

hilang di hutan.

10.Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang

Page 2: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 2/17

 

dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia.Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.

11.Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat

aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul

datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

12.Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila

dilihat persis lautan pasang.

13.Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang

hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyutdengan gemuruh suaranya.

14.Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehinggamenghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi

habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

15.Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga.

Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh disana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh.

Kebanyakan mereka meninggal dunia.

16.Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya.

Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara.Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi

kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

JANGKA SABDA PALON: RAMALAN KEHANCURANISLAM DI JAWA?Posted on 24 Januari 2010 by susiyanto

PENDAHULUAN

Salah satu buku berbahasa Jawa yang sering dengan tujuan memunculkan ruang berjarak antaraIslam dan Jawa adalah kitab “Jangka Sabda Palon”. Umumnya, upaya-upaya yang mengarahkanuntuk memicu gap ini lebih banyak disebabkan penafsiran yang kurang memperhatikan  pemahaman komprehensif terhadap keseluruhan teks. Kitab jangka tersusun dari rangkaiantembang macapat ini sering disebut secara lengkap sebagai Serat Jangka Jayabaya Sabdo Palon,selanjutnya diingkat sebagai  Jangka Sabda Palon. Penamaan ini mungkin disebabkan konten buku ini selain memuat kisah tentang tokoh Sabda Palon, juga berisi tentang mitologi “PrabuJayabaya”. Serat Jangka Sabdo Palon diyakini merupakan karya R. Ng. Ranggawarsita. Moh.

Page 3: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 3/17

 

Hari Soewarno, seorang wartawan dan budayawan Jawa, dalam bukunya “Ramalan JayabayaVersi Sabda Palon”, menjelaskan bahwa dalam jangka tersebut terdapat   sandi asma yangmenunjukkan bahwa Jangka Sabda Palon merupakan karya R. Ng. Ranggawarsita.[1]

Anggapan yang berkembang saat ini, umumnya, menyatakan bahwa “Jangka Sabda Palon”merupakan sebuah kitab jangka yang berbicara tentang kehancuran Islam di tanah Jawa dan

digantikan oleh ajaran “pengganti Islam” setelah 500 tahun keruntuhan Majapahit. Opini inirupanya telah diamini oleh sejumlah pihak tanpa mencoba bersikap kritis danmempertanyakannya kembali. Kebanyakan orang yang turut mengiyakan pendapat ini, seringtidak memiliki akses membaca dari sumbernya secara langsung. Hanya ikut arus mengikutiwacana umum yang berkembang secara taken for granted . Hal yang paling dirasakan, akibatkurang totalitasnya pemahaman terhadap substansi Jangka Sabda Palon adalah muncul sejumlahklaim atas penafsirannya. Klaim ini sudah tentu mewakili kepentingan tertentu untuk menjustifikasi bahwa ajaran yang dimaksud sebagai “pengganti Islam” adalah ajaran dari pemilik klaim tersebut. Terk ggunakan “Teori Pengaruh” yang tidak terstruktur dengan baik. Kelemahan paling umum yangsering dilakukan oleh penghasung teori pengaruh ialah kecenderungan membuat generalisasisecara terburu-buru, penarikan kesimpulan berdasarkan data yang belum lengkap, memaksakandata yang sebenarnya tidak relevan, dan pengamatannya hanya bersifat parsial.

KLAIM DAN KESALAHPAHAMAN

Isu tentang agama “pengganti Islam” di Jawa sempat menguat dalam Seminar KebathinanIndonesia I pada 14-15 Nopember 1959 di Jakarta. Ketua Umum badan Kongres KebathinanIndonesia (BKKI), Mr. Wongsonegoro, dalam pendahuluan seminar melontarkan isu tentang visinubuatan sumpah Sabda Palon terhadap Prabu Brawijaya. Di antara isi sumpah itu, bahwa 500tahun kemudian akan berkembang biak gerakan kebatinan di Tanah Jawa.[3] Dapat dikatakan  bahwa kaum kebatinan yang ikut terlibat dalam kongres tersebut telah memanfaatkan Serat  Jangka Sabdo Palon dengan membuat klaim bahwa ajaran “pengganti Islam” yang dimaksuddalam Jangka Sabda Palon adalah “Kebatinan”. Hal ini merupakan klaim pertama terkait

 penafsiran Jangka Sabda Palon.Sedangkan klaim kedua terdapat dalam Serat Darmagandul yang baru ditulis pada 16 Desember 1900 M menyatakan bahwa berakhirnya Agama Islam di tanah Jawa akan digantikan oleh ajaranKristen. Salah satu bagian dari isi Serat Darmagandul juga menceritakan tentang adanya JangkaSabda Palon. Dalam Serat Darmagandul ini digambarkan bahwa Prabu Brawijaya yang telah di-Islamkan oleh Sunan Kalijaga, kemudian meminta kepada Sabda Palon, abdinya, agar mengikutiagama barunya. Sabda Palon menolak ajakan Prabu Brawijaya, tuannya. Bahkan diceritakanSabda Palon lantas mengeluarkan kutukan bahwa akan banyak orang Jawa yang meninggalkanIslam dan berganti dengan agama kawruh.[4]

“Wong Djawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kawruh …”

(Orang Jawa ganti agama, akeh tinggal agama Islam besok, berganti agama kawruh …)

Ada pun yang dimaksud dengan agama kawruh dalam Serat Darmagandul tersebut, tidak lainadalah Kristen. Pendapat ini sejalan dengan hasil tulisan dua orang akademisi dan orientalisBelanda yaitu G. W. J. Drewes[5] dan Philip van Akkeren.[6] Hal ini dapat dilihat dari isi SeratDarmagandul, salah satunya adalah sebagai berikut:

 Lamun seneng bukti, woh wit kadjeng kawruh, Anyebuta asmane Djeng Nabi, Isa kang kinaot,mituruta Gusti agamane ,[7]

Page 4: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 4/17

 

(Jika suka dengan bukti, buah pohon kayu pengetahuan, (Maka) sebutlah nama beliau Nabi Isayang termuat, turutilah agamanya, )

Perlu diketahui bahwa cerita Sabda Palon dalam Serat Darmagandul tersebut telah mengambilide cerita sepenuhnya dari Serat Babad Kadhiri yang ditulis pada 1832 M. Namun demikianterkait dengan “kutukan” bernuansa ramalan dari Sabda Palon bahwa agama Kawruh akan

menggantikan ajaran Islam merupakan inisiatif penulis Darmagandul sendiri. Jadi hal ini murni  pemikiran pengarang Serat Darmagandul. Harus dipahami bahwa keseluruhan isi SeratDarmagandul memang lebih tepat dikatakan sebagai hasil dari “plagiasi” dari Serat BabadKadhiri, kecuali pada tema-tema tentang Kristen dan pelecehan terhadap Islam. SeratDarmagandul ini merupakan karya seorang Kristen yang sedang menjalankan proyek orientalisme pada masa penjajahan Belanda.[8]

Dengan demikian telah kita dapatkan dua klaim penafsiran atas substansi dari Jangka SabdaPalon. Di satu pihak, kalangan kebatinan menganggap bahwa Jangka Sabda Palon merupakanvisi ke depan tentang eksistensi ajaran kebatinan. Di lain pihak jangka tersebut ditafsirkansebagai nubuatan “kedatangan” Kristen di Jawa. Kedua penafsiran ini jelas tidak lepas dari motif dan kepentingan masing-masing.

Selain kedua penafsiran di atas, jika Jangka Sabda Palon dimaknai secara tekstual maka akanditemukan adanya cita-cita menghidupkan Agama Budha kembali. Hal ini dapat dilihat dalam jangka yang bercerita tentang dialog antara Sabda Palon dan Prabu Brawijaya sebagai berikut:

“  Klawan Paduka sang Nata, wangsul maring sunya ruri, mung kula matur petungna, ing benjang sak pungkur mami, yen wus prapta kang wanci, jangkep gangsal atus tahun, wit ing dinten punika, kula gantos kang agami, gama Buda kula sebar tanah Jawa”.[9]

(Adapun paduka Sang raja, kembali ke alam baka, hanya saja saya meminta andamemperhitungkan bahwa sepeninggal saya, jika sudah tiba waktunya, genap lima ratus tahun,mulai hari itu, akan saya ganti agama (Islam), agama Budha akan saya sebar di tanah Jawa).

Penafsiran bahwa Jangka Sabda Palon merupakan justifikasi bagi munculnya kembali ajaran

Budha maupun kelahiran kebatinan, umumnya lebih banyak dianut oleh sejumlah kalangan diJawa. Namun dimaksud oleh pengarang tentu adalah sesuatu yang sama sekali berbeda.Maksudnya, dalam hal ini tidak secara harfiah sebagaimana istilah yang digunakan “agamaBudha”. Sebab tujuan akhir sang pengarang Serat Jangka Sabda Palon ternyata adalah sebuah proses untuk “menerima” Islam.

EKSISTENSI SABDA PALON

Jika kita telusur lebih jauh, cerita nubuatan semacam sumpah Sabda Palon tidak lebih sekedar sebagai karya sastra saja. Karya ini menggunakan cerita rakyat yang telah banyak beredar dimasyarakat. Dalam tradisi oral yang berkembang di sekitar Trowulan, sebuah wilayah yangdiyakini sebagai salah satu situs Majapahit, tokoh Sabda Palon dan Naya Genggong merupakantokoh yang diyakini hidup pada masa Majapahit dan memiliki pekerjaan sebagai abdi dalem

Keraton. Cerita-cerita babad kemudian memanfaatkan tradisi lesan yang berkembang ini, denganmeminjam nama Sabda Palon dan Naya Genggong, kemudian memberi peran baru kepada keduatokoh ini, dan pada giliran selanjutnya diangkat dari derajadnya yang tidak lebih dari abdi dalem biasa menjadi “danyang” Tanah Jawa. Dengan demikian tradisi oral tentang cerita Sabda Palondan Noyo Genggong telah memiliki nilai baru dan menjadi mitologi. Proses demikian adalah hal biasa terjadi mengingat adanya sejumlah kepentingan yang bermain.

Kenyataannya dalam tradisi lesan yang berkembang di Trowulan, tokoh Sabda Palon dan NoyoGenggong bukan merupakan sosok yang anti Islam. Sabda Palon dan Noyo Genggong yang

Page 5: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 5/17

 

hidup dalam tradisi oral masyarakat adalah dua orang abdi Majapahit yang telah memeluk agamaIslam. Hal ini sudah tentu berbeda dengan sejumlah kisah babad yang menempatkan keduanyasebagai sosok mitologis. Berdasarkan keterangan resmi Pusat Informasi Majapahit (MuseumTrowulan), kedua tokoh tersebut merupakan dua di antara 7 (tujuh) dari nama orang yangdimakamkan di situs makam Troloyo yang terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan.Perlu diketahui bahwa ketujuh makam di situs Troloyo tersebut merupakan makam abdi dalemMajapahit yang telah memeluk agama Islam.[10]

Makam abdi Majapahit yang telah memeluk Islam. Nampak kalimat Syahadat

terukir di nisannya. (Dok. Susiyanto)

Dengan keterangan tersebut, tokoh Sabda Palon dan Noyo Genggong yang hidup dalam ceritarakyat justru merupakan penganut ajaran Islam. Sehingga setelah wafatnya disemayamkan dalam pemakaman Islam pula. Meskipun demikian Cerita tentang keberadaan nama Sabda Palon dan Noyo Genggong di situs Troloyo ini hanya didasarkan kepada tradisi lesan yang berkembang

 pada masyarakat di sekitar situs itu saja. Kebenarannya sudah tentu sukar diverifikasi. Namuntidak diragukan lagi bahwa cerita-cerita babad yang saat ini beredar, umumnya banyak yangmenggali ide ceritanya dari tradisi lesan yang berkembang di suatu masyarakat tertentu.Kemudian tradisi lesan yang ada, diberi muatan nilai baru dan dimodifikasi sesuai pesan yanghendak disampaikan sehingga muncullah mitos tersebut.

KRITIK ATAS PEMAHAMAN

Sebagai sebuah jangka yang dinyatakan memiliki visi ramalan, Jangka Sabda Palon bukannyatanpa kritik. Perlu dimengerti bahwa memahami Jangka Sabda Palon sebagai sebuah “ramalan”sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh sebuah pola cara pandang. Bagi seseorang yangmenyukai klenik, dengan menghubung-hubungkan Jangka Jayabaya dengan sebuah kepentingan

tertentu maka bisa saja didapatkan kesimpulan bahwa jangka ini telah m”meramalkan sesuatu”. Namun dengan cara demikian jelas banyak kelemahan yang akan ditemui. Sebut saja misalnyaJangka Jayabaya menyebutkan bahwa pada masa berlakunya “ramalan” maka akan terjai sebuah  jaman yang paling menyengsarakan penduduk Tanah Jawa. Masa yang dimaksud ditandaidengan  sengkalan sebagai “Lawon Sapta Ngesthi Aji”. Jika diterjemahkan ke dalam bentuk angka maka sengkalan tersebut akan menunjukkan tahun 1877 tahun Jawa. Hal ini ditunjukkandalam Jangka Sabda Palon sebagai berikut:

Page 6: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 6/17

 

Sanget-sangeting sangsara, kang tuwuh ing tanah Jawi, sinengkalan tahunira, Lawon sapta Ngesthi Aji, upami nyabrang kali, prapteng tengah-tengahipun, kaline banjir bandhang, jeronenglelebne jalmi, kathah manungsa prapteng pralaya

(Waktu paling sengsara yang terjadi di tanah Jawa terjadi pada sengkalan tahun Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama menyeberang sungai setelah sampai di tengah-tengah, sungainya banjir 

 besar, kedalamannya menenggelamkan manusia, banyak manusia yang tewas) Pemaknaan atas isi Jangka Sabda Palon tersebut sudah tentu bisa bermacam-macam tergantungcara pandang yang dimiliki penafsirnya. Tradisi Jawa sendiri tidak memiliki metodologi yang jelas dalam berinteraksi dengan bentuk-bentuk teks semacam ini. Salah satu cara pandang yang  bisa dikemukakan adalah dengan melihat peristiwa apa saja yang terjadi pada tahun Jawatersebut. Angka tahun 1877 tahun Jawa jika dikonversi ke dalam penanggalan masehi maka akandidapatkan angka tahun 1945 atau 1946 M.[11] Jika angka tahun tersebut dihubungkan dengan“kesengsaraan yang terjadi di tanah Jawa” maka akan didapatkan hasil yang membingungkan.Sebab diketahui bersama bahwa pada tahun 1945-1946 ini bangsa Indonesia termasuk penduduk tanah Jawa sedang berada dalam suasana kegembiraan karena “  Atas berkat rahmat Allah yang maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur … maka rakyat Indonesia

menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”[12] Tentu saja hal ini bisa ditafsirkan dengan carayang lain dimana bentuk-bentuk penafsiran tersebut tidak dapat dibatasi dengan satu cara pandang saja. Dengan demikian klaim-klaim terkait penafsirannya bisa saja tidak sepi dari motif dan kepentingan.

Motif dan kepentingan tertentu juga bisa berlaku dalam kasus penafsiran Jangka Sabda Palonsebagai “anti Islam” dan “menubuatkan” lenyapnya Islam di tanah Jawa. Jika diteliti secaramendalam, istilah-istilah seperti agama Buda atau Budi dalam jangka Sabda Palon ternyata tidak menunjukkan adanya eksistensi ajaran Agama Budha sama sekali. Jadi yang dimaksud denganAgama Buda atau Budi ternyata memiliki makna istilahiy yang lain dari makna aslinya. Hal iniditunjukkan dalam penghujung akhir Serat Jangka Sabdo Palon sebagai berikut:

 Pepesthene nusa tekan janji, yen wus jangkep limang atus warsa, kepetung jaman Islame, musna

bali marang ingsun, gami Budi madeg sawiji, …

(Takdir nusa sampai kepada janji, jka sudah genap lima ratus tahun, terhitung jaman Islam,musnah kembali kepadaku, Agama Budi berdiri menjadi satu …)

Justru Jangka Sabda Palon dari segi isinya menunjukan bahwa ada keinginan mendalam daritokoh “Sabda Palon” untuk menganut Islam pada masa yang akan datang, yaitu pasca lima ratustahun ramalannya. Dalam pandangan Sabda Palon ajaran Islam yang dibawa oleh para WaliSongo, termasuk Sunan Kalijaga, belum merupakan ajaran Islam yang sempurna. Sabda Palon  berkehendak menganut ajaran agama ini jika telah diajarkan secara sempurna, bebas darisinkretisme. Hal ini ditunjukkan sebagai berikut:

Thathit kliweran ing nusa Jawa, pratandhane wong nuduhna, sampurnakna agamane, yeku

agama rasul, anyebarna Islam Sejati, duk jaman Brawijaya, ingsun datan purun, angrasuk agama Islam, marga ingsun uninga agama niki, nlisir saking kang nyata.[13]

Moh. Hari Soewarno, seorang wartawan dan budayawan Jawa, menafsirkan kalimat di atas  bahwa pada masa kehidupan Prabu Brawijaya, raja Majapahit, tokoh Sabda Palon belum bersedia menganut Agama Islam dan lebih memilih menganut Agama Budha.[14] Alasannya,Sabda Palon masih menganggap bahwa penganut Islam saat itu masih menyimpang dari ajaranIslam yang murni. Namun pada saatnya kelak, jika Agama Islam telah diajarkan secara murni,maka Sabda Palon akan bersedia memeluk Agama Islam.[15]

Page 7: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 7/17

 

Dalam anggapan Sabda Palon, Islam belum dianggap mencapai kesejatian atau kemurnian jikahanya diamalkan menjadi ibadah ritual belaka tanpa memperhatikan kebersihan jiwa. Juga tidak menjadi murni jika hanya diucapkan dibibir namun tidak menjadi praktek nyata.[16]  Bahkan pada bagian akhir Jangka ini tokoh Sabda Palon mengancam “manusia Jawa” jika mereka tidak mengikuti dirinya memeluk agama rasul yaitu islam yang sejati. Maka akan berattanggungjawabnya kelak. Hal ini ditujukkan sebagai berikut:

Sampurnakna agamane, yeku agama Rasul, Islam kang sejati … Ngelingana he pra umat sami, yen sira tan ngetut kersaning wang, yekti abot panandhange, ingsun pikukuhipun, nuswantaraing saindenging, …[17]

Dengan demikian anggapan bahwa Jangka Sabda Palon merupakan karya sastra yangmemperkuat mitos bahwa Islam akan lenyap dari bumi Jawa terbukti tidak benar. Jangka SabdaPalon justru berbicara sebaliknya bahwa Islam akan sampai kepada pemurnian ajarannya dimanaSabda Palon sendiri berkehendak memeluk agama tersebut. Hal demikian memang sulitdipahami, sebab banyak bahasa simbol yang digunakan dalam kitab tersebut.

Kesalahan penafsiran terhadap jangka Sabda Palon, sebagai “nubuatan” Kristen, Budha, maupunkebatinan lebih banyak didasarkan kepada kepentingan tertentu. Juga disebabkan kurang teliti

menganalisa Jangka tersebut.

PENUTUP

Lepas dari semua pembahasan di atas, Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon hanya merupakansebuah karya sastra belaka. Kisah-kisah yang ada di dalamnya juga tidak bisa digunakan sebagaisumber bagi kajian sejarah. Beberapa pembahasan yang dihadirkan di dalamnya banyak disemangati oleh nilai-nilai tasawuf. Meskipun demikian juga tidak dalam segala hal harusditerima sebagai karya yang Islami. Juga tidak bisa diremehkan sebagai buku yang ala kadarnya.Hanya saja mungkin, dengan menjernihkan kesalahpahaman ini maka akan tercipta sebuahdinamisasi dialogis yang lebih baik bagi Islam di Jawa.

Serat Jangka Jayabaya Sabda Palon bukan merupakan karya yang harus dikategorikan sebagai

karya sastra yang mengambil sikap menetang hukum syariat (murang syarak ). Melainkan karyayang mampu menjembatani “kebuntuan” dan kebekuan relasi dialogis yang telah mengungkungselama sekian waktu akibat kurang mendalamnya perhatian di antara kita. Perlu diketahuinaskah-naskah berbahasa Jawa yang memperlihatkan sikap murang syarak , secara nominalsebenarnya hanya minoritas saja, sekedar “suara pinggiran”. Hal itupun kadang tidak lepas dari pengaruh “negatif” masa Penjajahan Belanda, tercipta dari kaum yang telah terbeli tekadnya.Hanya saja jumlah yang hanya sedikit dibandingkan karya-karya yang memberikan apresiasi positif terhadap Islam ini, seringkali diangkat secara besar-besaran, sehingga kesannya apresiasiyang terakhir ini mewakili wajah Jawa. Oleh karena itu kewaspadaan hendaknya menjadi bagiandari kesadaran umat seluruhnya di Jawa. [Susiyanto – Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI)).

FOOTNOTE

[1] Moh. Hari Soewarno.  Ramalan Jayabaya Versi Sabda Palon. (PT. Yudha Gama Corp,Jakarta, 1982). Hal. 35

[2] Lihat Bambang Noorsena. Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen. Cetakan II. (Penerbit Andi, Yogyakarta, 2007). Hal. 32, 43

[3] Lihat Kata Pendahuluan dalam  Hasil Seminar Kebathinan Indonesia Ke-I   Djakarta. (BadanKongres Kebathinan Indonesia, Jakarta, 1959). Hal. 8

Page 8: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 8/17

 

[4] Lihat Anoname. Darmagandul . Cetakan IV. (Tan Khoen Swie, Kediri, 1955). Hal. 63-93

[5] Lihat G. W. J. Drewes. The Struggle Between Javanism and Islam as Illustrated by the Serat  Dermagandul . Dalam Bijdragen Tot De Taal,- Land- En Volkenkunde Edisi. 122 No. 3. (S.Gravenhage-Martinus Nijhoff, Leiden, 1966). Hal. 327

[6] Melihat sedemikian kentalnya ajaran kekristenan dalam Serat Darmagandul, sampai-sampai

Philip van Akkeren berspekulasi bahwa pengarang serat tersebut adalah Tunggul Wulung,seorang Kristen dari kalangan suku Jawa. Meskipun demikian tidak dapat ditampik bahwa SeratDarmagandul memang hasil karya penganut ajaran Kristen. Lihat Dr. Philip van Akkeren. Serat  Darmagandul, Karya Tunggul Wulung dan Pekabaran Injil di Jawa Timur. Dalam wacana akhir  buku karya Bambang Noorsena. Menyongsong ... Opcit . Hal. 332

[7] Lihat anoname. Darmagandul . Cetakan IV. (Tan Khoen …). Hal. 4

[8] Lihat Susiyanto.   Darmagandul dan Orientalisme. Dalam Jurnal ISLAMIA (HarianREPUBLIKA Edisi Kamis 13 Agustus 2009). Hal. 25

[9] Ramalan Jaya Baya versi Sabda Palon dalam Moh. Hari Soewarno.  Ramalan Jayabaya VersiSabda Palon. (PT. Yudha Gama Corp, Jakarta, 1982). Hal. 29-30

[10] Lihat Brosur Pusat Informasi Majapahit (Museum Trowulan). Drs. I. Made Kusumajaya,M.Si. et. all. Visit  Majapahit Kingdom Sites. (Departemen Kebudayaan dan Pariwisata – BalaiPelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur, Mojokerto). Tentang keberadaan makam Islamdi Majapahit tersebut lihat Drs. I. Made Kusumajaya, M. Si, et.all. Mengenal KepurbakalaanMajapahit di Daerah Trowulan. (Tidak diterbitkan). Juga Denys Lombard.  Nusa Jawa : Silang  Budaya Kajian Sejarah Terpadu. Bagian II : Jaringan Asia. Cetakan III. (PT Gramedia PustakaUtama, Jakarta, 2005). Hal. 34

[11] Terkait cara penghitungan dan konversi tahun baik Hijriyah, Masehi, maupun Tahun Jawalihat Noname. Almanak 130 Tahun 1870 – 2000. Cetakan II. (CV. Citra Jaya, Surabaya, 1984)

[12] Pembukaan Undang-undang Dasar 1945

[13] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya versi …Opcit . Hal. 39[14] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya versi … Ibid . Hal. 46

[15] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya versi…. Ibid . Hal. 70

[16] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya versi … Ibid . Hal. 70

[17] Moh. Hari Soewarno. Ramalan Jayabaya versi … Ibid . Hal. 39

Suka

4 bloggers like this post.

Page 9: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 9/17

 

Filed under: Telaah Perkamen Ditandai: | Islam Jawa, Jayabaya, Ramalan Jayabaya, ramalanSabda Palon, sabda Palon, sabdopalon 

« DARMAGANDUL DAN ORIENTALISME MANIPULASI MITOLOGI AJI SAKA VERSI TOKOH KRISTEN ORTHODOKS SYIRIA (KOS) »

• Statistik Tamu○ 78,650 Kunjungan

• Tamu Online

• Kalender Hijriyah• Tulisan Teratas

○  JANGKA SABDA PALON: RAMALAN KEHANCURAN ISLAM DI JAWA?

○ KESULTANAN DEMAK, PASCA KERUNTUHAN MAJAPAHIT

○ ISLAM DALAM RAMALAN JAYABAYA

○ KLASIFIKASI HADITS (1)

○ MANIPULASI MITOLOGI AJI SAKA VERSI TOKOH KRISTEN ORTHODOKS

SYIRIA (KOS)

○ MELACAK PEMAHAMAN ASY’ARIYAH DALAM PEMIKIRAN MUHAMMADABDUH

○ KRONIK SEPUTAR PEMBENTUKAN DASAR NEGARA

○ ANTARA ISLAM DAN KEBUDAYAAN CANDI 

○ EBOOK ISLAM GRATIS

○ BUDI OETOMO, ICON KEBANGKITAN BANGSA INDONESIA ?

• Komentar Terakhir MUSLIM on “KETUHANAN” MARYAM : 

MISKONSEP…

Saba on JEJAK SYARIAH PHOBIA DALAM

PEM…

langitkoe on PRAKATA

ebook gratisan on EBOOK GRATIS

KATEGORI HIB…

Page 10: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 10/17

 

wondo on PRAKATA

satria on JEJAK SYARIAH PHOBIA DALAM

PEM…

mualaf on MANIPULASI MITOLOGI AJI SAKA

V…

sani on ISLAM DALAM RAMALAN JAYAB…

• Blogroll○ DR. ADIAN HUSAINI, MA

○ INSISTS

○ Software Islami 

• Spam Blocked543 spam comments

Blog pada WordPress.com. Theme: Digg 3 Column by WP Designer.

Ikuti 

Follow Susiyanto's WeblogTop of Form

Get every new post delivered to your Inbox.

Masukkan ala

Bottom of Form

Powered by WordPress.com

enomena Semburan Lumpur SidoarjoTelah setahun berlalu, namun bumi Porongdengan kegarangannya terus memuntahkanlumpur panas mengandung gas beracun daridalam perutnya tanpa henti. Tak bergeming ditengah manusia berupaya dengan sekian banyak jurus yang dilakukan. Sekian banyak seminar dan diskusi telah diselenggarakanguna menelurkan teori-teori ilmiah mencaricara terapi penghentiannya. Berbagaiteknologi pun telah diimplementasikan. Telahsekian banyak pula upaya ritual keagamaandan spiritual dilaksanakan. Artinya,

 bertriliun-triliun rupiah telah dimuntahkan guna mengatasi semburan lumpur bumi Porong yangseakan menantang dan makin menunjukkan keangkuhannya. Entah berapa ratus triliun rupiahlagi akan dikeluarkan untuk menanggulangi semburan lumpur tersebut beserta dampak dan

Page 11: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 11/17

 

akibatnya. Padahal para pakar geologi pun telah memprediksikan bahwa fenomena alamsemburan lumpur Porong ini baru akan berhenti setelah melalui masa selama 33 tahun. Suatufenomena yang luar biasa sekaligus memprihatinkan di tengah situasi negeri ini yang carut marutdan makin terpuruk. Dampak dari ini semua yang terpenting adalah berapa banyak lagi rakyatkecil yang akan menjadi korban? Sedangkan korban yang ada saat ini saja masih terkatung-katung nasibnya. Hanya janji-janji kosong yang membuai mereka setiap saat. Tangis dan rintihankepedihan hidup mereka seakan ditelan waktu menjadi sesuatu yang lumrah dan biasa. Nampaknya pemerintahan negeri ini telah gagal, tak mampu mengatasi persoalan ini dengancepat dan sigap, terlihat mengulur-ulur waktu dan melindungi “kepentingan tertentu”.

Para elite negeri ini sepertinya telah terhijab dan terbelenggu oleh taghut-taghutnya sendiri.Mereka telah menanggalkan “Jas Merah” (ungkapan Bung Karno : Jangan sekali-kalimeninggalkan sejarah). Sejarah masa lalu hanya dijadikan dongeng sebelum tidur. Kita semuatelah lupa. Kita semua “ada” saat ini adalah merupakan hasil perjalanan sejarah masa lalu. Lupasejarah sama artinya kita melupakan asal-usul, lupa orang tua, lupa kakek nenek, lupa leluhur,dan sama artinya melupakan Allah SWT. Betapa tidak, padahal Al Qur’an dan kitab-kitab sucilainnya yang menjadi pedoman hidup umat di bumi ini meriwayatkan pengalaman, ucapan, perbuatan dan akibat baik buruk orang-orang terdahulu.

Sejarah bukan sekedar perjalanan manusia di bumi yang terjadi begitu saja adanya, namun jikadirenungkan lebih dalam memberikan pelajaran bagi kita akan ketetapan-ketetapan-Nya. Secararingkas dapat dikatakan, dengan melihat sejarah, Allah memberikan pelajaran kepada kita, dalamkawruh Jawa salah satu hikmahnya dikenal dengan istilah : “Ngunduh wohing pakerti” (orangakan memetik hasil atas perbuatannya sendiri). Bangsa ini adalah merupakan anak cucu paraleluhur negeri ini. Sudah semestinya kita tidak melupakan sejarah keberadaan beliau para leluhur nusantara dengan segala fenomenanya. Sudah selayaknya kesadaran akan kesatuan persatuan berbangsa dan bernegara diikat oleh kenyataan sejarah nusantara ini. Menjadi suatu kenyataan bahwa bumi Nusantara (Indonesia) berbeda dengan bumi Arab, berbeda dengan bumi Amerika,Eropa, Afrika, Cina, dan lain-lain. Walaupun agama-agama telah menjadi keniscayaan berkembang di negeri ini, namun semestinya kita tidak meninggalkan “jati diri” sebagai bangsadi tanah yang kaya raya ini, Nusantara. Sudah selayaknya kita orang Jawa mempertahankanidentitas (tradisi dan budaya) ke Jawa-annya, orang Batak dengan identitas ke Batak-annya,orang Aceh dengan ke Aceh-annya, orang Dayak dengan ke Dayak-annya, dan sebagainya.

Apakah di jaman digital ini kita masih tidak percaya dengan petuah-petuah leluhur kita? Apalagi petuah atau karya leluhur yang winasis dan waskita yang merupakan wasiat bagi anak cucunegeri ini. Apakah kita masih angkuh dan sombong di dalam “nguri-uri budaya leluhur”menanggapi dengan pernyataan bahwa semua itu merupakan sesuatu yang syirik musyrik bahkan bid’ah dan sesat? Juga dinilai sebagai mistik dan tahayul? Padahal mistik dan tahayul merupakansuatu ungkapan terhadap hal-hal yang tidak dapat dicerna dengan akal penalaran karena bersifatgaib (tidak nyata atau tidak kasat mata). Padahal pula kegaiban adalah suatu kenyataan yang bagikita umat beragama diwajibkan untuk meyakininya. Di dalam agama Islam kita mengenal

adanya 6 (enam) Rukun Iman. Jin dan setan pun nyata adanya sebagai mahluk gaib ciptaan AllahYang Maha Gaib. Apakah kita masih ingin mengingkarinya? Jadi, soal syirik musyrik, bid’ahdan sesat merupakan penilaian yang menjadi hak Allah semata. Kita sesama hamba ciptaan-Nyatidak berhak untuk saling memvonis dan menghakimi dalam persoalan ini.

Setidaknya kita patut tersadar bahwa ternyata wasiat-wasiat leluhur Nusantara ini merupakansuatu hal yang fenomenal dan luar biasa yang pernah ada dan pernah terjadi di muka bumi ini.Bayangkan dan renungkan sejenak, tanpa tersadar bangsa ini sebenarnya telah memiliki wasiatyang secara rinci namun tersamar menggambarkan sosok pemimpin dan situasi umum keadaan

Page 12: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 12/17

 

negara ke depan. Tentu saja semua terjadi atas Kehendak Allah dengan segala Kekuasaan-Nya.Dan semua itu merupakan harta karun yang tak ternilai harganya. Selain mengandung petuahtentang budi pekerti yang baik juga mengandung prediksi perjalanan bangsa ini dengan situasidan kondisi yang menyertainya. Apakah kita masih mengingkari, jika dikatakan oleh PrabuJayabaya (Jenggala, Th 1135 – 1157) di dalam Kitab Musarar akan berdiri kerajaan Kediri,Singosari, Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram? Padahal masing-masing kerajaan berselang waktu ratusan tahun sesudahnya. Apakah kita masih mengingkari, jika dari perlambang yang ada dikatakan bahwa sejak Kemerdekaan Negara RI 1945 dikatakan bahwanegara dikutuk selama 60 tahun? Apakah kita juga masih mengingkari, bahwa pada saat ini kitamasuk kepada era pemimpin dengan perlambang “Tan kober pepaes sarira, tan tinolih sinjang kemben” yang bermakna bahwa pemimpin yang tidak sempat mengatur negara karenadirepotkan dengan berbagai masalah? Hal ini dengan versi lain dikatakan oleh Ronggowarsito, bahwa saat ini masuk pada era pemimpin “Satrio Boyong Pambukaning Gapuro” dengan segalafenomenanya (lihat : Ramalan 7 Satrio Piningit 

 

 ). Sejujurnya bisa dikatakan bahwa di erakepemimpinan SBY – JK saat ini telah terjadi banyak bencana dan kecelakaan, sampai-sampaiterlihat tidak sempat mengatur negara. Banyak kebijakan-kebijakan beliau yang mandul dalam pelaksanaannya walaupun banyak dibantu orang-orang pandai di bidangnya. Berpotensi

terjadinya disintegrasi bangsa (proses perdamaian semu GAM – RI merupakan potensi latendisintegrasi Aceh dari naungan NKRI di depan hari).

Hal senada juga dikatakan oleh Prabu Siliwangi sebagai berikut :( “Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak  sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan. Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatanmenyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka. Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar. Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar?

Memperebutkan tanah. Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.Yang bertengkar lalu terdiam dan sadar ternyata mereka memperebutkan pepesan kosong, sebab tanah sudah habis oleh mereka yang punya uang. Para penguasa lalu menyusup, yang bertengkar ketakutan, ketakutan kehilangan negara, lalu mereka mencari anak gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleumdan hanjuang. Semua mencari tumbal, tapi pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergibersama pemuda berjanggut, pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di dahan mati. Dengarkan! jaman akan berganti lagi,tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi.Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatukembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang sejati.Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari olehkalian pemuda gembala.Silahkan pergi, ingat jangan menoleh kebelakang!” )

Fenomena inilah yang dikatakan Prabu Siliwangi untuk menunjuk era saat ini. Betapa tidak,dengan kejadian semburan lumpur Porong yang hingga saat ini belum berhenti mengisyaratkan bahwa seluruh rakyat sedang menantikan datangnya mu’jizat. Disertai huru-hara di sana-sini, juga perebutan soal tanah. Pemuda gendut adalah perlambang orang-orang berduit yang serakah.

Page 13: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 13/17

 

Pepesan kosong bermakna bahwa rakyat terkalahkan karena orang-orang yang berkompeten atau berkuasa masuk dalam persoalan membantu orang-orang yang berduit. Kita lihat saja pada saatini banyak sekali persoalan perebutan tanah dan gusur menggusur merebak di mana-mana.

Setidaknya jika kita jeli, maka gambaran-gambaran yang telah diungkapkan para leluhur nusantara beratus-ratus tahun yang lalu telah muncul menjadi kenyataan saat ini. Dengan

 pemahaman ini maka kita dapat meraba apa yang akan terjadi setelah ini. Sehingga dapat sayakatakan di sini bahwa Semburan Lumpur Porong yang sangat fenomenal saat ini sesungguhnyamerupakan suatu tanda yang mengisyaratkan adanya “Sayembara” yang terbuka luas bagi anak cucu negeri ini. Walaupun pihak pemerintah atau Lapindo sekalipun tidak secara resmimengadakan sayembara ini. Sayembara yang saya katakan itu mengisyaratkan bahwa : “Bagisiapa saja yang mampu menghentikan semburan lumpur Porong saat ini, maka dialah SangBudak Angon itu, dialah Aulia itu Sang Putra Batara Indra, dan dialah yang dikatakan SatrioPinandito Sinisihan Wahyu itu. Siapapun saja tanpa terkecuali, entah dia adalah seorang tukang becak, tukang parkir, penjual bakso, bahkan seorang jendral sekalipun. Hanya karena Kehendak Allah saja, “seseorang” itu tidak perlu waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk membuktikannya. Cukup sehari saja, bahkan hanya beberapa jam atau menit saja. Insya Allah…Lalu kemudian apa imbalannya bagi yang mampu…?Beliau “seseorang” itu tidak berharap mendapatkan imbalan apapun..!!”

Semoga anda para pembaca memahami maksud saya…

Untuk diketahui, bahwa dari pantauan secara spiritual, sejak tanggal 7-7-2007 kemarin telahnampak cahaya putih di atas Alas Ketonggo bergerak ke arah timur. Saat ini cahaya putihtersebut terlihat diam memancar di suatu tempat di arah timur. Nampaknya “seseorang” itu telahhadir, dan akan datang dari timur (setelah bergerak dari arah barat ke timur). Kemungkinan besar  para winasis dan waskita di negeri ini juga telah dapat memantau fenomena spiritual ini. InsyaAllah…

Semoga Tuhan Yang Maha Agung melimpahkan rahmat-Nya kepada umat-Nya yang berjuang

menegakkan kebenaran. Semoga Allah meridhoi upaya kita semua. Amin…JAYALAH NEGERIKU,

TEGAKLAH GARUDAKU,JAYALAH NUSANTARAKU…

( nurahmad 

 

 )

Telah Terbit on Juli 9, 2007 at 4:03 pm Komentar (484) 

B. Memuja Tuhan Melalui Media: Arca, Gambar, Pratima, Upakara, Simbol

Penghubung ke Alam Kosmis, Hyang Widhi

  Seseorang disamping memuja langsung hasil ciptaan-Nya, dalam

mengungkapkan perasaan isi hati, baik berupa harapan, permohonan dan tujuan

Page 14: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 14/17

 

kepada-Nya, juga menggunakan nyasa/ simbol-simbol tertentu. Bagi umat awam

simbolisme mendapat tempat yang sangat penting dalam penghayatan, dalam

proses pendekatan diri kepada Tuhan/Hyang Widhi. Simbolisme religius akan

menghasilkan kreatifitas seni dan budaya yang religius pula. Benda-benda alam

sebagai manifestasi perwujudan-Nya, yang disucikan, diupacarai, dan dipuja-puji,

diyakini bisa menghasilkan nilai magis/gaib yang tidak bisa dipecahkan oleh akalsehat dari pikiran manusia.

Para Maha Rsi Hindu zaman dahulu bersifat konsisten melakoni kehidupan

wanaprasta, yaitu menjalani kehidupan dengan melepaskan keterikatan-keterikatan

pemuasan jasmani dalam proses pencaharian jati diri terhadap Tuhan. Sehingga

hasil perenungan para resi zaman dahulu, diwujud-nyatakan ke dalam bentuk seni

dan diaplikasikan sifat dan fungsi Tuhan dalam bentuk; arca, gambar, pratima,

upakara, bahasa, tari wali. Yang mempunyai nilai estetis, nilai simbolis, dan nilai

spiritual. Seperti apa yang telah diwariskan oleh para leluhur kita terdahulu,

misalnya; sifat dan fungsi Tuhan sebagai pembasmi kejahatan tampak tangan arca

disimbolkan membawa kapak, fungsi Tuhan sebagai asal ilmu pengetahuan tampak

tangan arca disimbolkan membawa lontar, sifat Tuhan sebagai penyejuk tampak

tangan arca membawa sibuh (tempat tirta), serta diwujudkan dan digambarkan

dengan banyak tangan sesuai fungsi dan kebesaran-Nya.

Demikian pula simbol-simbol yang terdapat dalam upakara bebantenan

misalnya; daksina lambang stana Ida Hyang Widhi/  Tuhan. Sedangkan banten guru

 piduka adalah mengandung nilai permohonan maaf umatnya. Banten porosan yang

terdiri dari pinang yang berwarna merah simbol Dewa Brahma, daun sirih yang

berwarna hijau simbol Dewa Wisnu, dan kapur yang berwarna putih simbol Dewa

Siwa. Dengan demikian alam semesta sebagai hasil ciptaan-Nya adalah sakti-Nyadari pada Tuhan. Melalui ajaran agama atau sekte dijabarkan tentang hakikat

ketuhanan tersebut. Kata sekte/ agama  adalah kelompok orang yang mempunyai

kepercayaan akan pandangan agama yang sama, yang berbeda dari pandangan

agama yang lazim diterima oleh para penganut agama tersebut, misalnya: sekte

siwa, sekte bhuda, sekte waisnawa, sekte sakta, sekte indra, sekte bhairawa, sekte

surya dan lain-lain.Yang mempunyai jalan dan identitas diri masing-masing, yaitu;

ada istadewata (dewa pujaan), ada kitab suci, tempat ibadah, orang-orang suci,

hari-hari suci, sarana yang dipakai, dan ada pengikutnya.

Dengan demikian seseorang yang ingin mengetahui hakikat dan kebesaran

 Tuhan ialah dengan jalan menjadi pengikut dari salah satu sekte/agama yangdianggap resmi oleh pemerintahan disaat itu yang diyakini menjadi penuntun dalam

kehidupan ini. Dimana para Brahmana dari sekte tersebut dipercaya sebagai

penerima wahyu atau sebagai penghubung dari alam niskala ke sekala begitu pun

sebaliknya. Disamping sebagai pengajar dan menyebarkan agama Hindu dalam

rangka pembinaan mental spiritual, juga peranan tokoh agama dalam bidang

pemerintahan khususnya sebagai guru spiritual yang memberikan nasehat kepada

Page 15: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 15/17

 

raja, baik tentang ilmu pemerintahan, ilmu dialektika, ilmu tentang atman dan lain-

lain

Posted in:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda 

0 komentar:

Poskan Komentar 

Link ke posting ini

Buat sebuah Link  

B. Memuja Tuhan Melalui Media: Arca, Gambar, Pratima, Upakara, Simbol

Penghubung ke Alam Kosmis, Hyang Widhi

  Seseorang disamping memuja langsung hasil ciptaan-Nya, dalam

mengungkapkan perasaan isi hati, baik berupa harapan, permohonan dan tujuan

kepada-Nya, juga menggunakan nyasa/ simbol-simbol tertentu. Bagi umat awam

simbolisme mendapat tempat yang sangat penting dalam penghayatan, dalam

proses pendekatan diri kepada Tuhan/Hyang Widhi. Simbolisme religius akan

menghasilkan kreatifitas seni dan budaya yang religius pula. Benda-benda alamsebagai manifestasi perwujudan-Nya, yang disucikan, diupacarai, dan dipuja-puji,

diyakini bisa menghasilkan nilai magis/gaib yang tidak bisa dipecahkan oleh akal

sehat dari pikiran manusia.

Para Maha Rsi Hindu zaman dahulu bersifat konsisten melakoni kehidupan

wanaprasta, yaitu menjalani kehidupan dengan melepaskan keterikatan-keterikatan

pemuasan jasmani dalam proses pencaharian jati diri terhadap Tuhan. Sehingga

hasil perenungan para resi zaman dahulu, diwujud-nyatakan ke dalam bentuk seni

dan diaplikasikan sifat dan fungsi Tuhan dalam bentuk; arca, gambar, pratima,

upakara, bahasa, tari wali. Yang mempunyai nilai estetis, nilai simbolis, dan nilai

spiritual. Seperti apa yang telah diwariskan oleh para leluhur kita terdahulu,

misalnya; sifat dan fungsi Tuhan sebagai pembasmi kejahatan tampak tangan arca

disimbolkan membawa kapak, fungsi Tuhan sebagai asal ilmu pengetahuan tampak

tangan arca disimbolkan membawa lontar, sifat Tuhan sebagai penyejuk tampak

tangan arca membawa sibuh (tempat tirta), serta diwujudkan dan digambarkan

dengan banyak tangan sesuai fungsi dan kebesaran-Nya.

Page 16: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 16/17

 

Demikian pula simbol-simbol yang terdapat dalam upakara bebantenan

misalnya; daksina lambang stana Ida Hyang Widhi/  Tuhan. Sedangkan banten guru

 piduka adalah mengandung nilai permohonan maaf umatnya. Banten porosan yang

terdiri dari pinang yang berwarna merah simbol Dewa Brahma, daun sirih yang

berwarna hijau simbol Dewa Wisnu, dan kapur yang berwarna putih simbol Dewa

Siwa. Dengan demikian alam semesta sebagai hasil ciptaan-Nya adalah sakti-Nyadari pada Tuhan. Melalui ajaran agama atau sekte dijabarkan tentang hakikat

ketuhanan tersebut. Kata sekte/ agama  adalah kelompok orang yang mempunyai

kepercayaan akan pandangan agama yang sama, yang berbeda dari pandangan

agama yang lazim diterima oleh para penganut agama tersebut, misalnya: sekte

siwa, sekte bhuda, sekte waisnawa, sekte sakta, sekte indra, sekte bhairawa, sekte

surya dan lain-lain.Yang mempunyai jalan dan identitas diri masing-masing, yaitu;

ada istadewata (dewa pujaan), ada kitab suci, tempat ibadah, orang-orang suci,

hari-hari suci, sarana yang dipakai, dan ada pengikutnya.

Dengan demikian seseorang yang ingin mengetahui hakikat dan kebesaran

 Tuhan ialah dengan jalan menjadi pengikut dari salah satu sekte/agama yang

dianggap resmi oleh pemerintahan disaat itu yang diyakini menjadi penuntun dalam

kehidupan ini. Dimana para Brahmana dari sekte tersebut dipercaya sebagai

penerima wahyu atau sebagai penghubung dari alam niskala ke sekala begitu pun

sebaliknya. Disamping sebagai pengajar dan menyebarkan agama Hindu dalam

rangka pembinaan mental spiritual, juga peranan tokoh agama dalam bidang

pemerintahan khususnya sebagai guru spiritual yang memberikan nasehat kepada

raja, baik tentang ilmu pemerintahan, ilmu dialektika, ilmu tentang atman dan lain-

lain

Posted in:

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda 

0 komentar:

Poskan Komentar 

Link ke posting ini

Buat sebuah Link  

A. Memuja Tuhan Dengan Memuja Langsung Alam Semesta dan Hasil Ciptaan-Nya SebagaiManifestasi Tuhan Yang Maha Esa

  Perkembangan peradaban manusia yang pada awalnya meyakini alam semesta dan hasilciptaan-Nya, seperti:  Aditya (dewa matahari),  Agni (dewa api),  Apah (dewa air), Candra (dewa bulan), Yama (dewa maut), Varuna (dewa langit), Sukra (dewa planet venus),  Indra (dewa penguasa), Vayu (dewa angin), Maruta (dewa angin), Soma (dewa bulan), Om (aksara suci), sertamanifestasi lain adalah sebagai  media  penghubung dalam pencaharian terhadap Tuhan YangMaha Esa, yang diucapkan oleh orang-orang suci pada zaman dahulu.

Page 17: Ramalan Sabdo

5/12/2018 Ramalan Sabdo - slidepdf.com

http://slidepdf.com/reader/full/ramalan-sabdo-55a4d51f65948 17/17

 

Yang dipuja bukan benda atau alat itu, tapi misteri/spirit yang ada dibalik benda itu, yaitu:ada asal muasal, ada kehidupan, ada keindahan, ada kekuatan, ada keajaiban, ada manfaat, danada unsur-unsur lain yang mengikuti. Agama Hindu berusaha memuliakan hasil ciptaan-Nya,dimana kita ketahui, untuk mengetahui Tuhan ketahuilah hakikat alam dalam arti sebenarnya.Orang-orang bijak memberikan patokan hari-hari tertentu sebagai wujud syukur dan terimakasihumat kepada-Nya, misalnya: tumpek wariga, adalah hari memuliakan Tuhan dalammanifestasinya sebagai dewa sangkara, sebagai dewa tumbuh-tumbuhan yang sangat bermanfaatdalam kehidupan ini.

Kita tidak tahu dari mana asal muasal keberadaannya, kapan dan siapa yang menciptakankeanekaragaman, tumbuh-tumbuhan, hewan, manusia dan seluruh isi alam semesta ini. UmatHindu di Bali, dalam upacara persembahyangan memakai sarana bunga, memuja  Aditya/Raditya(matahari), manifestasi Tuhan sebagai dewa surya adalah aspek Tuhan sebagai saksi, pemberi penerangan dikegelapan, disamping memberikan spirit (roh) ke alam semesta ini. Ada istilahSiwa Raditya artinya Dewa Siwa pun memuja Matahari. Dan selanjutnya memuja Istadewata(dewata pujaan), serta memuja Manifestasi Tuhan yang berstana dilingkungan setempat sesuaidengan sifat dan fungsi-Nya. Dalam catatan sejarah Bali Kuno disebut:  Hyang Danawa (dewadanau), Hyang Gunung (dewa gunung), Hyang Api (dewa api), Punta Hyang (dewa resi), Hyang 

da Tonta (dewa pancering jagat),  Hyang Bukit Tunggal (dewa bukit tunggal),  Hyang Karimana(dewa karimana),  Hyang Pucak Tegeh (Pura Gunung Penulisan),  Hyang Parama Kawi (dewasastra), Hyang Widhi (sinar suci Tuhan), dan sebutan lainny