plagiat merupakan tindakan tidak terpujimenebalkan huruf, tahap identifikasi huruf, tahap menyalin...

Click here to load reader

Post on 25-Aug-2021

0 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KASUS RIFKI LAZUARDI DAN FATHONI DEWANTOKO, SISWA
KELAS II DI SLB CITRA MULIA MANDIRI, MAGUWOHARJO,
DEPOK, SLEMAN, YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2007/2008
Skripsi
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Disusun oleh
DWI RETNOWATI
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
2
3
4
ABSTRAK
Retnowati, Dwi.. 2008. Tahap Perkembangan Menulis Permulaan Siswa Autis: Kasus Rifki Lazuardi dan Fathoni Dewantoko, Siswa Kelas II di SLB Citra Mulia Mandiri, Depok, Sleman, Yogyakarta, Tahun Ajaran 2007/2008. Skripsi. S1 Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma,Yogyakarta.
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tahap perkembangan menulis permulaan yang dialami oleh siswa autis kelas II di SLB Citra Mulia Mandiri, Maguwoharjo, Depok, SLeman, Yogyakarta, tahun ajaran 2007/2008. Rumusan masalah utama penelitian, yaitu: (1)Bagaimanakah tahap perkembangan menulis permulaan siswa autis kelas II di SLB Citra Mulia Mandiri, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, Khususnya Rifki Lazuardi dan Fathoni Dewantoko? (2) Adakah perbedaan tahap perkembangan menulis permulaan antara Rifki Lazuardi dan Fathoni Dewantoko? Teknik pengumpulan data menggunakan tes menulis, pengamatan (observasi), wawancara terhadap dua orang guru yang mengampu masing-masing siswa autis tersebut. Untuk mengetahui validitas dan reliabilitas instrumen peneliti menggunakan teknk triangulasi, yaitu dengan cara mencocokkan data yang diperoleh dengan data hasil wawancara terhadap dua orang guru yang mengampu kedua siswa. Instrumen tes menulis di analisis dengan cara menilai dan menyimpulkan hasil pekerjaan siswa menggunakan kriteria Penilaian Acuan Patokan hasil wawancara dianalisis dengan cara mentranskip hasil wawancara, mengkoding hasil transkip wawancara, kemudian mendeskripsikannya. Hasil pengamatan (observasi) disimpulkan dengan cara mendeskripsikan hasil pengamatan.
Hasil umum analisis deskriptif menunjukkan bahwa tahap perkembangan kemampuan menulis yang dialami Rifki Lazuardi adalah tahap pra menulis, tahap menebalkan huruf, tahap identifikasi huruf, tahap menyalin huruf vokal, tahap menyalin huruf konsonan, tahap dikte huruf vokal, tahap dikte huruf konsonan, tahap menyalin kata, sedangkan tahapan perkembangan menulis yang dialami oleh Fathoni Dewantoko adalah tahap pra menulis, tahap identifikasi huruf, tahap menyalin huruf vokal, tahap menyalin huruf konsonan, tahap menyalin kata.
Terdapat perbedaan dalam tahap perkembangan menulis permulaan yang dialami oleh Rifki Lazuardi dan Fathoni Dewantoko. Tahapan yang dilalui oleh Rifki Lazuardi dalam perkembangan menulis permulaan jauh lebih banyak daripada tahapan perkembangan menulis permulaan yang dialami oleh Fathoni Dewantoko. Dalam perkembangan menulis permulaan menulis permulaan Rifki Lauardi mengalami delapan tahap, sedangkan Fathoni Dewantoko hanya mengalami lima tahap. Ada 2 tahap perkembangan dalam menulis permulaan yang tidak dilalui oleh Fathoni Dewantoko. Tahapan itu antara lain adalah tahapan menebalkan huruf dengan cara menebalkan titik- titik untuk membentuk huruf, dan tahapan dikte huruf. Tahap menebalkan huruf tidak ia lewati karena Fathoni Dewantoko mengalami cacat pada matanya sehingga tidak dapat melihat garis atau titik dengan jelas.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran sebagai berikut, yaitu : (1) Guru yang mengampu siswa SLB Citra Mulia Mandiri Maguwoharjo,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
5
Depok, Sleman, Yogyakarta agar lebih memperhatikan kondisi siswa, baik kondisi fisik maupun kondisi psikisnya. Hal ini berguna agar guru lebih mudah dalam mendidik siswa, (2) Sebaiknya guru menempatkan mata pelajaran bahasa Indonesia di awal pembelajaran daripada pelajaran menyanyi, menggambar, dan menari. Hal itu dikarenakan mata pelajaran bahasa Indonesia khususnya pelajaran menulis membutuhkan kemampuan berpikir anak. Jika pelajaran bahasa Indonesia diletakkan di akhir pembelajaran (siang hari) kondisi anak yang cenderung tidak menyukai pelajaran menulis akan membuat anak mudah bosan dan menangis, (3) Bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan dan memperdalam penelitian mengenai perkembangan anak autis, sebaiknya melakukan penelitian dalam jangka waktu yang agak lama agar lebih mengetahui secara lebih jelas mengenai kondisi perkembangan siswa.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
6
ABSTRACT
Retnowati, Dwi. (2008). Development Stage of Early Writing Skills on Autistic Students; A Study Case on Rifki Lazuardi and Fathoni Dewantoko, Second Grade Students of Citra Mulia Mandiri SLB, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, Academic Years 2007/2008. An Undergraduate Thesis: Department of Language, Indonesia Letters, and Vernacular Education, Faculty of Teachership Education, Sanata Dharma University.
The aim of this research is to describe the developmental stage of early writing skills on autistic second grade students of Citra Mulia Mandiri SLB, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, on the academic year 2007/2008. The main problem formulations in this research are: (1) “How does the development stage of early writing skills on autistic second grade student of Citra Mulia Mandiri SLB, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, especially Rifki Lazuardi and Fathoni Dewantoko?” (2) “Are there differences on the development stage of early writing skills on Rifki lazuardi and Fathoni Dewantoko?” Data collection is applied using writing tests, observation, and interview toward two teachers that teach the pupils mentioned. In order to acknowledge the validity and reliability of the instrument, it was brought and discussed with the professional who are the headmaster of Citra Mulia Mandiri SLB and the teachers of the pupils mentioned. The tests instruments were analyzed by grading and summarize the students’ result using standard matrix criteria. The interviews were analyzed by transcript, coding it, and describe it. The observation result was summarized.
The general descriptive analysis showed that the development stage of writing skills on Rifki Lauardi and Fathoni Dewantoko which was started from early stage (simple one to the more complex one). The stages experienced by Rifki Lazuardi were: pre-writing, tracing, identifying, copying vocals, copying consonants, dictating vocals, dictating consonants, and copying words. Were else experienced by Fathoni Dewantoko were: pre-writing, identifying letters, copying vocals, copying consonants, copying words.
Rifki Lazuardi and Fathoni Dewantoko experienced difference stages of early writing skills. Rifki Lazuardi experienced much more early writing skills stages than Fathoni Dewantoko did. There were eight stages on Rfiki Lazuardy and only five stages on Fathoni Dewantoko. There are several early sriting skills stages that Fathoni Dewantoko missed. Those stages are tracing letters made of dots and dictating letters. Fatoni Dewantoko skips tracing stages for he has an eye sight defect that made him unable to see line and dots visibly.
Based on the results of the research, the writer came to some suggestions, which are: (1) Te teachers who teach at Citra Mulia Mandiri SLB, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta to be more concerns to their students conditions, both physics and psychological. It will be very useful in teaching their pupils, (2) it would be better if the teacher puts forth Bahasa Indonesia subject before singing, drawing, and dancing. Based on the fact that Bahasa Indonesia subject, especially writing wanted for full concentration, if this subject was given after the other
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
7
subject (at the end of the day), children who have tendency to disfavored this subject tend to be bored and cried,(3) For those who had interest in analyzing and made a further research on developmental stages of autistic students, it would be better if they do it in a long period of time to be able to have a full coverage on their developmental stages.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
8
UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata
Dharma:
Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:
TAHAP PERKEMBANGAN MENULIS PERMULAAN SISWA AUTIS:
KASUS RIFKI LAZUARDI DAN FATHONI DEWANTOKO, SISWA
KELAS II DI SLB CITRA MULIA MSNDIRI, MAGUWOHARJO, DEPOK,
SLEMAN, YOGYAKARTA, TAHUN AJARAN 2007/2008
beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demukian saya
memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk
menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam
bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan
mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis
tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya
selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demukian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.
Pada tanggal 24 Oktober 2008
Yang menyatakan
(Dwi Retnowati)
9
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah di Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Selama
mengadakan persiapan sampai penulisan skripsi ini penulis mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. B. Widharyanto, M.Pd selaku dosen pembimbing, yang memberikan
bimbingan kepada penulis dengan penuh dedikasi dan kesabaran
sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik.
2. Drs. J. Prapta Diharja, S.J, M.Hum. selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
3. Ibu Eny Winarti, S.Pd., selaku Kepala Sekolah SLB Citra Mulia Mandiri
Yogyakarta, yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan
penelitian di sekolah tersebut.
4. Seluruh dosen Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan
Daerah, di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yang dengan sabar
memberikan bimbingan belajar selama penulis di bangku kuliah.
5. Ayah dan Ibu yang selalu memberiku doa sehingga penulisan skripsi ini
dapat berjalan dengan lancar.
10
6. Kakek dan Nenek yang selalu memberikan doa dan semangat pada
penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
7. Suamiku tercinta yang selalu memberikan doa dan cinta sehingga skripsi
ini dapat selesai.
8. Adikku Dian yang telah memberiku semangat agar skripsi ini selesai.
9. Sahabatku Dian yang telah banyak membantuku baik nasehat, motivasi,
dan doanya dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Seluruh teman-teman seperjuangan yang tidak bisa saya sebutkan satu
persatu yang telah memberikan banyak dukungan sehingga skripsi ini
selesai.
Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna
pengembangan dan menyempurnakan penelitian ini akan penulis terima dengan
senang hati. Semoga penelitian ini bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta,
Penulis
11
B. Pembatasan Masalah ……………………………………………...9
C. Rumusan Masalah ………………. …………………………….....9
D. Batasan Istilah…. ………………………………………………10
E. Tujuan Penelitian …………... …………………………………..10
F. Manfaat Penelitian…………………………………………....11
12
B. Kerangka Teoritis………………………………………………..…115
3. Penanganan Anak Autis…………………………………………..25
4. Perkembangan Perilaku Anak Normal……………………………28
5. Perkembangan dan Pemerolehan Bahasa Anak…………………...41
6. Pengajaran Menulia Permulaan………………………………….46
7. Pengertian Belajar Mengajar……………………………………..48
BAB III METODOLOGI PENELITIAN………………………………….48
A. Jenis Penelitian …...…………………...……………………...…...48
B. Subyek Penelitian………...……………………..…………………50
C. Jenis Data………………………………………………………..50
D. Instrumen Penelitian……………………………………………...52
E. Keandalan Instrumen…………………………………………….52
BAB IV DATA DAN ANALISIS DATA………….…………………..59
A. Pelaksanaan Penelitian di Lapangan………………………………59
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
13
Lazuardi………………………………………………………67
Dewantoko……………………………………………………73
Lazuardi dan Fathoni Dewantoko……………………………79
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................79
14
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
15
Gambar 2. Rifki Lazuardi sedang belajar identifikasi huruf vokal………………69
Gambar 3. Rifki Lazuardi sedang identifikasi huruf konsonan…………………69
Gambar 4. Rifki Lazuardi sedang menulis dengan bantuan guru………………70
Gambar 5. Fathoni Dewantoko sedang belajar identifikasi huruf………………74
Gambar 6. Fathoni Dewantoko sedang belajar menulis huruf vokal……………74
Gambar 7. Fathoni Dewantoko sedang belajar menulis huruf konsonan………74
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
16
yang memadai. Di samping kurangnya dukungan dari orang tua dan
kurangnya perhatian dari pemerintah terhadap anak kurang mampu, ternyata
ada hal yang lebih utama, yaitu kesadaran dari anak untuk menuntut ilmu
sebagai suatu kewajiban bukan suatu tekanan atau paksaan. Seharusnya di
zaman yang semakin modern ini, pendidikan harus tetap menjadi nomor satu,
karena kalau tidak, kita akan semakin terbelakang dan tertinggal dari yang
lainnya.
dalam keseluruhan kurun waktu kehidupan individu yang secara terus-
menerus sejak masa prenatal sampai akhir hayat. Pendidikan tidak hanya
berlangsung secara formal melalui sekolah-sekolah tetapi dapat pula
pendidikan non formal yaitu melalui kursus-kursus atau lembaga-lembaga. Di
dalam pendidikan terdapat suatu proses berpikir yang logis sistematis juga
terdapat berbagai macam pengolahan informasi yang telah diperoleh.
Pendidikan dapat pula diartikan sebagai usaha sadar, sengaja, dan
bertanggungjawab yang dilakukan pendidik terhadap anak didik menuju taraf
yang lebih maju (Rumini, 1993:16).
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
17
mental. Mereka tidak bisa bersekolah layaknya anak normal. Dibutuhkan
sekolah atau lembaga khusus untuk menampung anak-anak yang memiliki
kelainan cacat mental. Dalam pengajarannya pun dibutuhkan metode dan
pengajaran khusus yang tidak bisa dilakukan oleh kebanyakan orang.
Pendidikan khusus untuk anak cacat mental dilakukan guna membimbing
mereka agar mereka juga merasakan hak memperoleh pendidikan yang layak.
Di dalam pengajarannya dibutuhkan guru atau pengajar yang telah ahli
dibidangnya.
itulah yang akan menjadi hambatan dalam perkembangannya jika ia tidak
diperhatikan, serta kurangnya kepedulian dari orang tuanya. Saat ini anak
dengan kelaianan hambatan perkembangan perilaku telah mengalami
peningkatan yang cukup drastis. Anak special needs atau anak dengan
kebutuhan khusus termasuk anak yang mengalami hambatan dalam
perkembangan perilakunya. Perilaku anak-anak ini yang antara lain terdiri dari
wicara dan okupasi, tidak berkembang seperti anak yang normal. Padahal
kedua jenis perilaku ini penting untuk melakukan komunikasi dan sosialisasi.
Perilaku adalah semua tindakan atau tingkah laku seorang individu, baik kecil
maupun besar, yang dapat dilihat, didengar maupun dirasakan (oleh indra
perasa dikulit, dan bukan yang dirasakan oleh hati) oleh orang lain atau diri
sendiri ( Handojo, 2003).
18
autisme masa anak-anak (autisma infantil). Autisma berasal dari kata auto
yang berarti sendiri. Penyandang autisma seakan-akan hidup di dunianya
sendiri. Anak mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain.
Mereka cenderung lebih suka asyik terhadap dirinya sendiri. Penyimpangan
ini disebut autisma dan para penderitanya disebut autis (Handojo, 2003).
Autisme merupakan masalah yang paling berat yang dihadapi oleh orang tua
dan itu harus diatasi sejak dini serta membutuhkan penanganan yang khusus.
Di sini perhatian dan dukungan lebih banyak dari banyak pihak dibutuhkan
untuk penanganan anak autis. Tidak hanya dukungan dari keluarga, dukungan
dari masyarakat dan pemerintah pun turut menjadi hal yang utama guna
penanganan anak autis ini.
Anak autis tidak dapat bersekolah seperti layaknya anak normal pada
umumnya. Dibutuhkan sekolah atau lembaga khusus yang mampu
menampung mereka. Pemerintah hendaknya memperhatikan hal tersebut
dengan mendirikan sekolah khusus atau lembaga khusus bagi penyandang
autisme. Sekolah khusus untuk anak autis baru beberapa tahun ini didirikan di
Indonesia, itupun dengan jumlah yang masih sedikit. Padahal jumlah anak
dengan hambatan perkembangan perilaku telah mengalami peningkatan yang
sangat mengejutkan. Salah satu contoh sekolah khusus autisme ádalah
Sekolah Luar Biasa Citra Mulia Mandiri, Maguwoharjo, Depok, Sleman,
Yogyakarta. Sekolah ini baru berdiri selama 4 tahun. Pembelajaran di sekolah
ini berbeda dengan sekolah pada umumnya. Pembelajaran dilakukan dengan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
19
sistem one on one. Dalam artian satu guru mengampu satu siswa dalam
pembelajarannya. Hal ini dikarenakan kondisi anak autis antara anak yang satu
dengan anak yang lain berbeda-beda. Kondisi siswa yang berbeda inilah yang
menyebabkan merekla membutuhkn perhatian dan pengawasan ekstra dari
orang yang telah ahli dibidangnya.
Pembelajaran yang sesuai denmgan kondisi anaka akan mempengaruhi
proses kegiatan belajar mengajar. Proses belajar anak autis ini berbeda dengan
proses pembelajaran pada anak-anak normal pada umumnya. Dibutuhkan
waktu yang lama agar si anak dapat mencapai taraf pembelajaran yang lebih
tinggi. Pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat kognitif siswa.
Penyandang autisme memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa,
baik bahasa secara lisan maupun tertulis. Oleh karena itu siswa autis
membutuhkan metode dan penanganan yang khusus dalam pengajarannya.
Anak yang mengalami penyimpangan perilaku seharusnya lebih mendapatkan
perhatian yang khusus dari banyak pihak, terutama dari orang tuanya. Pada
masa awal perkembangannya seharusnya lebih diperhatikan pada
perkembangan bahasanya agar anak-anak tersebut tidak terlalu jauh
mengalami kekurangan dalam pemerolehan bahasanya. Dalam menanganinya
dibutuhkan ketelatenan dan kesabaran dari pembimbing-pembimbingnya agar
ia tidak terlalu jauh tertinggal dari anak normal pada umumnya. Penguasaan
keterampilan masing-masing anak berbeda antara anak yang satu dengan anak
yang lainnya, tergantung dari tingkat perkembangan usia masing-masing anak.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
20
perkembangan struktur kognitif. Semua anak melewati setiap tahap tersebut
secara hierarki, artinya anak tidak dapat melompati suatu tahap tanpa
melaluinya. Piaget dan kawan-kawan mengidentifikasikan empat tahap
perkembangan kognitif anak-anak yaitu: tahap sensorimotor (0-2 tahun), tahap
pra operasional (2-7 tahun), tahap operasi konkret (6-11 tahun atau 6-12
tahun), dan tahap operasi formal (11-14 tahun).
Anak yang mengalami gangguan perkembangan seringkali mengalami
kesulitan dalam menguasai suatu keterampilan berbahasa, baik lisan maupun
tulis. Dalam menguasai keterampilan berbahasa itu dibutuhkan aspek-aspek
yang mendukung agar pembelajaran akan berhasil. Rofi’udin dan Zuhdi
(1999), mengungkapkan ketiga aspek yang berperan dalam pembelajaran
yaitu, kemampuan kognitif, kemampuan afektif, dan dimensi psikomotorik.
Kesuksesan dalam pembelajaran akan berhasil seiring dengan tahap
perkembangan kemampuan kognitif seorang anak. Untuk menguasai seluruh
keterampilan tersebut tidak mungkin diperoleh secara tiba-tiba, diperlukan
adanya suatu proses yang panjang, hingga pada akhirnya anak dapat
menguasai suatu keterampilan tersebut. Semua tahap ini selalu diawali dengan
proses permulaan hingga pada akhirnya mendapatkan suatu hasil yang
diinginkan dengan ketercapaian tujuan pembelajaran seperti yang sudah
ditentukan.
Sama halnya dengan anak-anak yang normal, pembelajaran bahasa
anak, baik secara lisan maupun tertulis pada anak-anak autis juga memerlukan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
21
suatu tahap yang bertingkat. Tahapan itu dimulai dari yang rendah sampai
pada tingkatan yang tinggi mengikuti proses perkembangan kognitif anak.
Seperti halnya perkembangan membaca, perkembangan anak dalam menulis
juga terjadi secara perlahan-lahan. Dalam tahap ini anak perlu mendapat
bimbingan dalam memahami dan menguasai cara mentransfer pikiran ke
dalam tulisan.
mempelajari kata-kata sederhana adalah begitu banyak kalimat mereka
memiliki ciri ekolali (membeo/mengulang kata) dan mengapa penggunaan
bahasa mereka sering tidak memiliki kreativitas dan daya cipta, dan
membatasi diri pada pengulangan kalimat yang telah diucapkan orang lain
(Peeters, 2004:66). Namun demikian, bahasa harus menjadi bagian dari diri
penyandang autisme. Mereka harus mengenal dan menguasai bahasa agar
dapat berinteraksi sosial.
adanya tahapan-tahapan dalam mengembangkan bahasa. Tahapan-tahapan
perkembangan bahasa selalu dimulai dengan kalimat satu kata atau holoprase
yang telah mencerminkan suatu hubungan konseptual (Mar’at, 2005:58). Dari
segi bahasa tulis, pembelajaran bahasa dimulai dengan pengenalan seluruh
abjad alfabet. Kemudian berlanjut pada penyukuan yang terdiri atas dua huruf
(gabungan huruf vokal dan konsonan). Setelah itu, penggabungan penyukuan
atau pengulangan penyukuan yang dikaitkan dengan pemahaman makna
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
22
benda-benda, kejadian, dan orang lain. Hingga pada akhirnya pengenalan kata
dan tanda baca. Begitu tahap berikutnya telah dirambah, tahap sebelumnya
tetap dimunculkan kembali. Cara semacam ini dilakukan secara terus-menerus
untuk mengetahui daya konsentrasi dan pemahaman penyandang autisme
terhadap bahasa.
kontak mata. Kontak mata sangat perlu agar perhatian penyandang autisme
terfokus dan mereka mengenal lawan bicara. Dari kontak matalah dapat
diketahui kesiapan penyandang autisme untuk belajar bahasa dalam bentuk
rentetan kata-kata bermakna. Setelah kontak mata, tahap selanjutnya adalah
kontak fisik. Lewat sentuhan dan rabaan, penyandang autisme dikenalkan
pada benda dan kata, situasi dan kata, atau tempat dan kata.
Anak-anak mulai menggambar, kemudian menulis “cakar ayam”,
barulah berusaha membentuk bentuk-bentuk huruf. Mula-mula anak belajar
menulis, meskipun ia tidak mengetahui nama-nama huruf. Menuliskan kata-
kata yang dikenalnya dengan baik, misalnya namanya sendiri menolong anak
belajar bahwa huruf yang berbeda melambangkan bunyi-bunyi yang berbeda.
Anak mencoba menggunakan aturan dalam menulis dengan mencocokkan
bunyi dan aturan. Bunyi-bunyi dalam nama huruf dicocokkan dengan bunyi-
bunyi yang didengarnya. Pada mulanya anak hanya memperhatikan huruf
pertama pada setiap kata, huruf-huruf lain dalam setiap kata kurang mendapat
perhatian (Zuchdi dan Budiasih, 1997:21)
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
23
publikasi atau pembahasan. Selanjutnya, menurut Tarigan (1984:3)
mengatakan bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang
dipergnakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap
muka dengan orang lain. Menulis merupakan suatu kegiatan yang produktif
dan ekspresif. Dalam kegiatan menulis maka sang penulis harus trampil
memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Keterampilan
menulis tidak akan datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan
dan praktek yang banyak dan teratur.
Dengan bimbingan guru, anak-anak dapat mengenal sistem tulisan
yang yang berlaku, sampai akhirnya mencapai taraf si anak mampu menulis.
Menurut Temple, dkk; (1998:99) mengidentifikasikan adanya 4 tahap
perkembangan tulisan yang dialami anak, yaitu: tahap prafonemik, fonemik
tahap awal, nama huruf, transisi, dan menguasai. Setiap anak yang sedang
belajar menulis pastilah membutuhkan waktu yang lama sampai anak dapat
menguasai keterampilan tersebut. Dalam menguasai keterampilan menulis
tersebut pastilah anak akan mengalami beberapa tahapan dalam
perkembangannya. Oleh karena itu penelitian tentang tahapan perkembangan
keterampilan menulis permulaan siswa autis dilakukan guna melihat
bagaimana tahapan perkembangan anak autis dalam menguasai suatu
keterampilan berbahasa khususnya bahasa tulis.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
24
menulis permulaan ini dilakukan untuk melihat bagaimanakah tahap
perkembangan siswa autis dalam menguasai suatu keterampilan berbahasa,
khususnya bahasa tulis, serta untuk mengetahui adakah perbedaan tahap
perkembangan menulis permulaan yang dialami antara siswa yang satu dengan
siswa yang lain. Penelitian ini dilakukan terhadap 2 orang siswa autis kelas II,
SLB Citra Mulia Mandiri, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Peneliti
hanya mengambil 2 orang siswa dari 7 orang siswa kelas II. Dibandingkan
dengan siswa kelas II yang lain, kedua siswa, yaitu Rifki Lazuardi dan Fathoni
Dewantoko sudah dapat bersoaialisasi dan berkomunikasi dengan baik terhadap
orang lain. Oleh karena itulah, peneliti memilih subyek penelitian kedua anak
tersebut.
sebagai berikut.
SLB Citra Mulia Mandiri, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta,
khususnya Rifki Lazuardi dan Fathoni Dewantoko?
2. Adakah perbedaan tahap perkembangan menulis permulaan antara Rifki
Lazuardi dan Fathoni Dewantoko?
25
1. Tahap adalah bagian dari suatu perkembangan (pertumbuhan) yang ada
awal dan akhirnya, bagian dari urutan, tingkat, atau jenjang (KBBI).
2. Perkembangan merupakan perubahan menuju tingkat yang lebih sempurna
(KBBI).
orang lain (Tarigan, 1984:3).
4. Anak autis adalah anak yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi
dengan orang lain. Mereka cenderung lebih suka asyik terhadap dirinya
sendiri, penyimpangan ini disebut autisma dan para penderitanya disebut
autis (Handojo, 2003).
E. Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan tahap perkembangan menulis permulaan yang dialami
oleh Rifki Lazuardi dan Fathoni Dewantoko, siswa SLB Citra Mulia
Mandiri, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta.
2. Mendeskripsikan perbedaan tahap perkembangan menulis permulaan yang
dialami Rifki Lazuardi dan Fathoni Dewantoko.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
26
1. Guru dan Calon Guru.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan
yang berguna dalam meningkatkan proses belajar mengajar bahasa
Indonesia di SLB Citra Mulia Mandiri. Dengan adanya penelitian ini
diharapkan agar guru dapat menerapkan pola-pola pembelajaran yang
tepat sesuai dengan tahap-tahap perkembangan siswa didiknya.
2. Siswa.
minat siswa-siswi SLB Citra Mulia Mandiri dalam belajar bahasa
Indonesia. Dengan penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan
motivasi dalam belajar bahasa Indonesia.
3. Penulis.
tahap dalam penguasaan keterampilan menulis pada anak-anak autis.
Berguna bagi rekan-rekan yang berkecimpung di dunia pendidikan pada
umumnya dan guru pada khususnya. Hasil penelitian ini diharapkan
menjadi masukan dan bahan perkembangan maupun perangsang bagi
penelitian-penelitian yang relevan.
27
(1999) berjudul Pelaksanaan Pengajaran Membaca dan Menulis Permulaan
untuk Anak Tunalaras Kelas II di SLB Bagian E Prayuwana Yogyakarta.
Penelitian ini mengkaji mengenai pelaksanaan pengajaran membaca dan
menulis permulaan untuk anak tunalaras kelas II di SLB Bagian E Prayuwana,
Yogyakarta.
dan menulis permulaan kelas II di SLB/E Prayuwana Yogyakarta tergantung
kepada 7 komponen utama yaitu: (1) kondisi siswa, (2) kondisi guru, (3)
tujuan pengajaran, (4) materi pelajaran, (5) strategi belajar mengajar, (6)
metode pengajaran, (7) teknik pengajaran.
Di dalam materi pelajaran dijelaskan bahwa materi pelajaran untuk
membaca dan menulis permulaan anak Tunalaras kelas II di SLB Bagian E,
Prayuwana, Yogyakarta meliputi membaca nyaring, menulis tegak
bersambung, menuliskan kata/kalimat sederhana yang dibacakan guru,
menyusun kata-kata ke dalam kalimat yang bermakna kemudian menuliskan
dan membacakannya, dan penggunaan huruf kapital. Di dalam metode
pengajaran disesuaikan dengan kemampuan awal si anak kemudian
dikembangkan oleh guru yang bersangkutan. Metode yang digunakan untuk
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
28
pengajaran menulis permulaan di kelas II SLB/E, Prayuwana, Yogyakarta
dilaksanakan dengan menggunakan ejaan. Metode ini diterapkan oleh siswa
yang belum dapat menulis. Pengajaran menulis permulaan untuk siswa yang
sudah mampu menulis yaitu berupa menulis kalimat dengan tulisan tegak
bersambung, penggunaan huruf kapital pada awal kalimat, menuliskan kata-
kata sederhana yang dibacakan guru. Di dalam Teknik Pengajaran, teknik
untuk mengajarkan menulis permulaan yaitu dimulai dengan pengenalan
huruf, menulis suku kata dan kalimat dari huruf-huruf yang telah dikenal.
Penelitian Wiyoso (1999) yang berjudul “Pengajaran Bahasa
Indonesia pada Anak Tunagrahita Mampu Didik Kelas VI di SDLB Hifal
Kodya Pekalongan”. Dari hasil penelitian ini mendeskripsikan mengenai
strategi-strategi pengajaran Bahasa Indonesia yang digunakan oleh guru, yaitu:
(1) pengetahuan bahasa, merupakan salah satu materi pokok bahasan yang
diutamakan dalam penyampainnya oleh guru. Materi pelajaran diberikan
dengan alokasi waktu tersendiri, (2) kosakata, merupakan strategi pemberian
kosakata yang digunakan oleh guru dengan cara memberikan kata beserta
artinya, kesamaan kata, atau lawan kata, setelah itu siswa diberi tugas
berkaitan dengan materi tersebut, (3) menyimak, dalam pengajaran menyimak
siswa dilibatkan dalam kegiatan yang berhubungan dengan menyimak.
Strategi yang digunakan guru yaitu strategi menyimak sebuah kalimat,
(4) berbicara, dalam pengajaran berbicara disampaikan kepada siswa setelah
guru menyampaikan pelajaran tata bahasa dan kosakata, (5) membaca, Strategi
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
29
dengan strategi membaca nyaring, setelah itu dilakukan dengan cara guru
meminta siswa untuk membaca materi pelajaran yang dituliskan guru yang
berupa kata, frasa, dan kalimat, (6) menulis, untuk meningkatkan kemampuan
menulis dengan tata bahasa dan pemilihan kosakata yang benar, guru
memberikan latihan menulis kepada siswa. Strategi yang dilakukan adalah
guru pertama kali mengajarkan menulis premulaan dari huruf sampai pada
kalimat, kemudian setelah siswa mampu menulis siswa diberi tugas menyusun
kalimat yang berkaitan dengan penyusunan kata-kata untuk dijadikan kalimat.
Kedua penelitian tersebut relevan dengan dengan penelitian yang
berjudul Tahap Perkembangan Menulis Permulaan Siswa Autis: Kasus Rifki
Lazuardi dan Fathoni Dewantoko siswa kelas II di SLB Citra Mulia Mandiri,
Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta tahun ajaran 2007/2008.
Penelitian tersebut dikatakan relevan dengan penelitian di atas. Penelitian ini
merupakan langkah permulaan penelitian Tahap Perkembangan Keterampilan
Menulis Permulaan Siswa Autis di SLB Citra Mulia Mandiri, Maguwoharjo,
Depok, Sleman, Yogyakarta.
30
Menurut Peeters (2004), Autisme ditempatkan di bawah kategori
gangguan perkembangan pervasif antara retardasi mental dan gangguan
perkembangan spesifik. Di bawah kategori retardasi mental, dapat dikatakan
bahwa perkembangan menjadi lambat. Seseorang yang mengalami retardasi
mental dalam menjalani tahapan perkembangan sama seperti anak normal
pada umumnya, tetapi sangat lambat. Usia mentalnya selalu lebih rendah dari
usia sebenarnya. Di bawah kategori gangguan perkembangan spesifik
dihadapkan kepada perkembangan yang lambat atau tidak normal pada suatu
bidang kemampuan tertentu. Seseorang yang memiliki gangguan ini
mengalami kesulitan yang luar biasa dalam belajar.
Karakteristik yang paling penting dari gangguan perkembangan
pervasif adalah terdapatnya gangguan dominan yang terdiri dari kesulitan
dalam pembelajaran keterampilan kognitif (pengertian), bahasa, motorik
(gerakan), dan hubungan kemasyarakatan. Penderita gangguan perkembangan
pervasif dapat terbelakang secara mental. Kata pervasif menyatakan bahwa
seseorang menderita kerusakan jauh di dalam, meliputi keseluruhan dirinya.
Inilah masalah yang dihadapi para penyandang autisme. Yang membuat hidup
seseorang benar-benar berarti adalah berkomunikasi dengan orang lain,
memahami perilaku mereka, menghadapi benda-benda, situasi, dan orang-
orang dengan cara kreatif.
31
yang terjadi pada anak autis. Anak yang mengalami kombinasi kesulitan
dalam perkembangan komunikasi, pemahaman dan imajinasi sosial, dan jauh
lebih lagi mengalami kesulitan-kesulitan spesifik dalam memahami apa yang
mereka lihat dan dengar.
“penyakit mental” menunjukkan bahwa bentuk perawatan mula-mula bersifat
psikiatrik atau kejiwaan. Ketika perawatan psikiatrik terbukti cukup berhasil
maka kemudian diberikan perhatian kepada beberapa bentuk asuhan dan
didikan.
merupakan prioritas pertama dalam perawatan. Perbedaan antara gangguan
perkembangan pervasif dan penyakit mental adalah menyangkut tujuan akhir
perawatan. Seseorang yang sakit mental, dulu pernah “normal” sehingga
diusahakannya untuk membuatnya normal kembali. Dalam kasus autisme kita
harus diterima bahwa gangguan perkembangannya bersifat permanent (tetap).
Karena itu tujuan perawatannya adalah untuk mengembangkan berbagai
kemungkinan-kemungkinan dalam keterbatasannya. Dengan kata lain
mempersiapkan diri anak untuk menghadapi kehidupan dewasanya sehingga
bisa berintegrasi (menyatu) dalam masyarakat dengan baik.
2. Anak dengan Kebutuhan Khusus ( Special Needs)
Menurut Monks (1989), Autisma berasal dari kata auto yang berarti
sendiri dan dari bahasa Yunani autos yang berarti aku, dalam pengertian non
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
32
ilmiah bahwa semua anak yang bersikap mengarah pada dirinya sendiri karena
sebab apapun disebut autistik. Penyandang autisme seakan-akan merasa hidup
sendiri. Menurut Hitipeuw (1990:17), Autisme diartikan sebagai
penyimpangan yang terjadi pada anak-anak sejak usia dini sekali yang
ditandai dengan adanya gangguan dalam perkembangan bahasa, komunikasi
sosial, intelegensi, dan perilaku-perilaku individu yang mengalami gangguan.
Penyandang autisme mempunyai tingkah laku yang tidak lazim daripada anak-
anak yang normal.
gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi
dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga
perilaku hubungan dengan orang lain terganggu. Sedangkan autistik adalah
terganggu jika berhubungan dengan orang lain. Rapin dalam Dardjowidjojo
(1991:109) memberikan pengertian bahwa autisme merupakan gangguan
perkembangan bahasa yang berat. Gejala utamanya berhubungan dengan
sosialisasi, komunikasi, dan bermain.
abnormal yang terganggu sebelum usia 3 tahun akan menunjukkan
keterlambatan dan fungsi abnormal pada paling sedikit satu dari bidang-
bidang berikut.
sosial.
33
3) Permainan simbolik atau imajinatif.
Adapun ganggguan kualitatif dalam berkomunikasi menurut
Peeters (2004) ditunjukkan oleh paling sedikit salah satu dari keadaan
berikut.
2) Ciri gangguan yang jelas pada kemampuan untuk memulai atau
melanjutkan pembicaraan dengan orang lain meskipun dalam
percakapan sederhana.
(meniru-niru) atau bersifat idiosinktratik (aneh).
4) Kurang beragamnya spontanitas dalam permainan pura-pura atau
meniru orang lain yang sesuai dengan tingkat perkembangannya
(2004:1).
gangguan persepsi sensori.
ciri sebagai berikut: anak mengalami keterlambatan bicara atau sama sekali
belum dapat berbicara sehingga sangat sulit untuk dapat memulai dan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
34
bahasa tubuh, mengulang-ulang kata bahkan anak sering meracau dengan
bahasanya sendiri.
dalam hal hubungan dengan orang-orang sekitar seperti kurang responsive
terhadap isyarat sosial, anak tidak mau menatap mata lawan bicaranya,
apabila dipanggil tidak menengok, anak tidak mau mengekspresikan rasa
senang atau keinginannya bahkan anak akan lebih senang menyendiri tidak
mau bermain dengan teman sebaya.
Anak yang mengalami gangguan perilaku akan menunjukkan ciri-ciri
sebagai berikut: anak cenderung cuek terhadap lingkungan dan terlalu asyik
dengan dunianya sendiri, anak akan bersikap semaunya sendiri, sangat sulit
diatur. Semakin lama perilaku anak menjadi semakin tidak terarah, suka
menyakiti dirinya sendiri, taruntum (mengamuk) dengan sebab yang tidak
jelas.
Anak yang sering tertawa, menangis, marah-marah tanpa sebab yang
jelas merupakan salah satu dari cirri anak yang mengalami gangguan emosi.
Gangguan lain diantaranya adalah ketakutan anak yang kurang jelas dan
tidak wajar, serta emosi anak semakin lama menjadi semakin tidak
terkendali.gejala yang ditunjukkan oleh anak berbeda, antara anak yang satu
dengan anak yang lain. Gangguan yang berhubungan dengan panca indera
disebut ganguan persepsi sensori, adapun cirri anak yang mengalami
gangguan perspsi sensori antara lain sebagai berikut: menjilat-jilat benda,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
35
mencium benda, menutup telinga bila mendengar suara yang keras dengan
nada tertentu, anak snagat tahan terhadap sakit, dan kecenderungan anak
yang tidak suka memakai bahan yang kasar.
b. Penyebab Autisme
autisme.
1) Adanya kelainan pada otaknya. Ada tiga lokasi otak yang ternyata
mengalami kelainan neuro-anatomis, yang disebabkan oleh faktor
keturunan, infeksi virus dan jamur, kekurangan nutrisi dan oksigen
serta akibat polusi udara, air, dan makanan. Gangguan tersebut terjadi
pada fase pembentukan organ-organ yaitu pada usia kehamilan antara
0-4 bulan.
sistem limbiknya. 43% penyandang autisma mempunyai kelainan
pada lobus parietalis otaknya yang menyebabkan anak cuek terhadap
lingkungannya.
3) Kelainan pada otak kecil (cerebellum). Otak kecil bertanggung jawab
atas proses sensoris, daya ingat, berpikir, belajar bahasa, dan proses
atensi (perhatian).
4) Terdapatnya kelainan yang khas di daerah sistim limbic yang disebut
hippocampus dab amygdale. Akibatnya terjadi gangguan fungsi
kontrol terhadap agresi dan emosi. Anak kurang dapat mengendalikan
emosinya, seringkali terlalu agresif atau sangat pasif. Amygdale
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
36
pendengaran, penglihatan, penciuman, perabaan, dan rasa.
Hippocampus bertanggung jawab terhadap fungsi belajar dan daya
ingat.
Itu dikarenakan dengan adanya kelainan kromosom pada anak
autisma.
Perilaku autistik ini digolongkan dalam 2 jenis yaitu, perilaku
yang ekspresif (berlebihan) dan perilaku yang deficit (kekurangan).
Yang termasuk perilaku ekspresif adalah hiperaktif dan tantrum
(mengamuk) yang berupa menjerit, menyepak, menggigit, mencakar,
memukul, dsb. Di sini juga sering terjadi anak menyakiti diri sendiri
(self abuse). Perilaku deficit ditandai dengan gangguan bicara, perilaku
sosial kurang sesuai, deficit sensoris sehingga sering dikira tuli,
bermain tidak benar, dan emosi yang tidak tepat, misalnya tertawa dan
menagnis tanpa sebab. Karakteristik penyandang autisme ini antara
lain: Selektif berlebihan terhadap rangsang, Kurangnya motivasi untuk
menjelajahi lingkungan baru, Respon stimulasi diri sehingga
menganggu integrasi sosial.
37
di atas rata-rata.
ADHD dapat diterjemahkan dengan Gangguan Pemusatan
Perhatian dan Hiperaktivitas atau GPPH. Gejala anak dengan ADHD
sekilas mirip dengan autisma, tetapi memiliki kemampuan komunikasi
dan interaksi sosial jauh lebih baik. Orang sering menyebut anak tipe ini
dengan anak hiperaktif.
Anak yang hiperaktif sering bermain dengan jari tangan, tidak
bisa duduk diam saat anak lain duduk dengan manis. Ia akan berlari dan
memanjat berlebihan. Gejala GPPH terdiri dari tiga gejala umum yaitu:
inatensivitas atau tidak ada perhatian atau tidak menyimak, impulsivitas
atau tidak sabaran, bisa impulsive motorik dan impulsive verbal atau
kognitif, dan hiperaktivitas atau tidak bisa diam.
4) Anak Gifted.
genius, namun memiliki gejala-gejala yang mirip dengan autisma.
Penanganan anak Gifted berbeda dengan penanganan anak autisma.
Pertama-tama perlu dicari dulu dalam bidang apa anak tersebut genius.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
38
Biasanya kegeniusan hanya pada satu bidang tertentu dan tidak pada
semua disiplin ilmu atau keterampilan.
3. Penanganan Anak Autis
Deteksi dini pada anak dengan kebutuhan khusus atau anak dengan
perkembangan hambatan perilaku ini merupakan suatau hal yang teramat
penting. Handojo, (2003) menyebutkan gejala-gejala anak autis yang
harus diwaspadai sejak dini.
a. Anak usia 30 bulan belum bisa bicara untuk komunikasi.
b. Hiperaktif dan “cuek” kepada orang tua dan orang lain.
c. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya.
d. Adanya perilaku aneh yang diulang-ulang.
Terapi sejak dini harus dimulai sebelum anak berusi 5 tahun.
Perkembangan paling pesat dari otak manusia terjadi pada usia sebelum 5
tahun, puncaknya terjadi pada usia 2-3 tahun oleh karena itu terapi setelah
usia 5 tahun oleh karena itu pelaksanaan terapi setelah usia 5 tahun
hasilnya akan berjalan lambat. Pada usia 5-7 tahun perkembangan otak
menjadi lambat menjadi 25% dari usia sebelum 5 tahun. Tetapi meskipun
anak sudah mencapai usia 5 tahun tetap dilakukan terapi. Untuk
penanganan anak autis terdapat beberapa jenis terapi (Handojo: 2003).
a. Terapi perilaku
untuk bisa menyesuaikan diri dalam masyarakat. Bukan hanya gurunya
yang harus menerapkan terapi perilaku pada saat belajar, namun setiap
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
39
anak-anak dengan kebutuhan khusus ini. Terapi perilaku terdiri dari
terapi wicara, terapi okupasi, dan menghilangkan perilaku asosial
(tidak wajar).
Obat-obatan juga dipakai terutama untuk penyandang
autisma, tetapi sifatnya sangat individual dan perlu berhati-hati dosis
dan jenisnya sebaikanya dilakukan oleh dokter spesialis yang
memahami dan mempelajari autisme. Baik obat maupun vitamin
hendaknya diberikan secara sangat berhati-hati karena dapat
menimbulakn efek yang tidak dikehendaki.
c. Sosialisasi ke sekolah regular
Anak dengan kelaiana perilaku, terutama penyandang autisma
yang telah mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik,
dapat dicoba untuk masuk kesekolah ‘normal’ sesuai dengan
umurnya. Perlu diingat bahwa terapi perilakunya jangan ditinggalkan,
karena sangat besar kemungkinan terjadi regresi yaitu perkembangan
perilaku anak mundur kembali.sebaiknya keikutsertaan di sekolah
normal tetap dibarengi dengan penanganan perilaku yang tetap terus
dikembangkan dan dipelihara.
40
Kalau di pendidikan normal seorang guru dapat menangani beberapa
anak sekaligus, maka untuk anak dengan kebutuhan khusus, biasanya
seorang terapis hanya mampu menangani anak pada saat yang sama
(One-On-One).
Setelah membahas mengenai anak-anak autis sebaiknya kita juga harus
mengetahui perkembangan perilaku anak-anak normal. Hal ini sangat penting
untuk mengetahui sejauhmana keterlambatan anak-anak yang mengalami
hambatan perkembangan perilakunya disbanding dengan anak normal pada
ummnya.
Perilaku adalah semua tindakan atau tingkah laku seseorang individu,
baik kecil maupun besar, yang dapat dilihat, didengar dan dirasakan (oleh
indra perasa di kulit, dan bukan dirasakan oleh hati) oleh orang alin atau diri
sendiri. jadi perilaku meliputi bicara atau suara, gerakan-gerakan atau aksi-
aksi baik berupa gerakan yang beraturan atau tidak beraturan, tertuju ataupun
tidak tertuju, sengaja ataupun tidak sengaja, berguna atau tidak berguna
( Handojo, 2003:10)
antecedent, baik eksternal maupun internal. Penyebab eksternal dapat
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
41
diperoleh dari individu lain ataupun lingkungan sekitarnya. Penyebab
internal dapat berasal dari sikap atau attitude, dan emosi yang didasari oleh
watak dan kepribadian seseorang. Setiap perilaku juga memberikan suatu
akibat atau consequence, baik bagi individu itu sendiri, orang lain ataupun
pada lingkungannya.
Tabel 1. Perkembangan perilaku anak normal.
Usia Kemampuan Motorik Kemampuan wicara Lahir Fiksasi pandangan Bereaksi terhadap suara 5 minggu Tersenyum sosial 2 bulan Mengikuti benda di garis tengah 3 bulan Telapak tangan terbuka Guu guu 4 bulan Menyatukan kedua tangan Orientasi terhadap suara a-guu,
aguu, mengoceh 5 bulan Meraih unilateral Mengoceh
dadadada(menggumam) 6 bulan Memeriksa benda Menoleh kepada suara bel fase
II 7 bulan Memeriksa benda 8 bulan Memeriksa benda Mengerti perintah “tidak boleh” 9 bulan Membuka penutup maianan Dada
Menoleh pada suara bel fase III 10 bulan Melemparkan benda 11 bulan Meletakkan kubus dibawah gelas Mengerti perintah ditambah
mimik Mama dan kata pertama selainn mama
12 bulan Melepaskan benda dengan sengaja Mencoret Memasukkan biji ke dalam botol Minum dari gelas sendiri Menggunakan sendok
Kata kedua
13 bulan Kata ketiga 14 bulan Melepaskan biji dengan meniru Mengerti perintah tanpa mimic 15 bulan Meniru membuat garis 4-6 kata
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
42
Melepaskan biji spontan 17 bulan Menunjuk 5 bagian badan yang
disebutkan 7-20 kata 18 bulan Membuat garis secara spontan 21 bulan Kalimat pendek 2 kata 24 bulan Kereta api dengan 4 kubus
Membuka baju sendiri 50 kata Kalimat terdiri dari 2 kata
25-27 bulan Membuat garis datar dan tegak 30 bulan Kereta api dengan cerobong asap
Meniru membuat lingkaran 3 tahun Membuat lingkaran spontan
Membuka kancing 250 kata Kalimat terdiri dari 3 kata
4 tahun Memasang kancing Kalimat terdiri dari 4-5 kata Bercerita Menanyakan arti suatu kata Menghitung sampai 20
5 tahun Mengikatkan tali sepatu 6 tahun Membuat tangga dan dinding
dari beberapa kubus tanpa contoh
Berikut ini Tabel perbedaan antara perilaku bayi autisme dan
bayi normal yang dikemukakan oleh Bambang Hartono dkk; dalam Sultana
M.H. Faradz dkk; (2002:107).
Tabel 2. Perbedaan antara perilaku bayi autismo dan bayi normal.
Bayi Autisme Bayi Normal
Seperti tuli. Gampang bereaksi terhadap bunyi.
Pada awalnya bahasa berkembang lalu mendadak berhenti.
Kamus kata dan kemampuan gramatikalnya bertambah.
Hubungan Sosial Hubungan Sosial
Menangis bila ibunya pergi dan “stres”.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
43
Marah bila lapar dan kecewa.
Sulit diajak kontak. Mengenal wajah yang telah akrab lalu tersenyum.
Kemampuan dalam bereaksi terhadap lingkungan
Kemampuan dalam bereaksi terhadap lingkungan
Selalu terpaku pada satu aktivitas.
Berpindah dari kegiatan satu ke lainnya.
Melakukan gerakan aneh seperti menggoyang-goyang benda berulang-ulang.
Menggunakan anggota tubuhnya secara bermakna, seperti meraih objek atau mendapatkan benda.
Menghisap atau menjilat boneka.
5. Perkembangan dan Pemerolehan Bahasa Anak
a. Konsep Dasar Perkembangan
Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar, mengemukakan 4 istilah yang
terkait dengan konsep perkembangan (development), yakni pertumbuhan
(growth), kematangan (maturation), belajar (learning), dan latihan
(exercise). Secara konseptual keempat istilah ini memiliki persamaan dan
perbedaan. Persamaannya adalah keempatnya ini terjadi perubahan
(changes). Sedangkan perbedaannya adalah perubahan pada pertumbuhan
dan kematangan lebih bersifat alamiah sedangkan perubahan pada belajar
dan latihan lebih bersifat disengaja dan bertujuan. Perubahan-perubahan
yang terjadi baik sebagai pertumbuhan, kematangan, belajar, maupun
latihan itulah yang disebut perkembangan ( development).
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang progresif dan
kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu dari lahir sampai mati.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
44
dialami individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya atau
kematangannya yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan
berkesinambungan, baik menyangkut fisik (jasmaniah) maupun psikis
(rohaniah) (Syamsu ,2004)
yaitu terjadinya perubahan dalam aspek fisik dan psiskis. Aspek fisik
berupa perubahan tinggi, berat, serta organ-organ tubuh yang lainnya.
Terjadi perubahan dalam proporsi aspek fisik yang berupa proporsi tubuh
anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya, dan aspek psikis terjadi
perubahan imajinasi dari yang hanya tertuju pada dirinya sendiri perlahan-
lahan beralih kepada ornag lain atau kelompok besar.
Berbeda dengan pendapat Syamsu, Kartini (1997) dalam bukunya
yang berjudul Psikologi Perkembangan membedakan pengertian antara
pertumbuhan dan perkembangan. Kedua proses ini akan berlangsung secara
interpenden yang tidak bergantung satu sama lain, tidak dapat dipisahkan,
tetapi dapat dibedakan. Pertumbuhan dapat diartikan suatu perubahan secara
fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik, yang
berlangsung secara normal pada diri anak yang sehat, dalam
passage/peredaran waktu atau proses asimilasi dari konstitusi fisik (pesan
tubuh, keadaan jasmaniah) yang hereditas/ warisan dalam bentuk proses
aktif yang kontinu.
45
pertumbuhan. Artinya setiap anak mempunyai kecepatan yang berbeda-beda
dalam setiap tahap pertumbuhan, yang akan mengakibatkan perbedaan dalam
keseluruhan bentuk tubuh dan fungsinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan (Kartini, 1997).
1) Faktor sebelum lahir. Terjadi ketika anak masih dalam kandungan ibu,
contohnya terjadi kekurangan nutrisi pada ibu dan janin, keracunan
sewaktu bayi ada dalam kandungan.
2) Faktor ketika lahir. Kelainan yang terjadi sewaktu bayi dilahirkan.
Contohnya karena ada tekanan dalam dinding rahim ibu sewaktu
dilahirkan sehingga terjadi pendarahan pada bagian kepala bayi
(intracranial haemorhage).
pada kepala bayi.
4) Faktor psikologis. Terjadi karena bayi yang ditinggalkan oleh orang
tuanya atau karena sebab-sebab yang lain sehingga anak dititipkan pada
lembaga-lembaga tertentu, sehingga anak mengalami hambatan dalam
pertumbuhan dan kekurangan kasih sayang.
Tahap-tahap dalam suatu perkembangan (Kartini, 1997).
1) Masa Pra-lahir.
Masa yang dimulai ketika terjadi pertemuan antara sperma dan sel
telur sampai seorang bayi dilahirkan, selama 280 hari. Pada proses
perkembangan masa pra-lahir berlangsung secara cephalocaudal,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
46
deferensiasi dari bagian kepala sampai pada bagian ujung/ekor.
Pertumbuhan janin sebelum dilahirkan terjadi sangat cepat pada
berbagai jaringan tubuh. Kehidupan pada masa pra-lahir mulai
“mempengaruhi” pertumbuhan fetus dan janin dalam rahim sang ibu.
2) Masa jabang bayi ( neonatus ) = 0 – 2 minggu.
Masa yang terjadi sejak seorang bayi dilahirkan sampai berumur 2
minggu. Suatau masa yang disebut masa penyesuaian terhadap kehidupan
barunya, yang sangat berbeda denngan kehidupan ketika dalam rahim.
3) Masa Bayi : 2 minggu – 1 tahun.
Masa yang sering sekali disebut sebagai masa vital karena
perkembangan bayi menjadi pondasi yang kokoh untuk perkembangan
dan pertumbuhan selanjutnya. Pada masa ini bayi sangat bergantung pada
orang lain.
bertambah matangnya perkembangan otak yang mengatur sistem syaraf
yang memungkinkan anak lebih lincah dan aktif bergerak. Selain
perkembangan syaraf juga terjadi perkembangan bahasa dan berfikir,
sebagai alat komunikasi dan mengerti tentang dunianya. Perkembangan
yang lainnya adalah terjadi perkembangan sosial dalam dunia pergaulan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
47
fisik, motorik, mental dan emosi sudah meningkat.
5) Masa 6- 11 tahun
Pada masa ini sering disebut sebagai masa intelektuil atau masa
tenang/ latent, dimana apa yang telah terjadi dan dipupuk pada masa-
masa sebelumnya akan berlangsung terus untuk masa selanjutnya.
6) Masa Anak-Anak =12-14 tahun.
Masa ini sering dibagi menjadi masa anak dini, masa pra-sekolah,
dan masa anak sebelum menjelang remaja. Pada masa ini anak mulai
belajar banyak tentang seluruh aspek kehidupan.
7) Masa Remaja 13/14 - ± 21 tahun.
Merupakan masa peralihan dari dunia anak-anak menuju dewasa,
yang ditandai dengan terjadinya kematangan pada kelenjar-kelenjar
kelamin yaitu menarche (haid) pada anak perempuan dan keluarnya air
mani pada anak laki-laki. Pada masa ini terjadi perubahan fisik secara
hebat yang dialami oleh sang anak.
Perkembangan dalam arti sempit dapat diartikan suatu proses
pematangan fungsi-fungsi yang nonfisik. Dalam suatu proses
perkembangan sering kali terjadi suatu perubahan. Perubahan yang terjadi
bisa secara kuantitatif dan kualitatif. Perubahan yang kualitatif adalah suatu
perubahan yang tidak dapat diukur, sedangkan perubahan kuantitatif adalah
perubahan yang dapat diukur dengan menggunakan alat ukur. Jika
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
48
perkembangan berikutnya dengan cara yang sama disebut suatu
kontinuitas. Disebut kontinuitas karena yang terjadi pada perkembangan
sebelumnya akan diteruskan pada perkembangan selanjutnya. Tetapi pada
saat tertentu akan terjadi diskontinuitas.
Di atas telah dikemukakan bahwa proses perkembangan adalah
terjadinya suatu perubahan. Setiap saat manusia tidak pernah berhenti
dalam berkembang, karena apa yang ada sekarang sebentar lagi mungkin
akan mengalami perubahan. Setiap perkembangan tidak hanya akan
bertambah terus, tetapi kadang pula terjadi suatu penurunan dalam
perkembangan misalnya, pada usia lanjut ketika terjadi penurunan
keseluruhan perkembangan. Perkembangan dapat diartikan sebagai
perubahan-perubahan psikho-fisis sebagai hasil dari proses pematangan
fungsi-fungsi psikhis dan fisis pada diri anak, yang ditunjang oleh faktor
lingkungan dan proses belajar dalam passage waktu tertentu, menuju suatu
kedewasaan. Terdapat juga arti lain yaitu proses transmisi daripada
konstitusi psikho-fisis (resam psikhis dan fisis) yang heriditer, di stimulir
oleh faktor-faktor lingkungan yang mengutungkan, dalam perwujudan
proses aktif-menjadi secara kontinu. Setiap fenomena (gejala)
perkembangan anak merupakan produk dari kerja-sama dan pengaruh
timbal-balik diantara potensialitas herediter dengan faktor-faktor
lingkungan.
49
hereditas yang menentukan perkembangan individu. Lingkungan itu
meliputi fisik, psikis, sosial, dan religius. Sigelman dan Shaffer dalam
Syamsu (2004) mengemukakan bahwa lingkungan perkembangan
merupakan “berbagai peristiwa, situasi atau kondisi di luar organisme yang
diduga mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan individu”.
Lingkungan ini terdiri atas: fisik yaitu meliputi segala sesuatu dari molekul
yang ada di sekitar janin sebelum lahir sampai kepada rancangan arsitektur
suatu rumah, dan sosial yaitu meliputi seluruh manusia yang secara
potensial mempengaruhi dan dipengaruhi oleh perkembangan individu.
Lingkungan perkembangan siswa yang berpengaruh terhadap
perkembangan adalah lingkungan keluarga, sekolah, kelompok sebaya, dan
masyarakat. Lingkungan keluargalah yang memiliki pengaruh sangat besar
terhadap perkembangan siswa. Soelaeman (1978: 4-5) mengemukakan
pendapat para ahli mengenai pengertian keluarga.
a) FJ Brown berpendapat bahwa ditinjau dari sudut pandang
sosiologis, keluarga dapat diartikan dua macam, yaitu: Dalam arti luas,
keluarga meliputi semua pihak yang ada hubungan darah atau keturunan
yang dapat dibandingkan dengan clan atau marga, Dalam arti sempit
keluarga meliputi orangtua dan anak.
b) Maciver menyebutkan lima cirri khas keluarga yang umum terdapat
di mana-mana, yaitu: hubungan perpasangan kedua jenis, perkawinan atau
bentuk ikatan lain yang mengokohkan hubungan tersebut, pengakuan akan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
50
bersama, dan kehidupan rumah tangga.
Dalam perkembangannya menuju kedewasaan, tiap individu pastilah
mengalami fase-fase perkembangan. Fase perkembangan dapat diartikan
sebagai penahapan atau pembabakan rentang perjalanan kehidupan individu
yang diwarnai cirri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laku tertentu. Dalam
hubungannya dengan proses belajar mengajar (pendidikan). Penggolongan
fase-fase perkembangan individu adalah sebagai berikut:
Tahap Perkembangan Usia Masa usia pra sekolah Masa usia Sekolah Dasar Masa usia sekolah menengah Masa usia mahasiswa
0-6 6-12 12-18 18-25
tertentu. Ini berarti bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan
dari pihak orangtuanya. Karakteristik tersebut menyangkut fisik (struktur
tubuh, wrana kulit, dan bentuk rambut) dan psikis atau sifat-sifat mental
(eperti emosi, kecerdasan dan bakat). Hereditas atau keturunan merupakan
aspek individu yang bersifat bawaan dan memiliki potensi untuk
berkembang. Perkembangannya, tergantung pada kualitas hereditas dan
lingkungan yang mempengaruhinya.
mengemukakan pendapat Mc Candless dan Evans yang berpendapat bahwa
masa remaja akhir ditandai oleh keinginan yang kuat untuk tumbuh dan
berkembang secara matang agar diterimaoleh teman sebaya, orang dewasa,
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
51
dan budaya. Pada periode ini, remaja memperoleh kesadaran yang jelas
tentang apa yang diharapkan masyarakat darinya.
Salah satu periode dalam rentang kehidupan individu adalah masa
(fase) remaja. Masa ini merupakan segmen kehidupan yang penting dalam
siklus perkembangan individu, dan merupakan masa transisi yang dapat
diarahkan kepada perkembangan masa dewasa yang sehat (Konopka, dalam
Yusuf, Syamsu: 2004). Apabila remaja gagal dalam mengembangkan rasa
identitasnya, maka remaja akan kehilangan arah. Dampaknya mereka
mungkain akan mengembangkan perilaku menyimpang (denlinquent),
melakukan kriminalitas, atau menutup diri (mengisolasi diri) dari
masyarakat.
Anak-anak belajar berkomunikasi dengan orang lain lewat berbagai
cara. Meskipun anak yang satu dengan anak yang lain berbeda, ada hal-hal
yang umum yang terjadi pada hampir setiap anak. Pengetahuan tentang
hakikat perkembangan bahasa anak, perkembangan bahasa lisan dan tulis yang
terjadi pada mereka, dan perbedaan individual dalam pemerolehan bahasa
sangat penting bagi pelaksanaan pembelajaran bahasa anak, khususnya pada
waktu mereka belajar membaca dan menulis permulaan.
Anak-anak memperoleh komponen-komponen utama bahasa ibu
mereka dalam waktu yang relatif singkat. Ketika mereka mulai bersekolah dan
mempelajari bahasa secara formal, mereka sudah mengetahui cara berbicara
untuk berkomunikasi dengan oreang lain. Mereka sudah mengetahui dan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
52
mengucapkan sejumlah besar kata. Namun perkembangan bahasa tidak
berhenti ketika seorang anak sudah mulai bersekolah atau ketika dia sudah
dewasa. Proses perkembangan terus berlanjut sepanjang hayat.
Bayi mulai memperoleh bahasa ketika berumur kurang dari satu
tahun, sebelum dapat mengucapkan satu kata. Mereka memperhatikan muka
orang dewasa dan menanggapi orang dewasa, meskipun tentu saja belum
menggunakan bahasa dalam arti yang sebenarnya. Mereka juga dapat
membedakan beberapa ucapan orang dewasa ( Eimas, lewat Gleason, 1985:2).
Selanjutnya ketika berumur satu tahun, bayi mengoceh, bermain
dengan bunyi seperti halnya bermain dengan jari-jari tangan dan jari-jari
kakinya. Seperti halnya kemampuan berjalan, kemampuan berbicara anak-
anak seluruh dunia mulai pada umur yang hampir sama dan dengan cara yang
hampir sama pula. Perkembangan bahasa pada periode ini disebut
perkembangan pralinguistik pada masa perkembangan selanjutnya, yakni pada
usia remaja, terjadi perkembangan masa yang paling penting, periode ini
menurut Gleason merupakan umur yang sensitif untuk belajar bahasa. Remaja
menggunakan gaya yang khas dalam berbahasa, sebagai bagian dari
terbentuknya identitas diri ( Zuchdi dan Budiasih:1997).
Menurut Zuchdi dan Budiasih (1997:4), ketika bayi mulai dapat
mengucapkan beberapa kata, perkembangan bahasa mereka juga memiliki
ciri-ciri yang universal. Bentuk ucapan yang digunakan hanya satu kata, kata-
katanya sederhana yaitu yang mudah diucapkan dan memiliki arti konkret.
Kata-kata tersebut adalah nama benda-benda. Kejadian atau orang-orang
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
53
fonologis mulai tampak pada periode umur ini, demikian juga perkembangan
semantik yaitu pengenalan makna oleh anak.
Selanjutnya ketika anak kira-kira berusia dua tahun, setelah
mengetahui kurang lebih lima puluh kata, kebanyakan anak mulai mencapai
tahap kombinasi dua kata. Kata-kata yang diucapkan ketika mencapai tahap
satu kata dikombinasikan dalam ucapan-ucapan pendek tanpa kata petunjuk,
kata depan, atau bentuk-bentuk lain yang seharusnya digunakan. Pada tahap
dua kata ini anak mulai mengenal berbagai makna kata tetapi tidak dapat
menggunakan bentuk bahasa yang menunjukkan jumlah, jenis kelamin, dan
waktu terjadinya peristiwa. Selanjutnya anak-anak mulai dapat membuat
kalimat-kalimat pendek (Zuchdi dan Budiasih, 1997).
Pada waktu mulai masuk taman kanak-kanak, anak-anak telah
memiliki sejumlah besar kosakata. Mereka dapat membuat pertanyaan,
kalimat majemuk, dan berbagai bentuk kalimat. Mereka memahami kosakata
lebih banyak. Mereka dapat bergurau, bertengkar dengan temannya dan
berbicara sopan dengan orang tua dan guru mereka. Selanjutnya selama
periode usia sekolah dasar Zuchdi dan Budiasih juga berpendapat bahwa anak
dihadapkan pada tugas utama mempelajari bahasa tulis. Hal ini hampir tidak
mungkin kalau mereka belum menguasai bahasa lisan. Perkembangan bahasa
anak pada periode usia sekolah dasar ini meningkat dari bahasa lisan ke
bahasa tulis. Kemampuan mereka dalam menggunakan bahasa berkembang
(Zuchdi dan Budiasih, 1997).
54
berbahasa berkembang. Piaget, Bruner, dan Vygotsky mengemukakan teori-
teori perkembangan kognitif yang paling komprehensif. Ketiga pakar tersebut
mengetahui bahwa ada hubungan antara pikiran dan bahasa, tetapi mereka
berbeda dalam hal cara pikiran dan bahasa itu berhubungan.
Vygotsky yakin bahwa bahasa merupakan dasar bagi pembentukan
konsep dan pikiran. Kegiatan berpikir tidak mungkin terjadi tanpa
menggunakan kata-kata untuk menggungkapkan buah pikiran. Ditegaskan
bahwa bahasa diperlukan untuk setiap kegiatan belajar. Vygotsky membagi
perkembangan ke dalam dua jenis, yakni: konsep yang spontan dan konsep
yang tidak spontan. Konsep yang spontan terjadi pada anak dengan sendirinya,
misalnya pada pengalaman yang tiba-tiba, dan merupakan perilaku yang tidak
disadari. Konsep yang tidak spontan, atau disebutnya konsep yang
berhubungan dengan pengetahuan yang diperoleh di sekolah, terjadi dengan
disadari dan jelas diketahui lakunya. Kedua konsep ini menurut Vygotsky
saling berhubungan dan pengaruh mempengaruhi (Gunarsa, 44:1981)
Istilah kognitif mulai banyak dikemukakan ketika teori-teori J. Piaget
banyak ditulis lagi, dibicarakan pada kira-kira permulaan tahun 60-an.
Pengertian kognisi sendiri sebenarnya meliputi aspek-aspek struktur intelek
yang dipergunakan untuk mengetahui sesuatu. Piaget sendiri mengatakan
bahwa perkembangan kognitif bukan hanya hasil kematangan organisme,
bukan pula pengaruh lingkungan saja, melainkan interaksi antara keduanya.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
55
lingkungannya.
Piaget dalam Zuchdi dan Budiasih (1997) mengungkapkan bahwa ada
penahapan dalam perkembangan ini yang dicapai oleh anak pada waktu yang
tidak sama, tetapi urutannya selalu tetap, tidak bervariasi. Piaget yakin bahwa
perkembangan kognitif anak mendahului perkembangan bahasanya. Piaget,
ilmuwan yang mendalami perkembangan kognitif individu menawarkan empat
fase perkembangan kognitif yang sangat aplikatif bagi suatu proses
pendidikan. Piaget mengganggap hal belajar sebagai suatu proses yang aktif
dan harus disesuaikan dengan tahap-tahap perkembangan anak. Tahap-tahap
perkembangannya yaitu periode sensori motor, periode pra-operasional,
periode konkret operasional, dan periode formal operasional. Kebanyakan
pembelajaran bahasa terjadi pada akhir periode sensorimotor dan selama fase
pra-operasional. Pada periode ini anak memperoleh bahasa dengan cepat.
Perkembangan fase-fase kebahasaan menurut Piaget dapat dilihat pada
Tabel 3 berikut:
Tahap/ Masa Umur Kekhususan I/ sensori-motor 0-2,0 th Perkembangan skema
melalui refleks-refleks untuk mengetahui dunianya. Mencapai kemampuan dalam mempersepsikan ketetapan dalam obyek.
II/ Pra-operasional 2,0-7,0 th Penggunaan symbol dan penyusunan tanggapan internal, misalnya dalam permainan bahasa dan peniruan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
56
IV/ Formal-operasional 11,0-dewasa Mencapai kemampuan untuk berpikir sistematik terhadap ha-hal yang abstrak dan hipotesis.
Bruner dalam Zuchdi dan Budiasih (1997) seperti halnya Piaget yakin
bahwa anak-anak mengalami perkembangan kognitif menurut fase-fase
tertentu. Bruner mengidentifikasi adanya tiga fase perkembangan.
a. Pertama disebut periode enaktif, dari lahir sampai umur satu tahun, yaitu
periode melakukan tindakan dan pekerjaan.
b. Kedua adalah periode ekonik, saat berkembangnya khayalan, yang pada
umumnya terjadi pada satu sampai empat tahun.
c. Ketiga disebut periode simbolik. Periode ini dimulai pada waktu anak
berumur empat tahun dan berlangsung sepanjang kehidupan. Anak belajar
menggunakan simbol, khususnya bahasa.
6) PENGAJARAN MENULIS PERMULAAN
Menulis berarti “(a) membuat huruf (angka dsb) dengan pena, pensil,
kapur, dsb), (2) melahirkan pikiran atau perasaan” ( Depdikbud, 1995:1079).
Pendapat lain Lado (1964) dalam Ahmadi (1984:17) menyatakan bahwa
menulis berarti “meletakkan atau mengatur simbol-simbol grafis yang
menyatakan pemahaman suatu bahasa sedemikian rupa sehingga orang lain
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
57
satuan ekspresi bahasa. Tarigan berpendapat bahwa menulis adalah
menurunkan/ melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan
suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat
membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa
dan gambaran grafik itu (Tarigan, 1984:21). Dari beberapa pengertian di atas
dapat disimpulkan bahwa menulis adalah melukiskan lambang-lambang atau
simbol grafis yang dapat dipahami oleh orang lain.
Menulis dapat dipandang sebagai rangkaian aktivitas yang sifatnya
fleksibel, karena perkembangan menulis anak terjadi secara perlahan-lahan.
Dalam tahap ini anak perlu mendapat bimbingan dalam memahami dan
menguasai cara mentransfer pikiran ke dalam tulisan. Rangkaian aktivitas
yang dimaksud meliputi : pramenulis, penulisan draf, revisi, penyuntingan,
dan publikasi atau pembahasan. ( Rofi’uddin dan Zuchdi, 1999:76).
Yang termasuk kategori pramenulis adalah melemaskan lengan
dengan menulis di udara, memegang pensil dengan benar, melemaskan jari
dengan mewarnai, menjiplak, menggambar, melatih dasar menulis (garis
tegak, miring, lurus, lengkung). Pengajaran menulis (permulaan) difokuskan
pada penulisan huruf, penulisan kata, penggunaan kalimat sederhana, dan
tanda baca.
adanya 4 tahap perkembangan tulisan yang dialami anak, yaitu: Prafonemik,
fonemik tahap awal, nama huruf, transisi, dan menguasai. Dalam tahap
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
58
prafonemik anak sudah mengenali bentuk dan ukuran huruf, tetapi ia belum
dapat menggabungkan huruf untuk menuliskan kata. Dia belum dapat
menguasai prinsip-prinsip fonetik, yakni huruf mewakili bunyi-bunyi yang
membentuk kata. Bimbingan yang perlu diberikan pada anak yag berada pada
taraf ini dapat berupa: bacakan dengan keras kata-kata yang dekat dengan
dunia anak, berikan contoh penulisan huruf, dan jelaskan bentuk serta
ukurannya.
prinsip fonetik sangat terbatas. Akibat dari terbatasnya keterampilan ini, anak
seringkali menuliskan kata dengan satu atau dua huruf saja.
Dalam tahap nama-huruf (menguasai huruf) anak mulai dapat
menerapkan prinsip fonetik. Dia sudah dapat menggunakan huruf-huruf untuk
mewakili bunyi yang membentuk satu kata. Tulisan yang dihasilkan seringkali
belum dapat dibaca, termasuk oleh anak itu sendiri. bimbingan yang dapat
diberikan pada anak yang berada dalam tahap nama-huruf adalah: latihan
penulisan kata/kelompok kata serta cara mengucapkannnya.
Dalam tahap transisi, penguasaan anak terhadap sistem tatatulis
semakin lengkap. Meskipun belum konsisten, dia sudah dapat menggunakan
ejaan dan tanda baca dalam menulis, khususnya pemberian spasi antarkata.
Bimbingan untuk anak yang berada pada taraf transisi dapat berupa:
memperkenalkan aturan tata tulis, cara mengucapkan kata, cara menulis, dan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
59
maknanya dalam konteks. Dan tahap terakhir adalah anak dapat menerapkan
dengan baik semua sistem tatatulis.
Menurut Zuchdi dan Budiasih (1997) Kemampuan menulis merupakan
salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang sifatnya produktif, artinya
kemampuan menulis ini merupakan kemampuan menghasilkan dalam hal
menghasilkan tulisan. Menulis merupakan kegiatan yang memerlukan
kemampuan yang bersifat kompleks. Kemampuan yang diperlukan antara lain
kemampuan berpikir secara teratur dan logis, kemampuan mengungkapkan
pikiran atau gagasan secara jelas, dengan menggunakan bahasa yang efektif,
dan kemampuan menerapkan kaidah tulis menulis dengan baik.
Kemampuan-kemampuan yang diperlukan itu dapat diperoleh melalui
proses yang panjang. Sebelum sampai pada tingkat mampu menulis, siswa
harus mulai dari tingkat awal, tingkat permulaan, mulai dari pengenalan
lambang-lambang bunyi. Pengetahuan dan kemampuan yang diperolah pada
tingkat permulan pembelajaran menulis permulaan itu, akan menjadi dasar
peningkatan dan pengembangan kemampuan siswa selanjutnya ( Zuchdi dan
Budiasih:1997).
dari tidak terampil menjadi terampil menulis dalam tahap permulaan, dalam
arti siswa mampu mengenal huruf dan terampil mengubah bunyi menjadi
huruf serta mampu mempraktekkan pengetahuan dan keterampilan tersebut
dalam menulis lanjut. Keterampilan menulis diajarkan di SD sejak kelas I
sampai kelas VI. Kemampuan yang diajarkan di kelas I dan kelas II
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
60
merupakan kemampuan tahap awal atau tahap permulaan. Oleh sebab itu,
pembelajaran menulis di kelas I dan kelas II disebut pembelajaran menulis
permulaan, sedangkan di kelas II, IV, V, dan VI disebut pembelajaran menulis
lanjut ( Zuchdi dan Budiasih, 1997:62).
Pada KTSP untuk satuan pendidikan dasar SD/MI Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia, untuk kelas I dan II mata pelajaran menulis masih berada
pada taraf permulaan, sedangkan untuk kelas III sampai kelas VI berada pada
taraf menulis lanjut. Demikian juga di Sekolah-sekolah Luar Biasa yang
tingkatannya setara dengan jenjang pendidikan di SD yaitu SDSLB/B.untuk
mata pelajaran menulis juga dibagi dalam dua tahap yaitu keterampilan
menulis permulaan dan keterampilan menulis lanjutan.
Dalam KTSP untuk SD/MI disebutkan bahwa yang termasuk kategori
menulis permulaan diantaranya adalah: menjiplak, menebalkan, mencontoh,
melengkapi, dan menyalin huruf, kata, gambar, dan kalimat sederhana.
Pengajaran menulis permulaan difokuskan pada penulisan bentuk huruf,
penulisan kata, dan penggunaan kalimat sederhana.
Dalam kurikulum untuk SDLB/B juga disebutkan bahwa untuk kelas I
dan II mata pelajaran menulis berada pada taraf menulis permulaan yang
meliputi: menjiplak, mencontoh, dan menyalin tulisan, kata, gambar, atau
kalimat sederhana.
Supriyadi dalam Zuchdi dan Budiasih (1997: 65), mengemukakan alasan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
61
mengapa metode SAS ini dipandang baik ialah:1. metode ini menganut prinsip
ilmu bahasa umum, bahwa bentuk bahasa yang terkecil ialah kalimat, 2.
metode ini memperhitungkan pengalaman bahasa anak, dan 3. metode ini
menganut prinsip menemukan sendiri.
penerapannya guru melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Guru menuliskan sebuah kalimat sederhana
2. Kalimat tersebut diuraikan/dipisah-pisah ke dalam kata-kata.
3. Kata-kata dalam kalimat itu diuraikan lagi atas suku-sukunya.
4. Suku-suku itu diuraikan lagi atas huruf-hurufnya.
5. Setelah guru melakukan penjelasan lebih lanjut, huruf-huruf itu
dirangkaikan lagi menjadi suku kata.
6. Setelah semua siswa selasai, guru merangkaikan suku-suku menjadi kata.
7. Kata-kata tersebut dirangkaikan lagi menjadi kalimat esperti semula.
7) Pengertian Belajar Mengajar
Belajar dan mengajar merupakan dua konsep yang tidak bisa
dipisahkan satu sama lain. Belajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan
seseorang sebagai subyek yang menerima pelajaran (sasaran didik), sedangkan
mengajar menunjuk pada apa yang harus dilakukan oleh guru sebagai
pengajar. Dalam pengertian yang umum atau populer, belajar adalah
mengumpulkan sejumlah pengetahuan.
62
mengingat. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat
ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya,
pemahamnannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannnya, kecakapan
dan kemampuannnya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek
yang ada pada individu. Imron (1999) mendefinisikan bahwa belajar sebagai
suatu perubahan dalam diri seseorang yang relatif menetap sebagai hasil dari
sebuah pengalaman.
mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses, yakni proses mengatur,
mengorganisasi lingkungan yang ada disekitar siswa sehingga dapat
menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Jadi mengajar
adalah suatu proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada siswa dalam
melakukan proses belajar.
63
diperoleh dari lapangan berupa kata-kata, gambar, dan bukan berupa angka-
angka. Data selama penelitian berlangsung kemudian disajikan ke dalam
bentuk kata-kata tertulis. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha
untuk membuat deskripsi tentang fenomena yang diselidiki dengan cara
mengumpulkan data-data kualitatif atau karakteristik fenomena tersebut secara
faktual dan cermat (Hadjar, 1996:274).
B. Subjek penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian studi kasus. Studi kasus
adalah suatu penyelidikan tentang seorang individu atau sekelompok kecil
individu seperti sekolah, keluarga, dan perkumpulan anak remaja secara
mendalam. Dalam studi kasus, peneliti berusaha menyelidiki seorang individu
atau suatu unit sosial secara mendalam. Peneliti mencoba menemukan semua
variabel penting dalam sejarah atau perkembangan penting dalam subjek
tersebut. Peneliti tidak hanya mengumpulkan data tentang keadaan subjek
pada saat ini saja, tetapi juga pengalaman subjek pada masa lalu,
lingkungannya, dan bagaimana semua faktor ini berhubungan satu sama lain
(Furchan, 1982:416).
64
Penelitian ini dilakukan terhadap 2 orang anak autis kelas II di SLB Citra
Mulia Mandiri, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta tahun ajaran 2007-
2008. SLB Citra Mulia Mandiri menangani 29 anak autis dengan tingkat dan
kondisi yang berbeda-beda. Dari 29 siswa yang terdaftar, hanya ada 16 siswa
yang masih aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Peneliti hanya mengambil
2 orang siswa dari 7 orang siswa kelas II sebagai subyek penelitian. Dua orang
siswa ini dipilih karena kedua anak tersebut, yaitu Rifki Lazuardi dan Fathoni
Dewantoko sudah dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik
dibandingkan dengan siswa kelas II yang lainnya. Peneliti memilih subjek
kelas II karena materi pelajaran untuk menulis permulaan di SLB Citra Mulia
Mandiri diajarkan di kelas II. Kedua anak autis tersebut memiliki ciri-ciri
khusus sebagai berikut.
1. M. Rifki Lazuardi, umur 9 tahun, termasuk jenis autis Infantil, yaitu autis
yang terjadi pada masa kanak-kanak.
Adapun ciri yang ditunjukkan adalah:
a Anak kurang bisa berkomunikasi dengan orang lain,
b Sering menangis tanpa sebab yang jelas,
c Anak sulit memperhatikan orang lain, misalnya tidak menghiraukan
perintah.
2. Fathoni Dewantoko, umur 9 tahun, termasuk ke dalam jenis spectrum
autisma, Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktif (GPPH).
Adapun ciri yang ditunjukkan adalah:
a. Informasi secara visual tidak dapat diserap secara maksimal oleh anak.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
65
misal : marah, senang, atau takut,
c. Kemampuan anak di bawah rata-rata, dengan gejala perilaku antara
lain merusak barang, mudah marah, suka membangkang, takut hal
baru, sulit bicara, dan keras kepala,
d. Anak sulit memahami instruksi yang diberikan,
e. Konsentrasi sangat mudah beralih dan sulit ditarik kembali.
C. Jenis Data
Data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data
primer yaitu data yang diperoleh langsung dari subjek penelitian selama
penelitian ini berlangsung. Data primer yang akan dicari adalah melalui tes
menulis dan pengamatan (observasi). Data sekunder adalah data yang
diperoleh dari pihak lain (tidak langsung dari obyek yang diteliti). Data
sekundernya berupa catatan mengenai perkembangan siswa selama
mengikuti proses pembelajaran dan wawancara terhadap 2 orang guru yang
mengampu masing-masing anak.
D. Instrumen Penelitian
fasilitas yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data agar pekerjaannya
lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan
sistematis sehingga lebih mudah diolah.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
66
1. Tes Menulis
Soal tes menulis berupa soal- soal tulis yang berbentuk soal uraian
(esai) yang disusun berdasarkan tahapan keterampilan menulis
permulaan yang dialami anak. Adapun soal tes sebagai berikut.
Soal untuk tes pra menulis
a. Buatlah garis vertikal, horizontal,dan garis lengkung!
Soal tes menulis permulaan
b. Tebalkanlah huruf-huruf vokal berikut: a, i, u, e, o!
c. Salinlah huruf-huruf vokal berikut: a, i, u, e, o!
d. salinlah huruf-huruf konsonan berikut: b, c, d, f, g, k, m, n, p!
e. Salinlah kata-kata berikut: bola, apel, ikan, meja, kuda.
f. Tulislah huruf-huruf vokal yang dibacakan guru!
g. Tulislah huruf-huruf konsonan yang dibacakan guru!
h. Lengkapilah kata berikut dengan huruf yang sesuai: b…la, …pel,
…kan, k…da !
2. Lembar wawancara
pewawancara sebelum mengadakan wawancara menuliskan garis besar
pertanyaan yang berkaitan dengan proses pembelajaran menulis
permulaan yang dialami siswa autis tersebut, selanjutnya pertanyaan
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
67
besar daftar pertanyaan untuk wawancara adalah sebagai berikut.
a. Sudah berapa lama ibu mengajar di SLB ini?
b. Bagaimana pembelajaran yang diterapkan di SLB Citra Mulia
Mandiri ini?
d. Untuk kegiatan menulis bagaimana tahap pembelajaran yang ibu
ajarkan kepada anak?
e. Tahap manakah yang ibu rasa paling sulit dan paling lama dalam
pengajarannya?
pengamatan dan lembar wawancara. Instrumen tersebut akan diuji dengan
menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan
keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu di luar data itu untuk
keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu
(Moleong: 195). Teknik triangulasi yang digunakan ialah pemeriksaan
melalui sumber lainnya, yaitu melalui: (1) membandingkan data hasil
pengamatan dengan data hasil wawancara, (2) membandingkan hasil
wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
68
berikut .
1. Data mengenai tahap- tahap perkembangan menulis permulaan siswa autis
dikumpulkan melalui :
a. Tes
mendapatkan jawaban-jawaban yang diharapkan baik secara tertulis
atau lisan atau perbuatan. Dalam penelitian ini tes yang akan digunakan
adalah tes menulis. Tes ini digunakan untuk mengukur penguasaan atau
kemampuan menulis siswa sebagai hasil dari suatu proses belajar.
b. Portofolio
yang bersangkutan, yang menangani kedua anak tersebut. Portofolio
berisi laporan kegiatan siswa dan perkembangan anak selama mengikuti
proses belajar mengajar.
kualitatif, yaitu mengenai keaktifan siswa, keseriusan dan pemahaman
siswa pada proses kegiatan belajar mengajar dan kemampuan kognitif.
Pengamatan akan dilakukan pada setiap pertemuan. Mengingat adanya
kesulitan dalam mengamati anak autis, peneliti dalam mengamati akan
dibantu oleh guru yang mengampu kedua anak autis tersebut.
PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJIPLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
69
dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara yang mengajukan
pertanyaan dan yang diwawancarai sebagai pemberi jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan tersebut ( Moleong, 2001: 135).
Dalam penelitian ini, wawancara akan diadakan dengan cara
bebas terpimpin artinya pewawancara sebelum mengadakan
wawancara menuliskan garis besar pertanyaan yang berkaitan dengan
proses pembelajaran menulis permulaan yang dialami siswa