pengenalan karakteristik bakteri e. coli dari tiap jenis limbah cair dan dampak yang ditimbulkan...

Download PENGENALAN KARAKTERISTIK BAKTERI E. COLI DARI TIAP JENIS LIMBAH CAIR DAN DAMPAK YANG DITIMBULKAN BAGI BIOTA AIR DAN MAKHLUK HIDUP LAIN

Post on 02-Dec-2015

744 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah yang menelaskan mengenai karakteristik bakteri E. Coli dari tiap jenis limbah cair dan dampak bakteri E. coli bagi biota air maupun makhluk hidup lain.

TRANSCRIPT

PENGENALAN KARAKTERISTIK BAKTERI E. COLI DARI TIAP JENIS LIMBAH CAIR DAN DAMPAK YANG DITIMBULKAN BAGI BIOTA AIR DAN MAKHLUK HIDUP LAINDisusun Oleh :

ARGHYA NARENDRA DIANASTYA (111510501105)

(Mahasiswa Penerima Beasiswa Unggulan S-1 PS. Agroteknologi Fakultas Pertanian UNEJ)

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS JEMBER2012BAB 1. PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang

Indonesia adalah negara yang memiliki penduduk cukup padat yang setiap tahunnya selalu meningkat. Akibatnya ialah timbul berbagai masalah yang erat kaitannya dengan ledakan penduduk. Permasalahan yang sering dibicarakan ialah masalah lingkungan. Lingkungan saat ini telah banyak berubah akibat ulah manusia. Perubahan tersebut terjadi dikarenakan adanya suatu pencemaran yang tidak diimbangi dengan pelestarian terhadap lingkungan. Oleh karena itu, tingkat pencemaran lingkungan akan semakin tinggi apabila tidak ada tindakan pelestarian.

Pencemaran lingkungan terjadi karena masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain ke dalam lingkungan, sehingga menurunkan kualitas lingkungan. Lingkungan yang dapat tercemari ialah tanah, udara, dan air. Air dikatakan tercemar apabila terjadi penyimpangan dari sifat-sifat air normal. Air yang tercemar dikarenakan kemasukan berbagai komponen, misalnya limbah cair. Sehingga, limbah cair dapat menurunkan kualitas air apabila melebihi ambang batas.

Pencemaran air menjadi masalah utama dalam kehidupan. Masalah utama yang dihadapi oleh sumber daya air meliputi kuantitas air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat dan kualitas air untuk keperluan domestik yang semakin menurun. Kualitas air yang semakin menurun merupakan dampak negatif dari kegiatan industri, domestik, dan kegiatan lain. Hal itu dapat menimbulkan gangguan, kerusakan, dan bahaya bagi makhluk hidup yang hidupnya bergantung pada sumber daya air. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan dan perlindungan sumber daya air guna menurunkan dampak negatif pencemaran air.

Air di alam tidak dalam keadaan murni, namun tercampur dengan berbagai komponen yang mempengaruhi kualitas air, misalnya mikroorganisme. Kandungan mikroorganisme dalam air limbah berbeda karena tergantung pada lokasi dan waktu. Mikroorganisme melakukan adaptasi dengan lingkungannya guna mempertahankan hidupnya. Adaptasi tersebut dapat terjadi secara cepat, sementara, ataupun permanen, sehingga dapat mempengaruhi bentuk morfologi dan fisiologi secara turun temurun. Oleh karena itu, dalam pembuangan limbah domestik maupun non domestik, sebaiknya dilakukan penataan lokasi pembuangan limbah, agar aliran limbah dari masing-masing pemukiman dapat terkoordinasi dan tidak menimbulkan penyakit bagi penduduk sekitar.

Mikroorganisme seperti bakteri selalu ada dalam air, karena air di alam tidak pernah dalam keadaan murni. Bakteri yang sering dtemukan di air ialah bakteri penyebab infeksi pencernaan, diantaranya ialah Vibrio cholarae penyebab penyakit kolera, Salmonella thyposa penyebab tifus, Shigella dysenteriae penyebab disentri, dan Entamoeba histolytica penyebab disentri. Di samping itu juga terdapat bakteri penyebab infeksi pencernaan, yakni E. coli. Bakteri E. coli dapat menurunkan kualitas air apabila jumlahnya melebihi ambang batas. Oleh karena itu, diperlukan kajian untuk mengetahui jumlah E. coli dari tiap jenis limbah cair, karena tiap limbah cair memiliki jumlah E.coli yang berbeda.

1.2 Tujuan

Mengetahui karakteristik bakteri E. Coli dari tiap jenis limbah cair dan dampak bakteri E. coli bagi biota air maupun makhluk hidup lain.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Pada zaman sekarang ini sejalan dengan perkembangan pembangunan di berbagai aspek, terutama di bidang industri timbul berbagai maslah baru. Hal uni terkait dengan pencemaran lingkungan oleh limbah-limbah buangan dari industri-industri yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini akan sangat berpengaruh pada kesehatan tanaman, hewan, dan manusia. Pencemaran ini terjadi pada perairan, udara, dan tanah akibat berbagai aktivitas di atas (Baroto, 2006).

Pencemaran lingkungan meruapakan suatu masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, atau komponen lain ke dalam lingkungan dan atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia maupun proses alam, sehingga kualitas lingkungan turun ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya (Estiningsih dan Mifbakhuddin, 2004).

Pencemaran air merupakan bertambahnya suatu material atau bahan dan setiap tindakan manusia yang mempengaruhi kondisi perairan, sehingga mengurangi atau merusak daya guna perairan (Hadi, 2005). Pencemaran air yang disebabkan oleh manusia dan industri sangat diprihatinkan di seluruh dunia. Pertumbuhan penduduk, urbanisasi besar-besaran, pesatnya laju industrialisasi dan teknik modern di pertanian telah mempercepat polusi air dan dapat menurunkan kualitasnya (Mohana et al, 2011).

Air yang bersih tidak diukur dari tingkat kemurniannya, tetapi dibandingkan dengan keadaan normalnya (Sugiharto, 1987). Jika air yang dimaksud telah mengalami penyimpangan dari keadaan normalnya, maka air tersebut telah mengalami pencemaran. Perubahan kualitas air tanah dapat terjadi oleh proses alami yang terjadi pada daerah imbuhannya, tetapi perubahan kualitas air tanah sering terjadi karena kegiatan manusia (Siregar, 2005). Pencemaran air merupakan penyimpangan dari sifat-sifat air dari keadaan normal. Ciri-ciri air yang tercemar bervariasi, bergantung pada jenis dan polutan atau komponen yang mengakibatkan polusi atau bahan pencemar (Effendi, 2003).

Kepadatan penduduk berkorelasi positif terhadap munculnya pencemaran air yang disebabkan semakin banyaknya limbah yang dihasilkan baik oleh limbah domestik ataupun limbah industri (Kodoatie, Robert, dan Sjarif, 2010). Pesatnya perkembangan teknologi di bidang industri telah membawa implikasi negatif besar terhadap pencemaran lingkungan akibat pembuangan limbah (cair, padat, dan gas). Kondisi ini diperparah karena industri umumnya belum menerapkan teknik pengendalian limbah yang baik (Sahubawa, 2008). Dampak tersebut terutama berupa pencemaran dan atau menurunnya daya dukung lingkungan dalam memulihkan masuknya bahan pencemar (Anonimous, 2003b dalam Sahubawa 2008).

Limbah merupakan salah satu hasil sisa yang tidak dapat dipakai lagi, apabila limbah ini terlalu banyak di lingkungan, maka akan berdampak pada pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar. Berdasarkan sumbernya, limbah dibagi menjadi dua bagian, yaitu limbah yang bersumber domestik (limbah rumah tangga) dan limbah yang berasal dari non-domestik (pabrik, industri, dan limbah pertanian). Bahan-bahan yang termasuk dari limbah harus memiliki karakteristik diantaranya adalah mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif dan lain-lain (Rizka, 2002).

Limbah cair adalah sampah cair dari suatu lingkungan masyarakat yang komponen terbesarnya terdiri dari air yang telah digunakan dan kira-kira 1% dari benda-benda organik dan anorganik (Mahida, 1984 dalam Nugroho, 2008). Limbah cair memiliki ciri yang dapat diidentifikasi secara visual dan secara pengujian di laboratorium. Identifikasi limbah cair secara visual dapat diketahui dari kekruhan, warna limbah, rasa, dan bau yang ditimbulkan. Umumnya limbah cair di dalamnya sering ditermukan padatan terlarut, padatan tidak larut, mikroorganisme, serta senyawa kimia organik (Gintings, 1992 dalam Nugroho, 2008).

Kandungan mikroorganisme dalam air limbah sangat berbeda, tergantung pada lokasi dan waktu, sehingga kebersihan dan kontaminasi air limbah sangat erat dengan lingkungan sekitar. Untuk mempertahankan hidupnya, mikroorganisme melakukan adaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi ini dapat terjadi secara cepat dan bersifat sementara, ada juga yang bersifat permanen yang dapat mempengaruhi bentuk morfologi dan fisiologi secara turun temurun. Oleh karena itu, dalam pembuangan limbah baik yang domestik maupun yang non-domestik di daerah pemukiman sebaiknya dilakukan penataan ulang lokasi pembuangan limbah, agar aliran limbah dari masing-masing pemukiman penduduk dapat terkoordinasi dengan baik, dan tidak menimbulkan penyakit yang meresahkan kehidupan penduduk sekitar (Deni, 2004).

Populasi mikroba di alam sangat kompleks dan besar. Beratus-ratus spesies dari berbagai mikroba biasanya menghuni bermacam-macam tubuh kita, termasuk mulut, saluran pencernaan, dan kulit. Salah satu mikroba tersebut adalah bakteri. Bakteri memiliki tiga macam bentuk yaitu kokus (bulat atau bola), basil (batang), dan spiral (Fardiaz 1989). Berbagai macam mikroorganisme mudah tumbuh dan berkembang dengan cepat pada kondisi kamar (Zubaidah, 2008).Sifat bakteri ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Dikatakan menguntungkan karena bakteri dapat melakukan proses pembusukan sampah agar tidak menumpuk, sebagai antibiotik, indikator pencemaran, dan sebagainya. Sedangkan dikatakan merugikan karena bakteri dapat menimbulkan penyakit untuk beberapa spesies. Walaupun demikian, mikroba khususnya bakteri sengaja ditumbuhkan pada sebuah medium. Medium yang digunakan adalah medium yang ketersediaan nutriennya tercukupi seperti air, karbon, energi, mineral, dan faktor tumbuh lain untuk pertumbuhan bakteri. Suatu bakteri dikatakan pathogen jika bakteri tersebut telah membentuk suatu koloni. Koloni didapatkan jika berada pada lingkungan buatan, sedangka jika berada di alam. konsentrasi bakteri pathogen menjadi rendah dan sulit untuk dideteksi. Oleh karena itu, dilakukan analisis mikrobiologi untuk mengidentifikasi bakteri pathogen, misalnya uji mikrobiologi air (Fardiaz 1989).

Air bersih yang memenuhi syarat kesehatan harus bebas dari pencemaran, sedangkan air minum harus memenuhi standar yaitu persyaratan fisik, kimia, d