penuntun praktikum

Author: dariel-selvarajah

Post on 15-Oct-2015

133 views

Category:

Documents


3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    1/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    1

    VII. PENUNTUN PRAKTIKUM

    PRAKTIKUM ANATOMI (GUSPr.1)

    TATA TERTIBLABORATORIUM ANATOMI FK USU

    1. Setiap mahasiswa wajib memakai baju praktikum dan tanda pengenal, berpenampilanrapi dan sopan, serta menggunakan sepatu.

    2. Hadir tepat waktu dan pulang tepat waktu.3. Wajib membawa Atlas Anatomi.4. Sebelum masuk praktikum, mahasiswa wajib mempelajari topik yang akan

    dibicarakan.5. Selama praktikum berlangsung diwajibkan menjaga ketertiban dan ketentraman.6. Bagi yang tidak memenuhi aturan di atas akan diberikan sanksi sesuai ketentuan yang

    berlaku di Departemen Anatomi FK USU.

    Struktur anatomi ren (ginjal)

    Pelajarilah ren (ginjal); bentuknya, besarnya,letaknya retro peritoneal.

    Pelajarilah fascia renalis, capsula adiposa ren, capsula fibrosa ren, sinus renalisdengan pyelum

    Pelajarialah bagian-bagian polus superior, polus inferior, corpus renalis, hilus renalis,pyramid renalis, calyx mayor, calyx minor, lobus renalis dan lobulus renalis

    Perhatikanlah letak ginjal kanan dan kiri dan relasi masing-masing ginjal dengan organdisekitarnya

    Pelajarilah arteri renalis, vena renalis serta cabang-cabangnya

    Pelajarilah innervasi dan aliran lymph pada ginjal dan kemana alirannya

    Struktur anatomi ureter

    Pelajarilah ureter; bentuknya, panjangnya, diameternya, tempat-tempat mana saja bisaterjadi penyempitan ureter serta bagaimana jika terjadi penyempitan ureter

    Pelajarilah lapisan-lapisan ureter; tunica adventia, tunica muscularis, tunica mucosa

    Pelajarilah arah dan jalan ureter pars abdominalis : pars pelvina sampai vesica urinariaureter berjalan di atas sari arteri dan vena iliaca eksterna sebelum masuk ke pelvisminor

    Pelajarilah letak dan struktur pars pelvina ureteris pada pria dan wanita

    Pelajarilah vaskularisasi, innervasi ureter

    Struktur anatomi vesica urinaria

    Pelajarilah vesica urinaria; bentuknya, ukurannya, letaknya dan bagian-bagianya sertapermukaan luarnya

    Pelajarilah lapisan-lapisan vesica urinaris : tunica adventitia, tunica muscularis danmucosa

    Perhatikanlah permukaan dalam vesica urinaria : orificium ureteris interna dan trigonumvesicalis

    Pelajarilah arteri dan vena vesicalis

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    2/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    2

    Struktur anatomi urethra dan prostat

    Pelajarilah bentuk dan panjang urethra dan bagaimana membedakan urethra pada priadan wanita

    Pelajarilah bagian urethra pada laki-laki : pars prostatica, pars membranacea dan parsspongiosum serta muara-muara yang terdapat pada urethra pars prostatica

    Pelajarilah prostat; bentuknya, apa yang melewatinya dan bagaimana (apa saja yang

    ditimbulkannya) jika terjadi pembesaran prostat . Pelajarilah pola distribusi vascularisasi, innervasi dan aliran lymphe urethra

    Vaskularisasi, inervasi dan aliran lymph daerah panggul (pelvis)

    Pelajarilah a. iliaca communis, a. iliaca externa & hipogastrica beserta vena yangmengikutinya

    Perhatikanlah pola distribusi cabang hypogastrica menuju alat-alat dalam dan dindingpanggul.

    Pelajarilah daerah aliran-aliran vena hypogastrica

    Pelajarilah pola distribusi inervasi dari alat-alat dan bangunan didalam panggul dandinding panggul

    Perhatikanlah letak nodi lymphatici dan aliran didalam panggul beserta daerahalirannya

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    3/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    3

    PRAKTIKUM FISIKA (GUSPr.2)

    PENETAPAN MASSA JENIS ZAT CAIR DENGAN AREOMETER

    Tujuan :

    Penetapan secara langsung massa jenis berbagai-bagai zat cair misalnya air, larutanurine dan lain-lain.

    Alat-alat :- Areometer dengan pembagian skala- Gelas takar- Sendok dan pengaduk- Termometer

    Teori :Prinsip hukum Archimedes :- Sebuah benda yang dicelupkan kedalam zat cair akan mendapat tekanan keatas

    yang sama dengan berat zat cair yang dipindahkannya. Jadi akan berkurangberatnya sebesar berat zat cair yang dipindahkannya.

    - Suatu benda akan melayang dalam zat cair, bila berat zat cair yang didesaknyasama dengan berat benda itu sendiri, ini bisa terjadi bila massa jenis benda samadengan massa jenis zat cair tersebut.

    - Suatu benda akan tenggelam dalam zat cair, bila berat benda itu lebih besar darimassa jenis zat cair.

    - Suatu benda akan terapung dalam suatu zat cair, bila massa jenis benda lebih kecildari massa jenis zat cair, sehingga berarti juga berat zat cair yang dipindahkan samadengan berat benda seluruhnya. (Disini volume zat cair yang dipindahkan lebihkecil dari volume benda tersebut oleh karena tidak semua bagian benda tenggelam).

    Dalam hal ini tekanan ke bawah yang disebabkan oleh berat benda diimbangi olehtekanan keatas oleh zat cair yang dipindahkan oleh bagian yang tenggelam dari bendatersebut. Bila massa jenis zat cair makin besar maka makin sedikit bagian yangtenggelam dari benda itu. Prinsip inilah yang dipakai untuk areometer.

    Areometer adalah sebuah benda celup dari kaca yang mempunyai skala yang langsungdapat menunjukkan berapa massa jenis zat cair itu. Areometer ini merupakan sebuahtabung kaca yang mempunyai skala timah pemberat dibagian bawah sehingga titikberatnya terletak sangat rendah. Angka-angka skala ini makin kebawah makin besar,dan angka-angka dibuat sesuai dengan kebutuhannya.

    Misalnya areometer untuk pengukur massa jenis air, larutan garam, larutan gula, syrupkita pakai yang berskala 1,000 2,000 (gr/cm3). Untuk minyak tanah kita pakai yangberskala 0,700 1,000 (gr/cm3). Untuk zat cair yang mempunyai massa jenis diluarbatas-batas tersebut maka kita pakaiareometer yang berskala kira-kira sesuai denganmassa jenis zat cair tersebut.

    Pada percobaan ini juga harus kita perhatikan perubahan-perubahan massa jenissehubungan dengan perubahan temperaturnya. Sebagaimana kita ketahui bahwamassa jenis berbanding terbalik dengan temperatur atau dengan kata lain makin kecilmassa jenisnya.

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    4/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    4

    Ini dapat kita lihat dalam rumus :).1(

    )0()(

    00

    t

    CCt

    Selain itu harus diingat bahwa untuk air ada keistimewaannya yaitu apa yang disebut

    dengan anomali air. Yang dimaksud dengan anomali air ialah kelainan air dari sifat-sifat pemuaian yang terjadi pada temperatur 0 oC s/d 4 oC.

    Pada temperatur ini maka ia mempunyai sifat yang bertentangan dengan hukumpemuaian. Disini bila air dipanaskan dari 0oC 4oC , maka volumenya bukanbertambah besar melainkan berkurang sedang massa jenisnya bertambah besar. Bila

    didinginkan 4oC 0oC volumenya bertambah besar dan massa jenisnya makin kecil.Jadi disini seolah-olah massa jenis berbanding lurus dengan temperatur, lihat tabelmassa jenis air pada temperatur. Jadi dapatlah kita simpulkan bahwa :

    Pada 0o C ; volume air besar dan massa jenisnya kecil.Pada 4o C; volume air paling kecil dan massa jenisnya paling besar.

    Dalam pembacaan harus yang kita baca adalah permukaan yang paling rendah dariminiskus. Ini disebabkan permukaan zat cair tidak rata melainkan mempunyai

    kecekungan atau kecembungan yang kita sebut dengan miniskus.Cekung atau cembungnya suatu miniskus tergantung pada adhesi dan kohesinya.Bila adhesi lebih besar dari kohesi maka permukaannya cekung.Bila kohesi lebih besar dari adhesi maka permukaannya cembung.

    Kohesi adalah gaya tarik menarik dari molekul - molekul sejenis(disini gaya tarik menarik dari antaran molekul - molekul air itu sendiri).

    Adhesi adalah gaya tarik menarik dari molekul-molekul yang berbeda (disini gaya tarikmenarik antara molekul-molekul air dan molekul-molekul dinding tabung). Juga dalammembaca juga supaya jangan terjadi kesalahan paralax ; dan untuk itupembacaan harus dilakukan dalam bidang horizontal.

    Cara :Buat dulu larutan yang diminta dan masukkan kedalam gelas takar. Dalammenuangkan zat cair dari suatu tabung ketabung lain harus perlahan-lahan melaluidinding tabung, supaya jangan terjadi gelembung-gelembung udara yang akanmengganggu pembacaan kita.

    Masukkan areometer dalam gelas takar yang telah berisi zat cair yang akan diukurmassa jenisnya dengan hati-hati, supaya kwikreservoirnya tidak terhempas keraskedasar tabung. Bacalah pembagian skala seteliti mungkin dengan melihat dalambidang horizontal melalui miniskusnya.

    Angka ini merupakan massa jenis pada temperatur yang dapat kita baca denganmemasukkan termometer kecairan tiap-tiap saat sesudah membaca areometer. Inikita lakukan beberapa kali untuk tiap-tiap larutan/ cairan.

    Catatan :

    Kadang-kadang (rho) dinyatakan dalam derajat Baume dan ukuran ini juga terdapatpada beberapa macam areometer. Lakukanlah juga pengukuran memakai areometerbaume tiap-tiap selesai mengukur dengan areometer biasa pada larutan-larutan gula,larutan garam dan lain-lain.

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    5/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    5

    Hubungan Baume massa jenis yang didapat dengan areometer biasa dapat lihat dalamtabel :

    Baume = 0o 13o 24o 33o 41o 48o

    (rho) = 1,0 1,1 1,2 1,3 1,4 1,5

    Pertanyaan :

    1. Bagaimana kapal yang terbuat dari besi dapat terapung ?2. Pada benda melayang,terapung dan tengelam berlakukah gaya kebawah samadengan gaya keatas yang disebabkan oleh zat cair yang dipindahkan ? Terangkan !3. Diluar angkasa pada daerah tanpa bobot, berapakah massa jenis air dan massa jenisminyak ?

    KEPUSTAKAAN:

    1. Sears. F. W ; Zemansky M.V Saduran : Sodryanto, IR

    2. Cammeron, SR ; Skofronick, JG, Medical Physics ; John Wiley & Sons, New York1978.

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    6/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    6

    PRAKTIKUM HISTOLOGI (GUSPr.3)

    TATA TERTIB di LABORATURIUM HISTOLOGI

    FAKULTAS KEDOKTERAN USU

    1. Setiap mahasiswa wajib memakai baju praktikum

    2. Setiap mahasiswa wajib berpenampilan rapi dan sopan, dan menggunakan sepatu3. Setiap mahasiswa wajib mempelajari materi praktikum sebelum praktikum dan

    membawa alatalat yang diperlukan4. Setiap mahasiswa wajib hadir tepat waktu dan pulang tepat waktu5. Selama praktikum berlangsung diwajibkan menjaga ketertiban, ketentraman, bekerja

    efisien serta tidak mengganggu rekan praktikum6. Sebelum praktikum dimulai, periksa dahulu kelengkapan mikroskop dan slide

    histology, dan pada akhir praktikum dikembalikan dalam kondisi seperti semula7. Usahakan hadir setiap jam praktikum. Apabila ada halangan yang terpaksa, laporkan

    kepada pegawai laboratorium. Pekerjaan pada hari itu harus diselesaikan padakesempatan lain

    8. Bagi mahasiswa yang sudah menyelesaikan praktikum dengan baik akan mengikuti

    ujian praktikum pada akhir blok

    PRAKTIKUMURINARY TRACT

    TUJUAN PRAKTIKUM : Mengamati struktur saluran kemih.Sediaan jaringan :

    No. Nama Organ Kode Sediaan1.

    KidneyUS1

    2.Ureter

    US2

    3.Urinary bladder

    US3

    4.Urethra

    MRS5

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    7/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    7

    Gambar 1Kidney (US-1)

    10 x 10 10 x 40

    Keterangan Gambar1. ___________________________ 4. ___________________________

    2. ___________________________ 5. ___________________________3. ___________________________ 6. ___________________________

    Deskripsi gambar 1

    No. Perihal Deskripsi1. Struktur renal corpuscle

    2. Struktur tubulus kontortusproksimal

    3. Struktur ansa Henle

    4. Strukturtubulus kontortus distal

    5.Struktur makula densa

    6. Struktur apparatusjukstaglomerular

    7. Struktur duktus koligens

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    8/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    8

    Gambar 2Ureter (US-2)

    10 x 10 10 x 40

    Keterangan Gambar1. ___________________________ 4. ___________________________2. ___________________________ 5. ___________________________3. ___________________________ 6. ___________________________

    Deskripsi gambar 2

    No. Perihal Deskripsi1. Jenis epitel mukosa

    2. Struktur lamina propria

    3. Bentuk lumen

    4. Struktur lapisan muskular

    5. Struktur adventitia

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    9/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    9

    Gambar 3Urinary Bladder (US-3)

    10 x 10 10 x 40

    Keterangan Gambar1. ___________________________ 4. ___________________________2. ___________________________ 5. ___________________________3. ___________________________ 6. ___________________________

    Deskripsi gambar 3No. Perihal Deskripsi1. Jenis epitel mukosa

    2. Struktur lamina propria

    3. Struktur lapisan muskular

    4. Struktur adventitia

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    10/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    10

    Gambar 4Urethra (MRS-5)

    10 x 10 10 x 40

    Keterangan Gambar1. ___________________________ 4. ___________________________2. ___________________________ 5. ___________________________3. ___________________________ 6. ___________________________

    Deskripsi gambar 4

    No. Perihal Deskripsi1. Jenis epitel mukosa 1.

    2.

    3.2. Struktur lamina propria

    3. Struktur lapisan muskular

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    11/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    11

    PRAKTIKUM BIOKIMIA (GUSPr.4)PEMERIKSAAN DARAH DALAM URIN.

    Pada keadaan normal di dalam urin tidak dijumpai adanya darah.Pada keadaan patologis misalnya adanya glomerulonefritis bisa dijumpai adanya darahdalam urin (hematuria).

    Reaksi Heller

    Kedalam 10 ml urine dimasukan 2 ml NaOH 10 %. Campuran dipanaskan hinggamendidih dan didiamkan hingga 10 menit, kemudian endapan diperiksa. Jika terdapatdarah dalam urine yang diperiksa tersebut, maka endapan akan berwarna coklat-merah.

    Jika urin mengandung gula atau zat warna empedu maka ketika dipanaskan, juga akanterjadi warna coklat.

    Pada pasien yang menggunakan obat-obatan seperti rifampicin juga dapat terjadi hasilyang false positif.

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    12/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    12

    PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK (GUSPr.5)U R I N A L I S A

    Diperhatikan beberapa persyaratan berikut : Penampungan Urin :

    - Wadah penampung- Cara pengambilan contoh urin :

    a. Kateterisasib. Urin porsi tengahc. Punksi suprapubik

    - Macam contoh urin : Urin sewaktu, urin pagi, urin post prandial, urin 24 jam, urin 12jam, urin 4 porsi, urin 3 gelas, atau urin 2 gelas.

    Pengawet Urin : Toluen , Timol, HCl pekat, Asam Asetat glasial,Asam Sulfat pekat, Formaldehid 40 %.

    PEMERIKSAAN URIN RUTIN

    Makroskopis : Warna, kejernihan, Bau, pH ( carik celup, pH-meter, kertas Nitrazin ).Berat Jenis ( Urinometer, Refraktometer)

    Protein :Semikwantitatif : a. Pemanasan dengan asam asetat.

    b. Asam Sulfosalisilatc. Carik celup

    Kwantitatif : - Test ESBAH atau sulfosalisilit acid

    baca dengan Spektrophotometer

    pH Urin orang dewasa normal : 4,6 - 8, 0pH Urin 24 jam biasanya asam (+6 ). Hal ini disebabkan karena Zat-zat sisametabolisme badan yang biasanya bersifat asamCara penentuan1. Kertas Nitrasin yang mempunyai skala warna untuk pembacaan

    pH ( antara 4,5 - 7,5 )2. Carik Celup, pH adalah salah satu parameter yang diukur.

    Catatan

    Penentuan pH urin berguna pada gangguan cairan badan dan elektrolit serta padainfeksi saluran kemih yang disebabkan oleh kuman yang mengurai ureum. Padakelainan cairan badan/elektrolit disamping penentuan pH perlu juga diperiksa :TITRASI KEASAMAN URIN ( Titrable acidity ) per 24 jamNilai normal : 100 - 600 ml asam 0,1 N.

    Urin asamPada keadaan puasa.Diet kadar protein tinggi.Kuman yang membentuk asam.

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    13/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    13

    Asidosis metabolik dan respirasi.Obat yang digunakan dalam rangka pencegahan pembentukan batu ginjal kalsiumcarbonat dan kalsium fosfat.

    Urin LindiDiet sayur mayur ( vegetarian )

    Alkalosis respirasi dan metabolik.

    Kuman yang mengurai ureum dan membentuk amonia.Obat yang digunakan untuk mencegah pembentukan batu ginjal asam urat dan aoksalat.

    BERAT JENISNilai normal ( orang dewasa ) : 1,001 - 1,035

    Cara penentuan :a. UrinometerKoreksi BJ terhadap adanya glukosa : 0,001 per 3 g/dl glukosa. Koreksi terhadapproteinuria : 0,001 per 4 g /dl protein.

    PelaporanPada keadaan normal BJ urin berhubungan erat dengan diuresis. Lebih deras diuresislebih rendah BJ dan sebaliknya. Berat Jenis urin sewaktu adalah 1,025 atau lebih tinggisedikit memberi kesan faal ginjal baik (apabila protein negatif reduksi negatif dansedimen urin normal ).Urin dengan BJ menetap pada 1,010 atau sekitar angka ini (isosthenuria ) memberipetunjuk faal ginjal buruk, misalnya pada stadium akhir penyakit glomerulo-nefritiskronik.

    b. RefraktometerRefraktometer adalah alat mengukur BJ secara tidak langsung (cara optik ). Cara iniberdasarkan hubungan langsung antara total solute dalam urin dan indeks refraktif.

    KeuntunganCara penentuan mudah, tepat dan cepat. Menggunakan hanya setetes urin. Alat dapatdilengkapi dengan konpensasi perubahan suhu secara otomatik.

    Alat ini biasanya kuat dan tidak memerlukan persiapan sebelum digunakan.Harga alat refraktometer jauh lebih mahal dari pada alat urinometer.

    P R O T E I NNilai normal kadar urin orang dewasa < 150 mg/24 jam.Pada pemeriksaan rutin akan memberikan hasil negatif (-). Apabila positif(> 150 mg ) = PROTEINURIA.

    Nama ini lebih tepat dari pada albuminuria karena di dalam urin bukan semata - mataalbumin.Patogenesis proteinuriaProteinuria dapat terjadi karena kelainan permeabilitas glomerulus sehingga proteinkeluar dalam filtrat glomerulus ( Glomerular proteinuria ). Gangguan reabsorbsi proteinoleh tubuli ginjal ( Tubular proteinuria).

    Apabila permeabilitas glomerulus normal, biasanya proteinuria sangat ringan dankebanyakan terdiri dari alfa2 dan beta globulin, terutama beta2 mikroglobulin.Cara-cara penentuanSemikuantitatif : a. pemanasan dengan asam asetat

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    14/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    14

    b. asam sulfosalisilatc. carik celup

    Kuantitatif : test ESBAH atau asam Sulfosalisilat dibaca denganSpektrophotometer

    a. Pemanasan dengan asam asetat

    1. Urin disentrifus atau disaring apabila keruh2. Tabung reaksi pyrex diisi dengan urin sampai 3/4 penuh3. Bagian atas terisi urin dipanaskan dalam api bunsen hingga mendidih4. Bubuhi 3-5 tetes asam asetat ( 3-10% )

    Kekeruhan karena karbonat atau fosfat akan menghilang setelahpemberian asam asetat sedangkan kekeruhan karena protein akan lebihnyata. Urin yang berada di bagian bawah dari tabung dipergunakansebagai perbandingan atau bandingkan dengan urin yang tidakdipanaskan

    Pelaporan

    ----------------------------------------------------------------------------------------------Flokulasi Hasil g / liter-----------------------------------------------------------------------------------------------Samar - samar ( mengawan ) 1 + < 1Sedikit dengan endapan halus ( bintik ) 2 + 1 - 3Sedang dengan endapan jelas ( keping ) 3 + 3 - 5Padat dengan endapan kasar 4 + > 5( langsung mengendap )

    b. Asam Sulfosalisilat1. Ke dalam 2 ml urin tabung reaksi ditambahkan 8 tetes larutan asam sulfosalisilat20 % kemudian kocok.

    2. Adanya kekeruhan / endapan yang timbul diperhatikan dan dibandingkan dengan2 ml urin dalam tabung lain.

    PelaporanBila ke dua tabung tidak berbeda kejernihannya, maka hasilnya negatif.Bila timbul kekeruhan, test perlu dilanjutkan dengan pemanasan sampai mendidih,kemudian didinginkan kembali dengan air mengalir. Bila kekeruhan tetap ada berartihasilnya positif.Jika kekeruhan menghilang pada pemanasan, tetapi muncul kembali setelah dingin,mungkin disebabkan adanya protein Bence Jones, perlu diselidiki lebih lanjut.

    c. Carik celup

    Prinsip pemeriksaan protein pada carik celup ( strip ) berdasarkan fenomena indikatortertentu memberikan warna yang berbeda pada cairan yang bebas protein dengan yangmengandung protein. Derajatperubahan warna tergantung kadar protein dalam cairan sehingga perubahan warna itumenjadi ukuran semikuantitatif.

    Perhatikan saat pembacaan carik celup harus sesuai dengan petunjuk pabrik pembuatcarik celup. Pemeriksaan carik celup hanya sensitif terhadap albumin saja. Sehinggasering terjadi perbedaan hasil antara test kekeruhan dengan carik celup. Globulin -globulin termasuk protein Bence Jones tidak dapat dinyatakan oleh test carik celup.

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    15/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    15

    G L U K O S A

    Penetapan adanya Glukosa dalam urin dapat dilakukan dengan berbagai cara yangberbeda - beda azasnya. Cara yang tidak spesifik adalah menggunakan sifat glukosa

    sebagai zat pereduksi.Tes Benedict dan Fehling adalah berdasarkan reduksi kupri sulfat. Umumnya zatpereduksi lain dalam urin tidak mengganggu tes ini.Protein bila dalam jumlah besar dalam urin dapat dihilangkan dengan cara pemanasan,kemudian disaring.Cara spesifik untuk penetapan glukosuria, yaitu dengan menggunakan enzym glukosaoksidase yang membuat reaksi sehingga terjadi perubahan warna.

    TEST SEMIKUANTITATIF

    a. Cara BENEDICT

    ReagensiaCu SO4.5H2O 17,3 gNa- atau K- sitrat 173,0 gNa-karbonat kristal 20 g(Atau na-karbonat anhydrosus) 10 g

    Air suling hingga 1000 g

    Cara pembuatan reagensiaSitrat dan karbonat dilarutkan dalam lebih kurang 700 ml air suling dengan bantuanpemanasan,kemudian disaring.Larutkan kupri sulfat dalam lebih kurang 100 ml air sulingdan campur perlahan-lahan dengan larutan tersebut diatas.Dinginkan dan tambah airsuling hingga menjadi 1 liter.

    Reagensia dapat disimpan sampai bertahun-tahun.

    Cara pemeriksaan1. Reagensia Benedict 2,5 ml dibubuhi 4 tetes urin.2. Letakkan dalam waterbath ( 100 c ) dan biarkan mendidih satu menit. Dapat jugadipanaskan langsung di atas api dan mendidih selama 1 menit. Untuk menghindarkanadanya positif palsu jangan dibiarkan mendidih lebih dari satu menit.b. Cara FEHLINGReagensiaFehling A : CuSO4 36,64 g

    Air suling hingga 100 mlFehling B : Garam Seignette 173 g

    1 N NaOH 100 mlAir suling hingga 500 ml

    Cara Pemeriksaan1. Reagensia Fehling A dan B dalam jumlah yang sama dicampur dalam

    tabung.2. Ambil 1 ml dari campuran tersebut dalam tabung reaksi lain dan bubuhi

    urin sebanyak 0,25 ml. Perbandingan jumlah reagens terhadap urin adalah4 banding 1.

    3. Campur dan panaskan di atas api hingga mendidih sambil

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    16/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    16

    menggoyangkan tabung perlahan - lahan ( dalam waterbath seperti padatest Benedict )

    Pelaporan-----------------------------------------------------------------------------------------------Hasil warna Kadar Glukosa-----------------------------------------------------------------------------------------------

    Negatif Biru, tidak ada perubahan < 0,2 g / dl1 + Hijau, Kuning hijau < 0,5 g / dl2 + Kuning 0,5 - 1,0 g / dl3 + Kuning Kemerahan 1,0 - 2,0 g / dl4 + Merah batu bata > 2 g / dl

    Diantara reagensia yang mengandung garam kupri dalam penentuan glukosa dalamurin, reagensia Benedict merupakan yang terbaik. Walaupun demikian perlu diingatreaksi reduksi tidak spesifik untuk glukosa. Monosakharida lain, sepertigalaktosa,fruktosa, ataupun disakharida seperti laktosa.

    Beberapa zat bukan glukosa seperti asam homogentisat, alkapton, asam salisilat,

    formalin, glukoronat, vitamin C dosis tinggi dapat mengadakan reduksi, sehinggamemberikan reaksi positif palsu.

    c. Cara Carik CelupBerdasarkan enzim glukosa oksidase,cara ini lebih sensitif dan spesifik.Sensitivitas cara carik celup 0,1 g/dl sedangkan tes reduksi ( Benedict dan Fehling ) 0,2g/dl. Cara pemeriksaan harus mengikuti petunjuk dari pabrik yang membuatnya.Walaupun test ini spesifik dan hanya membutuhkan waktu singkat akan tetapi jugamempunyai beberapa kelemahan seperti hasil negatif palsu bila urin mengandung zatpereduksi seperti vitamin C,keton dan asam homogentisat.

    TEST GLUKOSA KUANTITATIF

    A. Cara BENEDICTB. Menggunakan alat POLARIMETER

    A. Cara BENEDICT kuantitatifReagensia

    Cu SO4.5aq 18 g

    Na2CO3.0aq 100 g

    Atau Na2CO3.10 aq 200 g

    Na-Sitrat 200 g

    K-rhodanida(K-Sulfosianat) 125 g

    Lar.K-Ferrosianida 5 % 5 ml

    Aquadest.ad 1000ml

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    17/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    17

    Sebelum dipergunakan reagensia ini diuji dengan larutan glukosa yang diketahuikadarnya.

    Cara pemeriksaan

    1. Masukan 5,0 reagent ke tabung reaksi lebar (diameter + 4cm)2. Tambahkan + 1-2 g Na-karbonat dan butir kaca.3. Panaskan diatas api kecil hingga mendidih sambil menggoyangkan.

    4. Teteskan urin dengan pipet 1 ml yang bersksls 0,01 ml cairan harus mendidih.

    5. Pada saat warna biru mulai menghilang, penambahan urin harus diperlambat detiktiap tetes.

    6. Titrasi selesai apabila warna biru tidak tampak lagi.

    Apabila dipakai kurang dari 1 ml urin maka tes sebaiknya diulang dengan mengencerkanurin 5x dengan air suling (tiap 5,0 ml reagensia direduksi oleh 0,01 glukosa).

    U R O B I L I N

    AsasUrobilinogen dalam urin yang baru dikemihkan dioksidasi oleh larutan lugol menjadiurobilin. Reagens Schlesinger bereaksi dengan urobilin, memberikan fluoresensi hijau .

    Cara SchlesingerReagensia Schlesinger : Zinc asetat jenuh dalam alcohol 95 %

    Cara pemeriksaan :1. Kedalam 2-3 ml urin dibubuhi beberapa (2-4) tetes larutan lugol,campur dan

    diamkan selama lebih kurang 5 menit.2. Tambahkan reagens Schlesinger (jumlah sama banyak dengan jumlah urin),

    campur dan saring.3. Perhatikan adanya fluoresensi hijau pada filtrat dibawah cahaya terang,latar

    belakang hitam.

    PelaporanIntensitas Fluoresensi dilaporkan sebagai :Negatif,1+,2+,3+.

    CatatanUrin yang sebelum diperiksa sudah berfluoresensi tidak dapat diperiksa dengan caraini,test urobilin diganti dengan test urobilinogen dengan menggunakan urin segar.Jika terdapat bilirubin,maka urin terlebih dahulu harus ditambahkan kalsium hidroksidapadat,kemudian disaring.

    Filtratnya dipakai untuk percobaan.

    U R O B I L I N O G E N

    Penentuan kualitatif dan semi kualitatif menurut WALLACE dan DIAMOND.

    Urobilinogen yang tidak berwarna membentuk warna merah setelah dibubuhi reagensErlich( Benzahldehyde )

    Bahan pemeriksaan

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    18/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    18

    Harus urin segar,karena bila didiamkan sebagian akan berubah menjadi urobilin olehpengaruh cahaya.Untuk urin 24 jam perubahan untuk menjadi urobilin dapat dicegahdengan penampungan dalam botol berwarna yang dibubuhi 5 g anhydrous Na-Carbonat.

    Reagensia EHRLICH

    p-dimethyl-aminobenzaldehyde 4 g

    HCl pekat 100 ml

    Air suling 100 ml

    Cara pemeriksaan

    1 . Kedalam 10 ml urin dalam tabung dibubuhi 1 ml reagens Ehrlich,campur dandiamkan 10 menit.

    2 . Perhatikan perubahan warna.

    3 . Melihat dari atas tabung reaksi yang diletakan pada posisi vertical dengan

    sepotong kertas putih dibawahnya.

    Pelaporan

    Pada keadaan normal tidak timbul warna,merah jambu samara-samar (negatif atau 1+).Bila tampak warna merah tua lanjutkan pemeriksaan dengan mengencerkan urin secaraberkala 10x,20x,30x dan seterusnya,dan dilakukan lagi pemeriksaan menurut Wallacedan Diamond seperti diatas.

    Laporkan hasil pengenceran tertinggi dimana urobilinogen masih positif, misalnya 1 : 50positif, 1 : 60 negatif.

    Nilai Normal

    Pada keadaan normal keadaan tertinggi yang meraih positif adalah 1 : 30

    Meninggi apabila hasil 1 : 40 keatas.

    Hasil positif palsu

    Obat pyridium bereaksi dengan reagens EHRLICH ( obat ini memberikan warna merahkepada urin )

    Porfobilinogen ,indol dan bilirubin bereaksi dengan reagens Ehrlich, memberikan warna

    masing-masing merah terang,merah,hijau.Formaldehid memberikan warna kuning.

    B I L I R U B I NA. Percobaan BusaDapat dilakukan disamping tempat tidur, akan tetapi test ini kurang sensitif.

    Cara pemeriksaan

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    19/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    19

    1. Tabung reaksi diisi setengah penuh dengan urin dan diberi penutup, kemudiankocok kuat - kuat.

    2. Perhatikan warna busa, apabila busa berwarna kuning, kemungkinan besarterdapat bilirubinuria dan test ini dilaporkan positif.

    Positif palsuObat - obatan pyridium, actiflavine dapat membrikan hasil positif palsuB. Percobaan Harrison

    AzasBilirubin dalam urin diendapkan oleh Barium khlorida dan dipekatkan pada kertas kering.Reagens Fouchet akan memberikan warna hijau pada biliverdin yang timbul karenaoksidasi bilirubin.

    Reagensia FouchetAsam trikiorasetat 25 gAir suling 100 mlCampur kemudian tambahkan 10 ml larutan ferriklorida 10 %.

    Cara pemeriksaan

    1. Ke dalam 5 ml urin ditambahkan 5 ml larutan Barium chlorida 10 % kemudiandisaring.

    2. Endapan yang melekat pada kertas saring dikeringkan.3. Reagens Fouchet diteteskan kepada kertas saring yang mengandung endapan

    tersebut.4. Perhatikan timbulnya warna hijau.

    PelaporanDengan Reagens Fouchet bilirubin dioksidasi menjadi biliverdin yang berwarna hijau,tetapi disamping biliverdin mungkin sekali terjadi hasil oksidasi lain seperti bilisianinberwarna biru atau cholestelin berwarna kuning. Maka hanya warna hijaulah yangdianggap positif. Perbedaan konsentrasi dapat dilaporkan dengan negatif, 1+, 2+

    C.Cara Carik Celup

    Reaksi diasotisasi antara bilirubin dalam urin dengan senyawa diaso pada carik celup.Warna yang terjadi ditentukan oleh jenis senyawa dengan diaso yang terdapat dalamcarik celup, sedangkan intensitasnya dapat menunjukkan banyaknya bilirubin secaraterbatas.Harus memakai urin segar dan ikuti petunjuk cara pemeriksaan dari pabrik pembuatreagen carik celup.

    UNSUR - UNSUR SEDIMEN

    A. ORGANIK1. Leukosit < 5/LPB2. Eritrosit < 3/LPB3. Silinder (=torak) < 2/LPK

    Hialin, terdiri dari protein saja.Bergranula, terdiri dari protein dan sel epitel.Lilin (wary) biasanya pada amiloidosis.Lemak, mengandung butir - butir lemak. Berisi sel darah : Eritrosit, leokosit.

    4. Sel epitel5. Benda lemak oval : sel epitel berisi butir lemak

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    20/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    20

    6. Silindroid, berekol, causa : iritasi ginjal.7. Potongan jaringan.8. Benang lendir=mucoprotein.9. Parasit, antara lain trichomonas vaginalis.10.Kuman, tidak ada arti bila tempat penampung tidak steril.

    B. NON ORGANIK

    Kristal : pada keadaan normal tidak banyak manfaat : urat, kalsium oksalat, hipurat,ammonium magnesium fosfat, kalsium karbonat.

    Amorf : biasanya urat pada urin asam, fosfat pada urin lindi.Kristal pada keadaan patologik : sistinuria.( dalam urin ada kristal sistin ). Kristal berasaldari obat misalnya sulfa.Kristal berasal dari makanan misalnya jengkol.

    SEDIMEN URIN

    AsasEndapan urin yang diperoleh setelah dipusing diperiksa dibawah mikroskop dan dihitungunsur sel dan silinder.Sebaiknya digunakan urin yang baru dikemihkan (segar) untuk menghindarkanperubahan morfologi unsur sedimen.Pada urin dengan berat jenis

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    21/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    21

    Untuk dapat melihat lebih jelas sedimen urin rutin atau untuk mencari glitter cells(netropil segmen yang berasal dari tubulas ginjal) maka dapat dipergunakan pewarnasedimen Sternheimer-Malbin.

    ReagensiaA. Metilviolet 3 g

    20 ml Alkohol 95 %

    NH4 -oksalat 0,8 gAir suling ad 80 ml

    B. Safranin 0,25 g10 ml Alkohol 95 %

    Air suling ad 100 ml

    Campur 3 ml larutan A dengan 97 ml larutan B, saring sebelum digunakan. Larutan kerjaini hanya tahan selama 1 hari.

    Cara pemakaianDengan menggunakan pipet Pasteur teteskan 1-2 tetes larutan Sternheimer. Malbin ke

    dalam tabung yang berisi sedimen urin.,dan diperiksa dibawah mikroskop sepertipemeriksaan sediment urin.

    A. UNSUR - UNSUR ORGANIK

    1. LeukositLeukosit dalam urin umumnya berupa segmen. Dalam urin asam leukosit atau sel pusbiasanya mengerut. Pada urin lindi leukosit akan mengembang cenderungmengelompok. Leukosit umumnya lebih besar dari eritrosit dan lebih kecil dari selepitel.Pada piuria (pus dalam sedimen) biasanya sel mengelompok. Jumlah leukosit

    meningkat pada fluor albus disamping adanya banyak sel epitel. Pada urin yang tidakdipusing (kocok dahulu ) adanya leukosit >3/LPB adalah patologi

    2. EritrositNormal < 3 sel/LPB. Dalam urin pekat eritrosit akan mengerut (crenated).Mengembang urin encer dan tampak seolah - olah tanpa isi karena Hb telah ke luar(ghost atau shadow cell). Kadang - kadang perdarahan saluran kemih bagian bawahmemberikan bekuan darah dalam urin. Membedakan eritrosit dari sel ragi yaitudengan menambahkan setetes asam asetat 2 % pada sediaan sedimen. Eritrositakan hemolisis sedang sel ragi akan makin jelas dan intinya akan tampak. Pada

    wanita hematuria perlu dibedakan dari haid.

    3. Selinder ( Torak )Sel epitel yang tercetak dan dilepaskan oleh sel tubulus ginjal disebut silinder epitel.Proses degenerasi sel epitel akan merubah morfologi menjadi silinder bergranula,kasar atau halus.

    Silinder gagal ginjal.Berasal dari epitel dengan perbedaan ukuran yaitu >2-6 x silinder biasa.

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    22/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    22

    Diduga terbentuk dalam tubulas colligentes.

    4. Sel EpitelBentuk sel epitel kemih berbeda - beda dari atas sampai ke bawah. Adanya sel - selepitel yang berasal dari traktus urogenitalis bagian atas menunjukkan pelepasanabnormal sel epitel. Dikenal 3 jenis sel epitel :

    a. Epitel kecil dan bulat, bentuknya polihedral, ukurannya 1/3 lebih besar darileukosit berasal dari lapisan dalam jaringan traktus urogenitalis. Biasanya tidakdijumpai dalam urin normal. Apabila sel berbentuk poligonal dengan inti relatifbesar dan sitoplasma berisi granula atau butir lemak, maka kemungkinan besarsel tersebut berasal dari tubulus ginjal. Hal ini dapat dibuktikan bila sel tersebutdijumpai dalam silinder

    b. Sel transisional dengan diameter 2-4 kali lebih besar dari leukosit. Bentuknyadapat seperti buah jambu, spindel shape atau bulat dengan semacam ekor. Intitampak jelas, bulat atau oval dan kecil bila dibandingkan dengan sitoplasma sel.Sel ini umumnya berasal dari sel epitel kandung kemih, ureter dan pelvik ginjal.

    c. Sel skuamosa yang besar dengan inti kecil bulat atau oval. Berasal dari

    permukaan uretra atau vagina. Sel skuamosa dari vagina biasanya lebih besar,tipis dan sering ada lekukan pada sudut sel. Adanya epitel ini pada umumnyatidak mempunyai makna klinik. Pada flour albus didapat banyak sel epitel jenisini disamping leukosit dalam jumlah banyak.

    5. Benda lemak ovalSel epitel berisi butir - butir lemak dan saring di dapatkan pada sindroma nefrotik. Butir- butir lemak dapat dikenal dengan menggunakan zat warna terhadap lipid seperti IIIatau IV.

    Sedimen TELESKOP

    Unsur - unsur sedimen yang lazim dijumpai pada 3 stadium glomeluro-nefritis kroniktetapi di sini dijumpai bersama -sama.Glomerulo-nefritis akut : eritrosit dan silinder eritrosit.Sindroma nefrotik ; silinder hialin, silinder bergranula atau berisi sel, benda lemak ovaldan doubel refractilefat bodies ( juga protein uria berat )Glomerulo-nefritis kronik : silinder epitel lebar disamping proteinuria ringan.

    B. UNSUR NON ORGANIK

    KRISTAL

    Kebiasaan melaporkan unsur sedimen yang unorganized seperti amorf dan kristalkurang bermanfaat untuk klinik kecuali apabila ada kristal sistine, sulfa atau jengkol(pada pasien dengan anuria). Pada penyakit hati akut berat dapat tampak kristal tirosindan atau kristal leusin.

    PEMERIKSAAN URIN RUTIN DENGAN STRIP BERGANDABeredar di pasaran strip berganda untuk pemeriksaan urin rutin. Strip ini memeriksasekaligus beberapa parameter, misalnya : pH, nitrit, protein, glukosa, benda keton,urobilinogen, bilirubin, darah, leukosit. Ada pula strip berganda yang pembacaannya

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    23/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    23

    dapat dilakukan secara otomatik dengan menggunakan alat khusus dengan azasrefleksi.

    Hasilnya dicetak langsung pada formulir. Pemeriksaan cara ini perlu dilengkapi dengansedimen urin cara konvensional terutama apabila eritrosit dan leukosit memberikanhasil patologik. Berat jenis bila diperlukan diperiksa tersendiri, misalnya dengan alat

    refraktometer.

    PEMERIKSAAN URIN KHUSUS

    PROTEIN BENCE JONESZat ini terdiri dari light chain dimmers dan monomer, sering didapat di dalam urinpenderita mieloma multipel, terutama jenis Ig A dan Ig D.Sifat khsusu : presipitasi pada suhu antara 400C 600C melarut kembali pada suhusekitar 1000C.

    Cara Pemeriksaan : Pemanasan hingga 400C600C (penyaring)

    Test toluene sulfonic acid (TSA)

    Elektroforesis

    Imunodifusi

    TES TOLUENE SULFONIC ACID (TSA)Reagensia :p-toluene sulfonic acid 12 gacetic acid 100 ml

    AsasTSA mempresipitasi protein Bence Jones walaupun jumlah protein tersebut kecil (0,3mg/dl dalam urin) dan tidak mempresipitasi albumin. Globulin hanya hanya diendapkanoleh TSA pada kadar > 5 mg/dl.Cara pemeriksaan1. Ke dalam 2 ml urin ditambahkan 1 ml reagens TSA secara perlahan-lahanmelalui dinding tabung selama 15 menit30 30 detik.2. Ketok tabung dengan jaringan.

    PelaporanPresitipasi yang terbentuk dalam waktu 5 menit adalah sesuai dengan adanya proteinBence Jones. Kemungkinan positif/negatif palsu ada.

    BENDA KETONBenda Keton dalam urin : aseton, aseto-asetat, asam betahydroxy-butirat.Ketonuria adalah keadaan dimana didapat benda keton dalam urin. Percobaan terhadapbenda keton perlu diperksa bila ada glukosuria berat misalnya 3+ dan pada keadaankelaparan.

    TEST ROTHERAAsas

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    24/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    24

    Na-nitropusid bereaksi dengan asam aseto-asetat dan aseton memberikan warna ungu.

    ReagensiaRothera : ammonium sulfat

    Na-nitropusidAmonia larutan pekat

    Cara pemeriksaan :1. Ke dalam 5 ml urin dalam tabung dibubuhi 1 g ammonium sulfat dan 2-3 tetes

    larutan Na-nitropusid2. Tambahkan amonia

    PelaporanCincin lembayung akan timbul diantara lapisan cairan 1 dan 2.

    TEST DENGAN MENGGUNAKAN TABLETAsasBerdasarkan reaksi dari Na-nitropusid, disodium phosphate dan amino acetic acid.

    Cara pemeriksaan :1. Tablet diletakkan diatas sepotong kertas putih2. Setetes urin diteteskan diatas tablet tersebut.

    PelaporanBaca setelah 30 detikWarna violet akan timbul bla test positif : 1+ atau 2+

    CARA STRIPStrip mengandung nitropusidBandingkan perubahan warna strip dengan skala warna pembanding yang tersedia.

    CARA GERHARDTAsasFerrichlorida bereaksi dengan asam aseto-asetat memberikan warna coklat merah(anggur port). Test ini lebih peka pada test Rothera.

    ReagensiaLarutan Ferrichlorida 10%Dalam air suling

    Cara pemeriksaan :1. Tambahkan tetes demi tets reagens Gerhardt ke dalam 5 ml urin sehingga fosfat

    mengendap2. Saring dan lanjutkan penambahan reagen

    PelaporanUrin berwarna merah (anggur port) bila ada diacetic acid. Test ini tidak spesifik. Positifpalsu : salisilat, antipirin, Na-carbonat.

    TEST ESBACHAsasProtein dalam urin oleh asam picrin. Tingginya lapisan endapan diukur. Mencerminkankadr protein dalam urin (cara kwantitatif).

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    25/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    25

    Reagensia Esbach :Asam picrin 1 gCitric aci 2 g

    Air suling hingga 100 ml

    Cara pemeriksaan :1. Urin disaring, ukur BJ > 1.010 urin Diencerkan dengan air suling dalam jumlah

    yang sama. hasil dikalikan dengan angka 2.2. Ukur pH, bubuhi 1-2 tetes asam asetat 22% apabila urin lindi.3. Tabung esbach diisi dengan urin tersebut hingga tanda U dan kemudian

    ditambah reagens Esbach hingga tanda R yang tertera pada tabung Esbach.4. Tutup tabung dengan penutupnya, campur isi tabung dengan jalan

    membalikkannya perlahan-lahan hingga 12 kali5. Letakkan dalam posisi tegak lurus selama 24 jam.

    PelaporanTingginya endapan putih dibaca melalui garis-garis yang tertera pada tabung.

    Dilaporkan dalam satuan g/liter urin. Laporkan juga jumlah urin 24 jam. Garis-garispembacaan jumlah protein pada tabung Esbach telah ditentukan secara empirik olehpabrik. Jangan lupa memperhitungkan faktor pengenceran.

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    26/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    26

    PRAKTIKUM FARMAKOLOGI KLINIK (GUSPr.6)

    OBAT YANG MEMPENGARUHI PH URIN

    Tujuan Praktikum :- memperlihatkan kepada mahasiswa efek obat yang dapat mempengaruhi pH urin.- mahasiswa memahami farmakologi obat-obat yang dapat mempengaruhi pH urin.

    Materi Praktikum:- Bicarbonas- Aquabides- Kertas lakmus

    Pelaksanaan :1. Ditunjukkan perubahan pH urin setelah pemaparan dengan bicarbonas2. Sehari sebelumnya relawan tidak dibenarkan mengkonsumsi sayur mayur3. Relawan (1 orang tiap meja) berpuasa mulai jam 10 malam sampai dengan

    keesokan paginya4. Relawan menampung urinnya di laboratorium pada pukul 06.45 WIB, kemudian di

    cek pH urinnya.5. Relawan minum air sebanyak 250 cc, dan menampung urinnya kembali setelah 30

    menit kemudian, dan mencek ph urinnya kembali6. Selanjutnya relawan minum 3 tablet bicarbonas bersama 250 cc air putih. Urin

    ditampung setiap 30 menit dan dicek pH urin7. Responsi tentang farmakologi obat-obat yang dapat mempengaruhi pH urin.

    Analisis :- Setelah pelaksanaan di atas tiap praktikan menganalisis pengaruh perubahan pH

    terhadap nasib suatu obat yang dieksresikan melalui urin- Analisis berpedoman pada buku teks Farmakalogi dan buku eks Klinik serta

    berbagai informasi dari internet (cybermedic)

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    27/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    27

    PRAKTIKUM PATOLOGI ANATOMI (GUSPr.7)

    SISTEM GENITOURINARI

    PRAKTIKUM : SISTEM GENITOURINARI

    TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM : Mahasiswa memahami histopatologi dan morfologisystem genitourinary

    TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS :1. Mahasiswa mengenal histopatologi dan morfologi

    kelainan pada gaster.2. Mahasiswa mengenal histopatologi dan morfologi

    kelainan pada hati.3. Mahasiswa mengenal histopatolgi dan morfologi

    kelainan pada saluran empedu.

    PELAKSANAAN PRAKTIKUM : 1. Mahasiswa mendatangani absen yang telah

    tersedia.2. Pembagian kelompok praktikum oleh tutor.3. Pre test praktikum oleh tutor4. Memperhatikan objek praktikum dan gambarkan

    dengan menggunakan pinsil merah dan biru.5. Diskusi dan jurnal pelaporan praktikum6. Post test praktikum oleh tutor.

    Ginjal normal terletak di daerah pinggang kiri-kanan. Saluran kemih mulai dari pelvis ureterkandung kemihuretra. Parameter adanya kelainan / penyakit ginjal dan salurankemih dapat berupa keluhan pegal nyeri pinggang, kolik (nyeri spasmodik) dan kelainandalam berkemih (tidak lancer, menetes, harus dengan mengejan, tak terkontrol), sifat air

    kemih yang dikeluarkan (keruh, kuning, seperti teh/kehitaman, merah dan darah) sampaitimbulnya hipertensi dan edema/anasarka. Untuk dapat menerangkan hubungan hal sepertitersebut di atas dengan letak-letak derajat kelainan patologinya, perlu diingat kembali :

    A. Sifat / Daya Regenerasi Struktur Dasar Ginjal :- Gelung glomerulus- Tubulus- Jaringan intertitialis- Pembuluh darah

    B. Kasus- Penyakit ginjal polikistik

    - Pielonefritis Kronik- Glomerulonefritik Kronik

    Deskripsi kelainan yang tampak pada sediaan.Perkiraan derajat gangguan fungsional yang terjadi akibat kelainan tersebut, dan gejalaklinik yang akan ditimbulkannya.Jelaskan perjalanan penyakit / prognosisnya, apabila tidak ditanggulangi.

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    28/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    28

    PRAKTIKUM FARMAKOLOGI TERAPI (GUSPr.8)

    Bentuk Sediaan Obat & Kajian Interaksi ObatPada Resep Polifarmasi Obat Sistem Saluran Genitourinari

    Tujuan 1. Memperlihatkan bentuk-bentuk sediaan obat sistem saluranurogenitalis cerna yang lazim digunakan di klinik.

    2. mengenal dan memahami interaksi yang mungkin terjadi padaresep polifarmasi obat sistem saluran urogenitalis.

    Materipraktikum

    I. Bentuk sediaan obat1. Sediaan padat (solid )

    - tablet- capsul- kaplet- powder

    2. Sediaan cair-sirup-emulsi-suntikan (ampul)

    II Resep-resep polifarmasiPelaksanaan 1.

    2.

    3.

    Sediaan obat sistem saluran urogenitalis

    - mahasiswa dapat mengetahui bentuk sediaan obat sistemsaluran urogenitalis.

    - mahasiswa dapat mengkaji dan mendiskusikan:kelebihan dan kekurangan dari tiap bentuk sediaan obatkenapa bentuk sediaan obat di formulasi sedemikian

    rupakomponen dari bentuk sediaan obatbagaimana bentuk suatu sediaan obat tertentu harus

    disimpanfarktor-faktor apa saja yang dapat merusak bentuk

    sediaan obat.bagaimana cara pemberian obat yang harus dilakukan

    untuk setiap bentuk sediaan obat tertentuResep polifarmasi- mahasiswa mencari resep polifarmasi obat sistem saluran

    urogenitalis di Apotik.- mahasiswa mengenal :

    nama dagang dan nama generik sediaan dari tiap itemyang di resepkan

    bentuk formulasi dari sediaan yang diresepkan

    mengetahui farmakologi dari sediaan obat tersebut.Mahasiswa dapat mengkaji ada atau tidak adanya interaksiFarmaseutik, farmakokinetik atau farmakodinamik dari sediaandalam resep polifarmasi tersebut.

    Pelaporan raktikum dibuat oleh setiap grup/meja praktikum dalam bentuk makalah yangdiketik berisi mengenai :Farmakologi masing-masing sediaan obat

    - keuntungan dan kerugian dalam bentuk sediaan yang digunakan

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    29/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    29

    - kajian ada atau tidaknya interaksi farmakokinetik dan farmakodinamikpada resep polifarmasi obat system saluran urogenitalis.

    kumpul 1 minggu sebelum praktikum dilaksanakan.

    Catatan Bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh kita akan memberikan respontertentu dalam tubuh. Obat adalah setiap zat kimia yang dapatmempengaruhi proses hidup. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi

    respon tubuh terhadap pengobatan terdapat faktor interaksi obat. Obatdapat berinteraksi dengan makanan, zat kimia yang masuk dari lingkunganatau dengan obat lain.

    INTERAKSI FARMAKOKINETIK

    Interaksi ini terjadi bila salah satu obat mempengaruhi absorbsi,metabolisme atau ekskresi obat kedua sehingga kadar plasma obat keduaakan meningkat atau menurun. Akibatnya, terjadi peningkatan toksisitasatau penurunan efektifitas obat tersebut.

    Interaksi yang termasuk dalam interaksi farmakokinetik diantaranya :

    1. Interaksi dalam absorbsi di saluran urogenitalis2. Interaksi dalam distribusi3. Interaksi dalam metabolisme4. Interaksi dalam ekskresi

    INTERAKSI FARMAKODINAMIK

    Interaksi farmakodinamik adalah interaksi antara obat yang bekerja padasistem reseptor, yang aditif, sinergistik atau antagonistik.Yang termasuk dalam interaksi farmakodinamik antara lain :

    1. interaksi pada reseptor2. interaksi fisiologik3. perubahan dalam kesetimbangan cairan elektrolit4. gangguan mekanisme ambilan amin di ujung saraf adrenergik5. interaksi dengan penghambat Mono Amin Oksidase (MAO)

    Seandainya dalam suatu resep polifarmasi dijumpai 3 item ( A, B, C), maka ditentukanpengkajian interaksi antara masing-masing obat sbb:

    C

    B

    A

    I

    A B C

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    30/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    30

    PRAKTIKUM PATOLOGI KLINIK (GUSPr.9)Faal Ginjal: PEMERIKSAAN UREUM (CARA BERTHELOT)

    Sample : serum

    Reagent :

    1. Urease Suspension2. Standard Urea Solution (40 mg/dl)3. Phenol Reagent (R3)4. Hypoclorite Solustion (R4)

    Reaksi Solusi :

    R3 : Reagent 3 dilarutkan menjadi 500 ml dengan aquabidest

    R4 : Reagent 4 dilarutkan menjadi 500 ml dengan aquabidest

    Cara kerja :

    I. Ambil 20 ul serum ditambah dengan 500 ul NaCl 0,9% (tabung 1)

    Ambil 20 ul standard ditambah dengan 500 ul NaCl 0,9% (tabung 2)

    II.

    1. Ambil 50 ul serum yang diencerkan dari tabung 1 ]2. Ambil 50 ul standard yang diencerkan dari tabung 2 ]3. Ambil 50 ul aquabidest (blank) ]

    Ke dalam semua tabung 3, 4, 5 ditambah 20 ul ureases suspensi

    III. Inkubasi ke tiga tabung tersebut pada 370C selama 15 menitIV. Tambahkan ke dalam ke tiga tabung tersebut 500 ul R3 dan 500 ul R4

    V. Inkubasi ke tiga tabung tersebut pada 370C selama 15 menit

    VI. Baca OD pada gelombang 578 nm

    Perhitungan :

    Ureun (mg/dl) = dardSOD

    xSampleOD

    tan

    40

    Bila hasil diatas 200 mg/dl : serum harus diencerkan dengan cara :

    Ambil 100 ul serum ditambah dengan 200 ul NaCl 0,9%

    Bila serum diencerkan maka hasil yang didapat di kali 3.

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    31/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    31

    K R E A T I N I N

    Bahan : Serum, urine

    Alat yang digunakan : Spektrofotometer 492 nm

    Prosedur :

    Sample Standard

    Serum atau

    1+99 urinediencerkan

    Standard Solution(3)

    Lar. Buffer (1)

    500 ul

    -

    1000 ul

    -

    500 ul

    1000 ul

    Campur dan biarkan selama 5 menit pada suhu ruangan, kemudian tambahkan : PicridAcid (2) 1000 ul 1000 ul

    Campur dan biarkan selama 1 menit kemudian ukur absorbance A1, 5 menit kemudianukur absorbance A2.

    Perhitungan :

    * Serum

    Kons. Kreatinin =12

    12

    AstAst

    AsAs

    mg/dl

    * Urine

    Kons. Kreatinin =12

    12

    AstAst

    AsAs

    x 100 mg/dl

    PEMERIKSAAN URIC ACID

    Bahan : Serum, plasma Heparin, plasma EDTA, urine.

    Alat baca : Spektrofotometer : 520 nm, 546 nm

    Cara kerja :

    Sampel Standar

    Sampel

    Lar. Standar (2) (8 mg/dl)

    Lar. Pereaksi (1)

    20 ul

    1000 ul

    -

    20 ul

    1000 ul

  • 5/25/2018 PENUNTUN PRAKTIKUM

    32/32

    Kurikulum FK USU 2011

    Buku Panduan Mahasiswa

    Genito Urinary System

    32

    Campurkanlah dan inkubasikan : ukur absorbance dari sampel (As) dan standar (Ast)terhadap larutan pereaksi (1) setelah 15 hingga 30 menit.

    Perhitungan : Uric Acid =Ast

    XAs 8mg / dl