Presentasi marini

Download Presentasi marini

Post on 24-Jul-2015

284 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>PERBEDAAN EFEK OBAT ANTI TUBERKULOSIS KOMBINASI DOSIS TETAP DIBANDING LEPASAN TERHADAP KONVERSI SPUTUM BASIL TAHAN ASAM SAAT AKHIR FASE INTENSIF PADA PASIEN TUBERKULOSIS DEWASA DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT</p> <p>PERBEDAAN EFEK OBAT ANTI TUBERKULOSIS KOMBINASI DOSIS TETAP DIBANDING LEPASAN TERHADAP KONVERSI SPUTUM BASIL TAHAN ASAM SAAT AKHIR FASE INTENSIF PADA PASIEN TUBERKULOSIS DEWASA DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA</p> <p>Disusun oleh:Marini Daniar CesarJ500100033</p> <p>FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA2013</p> <p>BAB IPENDAHULUANA. Latar belakang masalahPENGOBATAN TBREGIMEN OAT KDT&lt; RISIKO MDR-TB2 FASE2 REGIMEN OATOAT LEPASANKELEBIHANKEKURANGANBIOAVAILABILITAS RIFAMPISINB. Rumusan MasalahApakah OAT KDT lebih efektif dibanding lepasan terhadap konversi sputum BTA saat akhir fase intensif pada pasien TB dewasa di BBKPM Surakarta?C. Tujuan PenelitianD. Manfaat PenelitianManfaat PraktisBAB II</p> <p>TINJAUAN PUSTAKA1. TuberkulosisTuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis (M.Tb) dan merupakan penyakit menular </p> <p>(Depkes RI, 2009).DEFINISIEtiologi TB(Brooks, Carroll, and Butel, 2007)Patogenesis dan Patofisiologi Tuberculosis: Pathophisiology, Clinical Features, and Diagnosis </p> <p>Droplet nuclei dengan basil M.Tb terhirup, masuk ke paru-paru kemudian menetap di alveoliMakrofag dan sel T bekerja sama untuk mencegah infeksi dengan membentuk granulomaSaat imun inadekuat, dinding granuloma kehilangan integritas dan basil M.Tb dapat keluar dan menyebar ke alveoli lain dan organ lainDiagnosis dan Manifestasi KlinisPemeriksaan TBPemeriksaan FisikPemeriksaan LaboratoriumPemeriksaan RadiologisTes TuberkulinPengobatan TBOAT lini pertamaOAT KDT DAN LEPASAN</p> <p>(PDPI, 2006)</p> <p>(PDPI, 2006)Paduan OAT:</p> <p>Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3Kategori anak : 2(HRZ)/4(HR)</p> <p>2. Konversi Sputum BTAPerbedaan efek OAT KDT dibanding lepasan terhadap konversi sputum BTA saat akhir fase intensif pada pasien TB dewasa</p> <p>HipotesisKERANGKA KONSEPPasien TB paru BTA +KDTlepasan (non KDT)konversi sputum BTA setelah bulan ke 2(akhir fase intensif)dipengaruhi oleh faktor eksternal:kepatuhan pengobatanketeraturan pengobatansikap pasienperan PMOresistensi bakteri yang menginfeksi</p> <p>dipengaruhi oleh faktor internal:daya tahan tubuhadanya penyakit lain yang menyertai, seperti penyakit immunodefisiensi (DM, HIV/AIDS, malignansi)Keterangan:ditelititidak diteltii</p> <p>Bab iii</p> <p>metode penelitianKrtiteria RestriksiKriteria EksklusiKriteria InklusiEstimasi Besar SampelPenelitian ini menggunakan teknik purposive sampling dengan estimasi besar sampel sebagai berikut: </p> <p>Dengan menggunakan rumus tersebut, maka sampel yang digunakan adalah sebesar :</p> <p>Jadi sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 43 orang per kelompok. Setelah ditambah 10% untuk menghindari dropout menjadi 46 orang per kelompok (46 dengan KDT dan 46 dengan lepasan)</p> <p>Variabel penelitianDefinisi OperasionalInstrumen PenelitianData sekunder (klinis) yaitu Rekam medis pasien TB dewasa dengan pemeriksaan BTA positifPemeriksaan radiologis berupa foto thoraksPopulasiPengambilan sampel dengan metode purposive samplingPengambilan data pasien dengan Rekam Medis dan foto thorakspasien TB paru BTA + dengan pengobatan OAT KDTpasien TB paru BTA + dengan pengobatan OAT lepasan2 bulan fase intensifTerjadi konversi sputum BTATidak terjadi konversi sputum BTATerjadi konversi sputum BTATidak terjadi konversi sputum BTAPengolahan dataSkema PenelitianAnalisis DataTeknik analisis uji Chi-Square ( X2 ) untuk mengetahui perbedaan antar dua variable.Dengan batas kemaknaan yang dipakai 5% (0,05). Menggunakan program SPSS 19</p> <p>DAFTAR PUSTAKAAmerican Thoracic Society: Diagnostic Standards and Classification of Tuberculosis in Adults and Children, 2000. Am J Respir Crit Care Med Vol 161. available at www.atsjournals.orgAmerican Thoracic Society/Centers for Disease Control and Prevention/Infectious Diseases Society of America: Treatment of Tuberculosis, 2003. Am J Respir Crit Care Med Vol 167. pp 619-622. available at www.atsjournals.orgAmir, Z., Bahar, A., 2009. Tuberkulosis Paru. Pada: Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, jilid III edisi V, Sudoyo WA, editor. Jakarta: Interna Publishing, pp. 2230-8.Apriani, R.M., Fasich, Athijah, U., 2010. Analisis Terhadap Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Empat FDC (Fixed Dose Combination). Majalah Farmasi Airlangga, Vol.8 No.1.Barmawi. 2004. Tuberkulosis: Ancaman Kegawatan Dunia Aspek Imunologi dan Terapi. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.Bartacek, A., Schutt, D., Panosch, B., Borek, M., 2009. Comparison of A Four-Drug Fixed-Dose Combination Regimen with A Single Tablet Regimen in Smear Positive Pulmonary Tuberculosis. Int J Tuberc Lung Dis 13(6):760-766.Brooks, G.F., Carroll, K.C., Butel, J.S., Morse, S.A., 2007. Mycobacteria. In: Medical Microbiology. 24th ed. United States of America: The McGraw-Hill Companies Inc, pp. 320-7.Burhan, E., 2010. Tuberkulosis Multi Drug Resistance (TB-MDR). Maj Kedokt Indon, Volum: 60.Chen, Y.C., Weezenbeek, C.V., Mori, T., Enarson, D.A., 2013. Challenges to the global control of tuberculosis. Asian Pacific Society of Respirology.Chuluq, A.C., Abijoso, Sidharta, B., 2004. Pengembangan Paket Obat SOT (Sediaan Obat Tunggal) Untuk Pengobatan Tuberkulosa. Bul.Penel.Kesehatan Vol.32, 127-134.Clinical Practice Guideline: Management of Tuberculosis (3rd edition). 2012. Malaysian Thoracic SocietyData Penderita Tuberkulosis di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta. 2012. Depkes RI (2009). Laporan Subdit TB Depkes RI, 2000-2010 (Tw-1). Jakarta.Depkes RI (2006). Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Edisi 2 Cetakan Pertama. Jakarta</p> <p>Dinkes Jateng. 2011. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah tahun 2011. Jawa TengahHasan, H., 2010. Tuberkulosis Paru. Pada: Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru 2010, Wibisono MJ, editor. Surabaya: Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair RSUD Dr. Soetomo, pp. 9-25.International Standars for Tuberculosis Care : Diagnosis, Teatment and Public Care. (2006). Istiantoro, Y.H., Setiabudy, R., 2011. Tuberkulostatik dan Leprostatik. Pada: Farmakologi dan Terapi, edisi 5 cetak ulang dengan tambahan 2011, Gunawan SG, editor. Jakarta: Badan Penerbit FKUI, pp. 613-32.Jordao, L., Vieira, O.V., 2011. Review Article Tuberculosis: New Aspects of an Old Disease.Int Journal of Cell Biology, Volume 2011.Julita, I., 2012. Aspek Farmakokinetik Klinik beberapa Obat Berpotensi Hepatotoksik pada pasien Rawat Inap di Bangsal Paru RSUP Dr.M.Djamil Padang Periode Oktober 2011-Januari 2012.Kenyorini, Suradi, Surjanto, E., 2006. Uji Tuberkulin. Jurnal Tuberkulosis Indonesia, volume 3 no 2.Knechel, N.A., Tuberculosis: Pathophysiologi, Clinical Features, and Diagnosis. Crit Care Nurse.2009;29:34-43.Kurniati, I., 2010. Angka Konversi Penderita Tuberkulosis Paru yang Diobati dengan Obat Antituberkulosis (OAT) Paket Kategori Satu di BP4 Garut. MKB, Volume 42 No. 1.Lienhardt, C., Cook, S.V., Burgos, M., Edwards, V.Y., Rigouts, L., Anyo, G., 2011. Efficacy and Safety of a 4-Drug Fixed-Dose Combination Regimen Compared With Separate Drugs for Treatment of Pulmonary Tuberculosis The Study C Randomized Controlled Trial. JAMA. 2011;305(14):1415-1423. Downloaded From: http://jama.jamanetwork.com/ on 05/20/2013Lyanda, A., 2012. Rapid TB Test. Jurnal Tuberkulosis Indonesia, volume 8.KMK RI Nomor 364/MENKES/SK/V/2009 tentang Pedoman Penanggulangan Tuberkulosis (TB) Mathew, J.L., 2009. Fixed-Dose Drug Combination for Treatment of Tuberculosis. Indian Pediatrics volume 46.Monedero, I., Caminero, J.A., 2011. Evidence for promoting fixed-dose combination drugs in tuberculosis treatment and control: a review. Int J Tuberc Lung Dis 15(4):433439.Nathanson, E., Nunn, P., Uplekar, M., Floyd, K., Jaramillo, E., Lonnroth, K., et al. 2010. MDR TuberculosisCritical Steps for Prevention and Control. N Eng J Med 363;11.Notoatmodjo, S., 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta, pp. 124-5Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). 2006. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Tuberkulosis di Indonesia. Potter, B., Rindfleisch, K., Kraus.C.K., 2005. Management of Active Tuberculosis. American Family Physician Volume 72. available at www.aafp.org/afp</p> <p>Retnoningrum, D.S., Kembaren, R.F., 2004. Mekanisme Tingkat Molekul Resistensi terhadap Beberapa Obat pada Mycobacterium Tuberkulosis. Acta Pharmaceutica Indonesia, volume XXIX No.3.Sivasampu, S., 2006. Fixed Dose Combination (FDC) Drugs For Tuberculosis (TB) Treatment. Health Technology Assessment Unit Medical Development Division Ministry Of Health. Malaysia.Sutoyo, D.K., 2010. Multi Drug Resistance (MDR) Tuberkulosis. J Respir Indo Vol. 30, No. 2 J Respir Indo Vol. 30, No. 2, April 2010Tabrani, I., 2007. Konversi Sputum BTA pada Fase Intensif TB Paru Kategori I antara Kombinasi Dosis Tetap (KDT) dan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Generik di RSUP. H. Adam Malik Medan. Tesis.WHO Operational Guide for National Tuberculosis Control Program On The Introduction and Use of fixed Dose Combination Drugs. (2002). available at www.who.orgWHO Treatment of Tuberculosis Guidelines fourth edition. (2009). available at www.who.orgWHO Global Tuberculosis Report. (2012). available at www.who.orgWijaya, A.A., 2012. Merokok dan Tuberkulosis. Jurnal Tuberkulosis Indonesia, volume 8.Zumla, A., Raviglione, M., Hafner, R., Reyn, F.V., 2013. Current Concepts Tuberculosis. N Eng J Med 368;8.</p> <p>AlhamdulillahTERIMA KASIH</p>