ppt jurnal fix

Click here to load reader

Post on 18-Jan-2016

32 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jurnal

TRANSCRIPT

Jurnal Reading

JOURNAL READINGEstimation of postmortem interval using thanatochemistryand postmortem changesPembimbing :dr. Ratna Relawati, Sp.KF , Msi.Med.

ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGALFK UNISSULA SEMARANG2014

Identitas jurnalEstimation of postmortem interval using thanatochemistryand postmortem changesJudulMIKAELABSTRAKPendahuluan

THANATOCHEMISTRYPerubahan kimia yang terjadi setelah kematian tingkat kalium (K +) dan hipoksantin (Hx) di vitreous humor (VH)

PERUBAHAN POST MORTEM ditentukan dengan menggunakan metode skoring. Tiga perubahan post mortem yaitu hypostasis, kekakuan dan kekeruhan kornea.interval post mortem (PMI)MIKAELABSTRAKSubyek dan MetodePenelitian dilakukan pada kasus-kasus otopsi yang terdiri dari 70 orang dewasa, yang kurang diketahui perkiraan waktu kematiannya.Perkembangan kekakuan postmortem, hypostasis dan kekeruhan kornea dinilai dan dijumlah dengan skoring. Tingkat kalium (K +) dan hipoksantin (Hx) di vitreous humor (VH) diukur.Data dianalisis secara statistik dan analisis regresi linier digunakan untuk mendapatkan persamaan untuk memperhitungkan PMI.

MIKAELABSTRAKResult

Semua variabel dipelajari dalam penelitian ini secara signifikan berkorelasi dengan PMI Koefisien korelasi tertinggi adalah untuk kekeruhan kornea, diikuti oleh tingkat K + di VH kemudian hypostasis, kekakuan dan terakhir tingkat hipoksantin di VH.

Lima persamaan yang diperoleh dari penelitian ini dapat memprediksi PMI tapi dengan perbedaan tingkat akurasi.

MIKAELPENDAHULUANSetelah kematian, akan kembali terjadi keseimbangan karena tidak aktifnya mekanisme pemompaan dan dinding sel menjadi semipermeabel, kemudian K + dapat melewati membran yang bocor dan terjadi keseimbangan tersebut. Hipoksantin adalah produk degradasi penting dari metabolisme purin. Peningkatan hipoksantin pada periode postmortem dan terutama berdifusi dari retina ke pusat humor vitreous.PONNYHumor vitreous sangat cocok sebagai media untuk meneliti perubahan kimia posmortem, karena komposisinya berubah lebih lambat setelah kematian.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperkirakan waktu sejak kematian menggunakan metode skoring untuk tiga perubahan postmortem; Yaitu hypostasis, kekakuan dan kekeruhan kornea. Studi saat ini juga bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan thanatochemistry; level kalium (K +) dan hipoksantin (Hx) pada VH dalam penentuan Interval postmortem (PMI) dan membandingkan keakuratan thanatochemistry dan metode skoring untuk perkiraan perubahan postmortem pada PMIPONNYMETODEPenelitian dilakukan pada kasus-kasus otopsi 70 orang dewasa, yang diketahui Interval postmortem, dari departemen medikolegal dari Departemen Kehakiman, di Kom El Dekka, Alexandria, Mesir.Setelah mengambil persetujuan komite resmi dan etika, kasus tersebut kemudian dipilih secara acak.Data dikumpulkan dari laporan polisi termasuk; usia, jenis kelamin dan waktu kematian. Pada pemeriksaan postmortem eksternal, pengembangan kekakuan postmortem, hypostasis dan kekeruhan kornea dapat dinilai dengan score secara numerik.

PONNY

Penilaian Laboratorium kalium (K +) dan level hipoksantin (Hx) pada humor vitreous (VH) dilakukan dengan : mengambil 0,1 ml VH pada mata kanan dari setiap kasusnya sebagai permulaan otopsi dengan menggunakan tusukan scleral dekat canthus luar, untuk menghindari perubahan bentuk mata, menggunakan nomor jarum 20-gauge. Kemudian kelopak ditarik, sehingga lubang dapat terbuka. Kemudian cairan itu ditarik perlahan-lahan untuk menjaga jarum tetap di tengah untuk menghindari terlepasnya retina. Setiap spesimen yang tidak jelas kristalnya disingkirkan, sampel yang telah membeku pada suhu -70 C untuk diuji hipoksantin dan potassium.

PONNY

VHkalium (K +)hipoksantin (Hx)Metode turbidimetrimetode kolorimetri VANDAANALYSIS STATISTIK

Data dianalisis menggunakan statistik (SPSS) versi 18 untuk perhitungan rata-rata aritmatika, standar deviasi dan chi square, F-test dan uji Fisher.Spearman Rho dan Pearson koefisien korelasi tingkat korelasi antara variabel yang berbeda.Analisis regresi linier persamaan dalam perhitungan interval postmortem. Perkiraan keakuratan persamaan rumus Stein:

Perbandingan berpasangan repeat ANOVA dan uji post hoc. Tingkat signifikansi p 0.05

VANDA

VANDAHASIL

VANDAHASIL

VANDAHASIL

Tabel 3. Hubungan perbedaan antara skor hipostasis (lebam mayat) dan PMI (Postmortem Interval) (n=70)

Tabel 3. Hubungan perbedaan antara skor hipostasis (lebam mayat) dan PMI (Postmortem Interval) (n=70)

RENNYkekakuan postmortem, itu dikategorikan menjadi lima fase sesuai dengan perkembangan dan resolusi. Hubungan yang signifikan itu melihat antara nilai kekakuan dan PMI dengan x2 = 18.33 dan p = 0,001. Di PMI kurang dari 12 jam (kelompok I), sebagian besar kasus (83,3%) milik skor 4 sedangkan pada kelompok II, 56,3% kasus milik skor 3 Dalam rentang PMI antara 24 dan 60 jam (kelompok III), sebagian besar kasus yang ditemukan dalam skor 4. Skor 1 dan 2 tidak diberikan ke salah satu kasus (Tabel 4).

RENNY

Kekeruhan kornea postmortem dikategorikan menjadi empat fase sesuai dengan tingkat kekeruhan. hubungan signifikan dapat dilihat antara nilai kekeruhan kornea dan PMI x2 = 65,62 dan p 6 0,0001). Pada PMI kurang dari 12 jam (kelompok I), sebagian besar kasus (83,3%) termasuuk skore 1. kisaran PMI dari 12 sampai dengan kurang dari 24 jam(kelompok II), 81,3% kasus berada di skor 2. Dalam rentang PMI antara 24 dan 60 jam (kelompok III), jumlah tertinggi kasus (38,1%) masuk dalam skor 4 dan hanya 2,4% kasus ditemukan dalam skor 1 (Tabel 5).RENNY

Penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan antara hypostasis, kekakuan dan kekeruhan kornea dengan PMI menggunakan koefisien korelasi rho Spearman dengan p value