prolaps tali pusat

Author: alfian-fahrosi

Post on 14-Oct-2015

333 views

Category:

Documents


52 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

maternitas

TRANSCRIPT

BAB I

PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah

Kehamilan merupakan proses yang sangat kompleks dan membutuhkan perhatian yang lebih. Kehamilan merupakan rangkaian yang tidak dapt dipisahkan dari fertilisasi dan persalinan. Persalinan merupakan proses keluarnya hasil konsepsi yang cukup umur maupun kurang dari umur. Ada beberapa kelainan yang bisa terjadi selama dan sebelum persalinan yang bisa mempersulit persalinan. Salah satu kelainan yang mempersulit persalinan adalah prolaps tali pusar. Penyebab dari prolaps tali pusat adalah posisi dari janin yang tidak tepat pada pintu atas panggul. Resiko prolapsa tali pusat semakin besar pada kejadian bayi sungsang atau posisi bayi yang melintang. Posisi janin dalan kandungan tidak selamanya tetap, tetapi berubah-ubah setiap waktunya. Hal ini terjadi pada satu dari 400 kelahiran dan faktor-faktor penyebabnya adalah tali pusat yang panjang (>100cm), malpresentasi (sungsang), lentak lintang atau bagian presentasi belum masuk panggul. Prolaps tali pusat sangat berbahaya bagi bayi yang baru lahir jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Penanganan yang tepat sangat diperlukan untuk menghindari hal yang terburuk pada janin. Sebagai perawat tentunya harus mampu menghadapi keadaan seperti ini dan dapat melakukan tindakan yang tepat buntk menyelamatkan nyawa bayi.1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana asuhan keperawatan pada keadaan prolaps tali pusat ?1.3 TujuanUntuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada prolaps tali pusat.1.4 ManfaatDiharapkan makalah ini dapat memberikan informasi tentang konsep prolaps tali pusat dan dapat memberikan informasi serta gambaran tentang asuhan keperawatan tali pusat.BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Fisiologi Tali Pusat

Tali pusat atau funiculus umbilicalis adalah saluran kehidupan bagi janin selama dalam kandungan, sehingga zat-zat gizi dan oksigen dapat masuk ke tubuh janin. Pada hari ke-14 pasca konsepsi, diskus embrio, kantong amnion dan yolk salc menyatu dengan villi korion melalui connecting stalk kemudian akan menjadi tali pusat.Tali pusat terdapat antara pusat janin dan permukaan fetal plasenta. Warnanya dari luar putih dan merupakan tali yang berpilin. Panjangnya 55 cm (30 100 cm) dan diameter 1 1,5 cm. Pembuluh-pembuluh darahnya biasanya lebih panjang dari tali pusatnya sendiri sehingga pembuluh berkelok-kelok. Kadang-kadang menimbulkan tonjolan pada permukaan tali pusat dan diberi nama simpul palsu.Insersi atau letak tali pusat ke plasenta adalah tengah : insertio sentralis, sedikit ke samping: insertio paracentralis, samping : insertio lateralis, pinggir : insertio marginalis, di luar plasenta/di selaput janin : insertio velamentosa.

Kelainan Letak Tali Pusat Tali pusat secara normal berinsersi di bagian sentral ke dalam permukaan fetal plasenta. Namun, ada beberapa yang memiliki kelainan letak seperti:

a. Insersi tali pusat Battledore, b. Insersi tali pusat Velamentous, c. Insersi tali pusat Battledore Pada kasus ini tali pusat terhubung ke paling pinggir plasenta seperti bentuk bet tenis meja. Kondisi ini tidak bermasalah kecuali sambungannya rapuh.d. Insersi tali pusat Velamentous. Tali pusat berinsersi ke dalam membran agak jauh dari pinggir plasenta. Pembuluh darah umbilikus melewati membran mulai dari tali pusat ke plasenta. Bila letak plasenta normal, tidak berbahaya untuk janin, tetapi tali pusat dapat terputus bila dilakukan tarikan pada penanganan aktif di kala tiga persalinan.

Tali pusat terdiri atas dua arteri umbilikalis (mengembalikan produk sisa dari fetus ke plasenta, di mana produk sisa tersebut diasimilasi ke dalam peredaran darah maternal untuk diekskresikan) dan satu vena umbilikalis (membawa oksigen dan memberi nutrien ke sistem peredaran darah fetus dari darah maternal, yang terletak di dalam spatium choriodeciduale).Bagian luar tali pusat berasal dari lapisan amnion, sedangkan bagian dalam terdapat jaringan lembek (selai warthon), melindungi dua arteri umbilikalis dan satu vena umbilikalis dalam tali pusat.Fungsi Tali Pusat adalah ; sebagai media transportasi nutrisi dan oksigen dari plasenta ke tubuh janin, sebagai media transportasi untuk pengeluaran sisa metabolisme janin ke tubuh ibu, sebagai media transportasi zat antibodi dari ibu ke janin, sebagai media transportasi zat antibodi dari ibu ke janin.

Sirkulasi Tali Pusat, fetus dalam rahim ibu mempunyai dua kebutuhan yang harus dipenuhi yaitu oksigen dan nutrisi serta membuang produk sisa yang dihasilkan oleh sel-selnya. Struktur yang bertanggungjawab memenuhi kebutuhan fetus adalah plasenta. Plasenta mempunyai banyak vilus yang tumbuh dari membran, menyelimuti fetus dan menembus dinding uterus yaitu endometrium. Endometrium kaya dengan aliran darah ibu. Jaringan kapilari darah fetus berada di dalam vilus. Darah yang kaya oksigen dan nutrien dibawa melalui vena umbilicalis. Sebaliknya darah yang sampai ke vilus dari fetus melalui arteri umbilicalis dalam tali pusat, mengandung produk sisa seperti karbon dioksida dan urea. Produk sisa ini akan meresap ke membran dan masuk darah ibu. Darah ibu dan darah fetus dalam vilus sangat rapat, akan tetapi kedua darah tersebut tidak bercampur karena dipisahkan oleh suatu membrane.

Oksigen, air, glukosa, asid amino, lipid, garam mineral, vitamin, hormon, dan antibodi dari darah ibu perlu menembus membran ini dan memasuki kapilari darah fetus yang terdapat dalam vilus. Selain oksigen dan nutrien, antibodi dari darah ibu juga meresap ke dalam darah fetus melalui plasenta. Antibodi ini melindungi fetus dan bayi yang dilahirkan daripada jangkitan penyakit.2.2 Pengertian Prolabs Tali Pusat

Prolabs Tali Pusat merupakan suatu keadaan dimana tali pusat berada disamping atau melewati bagian terendah janin di dalam jalan lahir setelah ketuban pecah (Mitayani, 2011).

Prolabs tali pusat terjadi jika tali pusat terletak di bawah bagian presentasi janin. Prolabs tali pusat dapat bersifat okulta (tersembunyi, tidak terlihat) selama persalinan, baik selaput ketuban sudah pecah maupun belum. Prolabs sempurna paling sering secara langsung setelah ketuban pecah, ketika gaya tarik bumi mendorong tali pusat ke bagian depan dari bagian presentasi (Bobak, 2004).

Prolapsus tali pusat dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Tali pusat terkemuka atau terdepan, bila tali pusat berada di bawah bagian terendah janin dan ketuban masih intak atau jika tali pusat berada di samping bagian besar janin dapat teraba pada kanalis servikalis, dan lebih rendah dari bagian bawah janin sedang ketuban masih intak atau belum pecah;

2. Tali pusat menumbung, disebut juga prolapsus funikuli adalah jika tali pusat teraba keluar atau berada di samping dan melewati bagian terendah janin di dalam jalan lahir, bila tali pusat keluar melalui ketuban yang sudah pecah, ke serviks, dan turun ke vagina;3. Occult prolapse, tali pusat berada di samping bagian terendah janin turun ke vagina. Tali pusat dapat teraba atau tidak, ketuban dapat pecah atau tidak.2.3 Etiologi Prolabs Tali PusatAdapun keadaan-keadaan yang menyebabkan (etiologi) prolabs tali pusat yaitu keadaan-keadaan yang menyebabkan gangguan adaptasi bagian bawah janin terhadap panggul, sehingga pintu atas panggul tidak tertutup oleh bagian bawah janin tersebut. Hal ini merupakan predisposisi turunnya tali pusat dan terjadinya prolabs tali pusat.Prolabs tali pusat sering ditemukan pada letak lintang dan letak sungsang, terutama presentasi bokong kaki pada presentasi kepala, antara leher dempet pada disposisi sevalopelvis pada kelahiran premature lebih sering dijumpai, karena kepala anak kecil tidak dapat menutupi pintu atas panggul (Mitayani, 2011).

2.4 Faktor PredisposisiFaktor-faktor yang mempengaruhi adalah tali pusat yang panjang (>100cm atau 40 inci), malpresentasi (sungsang), letak lintang, atau bagian presentasi yang belum masuk panggul.

Apabila bagian presentasi tidak dapat masuk dengan pas kedalam segmen bawah uterus, seperti pada hidramnion atau ketika selaput pecah, aliran cairan amnion yang mendadak keluar dapat menyebabkan tali pusat jatuh kebawah. Demikian pula, tali pusat dapat prolabs ketika ketuban pecah secara mendadak, jika bagian presentasi masih tinggi. Janin yang kecil mungkin tidak bisa masuk dengan pas kedalam segmen bawah uterus akibatnya, prolabs tali pusat lebih sering terjadi (Bobak, 2004).

Faktor predisposisi lain prolaps tali pusat, yang terkait dengan bagian presentasi yang tinggi adalah multipara, disproporsi sefalopelvis, dan plasenta previa. Prolaps tali pusat sulit didiagnosis; tetaapi seorang perawat tau pemberi jasa kesehatan yang waspada dapat membuat diagnosis pada pemeriksaan dalam setelah terjadi aliran cairan yang tiba-tiba. Pengenalan dini adalah penting karena hipoksia janin akibat kompresi tali pusat yang berkepanjangan (tersumbatnya aliran darah ked an dari jnin lebih dari 5 menit) biasanya mengakibatkan kerusakan sistem saraf pusat (SSP) atau kematian janin (Bobak, 2004).

2.5 Epidemiologi Prolaps Tali Pusat

Angka kejadian prolaps tali pusat dalam hubungan dengan presentasi janin : Presentasi Angka Kejadian Vertex (belakang kepala ) 0.4%, Frank Breech 0.5%, Letak bokong kaki 4 6%, Letak kaki 15 18% (dr.Bambang Widjanarko, SpOG, 2009).

2.6 Patofisiologi/ WOC Prolaps Tali Pusat Beberapa etiologi yang dapat menyebabkan prolapsus tali pusat diantaranya adalah kehamilan kembar, hidroamnion, kehamilan prematur, janin terlalu kecil, kelainan presentasi dan plasenta previa.Kehamilan kembar akan mengalami hidramnion, dimana cairan ketuban banyak dan inilah yang menyebabkan janin dapat bergerak lebih leluasa dalam rahim. Dan keadaan ini dapat mengakibatkan kelainan presentasi (letak sungsang, lintang, presentasi kepala).Sedangkan pada kehamilan prematur selain terjadi hidramnion juga terjadi ukuran janin yang kecil karena usia gestasi yang masih muda sehingga janinnya memiliki ukuran kepala yang kecil. Pada plasenta previa, plasenta akan mendekati atau menutup jalan lahir. Semua keadaan tersebut akan menyebabkan janin sulit beradaptasi terhadap panggul ibu,sehingga PAP tidak tertutupi oleh bagian bawah janin, dan inilah yang mengakibatkan tali pusat bergeser atau turun dari tempatnya sehingga terjadilah prolapsus tali pusat.Prolapsus tali pusat akan mengakibatkan tali pusat terjepit antara bagian terendah janin dan jalan lahir sehingga sirkulasi janin akan terganggu dan ini mengakibatkan terjadi hipoksia fetal dan bila berlanjut dapat mengakibatkan fetal distress yang ditandai dengan melemahnya DJJ. Bila eadaan ini terus berlangsung dapat mengakibatkan terjadinya kematian pada janin. Tapi bila dapat ditangani maka janin tetap hidup, ini ditandai dengan adanya teraba denyutan pada tali pusat.2.7 Manifestasi Klinis Prolaps Tali PusatPada prolabs tali pusat/prolapsus funikuli dengan tali pusat yang masih berdenyut tetapi pembukaan belum lengkap, maka terdapat dua pilihan yakni melakukan reposisi tali pusat dan menyelematkan persalinan dengan seksio sesarea tidak mungkin dilakukan karena sulit.

Reposisi tali pusat : memasukkan gumpalan kain kassa tebal ke dalam jalan lahir, lilitkan dengan hati-hati ke tali pusat, kemudian dorong seluruhnya perlahan-lahan ke cavum uterus di atas bagian terendah janin. Tindakan lebih mudah dilakukan bila ibu dalam posisi trendelenburg.

Reposisi caesarea : jaga tali pusat agar tidak mengalami tekanan dan terjepit oleh bagian terendah janin. Untuk hal ini, dengan ibu dalam posisi trendelenburg, masukkan satu tangan ke dalam vagina untuk mencegah turunnya bagian terendah di dalam rongga panggul (Mitayani, 2011).

2.8 Komplikasi Prolaps Tali PusatPada presentasi kepala, prolapsus funikuli sangat berbahaya bagi janin, karena setiap saat tali pusat dapat terjepit antara bagian terendah janin dengan jalan lahir dengan akibat gangguan oksigenasi janin. Pada tali pusat terdepan, sebelum ketuban pecah, ancaman terhadap janin tidak seberapa besar, tetapi setelah ketuban pecah bahaya kematian janin sangat besar. Myles melaporkan hasil penelitiannya dalam perpustakaan dunia, bahwa angka kejadian berkisar antara 9,3-0,6% persalinan.Sedangkan pada ibu karena terjadi prolapsus maka dilakukan seksio atau persalinan normal yang dapat menimbulkan terjadinya trauma jaringan dan leserasi pada vagina serviks.

2.9 Penatalaksanaan Prolaps Tali Pusat.

2.9.1 Tali Pusat Berdenyut Jika tali pusat berdenyut, berarti janin masih hidup.

1. Beri oksigen 4-6 liter/menit melalui masker atau nasal kanul.

2. Posisi ibu trendelenburg.

3. Diagnosa tahapan persalinan melalui pemeriksaan dalam segera.

4. Jika ibu pada persalinan kala 1 :

a. Dengan sarung tangan desinfeksi tingkat tinggi (DTT) masukkan tangan kedalam vagina dan bagian terendah janin segera didorong keatas, sehingga tahanan pada tali pusat dapt dikurangi.

b. Tangan yang lain menahan bagian terendah di supra pubis dan evaluasi keberhasilan reposisi.

c. Jika bagian terbawah janin sudah terpegang dengan kuat diatas rongga panggul, keluarkan tangan dari vagina, letakkan tangan tetap diatas abdomen sampai dilakukan seksio cesarean.

d. Jika tersedia, berikan salbutamol 0,5 mg IV secara perlahan untuk mengurangi kontraksi rahim.

e. Segera lakukan seksio caesarea.

5. Jika ibu pada persalinan kala II:

a. Pada presentasi kepala, lakukan segera persalinan dengan ekstraksi vakum atau ekstraksi cunam/forceps.

b. Jika presentasi bokong/sungsang lakukan ekstraksi bokong atau kaki, dan gunakan forceps pipa panjang untuk melahirkan kepala yang menyusul.c. Jika letak lintang, siapkan segera seksio caesarea.d. Siapkan segera resusitasi neonates (Mitayani, 2011).2.9.2 Tali Pusat Tidak Berdenyut

Jika tali pusat tidak berdenyut, berarti janin telah meninggal. Keadaan ini sudah tidak merupakan tindakan darurat lagi, lahirnya bayi secara normal tanpa mencederai ibu. Pergunakan waktu untuk memberikan konseling pada ibu dan keluarganya tentang apa yang terjadi serta tindakan apa yang akan dilakukan. Diharapkan persalinan dapat berlangsung spontan pervaginam (Mitayani, 2011).

2.10 Prognosis

Prognosis janin bergantung pada beberapa faktor berikut :1. Angka kematian untuk bayi prematur dengan prolaps tali pusat hampir 4 kali lebih tinggi daripada bayi aterm;

2. Bila gawat janin dibuktikan oleh detak jantung yang abnormal, adanya cairan amnion yang terwarnai oleh mekonium, atau tali pusat dengan pulsasi lemah, maka prognosis janin buruk;

3. Jarak antara terjadinya proplaps dan persalinan merupakan faktor yang paling kritis untuk hidup janin;

4. Dikenalnya segera prolaps memperbaiki kemungkinan janin hidup;

5. Angka kematian janin pada prolaps tali pusat yang letaknya sungsang atau lintang sama tingginya dengan presentasi kepala. Hal ini menghapus perkiraan bahwa pada kedua letak janin yang abnormal tekanan pada tali pusatnya tidak kuat;

6. Ditemukannya prolaps tali pusat diperlukan tindakan yang cepat. Terapi definitif adalah melahirkan janin dengan segera. penilaian yang cepat sangat penting untuk menentukan sikap terbaik yang akan diambil. Persalinan pervaginam segera hanya mungkin bila pembukaan lengkap, bagian terendah janin telah masuk panggul, dan tidak ada CPD;

7. Bahaya terhadap ibu dan janin akan berkurang bila dilakukan seksio sesaria daripada persalinan pervaginam yang dipaksakan pada pembukaan yang belum lengkap. Sambil menunggu persiapan seksio sesaria tekanan pada tali pusat oleh bagian terendah janin dapat diminimalisasi dengan posisi knee chest, trendelenburg, atau posisi sim;

8. Sedangkan bahaya terbesar pada presentasi kepala, karena setiap saat tali pusat dapat terjepit antara bagian terendah janin dengan jalan lahir dapat mengakibatkan gangguan oksigenasi janin. Pada tali pusat terdepan, sebelum ketuban pecah, ancaman terhadap janin tidak seberapa besar, tetapi setelah ketuban pecah, bahaya kematian janin sangat besar.2.11 Pencegahan

Pencegahan Prolaps Tali Pusat :

Menghindari pecahnya ketuban secara premature akibat tindakan kita. Penanganan Tali Pusat Terdepan ( Ketuban belum pecah ) :a. Usahakan agar ketuban tidak pecahb. Ibu posisi trendelenbergc. Posisi miring, arah berlawanan dengan posisi tali pusatd. Reposisi tali pusat Penanganan Prolaps Tali Pusat :a. Apabila janin masih hidup , janin abnormal, janin sangat kecil harapan hidup Tunggu partus spontan.b. Pada presentasi kepala apabila pembukaan kecil, pembukaan lengkap Vacum ekstraksi, porcef. c. Pada Letak lintang atau letak sungsang Sectio cesariaBAB III

PEMBAHASAN

3.1 Asuhan Keperawatan Prolaps Tali Pusat3.1.1 Pengkajian

Ketika kondisi menunjukan adanya prolaps tali pusat, pemeriksaan vagina yang sering dan perhatian yang ketat terhadap perubahan denyut jantung janin dapat merupakan pengkajian awal. Pemeriksaan rutin yang penting dilakukan setelah ruptur pada membran adalah mendengar dan melaporkan denyut jantung janin sendiri mungkin setelah ruptur uteri dan diulangi dalam 10-15 menit untuk mendeteksi melemah atau tidak teraturnya irama jantung ketika terjadi prolaps tali pusat.

SirkulasiTekanan darah ibu meningkat, dapat terjadi hipoksi pada janin karena kurangnya sirkulasi dari ibu ke tali pusat.

Eliminasi Distensi usus dan kandung kemih mungkin ada Integritas egoKontaksi melemah, dengan intensitas lemah sampai sedang Keamanan1.Pemeriksaan vagina dilakukan untuk menentukan posisi dari tali pusat2.Kaji adanya kelainan pada jalan lahir atau janin seperti panggul yang sempit, letak lintang, letak sunsang, polihidramnion, janin kembar, janin yang terlalu kecil. Seksualitas1.Dapat primigravida atau multipara2.Uterus dapat distensi berlebihan karena hidramnion, gestasi multiple, janin yang besar atau grand multpara Pemeriksan diagnostik

1. Tes prenatal dapat memasukan polihidramnion, janin besar atau gestasi multipara;2. Pemeriksaan vagina menunjukkan perubahan posisi tali pusat;3. Fundoskop digunakan untuk mendeteksi denyut jantung janin atau monotoring DJJ;4. Ultrasound atau pelvimetri sinar x, mengevaluasi arsitektur pelvis, presentasi janin, posisi dan formasi. Prioritas keperawatan

1. Mengidentifikasi dan mengatasi letak tali pusat abnormal

2. Lakukan reposisi tali pusat atau sectio caseria jika diperlukan

3. Memantau perubahan denyut janin dan respon fisik maternal atau janin terhadap kontraksi dan lamanya persalinan

4. Memberikan dukungan emosional dan mencegah komplikasi3.2 PathwayKematian

Distres fetalansietas janin

Kerusakan perfusi jaringanhipoksia fetal resiko cidera pada janin

Pada bayiSirkulasi pada janin tergangguTali pusat terjepit antara janin dan jalan lahirProlaps tali pusatLetak tali pusat lebih rendah dari bagian terendah janinKelainan presentasi (letak sungsang, lintang)Pergerakan janin lebih leluasaKelebihan cairan ketubanpolyhidramion3.3 Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perubahan aliran darah ke plasenta atau melalui tali pusat (prolapsi)2. Resiko cidera terhadap janin berhubungan dengan hipoksia janin dan abnormalitas pelvis ibu

3. Gangguan kenyamanan : Ansietas berhubungan dengan situasi, ancaman yang dirasakan pada ibu atau janin.3.4 Intervensi

1. Diagnosa I :Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan perubahan aliran darah ke plasenta atau melalui tali pusat (prolapsi)

Tujuan : Aliran darah ke plasenta kembali normal sehingga sirkulasi janin tidak terganggu.

No.IntervensiRasional

1. Perhatikan maturitas janin berdasarkan riwayat klien, dan pengukuran uterusUsia gestasi janin harus 36 minggu atau lebih untuk dilakukan induksi persalinan

2. Lakukan meniver Leopod dan pemeriksaan vagina, steril, perhatikan presentasi dan posisi janin.Menentukan kelainan pada letak jantung apakah presentasi verteks, presentasi bokong dll

3.Posisikan klien terlentang dengan bagian kepala ibu lebih rendah dari panggul ibu yang ditopang dengan bantalMembantu mendapatkan strip pemantauan janin eksternal adekuat untuk mengevaluasi pola kontraksi dan irama jantung janin

4.Pantau DJJ, perhatikan perubahan denyut per denyut deselrasi selama dan setelah kontraksi

Menentukan kesejahteraan janin dan memberikan pengkajian dasar DJJ dan aktivitas uterus

5. Gunakan EFM (electric fetal monitoring) 15-20 menit sebelum prosedur induksiMenentukan kesejahteraan janin dan memberikan pengkajian dasar DJJ dan aktivitas uterus

6.Perhatikan warna dan jumlah cairan amnion bila ketuban pecahDistress janin pada presentasi verteks dimanifestasikan dengan kandungan mekonium yang merupakan akibat dari respon vagal pada hipoksia

7. Kaji reaksi DJJ terhadap kontraksi, perhatikan bradikardi atau deselerasi lambatPengkajian yang tepat perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya hipoksia. Rentang normal DJJ adalah 120-160 kali per menit

8. Auskultasi jantung janin bila pecah ketubanPada keadaan prolaps tali pusat dan tidak adanya dilatasi serviks penuh, mungkin diperlukan kelahiran secsio Caesar.

2. Diagnosa II : Resiko cidera terhadap janin berhubungan dengan hipoksia janin dan abnormalitas pelvis ibu

Tujuan : cedera pada janin tidak terjadi

kriteria hasil : Menunjukkan denyut jantung dalam batas normal dengan variabilitas yang baik

No.IntervensiRasional

1. Kaji DJJ secara manual atau elektronik, perhatikan variabilitas perubahan periodic dan frekuensi dasarUntuk mendeteksi respon abnormal seperti variabilitas yang berlebihan.

2. Perhatikan tekanan uterus selama istirahat dan fase kontraksi melalui kateter tekanan intrauterusTekanan istirahat lebih besar dari 30 mmHg atau tekanan kontraksi > 50 mmHg menurunkan atau mengganggu oksigenasi

3.Identifikasi factor-faktor maternal seperti dehidrasi, dan ansietasKadang-kadang prosedur sederhana meningkatkan sirkulasi darah juga oksigen ke uterus dan plasenta serta dapat mencegah atau memperbaiki hipoksia janin

4.Observasi terhadap prolaps tali pusat sama atau dapat dilihat bila pecah ketuban, khususnya pada janin presentasi bokongProlaps tali pusat lebih mungkin terjadi pada presentasi bokong karena bagian presentasi tidak menonjol keluar juga tidak secara total memblok tulang seperti pada tulang presentasi verteks

5. Perhatikan bau dan perubahan warna cairan amnion pada ketuban pecah lama. Dapatkan kultur bila temuan abnormal.Infeksi asenden dan sepsis disertai dengan takikardi dapat terjadi pada pecah ketuban lama

6.Kolaborasi : perhatikan frekuensi kontraksi uterus. Beri tahu dokter bila frekuensi 2 menit atau kurangKontraksi yang terjadi setiap 2 menit atau kurang tidak memungkinkan oksigenasi akan kuat.

7. Kolaborasi : kaji mal posisi dengan menggunakan maneuver leopod dan temuan pemeriksaan internal. Tinjau ulang hasil USG.Menentukan pembaringan janin, posisi dan presentasi dapat mengidentifikasi factor-faktor yang memperberat fungsional persalinan.

8. Kolaborasi : atur pemindahan pada lingkungan perawatan akut bila mal posisi diidentifikasi.Resiko cidera atau kematian janinmeningkat dengan melahirkan pervaginam bila presentasi selain verteks.

3. Diagnosa III :Gangguan kenyamanan : Ansietas berhubungan dengan situasi, ancaman yang dirasakan pada ibu atau janin.

Tujuan : ansietas pada ibu atau janin teratasi

Kriteria hasil : Menunjukkan denyut jantung dalam batas normal dengan variabilitas yang baik

No.IntervensiRasional

1. Kaji DJJ secara manual atau elektronik, perhatikan variabilitas perubahan periodic dan frekuensi dasarUntuk mendeteksi respon abnormal seperti variabilitas yang berlebihan

2. Kaji tingkat ansietas atau kecemasan pada ibu atau janinMengetahui adanya kecemasan pd ibu atau janin yang akan berpengaruh pada kondisi ibu atau janin

3.Identifikasi factor-faktor maternal seperti dehidrasi, dan ansietasKadang-kadang prosedur sederhana meningkatkan sirkulasi darah juga oksigen ke uterus dan plasenta serta dapat mencegah atau memperbaiki hipoksia janin

4.Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas Mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan mengontrol ansietas

5. Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaanPendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan kecemasan yang dirasakan.

6.Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita / resiko yang akan terjadi, harapan-harapan yang positif terhadap terapy yang di jalaniAlat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi kecemasan

7. Sediakan informasi faktual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut diagnosis, perawatan dan prognosisMeningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan.

8. Kolaborasi pemberian obat anti ansietas.Mengurangi ansietas sesuai kebutuhan.

BAB IV

PENUTUP

4.1 KesimpulanProlaps tali pusat merupakan kelainan letak talim pusat yang bisa membahayakan janin maupun bayi yang baru lahir. Prolaps tali pusat harus ditangani dengan tepat supaya resiko kematian bayi dapet ditekan. Dengan adanya asuhan keperawatan, perawat dapat mengatasi keadaan prolaps tali pusat.4.2 SaranDiperlukan pengkajian yang kebih mendalam lagi sehingga dapat tersusun makalah yang lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 1993. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga. Cetakan Ke III. Jakarta.Kusmiyati, Y. 2010. Perawatan Ibu Hamil. Cetakan ke VI. Yogyakarta: Fitramaya.Mochtar, R. 1998. Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi-Obstetri Patologi. Edisi 2. Jakarta: EGC.Mitayani, S.ST.M.Bicmed.2011.Askep Maternitas. Jakarta : Salemba Medika.Neil, W.R. 2001. Panduan Lengkap Perawatan Kehamilan. Jakarta: Dian Rakyat.Salmah, dkk. 2006. Asuhan Kebidanan Antenatal. Jakarta: EGC.Sulistyawati, A. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta: Salemba Medika.1