perhimpunan dokter spesialis penyakit dalam...

76
halo NTERNIS PENERUS TONGKAT ESTAFET PB PAPDI & KIPD PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM INDONESIA Edisi XXIX, September 2018

Upload: hadiep

Post on 03-Mar-2019

262 views

Category:

Documents


4 download

TRANSCRIPT

Page 1: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

halo NTERNIS

PENERUS TONGKAT ESTAFETPB PAPDI & KIPD

PERHIMPUNANDOKTER SPESIALISPENYAKIT DALAM

INDONESIA

Edisi XXIX, September 2018

Page 2: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

Selamat dan SuksesATAS PELANTIKAN

PENGURUS BESAR PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM INDONESIA

(PB PAPDI)&

BADAN PENGURUS KOLEGIUM ILMU PENYAKIT DALAM

(BP KIPD)

PERIODE 2018-2021JAKARTA, 1 SEPTEMBER 2018

Page 3: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SALAM REDAKSI

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 3

haloINTERNIS

PERHIMPUNANDOKTER SPESIALISPENYAKIT DALAM

INDONESIA

SUSUNAN REDAKSI

Penanggung Jawab:dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV,

FINASIM, FACP

Pemimpin Redaksi:dr. Nadia A. Mulansari, SpPD, K-HOM,

FINASIM

Bidang Materi dan Editing:dr. Wismandari, SpPD, K-EMD, FINASIMdr. Arif Mansjoer, SpPD, K-KV, FINASIM,

KIC, MEpiddr. Elizabeth Merry Wintery, SpPD, FINASIM

Tim Pendukung:Faizah Fauzan El.M, SPi, MSi, Ari Utari, S. Kom,

M. Nawawi, SE, M. Giavani Budianto

Koresponden PAPDI:Cabang Jakarta Raya, Cabang Jawa Barat,

Cabang Surabaya, Cabang Yogyakarta, Cabang Sumatera Utara, Cabang Semarang, Cabang Sumatera Barat, Cabang Sulawesi Utara, Cabang Sumatera Selatan, Cabang Makassar, Cabang Bali, Cabang Malang, Cabang Surakarta, Cabang Riau, Cabang Kalimatan Timur dan Kalimantan Utara,

Cabang Kalimantan Barat, Cabang Provinsi Aceh, Cabang Kalimantan Selatan, Cabang Sulawesi Tengah, Cabang Banten, Cabang

Bogor, Cabang Purwokerto, Cabang Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi,

Cabang Kepulauan Riau, Cabang Gorontalo, Cabang Cirebon, Cabang Maluku, Cabang

Tanah Papua, Cabang Maluku Utara, Cabang Nusa Tenggara Barat, Cabang

Depok, Cabang Bengkulu, Cabang Sulawesi Tenggara, Cabang Bangka Belitung, Cabang

Kalimantan Tengah

Sekretariat PB PAPDI:Muhammad Muchtar, Husni Amri,

Oke Fitia, Dilla Fitria, Normalita Sari, Yunus, Supandi, Rahmi Savila

Alamat:

PB PAPDI

Jl. Salemba I No.22-D, Senen, Jakarta Pusat 10430

Telp. +62-21-31928025, 31928026, Fax: +62-21-31928028, 31928027

SMS: 085695785909Email: [email protected]: www.pbpapdi.org

Redaksi menerima masukan dari sejawat, baik beru-pa kritik, saran, kiriman naskah/artikel dan foto-foto kegiatan PAPDI di cabang, yang dapat dikirimkan ke:REDAKSI HALO INTERNISSEKRETARIAT PB PAPDIJl. Salemba I No.22-D, Senen, Jakarta Pusat 10430Telp. +62-21-31928025, 31928026 Fax: +62-21-31928028, 31928027SMS: 085695785909Email: [email protected]: www.pbpapdi.org

Sejawat nan terhormat,

Sidang Organisasi dalam acara KOPAPDI XVII di Solo yang berlangsung pada tanggal 11-12 Juli 2018, telah mempercayakan dr. Sally Aman Nasution, SpPD,

K-KV, FINASIM, FACP sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PB PAPDI) dan dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM sebagai Ketua Umum Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD). Di tangan merekalah kini tongkat estafet kepemimpinan PAPDI dan KIPD berada.

Pekerjaan yang mereka emban tidaklah ringan. Begitu banyak tantangan berkelebat di depan mata yang harus dibereskan demi kelangsungan dan kemajuan organisasi. Redaksi menjadikan peristiwa suksesi kepemimpinan di tubuh PAPDI dan KIPD pada KOPAPDI XVII di Solo bulan Juli 2018 lalu sebagai sajian Fokus Utama

edisi ini. Menggambarkan momen-momen bersejarah saat nama Sally dan Irsan secara aklamasi didaulat menjadi Ketua Umum. Juga membahas rencana yang akan dilakukan oleh PB PAPDI maupun KIPD dalam waktu dekat ini. Terselip pula ucapan dukungan dan harapan bagi keduanya agar dapat menjalankan tugas dengan baik.

Pada Rubrik Sorot, dibahas berbagai persoalan terkini yang dihadapi PAPDI dan KIPD. Di antaranya mengenai masalah pendidikan subspesialis, berbasis universitas dan tambahan kompetensi di bidang kemoterapi bagi Dokter Spesialis Penyakit Dalam.

Rubrik Kabar PAPDI membahas tentang Konvokasi FINASIM yang berlangsung Juli lalu di Solo. Juga ada himbauan dari PB PAPDI kepada anggota untuk bergabung menjadi member organisasi The American College of Physicians (ACP). Banyak manfaat yang akan didapatkan, terutama dalam menambah wawasan dan keilmuan di bidang Penyakit Dalam yang dari waktu ke waktu berkembang pesat.

Seperti biasa, Redaksi menghadirkan Rubrik Jeda sebagai selingan. Topik kali ini tentang mengenal “Ragam Penutup Kepala Khas Nusantara”. Bahwa di setiap daerah Indonesia ada tradisi mengenakan ikat kepala atau penutup kepala, yang ternyata makna dan filosofinya begitu tinggi. Selain itu disajikan pula bahasan “Keindahan dan Keajaiban Danau Toba” yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia.

Akhir kata, selamat membaca!

Pb Papdi Pbpapdi @pbpapdi

Page 4: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

DAFTARISI

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 20184

Hal. 10MOMEN MOMENBERSEJARAH

Hal. 54 Yuk, Menjadi Fellow ACP!

Hal. 34 BERKOALISIMELAWAN TUBERKULOSIS

Hal. 8-27FOKUS UTAMA• Penerus Tongkat Estafet PB PAPDI & KIPD• dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM, Mempertahankan

Kompetensi Penyakit Dalam• Siap Bekerja• Dukungan dan Harapan

Hal. 32-48SOROT• Menyongsong “Universal Health Coverage” 2019, Optimalkan

Pilar Preventif & Promotif• Berkoalisi Melawan Tuberkulosis• Dokter Harus Sadar Hukum!• Pendidikan Subspesialis Berbasis Universitas• Kompetensi Kemoterapi Solusi Untuk Pengobatan Kanker Di

Indonesia

Hal. 49NAMA DAN PERISTIWA• UNLAM Buka Prodi Penyakit Dalam• Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM,

MMB, FACP, Guru Besar Tetap Universitas Indonesia

Page 5: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 5

DAFTARISI

Hal. 14dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP

Hal. 63 INFO CABANG

Hal. 68 JEDA

Hal. 50AGENDA• Agenda 2018

Hal. 51-62 KABAR PAPDI• PAPDI FORUM, Meraih Kesempurnaan Ibadah Puasa bagi

Penderita Diabetes, Maag, dan Lansia• Yuk, Menjadi Fellow ACP!• Konvokasi FINASIM 2018• Galeri KOPAPDI Surakarta 2018

Hal. 63-66INFO CABANG• PALU IMPACT 2018• Padang Internal Medicine Meeting (PIMM) IV• Bogor Update in Internal Medicine 2018• Tim PAPDI Bali Juara Ketiga “PERKI Merah Putih Cup”• Rapat Kerja PAPDI Cabang Makassar

Hal. 67-74JEDA• Menikmati Keajaiban dan Keindahan Danau Toba

RAGAM PENUTUP KEPALA KHAS NUSANTARA

Page 6: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 20186

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXVIII, April 20186

ProfesionalAmanah

PeduliDedikasi

Integritas

SEKRETARIAT PB PAPDIJl. Salemba I No.22-D, Jakarta Pusat 10430

Telp. +62-21-31928025, 31928026, Fax Direct: +62-21-31928028, 31928027

SMS: 085695785909Email: [email protected]: www.pbpapdi.org

TATA NILAI PAPDI

Pb Papdi Pbpapdi @pbpapdi

Page 7: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 7

FOKUS UTAMA

Page 8: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 20188

Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) ke XVII yang berlangsung

pada tanggal 11-15 Juli 2018 di Solo membuahkan keputusan penting. Kongres Nasional PAPDI telah memilih Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) dan Ketua Umum Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD) yang baru, untuk periode kepengurusan 2018-2021.

PENERUS TONGKAT ESTAFET PB PAPDI & KIPD

Tiada kata usai dalam berkarya dan mengabdi. Selesai satu pekerjaan, menanti pekerjaan lain. Kaderisasi menjadi hal mutlak yang harus dimiliki organisasi agar tetap eksis. Maka bila saatnya tiba, seberat apapun, tongkat estafet kepemimpinan harus siap disambut oleh sang penerus yang lebih muda. Pemimpin terdahulu akan senantiasa mendukung dan membina.

Page 9: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

9

Amanah sebagai Ketua Umum PB PAPDI diembankan kepada dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP. Sebelumnya Sally menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PB PAPDI selama dua periode berturut-turut (2012-2015 dan 2015-2018). Adapun jabatan Ketua Umum KIPD dipercayakan kepada dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KIPD pada dua periode sebelumnya, 2012-2015 dan 2015-2018.

Pengurus Besar PAPDI dan Badan Pengurus KIPD merupakan mitra ‘sejiwa’ yang bersama-sama memiliki kepentingan

untuk membesarkan profesi Spesialis Ilmu Penyakit Dalam. KIPD merupakan Badan Otonom yang dibentuk PB PAPDI. Dalam sturuktur organisasi, kedudukan PB PAPDI dan KIPD berada pada posisi yang sejajar.

PB PAPDI merupakan motor penggerak dalam menjalankan visi misi organisasi, dan sekaligus berdiri pada garda terdepan dalam memperjuangkan kepentingan-kepentingan anggota. PAPDI senantiasa

berupaya mempersatukan dan mempererat rasa kebersamaan antar sesama anggota, serta mengayomi cabang-cabang agar secara bersama-sama terus aktif memajukan organisasi.

Pada November 2018 ini PAPDI genap berusia 61 tahun. Selama enam dasawarsa banyak sekali kemajuan yang telah dicapai. Dari sisi anggota, tiap tahun jumlahnya kian bertambah banyak, dan kini hampir mencapai 4.000 internis. Cabang-cabang PAPDI juga semakin berkembang. Dalam setahun terakhir lahir dua cabang baru yakni, PAPDI Cabang Bangka Belitung dan PAPDI Cabang Kalimantan Tengah.

Sedangkan KIPD memiliki area tugas di wilayah pendidikan, yakni memastikan agar semua Program Studi Ilmu Penyakit Dalam di Indonesia bisa menghasilkan internis-internis handal dengan kompetensi yang terukur dan teruji. KIPD berupaya agar semua Program Studi Ilmu Penyakit Dalam yang ada di Indonesia—kini berjumlah 15 program studi—dapat menjalankan standar pendidikan dan standar kompetensi yang ditetapkan KIPD, sehingga menghasilkan lulusan pendidikan Spesialis Ilmu Penyakit Dalam dengan kualitas yang sama. Salah satu cara mewujudkannya adalah mendorong dan membantu semua Prodi Ilmu Penyakit Dalam mendapatkan akreditasi A dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes). Dan hal ini sudah terealisir awal tahun 2018.

Ringkasnya, di satu sisi KIPD bertugas mencetak para internis yang berkualitas. Di sisi lain, PB PAPDI menghimpun dan membina para internis dalam tugas dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, serta memperjuangkan hak-hak mereka dalam menjalankan profesinya.

Zaman terus berubah. Hal-hal baru bermunculan. Peluang, tantangan, dan rintangan yang datang akan semakin bervariasi. Baik PB PAPDI maupun KIPD telah menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada dua sosok penerus yang mumpuni, dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP dan dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM. Besar harapan di tangan keduanya, sinergitas PAPDI dan KIPD semakin kuat, serta kedaulatan Ilmu Penyakit Dalam dari sisi pendidikan maupun organisasi profesi semakin kokoh, maju, dan jaya. Semoga!haloINTERNIS

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS

Page 10: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201810

MOMEN-MOMEN BERSEJARAH

Perwakilan semua PAPDI Cabang menjadi saksi terpilihnya Ketua Umum PB PAPDI dan Ketua Umum KIPD periode 2018-2021. Semua satu suara, satu tekad, satu semangat, demi kejayaan organisasi profesi dan pendidikan Spesialis Penyakit Dalam.

Suasana sidang organisasi KOPAPDI 2018 yang berlangsung di Hotel Alila Solo, tanggal 11-12Juli 2018.

Page 11: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 11

Hari itu Rabu, 11 Juli 2018. Sekitar pukul 14.00 WB, satu persatu anggota Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Indonesia (PB PAPDI) beserta perwakilan seluruh PAPDI Cabang memasuki ballroom Hotel Alila, Solo. Mereka menempati kursi yang sudah disediakan panitia, yang diurutkan berdasarkan nama atau daerah asal masing-masing. Semuanya sengaja datang ke Solo dari wilayah ujung barat sampai ujung timur Indonesia untuk menjadi bagian dari perhelatan akbar Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) ke XVII.

Dekorasi panggung dan alunan musik gending yang mengalun syahdu memberi kesan bahwa Solo adalah kota yang melestarikan budaya. The Spirit of Java terasa mengitari suasana. Terlebih ketika pembawa acara menyampaikan kata pembuka dan ucapan selamat datang dalam dua bahasa, yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa kromo.

Selang tiga puluh menit kemudian, acara Sidang Pleno Organisasi yang merupakan acara pokok KOPAPDI XVII pun dimulai. Hadirin diminta berdiri untuk bersama-sama menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, yang kemudian diikuti dengan menyanyikan lagu Mars PAPDI.

Setelah semua hadirin duduk kembali, Pembawa Acara mempersilahkan Sekretaris Jenderal PB PAPDI periode 2015-2018, dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP tampil di atas panggung untuk membuka kegiatan KOPAPDI XVII dan mengarahkan peserta sidang untuk memilih Presidium (pimpinan sidang), yang terdiri dari tiga orang ketua dan tiga orang sekretaris.

PRESIDIUM

Terpilih tiga orang sebagai Ketua Presidium, yakni dr. Mardianto, SpPD, K-EMD, FINASIM (PAPDI Cabang Sumatera Utara), Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, SpPD, K-EMD, FINASIM, FACP (PAPDI Cabang Surabaya), dan dr. I Komang Adi Sujendra, SpPD, FINASIM (PAPDI Cabang Sulawesi Tengah). Tiga Sekretaris Presidium yang terpilih adalah dr. Eka Ginanjar, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, FICA (PAPDI Cabang Jakarta Raya), Dr. dr. Arina Widya Murni, SpPD, K-Psi, FINASIM (PAPDI Cabang Sumatera Barat), dan dr. Jansye Cynthia Pentury, SpPD (PAPDI Cabang Maluku).

Selanjutnya, Sekjen PB PAPDI menyerahkan Pimpinan Sidang kepada Ketua Presidium, dr. Mardianto, SpPD, K-EMD, FINASIM. Dan, Sidang Organisasi Kongres Nasional PAPDI ke XVII resmi dibuka dengan agenda pertama mengesahkan kuorum sidang serta mengesahkan agenda dan tata tertib sidang.

Agenda berikutnya, penyampaian laporan pertanggungjawaban oleh Ketua Umum PB PAPDI periode 2015-2018, Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP. Di bawah kepemimpinan Idrus, PB PAPDI telah berhasil melakukan agenda-agenda dan program-program organisasi. Salah satu yang berhasil dirintis PB PAPBDI adalah membentuk Badan Khusus Emergency in Internal Medicine (EIMED) yang bertugas mengelola dan mengembangkan pelatihan kegawatdaruratan penyakit dalam untuk para tenaga medis di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Badan Khusus EIMED ini menyiapkan modul dan mengadakan pelatihan bagi para internis dari berbagai daerah di Indonesia, yang akan menjadi tutor untuk menyebarluaskan ilmu EIMED ini kepada para dokter umum di daerah masing-masing.

Page 12: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201812

Di masa periode kepemimpinan Idrus pula, PB PAPDI memetakan kondisi distribusi Dokter Spesalis Penyakit Dalam di seluruh Indonesia yang masih belum merata. Data yang terkumpul menjadi masukan yang berharga dalam mendukung pelaksanaan program Wajib kerja Dokter Spesialis (WKDS) yang dicanangkan pemerintah sejak Januari 2017. Secara keseluruhan Laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum PB PAPDI Periode 2015-2018 diterima dengan baik oleh para anggota.

Sidang Organisasi juga mengagendakan laporan pertanggungjawaban Ketua Umum Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD), yang disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, FINASIM, MEpid. Di bawah komando Siti Setiati, KPID telah melakukan banyak hal untuk peningkatan kualitas dan kemajuan pendidikan Ilmu Penyakit Dalam di Indonesia. Di antaranya berhasil mengantarkan semua dari 15 Program Sudi (Prodi) Ilmu Penyakit Dalam mendapatkan akreditasi A dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes). KIPD juga berhasil membuat Standar Pendidikan dan Kompetensi Spesialis Ilmu Penyakit dan Subspesialis Ilmu Penyakit Dalam. Laporan pertanggungjawaban Ketua KIPD secara keseluruhan pun diterima dengan baik oleh anggota sidang.

Dengan diterimanya laporan pertanggungjawaban ini, maka Kepengurusan PB PAPDI periode 2015-2018 dan Kepengurusan Harian KIPD

periode 2015-2018 dinyatakan demisioner. Sidang berlanjut dengan pembentukan komisi-komisi. Sidang Pleno diskors sementara waktu memberi kesempatan kepada masing-masing komisi mengadakan rapat membahas hal-hal terkait dengan kemajuan dan gerak langkah organisasi PAPDI ke depan.

Berikut pembagian komisi dan materi pembahasannya.

1. Komisi 1, dengan Ketua dr. Atma Gunawan, SpPD, K-GH, FINASIM membahas Bidang Organisasi dan Bidang Advokasi.

2. Komisi 2, dengan Ketua Dr. med. Benny Santosa, SpPD, K-EMD, FINASIM membahas Bidang Humas, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat, Bidang Kemitraan dan Kerja Sama, Bidang Etik dan Medikolegal.

3. Komisi 3, dengan Ketua dr. Djoko Heri Hermanto, SpPD, K-HOM, FINASIM membahas Bidang Pengembangan Profesi serta Bidang Penelitian dan Pengembangan.

4. Komisi 4, dengan Ketua dr. Deddy Nur Wachid Achadiono, SpPD, K-R, FINASIM, M.Kes membahas Bidang Pendididikan Spesialis.

5. Komisi 5, dengan Ketua Dr. dr. Faridin, SpPD, K-R, FINASIM membahas Bidang Pendidikan Subspesialis.

Sidang Komisi berlangsung hingga larut malam dan berlanjut keesokan harinya.

PLENO KEDUA

Sidang Pleno Kedua dimulai pada hari Kamis (12/7) siang. Agenda pertamanya adalah mendengarkan rumusan hasil Rapat Komisi. Agenda kedua, memilih dan menetapkan tuan rumah Konferensi Kerja (KONKER) XV PAPDI tahun 2020 dan tuan rumah Kongres Nasional PAPDI (KOPAPDI) ke XVIII tahun 2021.

Terdapat dua cabang yang mengajukan penawaran sebagai tuan rumah KONKER XV PAPDI Tahun 2020, yakni PAPDI Cabang Sumatera Barat dan PAPDI Cabang Lampung. PAPDI Cabang Sumatera Barat mengundurkan diri. Akhirnya PAPDI Cabang Lampung secara otomatis ditetapkan sebagai tuan rumah KONKER XV PAPDI Tahun 2020.

Adapun yang mengajukan diri menjadi tuan rumah KOPAPDI XVIII Tahun 2021 sebanyak 5 cabang, yaitu PAPDI Cabang Sumatera Barat, PAPDI Cabang Makassar, PAPDI Cabang Semarang, PAPDI Cabang Surabaya, dan PAPDI Cabang Yogyakarta. Setelah melalui presentasi dan voting yang seru, terpilihlah PAPDI Cabang Semarang sebagai tuan rumah KOPAPDI XV Tahun 2021.

AKLAMASI

Sidang Pleno berlangsung hingga malam hari. Dan, sampailah pada acara puncak, yakni pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) Periode 2018-2021 dan Ketua Umum Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD) Periode 2018-2021. Ketua Presidium mempersilahkan peserta sidang mengajukan nama-nama untuk dicalonkan sebagai Ketua Umum PB PAPDI dan Ketua Umum KIPD.

Pemilihan Ketua Umum PB PAPDI tidak membutuhkan waktu yang lama. Peserta sidang hanya mengajukan satu nama, yaitu dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP. Ketika Ketua Presidium menanyakan kesediaan Sally untuk dicalonkan sebagai Ketua Umum PB PAPDI, yang bersangkutan menyatakan bersedia. Maka, secara aklamasi dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP terpilih dan diangkat sebagai Ketua Umum PB PAPDI Periode 2018-2021.

Penetapan ketua terpilih oleh Presidium Sidang.

Page 13: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 13

“Ini bukan tugas yang ringan. Terima kasih kepada yang sudah memberikan kepercayaan ini,” tutur Sally saat memberikan sambutan sepatah dua patah kata sebagai Ketua Umum PB PAPDI yang baru.

Sewaktu pemilihan Ketua Umum KIPD, sempat terjadi sedikit “drama”. Mayoritas peserta sidang mengusulkan dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM. Lalu, ada pula yang mengajukan nama Dr. dr. Imam Subekti, SpPD, K-EMD, FINASIM. Namun ketika Ketua Presidium meminta kesediaan kedua kandidat untuk dicalonkan sebagai Ketua Umum KIPD, Imam yang merupakan Wakil Ketua KIPD terdahulu justru menyatakan mendukung penuh juniornya, Irsan Hasan, menjadi Ketua Umum KIPD untuk periode 2018-2021.

Dengan kata lain, Imam menolak untuk dicalonkan. Dengan begitu, calon Ketua KIPD hanya satu orang. Akhirnya secara aklamasi dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM terpilih dan diangkat menjadi Ketua Umum KIPD Periode 2018-2021.

“Masa yang akan datang sangat berat. Saya meminta dengan sangat lubuk hati yang paling dalam kepada Prof. Siti Setiati, kepada Dr. Imam, seluruh Keluarga KIPD. Mohon saya dibantu. Mudah-mudahan dengan bantuan semuanya, kita bisa menjalankan tugas ini dengan baik,” ungkap Irsan dalam sambutannya usai terpilih sebagai Ketua Umum KIPD.

Isyarat terpilihnya Sally Aman Nasution sebagai Ketua Umum PAPDI yang baru dan Irsan Hasan sebagai Ketua Umum KIPD sudah terbaca sebelumnya. Pada Sidang Pleno Kedua dalam agenda pembacaan hasil rumusan Sidang Komisi yang berlangsung Kamis (12/7) siang, dr. Atma Gunawan, SpPD, K-GH, FINASIM memaparkan hasil rumusan Sidang Komisi 1. Pada saat itu Atma Gunawan menyebutkan usulan Komisi 1 untuk

menjadikan keduanya sebagai kandidat Ketua Umum PB PAPDI dan kandidat Ketua Umum KIPD.

Ditetapkannya Ketua Umum PB PAPDI dan Ketua Umum KIPD Periode 2018-2021 ini merupakan momen penting KOPAPDI XVII yang dinanti-nanti peserta sidang, dan menjadi kabar gembira bagi seluruh Keluarga Besar PAPDI dan KIPD di seluruh Indonesia. Sidang Organisasi KOPAPDI XVII pun berakhir sekitar pukul 22.00 malam. Ketua Presidium menutup sidang, dan rangkaian acara Sidang Organisasi KOPAPDI XVII pun selesai. Di penghujung acara, Ketua Presidium meminta para Ketua Umum terpilih berdiri di depan panggung, untuk menerima ucapan selamat dari semua hadirin.

Perhelatan akbar KOPAPDI XVII telah terselenggara dengan sukses. Kini harapan dan perhatian tertumpu kepada kinerja dua orang Ketua Umum yang baru. Tugas telah menanti. Selamat bekerja dr. Sally, selamat bekerja dr. Irsan. Keluarga Besar PAPDI beserta Keluarga Besar KIPD senantiasa siap mendukung.halo

INTERNIS

“Ini bukan tugas yang ringan. Terima kasih kepada

yang sudah memberikan kepercayaan ini.”

Foto bersama antara Ketua Umum PB PAPDI dan Ketua Umum KIPD yang baru dan yang terdahulu.

Page 14: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201814

dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACPKETUA UMUM PB PAPDI PERIODE 2018-2021

Mengutamakan Kepentingan AnggotaPROFESIONAL DAN SEJAHTERA

Page 15: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 15

Rasanya hampir tidak ada anggota Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) yang tidak mengenal dr. Sally A. Nasution, SpPD,

K-KV, FINASIM, FACP, Ketua Umum PB PAPDI yang terpilih pada KOPAPDI XVII di Kota Solo tanggal 11-16 Juli 2018. Sally adalah sosok yang memiliki dedikasi tinggi. Kesediaannya meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk kemajuan organisasi tidak diragukan lagi.

Sally bergabung dalam organisasi PAPDI melalui PAPDI Cabang Jakarta Raya (PAPDI Jaya). “Saya sudah bergabung dengan PAPDI sejak lulus internis, yaitu sejak saya masih (bergabung) di PAPDI Jaya,” tutur wanita yang menyelesaikan Pendidikan Spesialis Penyakit Dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Tahun 2003. Di sini Sally pernah menjabat sebagai Wakil Ketua PAPDI Jakarta Raya. Di dalam kepengurusan PB PAPDI, Sally penah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal, yang kemudian berlanjut menjadi Sekretaris Jenderal PB PAPDI selama dua periode berturut-turut (2012-2015 dan 2015-2018).

Sally, termasuk salah seorang Pengurus Besar PAPDI yang rajin berkunjung ke daerah-daerah, baik dalam rangka kegiatan roadshow maupun mendampingi Ketua Umum PAPDI melantik Pengurus PAPDI Cabang. Sebagai Sekjen, Sally banyak menjalin komunikasi dengan anggota dan para Pengurus PAPDI Cabang, sehingga paham persoalan-persoalan yang dihadapi internis di lapangan. Informasi-informasi dari daerah menjadi masukan bagi Pengurus Besar PAPDI di pusat dalam memetakan masalah dan mencarikan solusi untuk kepentingan anggota dan organisasi.

Untuk tiga tahun ke depan, Sally menegaskan, di bawah kepemimpinannya PB PAPDI akan concern pada kesejahteraan anggota, dan berupaya mengawal agar para anggota dapat mempertahankan profesionalitasnya di era yang banyak tantangan ini. Apalagi tahun depan, 2019,

mulai berlakunya era Universal Health Coverage.

“Tanggung jawab (sebagai Ketua Umum PB PAPDI) itu besar. Apalagi di masa sekarang ini, tantangannya sangat banyak. Maka tujuan utama kita adalah (mewujudkan) kesejahteraan anggota dan bagaimana agar profesional bisa dipertahankan. Banyak ‘PR’ yang perlu dikerjakan,” ucapnya.

PERSOALAN TEKNIS

Pengalaman sebagai Sekjen PB PAPDI selama dua periode berturut-turut membuat Sally paham banyak hal terkait hal-hal teknis yang secara khusus berdampak kepada kinerja dan kesejahteraan internis sebagai penyedia jasa pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Sally mengungkapkan contoh, persoalan teknis terkait implementasi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Salah satu kendala yang muncul adalah belum dikeluarkannya Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) terkait dengan bidang kerja Spesialis Penyakit Dalam oleh Kementerian Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1438/MENKES/PER/IX/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran menyebutkan PNPK merupakan standar pelayanan kedokteran yang bersifat nasional, yang dibuat oleh organisasi profesi dan disahkan oleh Menteri.

PNPK ini memuat pernyataan yang sistematis, dibuat berdasarkan bukti ilmiah (scientific evidence) untuk membantu dokter dan pembuat keputusan klinis tentang tata laksana penyakit atau kondisi klinis yang spesifik. Mengacu kepada PNPK inilah masing-masing rumah sakit atau pusat pelayanan kesehatan membuat Panduan Praktik Klinis (PPK) yang disertai dengan turunannya antara lain berupa Alur Klinik (Clinical Pathway).

Tanpa ada PNPK maka rumah sakit tidak dapat menyusun PPK dan Clinical Pathway. Sementara dua hal ini sangat penting dalam melakukan kendali mutu dan kendali biaya di rumah sakit, sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang RI No. 44 tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Dalam ini, pihak Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan menggunaan PPK dan Clinical Pathway sebagai acuan untuk melakukan pembayaran kepada pihak rumah sakit.

“Clinical Pathway itu menjadi salah satu pegangan payer (BPJS) untuk membayar. Kalau tidak ada Clinical Pathway-nya bagaimana dia mau bayar. Kaitannya seperti itu. Kemarin banyak missing link-nya, mungkin akses ke kemenkes dan akses ke BPJSnya. Barangkali itu nanti yang akan dioptimalkan lagi supaya masalah ini bisa terselesaikan. Minimal bisa dicari solusinya,” tutur Sally.

Mengawali langkah sebagai Ketua Umum PB PAPDI, Sally mengharapkan dukungan dari segenap anggota PAPDI yang kini jumlahnya hampir 4.000 internis, dan tentunya juga dukungan dari PAPDI Cabang yang sudah berjumlah 38 cabang. Terutama dalam menghadapi tantangan dan rintangan yang dapat menggerus eksistensi kompetensi internis di Indonesia.

“Saya sudah paham sekali, bahwa kepengurusan PB PAPDI ini tidak bisa berjalan tanpa dukungan sejawat dan seluruh PAPDI Cabang. Sekali lagi mohon dukungannya ke depan. Semoga PB PAPDI bisa lebih eksis dan dapat mempertahankan ‘milik’ (kompetensi) kita atau merebut kembali yang terselip-selip di tempat lain,” ujarnya sesaat setelah dipilih dan ditetapkan sebagai Ketua Umum PB PAPDI periode 2018-2021.halo

INTERNIS

Banyak “PR” yang harus dikerjakan. Mewujudkan kesejahteraan anggota dan menjaga profesionalitas dalam bekerja, adalah yang utama.

BIODATA

Nama : dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACPTTL : Medan, 8 Agustus 1967Suami : dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD, K-EMD, FINASIMAnak : Satrio Wicaksono

Pendidikan & Gelar : • Dokter Umum (dr), Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia, tahun 1992

• Dokter Spesialis Penyakit Dalam (SpPD), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tahun 2003

• Subspesialis (K-KV), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tahun 2011

• FellowPAPDI (FINASIM), PB PAPDI, tahun 2009

• FellowFACP (FACP), AmericanCollegeofPhysicians, tahun 2013

Page 16: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201816

Semakin berat dan beragamnya tantangan yang dihadapi profesi dan pendidikan Spesialis Ilmu Penyakit Dalam di Indonesia sekarang ini, mendorong PB PAPDI untuk lebih menguatkan lagi sinergitas antara PAPDI dengan Kolegium Ilmu Penyakit Dalam. Bukan hanya sekadar ‘bekerja sama’ tetapi bergerak memperjuangkan cita-cita yang sama melalui koridor pengabdian masing-masing, demi untuk kepentingan bersama pula.

Ketua Umum PB PAPDI, dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP menuturkannya kepada Redaksi Halo Internis dalam wawancara khusus beberapa waktu lalu. Berikut

petikannya.

Dalam pidato sambutan seusai ditetapkan sebagai Ketua Umum PB PAPDI, Anda menyampaikan akan membawa “gerbong” besar PAPDI bersama-sama dengan Kolegium. Dapatkah dijelaskan lebih lanjut?

Kami dan kolegium sama-sama mendapatkan mandat dari hasil sidang kemarin (KOPAPDI XVII). Nanti dibagi-bagi, yang mana porsi tugas PB PAPDI dan mana porsi tugas Kolegium. Itu menjadi landasan PB PAPDI ke depan. Jadi mungkin sama seperti kepengurusan yang lalu, kami akan membuat rencana strategis (renstra) dulu berdasarkan masalah-masalah yang harus diselesaikan atau harus di hadapi ke depannya.

MENYATUKAN VISI & MISI

PAPDI dan Kolegium memiliki ranah tugas masing-masing. Sinergitas seperti apa yang akan dibentuk oleh PAPDI dan Kolegium?

Ada wacana untuk menyamakan visi misi PAPDI dengan Kolegium. Kemudian nanti membuat renstra sendiri-sendiri. Jadi kalau visi misinya sama, kan tinggal pencapaiannya saja. Ujung-ujungnya untuk kepentingan stakeholdernya juga, yaitu anggota.

Hal yang khusus dilakukan PB PAPDI, terkait apa saja?

Kalau dari PB PAPDI sendiri, yaitu bagaimana supaya anggota bisa tetap profesional menjalankan tugas-tugas dan kesejahteraannya terjamin. Mungkin dua itu yang utama.

Bagaimana bentuk kongkritnya?

Bagaimana mereka tetap profesional, kita mengupayakan

hal-hal yang mendukung (profesionalitas) itu. Salah satunya yang mungkin kami lakukan adalah akan lebih memprioritaskan akses ke pemangku kebijakan. Contohnya, dalam pelaksanaan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) banyak diskusi ke arah sana yang keterkaitannya banyak sekali. Banyak yang mandek karena tidak disupport. Misalnya dari BPJS aturannya begini, atau dari Kemenkes kurang men-support.

Mungkin bisa dijelaskan contoh masalah yang berkaitan dengan JKN ini?

Contoh PNPK (Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran). Itu kan panduan nasional. Dari PNPK dibuat PPK (Panduan Praktik Klinis) dan turunannya clinicalpathway. PPK danclinicalpathwaydi masing-masing tempat (rumah sakit) mungkin berbeda-beda, tergantung dari fasilitasnya, dan kelas rumah sakit. Tetapi panduan kita kan sama. Nah untuk PNPK itu harus di-guidingoleh kemenkes, karena panduan nasional itu biasanya tidak kerjakan oleh satu profesi. Banyak profesi yang terkait membuat panduan bersama-sama. PNPK yang sudah diikuti PAPDI itu ada tujuh. Lima sudah jadi, dua masih dalam proses. Tapi panduannya sendiri tidak pernah kami dapatkan. Padahal sudah jadi, tapi tidak sampai ke kami. Anggota kan harus memiliki itu. Ini kan hal teknis banget.

Bagaimana solusinya?Akses ke pemangku kebijakan, ini yang mungkin bisa kita

lakukan untuk mendapatkan solusinya. haloINTERNIS

Ketua Umum PB PAPDI, dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP

Page 17: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 17

Terpilihnya nama dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM sebagai Ketua Umum Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD) sudah

diduga banyak orang sebelumnya. Maklum, pria kelahiran Padang, 28 Oktober 1963 ini dipandang cukup lama berkecimpung dalam kegiatan-kegiatan KIPD. Irsan telah bergabung dengan KIPD pada tahun 2003. Dan, dalam enam tahun terakhir, Irsan dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) KIPD selama dua periode berturut-turut (2012-2015 dan 2015-2018), mendampingi Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, FINASIM, MEpid yang menjabat Ketua Umum KIPD di masa dua periode tersebut.

Irsan mengungkapkan, Ketua KIPD mengemban tugas yang berat. “Saya ikut KIPD sejak tahun 2003. Saya menyadari beratnya tugas Ketua Kolegium,” ujarnya. Tantangan yang dihadapi tidak sedikit karena bidang Ilmu Penyakit Dalam amat luas, sehingga berpotensi tumpang tindih dengan kompetensi profesi lain, terutama menyangkut pendidikan subspesialis Ilmu Penyakit Dalam.

Karena itu, menurut Irsan, salah satu fokus KIPD ke depan adalah berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan Spesialis Penyakit Dalam, dan mempertahankan kompetensi penyakit dalam agar tidak diambil oleh pihak-pihak lain. Beberapa waktu belakangan ini, di Indonesia muncul spesialisasi baru dalam bidang kedokteran yang sebetulnya baik pendidikan maupun kompetensi yang dihasilkannya berada dalam lingkup ilmu Penyakit Dalam.

“Menurut saya itu merupakan salah satu tugas berat di kolegium. Mempertahankan kompetensi Penyakit Dalam. Jadi, Penyakit Dalam ini ilmunya sangat luas. Dari kepala sampai kaki. Nah, itu memang berpotensi untuk di “ambil” secuil demi secuil. Tentunya kita juga tidak boleh egois, mengatakan kita adalah yang paling jago, padahal ada orang yang lebih jago dari kita. Sebaliknya, kita juga tidak mau digerus pelan-pelan hingga akhirnya (kompetensi itu) hilang dan Penyakit Dalam tidak punya apa-apa. Itulah yang saya katakan berat. Mana yang harus dipertahankan, dan mana yang—bukan dilepaskan—orang lain diizinkan untuk bisa ikut terlibat,” tutur Irsan.

BIDANG BARU

Hal lain yang juga menjadi “PR” besar bagi KIPD adalah menyangkut pendidikan Subspesialis Ilmu Penyakit Dalam. Pembenahan Program Studi (Prodi) Subspesialis Ilmu Penyakit Dalam akan menjadi tugas berat KPID di masa yang akan datang. “Tampaknya tugas besar KIPD kepengurusan periode berikutnya beralih pada pembenahan pendidikan subspesialis. Masih banyak prodi subspesialis belum terstruktur di dalam Fakultas kedokteran dan universitas,” ujar Irsan.

Untuk membenahi pendidikan spesialis maupun subspesialis Penyakit Dalam, Irsan akan mengubah struktur organisasi

dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIMKETUA UMUM KOLEGIUM ILMU PENYAKIT DALAM (KIPD)

Mempertahankan Kompetensi SPESIALIS PENYAKIT DALAMKIPD terus berjuang mempertahankan kompetensi Ilmu Penyakit Dalam dari “tangan-tangan” yang perlahan-lahan menggerusnya. Pekerjaan berat yang harus dilakukan, demi menjaga keberlangsungan kompetensi Ilmu Penyakit Dalam di percaturan medis Indonesia.

Page 18: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201818

Kolegium Ilmu Penyakit Dalam. Dibentuk bidang baru dengan nama “Bidang Penjaminan Mutu” yang langsung di basawah Ketua Umum Kolegium. Bidang ini menangani urusan standarisasi dan akreditasi. Sementara pada struktur organisasi yang lama standarisasi dan akreditasi berada di bawah Bidang Spesialis (Sp) dan Bidang Sub Subspesialis (Sp2).

Dengan begitu, dalam struktur organisasi KIPD yang baru terdapat 4 bidang yang langsung berada di bawah Ketua Umum KIPD. Yakni Bidang Spesialis, Bidang Subspesialis, Bidang Penjaminan Mutu, dan Bidang Sertifikasi.

Masing-masing bidang dalam struktur organisasi KIPD ini mempunyai kegiatan yang besar. Bidang Spesialis melanjutkan kegiatan yang sudah rutin dilakukan. Karena kegiatan besarnya sudah hampir tuntas dikerjakan pada periode sebelumnya, yaitu membuat Standar Pendidikan dan Kompetensi (SPK). Juga, mengubah metode ujian dari ujian pasien menjadi Objective Structured Clinical Examination (OSCE). “Itu semua sudah dilakukan.

Sekarang yang akan kita lakukan adalah memperbaiki dan membuatnya menjadi baik,” jelas Irsan.

Bidang Subspesialis bertugas membuat pendidikan Subspesialis Penyakit Dalam menjadi terstruktur. Untuk bisa terstruktur terlebih dahulu harus disyahkan dulu Standar Pendidikan dan Kompetensinya. Namun hingga saat tulisan ini diturunkan, Standar Pendidikan dan Kompetensi Subspesialis Penyakit Dalam masih belum disyahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia.

“Setelah SPK itu disyahkan kita akan berusaha untuk membuat prodi-prodi yang belum terstruktur menjadi terstruktur. Hingga saat ini yang terstruktur baru 3 dari total 15 prodi yang sudah melaksanakan. Kemudian, kalau sudah punya standar pendidikan dan terstruktur, harus ada akreditasi. Itu masuk ke dalam Bidang Penjaminan Mutu. Bidang ini harus mempersiapkan akreditasi untuk prodi-prodi subspesialis ini. Ini tidak mudah. Lebih berat dibandingkan dengan akreditasi spesialis (Sp1),” jelas Irsan.

Adapun Bidang Sertifikasi berkaitan dengan perpanjangan atau pembuatan sertifikat kompetensi baru. Tugas-tugasnya sudah terlaksana secara rutin. Namun ke depan akan ada perubahan, semua akan dilakukan secara online, seperti dalam mengurus Surat Tanda Registrasi (STR). Untuk menyiapkan sistem registrasi online ini, KIPD akan mengadakan pelatihan untuk admin di tiap cabang.

Irsan menegaskan, pekerjaan besar KIPD tidak bisa diselesaikan oleh satu atau dua orang saja. Ini membutuhkan banyak tenaga, waktu, dan pikiran. Karenanya Irsan mengharapkan dukungan, bantuan, dan kerja sama yang solid dari segenap Keluarga Besar KIPD. “Mudah-mudahan dengan bantuan semuanya, kita bisa melaksanakan tugas ini dengan baik,” ucap Irsan.

Dan yang pasti, ke depan KIPD akan lebih memperkuat jalinan kerja sama dengan PB PAPDI untuk memperkokoh eksistensi bidang Ilmu Penyakit Dalam di Indonesia. “Banyak hal yang harus diperjuangkan oleh Kelogium dan PB PAPDI,” tutur Irsan. Pakar Peneliti Hati ini pun memberikan contoh. “Misalnya yang berkaitan dengan kompetensi-kompetensi. Harusnya timnya adalah tim bersama (Kolegium dan PB PAPDI),” imbuhnya. halo

INTERNIS

Biodata

Nama : dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH FINASIMTTL : Padang, 28 Oktober 1963Istri : Siska DailiAnak : 1) Karina Keneshia 2) Brahmana Ariaputra

Pendidikan & Gelar : • Dokter Umum (dr), Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia, tahun 1988

• Dokter Spesialis Penyakit Dalam (SpPD), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tahun 1999

• Subspesialis (K-GEH), Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tahun 2006

• FellowPAPDI (FINASIM), PB PAPDI, tahun 2009

Dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM memberikan sambutan pertama sebagai Ketua Umum KIPD periode 2018-2021.

Page 19: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 19

Pekerjaan besar akan lebih ringan bila dihadapi dan dikerjakan bersama-sama. Inilah yang mendorong Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD) semakin

menguatkan sinergi dengan Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) dalam menghadapi tantangan-tantangan di era milenial yang semakin banyak dan beragam.

Ketua Umum Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD), dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM mengutarakan kepada Redaksi Halo Internis, langkah-langkah awal yang akan diambil KIPD dalam waktu dekat ini. Terutama dalam menggalang kebersamaan dengan PB PAPDI. Berikut petikannya.

Apa program utama KIPD dalam waktu dekat ini?Seperti periode-periode yang lalu, tentunya saya harus

menyusun rencana strategis (renstra). Saya akan segera menyusun renstra dengan berbagai indikatornya.

Dalam sambutan sebagai Ketua Umum KIPD terpilih pada KOPAPDI XVII di Solo pada bulan Juli lalu, Anda mengatakan KIPD akan berjuang bersama-sama PB PAPDI. Bisakah dijelaskan, apa akan dilakukan bersama-sama dengan PB PAPDI?

Kalau dalam visi misi, sebenarnya sudah satu searah. Hanya mungkin belum betul-betul sinkron. Sekarang sudah mulai kita bicarakan. Misalkan pada hari Kamis (9/8) nanti kami akan rapat bersama terkait dengan program, supaya programnya jadi satu.

Apa contoh programnya seperti apa?

SINKRONISASI KIPD & PB PAPDI

Contoh konkretnya seperti masalah publikasi. PB PAPDI punya publikasi sendiri. Kita (KIPD) juga punya. Tetapi kita tidak punya majalah, punyanya website. Harusnya majalah itu bisa dimanfaatkan oleh Kolegium juga. Hal lain misalnya yang berkaitan dengan kompetensi-kompetensi. Harusnya timnya adalah tim bersama. Jadi sebenarnya lebih untuk menyinkronkan kedua organisasi ini. Karena memang mungkin dulu komunikasinya yang kurang intens.

Bagaimana dengan penempatan personil di kepengurusan, apakah perlu sinkronisasi juga dengan PB PAPDI?

Kalau sekarang untuk penyusunan kepengurusan kita KIPD sudah diskusi dengan dr. Sally. Dari sisi pengurus ada beberapa yang kakinya dua. Misalnya di level tertinggi, di level pimpinan dr. Edy Rizal menjadi Sekjen di tempat saya (KIPD) dan Wakil Ketua di PB PAPDI. Jadi harus sudah sinkron.

Anda sendiri, mengapa tertarik pada bidang Ilmu Penyakit Dalam?

Saya mengambil Spesialis Penyakit Dalam karena pikir bisa menolong lebih banyak orang. Sebetulnya dulu saya sempat tertarik dengan ilmu kebidanan. Tetapi bidang Ilmu Penyakit Dalam lebih luas. Misalnya, orang tua pun bisa saya tolong.

Mengapa pula memilih mendalami hepatologi?Kenapa hepatologi, karena menantang. Banyak hal masih

misteri di hepatologi ini. Masih banyak yang harus digali. Banyak penyakit yang belum teratasi, seperti yang menjadi fokus saya sekarang, kanker hati. Itu angka kematiannya tinggi. Juga ada prosedur dan tindakan-tindakannya. Itu daya tariknya. halo

INTERNIS

Ketua Umum PB PAPDI dan Ketua Umum KIPD bersama Menteri Kesehatan RI dalam rangkaian acara KOPAPDI XVII di Solo 2018.

Page 20: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201820

Sesudah terpilih, Ketua Umum Pengurus Pesar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) dan Ketua Umum Kolegium Ilmu Penyakit

Dalam (KIPD) periode 2018-2021 langsung bekerja membentuk “kabinet” masing-masing.

Terhitung sekitar satu setengah bulan setelah pelaksanaan Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) ke XVII di Solo, “kabinet” baru ini dilantik secara resmi oleh Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, SpOG. Prosesi

pelantikan Pengurus Besar PAPDI dan Badan Pengurus KIPD berlangsung pada tanggal 1 September 2018 di Hotel Gran Melia, Jakarta.

KITA HARUS BERUBAH!

Marsis mengapresiasi pimpinan beserta jajaran Pengurus Besar PAPDI dan Badan Pengurus KIPD yang kini banyak diisi oleh kalangan muda. Dalam pidatonya saat pelantikan Pengurus Besar PAPDI dan Badan Pengurus KIPD periode 2018-2021, Marsis mengatakan bahwa ke depan, dunia kedokteran Indonesia harus berubah mengikuti tuntutan zaman. Dalam hal ini kaum muda akan lebih mudah menerima

SIAP BEKERJAdan melakukan perubahan sehingga tidak tertinggal dibanding kedokteran di negara lain.

“Saya beruntung yang menjadi Ketua PAPDI dan Kolegium Ilmu Penyakit Dalam adalah generasi muda. Karena ke depan kita akan berubah secara cepat dan kita akan masuk ke era digitalisasi. Untuk generasi saya dalam menerima perubahan ini biasanya agak sedikit lamban,” kata Marsis.

Terlebih dengan datangnya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dimana pada tahun 2025 Indonesia akan terbuka untuk mobilitas para dokter dari dalam maupun luar negeri. Pertanyaannya, siapkan

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Prof. Dr. Ilham Oetama Marsis, SpOG bersama Ketua Umum dan Sekjen PB PAPDI serta Ketua Umum dan Sekjen KIPD.

Page 21: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 21

kedokteran Indonesia bersaing dalam era pasar bebas ASEAN dan selanjutnya era global?

“Kita harus menjawab, apakah Indonesia mampu bersaing dalam era MEA. Karena kita harus membuka era ASEAN sebelum masuk ke era global. Tentunya kalau Indonesia tidak mau tertinggal, harus mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Negara yang mampu melakukan perubahan akan survive ke depan. Tentu, saya harapkan Indonesia mampu,” kata Marsis.

Salah satu perubahan yang mendesak untuk dilakukan, menurut Marsis, adalah merubah skema pendidikan kedokteran. Misalkan dengan memperpendek masa studi pendidikan dokter spesialis dan memastikan lulusan yang dihasilkan berkualitas baik. Ini untuk mengejar pencapaian kebutuhan dokter-dokter spesialis di Indonesia, yang bila tidak tersedia akan diisi oleh dokter-dokter dari luar negeri. “Ini PR untuk PAPDI dan Kolegium. Tentunya kita harus berubah ke depan,” ujar Marsis.

Selain itu, Marsis juga mendorong pembenahan dan menguatan pendidikan subspesialis di lingkup Ilmu Penyakit Dalam untuk meningkatkan dan memperkuat kompetensi para internis di Indonesia dalam bersaing dengan dokter asing, termasuk kemampuan dalam mengaplikasikan teknologi canggih di bidang kedokteran.

“Peranan Kolegium Ilmu Penyakit Dalam adalah menyaring masuknya dokter asing yang kita kenal dengan istilah equality. Yang harus masuk haruslah setara. Tidak boleh dibawah kualitas kompetensi Penyakit Dalam Indonesia. Yang lebih tinggi boleh masuk dan yang lebih rendah tidak boleh masuk. Itu konseksuensi yang kita terima ke depan,” imbuhnya.

SEMANGAT BARU

Arahan dari Ketua Umum PB IDI ini mendorong para pengurus yang dilantik untuk bersatu dengan semangat baru. Semua bertekad, siap bekerja dengan saling bergandengan tangan membawa PAPDI dan KIPD semakin maju dan mampu menghadapi segala tantangan yang ada.

Selamat bekerja Pengurus Besar PAPDI dan Badan Pengurus KIPD periode 2018-2021! halo

INTERNIS

Foto 1, 2, 3: Ketua Umum PB IDI menyematkan pin kepada Ketua Umum dan Sekjen PB PAPDI serta Ketua Umum dan Sekjen KIPD.

1

2

3

Page 22: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201822

Foto bersama :Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) Periode 2018-2021

Foto 1, 2, 3, 4: Suasana pelantikan kepengurusan PB PAPDI dan BP KIPD Periode 2018-2021

1 2

3 4

Page 23: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 23

SUSUNAN PENGURUS BESARPERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM INDONESIA (PB PAPDI)

PERIODE 2018- 2021

Dewan Pertimbangan: Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP Prof. dr. Ali Ghanie, SpPD, K-KV, FINASIM Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP Dr. dr. Andi Fachruddin Benyamin, SpPD, K-HOM, FINASIM dr. Pranawa, SpPD, K-GH, FINASIM Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP

Ketua Umum: dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACPWakil Ketua I: dr. Ika Prasetya Wijaya, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, FICAWakil Ketua II: dr. Edy Rizal Wahyudi, SpPD, K-Ger, FINASIM

Sekretaris Jenderal: dr. Eka Ginanjar, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, FICAWakil Sekretaris Jenderal: dr. Adityo Susilo, SpPD, K-PTI, FINASIM

Bendahara: Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, K-AI, FINASIMWakil Bendahara: dr. Rahmah Safitri Meutia, SpPD, FINASIM

Bidang OrganisasiKetua: Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIMAnggota: dr. Muhadi, SpPD, K-KV, FINASIM, MEpid Dr. dr. Arto Yuwono Soeroto, SpPD, K-P, FINASIM, FCCP dr. Arnadi Taslim, SpPD, FINASIM Dr. dr. Soebagijo Adi Soelistijo, SpPD, K-EMD, FINASIM, FACP

Bidang AdvokasiKetua: dr. Prasetyo Widhi Buwono, SpPD, K-HOM, FINASIMAnggota: dr. Juniara Salomo Sidabutar, SpPD dr. Herikurniawan, SpPD dr. Mardianto, SpPD, K-EMD, FINASIM Bidang Kerjasama dan KemitraanKetua: dr. Taolin Agustinus, SpPD, K-GEH, FINASIMAnggota: Dr. med. Benny Santosa, SpPD, K-EMD, FINASIM dr. Juferdy Kurniawan, SpPD, K-GEH, FINASIM dr. R.M. Suryo Anggoro Kusumo Wibowo, SpPD, K-R dr. I Komang Adi Sujendra, SpPD, FINASIM

Bidang Pengembangan Profesi dan PenelitianKetua: Dr. dr. Lugyanti Sukrisman, SpPD, K-HOM, FINASIMAnggota: dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD, K-P, FINASIM, KIC Dr. dr. Andhika Rachman, SpPD, K-HOM, FINASIM Dr. dr. Rudy Hidayat, SpPD, K-R, FINASIM dr. Simon Salim, SpPD, K-KV, FINASIM, MKes, AIFO, FACP, FICA dr. Ni Made Hustrini, SpPD, K-GH

Bidang Humas, Publikasi dan Pengabdian MasyarakatKetua: dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD, K-HOM, FINASIMAnggota: dr. Arif Mansjoer, SpPD, K-KV, FINASIM, KIC, MEpid dr. Wismandari, SpPD, K-EMD, FINASIM dr. Elizabeth Merry Wintery, SpPD, FINASIM

Bidang Etik dan MedikolegalSubbidang Etik: dr. Bambang Subagyo, SpPD, FINASIM, SE, MMSubbidang Medikolegal: Dr. dr. Lucky Aziza Bawazier, SpPD, K-GH, FINASIM, FACP, SH, MH Badan Khusus Emergency in Internal Medicine (EIMED) Ketua: dr. Muhadi, SpPD, K-KV, FINASIM, MEpidSatgas Imunisasi Dewasa Ketua: Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, K-AI, FINASIM, FACPPerwakilan Perhimpunan Seminat Ketua: dr. Aida Lydia, PhD, SpPD, K-GH, FINASIM

Page 24: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201824

Foto bersama :Badan Pengurus Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (BP KIPD) Periode 2018-2021

Foto 1, 2, 3, 4: Suasana rapat perdana BP KIPD kepengurusan Periode 2018-2021.

1 2

3 4

Page 25: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 25

SUSUNAN BADAN PENGURUS KOLEGIUM ILMU PENYAKIT DALAM INDONESIA

PERIODE 2018 – 2021

Dewan Pertimbangan : Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, FINASIM, MEpid Dr. dr. Imam Subekti, SpPD, K-EMD, FINASIM Prof. Dr. dr. Achmad Rudijanto, SpPD, K-EMD, FINASIM

Ketua Umum : dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM Wakil Ketua Umum : Dr. dr. Em Yunir, SpPD, K-EMD, FINASIM

Sekretaris Jenderal : dr. Edy Rizal Wahyudi, SpPD, K-Ger, FINASIM Wakil Sekretaris Jenderal : Dr. dr. Rudy Hidayat, SpPD, K-R, FINASIM

Bendahara : dr. Erni Juwita Nelwan, PhD, SpPD, K-PTI, FINASIM, FACP

Bidang Pendidikan Spesialis Ketua : dr. Pringgodigdo Nugroho, SpPD, K-GH, FINASIM Anggota : Dr. dr. Aulia Rizka, SpPD, K-Ger, MPdKed Dr. dr. Ikhwan Rinaldi, SpPD, K-HOM, FINASIM, MEpid, FACP dr. Deddy Nur Wachid Achadiono, MKes, SpPD, K-R, FINASIM Dr. dr. Dyah Purnamasari Sulistianingsih, SpPD, K-EMD, FINASIM

Bidang Pendidikan Subspesialis Ketua : dr. E. Mudjaddid, SpPD, K-Psi, FINASIM Anggota : Prof. Dr. dr. Harry Isbagio, SpPD, K-R, FINASIM Dr. dr. Cosphiadi Irawan, SpPD, K-HOM, FINASIM dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD, K-P, FINASIM, KIC dr. Tri Juli Edi Tarigan, SpPD, K-EMD, FINASIM dr. Lusiani, SpPD, K-KV, FINASIM

Bidang Penjaminan Mutu Ketua : dr. IGP Suka Aryana, SpPD, K-Ger, FINASIM Anggota : dr. Sudirman Katu, SpPD, K-PTI, FINASIM Dr. dr. Kuntjoro Harimurti, SpPD, K-Ger, MSc dr. Robert Sinto, SpPD, K-PTI, BidangSertifikasi Ketua : dr. Ida Ayu Made Kshanti, SpPD, K-EMD, FINASIM Anggota : dr. R.M. Suryo Anggoro Kusumo Wibowo, SpPD, K-R dr. Ni Made Hustrini, SpPD, K-GH

Page 26: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201826

Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP (Dewan Pertimbangan PB PAPDI)

PAPDI bersama Kolegium IPD perlu duduk bersama merumus Visi PAPDI dalam ranah profesi dan KIPD di ranah pendidikan, yang pada akhirnya semua bertujuan untuk kesejahteraan anggota. Berbagai tantangan profesi kedokteran yang kompleks menanti di depan mata. Antara lain distribusi dan sebaran dokter yang belum merata, sistem JKN yang belum sesuai harapan, strategi menghadapi era globalisasi juga MEA, dan lain-lain. PAPDI memerlukan roadmap dan renstra yang komprehensif dan berkesinambungan. Insya Allah dengan semangat kebersamaan, visi dan misi yang jelas, serta program-program yang terukur, PAPDI ke depan makin sukses dan jaya.

Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, FINASIM, MEpid(Dewan Pertimbangan KIPD)

Dr. Sally dan dr. Irsan, dua orang muda yang energetik, idealis dan smart. Mereka berdua sudah lama mengikuti dan mengawal PB PAPDI dan Kolegium IPD. Menjadi tangan kanan Ketua PB PAPDI dan Ketua KIPD sebelumnya (Prof. Idrus dan saya). Jadi saya yakin mereka bisa melanjutkan estafet kepemimpinan dengan baik. Mereka sudah tahu dan terlibat dalam rencana strategik dan program kerja PB PAPDI dan Kolegium IPD. Jadi tinggal melanjutkan dan mengembangkan saja.

Masih banyak tantangan ke depan tentunya. Khusus untuk Kolegium IPD. Bagaimana menjaga kualitas pendidikan Spesialis dan Subspesialis IPD agar semua prodinya tetap terakreditasi A. Melakukan evaluasi pendidikan yang semakin baik agar lulusan yang dihasilkan—baik Spesialis maupun Subspesialis—juga memiliki kualitas yang baik. Bekerja sama dengan PAPDI menjaga dan meningkatkan kompetensi lulusan

spesialis dan subspesialis Penyakit Dalam. Bekerja sama dengan berbagai pihak dalam rangka pelayanan kesehatan yang lebih baik, yang dilakukan oleh spesialis dan subspesialis Penyakit Dalam. Dan masih banyak lagi pekerjaan lain yang harus dikawal dan dibereskan oleh Ketum PB PAPDI dan Kolegium IPD.

Tapi melihat rekam jejak mereka, saya yakin mereka bisa melakukannya. Tentu dengan bekerja sama dengan tim yang mereka bentuk.

Dr. dr. Ketut Suega, SpPD, K-HOM, FINASIM (Ketua PAPDI Cabang Bali)

Kami dari PAPDI Cabang Bali mengucapkan Selamat kepada dr. Sally dan dr. Irsan telah terpilih menjadi ketua umum PB PAPDI dan KIPD. Dr. Sally yang lincah, smart, dan visioner serta sangat dekat dengan seluruh anggota sampai ke pelosok-pelosok. Dr. Irsan yang sudah malang melintang di Kolegium, dengan bawaan santun, cara berpikir sistematis, teliti dan cekatan juga dikenal sangat dekat dengan seluruh pengelola Prodi Spesialis dan Subspesialis Penyakit Dalam di seluruh Indonesia. Pasangan yang saling melengkapi, serasi, dan harmonis menuju kejayaan dan kemajuan PAPDI di segala bidang baik secara nasional maupun internasional.

DUKUNGAN & HARAPANDukungan dan harapan mengalir untuk kepengurusan yang baru dari

seluruh penjuru Indonesia. Demi kejayaan PAPDI dan KIPD.

Page 27: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 27

Sally sebagai Ketua PB PAPDI dan dr. Irsan sebagai Ketua Kolegium IPD. Kami yakin dengan kepengurusan sekarang PB PAPDI dan KIPD akan lebih baik dan lebih maju lagi karena mereka kedua pemimpin telah mempunyai pengalaman luas di bidangnya. Kami berharap akan lebih banyak lagi inovasi-inovasi baru yang berguna untuk bangsa negara kita. Kami Cabang Kalimantan Selatan siap mendukung dan membantu sepenuhnya, dengan semboyan “bersama kita bisa”. Semoga Allah SWT mendengar doa kita. Amiin ya Rabbal alamiin.

dr. I Komang Adi Sujendra, SpPD, FINASIM(Ketua PAPDI Cabang Sulawesi Tengah)

Dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP adalah sosok pemimpin yang memiliki komitmen serta dedikasi yang tinggi. Di bawah kepemimpinan beliau ke depannya, saya optimis bahwa PAPDI sebagai organisasi perhimpunan akan mengalami kemajuan yang semakin pesat. Sepak terjang beliau selama ini tidak diragukan lagi, cerdas, gesit, ramah, selalu meluangkan waktu dan pikirannya demi kemajuan PAPDI. Mobilitasnya yang sangat tinggi untuk berkunjung ke daerah-daerah, ke semua cabang, menyebabkan beliau sangat dekat dan dicintai oleh segenap anggota PAPDI di seluruh tanah air.

Demikian pula dengan dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM. Dedikasinya terhadap kemajuan KIPD sangat tinggi. Sosok yang ulet dan memiliki jiwa pengabdian yang tinggi.

Selamat untuk beliau berdua. Semoga bisa bergandengan tangan saling memperkuat satu dengan yang lainnya sehingga mampu membawa PAPDI dan KIPD ke depannya semakin maju.

dr. Eko Sudarmo Dahad Prihanto, SpPD, FINASIM(Ketua PAPDI Cabang Maluku Utara)

Kami ucapkan selamat atas terpilihnya dr. Sally sebagai ketum PB PAPDI dan dr. Irsan sebagai ketua KIPD, dan ucapan terima kasih kepada Prof. Idrus dan Prof. Siti yang sudah membawa PAPDI dan KIPD menjadi organisasi profesional yang semakin diakui perannya di Indonesia. Ketua yang baru ini menggambarkan keberhasilan proses regenerasi di PAPDI maupun KIPD, dimana terpilih generasi muda yg kemampuannya sangat luar biasa, sehingga dapat meneruskan dan semakin mengangkat ide-ide besar dari para perintis PAPDI maupun KIPD. Tantangan ke depan akan semakin berat baik dalam mengantisipasi perkembangan dunia kedokteran maupun eksistensi Ilmu Penyakit Dalam dalam memposisikan diri di kalangan profesional kesehatan yang lain.

Dengan semangat kebersamaan dalam keluarga besar PAPDI dibawah pimpinan dr. Sally dan dr. Irsan, akan semakin membuat PAPDI semakin disegani. Jayalah PAPDI tercinta.

Dr. dr. Muh. Darwin Prenggono, SpPD, K-HOM, FINASIM(Ketua PAPDI Cabang Kalimantan Selatan)

Kami Cabang Kalimantan Selatan mengucapkan selamat atas terpilihnya dr.

Dr. dr. Lestariningsih, SpPD, K-GH, FINASIM(Ketua PAPDI Cabang Semarang)

Ketua PB PAPDI yang baru, dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP adalah seorang idola PAPDIers senior dan yunior. Bekerja secara profesional serta pintar berorganisasi, berperan penting dalam memajukan PAPDI saat mendampingi Prof. Aru dan Prof. Idrus. Dengan tanpa lelah selalu senyum, nampaknya semua cabang PAPDI telah dikunjungi.

Dr. Sally sangat pas sekali didampingi dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM, Ketua KIPD baru. Penampilannya yang tenang, muda, cerdas, penuh harapan melalui karyanya. Kami mengharapkan kedua tokoh muda ini mampu membentuk insan profesional SpPD.

Kami PAPDI Cabang Semarang mengucapkan terima kasih pada Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP yang penuh inovasi. Dan, selamat bekerja buat dr. Sally dan dr. Irsan.halo

INTERNIS

“PAPDI memerlukan roadmap dan renstra

yang komprehensif dan berkesinambungan. Insya Allah dengan semangat

kebersamaan, visi dan misi yang jelas, serta program-

program yang terukur, PAPDI ke depan makin

sukses dan jaya”.

Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP

Page 28: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201828

Hari itu Jumat, 28 September 2018. Senja, tepatnya pukul 18.02 WIT (17.02 WIT). Semburat jingga menghiasi langit Kota Palu, Kabupaten

Donggala dan Parigi Provinsi Sulawesi Tengah, serta daerah lain di sekitarnya. Tiba-tiba bumi berguncang hebat. Terjadi gempa bumi dengan magnitudo 7,4. Lebih keras dari gempa yang terjadi sebelumnya di siang hari dengan magnitudo 6. Peringatan tsunami yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi nyata. Pada pukul 18.22

WIT, air laut setinggi kurang lebih 6 meter naik berpacu ke daratan, menyapu segala yang dilaluinya.

Gempa dahsyat ini tak hanya memicu tsunami, juga memunculkan fenomena alam likuifaksi yang mencekam. Beberapa tempat seperti di Kelurahan Petobo, Palu Selatan, terjadi peristiwa aneh. Tanah yang keras berubah menjadi lumpur pekat. Semua benda di atas tanah, termasuk bangunan tinggi dan pohon-pohon besar, bergerak dan berpindah tempat seakan-akan berjalan sendiri. Lumpur itu kemudian menarik dan menenggelamkan

semua yang ada, termasuk rumah-rumah, pepohonan, dan manusia.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasioanal Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, melalui akun twitter-nya menjelaskan, munculnya lumpur dari permukaan tanah yang menyebabkan amblasnya bangunan dan pohon akibat gempa magnitudo 7,4 adalah fenomena likuifaksi (liquefaction). Likuifaksi adalah tanah berubah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan.

Kami Butuh InternisLima hari pasca gempa berkekuatan magnitudo 7,4 melanda Kota Palu dan sekitarnya, situasi penanganan medis mulai mengerucut pada kasus-kasus kronis. Kehadiran tambahan internis sangat dibutuhkan di lapangan. Tenaga yang ada sangat terbatas, dan sudah sangat kelelahan.

FOTO: ANTARAPHOTO

Hard News

Masjid Baiturrahman di Palu rusak diterjang banjir tsunami, setelah gempa 7,4 SR.

GEMPA PALU, DONGGALA DAN PARIGI

Page 29: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

HARD NEWS

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 29

Gempa, tsunami, dan likuifaksi menyebabkan bangunan-bangunan hancur. Tanah dan jalan terbelah juga amblas. Ada perkampungan hilang ditelan bumi. Korban jiwa sangatlah banyak. Yang luka-luka tak terhitung. Yang hilang tak berbilang.

LUMPUH TOTAL

Ketua Umum PB PAPDI, dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, mengungkapkan begitu mengetahui peristiwa gempa di Palu pihaknya yang berada di Jakarta berusaha mengontak Ketua PAPDI Cabang Sulawesi Tengah, dr. I Komang Adi Sujendra, SpPD, FINASIM via telepon untuk mengetahui keadaan di sana. Namun komunikasi tidak kunjung tersambung.

Sekitar pukul 02.00 WIB dini hari Sabtu tanggal 2 September 2018, Komang berhasil menghubungi Ketua Umum PB PAPDI dan mengabarkan situasi Palu dan sekitarnya yang sangat menyedihkan. Suasana teramat kacau. Listrik padam. Saluran komunikasi terputus. Jalur transportasi darat rusak parah. Orang-orang panik mencari sanak saudaranya yang hilang. Korban yang ditemukan membutuhkan pertolongan medis. Sementara semua pelayanan publik, termasuk rumah sakit-rumah sakit lumpuh total.

Komang, yang juga merupakan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Undata Palu dan Ketua Ikatan Dokter

Indonesia (IDI) Wilayah Sulawesi Tengah menyebutkan kebutuhan mendesak saat itu adalah menghadirkan Rumah Sakit Lapangan untuk menangani korban luka dan patah-patah yang banyak jumlahnya.

Lima hari setelah peristiwa gempa magnitudo 7,4 situasi di lapangan masih berat. Komang menceritakan kepada Halo Internis (1/10/218) melalui wawancara via telepon bahwa sarana dan prasarana umum masih belum bisa digunakan. “Ini bencananya sangat sulit diceritakan. Sangat aneh. Kalau gempa memang keras sekali. Kedua, tsunami. Ketiga, tanah terbelah, tanah naik, keluar lumpur dari dalamnya. Pokoknya sangat membuat ketakutan. Saya ke rumah sakit saja yang biasanya 5 menit, sekarang bisa 2 jam. Di rumah sakit ini saja tidak ada yang masuk kantor. Mungkin pada ketakutan dan masih dalam keadaan trauma. Kita cari ke rumahnya tidak ada. Mungkin ada yang mengungsi ke mana. Jadi kita bekerja juga sulit. Misalnya kita akan melakukan rongten, petugasnya tidak ada. Orang yang membawa kuncinya tidak ada. Maka terpaksa kita dobrak,” tutur Komang.

Di sela-sela gempa susulan yang masih terasa, upaya pemulihan sudah mulai dilakukan. Menurut dr. Andi Wahyudi Pababbari, SpPD, FINASIM dari Rumah Sakit Umum (RSU) Anutapura Palu, pada tahap awal pemulihan pelayanan kesehatan difokuskan pada RSUD Undata, yang merupakan rumah sakit tipe B dan menjadi rujukan tingkat provinsi di Sulawesi

Tenggara. Terutama untuk mengaktifkan kembali unit pelayanan hemodialisis untuk pasien gagal ginjal dan pelayanan penyakit kronis lainnya, seperti pelayanan penyakit jantung, kanker, paru, darah tinggi, diabetes, dan sebagainya yang sempat terhenti. Unit hemodialisis di RSUD Undata menjadi tumpuan karena unit hemodialisis di RSU Anutapura tidak berfungsi, lantaran gendungnya rusak parah. Adapun penanganan korban-korban luka karena bencana dapat diatasi oleh relawan-relawan medis di posko-posko kesehatan yang tersebar di berbagai tempat.

Ketersediaan obat-obatan masih terkendala. Wahyudi mengatakan gudang obat berada di lokasi yang terkena dampak berat gempa. Sementara untuk memenuhi kebutuhan mendesak, obat-obatan dikumpulkan dari depo-depo yang ada di sekitar Palu. Bantuan obat-obatan sebetulnya ada, tetapi barang tertahan di pelabuan. Transportasi laut merupakan satu-satunya cara untuk mencapai Palu. Lewat udara tidak bisa karena sebagian landasan pacu di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu mengalami kerusakan. Lewat darat terhadang oleh jalan yang rusak. Akses laut lebih memungkinkan, tetapi transportasi untuk mengangkut barang dari pelabuhan sampai pusat Kota Palu terkendala oleh kelangkaan BBM.

TAMBAHAN TENAGA

Saat wawancara dilakukan (2/10/2018), Wahyudi menyebutkan Palu membutuhkan

Ketua PAPDI Cabang Sulawesi Tengah, dr. I Komang Adi Sujendra, SpPD, FINASIM (kedua dari kiri) mendampingi Menteri Kesehatan

RI, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Muluk, SpM (K) dan Dirjen Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, dr. Bambang Wibowo, SpOG (K),

MARS meninjau kondisi korban gempa di Palu.

Kondisi RSU Anutapura Palu yang rusak berat pasca gempa.

Page 30: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201830

tambahan tenaga Dokter Spesialis Penyakit Dalam, karena kasus penyakit kronis sangat banyak. “Kami membutuhkan internis. Saya sendiri sudah kelelahan,” ungkapnya.

Tenaga internis yang dapat bertugas pasca gempa hanya beberapa orang saja. Bisa dimaklumi, sebagian dokter yang ada di wilayah Palu dan Donggala juga merupakan korban bencana. Mereka juga mengalami trauma fisik dan psikis. Ada juga dokter dan orang-orang yang memegang peran penting di rumah sakit, meninggal.

PB PAPDI mencoba membantu mencarikan solusi dengan menyebarkan informasi ini kepada PAPDI Cabang di seluruh Indonesia dan menghimbau agar berpartisipasi mengirim tenaga internis ke Palu dan Donggala. “Kami sudah broadcast ke seluruh cabang bahwa Palu membutuhkan tenaga internis. Supaya mereka bisa berkoordinasi dengan tim yang ada, seperti Tim Universitas Indonesia, Universitas Hasanuddin, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan lain-lain. Kami juga berkoordinasi dengan Tim PAPDI Medical Relief dan relawan-relawan yang

PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM INDONESIA(PAPDI)

#PRAYFOR PALU, DONGGALA & PARIGI

PAPDI turut berduka atas bencana gempa bumi dan tsunami yang menimpa Palu, Donggala dan Parigi. Semoga Allah Yang Maha Kuasa melindungi saudara-saudara kita

di sana dan dijauhkan dari marabahaya. AMIN YA RABB.

Donasi dapat disalurkan melalui rekening:PB PAPDI No Rek: 122-00-0008321-5

Bank Mandiri Jakarta RSCM

Untuk jumlah nominal yang didonasikan mohon memasukkan 3 kode akhir di nominal dengan angka 074contoh: Rp. 1.000.074

Mohon konfirmasi pembayaran kepada: Sekretariat PB PAPDI/ Sdr. Dilla FitriaHp & WA: 0878 75620350

Pb Papdi Pbpapdi @pbpapdi

MEDIA CENTER

www.pbpapdi.org [email protected]

sudah terbiasa menghadapi bencana,” kata Sally (4/10/2018).

Dan untuk mengatasi keterbatasan layanan hemodialisis, Sally mengatakan, sudah ada koordinasi antara PB PAPDI dengan Makassar untuk membantu. “Saya sempat menanyakan ke Makassar. Mereka sudah ready. Sebanyak 8 rumah sakit siap membantu unit hemodialisis bagi korban gempa Palu,” tuturnya.

Dalam musibah ini, seluruh anggota PAPDI Cabang Sulawesi Tengah selamat. “Satu orang, yakni dr. Ikhsan Liwang, SpPD, sempat terseret arus tsunami bersama anak dan isteri. Alhamdulillah beliau berhasil berselamat,” tutur Wahyudi. Semula, PAPDI Cabang Sulewesi Tengah berencana mengadakan Rapat Kerja (Raker) pada tanggal 29 September 2018. Rencana tersebut dengan sendirinya tidak jadi terlaksana. halo

INTERNIS

Hard News

GEMPA PALU, DONGGALA DAN PARIGI

dr. Andi Wahyudi Pababbari, SpPD, FINASIM (Kiri)

Page 31: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

HARD NEWS

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 31

Belum usai duka akibat gempa bumi di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, terjadi pula gempa Palu, Donggala dan Parigi di Sulawesi Tengah. Terkait hal ini, Ketua Umum PB PAPDI, dr.Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP atas nama PB PAPDI dan pribadi, menyampaikan turut belasungkawa yang mendalam atas kedua musibah ini.

Sewaktu terjadi gempa bumi berkekuatan magnitudo 7 di Kabupaten Lombok Utara, Provinsi

Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 5 Agustus 2018, Ketua Umum PB PAPDI segera melakukan koordinasi dengan Ketua PAPDI Cabang Nusa Tenggara, dr. Haris Widita, SpPD, K-GEH, FINASIM, untuk mengetahui situasi dan kondisi di sana. Kemudian PB PAPDI melakukan pengalangan donasi yang diperoleh dari anggota-anggota PAPDI seluruh Indonesia, maupun dari sumbangan pribadi. “Sumbangan tersebut kami salurkan kepada PAPDI Cabang Nusa Tenggara Barat, untuk penggunaannya langsung diatur oleh PAPDI Nusa Tenggara

DONASI UNTUK LOMBOK DAN PALU

Barat. “Waktu itu saya menanyakan apa kebutuhan mereka yang bisa kami support. Mudah-mudahan kini teman-teman di NTB sudah bisa recoverydan membangun kembali daerahnya,” tutur Sally.

GEMPA DI PUSAT KOTA

Hal serupa juga dilakukan ketika musibah gempa Palu terjadi pada tanggal 28 September 2018 lalu. Menurut Sally, PB PAPDI dengan cepat melakukan penggalangan donasi. Namun, kondisi yang terjadi di Palu berbeda dengan di Lombok. Titik gempa terjadi di pusat kota, sehingga seluruh aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat Palu lumpuh total. Dana yang terkumpul tidak dapat dikirimkan langsung ke rekening PAPDI Cabang Sulawesi Tengah, karena aktivitas perbankan dan ekonomi di sana terhenti, sehingga dana bantuan tidak bisa dimanfaatkan dengan segera.

Alternatifnya, akan dikirimkan bantuan dalam bentuk barang, namun akses menuju kota Palu juga terhambat. Karena itu diputuskan sementara donasi disimpan oleh PB PAPDI sampai bisa dipastikan siapa yang bertanggung jawab untuk memberikan bantuan tersebut ke PAPDI

Cabang Sulawesi Tengah. “Donasi (untuk Palu) masih kami keep. Kami menanyakan apa kebutuhan di sana. Prioritas kami adalah membantu teman-teman di sana, terutama untuk keperluan RSUD Undata dan RS Anutapura,” terang Sally ketika diwawancarai Halo Internis pada Kamis, 4 Oktober 2018.

Ketika tulisan ini diturunkan, proses evakuasi dan penanangan korban di Palu dan sekitarnya masih berlangsung. Mari kita doakan, mudah-mudahan kondisi infrastruktur di Palu cepat membaik, sehingga donasi-donasi bisa segera disalurkan dan dimanfaatkan secepat mungkin oleh yang membutuhkan. halo

INTERNIS

dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP

Pasien dan korban gempa dirawat di perkarangan RSUD Undata Palu.

Page 32: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201832

Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K), menjadi pembicara dalam sesi Plenary

Lecture Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (KOPAPDI) XVII di Solo pada tanggal 14 Juli 2018. Nila memaparkan perkembangan terkini tentang Universal Health Coverage di Indonesia yang akan dilaksanakan tahun 2019. Topik ini sejalan dengan tema KOPAPDI XVII yaitu “Peningkatan Peran Dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk Mewujudkan Pelayanan Kesehatan yang Berkualitas dan Profesional dalam Menyongsong “Universal Health Coverage 2019”.

Universal Health Coverage merupakan sistem penjaminan kesehatan yang memastikan semua orang menerima pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan tanpa harus mengalami financial hardship. Financial hardship yang dimaksud ialah kesulitan ekonomi karena adanya health shock ketika seseorang jatuh sakit. Selain perlindungan resiko keuangan, terdapat tiga dimensi yang menjadi konsep penting dari cakupan Universal Health Coverage yang saling melengkapi, yaitu sejauh mana cakupan populasi yang terlindungi (breadth), sejauh mana cakupan pelayanan kesehatan (depth), dan tingkat cakupan keuangan dari paket bantuan direct cost (height).

Di Indonesia, Universal Health Coverage dimplementasikan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sebagai pelaksananya. Program JKN dimulai pada 1 Januari 2014. Dalam masa empat tahun telah terjadi perkembangan pesat. Jumlah peserta JKN, per 1 Juli 2018 sudah mencapai 199 juta jiwa. Ini mencakup hampir 80 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Diharapkan pada tahun 2019 nanti pesertanya mencakup seluruh penduduk Indonsia (100 persen) yang berjumlah sekitar 257,5 juta jiwa. Ini akan menempatkan Indonesia sebagai negara dengan peserta asuransi terbesar di dunia.

Menyongsong “Universal Health Coverage” 2019

OPTIMALKAN PILAR PREVENTIF & PROMOTIF

Kasus-kasus penyakit katastropik baru terus bermuncul dalam data BPJS, dengan angka yang cenderung meningkat. Upaya promotif dan preventif dalam bidang kesehatan

perlu digaungkan untuk memberi kesadaran kepada masyarakat, bahwa sekalipun telah tersedia asuransi, mencegah selalu lebih baik dari mengobati.

Page 33: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 33

Perkembangan terbaru, dari jumlah kepersertaan tersebut, sebanyak 92,4 juta jiwa atau lebih dari 50 persen merupakan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) atau tidak membayar, alias iurannya disubsidi penuh oleh pemerintah. Adapun peserta mandiri berjumlah sekitar 81 juta jiwa.

Nila mengatakan, dengan adanya JKN masyarakat jadi lebih sadar dan berani untuk berobat ke pusat pelayanan kesehatan. Ini terekam dari angka kunjungan berobat yang semakin tinggi. Sepanjang tahun 2017, tercatat sebanyak 223,4 juta kunjungan. Di tahun 2018 ini, sampai bulan Mei, sudah tercatat sebanyak 94,4 juta kunjungan.

KATASTROPIK

Secara keseluruhan pembiayaan atau pemanfaatan dana yang sudah dikeluarkan BPJS untuk JKN dari tahun 2014 hingga 2017 berjumlah Rp 250 triliun. Penyakit yang katastropik atau penyakit berbiaya tinggi dan secara komplikasi dapat membahayakan jiwa penderitanya memberi beban biaya cukup tinggi dalam pelaksanaan JKN ini. Cakupannya mencapai sekitar 30 persen dari total pembiayaan yang dikeluarkan.

Sebagian besar penyakit katastropik berada dalam lingkup Penyakit Dalam. Antara lain kanker, gagal ginjal, stroke, thalasemia, sirosis hepatitis, leukemia, dan hemofilia. Ambil contoh kasus gagal ginjal. Penyakit ini mengharuskan pasiennya menjalani hemodialisa (cuci darah) yang biayanya tidak murah. Nila mengungkapkan, pada tahun 2017 terdapat sebanyak 4.037.274 pasien gagal ginjal yang mengikuti pogram JKN. Biaya yang dikeluarkan oleh BPJS untuk membiayai cuci darah pada tersebut mencapai sekitar Rp 4,387 triliun. Angka-angka ini terus melonjak. Pada pertengahan tahun 2018 kasus penderita gagal ginjal tercatat sebanyak 11.442.542 orang. Biaya yang sudah dikeluarkan pada tahun 2018 ini khusus untuk cuci darah saja sudah mencapai Rp 13,553 triliun. Belum untuk penyakit katastropik lain.

Besarnya pembiayaan ini tidak diikuti dengan kelancaran arus uang iuran yang masuk. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab yang mengakibatkan BPJS mengalami defisit. Untuk mengatasi kondisi ini, Menteri Kesehatan menghimbau agar semua pihak yang terkait dengan pelaksanaan JKN semaksimal mungkin berusaha melakukan efisiensi dalam

pembiayaan dengan tetap memperhatikan mutu pelayanan. Seruan kendali biaya dan kendali mutu juga dialamatkan kepada para internis, yang dalam menjalankan tugas di lapangan banyak menangani kasus-kasus katastropik. “Kunci kendali biaya itu adakah mengendalikan inefisiensi,” kata Nila.

Dalam implementasi JKN diberlakuan prinsip managed care—promotif,

preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Untuk mengefisienkan pembiayaan, maka aspek aspek promotif dan preventif harus lebih diperkuat. Masyarakat peserta JKN perlu diedukasi tentang bagaimana menjaga kesehatan agar tidak sampai jatuh sakit. Dan, kalau sudah terlanjur terkena penyakit, bagaimana mempertahankan kondisi kesehatan agar tidak terjadi komplikasi yang menyebabkan kualitas hidup menurun dan terpaksa mengeluarkan biaya berobat yang tinggi.

Nila juga menghimbau agar para internis-internis di seluruh Indonesia mau bersama-sama mengoptimalkan upaya preventif dan promotif untuk terciptanya kualitas hidup yang baik. Di satu sisi, beban negara dalam pembiayaan JKN bisa ditekan. Kedua, kualitas hidup pasien dapat terjaga dengan baik. “Saya titip betul (tindakan) preventif dan promotif ini. Ini pahalanya besar,” tandas Nila. halo

INTERNIS

Universal Health Coverage merupakan

sistem penjaminan kesehatan yang

memastikan semua orang menerima pelayanan

kesehatan yang mereka butuhkan tanpa harus mengalami financial

hardship.

Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K) beramah tamah dengan pengurus PAPDI dan KIPD saat menghadiri KOPAPDI XVII 2018 di Solo.

Page 34: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201834

BERKOALISI MELAWAN TUBERKULOSIS

Resah dengan perkembangan kasus Tuberkulosis (TB) di Indonesia, sejumlah organisasi profesi bergabung membentuk koalisi yang dinamakan KOPI TB. Menyatukan langkah demi mewujudkan dunia bebas TB tahun 2030.

Page 35: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 35

Indonesia sudah mulai melakukan penanggulangan Tuberkulosis (TB) sejak tahun 1990. Namun hingga lebih dari 25 tahun kemudian hasilnya tidak begitu memuaskan.

Organisasi Kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO), dalam WHO Global Tuberculosis Report 2016, menyebutkan Indonesia menempati posisi kedua dengan beban TB tertinggi di dunia, setelah India.

Pada tahun 2017, WHO kembali melansir data. Diperkirakan terdapat 1.020.000 kasus TB di Indonesia, namun yang baru terlaporkan ke Kementerian Kesehatan sebanyak 420.000 kasus. Tren insiden kasus TBC di Indonesia tidak pernah menurun, masih banyak kasus yang belum terjangkau dan terdeteksi. Kalaupun terdeteksi dan telah diobati, kasusnya belum dilaporkan, sehingga sulit memonitor perkembangannya.

Melihat kondisi ini, pada tanggal 23 Oktober 2017 sebanyak 13 organisasi profesi berkumpul menyatukan visi untuk bersama-sama mengupayakan eliminasi kasus TB di Indonsia. Dengan inisiasi dari Kementerian Kesehatan, mereka membentuk Koalisi Organisasi Profesi dalam Penggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia, yang disingkat dengan akronim KOPI TB. Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) termasuk di dalamnya.

Menurut Dr. dr. Arto Yuwono Soeroto, SpPD, K-P, FINASIM, FCCP salah seorang pendiri KOPI TB dari PAPDI, pada 23 Oktober tahun 2017 tersebut ke-13 organisasi profesi ini menandatangani kesepakatan kerjasama koalisasi. “Misi visinya kan jelas ya, misinya adalah agar eliminasi TB di Indonesia tahun 2030 bisa tercapai. Bukan berarti di 2030 TB benar-benar hilang, tapi paling tidak kita bisa mengeliminasi jumlah penderitanya. Dibandingkan tahun 2014 angkanya turun 80 persen, dan di tahun 2035 kita berharap TB turun hingga 90 persen dari angka di tahun,” ujar Arto.

STANDARISASI & NOTIFIKASI

Bergabungnya berbagai organisasi profesi, disebut Arto, adalah untuk bisa meningkatkan keterlibatan para praktisi yang menjadi anggota koalisi dalam penanggulangan TB secara nasional. Kemudian juga menjamin terlaksananya standar dalam penanganan penderita

TB. Bahwa standar pengobatannya benar-benar menggunakan International Standards for Tuberculosis Care (ISTC) atau pedoman nasional.

“Jadi harapannya dengan terbentuknya KOPI TB semua satu standar, tidak masing-masing menggunakan caranya sendiri-sendiri. Karena salah satu misinya agar kita bekerja melayani pasien TB sesuai standar,” ujar Arto.

Sebenarnya sekitar tahun 2004, Indonesia menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus TB, setelah India dan Cina. Namun sekarang memburuk pada posisi kedua. Tentu ada yang harus dievaluasi dari sisi penanggulangan TB selama ini. Harus dicari hal-hal yang menjadi inti persoalan di lapangan.

“Penanganan TB adalah tanggung jawab semua pihak. TB tidak hanya tanggung jawab segelintir pihak saja. Tanggung jawab semua, namun ada yang kurang tepat dalam tata laksana yang selama ini kita kerjakan. Karena kenyataannya, Indonesia pernah nomor 3 dalam penanganan TB selama ini. Pernah juga di urutan nomor 5, ini sebenarnya sudah baik. Namun kenapa kasusnya jadi tinggi lagi. Pasti ada sesuatu yang kurang benar dalam penanganannya,” tutur Arto.

Salah satu persoalan yang mengemuka adalah sekitar 50 persen dari kasus TB di Indonesia tidak terdeteksi. Dan tidak semua kasus TB tercatat atau ternotifikasi. “Jumlah penderita 1.020.000 orang dari seluruh Indonesia yang terdeteksi. Sisanya tidak terdeteksi, ini jelas satu hal yang lebih buruk lagi. Artinya, bukan hanya terdeteksi ke notified ya, tercatat. Kalau terdeteksi kan terdeteksi sama dokter tapi tidak ternotifikasi, artinya tidak tercatatkan,” ungkap Arto.

Menurutnya, kasus yang tidak ternotifikasi, tidak tercatat kemungkinan besar tidak terobati sampai tuntas karena tidak dapat dipantau perkembangan penyakitnya. Hal itu berisiko makin menularkan ke banyak orang. “Bisa dibayangkan, karena dogma yang berlaku 1 pasien punya potensi

menularkan kepada 10 sampai 15 pasien dalam 1 tahun. Jadi bayangkan kalau kasusnya tidak ternotifikasi, akan lebih banyak berarti penularannya,” ujarnya.

Dengan dibentuknya KOPI TB, diharapkan para anggota organisasi profesi yang tergabung dengan koalisi ini akan ikut bertanggung jawab menuntaskan penyakit TB. Merekalah yang sehari-hari berhadapan langsung dengan pasien TB, yang diharapkan dapat melakukan notifikasi dengan baik dan benar.

Selama ini Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sudah memberikan pelayanan TB di Puskesmas di seluruh Indonesia yang terstandar dan ternotifikasi. Namun tidak semua pasien TB berobat ke Puskesmas.

Dr. dr. Arto Yuwono Soeroto, SpPD, K-P, FINASIM, FCCP

Dengan dibentuknya KOPI TB, diharapkan

para anggota organisasi profesi yang tergabung dengan koalisi ini akan ikut bertanggung jawab

menuntaskan penyakit TB.

Page 36: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201836

Banyak juga yang memeriksakan diri ke klinik swasta maupun praktik dokter mandiri. Dokter-dokter yang bertugas berasal dari berbagai organisasi profesi yang berbeda. Dan mereka menatalaksana pasien TB dengan cara sendiri-sendiri. Pasien diobati, tapi tidak dicatat. Inilah yang kini diseragamkan.

“Terbentuknya KOPI TB, bertujuan supaya semua (dokter) satu dalam penatalaksanaan TB. Semua bisa melaksanakan standarisasi pelayanan kesehatan yang diberikan. Selain itu agar (kasus TB) bisa ternotifikasi juga. Misalkan ada anggota PAPDI di Maluku, menatalaksana pasien TB yang tercatat. Terserah dia menatalaksanakan di rumah sakit atau di tempat praktiknya di rumah,” tutur Arto.

Pencatatan kasus TB ini wajib dilakukan oleh semua dokter yang menangani pasien TB. Aturan ini tertuang dalam Permenkes Nomor 67 tahun 2017 tentang Program pengendalian penyakit TB, dimana salah satu poin pentingnya adalah kewajiban

Pada tahun 1992 WorldHealthOrganization(WHO) mencanangkan kasus tuberkulosis sebagai “Global

Emergency”. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002. Sebanyak, 3,9 juta di antaranya adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif.

Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara, yaitu 33 % dari seluruh kasus TB di dunia, dan bila dilihat dari jumlah penduduk terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk. Di Afrika prevalensinya hampir

2 kali lebih besar dari Asia Tenggara, yaitu 350 per 100.000 penduduk.

Diperkirakan angka kematian akibat TB adalah 8.000 setiap hari dan 2-3 juta jiwa setiap tahun. Laporan WHO tahun 2004 menyebutkan bahwa jumlah terbesar kematian akibat TB terdapat di Asia tenggara yaitu 625.000 orang, atau angka mortaliti sebesar 39 orang per 100.000 penduduk. Angka mortaliti tertinggi terdapat di Afrika yaitu 83 per 100.000 penduduk. Cukup tingginya prevalensi kasus HIV/AIDS mengakibatkan peningkatan kasus TB yang muncul. (Sumber: www.klikpdpi.com)

GLOBAL EMERGENCY

Dengan aturan ini diharapkan dapat diketahui berapa besar angka kasus TB di sektor swasta. Ini bukan sekadar upaya menemuan kasus TB belaka, tetapi jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana penderita TB itu dikawal pengobatannya hingga tuntas dan sembuh. Pasien dapat hidup sehat dan dirinya tidak lagi menularkan penyakit TB kepada orang lain.

Arto menjelaskan penyakit TB merupakan penyakit sistemik. Bukan hanya menyangkut penyakit paru, mulai ujung kepala hingga ujung kaki juga bisa terkena penyakit TB. Karena itu tidak tertutup kemungkinan koalisi ini bisa terus berkembang. Saat ini organisasi profesi dari bedah ortopedi dan bedah urologi belum bergabung. Sedangkan pada prinsipnya semua praktisi penatalaksana TB bisa bergabung di KOPI TB.

Hal ini dipertegas dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD, K-P, FINASIM, KIC dari Divisi Pulmonologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Indonesia, yang mengatakan penyakit TB bisa mengenai banyak organ, sehingga dalam penangannya membutuhkan keterlibatan banyak dokter spesialis.

“TB itu kebetulan kan ditangani banyak spesialis. Karena virus TBC sendiri bisa mengenai semua organ. Dengan demikian, jika ada virusnya di ovarium, mau tidak mau dokter kebidanan ikut terlibat. TB di otak dokter syaraf harus ikut terlibat, dan seterusnya jika berada di organ lainnya,” ujarnya.

Bagaimanapun, penanggulangan TB di

dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD, K-P, FINASIM, KIC

melaporkan kejadian kasus TB di sektor swasta kepada institusi pemerintah yang menangani kesehatan seperti Puskesmas, Suku Dinas Kesehatan, dan Dinas Kesehatan Daerah).

Page 37: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 37

ANGGOTA KOPI TB

Indonesia harus berhasil. Saatnya bagi dokter-dokter di Indonesia untuk bisa bekerjasama dalam penanganan penderita TB. Organisasi KOPI ini berkembang terus dan terbuka bagi organisasi lainnya yang ingin bergabung.

“Kita berharap seperti itu bergabung, karena dalam hal membuat pedoman nasional pelayanan kedokteran, kita juga melibatkan semua organisasi. Artinya semuanya punya kasus TB. Kalau semua punya kasus TB, alangkah baiknya bertemu dalam koalisi. Cikal bakalnya memang baru 13, namun bisa berkembang terus ke depannya,” papar Arto.

Dengan adanya KOPI TB ini, setiap organisasi profesi perlu memberitahukan kepada setiap cabang-cabang agar bisa membuat koordinasi. Setiap cabang organisasi profesi harus punya koordinator. Ada koordinator untuk setiap cabang. Tujuannya, untuk bisa menyebarluaskan kepada semua anggota masing-masing organisasi profesi untuk bisa memperbaiki tata laksana TB dengan baik.

“Dengan demikian, dokter bisa belajar lebih baik lagi. Organisasi profesi membuat kegiatan pelatihan, supaya anggotanya bisa menangani lebih baik. Kemudian yang lebih penting lagi sistem pelaporannya. Setiap kali ada kasus, anggota dari setiap organisasi harus bisa melapor kepada organisasi profesinya. Kemudian laporannya bisa direkap. Selama ini ada kesulitan dari sisi penemuan kasus TB, terutama di ranah publik. Maksudnya layanan kesehatan publik bukan layanan kesehatan privat,” jelas Ceva.

Ceva pun berharap, dengan adanya KOPI TB setiap ada kasus maka laporan kasusnya bisa masuk ke organisasi profesi. Targetnya agar ada penanganan yang tepat terhadap penderita TB pada akhirnya dapat

mengeliminasi TB. ‘‘Saat ini cara kerjanya dengan melakukan pengawasan kepada semua lini, daerah yang dulu blank spot, kita coba pantau,” ujarnya.

DUA INDIKATOR

Indikator utama pengendalian TB diformulasikan dalam bentuk angka Case Detection Rate (CDR) dan angka kesuksesan (Succes Rate). CDR merupakan perkiraan kasus TB positif baru yang ditemukan pada kurun satu tahun dibandingkan per sekian penduduk. Sedangkan angka kesuksesan adalah jumlah penderita yang sembuh dan lengkap dalam menjalani program pengobatan. Ini dapat diketahui dengan menghitung kartu pengobatan penderita TB yang sembuh dan menyelesaikan pengobatan dengan lengkap dalam satu tahun. Angka kesuksesan di atas 85 persen dari penderita TB positif.

Indikator CDR dan angka kesuksesan ini menggambarkan hal-hal utama yang harus

dilakukan dalam upaya eliminasi kasus TB. Yaitu, pertama mengupayakan penemuan (case finding) kasus TB sebagai langkah awal pengendalian TB. Penemuan kasus dalam jumlah tinggi atau banyak, justru mengindikasikan hal yang bagus. Kemudian melakuan upaya pengelolaan penderita TB (case holding) sebagai langkah lanjut.

Idealnya, hasil penemuan kasus yang tinggi, diikuti oleh pengelolaan penderita yang sukses. Inilah yang diharapkan, sehingga rantai penularan TB dapat terputus dan cita-cita dunia bebas TB terwujud. Namun, alangkah sayang dan sia-sianya bila kasus TB ditemukan dalam jumlah banyak namun pasien tidak tertangani dengan baik. Inilah yang diperjuangkan oleh KOPI TB. Semua bergerak bersama-sama, memastikan agar setiap pasien TB mendapatkan pengobatan sampai tuntas.halo

INTERNIS

1. Ikatan Dokter Indonesia (IDI)2. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia

(PDPI)3. Perhimpunan Dokter Spesialis

Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI)4. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)5. Perhimpunan Dokter Umum Indonesia

(PDUI)6. Perhimpunan Dokter Keluarga

Indonesia (PDKI)7. Perhimpunan Spesialis Kedokteran

Okupasi Indonesia (PERDOKI)

8. Perhimpunan Ahli Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI)

9. Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PATKLIN)

10. Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Medik Indonesia (PATELKI)

11. Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

12. Ikatan Apoteker Indonesia (IAI)13. Perhimpunan Dokter Spesialis

Radiologi Indonesia (PDSRI)

Dengan adanya KOPI TB, setiap ada kasus

maka laporan kasusnya bisa masuk ke organisasi profesi. Targetnya agar ada penanganan yang

tepat terhadap penderita TB pada akhirnya dapat

mengeliminasi TB.

Page 38: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201838

Masalah etika medis atau etika profesi bukanlah hal baru dalam dunia kedokteran. Masalah ini sudah lama ada.

Perbedaannya dengan tahun-tahun sebelumnya adalah saat ini masalah etika medis lebih terbuka. Kehadiran media sosial mempermudah penyebaran peristiwa sehingga menjadi viral di tengah masyarakat.

Menurut Ketua Subbidang Etik, Bidang Etik dan Medikolegal PB PAPDI, dr. Bambang Subagyo, SpPD, FINASIM, SE, MM, sebetulnya banyak kasus etika medis yang terjadi di negeri ini, namun tidak begitu disorot karena kasusnya kecil. Berita menjadi heboh ketika menyangkut kasus-

kasus besar, yang melibatkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK).

“Tentang rekan-rekan dokter yang tersangkut kasus misalkan, di luar kasus besar banyak ya. Dianggap kasusnya kecil, sehingga tidak ramai. Jadi masalah etika medis ini bukanlah hal baru ya, sudah lama terjadi,” ujar Bambang.

Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masalah etik dan medikolegal ini. Karena itu PB PAPDI selain mengupayakan bantuan hukum bagi rekan sejawat yang mengalami masalah etik dan medikolegal, juga melakukan pembinaan

kepada anggota. Pembinaan ini dinilai penting agar para anggota PAPDI lebih sadar hukum. Dengan demikian, diharapkan semua dokter dalam melaksanakan tugas dan praktiknya sehari-hari, tetap menjunjung tinggi etika dan bekerja dengan baik.

Bambang menjelaskan etika medikolegal memuat tiga aspek, yaitu aspek etik, medis, dan hukum. Jadi, ada etika dan hukum di bidang kedokteran, ada pula etika non medis di luar bidang kedokteran, seperti etika perawat dan bidang lainnya. Semuanya perlu dipahami oleh para dokter. Kenyataannya masih banyak sejawat dokter yang kurang memahami apalagi menguasai masalah etika medis ini

Pembinaan dan sosialisasi mengenai aspek etik dan medikolegal sangat penting dilakukan kepada para dokter, khususnya kalangan internis di Indonesia. Selain agar lebih sadar hukum, juga untuk tetap menjunjung tinggi etika kedokteran dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Dokter Harus Sadar Hukum!

Page 39: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 39

“Masalah etika medis ini, terus terang masih banyak dokter yang kurang menguasai. Mengapa? Karena memang porsi yang diberikan Fakultas Kedokteran hanya sebatas pendidikan dasar saja. Seharusnya, saat masih duduk di bangku kuliah, porsi tentang bidang etika medis ini ditambah jam mata kuliahnya,” ujar Bambang.

Sulitnya memahami aspek etika medikolegal ini juga karena materinya yang komplek. “Masalah etika medis ini sulit dipahami, karena etika medis bukan hanya medis murni, tapi mencakup juga ilmu medis terapan. Dasar dari etika medis itu filsafat. Nah, untuk mempelajari filsafat tidak semua orang punya waktu luang untuk mempelajarinya secara khusus. Perlu waktu untuk bisa merenung,” kata Bambang.

Minimnya pengetahuan dokter tentang masalah etika medis membuat dokter kesulitan memahami aturan-aturan hukum yang terkait dengan penggunaan alat-alat dan teknologi baru pendukung kedokteran. Jadi, kalau ada dokter tersangkut dengan kasus etik dan medikolegal, itu umumnya karena minimnya pengetahuan mereka tentang etika medis dan asek medikolegal. Memang diakui Bambang, memang ada juga dokter yang “nakal” tapi jumlahnya hanya sedikit.

“Kami menyadari apa yang dibekalkan dari kampus tidaklah sempurna. Banyak etika

tentang obat-obat baru, alat kedokteran baru, dan pelajaran intensif dan sebagainya. Itu memerlukan suatu pemahaman etika yang baru pula. Sehingga secara teratur kami terus berupaya mengadakan pelatihan atau workshop tentang etika. Apalagi ada keharusan dari keputusan IDI (Ikatan Dokter Indonesia), bahwa tujuh persen konten dari suatu kegiatan IDI termasuk PAPDI, harus membahas tentang etika” tutur Bambang.

PB PAPDI melaksanakan aturan IDI tersebut. Bahwa dalam melaksanakan setiap kegiatan ilmiah, selalu disediakan waktu 15 sampai 30 menit untuk kuliah etika dan hukum, yang berhubungan dengan kedokteran. Selain pembinaan melalui kuliah umum, pembinaan juga dilakukan dengan menyosialisasikan seluruh keputusan, peraturan organisasi IDI dan PAPDI. Termasuk Peraturan Menteri

Kesehatan yang diberikan ke masing-masing pengurus cabang dan wilayah.

PB PAPDI sudah mengagendakan pembinaan tentang etika medika legal kepada para anggota. Belum lama, ini PB PAPDI mengadakan pembinaan di Bogor. Di Jakarta, pembinaan bisa diberikan sebanyak 3 hingga 4 kali dalam setahun. Biasanya setiap pembinaan diikuti oleh sekitar 600 dokter.

“Paling tidak harus ikut sekali buat para dokter. Cabang-cabang di luar Jakarta, kalau bisa mengadakan pembinaan juga,” serunya.

Menurut Bambang, tugas cabanglah yang melakukan pembinaan kepada anggota. Di tingkat pengurus besar, setahun sekali diadakan pertemuan, khusus membahas etika dan medikolegal dengan pengurus cabang seluruh Indonesia. Yang bertanggungjawab memberikan pembinaan, terutama teman-teman termasuk saya yang mengurusi masalah ini,” ujar Bambang yang sudah 5 periode membidangi masalah etika medikolegal.

MASALAH ETIK ATAU HUKUM?

Dari pengalamannya, Bambang mengetahui munculnya kasus karena ada suatu keinginan yang tidak bisa tercapai, bisa dari keinginan dokter atau keinginan pasien dan keluarganya.

Misalkan keinginan dokter agar pasien bisa ditempatkan di ICU. Tentu dengan pertimbangan tertentu. Namun karena pasien tersebut berasal dari golongan tidak mampu, maka keinginan dokter ini tidak bisa disanggupi oleh pasien dan keluarganya. Hal ini contoh kasus yang terjadi sebelum berlakunya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang

dr. Bambang Subagyo, SpPD, FINASIM, SE, MM

Page 40: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201840

diselenggarakan oleh BPJS. “Hal-hal seperti ini yang menyebabkan dokter tidak puas. Ini salah satu contoh saja. Namun di sisi lain, pilihan hak ada di pasien. Ini yang kadang membuat dokter kecewa,” tutur Bambang.

Sekarang ini yang umum terjadi adalah rumah sakit yang meminta dokter memulangkan pasien, apalagi aturan BPJS pasien hanya bisa dirawat inap selama tiga hari, karena adanya antrian pasien. Padahal kondisi pasien belum layak untuk dipulangkan. Ini masalah etika, dokter ingin pasien dirawat dengan baik, namun terbentur aturan BPJS.

Permasalahan etika tidak hanya datang dari pasien, bisa juga dari LSM, perawat, pihak asuransi dan lainnya yang terkait dengan dokter. Kadang ada juga masalah dengan pemda. Sebab itu, lanjut Bambang, jika timbul masalah harus dilihat dahulu, apakah terkait dengan masalah etik atau hukum. “Jadi kita harus memilah-milah masalah yang ada. Kalau masalah hukum, teman-teman hukum yang menangani ke MKDKI (Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia),” imbuhnya.

Bambang menjelaskan, jika ada pelanggaran hukum mesti ada pelanggaran etika. Tapi sebaliknya, jika ada pelanggaran etika belum tentu berkaitan dengan hukum.

“Kalau ada anggota yang terduga

melakukan pelanggaran etika, maka yang pertama, kalau bisa diselesaikan dulu oleh organisasi. Kalau tidak bisa diselesaikan organisasi dengan mengupayakan damai, maka akan diteruskan ke Majelis Kode Etik Kedokteran Indonesia atau MKDKI,” katanya.

SALAH PAHAM

Ketua Subbidang Medikolegal Bidang Etik dan Medikolegal PB PAPDI, dr. Lucky Aziza Bawazier, SH, MH, SpPD, K-GH, FINASIM, FACP mengutarakan hal yang sama. Menurutnya, jika pun terjadi kasus terhadap dokter dengan pasien atau keluarga pasien, umumnya yang terjadi hanyalah salah paham (komunikasi). “Karena kurangnya komunikasi antara dokter dan pasien mengenai tindakan dokter, dan adanya pengetahuan pasien yang masih minim tentang masalah kesehatan,” ungkapnya.

Untuk itu, Lucky mengingatkan setiap dokter yang akan menjalankan tugasnya perlu memahami apa sebenarnya makna medikolegal. Dimana setiap menjalankan praktik kedokterannya, maka dokter perlu terus mengingat akan tugas dan kewajibannya. Ini sesuai dengan sumpah Hipokrates yang menjunjung tinggi etika.

“Di satu sisi dokter harus terus bekerja melayani pasien, namun di sisi lain dokter pun harus tetap bekerja sesuai aturan (on

the rule). Dengan beban kerja yang tinggi, dokter harus juga bisa mengupayakan kesehatannya, agar tidak terlalu lelah. Ini untuk menghindari segala kelalaian atau kecelakaan yang mengakibatkan kerugian pasien,” papar Lucky.

SEGERA LAPORKAN

Lucky mengingatkan, jika dokter menghadapi kasus dengan pasiennya, para dokter diharapkan mengambil tindakan cepat dengan melaporkan masalah tersebut kepada PAPDI Cabang. Terutama ketika mendapat somasi atau gugatan. Sesegera mungkin untuk mendapatkan bantuan berupa mediasi kalau memungkinkan.

Apabila PAPDI di wilayah atau cabang tidak dapat menuntaskan kasus yang terjadi, maka PAPDI wilayah atau cabang diharapkan sesegera mungkin melaporkan ke PB PAPDI ataupun PB IDI melalui Biro Hukum, Pembelaan dan Pembinaan Anggota (BHP2A).

Jangan sampai ada menunda-nunda pelaporan kepada PAPDI maupun IDI setempat karena akan merugikan diri sendiri. “ PAPDI maupun IDI segera menindaklanjuti laporan anggotanya yang tersandung kasus, kepada pihak-pihak terkait. Diusahakan semaksimal mungkin kasus tidak berkepanjangan, dan dapat diselesaikan secara musyawarah, mufakat dan damai yang menguntungkan kedua

Rapat Komisi 1 yang membahas Bidang Organisasi dan Bidang Advokasi pada saat KOPAPDI di Solo tanggal 11-12 Juli 2018.

Page 41: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 41

Pembinaan anggota bertujuan untuk menghindari terjadinya pelanggaran etika.

Pengurus PB PAPDI terus melakukan pembinaan terhadap anggota PAPDI terkait dengan bidang medikolegal

dan etik. Pembinaan ini dinilai penting agar para anggota PAPDI lebih sadar hukum. Dengan demikian, diharapkan semua dokter dalam melaksanakan tugas dan praktiknya sehari-hari, tetap menjunjung tinggi etika dan bekerja dengan baik.

Ketua Subbidang Medikolegal, BidangEtik dan Medikolegal PB PAPDI, dr. Lucky Aziza Bawazier, SH, MH, SpPD, K-GH, FINASIM, FACP mengutarakan hal yang senada.

“PB PAPDI merasa perlu melakukan

dr. Lucky Aziza Bawazier, SH, MH, SpPD, K-GH, FINASIM, FACP

Ingatkan Terus Anggota PAPDI Agar Sadar Hukum

belah pihak. Apabila pihak yang menutut menggunakan pengacara, para anggota PAPDI juga disarankan dibantu oleh pengacara pula,” jelas Lucky.

Bila jalan damai tidak bisa ditempuh, maka anggota yang terkait kasus hukum harus menyiapkan pengacara. Seandainya tidak memiliki pengacara, dapat meminta bantuan ke BHP2A untuk pertimbangan menunjuk pengacara. “Selama ini para dokter dapat menggunakan jasa hukum di setiap cabang atau wilayah IDI melalui cabang IDI BHP2A atau ke PAPDI cabang. Nantinya diteruskan ke PB PAPDI apabila kasus tidak dapat juga diselesaikan,” ujarnya.

Saat ini dari berbagai laporan kasus, sekitar 90 persen berhasil ditangani oleh PAPDI Cabang, PB PAPDI maupun PB IDI (BHP2A). Sebagian besar kesepakatan musyawarah dan damai ditempuh kedua pihak, agar kasus tidak berkepanjangan.

Ditambahkan Lucky, sehubungan banyaknya kasus karena masalah salah paham antara pasien dengan dokter, PB IDI dan Polri telah melakukan kesepakatan. Yaitu apabila ada pengaduan dari pasien maka pihak kepolisian akan meminta pendapat kepada organisasi profesi terkait, dalam hal ini IDI dan PAPDI. Dan apabila dinilai ada pelanggaran displin dokter, maka kasusnya diarahkan ke MKDKI.

“Sebab pelanggaran disiplin bukan berati kasus hukum pidana atau perdata. Sehingga biasanya, bila terbukti pelanggaran disiplin terjadi setelah dilakukan investigasi oleh MKDKI, cukup sanksi administratif dari MKDKI dan pembinaan kembali dari BHP2A,” ujar Lucky.

KADERISASI

Diakui Bambang, sumberdaya manusia untuk menangani bidang etika medikolegal masih sangat sedikit. Upaya melakukan pengkaderan juga sudah dilakukan. Hanya saja, pilihan ada pada masing-masing dokter, apakah mereka berminat untuk mendalami bidang ini.

“Memang butuh pengabdian untuk menjalaninya. Karena kasus tak hanya ada di Jakarta, di luar kota pun kita sambangi. Kita di PB PAPDI berupaya membantu, namun kalau kasusnya perlu penanganan yang lebih serius, kita serahkan ke MKDKI dan IDI,” tutur Bambang.halo

INTERNIS

pembinaan terkait bidang medikolegal dan etik. Pembinaan anggota ini tiap rapat kerja disosialisasikan kepada seluruh papdi cabang. Tujuannya agar seluruh anggotanya lebih sadar hukum,” kata Lucky.

Menurutnya, tugas sebagai dokter tidaklah mudah, terlebih jika tekanan kerja begitu tinggi. Namun para dokter diharapkan bisa mengatasi tekanan itu dengan baik.

“Walaupun ada berbagai tekanan yang timbul, misalnya fasilitas yang kurang, tenaga medis dan para medis yg tidak memadai, maka semuanya bisa diatasi. Caranya dengan memberikan komunikasi yang tetap baik kepada pasien dan keluarganya. Hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi salah komunikasi yang berujung kepada tuntutan kepada dokter,” ujar Lucky. halo

INTERNIS

Page 42: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201842

KOMPETENSI KEMOTERAPISOLUSI UNTUK PENGOBATAN KANKER

DI INDONESIA Pasien kanker sangat membutuhkan kemoterapi sebagai ikhtiar untuk mendapatkan kesembuhan. Namun tenaga medis yang memiliki keahlian dalam bidang kemoterapi

ini masih terbatas. Dengan dibukanya pendidikan yang memberikan kompetensi kemoterapi bagi kalangan internis, ini menjadi satu solusi.

Page 43: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 43

Kanker merupakan penyakit yang sangat komplek. Bisa terjadi pada seluruh organ tubuh, mulai dari ujung kepala hingga ujung

kaki. Penanganan penderita kanker begitu kompleks. Biasanya juga diikuti dengan gejala-gejala penyakit lain, seperti diabetes, gagal ginjal, dan mengalami trombosit. Sehingga dibutuhkan koordinasi dan kerja sama dari beberapa dokter dengan latar disiplin ilmu yang berbeda. Salah satunya Dokter Spesialis Penyakit Dalam.

Menurut Prof. Dr. dr. A. Harryanto Reksodiputro, SpPD, K-HOM, FINASIM dari Divisi Hematologi dan Onkologi Medik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang juga merupakan Ketua Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) kanker akan menyebabkan daya tahan tubuh memburuk karena sel-sel darah putih menjadi tidak berfungsi. Kondisi ini dapat menyebabkan infeksi berat.

“Sel penderita kanker itu gampang sekali mengalami pembekuan, sehingga mudah terjadi penyumbatan pembuluh darah. Jika mengalami penyumbatan di paru-paru seseorang bisa meninggal, penyumbatan di otak penderita bisa mengalami stroke. Penyumbatan bisa terjadi di organ tubuh lainnya,” jelas Harryanto.

Dalam menangani pasien kanker, pemberian kemoterapi termasuk salah satu tatalaksana utama yang sangat penting. Kemoterapi termasuk dalam kategori pengobatan sistemis. Pengobatan ini diperlukan untuk membunuh sel-sel kanker, baik yang berada di dalam darah, organ primer terkait, kelenjar getah bening maupun organ lain yang terdampak.

Pemberian kemoterapi itu juga dimaksudkan untuk membersihkan sel-sel kanker karena sel kanker sifatnya menjalar (mikro metastasis). Kanker bersifat sistemis karena menyebabkan gejala sistemis, misalkan penderita kanker jadi lebih gampang mengalami infeksi, darah cepat mengalami pembekuan, gangguan metabolisme belum lagi efek samping dari kankernya sendiri.

Di Indonesia ketersediaan dokter ahli kemoterapi belum memadai. Harryanto memberikan contoh. Di Amerika Serikat ada sekitar 4.000 ahli kemoterapi untuk 250 juta penduduk. Sementara di Indonesia, dengan jumlah penduduk yang hampir sama

dengan Amerika, hanya memiliki sekitar 200 ahli kemoterapi. Ini menjadi persoalan, karena kemoterapi tidak bisa diberikan sembarangan, dan hanya boleh dilakukan oleh orang yang ahli di bidang kemoterapi.

Lalu, dicari solusinya. Keterbatasan jumlah ahli kemoterapi ini dapat disiasati dengan membekali para Dokter Spesialis Penyakit Dalam—yang berjumlah hampir 4.000 orang—dengan pendidikan yang memberi tambahan kompetensi kemoterapi. Cara ini bisa efektif karena Dokter Spesialis Penyakit Dalam termasuk kalangan medis yang banyak terlibat dalam penanganan pasien-pasien kanker.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam sendiri sesuai dengan kompetensi yang dimiliki dari Kolegium Ilmu Penyakit Dalam sudah dapat memberikan kemoterapi dasar pada beberapa jenis kanker.

Oleh sebab itu, seorang Dokter Penyakit Dalam yang diberikan pendidikan tambahan bisa menjadi seorang ahli penyakit dalam yang mempunyai kompetensi dalam melakukan kemoterapi di bidang lebih banyak jenis kanker dengan pengawasan.

ENAM BULAN

Menurut Harryanto, ada beberapa pilihan bagi Dokter Spesialis Penyakit Dalam untuk memiliki kompetensi kemoterapi. Jika yang bersangkutan hanya ingin supaya bisa memberikan kemoterapi kepada pasien, pendidikannya tidak lama, sekitar satu semester, atau bila ditotal sekitar 6 bulan lamanya. Namun nantinya dalam memberi kemoterapi tetap harus dalam pengawasan ahli kemoterapi.

“Mengapa (pemberian kemoterapi) perlu ketat dan perlu ada pengawas, agar penanganan pasiennya memperoleh hasil, dan agar tidak salah prosedur. Karenanya seorang ahli kemoterapi harus bisa menentukan kapan diberikan dan kapan

Keterbatasan jumlah ahli kemoterapi dapat disiasati dengan cara membekali para Dokter

Spesialis Penyakit Dalam dengan pendidikan yang memberi tambahan kompetensi kemoterapi.

Page 44: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201844

tidak. Seorang penderita kanker tidak boleh terus menerus diberikan kemoterapi sampai penderitanya meninggal. Jika tujuannya sembuh dan ada kemungkinan sembuh, pemberian kemoterapi dimungkinkan. Namun jika kemungkinan sembuhnya kecil, ya jangan terus-terus menerus diberi kemoterapi,” tutur Harryanto.

Jika seorang Spesialis Penyakit Dalam ingin memiliki keahlian yang lebih baik lagi dalam hal onkologi, maka ia dapat mengikuti pendidikan Subspesialis Hematologi dan Onkologi Medik dengan masa pendidikan yang lebih panjang, sekitar 3-4 tahun. Lulusannya menjadi seorang oncologist atau Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik (K-HOM).

Internis yang berminat menjalani pendidikan selama 6 bulan untuk mendapatkan kompetensi tambahan kemoterapi, bisa mengatur waktu. Harryanto mengatakan internis yang bersangkutan tidak harus selama 6 bulan berada di pusat pendidikan, melainkan separuh waktu dari masa pendidikan dapat dilakoni di tempat asal ia bekerja.

“Bagi seorang internis, dia tidak harus terus menerus selama 6 bulan mengambil pendidikannya di satu tempat saja. Dia bisa sambil mengambil sebagian keterampilannya di tempat dia bekerja. Misalkan orang dari Bogor mau ke sini, tak usah harus ke Jakarta terus. Hanya untuk pendidikannya paling tidak kurang lebih 50 persennya dikerjakan di pusat pendidikan. Sebagian lagi di tempat sendiri namun tetap diawasi (oleh Konsultan HOM),” ujar Harryanto.

PENANGANAN YANG TEPAT

Tiap-tiap jenis kanker berbeda penanganannya. Pemberian kemoterapi pun disesuaikan dengan jenis kankernya. Kanker mata lain dengan kanker hidung, kanker hidung lain dengan kanker lidah, kanker lidah lain dengan kanker paru-paru. Kanker paru-paru lain dengan kanker lainnya. Intinya, seorang internis yang memiliki kompetensi kemoterapi harus bisa menangani kemoterapi di masing-masing bagian yang terkena kanker. Namun tidak semua internis mengambil pendidikan kemoterapi untuk seluruh jenis kanker. Umumnya pendidikan kemoterapi dilakoni untuk menangani 10 jenis kanker yang paling sering ditemui.

Mendapatkan penanganan yang tepat adalah

hal yang mutlak bagi penderita kanker. Pada penderita kanker kelenjar getah bening diberikan kemoterapi agar tujuannya bisa sembuh, namun untuk kanker paru yang sudah dalam stadium lanjut, tak mungkin bisa sembuh. Kemoterapi diberikan agar tujuan pengobatan yang diberikan kepada penderita kanker paru, bisa memperbaiki kualitas hidup dan meninggal dalam keadaan baik tidak mengalami kesakitan yang berlebihan.

“Hal inilah yang perlu dipelajari dalam pendidikan kemoterapi, agar tepat pemberian kemoterapinya. Tiap kasus akan berbeda penanganan kanker, termasuk pemberian kemoterapinya,” kata Harryanto.

Hal yang juga perlu diperhatikan pada pasien kanker adalah umumnya pasien kanker akan mengalami kekambuhan secara berulang-ulang, atau disebut “chronic cancer syndrome”. Kondisi ini biasanya diikuti dengan keadaan rawan infeksi, trombosis, dan gangguan fungsi berbagai organ. Proses pengobatannya memakan waktu yang lama. Seperti, kanker payudara

bisa mencapai kesembuhan. Namun setelah 10 hingga 20 tahun sesudah itu bisa muncul lagi kekambuhannya.

Itu sebabnya disebut Harryanto, penatalaksanaan kanker perlu dilakukan secara tim multidisiplin mulai dari farmakoekonomik, sampai finansial menyangkut dana pasien dan dana negara melalui BPJS. “Seorang dokter harus mengumpulkan data-data terlebih dahulu, baru disimpulkan secara onkologi. Setelah itu dia tanya oncologist-nya. Ini tujuannya sembuh atau hanya memperbaiki kualitas hidup, kualitas meninggal atau stop sama sekali,” kata Harryanto.

Sebagian besar pasien kanker tidak dapat sembuh. Dalam kondisi seperti ini tujuan utama pengobatan adalah menghambat progresi kanker dan memperbaiki kualitas hidupnya dalam keadaan sakit. Dalam pengobatan kanker, aspek keselamatan pasien, merupakan hal yang amat penting. Di samping keselamatan, biaya atau cost effective agar penanganannya tepat diperlukan analisis yang tajam dari seorang dokter.

Prof. Dr. dr. A. Harryanto Reksodiputro, SpPD, K-HOM, FINASIM

Page 45: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 45

Pada tangal 22 Juni 2018 Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD), Perhimpunan Dokter Hematologi Onkologi Medik

Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN), dan Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) membuat kesepakatan terkait dengan pendidikan kompetensi kemoterapi untuk kalangan internis di Indonesia. Hal ini di sampaikan oleh Ketua Umum KIPD terdahulu, Prof. Dr. dr. Siti Setiati, SpPD, K-Ger, FINASIM, MEpid, dalam KOPAPDI XVII di Solo Bulan Juli lalu.

Poin-poin kesepakatan tersebut sebagai berikut:1. Tingkat kompetensi kemoterapi

dasar bagi Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang tertera pada Standar Kompetensi Dokter Spesialis Penyakit Dalam adalah tetap 4A, dengan keterangan bahwa tingkat kompetensi itu untuk jenis keganasan hematologi

Makanya, dokter mesti transparan dengan pemberian obat-obatan. Jangan sampai diberikan obat yang harganya mahal hingga puluhan juta rupiah, namun sebenarnya harapan hidupnya juga tak panjang. Selain itu dilihat juga, apakah penderita seseorang yang punya jabatan penting yang bisa menentukan masa depan negara, atau seseorang yang sudah sangat tua sekali, yang sudah tak memiliki tanggungan hidup yang banyak. “Semua ini dibahas oleh dokter-dokter yang terkait dalam penanganan penderita kanker, termasuk Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang juga bisa memberikan kemoterapi,” imbuhnya.

MEMPERTAHANKAN KOMPETENSI

Harryanto mengingatkan, seorang internis yang mengambil pendidikan kemoterapi harus bisa mempertahankan keilmuan dan kompetensinya. Satu kali ujian hanya berlaku untuk masa 2 tahun, lalu keahliannya itu akan dievaluasi kembali. “Kalau dia tetap mengerjakan pekerjaannya dan dikerjakan dengan benar diteruskan. Kalau tidak, akan ditarik kembali dan perlu dievaluasi lagi dalam pemberian kemoterapinya,” ucap Harryanto.

Diharapkan internis yang sudah mengambil kompetensi tambahan nanti melanjutkan pendidikan menjadi Konsultan HOM.

Pengobatan kanker selalu mengalami perkembangan. Dari waktu ke waktu selalu bermunculan obat-obat baru, penemuan-penemuan baru, dan terjadi pula perubahan protokol dalam pengobatan. Ini memberi isyarat, internis-internis yang berminat untuk terjun dalam dunia pengobatan kanker, dituntut harus siap meng-update pengetahuan dan wawasannya setiap ada kesempatan. halo

INTERNIS

limfoma Hodgkin dan non–Hodgkin dengan efek samping tingkat 0-1 dengan performa pasien ECOG 0-1 (pasien komorbid noncomplicatedpatient). Hal ini merujuk pada tingkat kompetensi penyakitnya yaitu 4A. (Istilah 4A menunjukkan tingkat kompetensi yang mampu melakukan semuanya, mulai dari menemukan diagnosis sampai dengan mengobati hingga tuntas).

2. Tingkat kompetensi kemoterapi untuk keganasan lainnya harus disertai dengan pelatihan tambahan IFO (InternistFellowOnkologi) yang diselenggarakan oleh PERHOMPEDIN.

3. Dalam pelaksanaan pemberian kemoterapi tersebut, seorang SpPD disarankan untuk tetap berkoordinasi dengan SpPD, K-HOM yang ada di wilayah setempat.halo

INTERNIS

Seorang internis yang mengambil pendidikan kemoterapi harus bisa

mempertahankan keilmuan dan

kompetensinya.

KESEPAKATAN PENDIDIKAN KEMOTERAPI

Sumber:LaporanKetuaUmumKolegiumIlmuPenyakitDalampadaKOPAPDIXVIIdiSolo,11Juli2018

Page 46: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201846

Pendidikan Subspesialis Berbasis Universitas

PENDIDIKAN LEBIH TERSTRUKTUR, KOMPETENSI LEBIH TERUKUR

Sistem Pendidikan Subspesialis Penyakit Dalam di Indonesia kini diarahkan pada model university base. Banyak sisi positifnya, baik bagi penyelenggara maupun peserta didik.

Page 47: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 47

Semakin maju sebuah negara, semakin tinggi pula tingkat pelayanan kesehatan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tingkat

pelayanan kesehatan ini berjenjang, mulai dari tingkat primer, sekunder, sampai tersier.

Pelayanan kesehatan di tingkat primer dapat ditangani oleh dokter umum. Sedangkan pelayanan kesehatan level sekunder ditangani oleh dokter spesialis (Sp1). Adapun untuk memenuhi ketersediaan layanan kesehatan level yang lebih tinggi

(tersier), dibutuhkan kehadiran tenaga kesehatan dengan kompetensi yang tinggi pula, yakni level subspesialis (Sp2).

Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi kedokteran, kehadiran internis dengan kompetensi subspesialis semakin dibutuhkan di Indonesia.

Menurut Ketua Umum Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD), dr. Irsan Hasan, SpPD, K-GEH, FINASIM, fakta di lapangan memang menunjukkan terdapat kasus-kasus Penyakit Dalam yang penanganannya tidak dapat terpenuhi oleh standar kompetensi dokter spesialis, melainkan harus ditangani oleh kompetensi dokter subspesialis (Sp2).

Atas dasar inilah Kolegium Ilmu Penyakit Dalam (KIPD) kini fokus membenahi pendidikan subspesialis, agar proses pendidikannya lebih terstruktur dan kompetensi yang dihasilkan lebih terukur.

Ketua Bidang Pendidikan Subspsialis KIPD, dr. E. Mudjaddid, SpPD, K-Psi, FINASIM, menjelaskan bahwa pendidikan subspesialis (Sp2) sesungguhnya adalah jenjang ketiga dari pendidikan dokter (3rd degree). “Yang pertama adalah dokter, kemudian Sp1 (spesialis). Kemudian kalau seorang Sp1 ingin meneruskan, jenjangnya adalah Sp2 (subspesialis),” kata Mudjaddid. Dalam Bidang Penyakit Dalam terdapat 11 cabang kelimuan. Para internis dapat memilih salah satu dari 11 cabang ilmu tersebut sebagai pilihan peminatan untuk mendalami pendidikan subspesialis.

Selama ini proses untuk mendapatkan gelar subspesialis yang lazim disebut “konsultan” berbeda dengan menjalankan jenjang pendidikan S1. Proses ini sudah mengalami beberapa perkembangan. Mudjaddid menjelaskan, dulu sebelum PAPDI memiliki kolegium, pendidikan subspesialis dimulai dengan magang sebagai calon staf di bidang kelimuan masing-masing.

“Jadi, ketika yang senior-senior itu bekerja di rumah sakit, yang juniornya ikut magang. Kalau si anak magang ini dianggap ilmunya sudah memadai oleh senior, maka dianggaplah sudah setara dengan dia. Setelah dianggap lulus oleh seniornya, kemudian diberi sertifikat oleh PAPDI. Jadi oleh PAPDI disebut saja bahwa si A sudah setara dengan konsultan. Sudah jadi konsultan. Dulu pendidikan Sp2 itu seperti itu, dan tidak terstruktur. Pendidikan ini sebetulnya belum rapi betul,” tutur

Mudjaddid.

STANDAR KOMPETENSI

Setelah PAPDI berkembang membentuk PB PAPDI, dibentuk jugalah Kolegium Ilmu penyakit Dalam (KIPD). Salah satu tugas Kolegium ini adalah mengurusi masalah pendidikan, dan membuat standar kompetensi. Dari sini, Kolegium membuat suatu standar yang bermula dari perhimpunan-perhimpunan seminat. “Sebetulnya waktu itu juga sudah berkembang seminat. Ada keseminatan ginjal, dan lain-lain. Itu sudah berkembang. Tetapi standar pendidikan dan kompetensinya belum ada. Nah dimulai dari situ, khususnya di Jakarta, dibuatlah oleh Kolegium standar kompetensi untuk Sp1. Dan kompetensi untuk Sp2 ditentukan oleh peer-nya. Kalau orang penyakit ginjal harus segini, subspesialis kardiologi harus segini,” urai Mudjaddid.

Kolegium membuat penyelenggaraan pendidikan Spesialis dan Subspesialis Penyakit Dalam menjadi lebih terstruktur, atau tepatnya lebih teratur. Proses pendidikan tetap dilakukan di rumah sakit, dan ada tim pengajar yang merupakan bantuan dari Fakultas Kedokteran. “Pendidikan model ini berlangsung hingga tahun 2011. Ada kerjasama antara profesi (Kolegium), fakultas, dan rumah sakit,” ungkap Mudjaddid.

Pendidikan seperti ini dikenal dengan istilah hospital base (HB), hanya memberikan outcome berupa sertifikat kompetensi Sp2. Tidak ada ijazah. Karena ijazah hanya boleh diterbitkan oleh perguruan tinggi. Sebetulnya, hospital base juga adalah collegial base (CB), dimana pintuk masuknya melalui Kolegium dan Kolegiumlah yang mengatur segala sesuatunya.

UNIVERSITY BASE

Keluarnya Undang-undang Nomor 29 Tentang Praktik Kedokteran Tahun 2004, ada isyarat bahwa seorang subspesialis harus memiliki ijasah dan sertifikat kompensi Sp2. “Artinya, di situ diisyaratkan bahwa orang yang ingin menjadi subspesialis harus sekolah. Itu terstruktur namanya. Pendidikannya itu diselengarakan oleh universitas,” kata Mudjaddid.

Maka kemudian Kolegium membuat perencanaan, proposal pendidikan

Page 48: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

SOROT

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201848

subspesialis, terutama di Universitas Indonesia. Proposal ini diajukan ke fakultas kedokteran, lalu ke universitas. Setelah univesitas menyetujui, dibukalah pendidikan subspesialis. “Itulah yang terjadi di UI (Universitas Indonesia), yang pertama menjadi terstruktur berdasarkan legalitas universitas,” tutur Mudjadid.

Pendidikan subspesialis yang melalui universitas disebut dengan istilah “university base” (UB). Kegiatan pendidikannya dilaksanakan oleh fakultas, karena pihak universitas sudah mendelegasikannya kepada fakultas. Pintu masuk atau pendaftarannya haruslah melalui universitas. Perbedaannya dengan hospital base adalah pintu masuknya melalui Kolegium.

Untuk mendukung kegiatan pendidikan subspesialis yang berbasis universitas, Kolegium berikhtiar membuat standar kompetensi. Lalu standar pendidikan itu mendapatkan persetujuan dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

Standar kompetensi ini adalah adalah aturan pegangan yang dipakai di seluruh Indonesia untuk menjadikan seorang spesialis menjadi subspesialis. Dengan catatan, bahwa yang menyelenggarakan pendidikan adalah fakultas. “Jadi ibaratnya, Kolegium itu membut resepnya, kemudian resep itu akan dibuat masakan, dan yang memasak adalah fakultas. Dimana yang menjadi dapurnya adalah rumah sakit. Itu yang disebut tiga tungku sejarangan,” kata Mudjaddid.

Dengan sistem university base, pendidikan subspesialis bisa lebih terstruktur. Dalam artian menjadi lebih tertib, jelas alur yang dilalui, tepat waktu dalam menyelesaikan pendidikan, dan terjamin mutunya. Para peserta pendidikan subspesalis diberikan kelonggaran waktu untuk menyelesaikan pendidikan dengan rumusan 1,5 N. “Jadi kalau masa pendidikannya 6 semester, tidak boleh lulus menjadi 12 semester. Paling maksimal ya 9 semester,” ungkap Mudjaddid. Yang lebih menggembirakan lagi adalah outcome-nya. “Dimana pendidikan Sp2 itu mendapatkan dua surat, yaitu ijasah dari universitas dan sertifikat kompetensi dari Kolegium,” tutur Mudjaddid.

Irsan Hasan pun menguatkan hal ini. “Dengan university base kualitas biasanya lebih bagus, karena ada standarnya, kurikulumnya, ada ujiannya dan ada akreditasinya. Lama sekolah juga lebih

jelas. Kalau sudah lewat dari masa 1,5 N bisa di-DO (drop out),” ujarnya.

Saat ini baru beberapa daerah saja yang sudah menerapkan pendidikan subspesialis yang terstruktur atau berbasis universitas. Selain Jakarta (Universitas Indonesia), terdapat Padang (Universitas Andalas) Palembang (Universitas Sriwijaya), dan Surabaya (Unversitas Airlangga). Tampaknya beberapa daerah lain segera menyusul. Menurut Irsan antusias Program Studi Ilmu Penyakit Dalam untuk membuka pendidikan subspesalis cukup besar. Dalam tiga tahun terakhir KIPD telah melakukan beberapa kali visitasi melihat kelayakan prodi untuk membuka program pendidikan subspesialis.

“Selama tiga tahun lalu banyak dilakukan visitasi untuk membuka Sp2. Yang saya ingat dalam setahun terakhir, sepanjang 2017-2018 yang divisitasi adalah Solo (Universitas Sebelas Maret), Unsyiah (Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh), dan Brawijaya (Universitas Brawijaya, Malang). Tetapi, satu sekali visitasi itu tidak membuka semuanya. Hanya membuka (bidang subspesialis) yang dianggap sudah memadai untuk dibuka. Misalnya di Unsyiah, untuk membuka subspesialis gastro, kardio, dan endokrin. Jadi tidak semuanya. Tergantung kesanggupan masing-masing,” urai Irsan.

Walau keinginan untuk membuka pendidikan subspesialis cukup besar, tidak semua prodi bisa melakukannya. Kolegium mempunyai aturan pedoman pembukaan prodi subspesialis baru yang harus dipenuhi. Sewaktu melakukan visitasi dilihat apakah syarat-syarat yang ditetapkan terpenuhi atau tidak. Di antaranya adalah:

1. Memiliki kesiapan dari sisi tenaga. Minimal prodi harus memilik dua orang tenaga konsultan.

2. Memiliki fasilitas penunjang. Ada daftar fasilitas yang harus dimiliki.

3. Memiliki pasien. Harus dipastikan apakah jumlah pasiennya memadai. Ini untuk menunjukkan bahwa kehadiran dokter subspesialis bidang tersebut memang dibutuhkan oleh masyarakat setempat.

Menurut Irsan, sebenarnya banyak sisi positif yang didapatkan dengan diterapkannya pendidikan subspesialis berbasis universitas. Antara lain,

11 BIDANG SUBSPESIALIS ILMU PENYAKIT DALAM

1. Alergi-Immunologi Klinik (SpPD, K-AI)

2. Gastroenterologi-Hepatologi (SpPD, K-GEH)

3. Geriatri (SpPD, K-Ger)4. Ginjal - Hipertensi (SpPD, K-GH)5. Hematologi - Onkologi Medik

(SpPD, K-HOM)6. Kardiovaskular (SpPD, K-KV)7. Endokrin – Metabolik – Diabetes

(SpPD, K-EMD)8. Psikosomatik (SpPD, K-Psi)9. Pulmonologi (SpPD, K-P)10. Reumatologi (SpPD, K-R)11. Penyakit Tropik - Infeksi (SpPD,

K-PTI)

universitas akan dapat mengisi kebutuhan terhadap hadirnya dokter subspesialis bidang tertentu, minimal di provinsi yang bersangkutan. Selain itu, prodi akan terpacu untuk melakukan pendidikan dan penelitian. Ini akan meningkatkan kualitas dan kapabilitas bidang itu sendiri nantinya.

“Dengan mendidik, si prodi akan terpacu untuk melakukan penelitian dan pendidikan. Itu akan meningkatkan bidang itu juga. Karena akan muncul penelitian-penelitian dari sana,” tandas Irsan.halo

INTERNIS

dr. E. Mudjaddid, SpPD, K-Psi, FINASIM

Page 49: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 49

NAMA & PERISTIWA

Kabar gembira datang dari Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kementerian

Riset dan Pendidikan Tinggi tertanggal 2 Februari 2018 telah memberikan izin kepada Fakultas Kedokteran Unlam untuk membuka Program Studi (Prodi) Penyakit Dalam sebagai bagian dari Program Pendidikan Dokter Spesialis.

Fakultas Kedokteran Unlam merupakan

UNLAM BUKA PRODI PENYAKIT DALAM

yang pertama di Kalimantan membuka Prodi Penyakit Dalam, dan merupakan yang ke tujuh di luar Pulau Jawa. Dengan kehadiran Prodi Penyakit Dalam Unlam ini, maka sekarang di Indonesia terdapat 15 Program Panyakit Dalam.

Semoga dengan bertambahnya Prodi Penyakit Dalam di Indonesia, kebutuhan masyarakat terhadap hadirnya Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang berkualitas dapat terpenuhi.halo

INTERNIS

Selamat kepada Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP. Dewan Pertimbangan Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam

(PAPDI) ini telah dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Universitas Indonesia bidang ilmu kedokteran. Prosesi pengukuhan berlangsung pada 8 September 2018 di Aula IMERI Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta Pusat.

Pada pengukuhannya, Ari Fahrial memaparkan pidato berjudul “Masa Depan penelitian Kedokteran di Era Disrupsi dan Kedokteran Presisi: Penelitian Bakteri Helicobacter pylori di Indonesia Sebagai Model”.

Ari Fahrial selaku Dekan FKUI juga telah menerapkan komunikasi aktif melalui media sosial – salah satu programnya berupa kampanye Anti Hoaks terkait pesan/produk kesehatan yang kerap beredar khususnya di aplikasi chat WhatsApp. Ari Fahrial juga kerap berbagi maupun meluruskan informasi kesehatan serta merespon isu kesehatan terkini yang merebak dan terkadang membuat masyarakat khawatir.

Ari Fahrial berharap, ke depan rekan-rekan sejawat yang juga sedang bekerja di institusi pendidikan untuk aktif di media sosial khususnya dalam menyampaikan pesan-pesan sehat dari hasil penelitian di dunia kedokteran.

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB , FACP

GURU BESAR TETAP UNIVERSITAS INDONESIA

Page 50: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

AGENDA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201850

Mulai tanggal 1 Juli 2018 Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) memberlakukan peraturan paperless

online dalam pengurusan registrasi dan resertifikasi. Dengan sistem online ini pengurusan Surat Tanda Registrasi (STR) maupun resertifikasi kompetensi harus dilakukan secara online yang terintegrasi dengan portal idionline.

Untuk itu kepada semua anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam

hal ini juga anggota PAPDI diharuskan mengaktivasi data pribadi di portal idionline(www.idionline.org).

Dalam teknis pelaksanaannya, Kolegium Ilmu Penyakit dalam (KIPD) akan berkoordinasi dengan IDI dan KKI tentang alur dan tata cara online yang harus dilakukan oleh anggota, verifikator cabang dan Kolegium. Untuk kelancaran registrasi online ini, KIPD akan mengadakan pelatihan bagi para admin di tiap-tiap cabang.halo

INTERNIS

REGISTRASI & RESERTIFIKASI ONLINE

AGENDA KEGIATAN ILMIAHBIDANG ILMU PENYAKIT DALAM

Tahun 2018NO TANGGAL KEGIATAN TEMPAT PENDAFTARAN1. 18 – 24 Oktober

201834th World Congress of Internal Medicine (WCIM 2018)

Cape Town,South Africa

Contak Person:Bapak Aswin (PT Blesslink) Hp. 08161855972Atau, hubungi SEKRETARIAT PAPDIJl. Salemba I No.22-D Kenari, SenenJakarta Pusat 10430Telp : 021-31928025, 31928026,

2. 2 – 4 November2018

Pertemuan Ilmiah Nasional (PIN) XVI PB PAPDI

Hotel JW Marriott Medan

SEKRETARIAT PB PAPDIJl. Salemba I No.22-D Kenari, SenenJakarta Pusat 10430Telp : 021-31928025, 31928026, Fax Direct : 021-31928028, 31928027SMS PB PAPDI : 0856 95785909 Email : [email protected] : www.pbpapdi.orgCp. Lita 081617488717

3. 2 – 4 November 2018 Pertemuan Ilmiah Regional(PIR) Reumatologi 2018

Patra Hotel & Convention Semarang

SERETARIAT: IRA CABANG SEMARANGBagian/ KSM Penyakit Dalam Lantai 3FK UNDIP/RSUP D. Kariadi SemarangJl. Dr. Soetomo No. 16Cp. 024-8446758 085728425720 (Nurdin)

4. 17 – 18 Desember2018

Jakarta Diabetes Meeting (JDM 2018)

Hotel Shangri LaJakarta

SEKRETARIAT Divisi Endokrinologi dan MetabolismeRSCM (021-3907703)Email : [email protected]; [email protected]

Page 51: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 51

KABAR PAPDIKABAR PAPDI

Page 52: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

KABAR PAPDI

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201852

Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan 1439 H, Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam

Indonesia (PB PAPDI) cq. Bidang Humas, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat menyelenggarakan simposium untuk awam dan tenaga kesehatan dengan tema “Meraih Kesempurnaan Ibadah Puasa dengan Tetap Sehat Jasmani”. Kegiatan ini diadakan pada, Rabu 9 Mei 2018 di Hotel Ibis Senen, Jakarta Pusat.

Acara yang dimoderatori oleh dr. Arif Mansjoer, SpPD, K-KV, FINASIM, KIC, MEpid ini menampilkan tiga pembicara, yakni dr. Wismandari, SpPD, K-EMD, FINASIM, dr. Noto Dwimartutie, SpPD, K-Ger, FINASIM, dan Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP.

RISIKO HIPOGLIKEMI

Pada sesi pertama, Wismandari memaparkan tentang “Tips Berpuasa Aman Bagi Pasien Diabetes”. Ada karakteristik yang perlu diperhatikan pada pasien diabetes untuk mengetahui apakah yang bersangkutan aman atau diperbolehkan berpuasa. Terdapat enam faktor yang menjadi dasar penilaian, yaitu: tipe diabetes

yang diidap (DM tipe 1 atau tipe2), obat yang digunakan, risiko hipoglikemia, komplikasi dan penyakit penyerta, faktor sosial, dan pengalaman Ramadhan sebelumnya.

Berdasarkan enam faktor ini, pasien dikelompokkan dalam tiga kategori dalam berpuasa. Pertama, kelompok berisiko sangat tinggi, yang tidak boleh berpuasa. Kedua, kelompok berisiko tinggi, yang dianjurkan sebaiknya tidak puasa. Ketiga, kelompok berisiko sedang atau rendah, yang kondisi boleh atau tidak berpuasa bergentung pada toleransi individu masing-masing pasien.

Pasien-pasien yang termasuk dalam kelompok yang diperbolehkan berpuasa sangat disarankan untuk terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter agar dapat menyiapkan diri untuk menerapkan pola dan jadwal makan yang baru selama berpuasa. Wismandari juga mengingatkan agar selama berpuasa pasien diabetes sering memonitor gula darah dengan melakukan tes gula darah secara mandiri atau ke fasilitas layanan kesehatan terdekat . Paling tidak bagi yang berisiko ringan, melakukan tes gula darah sebanyak 1-2 kali sehari, terutama di waktu-waktu yang “rawan” seperti, siang hari, saat iftar (berbuka), atau dua jam setelah iftar. Juga di waktu kapan

saja tubuh merasakan gejala gula darah rendah atau tinggi.

ASALKAN KONDISI STABIL

Pembicara kedua, Noto Dwimartutie, menerangkan “Kiat Menjalankan Ibadah Puasa Bagi Lanjut Usia”. Survei yang dilakukan di Poliklinik Geriatri Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Cipto Mangunkusumo Jakarta atau lebih dikenal dengan sebutan RSCM menunjukkan ternyata sebanyak 95 persen lansia beragama Islam yang berusia 64-83 tahun ingin menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Sebanyak 91 persen benar-benar menunaikan puasa. Dan 80 persen berhasil selama sebulan penuh.

Telaah medis menunjukkan, orang-orang berusia lanjut aman berpuasa asalkan kondisi kesehatannya stabil, penyakitnya terkontrol, dan tidak ada infeksi akut yang terjadi padanya. Justru puasa memberikan manfaat yang baik bagi kesehatan mereka. Karena penelitian membuktikan bahwa puasa berpengaruh pada penurunan berat badan dan lemak tubuh. Juga berpengaruh menurunkan tekanan darah dan kadar lemak darah, termasuk dalam penurunan kadar kolesterol total dan LDL, dan penurunan trigleserida. Di saat bersamaan dapat pula meningkatkan kolesterol HDL yang

PAPDI FORUM

MERAIH KESEMPURNAAN IBADAH PUASABAGI PENDERITA DIABETES, MAAG, DAN LANSIA

Para pembicara dan moderator (kiri ke kanan: dr. Noto Dwimartutie, SpPD, K-Ger, FINASIM; Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP; dr. Wismandari, SpPD, K-EMD, FINASIM; dan dr. Arif Mansjoer, SpPD, K-KV, FINASIM, KIC, MEpid

Page 53: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

KABAR PAPDI

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 53

merupakan kolesterol baik.

Namun tentunya puasa bagi lansia harus dilakukan dengan persiapan yang matang, agar manfaat puasa benar-benar diraih. Perlu kiat khusus untuk memastikan asupan makanan yang disantap sewaktu berbuka dan sahur benar-benar dapat memenuhi kebutuhan gizi dan cairan tubuh. Karena biasanya faktor usia menyebakan pendeteksi rasa haus dan lapar pada lansia sudah menurun. Mereka tidak merasa haus maupun lapar, sementara sangat berisiko mengalami dehidrasi.

Untuk amannya, sebaiknya sebelum mulai melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, lansia perlu dibawa untuk dkontrol kesehatan ke dokter. Nanti, dokter akan memberikan arahan yang sesuai dengan kondisi lansia.

FUNGSIONAL DAN ORGANIK

Sesi ketiga membahas topik Ibadah Puasa Bagi Penderita Sakit Maag serta Gangguan Pencernaan, yang dibawakan oleh Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, FINASIM, MMB, FACP. Ari Fahrial mengungkap pemahaman yang kurang tepat mengenai penyakit maag yang dikaitkan dengan puasa. Ada yang mengatakan orang berpenyakit maag tidak boleh berpuasa,

karena akan memperparah penyakitnya. Bagaimana fakta yang sebenarnya? Ari Fahrial menjelaskan bahwa penyakit maag, atau disebut dispepsia, terdiri dari dua jenis. Pertama, disebut dispepsia fungsional. Kedua, dispepsia organik. Sekitar 85 persen penyakit maag yang diderita pasien adalah jenis dispepsia fungsional. Penyakit ini disebabkan oleh pola makan yang tidak teratur, kebiasaan makan cemilan berlemak, minum kopi atau minum bersoda, merokok, dan stres. Sementara hasil pemeriksaan endoskopi menunjukkan kondisi saluran pencernaan normal.

Penderita maag jenis dispepsia fungsional dibolehkan bahkan diajurkan berpuasa. Karena puasa membuat pola makan jadi teratur, asupan camilan, rokok, dan minuman bersoda jadi berkurang. Stres juga dapat dihindari sebab puasa melatih pengendalian diri. Banyak penderita maag fungsional merasa sembuh atau keluhannya berkurang setelah berpuasa.

Adapun yang umumnya tidak diperbolehkan berpuasa itu adalah penderita penyakit maag jenis dispepsia organik. Tapi tidak semuanya dilarang berpuasa. Sebagian ada yang diperbolehkan, tergantung penyebab penyakitnya.

Penyakit ini, pada pemeriksaan endoskopi,

menunjukkan ada yang tidak normal pada saluran cerna. Di antaranya terjadi tukak lambung atau tukak usus 12 jari, atau terdapat polip atau kanker pada lambung atau usus 12 jari. Juga terjadi Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) yang ditandai dengan kondisi nyeri pada ulu hati atau sensasi terbakar di dada akibat naiknya asam lambung menuju esofagus sehingga mulut terasa pahit.

Tanda-tanda dispepsia organik yang harus diwaspadai di antaranya mengalami sakit maag pertama kali di atas usia 4 tahun, berat badan menurun, anemia atau pucat, muntah darah, BAB berwarna hitam dan tidak bisa menelan. Penderita maag organik jangan terlalu khawatir, karena penyakit ini dapat diobati dengan obat-obatan antiasam. “Sebagian dispepsia organik dapat berpuasa dengan mengonsumsi obat-obat penghambat pompa proton,” ujar Ari Fahrial.

Kegiatan PAPDI Forum ini dihadiri sebanyak 93 orang peserta dan diliput oleh media massa cetak maupun elektronik. Para peserta terlihat antuasias mengikuti acara. Mereka merasakan manfaat kegiatan edukasi kesehatan ini dan berharap dapat kembali di lain kesempatan.halo

INTERNIS

Para pembicara dan moderator bersama dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP (ke 2 dari kanan)

Page 54: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

KABAR PAPDI

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201854

Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI) menghimbau para anggota PAPDI untuk ikut bergabung

menjadi anggota The American College of Physicians (ACP). Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum PB PAPDI, dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP.

Mengapa penting menjadi anggota ACP? ACP merupakan organisasi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Amerika Serikat yang berskala internasional. Banyak sekali manfaat yang didapatkan bila bergabung

dengan ACP. Terutama dalam mendapatkan tambahan ilmu dan pengetahuan terkini seputar dunia kedokteran penyakit dalam.

Sebagai mana diketahui, Amerika merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia, khususnya terkait Ilmu Penyakit Dalam. Bahkan banyak negara di dunia menjadikan Amerika—dalam hal ini American Board of Internal Medicine (ABIM)—sebagai “kiblat” atau benchmark dalam meletakkan dasar-dasar implementasi Kedokteran Penyakit Dalam di negaranya, termasuk Indonesia.

THE AMERICAN COLLEGE OF PHYSICIANS (ACP)

PAPDI sudah mulai melangkah menyiapkan diri menjadi International Chapter ACP. Jalan memang masih panjang, namun semangat tak bisa dihadang.

Yuk, Menjadi Fellow ACP!

Suasana Pertemuan The 3rd Meeting of The ACP (American College of Physicians) SouthEast Asian (SEA) Chapter di Jakarta, pada akhir Oktober 2016.

Page 55: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

KABAR PAPDI

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 55

ACP punya kepedulian yang tinggi untuk menyebarluaskan ilmu dan informasi terkini seputar bidang penyakit dalam yang tentunya diperoleh dari hasil riset yang telah teruji secara ilmiah. Informasi-informasi terkini ini akan memperkuat keilmuan para internis yang pada ujungnya bermanfaat bagi peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Sekarang anggota ACP sudah tersebar di banyak negara. Selain memiliki perwakilan di setiap wilayah negara bagian (region) Amerika Serikat, ACP juga membuka cabang-cabang di luar negeri yang disebut dengan istilah “International Chapter”. Saat ini keanggotaan ACP tersebar di 86 region dan chapter.

Beberapa International Chapter yang dimiliki ACP adalah Bangladesh Chapter, Carribean Chapter, India Chapter, Japan Chapter, Saudi Arabia Chapter, dan Southeast Asian Chapter. Indonesia tergabung dengan Southeast Asian Chapter. Indonesia belum bisa berdiri sebagai

Chapter sendiri karena belum memenuhi persyaratan.

Menurut Sally, salah satu syarat utama untuk mendirikan Chapter ACP adalah di negara tersebut paling tidak terdapat 200-300 orang Fellow ACP. Sementara saat ini jumlah Fellow ACP di Indonesia per tanggal 20 Maret 2018 baru berjumlah 16 orang. Hal serupa juga terjadi di negara-negara Asia Tenggara lainnya yang jumlah Fellow ACP-nya masih sedikit . Kemudian negara-negara ini bergabung membentuk chapter bersama yang dinamakan Southeast Asian (SEA) Chapter. Anggotanya terdiri dari lima negara yakni: Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand.

Keuntungan menjadi Chapter ACP antara lain bisa mendapatkan sharing knowledge langsung dari pakarnya. ACP rutin kegiatan-kegiatan ilmiah di chapter dengan biaya seluruhnya ditanggung oleh ACP. Indonesia pernah menjadi tuan rumah pelaksanaan The 3rd Meeting of The ACP (American College of Physicians) SouthEast Asian (SEA) Chapter, yang diselenggarakan bersamaan waktunya dengan kegiatan Pertemuan Ilmiah Nasional (PIN) ke XIV PB PAPDI di Jakarta pada tanggal 28-30 Oktober 2016.

IFEP

ACP juga mengadakan program-program yang dapat meningkatkan kualitas dan kompetensi personal internis di chapter masing-masing. Antara lain ada program yang dinamakan ACP International Fellowship Exchange Program (IFEP). Ini merupakan semacam program pertukaran yang memberikan kesempatan bagi para internis muda dari luar Amerika Serikat dan Kanada untuk mendapatkan dan meningkatkan keahlian di bidang Spesialis Penyakit Dalam dan subspesialis terkait. Peserta akan tinggal di Amerika selama satu bulan, mengikuti pendidikan, melakukan

observasi, dan turut mempraktikkan ilmunya di rumah sakit. Materi program berkaitan dengan pencegahan, diagnosis, dan atau manajemen masalah klinis. Selama menjalani program IFEP, internis mendapatkan mentor yang membimbing dan membantu mereka untuk menguasai hal-hal yang dipelajari, serta memfasilitasi segala sesuatunya agar ilmu dan pengalaman yang didapat bisa dipraktikkan sekembalinya nanti ke negara masing-masing. Semua biaya yang berkait program IFEP ini ditanggung oleh ACP, alias gratis.

Program lainnya dinamakan Doctor’s Dilemma. Ini merupakan program kompetisi yang diperuntukkan bagi kalangan residen atau peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS). Setiap chapter mengirimkan satu tim yang terdiri dari 3 orang residen untuk berlaga dengan tim dari chapter lain. Kompetisi ini menguji sejauh mana pengetahuan medis yang dimiliki peserta. Bagi pemenang akan mendapatkan “Osler Cup” dan namanya akan dicantumkan dalam sejarah ACP.

Persoalannya, untuk dapat mengiriman tim Doctor’s Dilemma, Indonesia terlebih dahulu harus bersaing dengan sesama anggota Southeast Asian Chapter, karena setiap chapter hanya boleh mengirimkan satu tim peserta. Pertanyaan berikutnya muncul, jika tim sudah terpilih, siapa yang membiayai untuk berangkat ke Amerika? Karena, biaya harus ditanggung oleh masing-masing chapter, sementara di dalam chapter terdapat beberapa negara. Inilah salah satu alasan perlunya Indonesia—dalam hal ini PAPDI—menjadi chapter ACP tersendiri.

“Masalahnya, karena ada lima anggota agak bingung menentukan peserta Doctor’s Dilemma dari negara yang mana? Kemudian masalah pembiayaan. Kita harus memberangkatkan 3 orang. Itu yang terus terang belum putus di antara negara ASEAN. Sayang bila (kesempatan ini) dilewat. Itulah mengapa kami dari PAPDI ingin jadi chapter sendiri. Dengan menjadi chapter sendiri kan jelas, PPDS kita yang berangkat,” tutur Sally.

PERBANYAK MEMBER & FELLOW

Agar Indonesia bisa menjadi menjadi chapter ACP, jumlah Fellow harus diperbanyak. Syarat menjadi Fellow ACP terlebih dahulu harus menjadi member ACP, dengan menikmati segala fasilitas dan memenuhi segala kewajibannya. Antara

Salah satu syarat utama untuk mendirikan Chapter

ACP adalah di negara tersebut paling tidak

terdapat 200-300 orang Fellow ACP. Sementara saat

ini jumlah Fellow ACP di Indonesia per tanggal 20

Maret 2018 baru berjumlah 16 orang.

Page 56: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

KABAR PAPDI

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201856

lain, rutin membayar uang iuran tahunan. Setelah dua tahun menjadi member baru boleh mengajukan diri untuk menjadi Fellow ACP. Syaratnya, melampirkan rekomendasi dari dua pihak. Pertama, rekomendasi dari internis yang sudah menjadi Fellow of the American College of Physicians (FACP). Kedua, rekomendasi dari ketua organisasi profesi penyakit dalam.

Khusus kebijakan di Southeast Asian Chapter, rekomendasi ini diberikan oleh yang berwenang di negara masing-masing. Dalam hal ini untuk wilayah Indonesia, rekomendasi bisa didapatkan dari internis bergelar FACP di Indonesia dan dari Ketua Umum PB PAPDI.

Menurut Sally, sebetulnya himbauan untuk menjadi member dan Fellow ACP sudah digaungkan sejak beberapa waktu lalu. PB PAPDI akan membantu menfasilitasi pengurusannya. “Kita, sebenarnya pada kepengurusan yang lalu, sudah melakukan.

dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP.dan Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, SpPD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP sewaktu mengikuti konvokasi FACP tahun 2013.

Walau sifatnya himbauan, sebenarnya ada upaya untuk membantu pengurusannya. Pertama (himbauan ini) untuk pengurus dulu, dan pengurus cabang. Nanti kan mereka (anggota PAPDI) tertarik sendiri. Karena manfaatnya untuk anggota juga. Antara lain bisa akses jurnal internasional, dan kalau yang masih muda bisa ikut exchange program,” urai Sally.

Yuk, menjadi member ACP dan raih gelar

fellow-nya. Semakin banyak anggota PAPDI yang menjadi anggota ACP dan memperoleh gelar FACP, kualitas keilmuan dan kompetensi para internis di Indonesia akan semakin kuat. Kualitas dan kompetensi menjadi “senjata” utama dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang memperbolehkan dokter-dokter asing berpratik di Indonesia. Mari persiapkan diri sebelum tantangan itu nyata di depan mata.halo

INTERNIS

Prof. Dr. dr. Aru W. Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP dan dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP hadir sebagai Special Representatives pada acara Internal Medicine Meeting 2018, ACP’s Premier Annual Meeting, berlangsung di New Orleans, Louisiana, Amerika Serikat pada 19-21 April 2018.

Page 57: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

KABAR PAPDI

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 57

Page 58: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

KABAR PAPDI

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201858

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) menganugerahkan gelar kehormatan Fellow of Indonesian Society of Internal

Medicine (FINASIM) kepada 513 Dokter Spesialis Penyakit Dalam yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Penganugerahan gelar ini berlangsung dalam prosesi konvokasi yang penuh khitmat dan semarak, pada tanggal 13 Juli 2018 malam di Hotel Alila, Solo.

Pada kesempatan ini, dalam sesi “Utojo Sukaton Memorial Lecture”, Prof. Dr. dr. Aru W Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP, President of International Society of Internal Medicine (ISIM) yang menjadi Key Note Speaker dalam acara ini memaparkan tentang “The Future of Internal Medicine.”

Bahwa di masa akan datang, profesi Dokter Spesialis Penyakit Dalam akan mengalami perubahan-perubahani terjadi di seluruh belahan dunia. Untuk itu, setiap Dokter

Spesialis Penyakit Dalam di Indonesia harus siap untuk menghadapi segala tantangan, ancaman, peluang-peluang yang ada.

Nah, seorang FINASIM akan mendapatkan manfaat istimewa, yakni dapat menikmati berbagai fasilitas tambahan, seperti bisa mendapatkan biaya registrasi yang lebih ringan pada acara-acara konferensi yang diadakan organisasi.

Adapun pemberian gelar FINASIM ini

FELLOW OF INDONESIAN SOCIETY OF INTERNAL MEDICINE

KONVOKASI FINASIM 2018

Page 59: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

KABAR PAPDI

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 59

melalui proses panjang. Ada komite yang bertugas menilai layak atau tidaknya seorang internis mendapatkan gelar FINASIM. Poin-poin yang menjadi bahan pertimbangan penilaian antara lain sebagai berikut:

1. Menjunjung tinggi dan mempraktekkan standar klinis dan idealisme etika.

2. Menunjukkan kepemimpinan di masyarakatnya secara regional

atau nasional dalam hal-hal yang menyangkut peningkatan dalam bidang kesehatan, komunitas dan sosial.

3. Bekerja memajukan profesinya melalui keterlibatan dalam panitia, komite medik rumah sakit, perhimpunan profesi, dan organisasi dalam masyarakat.

4. Memberikan tenaganya secara sukarela pada kegiatan-kegiatan medik di masyarakat.

5. Menjalankan penelitian dalam ilmu kedokteran serta aktif dalam kegiatan-kegiatan yang menunjang penyakit dalam sebagai profesi.

6. Selalu mengupayakan up to date dalam pendidikan kedokteran.

7. Ikut serta dalam kegiatan-kegiatan organisasi. halo

INTERNIS

Prof. Dr. dr. Aru W Sudoyo, SpPD, K-HOM, FINASIM, FACP, Presiden ISIM menjadi Key Note Speaker dan memaparkan tentang “The Future of Internal Medicine.

dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, memberikan sambutan dan ucapan selamat kepada penerima gelar FINASIM.

dr. Sally A. Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP mengalungkan medali PAPDI kepada peserta Konvokasi FINASIM tanggal 13 Juli 2018 di Solo.

Page 60: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

KABAR PAPDI

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201860

GALERISUASANA RANGKAIAN SIDANG ORGANISASI KONGRES NASIONAL PAPDI KE XVII DI SOLO

TANGGAL 11-12 JULI 2018

Sidang Komisi I Sidang Komisi II

Sidang Komisi III Sidang Komisi IV

Page 61: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

KABAR PAPDI

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 61

GALERISUASANA RANGKAIAN KEGIATAN KOPAPDI XVII TANGGAL 13 JULI 2018

Pemukulan gong oleh Wakil Wali Kota Solo, tanda acara KOPAPDI XVII resmi dibuka.

Ketua Umum PAPDI secara resmi membuka pameran dalam rangkaian kegiatan KOPAPDI XVII. Stand sekretariat PB PAPDI.

Ketua Umum PB PAPDI menjawab pertanyaan wartawan dalam koferensi pers KOPAPDI XVII.

Konferensi Pers usai acara Pembukaan KOPAPDI XVII, tanggal 13 Juli 2018

Tim Humas PB PAPDI mempersiapkan buletin Halo Internis edisi KOPAPDI Solo.

Page 62: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

KABAR PAPDI

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201862

GALERISUASANA MALAM KEAKRABAN KOPAPDI XVII TANGGAL 14 JULI 2018

dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP, membuka Malam Keakraban KOPAPDI 2018. Suasana Malam Keakraban KOAPADI XVII 2018

Sendratari Ramayana Atraksi dari PAPDI Cabang Jakarta.

Sebuah tarian dari PAPDI Cabang SoloPersembahan dari PAPDI Cabang Bali.

Page 63: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

FOKUS UTAMA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 63

info cabanginfo cabang

CABA

NG JA

BAR

CABA

NG JA

TIM CABA

NG BAL

I

CABANG RIAU

Page 64: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

INFO CABANG

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201864

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Sulawesi Tengah pada tanggal 12-13 Mei 2018 menggelar kegiatan

simposium dan workshop Palu Internal Medicine Update in Clinical Practice (PALU IMPACT) 2018 dengan mengusung tema “Peningkatan Tata Laksana Kasus Penyakit Dalam di Layanan Primer”. Materi simposium meliputi tata laksana kasus di

bidang kardiovaskular, ginjal hipertensi, gastroentero-hepatologi, respirologi dan penyakit kritis, hemato-onkologi medik, reumatologi, endokrinologi dan penyakit metabolik, psikosomatis serta medikolegal.

Adapun rangkaian workshop terdiri dari workshop injeksi intra artrikuler dan workshop penanganan hepatitis C yang khusus ditujukan untuk Dokter Spesialis Penyakit Dalam dan workshop terapi insulin dan workshop management of dyspneu in emergency setting yang ditujukan untuk dokter umum. Kegiatan ini bertempat di hotel Best Western Palu dan diikuti oleh 350 peserta, baik dokter umum maupun dokter spesialis penyakit dalam yang berasal dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Ternate, Papua dan Jakarta.

Kegiatan dibuka oleh ketua umum Pengurus Besar PAPDI didampingi oleh Sekjen PB PAPDI serta Kepala Dinas Kesehatan

PAPDI Cabang Sulawesi Tengah PALU IMPACT 2018

Provinsi Sulawesi Tengah. Dalam sambutannya Ketua umum PB PAPDI (periode 2015-2018) Prof. Dr. dr. Idrus Alwi, Sp.PD, K-KV, FINASIM, FACC, FESC, FAPSIC, FACP mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh pengurus cabang karena menjadi bukti nyata peran PAPDI untuk lebih dekat kepada seluruh dokter terutama yang bertugas di daerah.

Kegiatan PALU IMPACT 2018 ini diharapkan dapat menambah kemampuan dan meningkatan pengetahuan, kompetensi serta profesionalisme bagi dokter spesialis penyakit dalam dan dokter umum dalam melaksanakan pengabdiannya di masyarakat. Idrus juga berharap agar kegiatan seperti ini dapat terus berkelanjutan. Pengurus pusat akan selalu mendukung. halo

INTERNIS

Page 65: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

INFO CABANG

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 65

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang Sumatera Barat bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas

Andalas sukses menyelenggarakan Padang Internal Medicine Meeting (PIMM) ke IV in Conjunction with Emergency In Internal Medicine (EIMED). Kegiatan berlangsung di Grand Inna Hotel Padang pada tanggal 29-30 Juni 2018 yang lalu.

Ketua Pelaksana Kegiatan dr. Eifel Faheri, SpPD, K-HOM dalam keterangan persnya menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk meng-update perkembangan ilmu-ilmu terbaru di bidang Penyakit Dalam. Sebab ilmu kedokteran dari tahun ke tahun terus berkembang dan berubah, sehingga perlu dipelajari oleh dokter umum yang bertugas di puskesmas, klinik, Instalasi Gawat Darurat, maupun Dokter Spesialis Penyakit Dalam.

Hal ini diperkuat oleh Ketua PAPDI Cabang Sumbar, dr. Akmal M. Hanif, SpPD, K-KV, MARS, FINASIM yang mengatakan workshop ini diselenggarakan untuk meng-update ilmu terbaru dan keterampilan para dokter umum dan dokter spesialis. “Ilmu jika tidak di-upadate tentu kita akan sering lupa, makanya sayang sekali workshop ini kalau dilewatkan para dokter umum dan spesialis yang ada di daerah ini,” ujarnya.

PAPDI Cabang Sumatera Barat

Padang Internal Medicine Meeting (PIMM) IV

Workshop EIMED ini membahas 10 topik kegawatdaruratan yang banyak ditangani di IGD dan dokter layanan primer. Mulai dari tata laksana serangan asma akut, manajemen terbaru sepsis, tatalaksana gagal jantung, manajemen ensefalopati hepatikum, tatalaksana nyeri akibat kanker dan lain-lain.

Akmal menuturkan berdasarkan pengalamannya banyak dokter umum yang masih gagap ketika menangani kasus di IGD. Terutama dokter umum baru di rumah sakit swasta. Makanya dengan mengikuti kegiatan PIMM ini, para dokter bisa meningkatkan kemampuan mereka. Sebab banyak hal baru yang disampaikan pemateri, sehingga mereka dapat terbiasa menghadapi berbagai kasus di IGD.

Animo para dokter mengikuti kegiatan ini cukup besar. Ini terlihat dari jumlah peserta yang Lebih dari 300 orang. halo

INTERNIS

PAPDI Cabang Bogor menggelar serangkaian symposium dan workshop bertajuk “Bogor Update in Internal Medicine 2018”. Kegiatan dilaksanakan

selama 2 hari, tanggal 4-5 Agustus 2018,

PAPDI Cabang Bogor

Bogor Update in Internal Medicine 2018

bertempat di IPB Convention Center, Botani Square, Bogor.

Materi-materi yang disuguhkan sangat bermanfaat, memperkaya pengetahuan para internis dan karena dapat

diimplementasikan dalam praktik sehari-hari. Beberapa topik yang dibahas, antara lain:• Anemia in chronic kidney disease• Aspek psikosomatik pada penyakit

kronik• Management ostearthritis• TBC extrapulmonal• Maintenance fluid therapy for dengue

shock syndrome. haloINTERNIS

Page 66: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

INFO CABANG

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201866

PAPDI Surabaya menyelenggarakan Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) XXXIII Ilmu Penyakit Dalam 2018 pada tanggal 15

- 16 September 2018 di Shangri-La Hotel Surabaya. Kegiatan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan para internis dan dapat diaplikasikan dalam tingkat layanan primer dan sekunder. Ini terkait dengan era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang memberikan tantangan kepada para dokter baik di layanan primer, sekunder maupun tersier untuk mampu memberikan tatalaksana secara paripurna di bidang kasus penyakit dalam, sehingga para dokter dituntut untuk bisa memberikan diagnosis yang tepat dan dan pasien mendapatkan manajemen pelayanan kesehatan yang

PAPDI Cabang Surabaya

Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) XXXIII

RAPAT KERJA PAPDI CABANG MAKASSAR

Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam (PAPDI) Cabang Makassar menggelar Rapat Kerja (Raker) Pengurus di Malino, pada tanggal 16-18

Februari 2018. Ketua PAPDI Cabang Makassar, Dr. dr. Hasyim Kasim, SpPD, K-GH, FINASIM, mengatakan kepada wartawan bahwa Raker PAPDI Cabang Makassar kali ini fokus meng-upgrade dan meng-update pengetahuan dan keterampilan klinis semua anggota.

berbasis pelayanan komprehensif.

PKB XXXIII ini menawarkan pilihan workshop yang beragam dengan tema yang aplikatif untuk menjawab tantangan saat ini. Beberapa topik workshop dalam PKB XXXIII ini adalah:

• Deep Vein Thrombosis • Clinical manifestation of

hypothyroidism• Fluid & electrolyte imbalance in

geriatric people• Management of obstructive pulmonary

disease• Approach to the patient with

abnormal. haloINTERNIS

Tim Futsal PAPDI Cabang Bali berhasil meraih Juara ketiga dalam perlombaan PERKI MERAH PUTIH CUP 2018 di Bali Futsal, Renon, Denpasar pada 22 Agustus 2018 lalu. Posisi juara ketiga ini diraih setelah Tim PAPDI menakluk Tim Orthopedi dengan skor 3-2.

PERKI merah putih cup merupakan kompetisi futsal tahunan yang diadakan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia Cabang Bali (PERKI Bali) dalam rangka perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pertandingan ini dimenangkan oleh Tim PERKI sebagai juara pertama, Tim POGI juara 2, dan Tim PAPDI juara 3. halo

INTERNIS

PAPDI Cabang Bali Tim PAPDI Bali Juara Ketiga “PERKI Merah Putih Cup”

PAPDI Cabang Makassar kini menaungi 147 Dokter Spesial Penyakit Dalam yang terdistribusi di seluruh kabupaten di Sulawesi Selatan. Makassar termasuk cabang yang aktif dan bersemangat mendukung kegiatan organisasi. Salah satunya sukses menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan Pertemuan Ilmiah Nasional (PIN) XV PB PAPDI yang dilaksanakan tahun 2017 lalu. halo

INTERNIS

Page 67: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 67

JedaSetiap orang perlu melakukan jeda dalam hidupnya. Beralih sejenak dari rutinitas, untuk me-refresh diri.

Jeda yang paling simpleadalah melakukan hobi. Bila tersedia waktu yang cukup panjang, jalan-jalan dan berlibur boleh dilakoni.

Page 68: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

JEDA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201868

Indonesia kaya dengan budaya. Setiap daerah di nusantara memiliki budaya dan tradisi tersendiri, yang berbeda dengan daerah lainnya, termasuk budaya dalam berpakaian. Maka,

kita dapat menebak daerah asal seseorang melalui busana yang dikenakannya.

Khusus busana pria, ada pelengkap pakaian berupa tutup kepala yang bentuk maupun namanya sangat khas. Penutup kepala ini bukanlah sekadar benda untuk melindungi

kepala dari terik matahari. Padanya melekat simbol-simbol budaya dan adat istiadat yang sarat dengan nilai-nilai filosofis dan seni.

Seiring dengan masuknya arus modernisasi, kebiasaan mengenakan tutup kepala tradisional mulai ditinggalkan. Untungnya, masih ada daerah-daerah yang terus mempertahankan tradisi ini, dan memberi ruang bagi masyarakatnya untuk mengenakan tutup kepala khas tradisi

mereka dalam kegiatan sehari-hari, seperti di daerah Jawa, Sunda, dan Bali.

Ketika Pemerintah menghembuskan semangat kebhinnekaan untuk memperkuat rasa persatuan dan kesatuan negeri, simbol-simbol kedaerahan dan nilai-nilai kearifan lokal yang sempat ditinggalkan muncul kembali. Tradisi memakai tutup khas daerah mulai digiatkan lagi. Kini pegawai-pegawai di sejumlah daerah diwajibkan mengenakan penutup kepala tradisional pada hari-hari

Ragam Penutup Kepala Khas Nusantara

Secarik kain yang diikatkan ke kepala bisa mengungkap jati diri si empunya. Keragaman yang sangat mempesona. Sungguh luar biasa khasanah budaya nusantara.

Kain Berang Maluku

Fot

o: w

ww

.indo

nesi

akay

a.co

m

Page 69: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

JEDA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 69

tertentu sebagai pelengkap busana kerja. Aturan ini berdampak positif. Gairah kebangsaan menguat. Jati diri sebagai anak negeri serasa terangkat.

Dampak positifnya, sekarang ini tren mengenakan penutup kepala tradisional meningkat. Banyak orang mencari, baik untuk dikoleksi maupun dipakai sehari-hari. Para wisatawan pun meliriknya untuk dijadikan suvenir atau cindera mata. Ekonomi di daerah ikut menggeliat karenanya.

Nah, berikut ini beberapa penutup kepala tradisional yang terdapat di wilayah nusantara. Anda pun bisa mengoleksinya.

UDENG BALI

Udeng merupakan ikat kepala yang digunakan oleh para laki-laki Bali. Bentuknya khas, terdiri dari beberapa lekukan. Tiap-tiap lekukan udeng memiliki makna. Lekuk di kanan dibuat lebih tinggi dari pada bagian kiri, yang berarti hendaknya yang memakai lebih banyak melakukan hal yang baik (dharma) dari pada berbuat buruk (adharma). Ujung lekukan menghadap ke atas, menyimpan makna pemikiran lurus ke atas untuk memuja Tuhan Yang Maha Kuasa. Di antara lekukan terdapat ikatan yang ketika dikenakan posisinya persis di tengah-tengah kening, ini maknanya memusatkan pikiran.

Secara keseluruhan udeng Bali ini melambangkan simbol sebagai “ngiket manah” (memusatkan pikiran). Dan pikiran merupakan sumber penggerak panca indera.

Udeng Bali terdiri dari corak yang berwarna-warni, bisa putih, hitam, bermotif batik dan lainnya. Warna dan corak menunjukkan kegunaannya. Udeng berwarna putih melambangkan kejernihan dan kedamaian pikiran, sehingga digunakan untuk kegiatan ibadah. Warna hitam untuk berkabung. Sedangkan motif batik dan corak lainnya digunakan untuk kegiatan sosial.

IKET SUNDA

Di daerah Sunda, penutup kepala pria disebut iket atau totopong. Iket dibentuk dari kain berbentuk bujur sangkar yang memiliki empat sudut. Keempat sudut itu memiliki makna sebagai sudut kereteg haté. Dalam bahasa Sunda, kereteg berarti perasaan. Sedangkan haté berarti hati. Secara keseluruhan kereteg haté diartikan mengandung makna sebagai niat, ucapan

(lisan), tingkah (sikap), dan raga (badan). Kemudian kain segi empat itu dilipat dua membentuk segitiga sama kaki dengan tiga sudut. Ketiga sudut tersebut mencerminkan tiga azas tritunggal kesetaraan dalam hidup kemasyarakatan, yakni tritangtu yang terdiri dari resi pemimpin agama, rama (pemimpin rakyat) dan perebu (pemimpin wilayah).

Iket Sunda memiliki beragam rupa atau model yang dikategorikan sesuai zamannya. Ada yang disebut iket buhun (baheula/kuno) dan iket kiwari (modern/praktis). Iket buhun merupakan iket yang telah menjadi warisan secara turun-temurun dari para leluhur. Sementara iket kiwari merupakan modifikasi iket dari orang-orang yang memiliki rasa kebanggaan terhadap budaya iket buhun. Bentuknya masih menyerupai bentuk dan model iket buhun namun telah mengalami beberapa perubahan sesuai dengan perkembangan mode dan fashion. Perubahan paling signifikan terlihat pada warna, corak, dan motif yang semakin bervariasi.

Nah, yang termasuk kategori iket buhun

antara lain iket barangbang semplak (biasanya dipakai oleh para jawara) dan iket julang ngapak (biasanya dipakai oleh para orang tua). Yang lainnya adalah iket kuda ngencar, iket parekos nangka, iket parekos jengkol, dan iket parekos gedang.

Contoh iket kiwari antara lain dinamakan iket candra sumirat, iket maung leumpang, iket hanjuang nangtung, iket praktis parekos, iket praktis makuta wangsa, iket praktis mancala putra, dan iket batu kincir.

SIGA KAILI

Siga merupakan ikat kepala khas masyarakat Kaili di Palu Sulawesi Tengah. Hanya kaum pria yang boleh mengenakannya. Siga juga sebuah simbol kebesaran dan kebanggaan yang mencerminkan status sosial pemakainya.

Warna-warna siga menyimpan makna. Kuning adalah warna tertinggi. Siga berwarna kuning hanya dapat dikenakan oleh para raja dan bangsawan. Siga berwarna biru menunjukkan pemakainya adalah pemangku pejabat daerah, semisal

Udeng Bali.

Iket Sunda.

Page 70: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

JEDA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201870

gubernur, bupati, atau perangkat pemerintah lainnya. Sedangkan siga berwarna merah dapat dipakai oleh siapa saja, tanpa membedakan status dan kelas sosial di masyarakat.

Zaman telah berubah. Aturan-aturan lokal yang meliputi siga sudah bergeser. Kini siga telah difungsikan pula sebagai suvenir dan asesoris. Siapa saja dapat menggunakannya, untuk dipadupadankan dengan pakaian, tanpa memandang status atau kelas sosialnya lagi.

PASAPU MAKASSAR

Dari daerah Makassar terdapat ikat kepala yang dinamakan pasapu. Ikat kepala ini terbuat dari serat kayu atau lontar yang dipintal menjadi kain. Kemudian kain dibuat berbentuk segi empat dengan panjang kira-kira satu meter.

Awalnya pasapu digunakan oleh banyak orang, mulai dari tentara, orang yang sedang berburu, hingga kalangan kerajaan, termasuk Sultan Hasanuddin yang dikenal sebagai Pahlawan Nasional dari Makassar. Pasapu melambangkan kejantanan. Untuk itu, tutup kepala ini harus berdiri dengan baik. Karenanya sebelum digunakan, kain

ini harus diberi kanji terlebih dahulu agar dapat tegak di atas kepala.

Untuk membuat pasapu, kain dilipat secara diagonal sehingga berbentuk segitiga. Lalu bagian bawah segitiga dilipat kembali seperti membentuk kapal, dan diikatkan di kepala dengan pola ikatan berada di sebelah kanan kepala.

Seiring dengan berjalannya waktu, kaum laki-laki Makassar sudah jarang memakai pasapu. Orang-orang hanya memakainya dalam upacara-upacara adat, menyambut tamu-tamu dari luar daerah, dan pelengkap tarian tradisional.

TANJAK MELAYU

Tanjak adalah sebutan untuk penutup kepala yang digunakan kaum lelaki di tanah Melayu yang tersebar di sebagian daerah Sumatera dan Kalimantan Barat. Tanjak berupa kain yang dililitkan ke kepala. Tradisi mengenakan tanjak sudah berlangsung sejak zaman Kesultanan Melayu dulu. Semua kalangan dari rakyat jelata hingga kalangan raja-raja memakainya. Model tanjak sangat beragam. Model inilah menjadi pembeda status sosial pemakainya.

Paling tidak terdapat lebih dari 20 model tanjak, yang diberi nama sesuai dengan bentuk lipatannya. Antara lain dikenal dengan nama Elang Menyongsong Angin, Belalai Gajah, Setanjak Balung Raja, Sarang Kerengga, Pucuk Pisang, Buana, Elang Menyusur Angin, Elang Melayang, dan Cogan Daun Kopi.

Semakin indah model tanjak dan semakin banyak lipatan kainnya, berarti semakin tinggi kedudukan si pemakai. Untuk golongan bangsawan, kain tanjak dibuat dari bahan berkualitas terbaik, lalu bagian ujungnya dibuat dengan model meninggi dan diruncingkan, melambangkan derajat dan kekuasaan si pemakai. Kalangan raja-raja biasanya memakai tanjak “Dendam Tak Sudah.” Sedangkan tanjak untuk kalangan pendekar dibuat dengan ikatan yang lebih rendah dan rapi, seolah-olah mencerminkan kegagahannya.

KAIN BERANG MALUKU

Di Pulau Seram Provinsi Maluku ada sebuah tradisi. Setiap anak laki-laki yang sudah memasuki usia akil baligh, sekitar usia 15-17 tahun, diharuskan memakai kain berang di kepalanya, dengan cara diikatkan sehingga menutupi bagian atas kepala.

Berang berarti merah. Kain berang adalah kain berwarna merah. Kain ini dipakai sebagai penanda yang bersangkutan sudah menjadi lelaki dewasa dan akan dipakai terus, sepanjang hidupnya. Mengenakan ikat kepala kain berang merupakan kebanggaan dan melambangkan keberanian bagi yang memakainya. Dulu, kain berang wajib dipakai ketika pergi berperang. Sekarang lebih banyak dipakai dalam kegiatan-kegiatan adat.

Keharusan memakai kain berang ini, merupakan tradisi Suku Huaulu yang mendiami bagian utara Pulau Seram dan Suku Naulu di bagian selatan. Kedua suku ini sebetulnya masih bersaudara, sehingga adat istiadatnya hampir sama. Perbedaannya hanya pada cara memakai kain berang. Suku Huaulu memakainya dengan cara dibentuk bulat menyerupai kepala. Sedangkan di Suku Naulu, kain berang dibentuk hingga seolah-olah muncul 2 telinga yang lancip di bagian samping atas kepala. halo

INTERNIS

Pasapu Makassar.

Siga Kaili Palu. Tanjak Melayu Siak.

Tanjak Dendam Tak Sudah.

Page 71: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

JEDA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 71

Tak lengkap membahas penutup kepala tradisional tanpa menyebut blangkon. Penutup kepala khas tradisional Jawa ini masih lestari penggunaannya hingga sekarang. Di kota

maupun desa, banyak orang menggunakannya.

Blangkon merupakan penutup kepala yang dibuat dari batik. Konon awalnya penutup kepala ini berbentuk kain segi empat berukuran kurang lebih 105 x 105 cm. Seperti halnya udengatau iket, digunakan dengan cara dilipat dua menjadi segitiga dan kemudian dililitkan di kepala dengan aturan tertentu.

Ada cerita-cerita yang mengungkapkan bahwa terdapat pengaruh nilai-nilai Islam dalam pembuatan blangkon ini. Berkaitan dengan datangnya pedagang-pedagang dari Gujarat yang membawa agama Islam ke Tanah Jawa. Umumnya pegadang Gujarat menggunakan sorban yang dipakai dengan cara dililitkan ke kepala. Masyarakat Jawa terinspirasi menggenakan tutup kepala serupa itu.

Rupanya mengenakan iket dengan segala aturannya ternyata tidak mudah dan memakan waktu, sehingga muncul pemikiran untuk membuat penutup kepala yang lebih praktis, yang kemudian dinamakan blangkon. Kata blangkon sendiri berasal dari ‘blangko’yang berarti siap pakai. Jadi, sesuai dengan namanya, blangkon merupakan penutup kepala yang siap pakai.

Dahulu, blangkon hanya boleh dibuat oleh para seniman keraton dengan pakem (aturan) yang baku, yang memadukan keahlian dan keindahan. Semakin dibuat memenuhi pakem, maka blangkon itu akan semakin tinggi nilainya. Pakem ini bukan hanya dipatuhi oleh pembuatnya, juga oleh si pemakai.

SOLO DAN YOGYAKARTA

Secara garis besar terdapat dua jenis blangkon, yaitu blangkon Yogyakarta dan blangkon Solo. Blangkon Yogyakarta mempunyai mondolan (tonjolan) di bagian belakangnya. Dahulu banyak pria Jawa berambut panjang, sehingga rambut harus digelung terlebih dahulu sebelum ditutup dengan iket. Gelung rambut ini menonjol lalu disembunyikan dibawah iket.Dalam filosofi orang Jawa, rambut merepresentasikan perasaan. Rambut dibawah iket adalah perasaan yang disembunyikan, yang harus dijaga rapat-rapat. Menjaga perasaan sendiri demi menjaga perasaan orang lain. Termasuk menjaga aib dan keburukan saudara maupun orang lain. Filosofi masyarakat Jawa yang pandai menyimpan rahasia ini tercermin dari kesehariannya dalam bertutur kata dan bertingkah laku yang penuh dengan kiasan dan berbahasa halus.

Sedangan pada blangkon solo tidak terdapat mondolan. Bagian belakang blangkon Solo trepes atau gepeng. Asal mulanya karena waktu itu masyarakat Solo lebih dulu mengenal cukur rambut lantaran pengaruh Belanda. Dari Belanda Ini pula kaum laki-laki Solo mengenal jas yang bernama beskap. Kata beskap berasal dari beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan.

FILOSOFI BLANGKONPERPADUAN JAGAD ALIT & JAGAD GEDHE

Tanpa tonjolan di bagian belakang, maka dua pucuk helai kain di bagian belakang diikatkan ke bagian kanan dan kiri sehingga terlihat rapi. Ini melambangkan pertemuan jagad alitdan jagad gedhe. Dalam hal ini blangkon melambangkan jagad gedhe (Tuhan) dan kepala melambangkan jagad alit (manusia). Blangkonmelambangkan bahwa manusia membutuhkan kekuatan Tuhan yang Maha Kuasa dalam menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi. halo

INTERNIS

Page 72: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

JEDA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201872

Berkunjung ke Provinsi Sumatera Utara rasanya tidak sempurna kalau tidak mampir ke Danau Toba. Pesona keindahan alamnya

telah menjadikannya sebagai salah satu destinasi terfavorit di Indonesia. Apalagi sederet fasilitas penunjang telah tesedia di sana. Bahkan transportasi melalui udara pun sudah ada, yakni Bandara Silangit.

Ditilik dari sejarahnya menurut para geolog, Danau Toba terjadi akibat dari letusan dahsyat Gunung Toba yang terjadi sekitar 74.000 tahun lalu. Aktivitas tektoniknya selama ribuan tahun telah membentuknya menjadi danau dengan bentuk tak bertauran. Gerakan magma dari

sisa letusan terakhir—Gunung Toba telah meletus sebanyak empat kali—dan gerakan lempeng Indo Australia telah mendorong naiknya perut bumi dari dalam danau 33.000 tahun lalu. Daratan baru seluas 640 kilometer persegi inilah yang kemudian disebut Pulau Samosir. Pulau di tengah danau seluas 1.130 km2 tersebut.

Berada di ketinggian sekitar 1 kilometer di atas permukaan laut dan dikelilingi Pegunungan Bukit Barisan membuat hawa Danau Toba begitu sejuk dan tentu saja indah. Banyak pohon enau dan pinus yang tumbuh subur di sekelilingnya semakin menambah keeksotisan danau ini. Kemana saja mata memandang, yang terlihat adalah keindahan lukisan Tuhan yang luar biasa.

Bahkan saat kabut tebal menyelimuti permukaan danau.

Pendeknya, Danau Toba merupakan tempat yang cocok untuk bersantai dan menikmati pemandangan bersama keluarga. Dijamin, rasa lelah dan penat karena padatnya pekerjaan sehari-hari, akan langsung hilang begitu menyambangi tempat yang menawan ini. Ada banyak tempat favorit yang menjadi tujuan para wisatawan di sini.

PULAU SAMOSIR

Samosir merupakan pulau yang terletak di tengah Danau Toba yang luasnya hampir sama dengan Singapura. Bedanya dengan Singapura, pulau ini menawarkan berbagai

Menikmati Keajaiban dan Keindahan Danau Toba

Danau Toba, tempat berpadunya keindahan alam dan keelokan budaya. Maha karya Sang Pencipta yang tiada duanya. Siapapun pastilah terpesona.

Foto: http://www.dasiatravels.com

Page 73: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

JEDA

Edisi XXIX, September 2018 // HALO INTERNIS 73

macam pesona alam yang menakjubkan. Kita bisa menemukan keindahan sawah bertingkat seperti yang terdapat di Bali. Ada juga beberapa air terjun yang perlu dikunjungi. Seperti Air Terjun Simangande dan Pangaribuan yang merupakan air terjun terbesar di Pulau Samosir. Nah Air Terjun Pangaribuan inilah yang diyakini sebagai tempat diturunkannya Raja Batak.

Di Samosir juga terdapat danau. Bahkan ada dua, Danau Aek Natonang dan Danau Sidihoni. Makanya kedua danau ini sering disebut sebagai “danau di atas danau”, yakni danau yang berada Pulau Samosir, yang berada di tengah Danau Toba.

Selain wisata alam, di Samosir ini kita juga

bisa mengenal dan menikmati kebudayaan dan adat orang Batak di Pulau Samosir. Kita bisa melihat rumah adatnya, bisa belajar mengenai sejarah Batak dan berbagai kebudayaannya yang sangat menarik, khususnya Batak Toba. Di pulau ini juga ada makam Raja Sidabutar, yang usianya sudah 500 tahun. Kalau beruntung, kita juga bisa ikut menari bersama penduduk setempat saat ada pertunjukan Sigale-gale (patung yang bisa menari). Tidak perlu khawatir, penduduk setempat selalu ramah dan siap menyambut kedatangan kita.

Untuk menikmati Samosir dengan berbagai keindahannya pun semakin mudah dengan banyaknya penginapan, mulai dari

resor, hotel, dan penginapan biasa. Anda bisa menemukan banyak penginapan di sepanjang daerah Tuktuk dan Ambarita yang tidak jauh dari Pelabuhan Tomok. Di sini kita bisa menginap sambil menikmati keindahan alam Danau Toba dan Pulau Samosir.

Untuk mencapai Samosir bisa melalui pelabuhan di Parapat yaitu Pelabuhan Ajibata. Ada beberapa kapal feri yang siap mengantar penduduk setempat maupun wisatawan menuju Pelabuhan Tomok di Pulau Samosir. Bahkan tersedia juga beberapa feri pengangkut kendaraan seperti mobil dan motor menuju Samosir. Lama perjalanan feri menuju Pulau Samosir sekitar 30 menit.

Pulau Samosir

Air terjun Sipiso-piso.

Foto: https://depositphotos.com

Page 74: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

JEDA

HALO INTERNIS // Edisi XXIX, September 201874

PULAU SIBANDANG

Pulau Sibandang merupakan pulau terbesar kedua yang ada di danau Toba. Pulau ini didiami sekitar 800 kepala keluarga yang berasal dari Marga Simare-mare, Marga Siregar, Marga Oppusunggu, dan Marga Rajagukguk.

Orang banyak menyebut Sibandang ini sebagai pulau Mangga. Pulau penghasil buah mangga. Memang, hampir seluruh permukaan pulau ini ditumbuhi pohon mangga. Kemana pergi di pulau ini kita menemukan pohon mangga, dan pastinya rasanya manis.

Keelokan alam pulau ini juga menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Untuk menikmatinya kita bisa mengelilingi pulai ini, bisa dengan sepeda motor atau mobil. Biasanya sekali berkeliling akan memakan waktu sekitar 1 jam. Hanya saja perlu berhati-haii berkendara di sana, mengingat kondisi jalan yang berbukit serta badan jalan yang kecil. Jangan sampai hilang fokus ketika berkendara karena saking terpesonanya keindahan Pulau Sibandang.

Untuk mencapai Pulau Sibandang, kita bisa menyeberang dari pelabuhan Muara dengan feri kecil yang dapat berangkat setiap saat hingga pukul 22.00 WIB. Lama perjalanan sekitar 15 menit. Secara administratif Pulau Sibandang berada Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Bisa juga berangkat melalui Baligeatau dari Pulau Samosir.

TONGGING

Bagi yang suka berpetualang, Danau Toba juga menawarkan destinasi yang sangat menantang. Tetapi anda bisa berpetualang, menguras tenaga menjelajahi alam pengunungan. Tongging ini berada pada ketinggian 1.400 meter, sehingga cukup menantang bagi wisatawan. Bagi yang memiliki jiwa petualang pasti tidak melewatkan kesempatan ini.

Selama perjalanan ke Tongging, kita akan disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Dan ketika benar-benar berada di puncak Tongging, kita bisa benar benar menikmati pemandangan indah Danau Toba dari atas. Lekukan keindahan pulau Samosir dari ujung ke ujung, bisa dinikmati dari sini. Sungguh menakjubkan.

Mengunjungi Air Terjun Sipiso-piso juga merupakan kegiatan yang sangat direkomendasikan di Tongging. Sipiso-piso

• Panjangnya mencapai 87 kilometer dan lebarnya 27 kilometer.

• Toba merupakan danau vulkanik atau danau kawah terbesar di dunia.

• Merupakan danau terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.

• Jumlah air di Danau Toba cukup untuk menggenangi seluruh Kerajaan Inggris hingga setinggi kira-kira satu meter.

• Pulau Samosir di tengah Danau Toba memiliki luas 647 kilometer persegi yaitu hampir sama dengan Republik Singapura.

• Danau di atas danau terdapat di Pulau Samosir, karena memiliki dua buah danau di tengah-tengah pulau yang berada di tengah Danau Toba.

Bagi yang ingin merasakan pengalaman liburan dengan berbagai aktivitas seru, waktu yang tepat menurut .tripcanvas.

co adalah periode September – November.

Periode ini adalah waktu paling asyik untuk mengunjungi Danau Toba, karena di bulan-bulan ini biasanya diadakan Festival Danau Toba, sebuah eventtahunan yang menampilkan pertunjukan seni, musik dan olahraga tradisional khas Sumatera Utara. Di festival ini Anda juga dapat menyaksikan beberapa atraksi menarik, seperti kompetisi perahu naga, juga fashionshow.

Sementara bagi yang hanya hanya ingin menikmati liburan dengan rileks dan santai, bisa memilih di periode Mei – September. Periode ini merupakan musim kemarau. Ketika itu pemandangan di sana sedang cantik-cantiknya dan liburan kita tidak akan terganggu hujan. Bulan Mei bisa dibilang bulan terbaik mengingat suhu udaranya sangat pas: tidak terlalu menyengat juga tidak terlalu dingin. halo

INTERNIS

merupakan salah satu air terjun tertinggi di Indonesia dan juga ikon Provinsi Sumatera Utara. Lokasinya memang agak jauh, tetapi sayang sekali kalau tidak mengunjunginya. Memang kita bisa menikmati keindahannya dari jauh. Tetapi kalau bisa mendekati, apalagi bisa menikmati segar airnya, pasti akan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Kemudian kalau sudah puas menikmati Danau Toba dari atas, kita juga bisa menikmati air Danau Toba di sini. Kita bisa bermain dipinggirannya, menikati segar airnya. Kita juga bisa menyewa perahu untuk menjelajahi danau. Saatnya menikmati keelokan Danau Toba dari permukaannya.

FAKTA SEPUTAR DANAU TOBA

WAKTU YANG TEPAT BERWISATA

Tongging terkenal dengan pertaniannya. Ada banyak sawah dan juga peternakan ikan. Spesies ikan yang paling populer adalah ikan nila dan ikan mas. Sebagian besar masyarakat setempat mengolah ikan-ikan ini. Anda bisa bertemu petani ini di desa dan mereka akan dengan senang hari menyambutnya. halo

INTERNIS

Tampak Pulau Sibandang disaat senja.

Page 75: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang

Selamat ATAS TERPILIHNYA

PAPDI CABANG LAMPUNGSEBAGAI PENYELENGGARA

KONKER XV PAPDI TAHUN 2020&

Selamat ATAS TERPILIHNYA

PAPDI CABANG SEMARANGSEBAGAI PENYELENGGARA

KOPAPDI XVIII PAPDI TAHUN 2021

Page 76: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS PENYAKIT DALAM …pbpapdi.net/images/file_halo_internist/Halo_Internis_Edisi_29... · Lampung, Cabang Kupang, Cabang Jambi, Cabang Kepulauan Riau, Cabang