praktikum kelarutan

22
PERCOBAAN I KELARUTAN I. TUJUAN PRAKTIKUM Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk : 1. Menerapkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat. 2. Menjelaskan pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat. II. DASAR TEORI Melarut tidaknya suatu zat dalam suatu sistem tertentu dan besarnya kelarutan, sebagian besar tergantung pada sifat serta intensitas kekuatan yang ada pada zat terlarut-pelarut dan resultan interaksi zat terlarut-pelarut. Larutan jenuh adalah suatu larutan di mana zat terlarut berada dalam kesetimbangan dengan fase padat (zat terlarut). Kelarutan adalah konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai iutnteraksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen. Larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperatur tertentu. Larutan lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak daripada yang seharusnya ada pada temperatur tertentu, terdapat juga zat terlarut yang tidak

Upload: kumala-thewee

Post on 30-Jun-2015

2.029 views

Category:

Documents


6 download

TRANSCRIPT

Page 1: praktikum kelarutan

PERCOBAAN I

KELARUTAN

I. TUJUAN PRAKTIKUM

Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk :

1. Menerapkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat.

2. Menjelaskan pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan zat.

II. DASAR TEORI

Melarut tidaknya suatu zat dalam suatu sistem tertentu dan besarnya kelarutan,

sebagian besar tergantung pada sifat serta intensitas kekuatan yang ada pada zat terlarut-

pelarut dan resultan interaksi zat terlarut-pelarut.

Larutan jenuh adalah suatu larutan di mana zat terlarut berada dalam kesetimbangan

dengan fase padat (zat terlarut). Kelarutan adalah konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh

pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif didefinisikan sebagai iutnteraksi spontan dari

dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen. Larutan tidak jenuh atau

hampir jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah

konsentrasi yang dibutuhkan untuk penjenuhan sempurna pada temperatur tertentu. Larutan

lewat jenuh adalah suatu larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih

banyak daripada yang seharusnya ada pada temperatur tertentu, terdapat juga zat terlarut yang

tidak larut, keadaan lewat jenuh mungkin terjadi apabila inti kecil zat terlarut yang

dibutuhkan untuk pembentukan kristal permulaan lebih mudah larut daripada kristal besar,

sehingga menyebabkan sulitnya ini terbentuk dan tumbuh dengan akibat kegagalan

kristalisasi.

Kelarutan dapat digambarkan secara benar dengan menggunakan aturan fase Gibbs

yaitu :

F = C – P + 2

Dimana F adalah jumlah derajat kebebasan, yaitu jumlah variabel bebas (biasanya

temperatur, tekanan, dan konsentrasi) yang harus ditetapkan untuk menentukan sistem secara

Page 2: praktikum kelarutan

sempurna. C adalah jumlah komponen terkecil yang cukup untuk menggambarkan komposisi

kimia dari setiap fase, dan P adalah jumlah fase.

Tabel 1. Istilah kelarutan zat dalam suatu pelarut (Depkes RI, 1995)

Istilah kelarutanBagian pelarut yang diperlukan untuk

melarutkan 1 bagian zat

Sangat mudah larut

Mudah larut

Larut

Agak sukar larut

Sukar larut

Sangat sukar larut

Praktis tidak larut

Kurang dari 1 bagian

1 sampai 10 bagian

10 sampai 30 bagian

30 sampai 100 bagian

100 sampai 1.000 bagian

1.000 sampai 10.000 bagian

Lebih dari 10.000 bagian

Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zat terlarut dan

pelarut, selain itu dipengaruhi pula oleh faktor temperatur, tekanan, pH larutan, dan untuk

jumlah yang lebih kecil bergantung pada terbaginya zat terlarut (Martin dkk, 1993).

Proses pelarutan yang melibatkan interaksi solut dengan solut, solven dengan solven,

dan solut dengan solven terdiri dari tiga tahap (Martin dkk, 1993) yaitu :

1) Tahap pertama menyangkut pemindahan suatu molekul zat dari zat terlarut pada

temperatur tertentu. Kerja yang dilakukan dalam memindahkan satu molekul dari zat

terlarut sehingga dapat lewat ke wujud uap membutuhkan pemecahan ikatan antar

molekul-molekul berdekatan. Proses pelepasan ini melibatkan energi sebesar 2W22

untuk memecah ikatan antar molekul yang berdekatan dalam kristal. Tetapi apabila

molekul melepaskan diri dari fase zat terlarut, lubang yang ditinggalkan tertutup, dan

setengah dari energi diterima kembali, maka total energi dari proses pertama adalah

W22.

Page 3: praktikum kelarutan

2) Tahap kedua menyangkut pembentukan lubang dalam pelarut yang cukup besar

untuk menerima molekul zat terlarut. Energi yang dibutuhkan pada tahap ini adalah

W11. Bilangan 11 menunjukkan bahwa interaksi terjadi antar molekul solven.

3) Tahap ketiga penempatan molekul zat terlarut dalam lubang pelarut. Lubang dalam

pelarut yang terbentuk pada gambar 2, sekarang tertutup. Pada keadaan ini, terjadi

penurunan energi sebesar – W12, selanjutnya akan terjadi penutupan rongga kembali

dan kembali terjadi penurunan energi potensial sebesar –W12, sehingga tahap ketiga

ini melibatkan energi sebesar –W12. Interaksi solutsolven ditandai dengan 12.

Secara keseluruhan, energi (W) yang dibutuhkan untuk semua tahap proses tersebut adalah :

W = W22 + W11 – 2W12 .............................................................................................. ( 1 )

Semakin besar W atau selisih energi yang dibutuhkan pada tahap 1 dan 2 dengan energi yang

dilepaskan pada tahap 3, maka semakin kecil kelarutan zat.

Menurut U.S.Pharmacopia dan National Formulary, kelarutan obat adalah jumlah mL pelarut

dimana akan larut 1 gram zat terlarut. Kelarutan obat sebagian besar disebabkan oleh

polaritas dari pelarut , yaitu dipol momennya. Pelarut polar melarutkan zat terlarut ionik dan

zat polar lainnya. Kemampuan zat terlarut membentuk ikatan hidrogen merupakan faktor

yang lebih berpengaruh dibandingkan polaritas dipol yang tinggi. Selain kepolaran dan ikatan

hidrogen, kelarutan zat juga bergantung pada perbandingan gugus polar terhadap gugus

nonpolar dari molekul.

Pelarut polar bertindak sebagai pelarut menurut mekanisme berikut :

1. Disebabkan karena tingginya tetapan dielektrik yaitu sekitar 80 untuk air, pelarut

polar mengurangi gaya tarik menarik antara ion dalam kristal yang bermuatan

berlawanan.

2. Pelarut polar memecahkan ikatan kovalen dari elektrolit kuat dengan reaksi asam basa

karena pelarut ini amfiprotik.

Page 4: praktikum kelarutan

Pada pelarut nonpolar tidak dapat mengurangi gaya tarik menarik antara ion –ion

elektrolit kuat dan lemah, karena tetapan dielektrik pelarut yang rendah, pelarut juga tidak

dapat memecahkan ikatan kovalen dan elektrolit yang berionisasi lemah karena pelarut

nonpolar termasuk dalam pelarut aprotik dan tidak membentuk jembatan hidrogen dengan

nonelektrolit.

Pada pelarut semipolar seperti keton dapat menginduksi suatu derajat polaritas

tertentu dalam molekul pelarut nonpolar sehingga menjadi dapat larut dalam alkohol.

Pelarut semipolar dapat bertindak sebagai pelarut perantara yang dapat menyebabkan

bercampurnya cairan polar dan nonpolar.

Kelarutan gas dalam cairan

Kelarutan gas dalam cairan adalah konsentrasi gas terlarut apabila berada dalam

kesetimbangan dengan gas murni di atas larutan. Kelarutan terutama bergantung pada :

1. Tekanan

Tekanan gas di atas larutan adalah pertimbangan penting dalam larutan gas karena

tekanan mengubah kelarutan gas terlarut dalam kesetimbangan. Pengaruh tekanan

pada kelarutan dinyatakan oleh Hukum Henry yang menyatakan bahwa dalam

larutan yang sangat encer, pada temperatur konstan, konsntrasi gas terlarut

sebanding dengan tekanan parsial gas diatas larutan pada kesetimbangan. Tekanan

parsial diperoleh dengan mengurangi tekanan uap pelarut dari tekanan uap total.

Hukum Henry dapat ditulis : C2 = σp

Dimana C2 adalah konsentrasi gas terlarut dalam gram/liter pelarut, p adalah

tekanan parsial gas yang tidak terlarut di atas larutan dalam mmHg, σ adalah

tetapan perbandingan larutan yang diselidiki.

2. Temperatur

Apabila temperatur naik, kelarutan gas umumnya turun, disebabkan karena

kecendrungan gas yang besar untuk berekspansi.

3. Pengusiran garam (salting out)

Dapat diperlihatkan dengan menambahkan sejumlah kecil garam ke dalam larutan

berkarbon. Hasil penglepasan gas disebabkan karena gaya tarik-menarik ion

garam atau zat nonelektrolit yang sangat polar dengan molekul air, yang

mengurangi kerapatan lingkungan air yang berdekatan dengan molekul gas.

Page 5: praktikum kelarutan

4. Pengaruh reaksi kimia

Perhitungan kelarutan dapat dinyatakan dengan hukum henry maupun dengan

koef.absorpsi Bunssen α, didefinisikan sebagai volume gas dalam liter (reduksi

pada keadaan standar 0C dan tekanan 760 mmHg) yang larut dalam 1 liter pelarut

pada tekanan parsial gas 1 atmosfer pada temperatur tertentu.

dimana Vgas adalah volume gas pada STP, yang terlarut dalam

suatu volume larutan Vlarutan pada tekanan gas parsial p.

Kelarutan cairan dalam cairan

Menurut hukum Raoult, pi = pt.Xi, tekanan parsial komponen dalam campuran cair

pada temperatur tertentu pi, setara dengan tekanan uap dalam keadaan murni dikalikan fraksi

mol komponen dalam larutan. Campuran dikatakan ideal apabila kedua komponen larutan

biner mengikuti hukum Raoult untuk semua komposisi. Jika salah satu komponen

menunjukan penyimpangan negatif, maka komponen lain harus juga menunjukan

penyimpangan negatif. Penyimpangan negatif mengakibatkan kenaikan kelarutan dan sering

dihubungkan dengan ikatan hidrogen antara senyawa polar. Interaksi pelarut dalam zat

terlarut dikenal sebagai solvasi. Penyimpangan positif, menyebabkan penurunan kelarutan,

diartikan sebagai akibat asosiasi molekul salah satu kontituen untuk membentuk molekul

ganda(dimers) atau polimer dengan order yang lebih tinggi. Gaya tarik menarik ini yang

dapat terjadi dalam gas,cairan,atau padatan disebut tekanan dalam. Apabila uap dianggap

mendekati ideal, tekanan dalam dengan satuan kal/cm3 diperoleh dengan persamaan :

Pi = dimana Hv adalah panas penguapan dan V adalah volume molar

cairan pada temperatur T.

Sistem cairan dapat dibagi menjadi 2 sesuai dengan kelarutan zat satu dengan yang

lain :

1. Tercampur sempurna, adalah pencampuran pada segala perbandingan.

2. Tercampur sebagian, adalah pencampuran yang akan membentuk dua lapisan

cairan, masing-masing cairan mengandung cairan lain dalam keadaan terlarut.

Page 6: praktikum kelarutan

Pengaruh zat asing

Penambahan suatu zat ke dalam sistem cairan biner menghasilkan sistem terner yaitu

suatu sistem yang mempunyai 3 komponen. Jika zat yang ditambahkan hanya larut dalam

salah satu komponen , kelarutan timbal-balik pasangan cairan akan turun. Apabila zat ketiga

larut dalam kedua cairan dalam jumlah yang sama banyak, kelarutan timbal-balik pasangan

cairan akan naik. Kenaikan dalam kelarutan timbal-balik dari dua pelarut yang tercampur

sebagian oleh zat lain biasanya disebut blending . apabila kelarutan cairan nonpolar dalam air

naik dengan adanya zat aktif permukaan pembentuk misel, gejala ini disebut kelarutan misel.

Kelarutan zat padat dalam cairan

Larutan ideal

Kelarutan zat padat dalam larutan ideal bergantung pada temperatur, titik leleh zat

padat, panas peleburan molar Hf , yaitu panas yang diabsorpsi apabila zat padat meleleh.

Dalam larutan ideal, panas pelarutan sama dengan panas peleburan, yang dianggap konstan

tidak bergantung pada temperatur. Kelarutan ideal tidak dipengaruhi oleh sifat pelarut.

Persamaan termodinamik untuk larutan ideal zat padat dalam cairan adalah :

-log X2i = .( )

Dimana X2i adalah kelarutan ideal zat terlarut yang dinyatakan dalam fraksi mol, To adalah

titik leleh zat terlarut padat dalam derajat mutlak, dan T adalah temperatur mutlak larutan.

Larutan Nonideal

Larutan nonideal, dimana kerja yang harus dilakukan dalam memindahkan suatu molekul

dari fase terlarut dilakukan beberapa proses yang dapat dipertimbangkan terjadi dalam 3

tahap yaitu :

1. Tahap pertama menyangkut pemindahan satu molekul dari fase terlarut pada

temperatur tertentu.

2. Tahap kedua menyangkut pembentukan lubang dalam pelarut yang cukup besar untuk

menerima molekul zat terlarut.

Page 7: praktikum kelarutan

3. Molekul zat terlarut akhirnya ditempatkan dalam lubang dalam pelarut.

Solvasi dan Asosiasi dalam Larutan Senyawa Polar

Penyimpangan negatif dari Hukum Raoult yang digunakan apabila interaksi spesifik

seperti ikatan hidrogen terjadi antara zat terlarut dan pelarut, kombinasi khusus pelarut dan

zat terlarut ini dikenal sebagai solvasi. Apabila terjadi interaksi antara molekul sejenis dari

salah satu komponen dalam larutan, gejala ini disebut sebagai asosiasi.

Parameter Kelarutan (Parsial) Berganda

Dengan menggunakan parameter kelarutan parsial, para pengamat dapat

memperkirakan kelarutan naftalen dalam sejumlah pelarut polar dan nonpolar. Tidak benar

bila parameter ikatan hidrogen diartikan untuk diterapkan pada donor, ikatan hidrogen,

akseptor atau keduanya. Tentunya, zat yang bertindak sebagai hidrogen (proton) donor

umumnya tidak mempunyai sifat akseptor yang sama.

Kelarutan Garam dalam Air

Kenaikan temperatur menaikkan kelarutan zat padat yang mengabsorpsi panas

(endotermik) apabila dilarutkan. Pengaruh ini sesuai dengan asas Le Chatelier, yang

menyatakan bahwa sistem cenderung menyesesuaikan diri sendiri dengan cara sedemikian

rupa sehingga akan melawan suatu tantangan misalnya kenaikkan temperatur. Panas

pelarutaan parsial atau panas pelarutan diferensial adalah panas yang diabsorpsi per mol bila

sejumlah kecil terlarut ditambahkan ke dalam sejumlah besar larutan atau laju perubahan

panas pelarutan per mol zat terlarut dalam larutan pada setiap konsentrasi. Panas pelarutan

total atau panas pelarutan integral adalah panas yang diabsorpsi jka 1 mol zat terlarut

dilarutkan dalam pelarut yang cukup untuk menghasilkan larutan dengan konsentrasi tertentu.

Panas pelarutan zat yang berbentuk kristal adalah perbedaan antara panas sublimasi

zat padat seperti yang diberikan oleh energi kisi kristal dan panas hidrasi ion dalam larutan.

energi kisi adalah energi yang dibutuhkan untuk memisahkan 1 mol kristal ke dalam ion-

ionnya dalam wujud gas atau energi untuk menguapkan zat padat. Panas hidrasi adalah

panas yang dilepaskan ketika ion-ion gas terhidrasi. Dalam larutan ideal tidak akan terjadi

hidrasi (solvasi), dan panas yang diabsorpsi hanyalah panas yang dibutuhkan untuk

mengubah kristal menjadi wujud cair.

Page 8: praktikum kelarutan

Kelarutan Elektrolit yang Sukar Larut

Apabila elektrolit yang sukar larut dilarutkan untuk membentuk larutan jenuh,

kelarutan digambarkan oleh tetapan khusus yang dikenal dengan hasil kali kelarutan, Ksp

dari senyawa. AgCl (s) Ag+ + CL-, dimana K dapat dicari dengan : K = dan

hasil kali kelarutannya adalah Ksp =[Ag+] [Cl-]. Penambahan ion sejenis akan mengurangi

kelarutan elektrolit yang sukar larut, tentunnya jika ion sejenis itu tidak membentuk

kompleks dengan garam dimana jika terbentuk kompleks maka kelarutan netto dapat naik.

Garam-garam yang tidak mempunyai ion sejenis dengan elektrolit yang sukar larut, pada

konsentrasi sedang , garam ini akan menaikan dan bukan menurunkan kelarutan karena

adanya penurunan koefisien keaktifan.

Pengaruh Pelarut pada Kelarutan Obat

Zat terlarut lebih larut dalam campuran pelarut daripada dalam satu pelarut saja

dimana gejala ini dikenal dengan melarut bersama (cosolvency), dan pelarut yang dalam

kombinasi menaikkan kelarutan zat terlarut disebut cosolvent. Cara ini cukup potensial dan

sederhana dibanding beberapa cara lain yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan

stabilitas suatu bahan. Penggunaan kosolven dapat mempengaruhi polaritas sistem, yang

dapat ditunjukkan dengan pengubahan tetapan dielektrikanya (Swarbrick and Boylan, 1990).

Kosolven seperti etanol, propilen glikol, polietilen glikol dan glikofural telah rutin digunakan

sebagai zat untuk meningkatkan kelarutan obat dalam larutan pembawa berair.

Pada beberapa kasus, penggunaan kosolven yang tepat dapat meningkatkan kelarutan

obat hingga beberapa kali lipat, namun bisa juga peningkatan kelarutannya sangat kecil,

bahkan dalam beberapa kasus penggunaan kosolven dapat menurunkan kelarutan solut dalam

larutan berair.

Efek peningkatan kelarutan terutama disebabkan oleh polaritas obat terhadap solven

(air) dan kosolven. Pemilihan sistem kosolven yang tepat dapat menjamin kelarutan semua

komponen dalam formulasi dan meminimalkan resiko pengendapan karena pendinginan atau

pengenceran oleh cairan darah. Akibatnya, hal ini akan mengurangi iritasi jaringan pada

tempat administrasi obat (Yalkowsky, 1981).

Page 9: praktikum kelarutan

Pengaruh Gabungan pH dan Pelarut

Pelarut mempengaruhi kelarutan elektrolit lemah dalam larutan yang didapar dengan

2 cara, yaitu:

1. Penambahan alkohol ke dalam larutan yang didapar dari elektrolit lemah dalam air-

menaikkan kelarutan zat yang tidak terionisasi dengan mengatur polaritas pelarut pada

harga yang lebih yang diinginkan.

2. Karena kurang polar dibandingkan air, alkohol menurunkan disosiasi elektrolit lemah,

dan kelarutan obat turun apabila tetapan disosiasi turun (pKa naik).

Pengaruh Surfaktan

Obat yang bersifat asam lemah dan basa lemah dapat dilarutkan dengan bantuan kerja

penglarutan dari zat aktif permukaan. Sifat dari surfaktan adalah menambah kelarutan

senyawa organik dalam sistem berair. Sifat ini tampak hanya pada cairan dan diatas

konsentrasi misel kritis. Ini menunjukkan bahwa misel adalah bersangkutan dengan

fenomena ini. Berbagai bahan tambahan dalam produk obat juga dapat mempengaruhi

kinetika kelarutan obat itu sendiri (Lachman dkk, 1989). Menurut FDA (Food and Drugs

Administration) beberapa obat dapat dimasukkan dalam BCS (Biopharmaceutical

Classification System).

Page 10: praktikum kelarutan

Tabel 2. Sistem Klasifikasi Biofarmasetikal (FDA, 2008)

PERMEABILITAS

KELARUTAN

TINGGI RENDAH

TINGGI

KELAS I

Contoh :

Propanolol, Metoprolol,

Diltiazem, Verapamil,

Parasetamol, Teofilin,

Pseudoefedrin sulfat,

Metformin hidrokloride

KELAS II

Contoh :

Danazole, Ketokonazole,

Asam mefenamat,

Nisoldipin, Nifedipin,

Glibenclamide,

Carbamazepine,

Griseofulvin

RENDAH

KELAS III

Contoh :

Aciklovir, Kaptopril,

Atenolol, Simetidin,

Ranitidin, Enalaprilate,

Alendronate

KELAS IV

Contoh :

Clorothiazide, Furosemide,

Tobramycin, Cefuroxime,

Siklosforin, Itrakonazole

KETERANGAN :

KELAS I : Kelarutan tinggi – Permeabilitas tinggi

Obat-obat untuk kategori kelas I menunjukkan jumlah absorbsinya tinggi serta jumlah

disolusi yang tinggi pula. Kecepatan disolusi obat-obat ini tergantung dari kecepatan

pengosongan lambung.

KELAS II : Kelarutan rendah – Permeabilitas tinggi

Page 11: praktikum kelarutan

Obat-obat untuk kategori kelas II mempunyai jumlah absorbsi yang tinggi tetapi dengan

jumlah disolusi yang rendah. Kecepatan disolusi obat secara in-vivo besar jika dosis obat

ditingkatkan.

KELAS III : Kelarutan tinggi – Permeabilitas rendah

Obat-obat untuk kategori kelas III menunjukkan variasi kecepatan dan besarnya absorbsi obat

yang tinggi terhadap permeabilitas. Jika disolusi obat cepat, maka variasi tersebut dapat

disebabkan oleh perubahan fisiologi atau permeabilitas membran yang lebih baik daripada

faktor bentuk dosis.

KELAS IV : Kelarutan rendah – Permeabilitas rendah

Obat-obat untuk kategori kelas IV menunjukkan banyak masalah untuk metabolisme

oral yang efektif.

Telah diketahui bahwa kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi polaritas bahan pelarut.

Pelarut polar mempunyai konstanta dielektrik yang tinggi sehingga dapat melarutkan zat-zat

yang bersifat polar. Sedangkan zat-zat non polar sukar larut di dalamnya. Demikian pula

sebaliknya zat-zat yang polar sukar larut didalam bahan pelarut non polar. Konstanta

dielektrik adalah suatu besaran tanpa dimensi dan merupakan rasio antara kapasitas elektrik

medium (Cx) terhadap vakum (Cv) atau ε = Cx.Cv-1 Besarnya konstanta dielektrik menurut

Moore dapat diatur dengan menambahkan bahan pelarut lain. Tetapan dielektrik suatu

campuran bahan pelarut merupakan hasil penjumlahan tetapan dielektrik masing-masing

sesudah dikalikan dengan % volume setiap komponen pelarut.

Adakalanya suatu zat lebih mudah larut dalam pelarut campuran dibandingkan dengan

pelarut tunggalnya. Fenomena ini dikenal dengan istilah co-solvency sedangkan bahan pelarut

di dalam pelarut campur yang mampu meningkatkan kelarutan zat disebut cosolvent. Etanol,

gliserin dan propilen glikol adalah contoh co-solvent yang umum digunakan dalam bidang

farmasi, khususnya dalam pembuatan sediaan eliksir.

Page 12: praktikum kelarutan

Data Konstanta Dielektrik Beberapa Bahan Pelarut

Nama Bahan ε Nama Bahan ε

N-metilformamid

Air

Gleserin

Metil Alkohol

n-propil alkohol

Aceton

Benzaldehid

Amil alkohol

Benzil alkohol

Fenol

Metil Salisilat

Etil Asetat

190

80,4

43,0

33,7

25,7

21,8

21,4

17,8

15,8

13,1

9,7

9,0

6,4

Kloroform

Asam hidroklorida

Etil eter

Minyak zaitun

Minyak biji kapas

Asam oleat

Toluen

Benzen

Dioksan

Minyak lemon

Karbon tetraklorida

Petrolatum cair

4,8

4,6

4,34

3,1

3,0

2,45

2,39

2,28

2,26

2,25

2,24

2-5

Pengaruh Kompleksasi dalam Sistem Multikomponen

Apabila bebarapa obat bersama-sama dengan zat tambahan farmasetik berinteraksi

dalam larutan membentuk kompleks yang tidak larut, propil kelarutan sederhana dari masing-

masing obat tidak dapat digunakan untuk memperkirakan kelarutan dalam campuran dari

masing-masing isi.

Pengaruh Faktor Lain pada Kelarutan Zat Padat

Ukuran dan bentuk partikel kecil juga mempengaruhi kelarutan. Kelarutan naik

dengan turunnya ukuran partikel menurut persamaan : log =

Page 13: praktikum kelarutan

Dimana s adalah kelarutan partikel hlus dan so adalah kelarutan zat padat yang terdiri dari

partikel-partikel besar, adalah tegangan permukaan partikel, yang untuk zat padat sangat

sulit diperoleh, V adalah volume molar, r adalah jari-jari akhir partikel dalam cm, R adalah

tetapan gas (8,314 x 107erg/der mol) dan T adalah temperatur mutlak.

III. CARA KERJA

Dibuat 10 ml campuran bahan pelarut, sesuai dengan tabel :

Air (% v/v) Alkohol (% v/v) Propilen glikol (% v/v)

60 0 40

60 5 35

60 10 30

60 15 25

60 20 20

60 30 10

60 35 5

60 40 0

Dilarutkan asam salisilat sebanyak 1 gram ke dalam masing-masing campuran pelarut.

Dikocok larutan dengan alat pengocok orbital selama 2 jam.

Jika selama pengocokan terdapat endapan yang larut, larutan ditambahkan asam salisilat

sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.

Page 14: praktikum kelarutan

Larutan disaring.

Ditambahkan indikator fenolftalin ke dalam larutan, kemudian dititrasi dengan pentiter

NaOH 0,1 N, ditentukan kadar asam salisilat.

Dibuat kurva antara kelarutan asam salisilat dengan harga konstanta dielektrik bahan pelarut

campur yang ditambahkan.

Page 15: praktikum kelarutan

IV. ALAT DAN BAHAN

Alat

1. Gelas ukur 10 mL

2. Kertas perkamen

3. Batang pengaduk

4. Pengocok orbital

5. Kertas saring

6. Gelas erlemeyer

7. Beaker glass

8. Buret

9. Standar buret

Bahan

1. Air

2. Alkohol

3. Propilen glikol

4. Asam salisilat

5. NaOH

6. Indikator PP