penuntun biokimia.doc

of 46 /46
Penuntun Praktikum B I O K I M I A BLOK VI Metabolisme Karbohidrat, Lipid dan Protein Oleh Drs. Sadakata Sinulingga, Apt. M.Kes

Author: armiko-bantara

Post on 30-Sep-2015

274 views

Category:

Documents


16 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PENUNTUN PRAKTIKUM

Penuntun PraktikumB I O K I M I A

BLOK VIMetabolisme Karbohidrat, Lipid dan Protein

Oleh

Drs. Sadakata Sinulingga, Apt. M.Kesdr. Yanti Rosita M.Kesdr. H. Safyuddin, M.BiomedFAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG2010UJI HASIL Metabolisme

Karbohidrat, Lipid dan ProteinTEORI Hasil-hasil pemecahan pada metabolisme, terbanyak dikeluarkan dari tubuh lewat ginjal bersama urine. Ini terutama berlaku untuk akhir metabolisme protein yang mengandung nitrogen. Pada keadaan sakit, sebagian metabolisme terganggu, ginjal mengeluarkan hasil-hasil pemecahan metabolisme yang terganggu tersebut, dan asalkan fungsi ginjal cukup baik. Demikian Juga banyak racun-racun dan obat-obat yang dikeluarkan lewat urine, baik dalam keadaan tak di ubah atau hasil pemecahannya. Sehingga dapat ditarik kesimpulan penting dari pemeriksaan urine. Pemeriksaan urine tidak hanya memberikan gambaran tentang ada tidaknya penyakit-penyakit ginjal dan saluran-saluran pembuangannya, namun pada fungsi ginjal yang baikpun dapat juga diperoleh data penting mengenai penyakit-penyakit yang terdapat ditempat-tempat lain dalam tubuh. Karena dari setiap pasien untuk pemeriksaan kimiawi selalu dapat diperoleh jumlah urine yang cukup banyak. Pemeriksaan urine seharusnya diutamakan daripada pemeriksaan kimiawi darah, yang selalu hanya tersedia jumlah sample yang sedikit.

Pengeluaran bahan-bahan kebanyakan boleh dikata tidak tergantung dari diuresis contoh : seseorang mengeluarkan setiap jam 25 ml urine dengan kadar protein 10%. Sesudah minum air terjadilah diuresis air dan urin jernih banyak dikeluarkan dengan berat jenis rendah, dalam urin ini kadar protein akan turun sampai 0,5%, karena pengeluaran protein per jam tetap misalnya dalam contoh ini gram.

Pengeluaran hasil-hasil pemecahan rupanya sepanjang hari konstan. Hal ini berlaku untuk kreatinin, sepanjang kadarnya dalam darah konstan, Bahan lain seperti glukosa, protein, kalsium dan fosfor menunjukkan irama, pada malam hari pengeluaran bahan-bahan tersebut lebih sedikit dari pada siang hari. CARA MENGAMBIL URIN

Untuk pemeriksaan rutin laki-laki, urin dapat diambil dengan jalan biasa , yaitu orang tersebut disuruh kencing, sebaiknya porsi urin yang dikeluarkan awal dibuang, dan porsi selanjutnya ditampung.

Untuk wanita juga berlaku hal yang sama, porsi urin yang dikeluarkan awal dibuang dan baru porsi akhir ditampung.

Semua ini dmaksudkan untuk menghindarkan pencemaran yang berasal dari saluran kencing sendiri. Pengambilan urin dengan kateter hanya dilakukan bila ada indikasi karena resiko infeksi saluran kencing yang besar pada kateterisasi1. Uji glukosa dalam urin secara BenedictTujuan :

Menetapkan kadar gula urin secara semikuantitatif

Dasar :

Gula mereduksi yaitu gula yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas, senyawa ini akan merduksi ion kupri menjadi kuprooksida yang tidak larut dan berwarna merah. Banyaknya endapan merah yang terbentuk sesuai dengan kadar gula yang terdapat dalam urin.

Bahan:

1. Urin normal 24 jam dan urin yang mengandung glukosa

2. Larutan Benedict

Cara kerja :

1. Campurlah dalam tabung reaksi 2,5 ml larutan Benedict dan 4 tetes urin

2. Panaskan dalam tangas air mendidih selama 5 menit atau panaskan langsung hingga mendidih selama 2 menit

3. Dinginkan perlahan-lahan

4. Perhatikan endapan yang terbentuk

5. Simpulkan sesuai table berikut

Warna Penilaian Konsentrasi gula

Biru/hijau keruh - -

Hijau/hijau kekuningan + 1 kurang dari 0,5%

Kuning kehijauan/kuning + 2 0,5 1,0 %

Jingga + 3 1,0 2,0 %

Merah +4 lebih dari 2,0 %

2. Uji Obermeyer

Tujuan : Memeriksa adanya indikan dalam urin

Dasar : Gugus indoksil dioksidasi oleh pereaksi Obermeyer yang mengandung FeCl3 dala HCl pekat membentuk warna biru indigo yang larut dalam kloroform.

Bahan dan pereaksi :

1. Urin normal 24 jam

2. Pereaksi Obermeyer

3. KloroformCara kerja1. Masukkan dalam tabung reaksi 8 ml urin

2. Tambahkan 8 ml pereaksi Obermeyer, diamkan beberapa menit

3. Tambahkan 3 ml kloroform, campur dengan membalik-balik tabung 10 X (jangan dikocok)dapat terjadi emulsi. Kloroform akan mengekstraksi biru indigo 3. Uji Protein Urin menurut HellerTujuan :

Memeriksa adanya protein dalam urinDasar : Protein dalam urin mengalami denaturasi oleh asam nitrat yang tampak sebagai cincin putih pada perbatasan kedua cairan

Bahan:

1. Urin normal 24 jam dan urin patologis

2. Asam nitrat pekat masukkan dalam buret

Cara kerja :

1. Alirkan dari buret 3 ml asam nitrat pekat perlahan-lahan kedalam tabung reaksi

2. Dengan memakai pipet Mohr, pelan-pelan tambahkan 3 ml urin normal atau patologis melalui dinding tabung sehingga kedua cairan tidak bercampur

3. Perhatikan cincin putih yang terjadi antara dua lapisan

Catatan :

Urea asam urat dan garamnya dapat menghasilkan cincin putih, tetapi hal ini dapat dibedakan dengan memakai urin yang telah diencerkan 3 4 X sehingga pengaruh ini dapat dihilangkan.4. Uji koagulasi protein dalam urin

Tujuan:

Untuk identifikasi protein dalam urinDasar:

Pembentukan presipitat akibat pemanasan urin. Presipitat yang hilang pada pengasaman menyatakan fosfat, sedangkan presipitat yang disebabkan oleh protein akan tetap atau bertambah. Pada kelebihan asam juga akan menyebabkan larutnya protein yang telah mengendap

Bahan:

1. asam asetat 2%

2. urin jernih

Metode:

- Panaskan 5 ml urin hingga mendidih selama 1-2 menit

- Bila terbentuk endapan, tambahkan 3-5 tetes asam asetat 2%. Apakah presipitat tersebut hilang atau bertambah? 5. REAKSI JAFFE

Tujuan:

Untuk identifikasi kreatinin dalam urinBahan :

1. Larutan asam pikrat jenuh, 2. larutan NaOH 10 % larutan HCl dan 3. larutan glukosa.4. Urin

Metoda :

- Masukkan 5 ml urine kedalam sebuah tabung reaksi dan 5 ml kedalam tabung lain. - Tambahkan masing-masing 1 ml larutan asam pikrat jenuh dan 1 ml NaOH 10 %, perhatikan warna merah yang terbentuk.

- Tambahkan HCl pada salah satu tabung, bandingkan hasilnya pada tabung yang tidak ditambah HCl. - Bandingkanlah percobaan ini terhadap larutan glukosa yang ditambah asam pikrat alkalis.

Apakah senyawaan yang terbentuk itu sama ?

Hasil : Terbentuk warna merah bata

Keterangan :Reaksi ini terbentuk berdasarkan pembentukan tautomer kreatinin pikrat yang berwarna merah, bila kreatinin direaksikan dengan larutan pikrat alkalis, warna ini akan berubah menjadi warna kuning apabila larutan diasamkan.Selain asam pikrat, kreatinin dapat juga diendapkan oleh asam fosfowolframat dan garam-garam logam berat.

Kreatinin dapat mereduksi pereaksi Fehling, tetapi tidak dapat mereduksi pereaksi Benedict.

6. UJI MUREKSIDATujuan:

Untuk identifikasi asam urat dalam urin

Bahan :

Larutkan HNO3 pekat, kristal asam urat, larutan amoniak encer (1/100)

Metoda :

- Letakkan sedikit (0,1 gr) kristal asam urat dalam sebuah cawan penguap. - Tambahkan 3 tetes asam nitrat, lalu panaskan sehingga kering pada penangas uap. Perhatikan warna merah yang timbul - Setelah dingin tambahkan 1 tetes amonik encer (1/100). - Perhatikanlah warna yang terbentuk.

Hasil : Terbentuk warna merah

Keterangan :

Asam urat dioksidasi oleh asam nitrat pekat membentuk asam dialurat dan alloksan. Zat-zat terkondensasi dengan amoniak membentuk mureksida (amonium furfurat) yang berwarna ungu kemerahan.7. TEST NITROPRUSSIDA (ROTHERA)

Tujuan:

Untuk identifikasi benda keton dalam urinBahan :

1. Kristal amonium sulfat,

2. larutan Na nitroprussida 5%

3. larutan NH4OH pekat dan

4. urin.

Metoda :

- Bubuhkan pada 5 ml urin, kristal amonium sulfat sampai jenuh.

- Tambahkan 2-3 tetes Na-nitroprussida 5 % yang baru dibuat dan 1-2 ml amonium hidroksida pekat, campur dan biarkan selama setengah jam.

- Terbentuknya warna ungu permanganat menyatakan adanya zat-zat keton. Warna coklat tidak berarti positif.Hasil :

Warna ungu yang lambat laun menjadi lebih tua.

BIOKIMIA DARAH

TEORI :Darah merupakan jaringan tubuh yang berbentuk cair, yang beredar dalam system pembuluh darah. Jumlah darah didalam tubuh kira-kira 5 7 % dari berat badan atau pada orang dewasa kira-kira 4,5 5 liter. Darah terdiri dari berbagai sel seperti eritrosit atau sel darah merah (SDM) , sel darah putih (lekosit) dan trombosit. Eritrosit adalah sel yang terbanyak didalam darah, jumlahnya mencapai 5 juta butir/ ml , trombosit jumlahnya 250.000 400.000 butir/ml dan lekosit 5.000 10.000 /ml . Fungsi ketiga macam sel ini berbeda. Sel darah merah berfungsi mengikat dan membawa oksigen dari paru paru ke seluruh tubuh, serta membawa dan melepaskan CO2 dari seluruh tubuh ke paru. Untuk itu SDM dilengkapi dengan molekul khusus yang melaksanakan fungsi tersebut dan sekaligus memberi warna merah pada darah, yaitu hemoglobin (HB).

Hemoglobin adalah suatu protein dengan berat molekul 64.450 didalam hemoglobin terdapat atom besi dalam keadaan tereduksi ( Fe2+) . Dengan bantuan Fe2+ ini hemoglobin dpat mengikat oksigen. Hemoglobin yang mengikat oksigen disebut hemoglobin teroksidasi atau oksihemoglobin (HBO2 ) , sedang hemoglobin yang sudah melepas oksigen disebut hemoglobin tereduksi atau deoksihemoglobin (deoksiHb )

Peristiwa tersebut dapat dituliskan dengan reaksi sbb :

paru

Hb + O2 =============== HbO2 jaringan

Atom besi dalam hemoglobin dapat teroksidasi bila muatan positif atom besi menjadi 3 + (Fe3+ ) Hemoglobin dengan besi teroksidasi ( Fe3+) disebut hemoglobin teroksidasi atau methemoglobin (metHb) atau Hb(Fe3+) . Dalam keadaan ini hemoglobin tidak dapat lagi mengikat oksigen. Hemoglobin yang ter oksidasi menjadi methemoglobin akan kehilangan fungsinya. Perubahan Hb menjadi metHb dapat terjadi karena adanya senyawa peng oksidasi . Bila ini terjadi dalam tubuh maka dapat timbul akibat yang fatal, misalnya karena pemberian obat-obatan tertentu terutama pada orang yang berbakat untuk keadaan tersebut . Selain itu hemoglobin juga dapat berikatan dengan suatu gas hasil pembakaran tidak sempurna dari dari suatu bahan bakar yaitu CO (karbon monoksida ) sehingga terbentuk HbCO . Ikatan hemoglobin dan CO ini 200 kali lebih kuat dari pada ikatan Hb dengan O2 akibatnya hemoglobin tidak dapat lagi mengikat membawa dan mendistribusikan O2.

Hemoglobin juga mempunyai sifat seperti enzim peroksidase, ini berarti hemoglobin dapat mengkatalisis reduksi H2O2 bila ada suatu reduktor. Berbeda dengan enzim pada hemoglobin sifat ini tidak hilang setelah pemanasan. Sifat ini dapat digunakan untuk melacak adanya darah dalam suatu bahan uji. Sifat seperti peroksidase ini disebabkan oleh adanya gugus hem dalam hemoglobin.

Sel darah merah seperti sel lainnya akan mengkerut dalam larutan dengan tekanan osmotic yang lebih tinggi (hipertonik) dari tekanan osmotic plasma. Dalam larutan dengan tekanan osmotic lebih rendah (hipotonik) maka SDM akan membengkak karena cairan dari luar sel akan masuk kedalam sel dan kemudian terjadi lisis membran (hemolisis) . Hemoglobin dari SDM yang mengalami lisis larut dlam plasma sehingga memberi wrna merah pada plasma. SDM normal akan mulai mengalami lisis bila dimasukkan dalam NaCl 0,48% dan pada larutan NaCl 0,33 % terjadi lisis sempurna. SDM juga dapat mengalami lisis oleh obat-obatan . Struktur membran SDM mengandung lipid be layer , bila SDM dimasukkan dalam pelarut organic misalnya : eter, toluene, maka membran SDM akan mengalami lisis karena larutnya lipid membran sehingga hemoglobin terlepas kedalam pelarutnya.

1. Uji Oksihemoglobin dan deoksihemoglobin

Tujuan :

Membuktikan bahwa hemoglobin dapat mengikat oksigen menjadi HbO2 dan senyawa ini dapat terurai kembali deoksi Hb dan O2Dasar :

Dalam keadaan tereduksi Fe dalam Hb dapat mengikat dan melepaskan O2

Dalam lingkungan udara biasa, Hb segera mengikat O2 menjadi Hb O2 didalam tabung reaksi HbO2 akan melepas O2 pada penambahan pereaksi Stokes (pereduksi)

Bahan dan pereaksi :

1. Suspensi darah

2. Pereaksi Stokes

3. Larutan Amonium Hidroksida (NH4OH)

Cara kerja :

A. Oksihemoglobin

1. Kedalam tabung reaksi masukkan 2 ml darah dan 6 ml air suling, campur dengan baik , perhatikan dan catat terbentuknya HbO2 yang berwarna merah , kareana bereaksi dengan oksigen

2. Bagilah menjadi 2 tabung masing-masing 4 ml, tabung yang satu digunakan sebagai kontrol.

B. Pembentukan deoksihemoglobin

1. Pipetkan kedalam tabung reaksi 2 ml pereaksi Stokes dan tambahkan NH4OH secukupnya untuk melarutkan endapan yang terbentuk

2. Pada salah satu tabung yang berisi HbO2 dari percobaan A teteskan beberapa tetesperekasi Stokes dari percobaan (B 1.) perhatikan dan catat warna deoksi Hb yang terbentuk dan bandingkan dengan warna HbO2 dalam tabung yang satu lagi pada percobaan (A. 2.) (tabung kontrol).

C. Pembentukan kembali HbO2 dari deoksi Hb

1. Kocok kuat-kuat tabung yang berisi deoksi Hb tersebut (hasil percobaan B.2.)

Perhatikan dan catat warna HbO2 yang kembali terbentuk.

O2 yang di ikat oleh Hb berasal dari udara . De oksigenasi dan re oksigenasi dapat dilakukan berulang-ulang.

2. Pengaruh pelarut organik pada SDM

Tujuan percobaan :Memperlihatkan bahwa membran sel darah merah dapat mengalami lisis dalam pelarut organik

Dasar Percobaan :Membran sel darah merah (SDM) antara lain mengandung lipid. Bila SDM dimasukkan ke dalam larutan yang mengandung pelarut organic, maka membran lipid akan larut, sehingga terjadi hemolisis.

Bahan dan Pereaksi :

1. Suspensi darah

2. NaCl 0,9%

3. Kloroform

4. Eter

5. Aseton

6. Toluen

7. Alkohol

Cara Percobaan :

1. Kedalam 6 tabung reaksi masing-masing dimasukkan 10 ml NaCl 0,9%

2. Tabung pertama digunakan sebagai kontrol, dan pada ke 5 tabung lainnya tambahkan masing-masing 6 tetes ; kloroform ; eter ; aseton ; toluene dan alcohol secara ber urutan.

3. Tambahkan ke dalam tiap tabung 2 tetes suspensi darah , campur dengan membaliknya perlahan lahan, biarkan setengah jam (jangan di kocok ). Perhatikan warna yang terbentuk pada larutan bagian atas dan bandingkan dengan kontrol.

3. Pengaruh pelarut kimia terhadap membran sel darah merahTujuan Percobaan :Memperlihatkan pengaruh larutan hiper/hipotonik terhadap membran sel darah merahDasar Percobaan :

SDM akan mengkerut bila berada dalam larutan hipertonik terhadap tekanan osmotic plasma. Dalam larutan yang hipotonik, cairan dari luar sel akan masuk ke dalam sel sehingga SDM akan membengkak , dan akhirnya terjadi hemolisis. Hemoglobin dalam SDM akan larut dalam larutan, sehingga memberi warna merah jernih pada larutan.

Bahan dan Pereaksi :1. Suspensi darah

2. NaCl 2%

Cara Percobaan :1. Kedalam 10 tabung reaksi isikan campuran sebagai berikut :

Nomor tabung Air suling (ml) NaCl 2% (ml) % NaCl

1. 10 0

2. 9 1

3. 8 2

4. 7,5 2,5

5. 7 3

6. 6,5 3,5

7. 6 4

8. 5,5 4,5

9. 5 5

10. 4,5 5,5

2. Campur dengan baik

3. Tambahkan 2 tetes suspensi darah ke dalam setiap tabung dan campur dengan membalikanya perlahan-lahan, diamkan selama 1 jam.

4. Perhatikan dan catat derajat hemolisis pada tiap-tiap tabung reaksi

4.Pemeriksaan Enzim Katalase dalam Darah

Prinsip :

Enzim katalase ada dalam darah dimana katalase akan memecah H2O2 menjadi air dan O2 , O2 diperlukan oleh tubuh, di klinik H2O2 digunakan untuk membersihkan luka, O2 berfungsi untuk membunuh kuman-kuman anaerob, sedangkan air untuk membersihkan luka.

Reaksi :katalase2 H2O2 2 H2O + O2

Bahan :

H2O2 10 % , darah

Metoda :

2 3 tetes darah + 1 - 2 tetes H2O2Hasil:

Reaksi positif maka akan tampak busa karena terbebasnya O2 oleh enzim katalase.SASARAN PEMBELAJARAN

I. PERCOBAAN ENZIM

Mahasiswa mampu ;

1. Mengetahui pengaruh konsentrasi enzim terhadap kecepatan reaksi

2. Mengetahui pengaruh konsentrasi subtrat terhadap kecepatan reaksi

3. Mengetahui pengaruh dehidrogenisasi pada reaksi oksidasi subtrat

4. Mengetahui pengaruh Cl dan pH terhadap aktifitas Ptyalin.

ENZIM

TEORI :Enzim adalah sekelompok protein yang berfungsi sebagai katalisator untuk berbagai reaksi kimia dalam sIstem biologik. Hampir semua reaksi kimia dalam sIstem biologis dikatalisis oleh enzim. Sintesis enzim terjadi di dalam sel dan sebagian besar enzim dapat di ekstraksi dari sel tanpa merusak fungsinya.

Kepentingan medis enzim : Enzim terdistribusi di tempat-tempat tertentu didalam sel lebih kurang sesuai dengan golongannya dan juga fungsinya, sebagai contoh enzim yang berperan dalam sintesis dan reparasi DNA terletak didalam inti sel. Enzim yang mengkatalisis berbagai reaksi yang menghasilkan energi secara aerob terletak dalam mitokondria. Enzim yang berhubungan dengan biosintesis protein berada bersama ribosom. Dengan demikian reaksi kimia dalam sel berjalan sangat terarah dan efisien.

Ada beberapa penyakit yang disebabkan oleh abnormalitas sintesis enzim tertentu, misalnya pada defisiensi enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase (G6PDH/G6PD). Sel darah merah (SDM) penderita defisiensi G6PDH ini sangat rentan terhadap pembebanan oksidatif, misalnya pada pemakaian obat-obatan tertentu dan obat malaria dapat terjadi hemolisis intravaskuler.

Analisis enzim dalam serum dapat dipakai untuk deteksi penyakit seperti infark otot jantung, kerusakan jaringan hati, bendungan saluran empedu, penyakit prostat dll. Dasar penggunaan enzim sebagai dasar penunjang diagnosis ialah :

1. Pada dasarnya sebagian besar enzim berada dalam sel

2. Enzim tertentu adanya intrasel, bila enzim berada dalam serum berartiI terjadi kerusakan pada jaringan asalnya.

Penggolongan enzim :

Jumlah enzim ada ribuan macam tapi dapat digolongkan menjadi 6 golongan

1. Oksidoreduktase, kelompok enzim ini mengkatalisis reaksireaksi redoks.

2. Transferase, kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi pemindahan berbagai gugus misal, amina , karboksil, metil, asil dll.

3. Hidrolase, kelompok enzim ini mengkatalisis pemutusan ikatan kovalen sambil mengikat air.

4. Liase, kelompok enzim memutus ikatan kovalen tanpa mengikat air

5. Isomerase, kelompok enzim ini mengkatalisis reaksi isomerisasi.

6. Ligase(sintase), kelompok enzim ini mengkatalisis pembentukan ikatan kovalen.

Kespesifikan enzim dibedakan dalam : kespesifikan optik dan gugus

Kespesifikan optik tampak pada enzim yang bekerja pada karbohidrat dan misal hanya bekerja terhadap isomer D bukan L, juga pada di asam amino dan protein misal hanya bekerja pada isomer amino L bukan isomer D.

Kespesifikan gugus, hanya pada gugus tertentu misal enzim alcohol dehidrogenase tidak dapat mengkatalisis reaksi dehidrogenasi pada senyawa bukan alcohol.

Faktor faktor yang mempengaruhi kerja enzim, seperti protein lainnya sifat biologis enzim sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisika kimia. Enzim bekerja pada kondisi tertentu yang relatif ketat. Adapun faktor yang mempengaruhi kerja enzim anatar lain: suhu, pH, oksidasi udara atau senyawa lain, penyinaran UV, sinar X, alfa beta dan gama.

Disamping itu kecepatan reaksi enzimatik dipengaruhi pula oleh konsentrasi enzim maupun substratnya.

Pengaruh suhu :

Suhu rendah mendekati titik beku tidak merusak enzim namun enzim tidak dapat bekerja. Kenaikan suhu lingkungan akan meningkatkan energi kinetik enzim dan meningkatkan frekuensi benturan antar molekul enzim dan substrat dan pada suhu tertentu akan mencapai kecepatan reaksi maksimum, bila suhu ditingkatkan terus maka jumlah enzim yang aktif akan berkurang karena mengalami denaturasi. Kecepatan reaksi enzimatik berlangsung maksimal pada suhu optimum. Enzim pada suhu 37o C optimum dalam tubuh manusia . Sebagian besar enzim tidak aktif pada pemanasan sampai 60o C karena mengalami denaturasi.

Pengaruh pH :

Enzim bekerja pada kisaran pH tertentu. Bila dilakukan pengukuran aktivitas enzim pada beberapa macam pH yang berlainan maka sebagian besar enzim akan menunjukkan aktivitas maksimum antara pH 5,0 9,0. Kecepatan reaksi enzimatik berlangsung maksimal pada pH optimum.

Ada enzim yang mempunyai pH optimum sangat rendah yaitu pepsin, pH optimum pepsin adalah 2. Pada pH yang jauh diluar pH optimum enzim akan terdenaturasi. Selain itu pada keadaan ini baik enzim maupun substrat dapat mengalami perubahan muatan listrik yang mengakibatkan enzim tidak dapat berikatan dengan substrat.Pengaruh konsentrasi enzim

Peningkatan konsentrasi enzim akan meningkatkan reaksi enzimatik. Dapat dikatakan bahwa kecepatan reaksi enzimatik (v) berbanding lurus dengan konsentrasi enzim (E) makin besar konsentrasi enzim reaksi enzimatik makin cepat

Pengaruh konsentrasi substrat :

Pada suatu reaksi enzimatik bila konsentrasi substrat diperbesar sedangkan konsentrasi lainnya tetap, maka kecepatan reaksi (v) akan meningkat samapai suatu batas kecepatan maksimum (V). Pada titik maksimum ini enzim telah jenuh dengan substrat.

Dalam suatu reaksi enzimatik, enzim akan mengikat substrat membentuk komplek enzim substrat (ES) kemudian komplek ini akan terurai menjadi enzim (E) dan produk (P) makin banyak komplek (ES) terbentuk makin cepat reaksi berlangsung sampai batas kejenuhan (ES). Pada konsentrasi substrat (S) melampaui batas kejenuhan kecepatan reaksi akan konstan, dalam keadaan ini seluruh enzim sudah berada dalam bentuk komplek (ES) artinya penambahan jumlah (S) tidak menambah jumlah (ES).

1. Pengaruh konsentrasi enzim Terhadap kecepatan reaksi

Tujuan :

Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik berbanding lurus dengan konsentrasi enzim Dasar :

Pada konsentrasi substrat tertentu, penambahan enzim dengan konsentrasi bertingkat akan meningkatkan terbentuknya jumlah komplek enzimsubstrat, sehingga jumlah produk yang terbentuk juga meningkat.

Bahan dan pereaksi :

1. Susu

2. Larutan enzim protease ( pepsin 0,5% , atau bromelin)

3. Penangas air

Cara :

1. Siapkan penangas air dengan suhu 37o C letakkan ke dalamnya sebuah tabung reaksi berisi 15 ml susu

2. Selain itu letakkan juga di dalamnya 3 tabung reaksi masing-masing berisi 1, 0 ml enzim protease, 0,5 ml enzim protease + 0,5 ml air , 0,25 ml enzim protease +, 0,75 ml air

3. Setelah di inkubasi selama 5 menit pipetkan masing-masing 5 ml susu hangat ke dalam 3 tabung reaksi yang berisi enzim protease diatas

4. Lakukan satu demi satu jangan serentak, campurkan isi tabung dengan baik dan cepat, amati penggumpalan susu dalam hitungan detik dari tiap-tiap tabung.2. Pengaruh konsentrasi substrat terhadap Kecepatan reaksi

Tujuan :

Membuktikan bahwa kecepatan reaksi enzimatik sampai batas tertentu dipengaruhi oleh konsentrasi substrat.Dasar :

Penambahan substrat dengan konsentrasi meningkat sampai konsentarsi tertentu akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatik hingga mencapai kecepatan maksimum . Penambahan substrat setelah konsentrasi tersebut tidak akan meningkatkan kecepatan reaksi enzim, sebab telah melampaui titik jenuh enzim.Bahan dan pereaksi :

1. Susu

2. Larutan enzim protease (pepsin 0,5% atau bromelin)

Cara :

1. Siapkan 3 tabung reaksi bersih dan kering, masukkan ke dalamnya pada tabung pertama 5 ml susu, tabung kedua 4 ml susu + 1 ml air, tabung ketiga 3 ml susu dan 2 ml air. Siapkan juga I tabung reaksi berisi 3 ml enzim.

2. Letakkan keempat tabung dalam penangas air 37o C selama 5 menit.

3. Pipetkan 1 ml larutan enzim ke dalam masing-masing tabung di atas dan amati waktu penggumpal-pengumpalanan susu pada tiap tabung, lakukan satu persatu jangan serentak.

4. Catatlah waktu yang diperlukan untuk penggumpalan susu dalam hitungan detik.

3. Uji Schardinger

Tujuan :

1. Memperlihatkan bahwa oksidasi dapat terjadi melalui dehidrogenasi suatu substrat, dalam hal ini formaldehida

2. Memperlihatkan adanya enzim dehidrogenase aerob, yaitu aldehide dehidrogenase dalam susu segar

Dasar :

Aldehid dehidrogenasi mengoksidasi formaldehida dengan cara melepas hydrogen. Hidrogen yang terbentuk dapat dipindahkan langsung ke oksigen udara menjadi H2O2 atau suatu senyawa penerima misalnya riboflavin atau biru metilen.

Pada akhirnya senyawa penerima yang tereduksi tersebut akan menyerahkan hidrogen ke oksigen udara membentuk H2O2. Hal ini tampak jelas bila menggunakan biru metilen sebagai penerima hidrogen . Biru metilen tereduksi tidak berwarna (leuko biru metilen). Pada permukaan larutan susu akan teroksidasi kembali menjadi biru karena ada kontak dengan udara.Bahan dan pereaksi :

1. Susu segar dan susu pasteurisasi

2. Larutan biru metilen 0,02%

3. Larutan formaldehida 0,4%

Cara :

1. Siapkan 2 tabung reaksi, satu tabung diisi 5 ml susu segar, tabung kedua diisi 5 ml susu pasteurisasi

2. Kemudian tambahkan berturut-turut 1 ml biru metilen dan 1 ml formal dehide pada masing-masing tabung.

3. Campur dengan baik dan masukkan penangas air suhu 60 65 oC

4. Catat apa yang terjadi.

Pertanyaan :

1. Tulis reaksi dehidrogenasi formal dehida menjadi asam format !

2. Mengapa susu pasteurisasi memberi uji Schardinger berbeda ?

4. AKTIVITAS PTYALIN DENGAN ADANYA Cl

Bahan:

Lar. Amilum 1 % lar. Jodium encer, lar.liur.

Metoda:

Cara pengumpulan larutan liur:

Setelah berkumur-kumur dengan air, kunyah sedikit lilin parafin untuk memacu sekresi saliva. Tampung saliva tsb dalam beker glas kecil, cairkan dengan sedikit aquades kemudian disaring

Cara melakukan :

1. l NaCl 1 % + 3 ml lar. amilum 1 % + 1 tetes lar. Jodium encer + 1ml lar.Liur

2. l HCl 1 N+ 3 ml lar. amilum 1 % + 1 tetes lar. Jodium encer + 1ml lar Liur

3. 1 ml Aquades + 3 ml lar. amilum 1 % + 1 tetes lar. Jodium encer + 1ml lar. Liur

Lihat ada tidaknya perubahan warna dan berapa lama terjadi perubahan.

Keterangan :

-Air liur mengandung ptialin (amilase) yang menghidrolisis amilum menjadi dekstrin dan maltosa

Larutan amilum bila ditetesi jodium akan berwarna biru tua yang khas untuk amilum Hidrolisa amilum Reaksi jodium

Amilum biru

Amilodekstrin + maltosa biru

Eritrodekstrin + maltosa merah anggur

Akroodektrin + maltosa tak berwarna

Maltosa tak berwarna

Ptyalin seperti enzim-enzim lain mempunyai pH optimum, inhibitor dan aktivatornya sendirisendiri:

- pH optimum 6-7 ( kira-kira 6,8)

- Aktivator Cl-

- NaCl menyebabkan suasana yang baik unutk aktivitas ptyalin karena adanya aktivator ion Cl, tetapi pH tetap netral . Terlihat pada percobaan ini hilangnya warna paling cepat.

- HCl menyebabkan larutan terlalu asam, sehingga ptyalin tidak aktif terlihat pada percobaan warna tidak hilang.

- Aquades mengandung Cl, dan pH Aquades netral. Karena hanya mendapatkan sedikit Cl terlihat disini diperlukan waktu lebih lama.

Perhatian Aquades yang baru bersifat netral bila didiamkan pH akan berubah.

SASARAN PEMBELAJARAN

II. PERCOBAAN KARBOHIDRAT, LIPID DAN PROTEIN

Mahasiswa mampu ;

1. Menetapkan kadar glukosa urin secara semi kuantitatip

2. Mengetahui cara identifikasi zat keton di dalam urin

3. Mengetahui cara identifikasi kreatinin di dalam urin

4. Mengetahui cara identifikasi asam urat di dalam urin

KARBOHIDRAT, LIPID DAN PROTEIN

1. UJI BENEDICT

Tujuan : Menetapkan kadar gula urine secara semikuantitatif.

Dasar :

Gula mereduksi yaitu gula yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas, senyawa ini akan mereduksi ion kupri menjadi kuprooksida yang tidak larut dan berwarna merah. Banyaknya endapan merah yang terbentuk sesuai dengan kadar gula yang terdapat dalam urine.

Bahan dan alat-alat:

1. Urine normal 24 jam yang mengandung glukosa

2. Larutan Benedict

3. Pipet tetes

4. Alat pemanas air/tangas air

5. Pengatur waktu

Cara kerja:

1. Campurlah dalam tabung reaksi 2.5 ml lar. Benedict dan 4 tetes urin.

2. Panaskan dalam tangas air mendidih selama 5 menit atau panaskan langsung hingga mendidih selama 2 menit.

3. dinginkan perlahan-lahan

4. perhatikan endapan yang terbentuk

5. simpulkan sesuai dengan tabel berikut:

WarnaPenilaianKonsentrasi

Biru/Hijau keruh

Hijau/Hijau kekuningan

Kuning kehijauan/Kuning

Jingga

Merah-

+ 1

+ 2

+ 3

+ 4-

Kurang dari 0.5 %

0.5 - 1.0 %

1.0 - 2.0 %

Lebih dari 2.0 %

2. TEST NITROPRUSSIDA (ROTHERA)

Bahan :

Kristal amonium sulfat, larutan Na nitroprussida 5% larutan NH4OH pekat dan urin.

Metoda :

Bubuhkan pada 5 ml urin, kristal amonium sulfat sampai jenuh. Tambahkan 2-3 tetes Na-nitroprussida 5 % yang baru dibuat dan 1-2 ml amonium hidroksida pekat, campur dan biarkan selama setengah jam. Terbentuknya warna ungu permanganat menyatakan adanya zat-zat keton. Warna coklat tidak berarti positif.

Hasil :

Warna ungu yang lambat laun menjadi lebih tua.

3. REAKSI JAFFE

Bahan :

Larutan asam pikrat jenuh, larutan NaOH 10 % larutan HCl dan larutan glukosa.

Metoda :

Masukkan 5 ml urine kedalam sebuah tabung reaksi dan 5 ml kedalam tabung lain. Tambahkan masing-masing larutan asam pikrat jenuh dan 1 ml NaOH 10 %, perhatikan warna merah yang terbentuk.

Tambahkan HCl pada salah satu tabung, bandingkan hasilnya pada tabung yang tidak ditambah HCl. Bandingkanlah percobaan ini terhadap larutan glukosa yang ditambah asam pikrat alkalis.

Apakah senyawaan yang terbentuk itu sama ?

Hasil : Terbentuk warna merah bata

Keterangan :Reaksi ini terbentuk berdasarkan pembentukan tautomer kreatinin pikrat yang berwarna merah, bila kreatinin direaksikan dengan larutan pikrat alkalis, warna ini akan berubah menjadi warna kuning apabila larutan diasamkan.Selain asam pikrat, kreatinin dapat juga diendapkan oleh asam fosfowolframat dan garam-garam logam berat.

Kreatinin dapat mereduksi pereaksi Fehling, tetapi tidak dapat mereduksi pereaksi Benedict.

4. ASAM URAT (Uji Mureksida) Bahan :

Larutkan HNO3 pekat, kristal asam urat, larutan amoniak encer (1/100)

Metoda :

Letakkan sedikit (0,1 gr) kristal asam urat dalam sebuah cawan penguap. Tambahkan 3 tetes asam nitrat, lalu panaskan sehingga kering pada penangas uap. Perhatikan warna merah yang timbul Setelah dingin tambahkan 1 tetes amonik encer (1/100). Perhatikanlah warna yang terbentuk.

Hasil : Terbentuk warna merah

Keterangan :

Asam urat dioksidasi oleh asam nitrat pekat membentuk asam dialurat dan alloksan. Zat-zat terkondensasi dengan amoniak membentuk mureksida (amonium furfurat) yang berwarna ungu kemerahan.

SASARAN PEMBELAJARAN

III. DARAH

Mahasiswa mampu ;

1. Mengetahui proses oksigenasi dan dioksigenasi pada sel darah merah.

2. Mengetahui pengaruh pelarut organik pada integritas sel darah merah.

3. Mengetahui peran enzim katalase dalam darah.

TEORI :Darah merupakan jaringan tubuh yang berbentuk cair, yang beredar dalam sistem pembuluh darah. Jumlah darah didalam tubuh kira-kira 5 7 % dari berat badan atau pada orang dewasa kira-kira 4,5 5 liter. Darah terdiri dari berbagai sel seperti eritrosit atau sel darah merah (SDM), sel darah putih (lekosit) dan trombosit. Eritrosit adalah sel yang terbanyak didalam darah, jumlahnya mencapai 5 juta butir/ ml, trombosit jumlahnya 250.000 400.000 butir/ml dan lekosit 5.000 10.000 /ml. Fungsi ketiga macam sel ini berbeda. Sel darah merah berfungsi mengikat dan membawa oksigen dari paru- paru ke seluruh tubuh, serta membawa dan melepaskan CO2 dari seluruh tubuh ke paru. Untuk itu SDM dilengkapi dengan molekul khusus yang melaksanakan fungsi tersebut dan sekaligus memberi warna merah pada darah, yaitu hemoglobin (Hb).

Hemoglobin adalah suatu protein dengan berat molekul 64.450 didalam hemoglobin terdapat atom besi dalam keadaan tereduksi ( Fe2+) . Dengan bantuan Fe2+ ini hemoglobin dpat mengikat oksigen. Hemoglobin yang mengikat oksigen disebut hemoglobin teroksidasi atau oksihemoglobin (HbO2), sedang hemoglobin yang sudah melepas oksigen disebut hemoglobin tereduksi atau deoksihemoglobin (deoksiHb )

Peristiwa tersebut dapat dituliskan dengan reaksi sbb :

paru

Hb + O2 HbO2 jaringan

Atom besi dalam hemoglobin dapat teroksidasi bila muatan positif atom besi menjadi 3+ (Fe3+). Hemoglobin dengan besi teroksidasi ( Fe3+) disebut hemoglobin teroksidasi atau methemoglobin (metHb) atau Hb(Fe3+). Dalam keadaan ini hemoglobin tidak dapat lagi mengikat oksigen. Hemoglobin yang teroksidasi menjadi methemoglobin akan kehilangan fungsinya. Perubahan Hb menjadi metHb dapat terjadi karena adanya senyawa pengoksidasi. Bila ini terjadi dalam tubuh maka dapat timbul akibat yang fatal, misalnya karena pemberian obat-obatan tertentu terutama pada orang yang berbakat untuk keadaan tersebut . Selain itu hemoglobin juga dapat berikatan dengan suatu gas hasil pembakaran tidak sempurna dari dari suatu bahan bakar yaitu CO (karbon monoksida ) sehingga terbentuk HbCO . Ikatan hemoglobin dan CO ini 200 kali lebih kuat dari pada ikatan Hb dengan O2 akibatnya hemoglobin tidak dapat lagi mengikat membawa dan mendistribusikan O2.

Hemoglobin juga mempunyai sifat seperti enzim peroksidase, ini berarti hemoglobin dapat mengkatalisis reduksi H2O2 bila ada suatu reduktor. Berbeda dengan enzim pada hemoglobin sifat ini tidak hilang setelah pemanasan. Sifat ini dapat digunakan untuk melacak adanya darah dalam suatu bahan uji. Sifat seperti peroksidase ini disebabkan oleh adanya gugus hem dalam hemoglobin.

Sel darah merah seperti sel lainnya akan mengkerut dalam larutan dengan tekanan osmotik yang lebih tinggi (hipertonik) dari tekanan osmotik plasma. Dalam larutan dengan tekanan osmotik lebih rendah (hipotonik) maka SDM akan membengkak karena cairan dari luar sel akan masuk kedalam sel dan kemudian terjadi lisis membran (hemolisis). Hemoglobin dari SDM yang mengalami lisis larut dalam plasma sehingga memberi warna merah pada plasma. SDM normal akan mulai mengalami lisis bila dimasukkan dalam NaCl 0,48% dan pada larutan NaCl 0,33 % terjadi lisis sempurna. SDM juga dapat mengalami lisis oleh obat-obatan. Struktur membran SDM mengandung lipid bi layer, bila SDM dimasukkan dalam pelarut organik misalnya: eter, toluen, maka membran SDM akan mengalami lisis karena larutnya lipid membran sehingga hemoglobin terlepas kedalam pelarutnya.

Hemoglobin dan derivat-derivatnya dapat dibedakan dengan menggunakan spektroskop, yaitu berdasarkan perbedaan absorpsi warna-warna tertentu dari cahaya putih. Bila suatu larutan berwarna diletakkan antara alat tersebut dan sumber cahaya, akan terlihat daerah (pita) hitam pada spektrum dimana terjadi penyerapan warna tersebut. Oksihemoglobin yang encer menunjukkan 3 pita absorpsi yaitu pita sempit absorpsi cahaya pada panjang gelombang 578 nm, pita yang lebih lebar pada 542 nm, dan yang ketiga pada panjang gelombang 425 nm. Hemoglobin tereduksi (deoksihemoglobin) sebaliknya hanya menunjukkan satu pita absorbsi lebar pada 559 nm. Bila pada darah ditambahkan zat peng oksidasi akan terbentuk methemoblobin, dalam larutan asam, methemoglobin mempunyai satu pita absorpsi dengan pusat pada panjang gelombang 634 nm. Hemoglobin karbon monoksida menunjukkan dua pita absorpsi yang pertama pada 570 nm yang kedua pada 542 nm.

1. UJI OKSI-HEMOGLOBIN DAN DEOKSI-HEMOGLOBIN

Bahan:Lar. NH4OH, darah dan pereaksi Stokes (20 g FeSO4 dan 30 g asam tartrat dalam air sampai 1000 cc)

Metoda:Encerkan 2 mL darah dengan kira-kira 6 mL air dalam sebuah tabung reaksi. Campur dengan baik. Perhatikan warna merah terang dari oksi-hemoglobin yang terbentuk. Bagilah dua isi tabung yang pertama digunakan sebagai kontrol tanpa ditambahkan apa-apa. Pada tabung ke-2 masukkanlah 2 mL pereaksi Stokes dan tambahkan NH4OH secukupnya untuk melarutkan endapan yang segera terbentuk. Campuran ini merupakan larutan pereduksi yang kuat. Tambahkan beberapa tetes larutan pereduksi tadi ke dalam tabung ke-2.Terlihat perubahan warna akibat terbentuknya reduced hemoglobin. Bandingkan dengan warna oksi-hemoglobin. Kocok tabung ini dengan kuat, maka akan terjadi oksigenasi dengan oksigen udara. Deoksigenasi dan reoksigenasi dapat dilakukan berulang-ulang.Apa kesimpulan percobaan ini? Peristiwa faal apa yang ditiru pada percobaan ini?

2. PENGARUH PELARUT ORGANIK PADA SEL DARAH MERAH

Metoda :

Isilah 6 tabung reaksi dengan 10 ml NaCl 0,9%. Tabung pertama digunakan sebagai kontrol, dan pada kelima tabung lainnya isilah masing-masing 3 tetes kloroform, eter, aseton, toluen dan alkohol. Lalu kepada 6 tabung tersebut tambahkan 2 tetes eritrosit yang telah dicuci. Kocok dan biarkan selama setengah jam. Bandingkan warna dengan kontrol.

3. PEMERIKSAAN ENZIM KATALASE DALAM DARAH

Prinsip :

Enzim katalase ada dalam darah dimana katalase akan memecah H2O2 menjadi air dan O2, O2 diperlukan oleh tubuh, di klinik H2O2 digunakan untuk membersihkan luka, O2 berfungsi untuk membunuh kuman-kuman anaerob, sedangkan air untuk membersihkan luka.

Reaksi :katalase2 H2O2 2 H2O + OBahan :

H2O2 10 % , darah

Metoda :

2 3 tetes darah + 1 - 2 tetes H2O2Hasil:

Reaksi positif maka akan tampak busa karena terbebasnya O2 oleh enzim katalase.

SPEKTROFOTOMETRI

Spektrofotometri Serap adalah pengukuran serapan radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang tertentu yang sempit, mendekati monokromatis.

Analisa spektrofotometri dapat dipakai untuk analisa kualitatif dan atau kuantitatif.

Pengukuran serapan dapat dilakukan pada daerah panjang gelombang :

Ultraviolet (UV) pada panjang gelombang 190 380 nm

Cahaya tampak ( visible ) pada panjang gelombang 380 780 nm

Keuntungan metode ini :

-Dapat digunakan untuk analisa zat dalam jumlah kecil

-Pengerjaan cepat sederhana dan non destruktif

Teori :

1. Panjang gelombang ( )

Panjang gelombang cahaya didefinisikan sebagai jarak antara dua puncak dari suatu gelombang, biasanya dinyatakan dengan symbol lamda ( )

Satuan panjang gelombang UV VIS adalah nano meter ( nm)

1 nm = 1 mu = 10-9 m = 10-6 mm

Cahaya adalah merupakan campuran dari radiasi-radiasi yang mempunyai panjang gelombang yang berbeda , yang dapat didespersikan oleh suatu monokromator menjadi sinar yang monokromatis.

2. Warna Warna cahaya dapat dilihat oleh mata manusia disebut sinar tampak (visible) yang merupakan campuran dari sinar-sinar yang mempunyai panjang gelombang 400 700 nm

Seperti yang kita lihat pada pelangi

3.Transmitan dan AbsorbanTransmitan adalah sinar yang diteruskan ( sinar yang di transmit)

Sedangkan Absorban adalah sinar yang diserap

Misalkan suatu sinar melalui kuvet (wadah sample dari kaca) maka sebagian sinar ada yang di teruskan dan sebagian lagi diabsorpsi (di serap)

Sehingga secara matematik ada hubungan antara Transmitan (T) dan Absorban (A)

Hubungannya sebagai berikut :

A = 2 log T A = Absorban

T = Transmitan (dalam %)

Contoh :

Bila T = 100 %

Maka A = 0

4. Hukum Lambert - Beer

Bila cahaya monokromatis melalui suatu larutan, jumlah cahaya yang diserap sebanding /proporsional dengan kadar zat dalam larutan.

Secara matematis hokum Lambert Beer dapat dirumuskan sebagai berikut :

A = k. c . l

A= serapan/absorbansi/optical density, yaitu jumlah cahaya yang diserap

K = koefisien ekstinsi /tetapan

C = kadar sample yang diperiksa

L = diameter kuvet/panjang larutan yang dilalui cahaya , mis = 1 Cm

Karena k dan l bilangan tetap , maka berarti A sebanding dengan c

5. Cara menjalankan spektrofotometer :

Petunjuk operasional secara terperinci dapat di ikuti sesuai dengan petunjuk / manual dari intrumen :

Prosedur umum dalam menjalankan spektrofotometer adalah :

1. Periksa bahwa tidak ada kuvet dalam tempat kuvet

2. Nyalakan switch power ON

3. Pilih lampu yang sesuai : Deuterium (D2) untuk daerah UV atau Tungsten untuk daerah visible (sinar tampak)

4. Atur panjang gelombang yang dikehendaki dengan memutar tombol pengatur panjang gelombang (seperti memilih gelombang radio)

5. Periksa % T harus menunjuk angka 100 dengan memutar tombol yang ada pada alat tersebut / A pada angka 0

6. Letakkan kuvet berisi blangko : dapat berisi akuadest/pelarut/pelarut tanpa sample

Dan ukur A / A dibuat 0

7. Isi kuvet dengan zat baku/standar, ukur A

8. Ganti kuvet isi zat baku dengan sample, ukur A

9. Hitung kadar sample dengan membandingkan antara A sample dengan A standar

Kalikan kadar standar

Catatan : hidupkan spektrofotometer selama 10 menit lebih dahulu sebagai pemanasan sehingga hasil lebih akurat

1. Pemilihan Absorbansi Maksimum

Absorbansi maksimum diperlukan untuk memperoleh puncak absorban

Cara kerja :

1. Atur Spektrofotometri pada 400 nm, dan T = 100 atau A = 0

2. Siapkan larutan Asam salisilat sebesar 50 ppm 2ml + 2 ml FeCl3 0,1% ,

Masukkan dalam kuvet dan periksa absorbansinya

3. Siapkan blangko 2 ml air + 2 ml FeCl3 0,1%

Masukkan dalam kuvet dan periksa absorbansinya

4. Geser panjang gelombang menjadi 410 - 420 430 - .... 550

(Lakukan cara kerja No 2 dan 3)

5. Untuk setiap menggeser panjang gelombang spektrofotometer dibuat

A = 0 atau A Cara kerja No 3 dibuat =0

6. Hitung A sampel = A No 2 A No 3

7. Buat kurva pada kertas grafik hubungan antara A sampel dengan panjang

Gelombang, akan diperoleh A maksimum

Pada panjang gelombang inilah digunakan untuk analisa kuantitatif

2. Pembuatan Kurva baku

Lambert Beer

Dasar :

Jumlah cahaya yang diserap oleh suatu zat pada panjang gelombang tertentu sebanding dengan kadar zat zat tersebut dalam larutan.

Alat dan Pereaksi :

1. Spektronic 20/ yang lain

2. Larutan asam salisilat : 10 ppm , 20 ppm ., 30 ppm , 40 ppm , 50 ppm

Atau deret konsentrasi yang lain dengan menghasilkan A antara 0,2 0,6

Cara kerja :

1. Siapkan 2 ml larutan asam salisilat dalam masing-masing tabung reaksi dengan urutan konsentrasi seperti diatas

2. Tambahkan pada masing-masing tabung 2 ml FeCl3 0,1%

3. Baca serapan (A) tiap-tiap tabung pada panjang gelombang maksimum sesuai percobaan (1)

4. Buat grafik hubungan antara serapan dengan kadar larutan, maka akan menghasilkan kurva standar

5. Buat kurva standar dalam kertas grafik dalam laporan Hasil Praktikum

3. Pengukuran Kadar Sampel

Tujuan :

Menentukan kadar Bedak Salisil berisi 2% asam salisilat

Cara Kerja :

1. Timbang 100 mg bedak salisil

2. Tambahkan 10 ml alkohol, aduk aduk kemudian saring

3. Tambahkan 15 ml alkohol lagi dan saring

4. Tambahkan air hingga 100 ml ( 20 ppm)

5. Abil 2 ml + 2 ml FeCl3 0,1 % pada panjang gelombang maksimum

6. Lakukan terhadap blangko 2 ml air + 2 ml FeCl3 0,1% pada panjang gelombang

Maksimum

7. Hitung A sampel = A No 5 A No 6

8. Hitung kadar sampel

Caranya : Masukkan harga A sampel pada kurva baku Lambert Beer

Tarik garis menuju kurva, tarik garis lurus menuju kadar, itulah

Kadar sampel

9. Hitung kesalahan analisa :

Kadar seharusnya Kadar sampel diperoleh

Kesalahan = ----------------------------------------------------- X 100 % =........%

Kadar seharusnya

Sampel memenuhi syarat bila kesalahan maksimum 5%

PAGE 9Penuntun Praktikum Biokimia Blok 5