pengertian skrining

of 23 /23
Pengertian Skrining 1. US Comission on Chronic Illnes (1951) telah mendefinisikan skrining sebagai suatu upaya dalam menduga ciri-ciri suatu penyakit atau kelainan yang belum diketahui dengan cara menguji, memeriksa atau prosedur lain yang dapat dilakukan dengan cepat. 2. Definisi lain tentang skrining (screening) untuk pengendalian penyakit adalah pemeriksaan orang-orang asimptomatik untuk mengklasifikasikan mereka ke dalam kategori yang diperkirakan mengindap atau diperkirakan tidak mengindap penyakit (as likely or unlikely to have the disease) yang menjadi obyek skrining. 3. Skrining bukan alat untuk mendiagnosis, subjek yang ditemukan positif atau kemungkinan mengidap suatu penyakit tertentu dalam skrining masih perlu dirujuk kembali untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosa. Biasanya kegiatan skrining bukan berasal dari kemauan penderita tetapi berasal dari petugas kesehatan atau pihak lain yang ingin mengetahui besarnya kejadian penyakit tertentu. Macam-macam skrining Ada 3 macam skrining yaitu: 1. Mass Screening (Skrining Masal)

Author: kira-freedom

Post on 19-Nov-2015

72 views

Category:

Documents


2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kjkjkj

TRANSCRIPT

Pengertian Skrining1. US Comission on Chronic Illnes(1951) telah mendefinisikan skrining sebagai suatu upaya dalam menduga ciri-ciri suatu penyakit atau kelainan yang belum diketahui dengan cara menguji, memeriksa atau prosedur lain yang dapat dilakukan dengan cepat.2. Definisi lain tentang skrining (screening) untuk pengendalian penyakit adalah pemeriksaan orang-orang asimptomatik untuk mengklasifikasikan mereka ke dalam kategori yang diperkirakan mengindap atau diperkirakan tidak mengindap penyakit (as likely or unlikely to have the disease) yang menjadi obyek skrining. 3. Skrining bukan alat untuk mendiagnosis, subjek yang ditemukan positif atau kemungkinan mengidap suatu penyakit tertentu dalam skrining masih perlu dirujuk kembali untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosa. Biasanya kegiatan skrining bukan berasal dari kemauan penderita tetapi berasal dari petugas kesehatan atau pihak lain yang ingin mengetahui besarnya kejadian penyakit tertentu.Macam-macam skriningAda 3 macam skrining yaitu:1.Mass Screening(Skrining Masal)Dilakukan pada seluruh populasi.2.Multiple Screening(Skrining Ganda)Dilakukan dengan melibatkan penggunaan berbagai alat uji skrining pada saat yang bersamaan.3.Prescriptive Screening(Skrining Preskriptif)Dilakukan dengan tujuan untuk mendeteksi individu-individu sehat terhadap suatu penyakit yang dapat dicegah lebih lanjut.Tujuan SkriningTujuan skrining adalah untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan. Program diagnosis dan pengobatan dini hampir selalu diarahkan kepada penyakit tidak menular, seperti kanker, Diabetes Mellitus, glaukoma, dan lain-lain. Dalam skala tingkatan prevalensi penyakit, deteksi dan pengobatan dini ini termasuk dalam tingkat prevensu sekunder.Semua skrining dengan sasaran pengobatan dini ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi orang-orang asimtomatik yang berisiko mengidap gangguan serius. Dalam kontek ini, penyakit adalah setiap karakteristik anatomi (misalnya kanker atau arteriosklerosis), fisiologi (misalnya kebiasaan merokok) yang berkaitan dengan peningkatan gangguan kesehatan yang serius atau kematian.Kriteria Program Skrining.Menurut Mausner dan Bahn (1997), ada 10 kriteria yang harus dipenuhi dalam program skrining yaitu:Penyakit atau keadaan yang dicari haruslah merupakan masalah kesehatan yang penting.Tersedia obat yang potensial dan disepakati untuk pengobatan penderita yang ditemukan.Tersedia fasilitas dan biaya untuk diagnosis pasti dan pengobatan.Penyakit atau keadaan yang dideteksi harus mempunyai masa laten atau asimtomatik dini.Tersedia alat uji skrining yang sesuai.Uji skrining yang tersedia harus dapat diterima oleh populasi sasaran.Perjalanan alamiah penyakit atau keadaan yang akan dideteksi harus benar-benar diketahui.Harus ada kebijakan yang sudah disepakati dari mereka yang diobati sebagai penderita.Biaya skrining secara ekonomis harus seimbang dengan resiko biaya untuk perawatan medis secara keseluruhan.Harus dimungkinkan untuk diadakanfollow updan kemungkinan untuk pencariaan/penemuan penderita secara berkesinambungan.Tes Dalam SkriningKualitas suatu uji diagnostik dinilai dengan dua parameter, yaitusensitivitas danspesifisitasnya. Kedua parameter ini memiliki nilai yang konstan yaitu (diharapkan) bernilai sama dimanapun uji dilakukan. Selain itu ada pula kuantitas yang dinamakan nilai prediksi positif dan nilai prediksi negatif, kedua nilai ini memiliki nilai yang berbeda jika uji dilakukan di tempat-tempat dengan prevalensi penyakit yang tidak sama.Banyak pertimbangan untuk menilai apakah suatu cara uji dapat dipakai secara prosedur pada suatu uji penapisan. Diantaranya yang paling penting adalah validitas dengan demikian suatu cara untuk uji dikatakan valid, tergantung seberapa mampu membedakan antara yang kemungkinan sakit dari yang sehat. Ada banyak ukuran uji validitas yang diperoleh dari tabel 2 x 2 (tabel uji validitas).Tabel Uji validitasUkuran ukuran tersebut adalah:Sensitivitasyaitu persentase hasil positif apabila suatu cara uji dilakukan terhadap penderita yang berpenyakit (dalam tabel 2 x 2 sebagai a/a+c x 100 %).Spesifisitasyaitu persentase hasil negatif, apabila cara uji tersebut dilakukan terhadap orang yang tidak sakit (dalam tabel 2 x 2 sebagai d/b+d x 100 %).Nilai duga positif(Positif Predictive Value(PPV)) yaitu persentase yang benarbenar menderita suatu penyakit dari semua hasil uji tapis positif (dalam tabel 2 x 2 sebagai a/a+b x 100 %).Nilai duga negatif(Negative Predictive Value(NPV)) yaitu persentase yang benarbenar tidak menderita suatu penyakit dari semua hasil uji tapis negatif (dalam tabel 2 x 2 sebagai d/c+d x 100 %).Prevalensiyaitu presentase antara positif gold standar dari semua yang di uji (dalam tabel 2 x 2 sebagai a+c/a+b+c+d x 100%)Uji PenampisanGold StandarTotal

PositifNegatif

Positifaba + b

Negatifcdc + d

Totala + cb + da + b +c +d

Rasio Likelihood positifyaitu sensitivitas dibanding 1 spesifisitas.Rasio Likelihood negatifyaitu 1 sensitivitas dibanding spesifisitas.

KONSEP DASAR SCREENING

A.PENGERTIANScreeningadalah suatu strtegi yang digunkan dalam suatu populasi untuk mendeteksi penyakit pada individu tanpa tanda-tanda atau gejala penyakit itu, atau suatu usaha secara aktif untuk mendeteksi atau mencari pendeerita penyakit tertentu yang tampak gejala atau tidak tampak dalam suatu masyarakat atau kelompok tertentu melalui suatu tes atau pemeriksaan yang secara singkat dan sederhana dapat memisahkan mereka yang sehat terhadap mereka yang kemungkinan besar menderita, yang selanjutnya diproses melalui diagnosis dan pengobatan.

Screening dapat didefinisikan sebagai pelaksanaan prosedur sederhana dan cepat untuk mengidentifikasikan dan memisahkan orang yang tampaknya sehat, tetapi kemungkinan beresiko terkena penyakit, dari mereka yang mungkin tidak terkena penyakit tersebut. Screening dilakukan untuk mengidentifikasi mereka yang diduga mengidap penyakit sehingga mereka dapat dikirim untuk menjalani pemeriksaan medis dan studi diagnostik yang lebih pasti.

Uji tapis bukan untuk mendiagnosis tapi untuk menentukan apakah yang bersangkutan memang sakit atau tidak kemudian bagi yang diagnosisnya positif dilakukan pengobatan intensif agar tidak menular dengan harapan penuh dapat mengurangi angka mortalitas.

Screening pada umumnya bukan merupakan uji diagnostic dan oleh karenanya memerlukan penelitian follow-up yang cepat dan pengobatan yang tepat pula.

B.DASAR PEMIKIRAN ADANYA SKRINING1.Yang diketahui dari gambaran spectrum penyakit hanya sebagian kecil saja sehingga dapat diumpamakan sebagai puncak gunung es sedangkan sebagian besar masih tersamar.2.Diagnosis dini dan pengobatan secara tuntas memudahkan kesembuhan.3.Biasanya penderitadatang mencari mencari pengobatan setelah timbul gejala atau penyakit telah berada dlm stadium lanjut hingga pengobatan menjadi sulit atau bahkan tidak dapat disembuhkan lagi.4.Penderita tanpa gejala mempunyai potensi untuk menularkan penyakit.

C.TUJUAN1.Deteksi dinipenyakit tanpa gejala atau dengan gejala tdk khas terdapat pada orang yang tampak sehat,tapi mungkin menderita penyakit ( population risk)2.Dengan ditemukannya penderita tanpa gejala dapat dilakukanpengobatan secara tuntashingga mudah disembuhkan dan tidak membahayakan dirinya maupun lingkungannya dan tidak menjadi sumber penularan hinggaepidemic dapat dihindari3.Mendapatkan penderita sedini mungkin untuk segera memperolleh pengobatan.4.Mendidik masyarakat untuk memeriksakan diri sedini mungkin

D.SASARANSasaran utama Uji tapis ataU Skrining adalah :Penderita penyakitKRONIS1.Infeksi bakteri ( Lepra,TBC, dll)2.Infeksi Virus ( hepatitis )3.Penyakit non infeksi :a.Hipertensib.Diabetus miletusc.Penyakit jantungd.Karsinoma servikse.Prostatef.glaukoma4.Aids

E.PRINSIP PELAKSANAANProses Uji tapis terdiri dari dua tahap :

1.Melakukan pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai resiko tinggi menderita penyakit dan bila hasil test negative maka dianggap orang tersebut tidak menderita penyakit.2.Bila hasil positif maka dilakukan pemeriksaan diagnostic

Pemeriksaan yang biasa digunakan untuk uji tapis dapat berupa pemeriksaan laborat atau radiologist misalnya :1.Pemeriksan gula darah2.Pemeriksaan radiology untuk uji tapis TBC

Pemeriksaan tersebut harus dapat dilakukan :1.Dengan cepat dapat memilah sasaran utk periksan lebih lanjut2.Tidak mahal3.Mudah dilakukan oleh petugas kesehatan4.Tidak membahayakan yang diperiksa maupun yang memeriksa

F.MACAM SCREENING1.Penyaringan Massal (Mass Screening)Penyaringan yang melibatkan populasi secara keseluruhan.Contoh: screening prakanker leher rahim dengan metode IVA pada 22.000 wanita2.Penyaringan MultiplePenyaringan yang dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik uji penyaringan pada saat yang sama.Contoh: skrining pada penyakit aids3.Penyaringan yg. DitargetkanPenyaringan yg dilakukan pada kelompok kelompok yang terkena paparan yang spesifik.Contoh: Screening pada pekerja pabrik yang terpapar dengan bahan Timbal.4.Penyaringan OportunistikPenyaringan yang dilakukan hanya terbatas pada penderita penderita yang berkonsultasi kepada praktisi kesehatanContoh: screening pada klien yang berkonsultasi kepada seorang dokter.

G.KRITERIA UNTUK MELAKSANAKAN SCREENING1.Sifat Penyakit-Serius-Prevalensi tinggi pada tahap praklinik-Periode yg panjang diantara tanda tanda pertama sampai timbulnya penyakit2.Uji Diagnostik-Sensitif dan Spesifik-Sederhana dan Murah-Aman dan Dapat Diterima-Reliable-Fasilitas adekwat3.Diagnosis dan Pengobatan-Efektif dan dapat diterima-Pengobatan g aman telah tersedia.

H.LOKASI SCREENINGUji tapis dapat dilakukan di lapangan,rumah sakit umum,rumah sakit khusus,pusat pelayanan khusus dll :

1.Lapangan : Uji skrining TBC2.RSU : Pap smear3.RSK : Uji tapis glaikoma di RS mata4.Yan Khu : RS jantung, RS kanker

I.VALIDITAS TES UJI SKRININGAgar hasil pengukuran dari Penyaringan/Screening itu Valid, maka harus diukur dengan menggunakan Sensitivitas & Spesifitas;

a.SENSITIVITASAdalah Proporsi dari orang orang yang benar benar sakit yang ada di dalam populasi yang disaring, yang diidentifikasi dengan menggunakan uji penyaringan sebagai penderita sakit.

b.SPESIFISITASAdalah proporsi dari orang orang yang benar benar sehat, yang juga diidentifikasi dengan menggunakan uji penyaringan sebagai individu sehat.

J.KRITERIA EVALUASIScreening mengandalkan tes, tidak hanya satu tes, tetapi sederetan tes. Oleh karena itu, kegiatan screening hanya akan efektif bila tes dan pemeriksaan yang digunakan juga efektif. Dengan demikian, setiap tes memerlukan validitas dan reliabilitas yang kuat.Validitastes ditunjukkan melalui seberapa baik tes secara aktual mengukur apa yang semestinya diukur. Jika ini adalah tes screening kolesterol, pertanyaannya adalah: dapatkah tes itu memberikan informasi yang cukup akurat sehingga individu dapat mengetahui tinggi atau rendahnya kadar kolesterolnya sekarang? Validitas ditentukan oleh sensitivitas dan spesifitas uji.

Reliabilitasdidasarkan pada seberapa baik uji dilakukan pada waktu itudalam hal keterulangannya (repeatibility). Dapatkah uji memberikan hasil yang dapat dipercaya setiap kali digunakan dan dalam lokasi atau populasi yang berbeda?

Yield (hasil)merupakan istilah lain yang terkadang digunakan untuk menyebut tes screening. Yield adalah angka atau jumlah screening yang dapat dilakukan suatu tes dalam suatu periode waktujumlah penyakit yang dapat terdeteksi dalam proses screening. Validitas suatu uji dapat dipengaruhi oleh keterbatasan uji dan sifat individu yang diuji. Status penyakit, keparahan, tingkat dan jumlah pajanan, kesehatan giz, kebugaran fisik, dan faktor lain yang mempengaruhi dan berdampak pada responden dan temuan tes.

a.Validitas: merupakan tes awal baik untuk memberikan indikasi individu mana yg benar sakit dan mana yang tidak sakit. Dua komponen validitas adalah sensitivitas dan spesifitasb.Reliabilitas: adalah bila tes yang dilakukan berulang ulang menunjukan hasil yang konsisten.c.Yield: merupakan jumlah penyakit yang terdiagnosis dan diobati sebagai hasil dari uji tapis.

K.PERTIMBANGAN SCREENING1.Penyakit atau kondisi yang sedang diskrining harus merupakan masalah medis utama2.Pengobatan yang dapat diterima harus tersedia untuk individu berpenyakit yg terungkap saat proses skrining dilakukan (obat yang potensial).3.Harus tersedia akses kefasilitas dan pelayanan perawatan kesehatan untuk diagnosis dan pengobatan lanjut penyakit yang ditemukan.4.Penyakit harus memiliki perjalanan yang dapat dikenali dengan keadaan awal dan lanjutnya yang dapat diidentifikasi.5.Harus tersedia tes atau pemeriksaan yang tepat dan efektif untuk penyakit.6.Tes dan proses uji harus dapat diterima oleh masyarakat umum.7.Riwayat alami penyakit atau kondisi harus cukup dipahami termasuk fase regular dan perjalanan penyakit dengan periode awal yang dapat diidentifikasi melalui uji .8.Kebijakan ,prosedur dan tingkatan uji harus ditentukan untuk menentukan siapa yang harus dirujuk untuk pemeriksaan .diagnosis dan tindakan lebih lanjut.9.Proses harus cukup sederhana sehingga sebagian besar kelompok mau berpartisipasi.10.Screening jangan dijadikan kegiatan yang sesekali saja ,tetapi harus dilakukan dalam proses yang teratur dan berkelanjutan.11.alat yg digunakan12.waktu13.mendapat pengobatan14.alat untuk diagnosis

L.CARA TES SCREENINGSebelum melakukan skrining terlebih deahulu harus ditentukan penyakit atau kondisi medis apa yang akan dicari pada skrining.

Contoh uji Skrining:Pap smear yaitu tes screening kanker serviksPap smear dilakukan di ruang dokter dan hanya beberapa menit. Pertama anda berbaring di atas meja periksa dengan lutut ditekuk. Tumit anda akan diletakkan pada alat stirrups. Secara perlahan dokter akan memasukkan alat spekulum ke dalam vagina anda. Lalu dokter akan mengambil sampel sel serviks anda dan membuat apusan (smear) pada slide kaca untuk pemeriksaan mikroskopis.

Dokter akan mengirim slide ke laboratorium, dimana seorang cytotechnologist (orang yang terlatih untuk mendeteksi sel abnormal) akan memeriksanya. Teknisi ini bekerja dengan bantuan patologis (dokter yang ahli dalam bidang abnormalitas sel). Patologis bertanggung jawab untuk diagnosis akhir.

Pendekatan terbaru dengan menggunakan cairan untuk mentransfer sampel sel ke laboratorium. Dokter akan mengambil sel dengan cara yang sama, namun dokter akan mencuci alat dengan cairan khusus, yang dapat menyimpan sel untuk pemeriksaan nantinya. Ketika sampel sampai ke laboratorium, teknisi menyiapkan slide mikroskopik yang lebih bersih dan mudah diinterpretasikan dibanding slide yang disiapkan dengan metode tradisional.Umumnya dokter akan melakukan Pap smear selama pemeriksaan panggul (prosedur sederhana untuk memeriksa genital eksternal, uterus, ovarium, organ reproduksi lain dan rektum). Walaupun pemeriksaan panggul dapat mengetahui masalah reproduksi, hanya Pap smear yang dapat mendeteksi kanker serviks atau prakanker sejak dini.

Skrining dan deteksi dini1.PengertianSkrining (screening) adalah deteksi dini dari suatu penyakit atau usaha untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan secara klinis belum jelas dengan menggunakan test, pemeriksaan atau prosedur tertentu yang dapat digunakan secara cepat untuk membedakan orang-orang yang kelihatannya sehat tetapi sesunguhnya menderita suatu kelainan.Test skrining dapat dilakukan dengan :Pertanyaan (anamnesa)Pemeriksaan fisikPemeriksaan laboratorium2.Tujuan skrining dan deteksi diniSkrining bertujuan untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus yang ditemukan. Program diagnosis dan pengobatan dini hampir selalu diarahkan kepada penyakit yang tidak menular seperti kanker, diabetes mellitus, glaucoma, dan lain-lain.3.Persyaratan skriningMenurut Wilson and Jungner (1986) persyaratan skrining antara lain :Masalah kesehatan atau penyakit yang diskrining harus merupakan masalah kesehatan yang penting.Harus tersedia pengobatan bagi pasien yang terdiagnosa setelah proses skrining.Tersedia fasilitas diagnosa dan pengobatan.Contoh program skrining :Phenylketonuria (PKU) adalah skrining kelainan bawaan metabolisme phenylalanin yg diakibatkan kerusakan aktifitas enzim phenylalanin-hidroxylase. Penyakit ini muncul pd usia 3-6 bln dan ditandai oleh keterlambatan perkembangan bayiTest gangguan pendengaran pada bayi harus dilakukan sebelum bayi berusia 8 bulan.Test Papanicolaou-smear (PAP SMEAR) untuk skrining kanker serviks,Skrining donor darah untuk mendeteksi HIV.Mammography dan pemeriksaan fisik untuk skrining kanker payudara pada wanita diatas 50 tahun.Pemeriksaan alpha-fetoprotein untuk skrining kerusakan (defek) syaraf.Sepuluh juta orang di dunia terdiagnosis mengidap kanker setiap tahunnya. Diperkirakan angka ini akan meningkat menjadi 15 juta orang di tahun 2020. Di Indonesia, kanker menduduki peringkat ke lima penyebab kematian terbanyak.Ada 4 kanker utama pada perempuan yang perlu di ketahui, antara lain:Kanker PayudaraKanker Serviks (Kanker Leher Rahim)Kanker Ovarium (Kanker Indung Telur)Kanker Endometrium (Kanker Badan Rahim)1.Kanker PayudaraAdalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker ini menyebabkan kematian enam juta penderitanya setiap tahun, atau mencapai 12% dari seluruh kasus kanker payudara di dunia.Faktor ResikoFaktor genetikUsia di atas 50 tahunPernah menderita kanker payudaraRiwayat keluarga dengan kanker payudaraPernah menderita penyakit payudara non-kankerHaid pertama sebelum usia 12 tahunMenopause setelah usia 55 tahunKehamilan pertama setelah usia 30 tahun atau belum pernah hamilPemakaian terapi hormonObesitas pasca menopauseMerokok dan konsumsi alkoholPaparan bahan kimiaRiwayat radiasi / penyinaran