ppt jurnal tht

of 15/15
Defesiensi Vitamin D pada Rhinitis Alergi Indri Patra Tarigan 09-037

Post on 06-Nov-2015

23 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

tht

TRANSCRIPT

PowerPoint Presentation

Defesiensi Vitamin D pada Rhinitis AlergiIndri Patra Tarigan 09-037ABSTRAKRhinitis Alergi adalah kondisi yang sering terjadi pada 5-40% dari populasi umum dan prevalensinya meningkat. Rhinitis alergi adalah kondisi kronik yang di karakteristikkan oleh inflamasi dari mukosa hidung. Berdasarkan penelitian baru baru ini, ada hubungan antara level serum vitamin D dan status Rhinitis Alergi. Vitamin D memiliki peran yang besar dalam regulasi dari metabolisme kalsium, serta memiliki beberapa efek imunologik dan mengambil bagian dalam proses imunomodulasi yang secara signifikakan merupakan bagian dari hasil akhir respon alergi seperti rhinitis alergi.

INTRODUCTIONRA adalah kondisi atopic yang mayorRa adalah masalah kesehatan yang sering terjadi, disebabkan oleh reaksi inflamasi setelah ekspos dari allergen dan berhubungan dengan IgE, yang mementarai respon imun melaan allergen yang paling sering terjadi dari rhinistin non infeksi.RA tidak mengancam nyawa, tapi pada kebanyakan kasus RS mengganggu kehidupan social pasien dan membebakan masalah yang cukup besar dalam kehidupan social pribadi pasien dalam cakupan ekonomi dan kualitas kehidupan serta produktivitas.Ada terapi yang baik untuk RA, termasuk antihistamin dan kortikosteroid topical. Dibutuhkan terapi yang baru sebagai pilihan, tujuannya untuk mengurangi efek samping. Prevalensi yang bervariasi antara beberapa Negara, mungkin dikarenakan perbedaan geografik dan aeroallergen.Rhinitis alergi menyerang antara 10 dan 30 % dari semua orang dewasa dan paling banyak 40% anak-anak.Di India, RA dianggap penyakit yang sepele, walaupun gejala nya muncul pada 75% anak anak dan 80% pasien asma yg dewasa.Kadar serum 25 (OH) Vitamin D level yang rendah adalah prevalensi di setiap region country (daerah yang paling rendah serum nya Asia selatandan Timur tengah). Pada tahun-tahun terakhir ini, seluruh dunia meningkat penyakit alergik nya sudah dihubungkan dengan kadar vitamin D yang rendah.Schauber menyatakan hubungan antara kadar serum vitamin yang rendah dengan meningkatnya gangguan imun bukan kebetulan. Peningkatan populasi RA meningkat pada pasien yang banyak menghabiskan waktu didalam rumah, karena lebih sedikit ter-ekspose sinar matahari dan lebih sedikit produksi cutaneous vitamin Dnya.Beberapa penelitian sudah didesign untuk menginvestigasi manfaat dari vitain D dalam terapi dari penyakit alergi dan asma, tapi hasilnya masih kontroversial.Material and methodsstudy and populationPenelitian ini melibatkan pasien dengan Rhinitis Alergi yang dimasukkan kedalam institusi Department of ENT selama periode 1 tahun antara Desember 2011 dan Desember 2012.Material and methodsstudy and population23 pasien kelas bawah dan kelas menengah dengan usia antara 15 dan 16 tahun dengan jenis kelamin laki-laki maupun perempuan.Kritesia inklusi : pasien yang memiliki riwayat Rhinitis Alergi (perennial) dan didiagnosa secara klinis menggunakan Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma (ARIA) 2008 Score dengan Eosinophilia pada blood smear/nasal smear.Kriteria eksklusi : pasien yang memiliki peyakit komorbid yang mempengaruhi level Vitamin D dalam serum seperti Rheumatoid Arthritis, Multiple Skerosis, Ulserasi dan pasien yang mengkonsumsi kortikosteroid, barbiturate, bishoponats, sulfasalazine, omega 3 dan vitamin D.Material and methodsstudy and populationPasien sudah di anamnesis dan pemeriksaan THT sudah lengkapGejala-gejala hidung sudah di catatLevel vitamin dalam serum sudah dihitung

0 : tidak ada gejala1 : ada gejala, tapi tidak menggangu2 : ada gejala khas, mengganggu tapi masih dapat ditoleransi3 : gejalanya susah di toleransi.Total Nasal Symptoms score dihitung menggunakan Cobas E 411 (fully automated) Hormone-immunoassay analyzer

Instrumen perhitungan 25 (OH) D level > 30 ng/ml Normal 25 (OH) D level < 20 ng/ml Defesiensi 25 (OH) D level 20-30 ng/ml Inufisiensi

ResultPasien laki-laki 11 orang (47,82%), pasien wanita 12 (52,18%)Rata-rata usia 35,3 +_ 9,63

Rata rata Level vitamin D dalam serum :19,52 +-7,35 ng/mlnormal : 34,94 +- 15,65 ng/ml

Pada Rhinitis alergi , gejala yang meningkat muncul sebagai hasil dari inflamasi local yang diinduksi oleh aeroallergen seperti polusi, bulu binatang, molds, dan debu-debu dirumahRespon imun melibatkan pelepasan mediator inflamasi dan aktivasi serta penarikan dari sel-sel peradangan yang berbeda dari mukosa hidung. Infiltrasi dari sel inflamasi adalah bukti dari kedua bentuk seasonal dan perennial.Jenis karakteristik dari inflamasi alergi adalah akumulasi local dari inflamasi sel termasuk limfosit T, sel mast, eusinofil,, basophil dan neutrophil.Pelepasan mediator inflamasi dari sel inilah yang bertanggung jawab atas munculnya gejala Rhinitis Alergi.Akumulasi dari tambahan sel inflamasi seperti eusinofil dan sel T muncul akibat respon untuk chemokines dan Sitokin.Vit D dan ImunomodulatorVitamin D memiliki imunomodulator hormon steroid yang berefek pada kerja fungsi sel dendrit, monosit, magrofag, sel B dan sel T

Reseptor Vitamin D (VDR) dan enzim vitamin D metabolisme mengeluarkan beberapa sel seperti Th1 dan Th2, mereka yang mengaktifkan vitamin DSel Th1 mengsekresi interferon gamma (IFNy), Interleukin (IL)-2, IL-12, dan tumor necrosis factor alpha (TNF), yang berfungsi memediasi sel untuk melawan patogen.

Sel Th2 mengeluarkan IL-4, IL-5 dan IL-13, yang memodulasi sitokin berespon saat melawan parasit, serta berasosiasi saat atopi atau asmaVitamin D dapat mensupresi inflamasi yang terjadi pada tingkat mukosa contohnya nasal.Pada Pembelajaran pasien dengan rinitis alergi ditemukan defisiensi pada Vitamin D.Pada alergi kronik seperti rhinosinusitis, studi klinis nya menemukan pasien dengan kadar serum D lebih rendah 40-50% dari kontrol grupConlusionAda hubungan antara level vitamin D dalam serum dengan Rhinitis AlergiLevel vitamin D dalam serum rendah pada pasien Rhinitis Alergi.Perhitungan level vitamin D dalam serum dipertimbangkan menjadi asesmen rutin pada pasien Rhinitis Alergi.Untuk evaluasi yang lebih jauh dan hubungannya dengan Rhinitis Alergi, diperlukan randomized controlled trials.Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi Vitamin D sebagai regimen terapi pada Rhinitis Alergi dapat mengurangi keparahan gejala dan mengurangi frekuensi serangan.