pengaruh pemecahan saham (stock split) terhadap likuiditas

Click here to load reader

Post on 17-Oct-2021

1 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LIKUIDITAS SAHAM DAN ABNORMAL RETURN PADA PERUSAHAAN
YANG MELAKUKAN AKSI STOCK SPLIT PERIODE 2017-2019
DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)
SKRIPSI
pada Jurusan Ekonomi Syariah
Oleh :
JURUSAN EKONOMI SYARIAH
BATUSANGKAR
dengan judul: “PENGARUH PEMECAHAN SAHAM (STOCK SPLIT)
TERHADAP LIKUIDITAS SAHAM DAN ABNORMAL RETURN PADA
PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN AKSI STOCK SPLIT PERIODE
2017-2019 DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)”. Memandang skripsi
yang bersangkutan telah memenuhi persyaratan ilmiah dan dapat disetujui
untuk dilanjutkan ke sidang munaqasyah.
Demikian persetujuan ini diberikan untuk dapat dipergunakan
sebagaimana mestinya.
Gampito, SE., M.Si Mega Rahmi, SE. Sy., M.Si
NIP. 19670219 200501 1 005 NIP. -
i
ABSTRAK
WIGA AFRIANI. NIM 16 304 02 119. Judul Skripsi “Pengaruh
Pemecahan Saham (Stock Split) terhadap Likuiditas Saham dan Abnormal
Return pada Perusahaan yang Melakukan Aksi Stock Split Periode 2017-2019
di Bursa Efek Indonesia (BEI)”. Program Sarjana Ekonomi Syariah Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar.
Adanya harga suatu saham yang dinilai terlalu tinggi menyebabkan
perusahaan melakukan kebijakan pemecahan saham (Stock split). Stock split
merupakan kegiatan merubah nilai nominal menjadi yang lebih kecil, Perubahan
nilai nominal tersebut diikuti dengan perubahan harga saham yaitu menjadi lebih
kecil sesuai dengan rasio pemecahan nilai nominal tersebut. Dari aksi stock split
yang dilakukan suatu perusahaan penulis akan meneliti pengaruh yang
ditimbulkan stock split terhadap likuiditas saham dan Abnormal Return.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh yang ditimbulkan oleh
stock split terhadap likuiditas saham dan abnormal return antara sebelum dan
sesudah pengumuman stock split. Sampel yang digunakan adalah sebanyak 31
perusahaan yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Pengamatan dilakukan
pada 7 hari sebelum dan 7 hari sesudah stock split. Penulis menggunakan uji
Kolmogorov-Smirnov untuk menguji normalitas data. Data yang berdistribusi
normal menggunakan uji Paired Sample T-Test, sedangkan jika data berdistribusi
tidak normal maka menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test.
Uji normalitas data menunjukkan data berdistribusi tidak normal, sehingga
uji yang digunakan adalah Wilcoxon Signed Ranks Test. Pada uji Wilcoxon Signed
Ranks Test tingkat Asymp Sig (2-tailed) sebesar 0,000, keputusannya 0,000<0,05
maka Ha diterima artinya terdapat perbedaan rata-rata trading volume activity
saham sebelum dan sesudah stock split. Pengujian hipotesis menggunakan uji
Wilcoxon Signed Rank Test, ditemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan
antara likuiditas saham sebelum dan sesudah stock split, hal ini menunjukkan
bahwa stock split membuat harga saham menjadi lebih terjangkau sehingga
mampu menjadikan saham menjadi lebih likuid.
Sedangkan untuk abnormal return uji Wilcoxon Signed Ranks Test tingkat
Asymp Sig (2-tailed) sebesar 0,410, keputusannya 0,410>0,05 maka Ha ditolak
artinya tidak terdapat perbedaan rata-rata abnormal return saham sebelum dan
sesudah stock split. Hal tersebut menunjukkan tidak terdapat pengaruh antara
abnormal return dengan peristiwa stock split, yang mana peristiwa tersebut tidak
mempengaruhi investor dalam melakukan transaksi di pasar modal yang dilihat
dari tingkat keuntungan/rata-rata abnormal return saham sebelum dan sesudah
pengumuman.
Kata Kunci: Stock split, likuiditas, trading volume activity, abnormal return.
ii
B. Identifikasi Masalah ............................................................................... 7
C. Batasan Masalah ..................................................................................... 7
G. Definisi Operasional ............................................................................... 9
A. Landasan Teori ..................................................................................... 11
1. Signaling Theory .............................................................................. 11
C. Kerangka Berfikir ................................................................................. 39
A. Jenis Penelitian ..................................................................................... 40
C. Populasi dan sampel ............................................................................. 41
D. Sumber data .......................................................................................... 45
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................... 53
A. Profil Perusahaan .................................................................................. 53
B. Deskriptif Data ..................................................................................... 64
2. Abnormal Return ............................................................................. 69
3. Statistik Deskriptif ........................................................................... 75
D. Uji Hipotesis ......................................................................................... 81
BAB V PENUTUP ............................................................................................... 86
DAFTAR TABEL
Tabel 1. 1 Perubahan Volume Perdagangan Saham Aksi Stock Split tahun 2017-
2019 ........................................................................................................ 5
Tabel 3. 2 Perusahaan yang Menjadi Populasi Penelitian .................................. 41
Tabel 3. 3 Perusahaan yang Menjadi Sampel Penelitian .................................... 44
Tabel 4. 1 Rata-rata Trading Volume Activity perusahaan sebelum dan sesudah
pengumuman stock split ....................................................................... 65
Tabel 4. 2 Rata-rata trading volume activity disekitar pengumuman stock split 69
Tabel 4. 3 Rata-rata abnormal return perusahaan sebelum dan sesudah
pengumuman stock split ....................................................................... 70
Tabel 4. 4 Rata-rata abnormal return disekitar pengumuman stock split .......... 75
Tabel 4. 5 Statistik Deskriptif Rata-rata Trading Volume Activity Sebelum dan
Sesudah Pengumuman Stock Split ........................................................ 76
Tabel 4. 6 Statistik Deskriptif Rata-rata Abnormal Return Sebelum dan Sesudah
Pengumuman Stock Split ...................................................................... 77
activity Sebelum dan Sesudah .............................................................. 78
Tabel 4. 8 Uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov Rata-rata Abnormal Return
Sebelum dan Sesudah ........................................................................... 79
Tabel 4. 9 Uji Wilcoxon Signed Rank Test Trading Volume Activity ................. 81
Tabel 4. 10 Uji Wilcoxon Signed Rank Test Rata-rata Trading Volume Activity
Sebelum dan Sesudah Stock Split ......................................................... 82
Tabel 4. 11 Uji Wilcoxon Signed Rank Test Abnormal Return .......................... 83
Tabel 4. 12 Uji Wilcoxon Signed Rank Test Rata-rata Abnormal Return Sebelum
dan Sesudah Stock Split ........................................................................ 84
1
paling umum diperjualbelikan melalui pasar modal antara lain adalah
saham, obligasi, reksadana, rights. Dalam pemilihan instrumen efek
investor membutuhkan ketersediaan informasi terkait efek yang akan
dipilih. Informasi merupakan hal yang mendasar bagi para investor untuk
menentukan pilihan portofolio efek yang sesuai dengan keinginannya
dengan mempertimbangkan jenis efek yang sesuai dengan kebutuhan dan
perolehan keuntungan jangka panjang dengan tingkat resiko tertentu.
Pada pasar modal, banyak informasi yang dapat diperoleh investor
mengenai suatu perusahaan yang telah go public. Kebutuhan akan
informasi suatu perusahaan tersebut diperlukan investor untuk mengetahui
seluk beluk perusahaan, seperti jenis usaha yang dijalankan, struktur
kepemilikan, pengalokasian dana, kondisi keuangan perusahaan, laporan
keuangan, sampai harga saham perusahaan tertentu, yang mana dengan
informasi tersebut membantu investor dalam melakukan analisis terhadap
perusahaan dengan tujuan untuk pengambilan keputusan, apakah ingin
menanamkan modalnya dalam bentuk investasi saham pada perusahaan
tersebut atau tidak. Banyak informasi yang dapat diperoleh investor
mengenai suatu perusahaan, yang mana pada saat ini dapat di akses
dengan mudah pada laman web atau situs resmi perusahaan tersebut
maupun pada website resmi Bursa Efek Indonesia IDX (Indonesian stock
exchange). Salah satu informasi yang dapat diperoleh oleh investor adalah
mengenai kebijakan perusahaan yang dikenal dengan istilah aksi korporasi
(corporate action).
terhadap jumlah saham yang beredar maupun berpengaruh terhadap harga
2
suatu rapat umum baik RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) ataupun
RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa). Persetujuan
pemegang saham adalah mutlak untuk berlakunya suatu corporate action
sesuai dengan peraturan yang ada di pasar modal (Darmadji, 2001:129).
Diantara jenis-jenis corporate action yaitu pengumuman stock split
(pemecahan saham). Stock split atau pemecahan saham merupakan salah
satu strategi yang dapat ditempuh manajemen perusahaan dalam rangka
meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Pada dasarnya, stock split
merupakan kegiatan merubah nilai nominal menjadi yang lebih kecil yaitu
misalnya dari Rp.500 menjadi Rp.100. Perubahan nilai nominal tersebut
diikuti dengan perubahan harga saham yaitu menjadi lebih kecil sesuai
dengan rasio pemecahan nilai nominal (Fakhruddin, 2008:248).
Sedangkan menurut Fahmi (2013:125-126), stock split adalah pemecahan
nilai nominal saham menjadi nominal yang lebih kecil, misalnya dari nilai
nominal Rp. 1000 per saham menjadi Rp.500 per saham atau dari Rp.500
per saham menjadi Rp.100 per saham.
Menurut Sunaryo (2019:115), stock split biasanya dilakukan saat
harga saham mengalami peningkatan dan mengurangi kemampuan
investor untuk membelinya. Secara umum, stock split akan cenderung
meningkatkan kinerja pasar. Salah satu faktor yang mendorong suatu
perusahaan melakukan stock split adalah karena harga saham yang dinilai
terlalu tinggi. Jika harga saham sudah terlalu tinggi maka kemampuan
investor untuk membeli saham tersebut menjadi rendah dan kurang
aktifnya saham tersebut diperdagangkan di pasar modal. Dengan adanya
stock split diharapkan likuiditas saham meningkat, karena investor dapat
membeli saham di harga yang relatif rendah dan dapat dijangkau oleh
semua kalangan investor. Semakin banyak permintaan terhadap saham
suatu perusahaan maka semakin banyak saham yang beredar di masyarakat
3
sehingga membuat suatu saham semakin likuid.
Tujuan utama dari pemecahan saham ini sebenarnya adalah untuk
membuat saham lebih likuid dalam perdagangan (artinya lebih sering
diperdagangkan). Ketidak likuidan saham sering terjadi disebabkan oleh 2
unsur, yaitu (1) harga saham terlalu mahal dan (2) jumlah lembar saham
terlalu sedikit (Santosa, 2005:4). Secara umum, semakin baik kinerja suatu
perusahaan emiten, semakin tinggi laba usaha, dan semakin besar
keuntungan yang dapat dirasakan oleh pemegang saham, maka semakin
besar kemungkinan harga saham naik. Selain kinerja perusahaan, prospek
dan perkembangan industri dimana perusahaan berada, kondisi mikro dan
makro ekonomi juga mempengaruhi suatu saham. Suatu perusahaan
dikatakan dalam kondisi yang baik apabila kemampuan likuiditasnya juga
baik, tergambar pada kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban
finansialnya yang harus dipenuhi, likuiditas saham berkaitan dengan
mudahnya suatu saham diperjual belikan di pasar modal pada harga wajar.
Likuiditas saham adalah seberapa cepat saham yang kita miliki bisa
kita ubah menjadi dana tunai. Pada dasarnya, saham yang memiliki
aktivitas transaksi yang tinggi bisa dikatakan sebagai saham yang likuid.
Saham yang likuid ditentukan juga oleh banyaknya permintaan dan
penawaran. Semakin besar volume permintaan dan penawaran asset
sebuah saham, semakin likui saham tersebut. (Salim, 2010:28). Pergerakan
harga suatu saham tidak dapat diterka secara pasti dalam jangka pendek,
karena harga saham ditentukan oleh hukum permintaan dan penawaran
sebagaimana layaknya suatu pasar biasa. Semakin banyak orang yang
ingin membeli saham tersebut, maka harga cenderung naik. Dalam jangka
panjang, biasanya kinerja perusahaan akan tergambar pada pergerakan
harga saham dan berjalan searah. Meskipun begitu, tidak selalu bursa
saham dalam keadaan baik dan tidak selalu dalam keadaan buruk.
Pergerakan harga saham dalam waktu tertentu bisa membentuk suatu pola
yang tidak teratur.
Reaksi pasar terlihat dari harga saham yang berfluktuasi dan diukur
dengan abnormal return yang diterima oleh pelaku pasar. Namun jika
pengumuman stock split tidak memiliki kandungan informasi maka tidak
ada abnormal return yang terjadi pada pasar (Duarsa, 2018).
MenurutJogiyanto (2010) dalam (Duarsa, 2018), abnormal return adalah
kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return normal.
Apabila abnormal return positif maka actual return atau return yang
sesungguhnya akan lebih besar dari return yang diharapkan oleh investor.
Hal inilah yang menyebabkan para investor tertarik untuk bertransaksi di
pasar saham dengan harapan mendapatkan suatu keuntungan di atas
normal, akan tetapi jika sebaliknya maka pasar akan bereaksi negatif. Para
investor menarik dana yang akan digunakan untuk bertransaksi dan
menunggu waktu yang tepat untuk melakukan suatu investasi, sehingga
para investor perlu untuk mengevaluasi dan menganalisa apakah peristiwa
suatu perusahaan memiliki kandungan informasi dan menghasilkan
abnormal return positif disekitar peristiwa.
Keyakinan investor mengenai pemecahan saham (stock split)
bahwa akan memberikan sinyal yang baik tidak sepenuhnya benar. Banyak
penelitian yang telah dilakukan mengenai stock split dilakukan oleh para
peneliti dari berbagai periode waktu dan jumlah sampel perusahaan yang
tidak sedikit. Namun dari sekian banyak penelitian yang dilakukan
terdapat hasil yang berbeda-beda dan cenderung untuk saling mematahkan
hasil penelitian sebelumnya (Alteza, 2014:83).
Penelitian ini dilakukan pada perusahaan yang tercatat di Bursa
Efek Indonesia (BEI) yang melakukan aksi stock split pada periode 2017-
2019. Adapun perusahaan yang melakukan stock split periode 2017-2019
adalah sebanyak 38 perusahaan. Berikut data yang menunjukkan
perubahan likuiditas saham sebelum dan sesudah dilakukannya stock split
dilihat dari jumlah volume perdagangan saham perusahaan tersebut.
5
No
Kode
Saham
Ratio
stock
split
Tanggal
6
Sumber : www.idx.co.id
suatu perusahaan mengalami peningkatan, justru sebaliknya ada
perusahaan yang mengalami penurunan volume perdagangan saham
setelah dilakukannya aksi stock split, sepertiPT. Ultrajaya Milk Tbk
(ULTJ), PT. Multi Prima Sejahtera Tbk (LPIN), PT. Temas Tbk (TMAS),
dan PT. Mandala Mulifinance Tbk (MFIN).
Dari banyaknya penelitian yang telah dilakukan, dapat di
kelompokkan ke dalam dua hal. Hal pertama adalah bahwa stock split
hanyalah perubahan yang bersifat “kosmetik” yaitu investor seolah-olah
menjadi makmur karena memegang saham lebih banyak dan yang kedua
adalah bahwa stock split dapat mempengaruhi perdagangan, resiko,
keuntungan dan lain sebagainya.
saham melalui trading volume activity (TVA), serta melihat abnormal
return sebelum dan sesudah stock split. Hubungan volume perdagangan
dan likuiditas telah dibuktikan dalam penelitian Hussain (2011) bahwa
volume perdagangan memiliki keteraturan dan mempengaruhi likuiditas
saham. Pada penelitian ini, penulis memfokuskan pada perusahaan yang
melakukan aksi stock split jenis split up yaitu dengan tujuan split
memperbanyak jumlah saham. Tindakan split up akan meningkatkan
jumlah saham beredar dan menurunkan harga saham di pasar sehingga
terjangkau oleh para investor yang mana sesuai dengan tujuan penelitian
untuk mengetahui pengaruh stock split terhadap likuiditas saham.
Selanjutnya penelitian ini ditujukan untuk menguji kembali sampai
sejauh mana pengaruh stock split terhadap pasar modal di Indonesia
terkhususnya pengaruh terhadap likuiditas saham dan abnormal return.
Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah penulis jabarkan diatas,
dengan demikian judul penelitian ini adalah : “Pengaruh Pemecahan
Saham (Stock Split) Terhadap Likuiditas Saham dan Abnormal Return
pada Perusahaan Yang Melakukan Aksi Stock Split Periode 2017-2019
Di Bursa Efek Indonesia (BEI)”.
B. Identifikasi Masalah
identifikasi masalah dari penelitian ini adalah :
1. Pengaruh stock split terhadap harga saham
2. Pengaruh stock split terhadap laba perusahaan masa datang
(profitabilitas)
4. Pengaruh Stock Split terhadap Abnormal Return
C. Batasan Masalah
masalah sebagai berikut :
1. Pengaruh stock split terhadap likuiditas saham yang dilihat dari
perubahan jumlah aktivitas perdagangan saham (trading volume
activity) sebelum dan sesudah dilakukannya stock split.
2. Pengaruh Stock Split terhadap Abnormal Return sebelum dan sesudah
dilakukannya stock split.
yaitu sebagai berikut :
volume activity) sebelum dan sesudah dilakukannya stock split?
2. Bagaimana pengaruh Stock Split terhadap Abnormal Returnsebelum
dan sesudah dilakukannya stock split?
E. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut :
(trading volume activity) sebelum dan sesudah stock split.
2. Untuk mengetahui pengaruh Stock Split terhadap Abnormal Return
sebelum dan sesudah dilakukannya stock split
F. Manfaat dan luaran penelitian
1. Bagi Penulis
mengenai suatu peristiwa yang terjadi di pasar modal, terutama pada
kebijakan perusahaan (corporate action) dalam hal pemecahan saham
(stock split). Serta menjadi pedoman dalam analisis saham penulis
selaku investor pemula di pasar modal Indonesia.
2. Bagi Investor
investor dalam pengambilan keputusan investasi pada suatu saham dan
memberikan acuan dalam melakukan analisis laporan keuangan serta
informasi untuk investor mengenai pengaruh kebijakan stock split
terhadap likuiditas saham.
perusahaan mengenai pengaruh kebijakan stock split terhadap
likuiditas saham, dan menjadi bahan pertimbangan untuk pengambilan
keputusan yang berhubungan dengan kebijakan pemecahan saham
(stock split).
informasi mengenai stock split atau pemecahan saham dan diharapkan
dapat digunakan sebagai masukan, pembanding, dan referensi untuk
penelitian selanjutnya
dapat diterbitkan pada jurnal ilmiah dan menjadi referensi bacaan di
pustaka maupun di Galeri Investasi Syariah Bursa Efek Indonesia
(BEI) IAIN Batusangkar.
G. Definisi Operasional
1. Stock Split adalah pemecahan jumlah lembar saham menjadi jumlah
lembar yang lebih banyak dengan menggunakan nilai nominal yang
lebih rendah per lembar sahamnya secara proporsional. Pengertian
stock split adalah seperti kita menukar uang menjadi pecahan kecil,
uang 5000 dipecah menjadi uang seribu dengan jumlah nya lima uang
seribu dan nilainya tetap 5000, jadi lembarnya bertambah nilainya
tetap.
2. Likuiditas saham adalah ukuran jumlah transaksi suatu saham di pasar
modal dalam suatu periode tertentu. Semakin tinggi frekuensi transaksi
saham tersebut, maka semakin tinggi pula likuiditas saham. Hal
tersebut menunjukkan bahwa saham tersebut semakin diminati
investor.
10
return yang tidak normal (abnormal return) adalah selisih antara return
yang sesungguhnya terjadi dengan return ekspektasi.
11
perkembangan teori akuntansi dan pasar modal di seluruh dunia. Teori-
teori akuntansi ini berkembang mengikuti perkembangan konsep
manajemen korporasi modern sejak awal abad ke-20. Sebagai sub
sistem dari sitem manajerial, akuntansi memang tidak bisa melepaskan
diri dari apa yang sedang terjadi dalam manajemen sebuah perusahaan.
Hal ini disebabkan akuntansi merupakan salah satu komponen yang
menjalankan fungsi manajemen, khususnya bidang keuangan. Apapun
yang dilakukan dan dialami manajemen perusahaan akan dirasakan
dan dialami fungsi akuntansi. Selain itu, perkembangan teori akuntansi
ini merupakan hasil adopsi dari berbagai teori ilmu lain, yang
mempunyai kemampuan untuk menjelaskan fenomena-fenomena
akuntansi.
akuntansi dan pasar modal yang mendorong perkembangan penelitian
pasar modal. Dalam teori manajemen modern dijelaskan pentingnya
pemisahan dan kepemilikan perusahaan. Tujuannya, agar perusahaan
dikelola secara professional oleh orang yang memahami bagaimana
menjalankan sebuah perusahaan dengan baik (Sulistyanto, 2008:65).
Menurut Brigham & Houston (2011) dalam Suganda (2018), signaling
theory adalah tindakan yang diambil dari manajemen perusahaan untuk
memberikan petunjuk bagi investor mengenai prospek perusahaan.
Sinyal adalah sebuah tindakan yang diambil oleh high type manager
yang mana tidak akan rasional jika dilakukan oleh low type manager.
Berdasarkan pengertian tersebut, teori persinyalan (siganaling theory)
merupakan teori yang digunakan untuk memahami suatu tindakan oleh
12
yang pada akhirnya dapat mengubah keputusan investor dalam melihat
kondisi perusahaan (Suganda, 2018:14).
memprediksi bagaimana pasar saham akan bereaksi. Teori pensinyalan
menyarankan agar perusahaan dengan kualitas tinggi harus
memberikan sinyal keunggulan mereka kepada pasar (Ulum, 2017).
2. Saham
kepemilikan suatu perusahaan, dan pemegang saham memiliki hak
klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan (Rusdin, 2008:68).
Menurut Huda, saham adalah surat bukti kepemilikan atas
sebuah perusahaan yang melakukan penawaran umum (go public)
dalam nominal atau presentase tertentu. Sementara itu, saham
adalah jumlah satuan dari modal kooperatif yang sama jumlahnya
bisa diputar dengan berbagai cara berdagang, dan harganya bisa
berubah sewaktu-waktu tergantung keuntungan dan kerugian atau
kinerja perusahaan tersebut. Adapun saham menurut Ridwan,
merupakan surat berharga yang dikeluarkan oleh perusahaan yang
berbentuk perseroan terbatas atau yang disebut emiten (Yuliana,
2010:59).
bahwa saham menunjukkan kepemilikan atas suatu perusahaan dan
memberikan hak kepada pemiliknya. Kepemilikan tersebut
memberikan kontribusi pada pemegangnya berupa return yang
dapat diperolehnya, yaitu keuntungan modal (capital gain) atas
saham yang memiliki harga jual lebih tinggi daripada harga belinya
atau deviden atas saham tersebut, disamping hak lainnya yaitu non-
financial benefit berupa hak suara dalam rapat umum pemegang
13
memotivasi investor untuk melakukan perdagangan saham di pasar
modal (Bursa Efek).
Dalam pasar modal ada dua jenis saham yang paling umum
dikenal oleh publik yaitu saham biasa (common stock) dan saham
istimewa (preference stock). Dimana kedua jenis saham ini
memiliki arti dan aturannya masing-masing.
1. Saham Biasa(Common Stock)
yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai
nominal (rupiah, dolar, yen, dan sebagainya) dimana
pemegangnya diberi hak untuk mengikuti RUPS (Rapat Umum
Pemegang Saham) dan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang
Saham Luar Biasa) serta berhak untuk menentukan membeli
right issue (penjualan saham terbatas) atau tidak, yang
selanjutnya di akhir tahun akan memperoleh keuntungan dalam
bentuk deviden.
berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan
nilai nominal (rupiah, dolar, yen, dan sebagainya) dimana
pemegangnya akan memperoleh pendapatan tetap dalam
bentuk deviden yang akan diterima setiap kuartal (tiga
bulanan).
risiko yang akan diterima nantinya. Ini sebagaimana dikatakan
oleh Haryajid, Hendy, dan Anjarz) ”Investor yang ingin
14
melakukan investasi di saham biasa karena perputaran yang
diperoleh dari saham tersebut sangat tinggi (Fahmi, 2013:81).
c. Keuntungan memiliki saham
diterima, yaitu :
tahun.
dmiliki tersebut di jual kembali pada harga yang lebih mahal.
3. Memiliki hak suara bagi pemegang saham jenis common stock
(saham biasa) (Fahmi, 2013:86).
perusahaan. Siapapun yang memiliki lembar saham dari suatu
perusahaan yang telah go public, baik diperoleh melalui pembelian
saham di Bursa Efek ataupun diperoleh selain itu, misalnya melalui
bonus yang diterimanya dari perusahaan berupa lembar saham,
maka orang tersebut merupakan pemegang saham atau pemilik
perusahaan sesuai dengan jumlah lembar saham yang dimiliki.
Semakin banyak jumlah lembar saham yang dimiliki semakin besar
presentase kepemilikan atas perusahaan dimaksud.
Saham mempunyai beberapa jenis harga, harga nominal
dan harga pasar. Perusahaan yang sudah go public mempunyai
harga nominal dan harga di pasar baik di pasar perdana ataupun di
pasar sekunder. Terkecuali untuk harga saham di pasar sekunder,
harga nominal dan harga pasar perdana bersifat statis. Dalam
perkembangannya harga nominal juga akan berubah manakala
15
pemecahan saham (stock split) atau sebaliknya penggabungan
saham (stock reverse)(Khajar, 2016).
harga saham yang telah disusun dan dihitung sedemikian rupa
sehingga menghasilkan trend. Sedangkan angka indeks itu sendiri
adalah angka yang dibuat sedemikian rupa sehingga dapat
dipergunakan untuk membandingkan kegiatan atau peristiwa
(Widioatmodjo, 2009:85).
1. Faktor internal
keamanan produk, dan laporan penjualan.
b) Pengumuman pendanaan (financing announcements),
seperti pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan
hutang.
dan pergantian direktur, manajemen, dan struktur
organisasi.
merger, investasi ekuitas, laporan take over oleh
pengakusisian dan diakuisisi.
pengembangan riset dan penutupan usaha lainnya.
f) Pengumuman ketenagakerjaan, seperti negoisasi baru,
kontrak baru, pemogokan dan lainnya.
g) Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti
peramalan laba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir
16
assets (ROA), dan lain-lain.
bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi,
serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang
dikeluarkan oleh pemerintah.
perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan
perusahaan terhadap manajernya.
perdagangan ,pembatasan/penundaan trading.
d) Gejolak politik dalam negri dan fluktuasi nilai tukar juga
merupakan faktor yang berpengaruh signifikan pada
terjadinya pergerakan harga saham di bursa efek suatu
Negara.
e) Berbagai isu baik dari dalam dan luar negri (Zulfikar,
2016:95-96).
berpengaruh terhadap jumlah saham yang beredar maupun
berpengaruh terhadap harga saham di pasar. Corporate action
merupakan berita yang umumnya menyedot perhatian pihak-pihak
yang terkait di pasar modal khususnya para pemegang saham.
Keputusan corporate action harus disetujui dalam suatu rapat
umum baik RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) ataupun
RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa).
17
suatu corporate action sesuai dengan peraturan yang ada di pasar
modal (Darmadji, 2001:129).
Rights Issue, Stock Split, Saham Bonus, dan Pembagian Dividen
baik dalam bentuk dividen saham (stock dividend) maupun dividen
tunai (cash dividend). Namun, di samping jenis-jenis di atas,
terdapat jenis corporate action Iainnya antara lain Initial Public
Offering dan additional listing seperti private placement, konversi
saham baik dari warrant, rights ataupun obligasi. Perbedaannya
dengan kelompok sebelumnya adalah, pada kelompok kedua,
corporate action jenis ini tidak berpengaruh terhadap harga yang
terjadi di pasar kecuali berupa pencatatan penambahan saham baru
(Darmadji, 2001:129).
emiten dalam rangka memenuhi tujuan-tujuan tertentu seperti
misalnya bertujuan untuk meningkatkan modal perusahaan,
meningkatkan likuiditas perdagangan saham maupun tujuan-tujuan
perusahaan lainnya. Dampak corporate action bagi pemegang
saham umumnya corporate action memiliki pengaruh yang
signifikan terhadap kepentingan pemegang saham, karena
corporate action yang dilakukan emiten akan berpengaruh
terhadap jumlah saham yang beredar, komposisi kepemilikan
saham, jumlah saham yang akan dipegang pemegang saham, serta
pengaruhnya terhadap pergerakan harga saham. Dengan demikian
pemegang saham harus mencermati dampak atau akibat corporate
action tersebut sehingga pemegang saham akan mendapatkan
18
tepat.
faktor itu akan mempengaruhi pasar menjadi suatu kunci bagi
pemodal untuk menentukan arah keputusan investasi yang harus
dilakukannya. Hal ini penting sehingga tidak terjadi kesalahan
interpretasi akan pergerakan harga yang terjadi.
d. Dampak corporate action
1. Bagi pemegang efek
posisi pemegang efek, misalnya ketika emiten mengeluarkan
saham bonus kepada pemegang sahamnya, maka jumlah saham
yang dimiliki pemegang saham menjadi bertambah sehingga
kepemilikan saham juga bertambah dan dapat meningkatkan
posisi pemegang saham dari mungkin hanya pemegang saham
biasa menjadi pemegang saham mayoritas. Selain itu,
corporate action berupa pembagian dividen kepada pemegang
saham atau pembagian bunga obligasi akan meningkatkan
pendapatan dari pemegang saham. Corporate action memiliki
pengaruh yang signifikan bagi pemegang saham karena akan
memengaruhi jumlah saham yang beredar, komposisi
kepemilikan pemegang saham, jumlah saham yang dipegang
pemegang saham, dan lain-lain. Oleh karena itu, pemegang
saham harus mencermati dampak corporate action agar
memperoleh keuntungan dan terhindar dari kerugian dengan
melakukan keputusan investasi atau antisipasi yang tepat.
2. Bagi harga efek
emiten, atau pada posisi efek atau pemegang saham, corporate
19
Permintaan efek menggambarkan banyak hal, antara lain
penyediaan, persepsi pasar pada profitabilitas emiten, persepsi
atas kesehatan keuangan emiten, kondisi cadangan modal dan
utang emiten. Oleh karena itu, dalam hal ada peristiwa yang
memengaruhi hal-hal tersebut, maka persepsi pasar dan
perubahan permintaan efek akan direfleksikan pada harga efek
(Rahmah, 2019:290-291).
pecahan yang lebih kecil, misalnya dari Rp.1.000 per saham
menjadi Rp.500 per saham atau dari Rp.500 per saham menjadi
Rp.100 per saham (Darmadji, 2001:131).
Harga saham seringkali menjadi sangat mahal sehingga
tidak likuid lagi. Lalu, agar jumlah saham yang beredar
(outstanding) menjadi lebih banyak, perusahaan memecah nilai
nominalnya dengan rasio tertentu sehingga harganya menjadi
lebih terjangkau di kalangan investor tentu harga pasar
sahamnya pun akan segera menyesuaikan diri dengan rasio
stock split-nya. Sebagai contoh, saham PT Unilever Indonesia
Tbk (UNVR). Hingga tanggal 14 September 2003 nilai
nominal saham Unilever adalah Rp.100,- per saham dengan
jumlah saham outstanding-nya 686.700.000 lembar. Harga
penutupan hari itu adalah Rp. 30.250,- per saham. Kemudian,
tanggal 15 September 2003, UNVR melakukan stock split
sahamnya dengan komposisi 1 berbanding 10. Artinya, 1
saham lama dipecah menjadi 10 saham baru, sehingga nominal
saham juga mengalami pemecahan, yaitu Rp.100,-/10 = Rp.10,-
per saham baru. Jadi, jika sebelumnya investor memiliki 1.000
20
yang dimiliki menjadi 10.000 saham (Tambunan, 2006:43).
2. Tujuan stock split
menjadi lebih likuid, karena jumlah saham yang beredar
menjadi lebih banyak dan harganya menjadi lebih murah. Hal
ini akan sangat efektif bila dilakukan terhadap saham-saham
yang harganya sudah cukup tinggi (Darmadji, 2001:131).
Keputusan untuk melakukan stock split harus didasarkan
atas persetujuan pemegang saham pada Rapat Umum Luar
Biasa Pemegang Saham. Secara umum, ada beberapa tujuan
suatu perusahaan melakukan stock split, yaitu :
a) Untuk menghindari harga saham yang terlalu tinggi
sehingga memberatkan publik untuk membeli/memiliki
saham tersebut
c) Menarik investor yang berpotensi lebih banyak guna
memiliki saham tersebut
dari investor kecil tidak akan terjangkau
e) Menambah jumlah saham yang beredar
f) Memperkecil risiko yang akan terjadi, terutama bagi
investor yang ingin memiliki saham tersebut dengan
kondisi harga saham yang rendah maka karena sudah
dipecah tersebut artinya telah terjadi diversifikasi investasi
g) Menerapkan disversifikasi investasi
dengan beberapa alasan, tergantung pada tujuan split apakah
untuk memperbanyak jumlah saham (split-up) atau
21
dianggap terlalu tinggi dibandingkan dengan harga-harga
saham lainnya, maka dapat dilakukan split-up. Tindakan split
up akan meningkatkan jumlah saham beredar dan menurunkan
harga saham di pasar sehingga terjangkau oleh para investor.
Akan tetapi, split up juga dapat membuat likuiditas
perdagangan meningkat dan pada gilirannya dapat
meningkatkan image saham perusahaan sebagai saham yang
likuid diperdagangkan (Samsul, 2006:190).
3. Stock split dalam perspektif signaling theory dan trading range
theory
menggambarkan suatu perusahaan, dan itu dapat dilihat dari
dua sisi, yaitu sisi positif dan negative.
“Pengumuman stock split dianggap sebagai sinyal yang
positif karena manajer perusahaan akan menyampaikan
prospek masa depan perusahaan yang baik kepada publik.
Alasan sinyal ini didukung dengan kenyataannya bahwa
perusahaan yang melakukan stock split merupakan perusahaan
yang mempunyai kinerja yang baik. Jika pasar bereaksi pada
waktu pengumuman stock split, bukan berarti bahwa pasar
bereaksi karena informasi stock split yang tidak mempunyai
nilai ekonomis tersebut, tetapi karena mengetahui prospek
perusahaan di masa depan yang disinyalkan melalui stock split.
Tidak semua perusahaan dapat memberikan sinyal yang
dianggap valid dan dapat dipercaya oleh pasar. Hanya
perusahaan yang benar-benar mempunyai kondisi sesuai yang
disinyalkan yang akan mendapatkan reaksi positif. Perusahaan
yang memberikan sinyal tidak valid akan mendapatkan dampak
22
maka hal tersebut menimbulkan bertambahnya biaya yang
harus dikeluarkan perusahaan akibat melakukan aktivitas stock
split. Stock split mengandung biaya yang harus ditanggung, jadi
hanya perusahaan yang mempunyai prospek bagus yang
mampu menanggung biaya ini dan sebagai akibatnya pasar
bereaksi positif terhadapnya. Sebaliknya, perusahaan yang
tidak mempunyai prospek yang baik yang mencoba
memberikan sinyal tidak valid lewat stock split akan tidak
mampu menanggung biaya tersebut, sehingga stock split akan
menurunkan harga sekuritasnya jika pasar cukup canggih untuk
mengetahuinya.”
bertujuan untuk mengatur kembali harga saham pada kisaran
harga yang diinginkan. Trading range teori diharapkan bisa
memungkinkan investor untuk membeli saha dalam jumlah
yang banyak. Apabila harga pada saat sebelum pemecahan
cukup tinggi, maka stock split akan semakin menguatkan
kebenaran akan motif tersebut. Signaling theory adalah teori
yang melihat pada tanda-tanda tentang kondisi yang
menggambarkan suatu perusahaan. Dari pendapat diatas kita
sudah dapat memahami bahwa kebijakan suatu perusahaan
melakukan stock split adalah menggambarkan tentang kondisi
suatu perusahaan yang sehat terutama dari segi keuangan
perusahaan (Fahmi, 2013:127-129).
saham yang mengakibatkan bertambahnya jumlah saham
yang beredar. Misalnya stock split dengan faktor
23
pemecahan 2:1 maksudnya adalah dua lembar saham baru
(lembar setelah stocksplit) dapat ditukar dengan satu lembar
sahahm lama (lembar sebelum stock split). stock split
dengan faktor pemecahan 3:1 maksudnya adalah tiga
lembar saham baru (lembar setelah stock split) dapat
ditukar dengan satu mebar saham lama (lembar sebelum
stocksplit) dan seterusnya.
Misalnya pemecahan turun dengan faktor pemecahan 1:2,
1:3, 1:4. Stock split dengan faktor pemecahan 1:2
maksudanya adalah satu lembar saham baru (lembar setelah
stock split) dapat ditukar dengan dua lembar saham lama
(lembar sebelum stock split). Stock split dengan faktor
pemecahan 1:3 maksudnya adalah satu lembar saham bau
(lembar setelah stock split) dapat ditukar dengan tiga
lembar saham lama (lembar sebelum stock split) dan
seterusnya (Sunaryo, 2019:115-116).
upaya mencapai pemberdayaan. Stock split dapat menjadikan
harga saham secara absolut lebih rendah. Investor yang semula
tak dapat menjangkau harga saham, melalui stock split menjadi
terjangkau. Stock split merupakan perwujudan pemerataan
untuk para investor untuk membeli dan memiliki saham.
Melalui stock split frekuensi pedagangan saham cenderung
meningkat atau lebih likuid.
24
Direksi berdasarkan dengan hasil keputusan Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS). Sebagai contoh nilai nominal saham
yang semula sebesar Rp.500,- (lima ratus rupiah) menjadi
sebesar Rp. 250,- (dua ratus lima puluh rupiah) per saham. Jika
dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) memutuskan
adanya perubahan anggaran dasar, keputusan tersebut dibuat
dihadapan notaries yang ditunjuk oleh Dewan Direksi.
Perubahan anggaran dasar tersebut harus diterima dan dicatat
oleh Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum serta
didaftarkan dalam daftar perusahaan pada kantor pendaftaran
perusahaan daerah setempat. Sehubungan dengan keputusan
Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mengenai persetujuan
untuk melakukan konversi sahamnya menjadi catatan
elektronik (tanpa warkat) dalam rekening efek perusahaan efek
atau bank custodian dimana pemegang saham membuka
rekening efeknya (konversi saham) dan pemecahan nilai
nominal saham dari Rp.500,- (lima ratus rupiah) per saham
menjadi sebesar Rp.250,- (dua ratus lima puluh rupiah) per
saham, Dewan Direksi akan memberitahukan tata cara konversi
saham dan pemecahan nilai nominal saham (Sunaryo,
2019:116-117).
baru hasil stock split yang harganya lebih kecil agar dapat
diperdagangkan di bursa. Setelah batas periode penukaran yang
ditetapkan habis, saham dengan nilai nominal lama tidak dapat
diperdagangkan di bursa. Oleh karena itu, pemegang saham
harus memperhatikan ratio stock split, yaitu perbandingan
jumlah saham baru terhadap saham lama, tanggal terakhir
perdagangan saham dengan nilai nominal lama, tanggal
dimulainya perdagangan saham dengan nilai nominal baru,
25
nominal baru dan distribusi saham dengan nilai nominal baru
dalam rekening efek di KSEI (Rahmah, 2019:305).
6. Dampak stock split bagi pemegang saham
Jumlah saham yang dimiliki oleh pemegang saham menjadi
bertambah banyak dengan nilai nominal per saham yang lebih
kecil, tapi bersamaan dengan itu pula harga saham tersebut
secara teoritis akan turun secara proporsional. Dengan
demikian, secara keseluruhan nilai kapitalisasi saham tersebut
tidak mengalami perubahan. Dengan adanya stock split, maka
pemegang saham harus menukarkan sahamnya terlebih dulu
dengan saham baru hasil stock split agar dapat deperdagangkan
di bursa.
sahamnya dengan saham baru yang memiliki nominal lebih
kecil. Sebab, setelah batas periode penukaran yang ditetapkan
lewat, saham dengan nilai nominal lama tidak bisa
diperdagangkan di bursa.
dengan adanya stock split , antara lain :
a) Rasio stock split yaitu perbandingan jumlah saham baru
terhadap saham lama. Misalnya rasio 2 untuk 1 berarti dua
saham baru ditukar dengan setiap satu lembar saham lama,
3 untuk 2 berarti tiga saham baru dapat ditukar dengan dua
saham lama.
lama di bursa efek.
nominal baru di bursa efek.
26
dengan nilai nominal lama.
nominal baru dan distribusi saham dengan nilai nominal
baru ke dalam rekening Efek Perusahaan Efek atau Bank
Kustodian di KSEI (Fahmi, 2013:130).
7. Pengaruh stock split terhadap harga saham di bursa
Pada saat dimulainya perdagangan saham tersebut dengan
nilai nominal yang baru, maka harga saham tersebut di bursa
akan dikoreksi sesuai dengan rasio dari stock split atas dasar
harga terakhir perdagangan dengan nilai nominal yang lama.
Sebagai contoh suatu saham nilai nominalnya dipecah dari
Rp 500 menjadi Rp 100 dan harga terakhir perdagangan saham
tersebut dengan nominal lama adalah Rp 750 maka harga
pembukaan pada perdagangan dengan nilai nominal baru
adalah : 100/500 * Rp 750 = Rp 150
Seperti halnya Rights, stock split juga dipengaruhi waktu
dan rasio atau pemecahan harga nominal. Beberapa contoh
kasus stock split biasanya satu saham dipecah menjadi dua
saham, namun demikian tidak menutup kemungkinan lebih dari
itu selama tidak melanggar aturan di bursa. Secara matematis
apabila kita mengetahui berapa rasio pemecahannya kita dapat
mengukur berapa koreksi harga yang akan terjadi secara teoritis
(Darmadji, 2001:135).
rasio 1 saham lama menjadi 5 saham baru, harga sebelum
tanggal perdagangan saham baru 3500, maka harga teoritisnya
menjadi 700. Dengan diketahuinya nilai teoritis tersebut
investor dapat memprediksikan berapa besar kisaran harga awal
27
investor dapat memposisikan dirinya dengan baik.
Harga teoritis itu didapatkan dari kalkulasi :
Faktor koreksi = saham lama/saham baru
= 1/5
= 0,20
= 0,20 x 3.500
Menurut Fahmi, 2013 Secara umum ada suatu bentuk
hubungan yang bisa kita lihat antara pemecahan saham dan
kinerja keuangan (stock split and financial performance) yaitu :
a) Perusahaan yang melakukan stock split umumnya adalah
perusahaan yang cenderung tidak memiliki masalah dalam
bidang kinerja keuangan
lalunya. Pendapat ini sebagaimana dinyatakan oleh
khomsiyah dan sulistyo bahwa pemecahan saham lebih
berkaitan dengan kinerja laba masa lalu daripada dengan
kinerja laba masa depan.
manajemen keuangan suatu perusahaan telah ditangani
dengan baik. Kondisi ini memberikan kepercayaan bagi
pihak investor, kreditor, dan para stakeholders lainnya
dalam merespon atau menilai kinerja keuangan perusahaan.
Kepercayaan (trust) merupakan modal utama dalam
menjalankan bisnis, tanpa trust yang tinggi maka publik
menjadi bingung dalam menentukan keputusan memiliki
28
adalah suatu pembuktian kualitas kerja dari pihak
manajemen perusahaan secara umum dapat dipercaya. Dan
salah satu sisi trust yang akan diterima dalam bentuk return.
d) Jika stock split dilihat sebagai gambaran kinerja keuangan
yang baik di masa lalu maka artinya hasil rasio keuangan
perusahaan dapat disimpulkan juga berada dalam koridor
yang baik dan feasible. Kelayakan (feasible) tersebut juga
tergambarkan dari analisa yang sederhana bahwa kebijakan
melakukan stock split juga membawa dampak pada cost
yang harus ditanggung oleh perusahaan, yaitu dalam bentuk
dicetaknya saham pecahan baru tersebut. Maka cost yang
harus ditanggung tersebut menunjukkan bahwa perusahaan
telah benar-benar siap melakukan kebijakan stock split.
9. Stock split dan penambahan modal
Stock split tidak berpengaruh pada bertambahnya jumlah
saham suatu perusahaan. Karena keputusan stock split adalah
bersifat pemecahan saham dari 1 (satu) menjadi dua (2), atau
dari satu lembarnya adalah Rp. 10.000,- dibagi dua menjadi
perlembarnya adalah Rp. 5.000,-.
terjadi penurunan sementara kinerja perusahaan terus
menunjukkan kemajuan. Ini sebagaimana ditegaskan oleh
(Fakhruddin, 2008) bahwa pemecahan saham merupakan salah
satu strategi yang dapat ditempuh manajemen perusahaan
dalam rangka meningkatka likuiditas saham. Maka untuk
membuat saham tetap diminati maka saham dilakukan
pemecahan. Dan angka dalam bentuk rupiah yang tercatat
secara keseluruhan tetap tidak mengalami perubahan (Fahmi,
29
contoh di bawah ini.
Sebelum ada stock splits :
Agio saham (capital surplus) = Rp. 5.200.000
Laba ditahan (retained earnings) = Rp. 18.400.000
Jumlah modal sendiri = Rp. 36.100.000
Dan selanjutnya perusahaan memutuskan untuk melakukan
stock split (pemecahan saham), maka terlihat komposisinya
nilai nominal jumlah tidak mengalami perubahan sebagaimana
terlihat dibawah ini :
Agio saham (capital surplus) = Rp. 5.200.000
Laba ditahan (retained earnings) = Rp. 18.400.000
Jumlah modal sendiri = Rp. 36.100.000
10. Stock split dan kondisi jangka panjang
Suatu perusahaan yang melakukan stock split apakah sudah
menjadi jaminan jika di masa yang akan datang akan tumbuh
turun berekmbang atau memiliki kondisi yang bersifat
profitable. Profitable artinya suatu usaha atau investasi yang
dilakukan memiliki nilai keuntungan yang terus mengalami
peningkatan setiap waktunya, atau sebagian publik
menyebutnya dengan istilah “investasi yang memiliki prospek
keuntungan”.
30
kedepan. Namun secara jangka pendek adalah benar selama ini
banyak peneliti yang telah membuktikan bahwa analisa secara
jangka pendek perusahaan yang melakukan stock split
menggambarkan kondisi kinerja keuangan yang baik dan sehat
(Fahmi, 2013:133).
miliki bisa kita ubah menjadi dana tunai. Pada dasarnya, saham
yang memiliki aktivitas transaksi yang tinggi bisa dikatakan
sebagai saham yang likuid. Saham yang likuid ditentukan juga oleh
banyaknya permintaan dan penawaran. Semakin besar volume
permintaan dan penawaran asset sebuah saham, semakin likui
saham tersebut. Sebagai contoh, kita memiliki saham TLKM dalam
jumlah 100 lot. Saham tersebut bisa dikatakan likuid karena jumlah
permintaan dan penawaran setiap harinya ribuan lot. Hal tersebut
berarti, kapanpun kita akan menjual 100 lot saham TLKM yang
kita miliki, akan selalu ada yang mau menerimanya meskipun
harganya belum tentu harganya sesuai dengan apa yang kita
harapkan (Salim, 2010:28).
jumlah saham yang diperdagangkan lebih besar secara proporsional
dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar. Likuiditas suatu
saham sangat berdampak pada perdagangan saham dimana saham
yang likuid dapat memberikan kesempatan untuk mendapat profit
yang lebih pasti di bandingkan saham yang tidak likuid, karena
suatu saham yang kurang likuid dapat menurunkan minat investor
31
terbatas (Paramitha, 2019).
Tingkat likuiditas saham dapat dilihat dari adanya
perubahan volume perdagangan melalui trading volume activity
(TVA) dan perubahan bid-ask spread. Apabila TVA meningkat
dan bid-ask spread suatu saham lebih rendah, hal ini menunjukkan
bahwa minat investor dan tingkat likuiditas saham tersebut
meningkat.
Volume perdagangan saham merupakan rasio antara jumlah
lembar saham yang diperdagangkan pada waktu tertentu
terhadap jumlah saham yang beredar pada waktu tertentu.
Menurut Husnan (2009) Kegiatan perdagangan dalam volume
yang sangat tinggi di suatu bursa akan ditafsirkan sebagai tanda
pasar yang akan membaik (bullish), jika volume perdagangan
besar maka saham tersebut sangat diminati oleh banyak
investor. Kecendrungan investor yang tertarik pada saham
memberikan return saham tinggi walau beresiko (Azis,
2012:272).
Indikator aktivitas perdagangan saham antara lain adalah
volume lembar saham yang ditransaksikan antara investor dan
nilai transaksinya pada satu transaksi ataupun selama satu
periode waktu tertentu. Nilai perdagangan dihitung dari
32
lembar saham yang ditransaksikan. Indikator tingkat aktivitas
perdagangan saham dapat dilihat dari volume, nilai, dan
frekuensi transaksi. Ketiga indikator tidak selalu memberikan
peringkat yang sama. Sebagai contoh dalam perdagangan
saham selama bulan juni 2008 (21 hari perdagangan efektif),
Bakrie & Brothers Tbk meduduki peringkat teratas dalam hal
volume transaksi (6,15 miliar) dengan total nilai transaksi
Rp.3,17 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 9447 kali.
Sedangkan Bumi Resources Tbk berada pada peringkat ketiga
dalam hal volume transaksi, namun menduduki peringkat
teratas dalam hal nilai dan frekuensi transaksi yakni sebesar
Rp.21,94 triliun yang diperdagangkan sebanyak 97.116 kali
(Tandelilin, 2010:35).
mengeluarkan dana yang lebih besar untuk membeli saham,
sehingga volume perdagangan saham akan menurun. Oleh
karena itu, salah satu cara untuk meningkatkan volume
perdagangan yaitu dengan cara melakukan stock split yang
dimana stock split bertujuan untuk menaikan volume
perdagangan (Yasa N. P:2019).
dalam menentukan ada tidaknya reaksi pasar terhadap suatu
kejadian tertentu yang berkaitan dengan transaksi saham.
Besarnya aktivitas volume perdagangan saham dapat diukur
dengan menggunakan Trading Volume Activity (TVA). TVA
merupakan suatu persamaan yang menunjukkan nilai
perbandingan antara jumlah saham yang diperdagangkan dalam
waktu tertentu dengan jumlah saham yang beredar pada waktu
tertentu. Semakin sering suatu saham diperdagangkan maka
33
besar. Trading Volume Activity (TVA) suatu saham merupakan
penjumlahan dari setiap transaksi perdagangan yang dilakukan
oleh para pelaku pasar (Dalimunthe, 2015).
Menurut (Suganda, 2018)Trading volume activity (TVA)
merupakan indikator yang digunakan untuk mengamati serta
mengukur reaksi pasar modal terhadap informasi atau peristiwa
yang terjadi di pasar modal. Informasi atau peristiwa tertentu
dapat memicu pergerakan saham di pasar modal yang akan
mempengaruhi penawaran dan permintaan saham. Trading
volume activity merupakan penjualan dari setiap transaksi yang
terjadi di bursa saham pada saat waktu tertentu untuk saham
tertentu, dan merupakan salah satu faktor yang juga
memberikan pengaruh terhadap pergerakan saham. Trading
volume activity (TVA) merupakan suatu indikator yang dapat
digunakan untuk melihat reaksi pasar modal terhadap informasi
yang beredar di pasar modal dengan menggunakan aktivitas
volume perdagangan saham sebagai parameternya. Trading
volume activity (TVA) sering digunakan sebagai alat untuk
mengukur likuiditas saham. Apabila volume saham yang
diperdagangkan lebih besar daripada volume saham yang
diterbitkan, maka semakin likuid saham tersebut sehingga
aktivitas volume perdagangan meningkat.
volume perdagangan yang besar dan saham dengan volume
besar akan menghasilkan return saham yang tinggi, kemudian
akan dilihat tingkat perubahan volume perdagangan pada
periode tahun t dan volume perdagangan pada pereiode tahun
sebelum t, seperti pada formula dibawah ini :
%PVP = VPt – VPt-1
VPt = Volume perdagangan periode tahun ke t
VPt-1 = Volume perdagangan sebelum periode tahun ke-t
Umumnya volume digambarkan sebagai histogram, dimana
panjang bar menentukan banyaknya jumlah transasksi.
Semakin panjang bar maka transaksi semakin banyak (Azis,
2012:273).
semakin tidak likuid (Astuti, 2015:13).
2) Bid-ask spread
adanya perubahan bid-ask spread. Bid-ask spread merupakan
suatu instrumen yang dapat digunakan untuk melihat reaksi
pasar modal terhadap informasi melalui parameter perbedaan
antar selisih antara harga tertinggi yang diminta untuk membeli
dengan harga terendah yang ditawarkan untuk menjual (Bid
Ask-Spread), diukur dengan menggunakan persentase.
Bid price merupakan harga beli tertinggi dimana investor
bersedia untuk membeli saham, sedangkan ask price
merupakan harga jual terendah dimana investor bersedia untuk
menjual sahamnya. Bid-ask spread merupakan selisih antara
tawaran harga jual terendah dan harga beli tertinggi pada akhir
jam perdagangan atas suatu jenis saham di BEI. Apabila bid-
ask spread suatu saham lebih rendah, hal ini menunjukkan
bahwa tingkat likuiditas saham tersebut meningkat (Yasa L. A.,
2019).
35
sebagai berikut:
½ (Ask+Bid)
yang diminta oleh penjual (Rusliati, 2010).
Perhitungan rata-rata bid-ask spread secara keseluruhan
mengalami kenaikan, berarti bahwa likuiditas saham tersebut
kurang baik setelah pengumuman pemecahan saham.
Penurunan likuiditas menunjukkan bahwa investor kurang
tertarik untuk bertransaksi sehingga menurunkan harga saham.
Beberapa perusahaan mengalami penurunan rata-rata bid-ask
spread yang menunjukkan bahwa sahamnya semakin likuid
setelah pengumuman pemecahan saham dilakukan. Kenaikan
likuiditas menunjukkan bahwa banyaknya investor yang
tertarik untuk bertransaksi pada saham perusahaan tersebut,
sehingga akan menaikkan harga saham.Rumus Bid-ask spread
(BAS): BAS = Ask Price – Bid Price
Ask Price
return atau excess return merupakan kelebihan dari return yang
sesungguhnya terjadi terhadap return normal, dimana return normal
merupakan return ekspektasi (return yang diharapkan oleh investor),
dengan demikian return yang tidak normal (abnormal return) adalah
selisih antara return yang sesungguhnya terjadi dengan return
ekspektasi.Untuk mengetahui signifikansinya dilakukan uji beda dua
36
pemecahan saham
tertentu digunakan persamaan :
periode t
b. Return Saham
harga sekarang dikurangi dengan harga saham hari sebelumnya
dibagi harga saham hari sebelumnya. Menghitung actual return
untuk mengetahui perbandingan harga saham hari ini dengan harga
saham pada hari sebelumnya digunakan persamaan sebagai berikut:
Menghitung return saham harian :
Rit = Pit - Pit−1
Pit = harga saham masing-masing perusahaan pada tanggal t
Pit−1 = harga saham masing-masing perusahaan pada tanggal t-1
c. Expected Return
karena menurut market adjusted model penduga terbaik untuk
mengestimasi return suatu sekuritas adalah indeks pasar pada saat
hari itu. Maka dengan model ini tidak perlu menggunakan
estimatiom period karena return efek yang diestimasi sama dengan
37
expected return digunakan rumus sebagai berikut :
ER = IHSGt - IHSGt−1
IHSGt−1 = Indeks Harga Saham Gabungan pada hari ke t-1
B. Kajian penelitian yang relevan
1. Sinta Oktalia (2018) melakukan penelitian dengan judul “Analisis
Likuiditas Saham, Abnormal Return, Dan Kinerja Keuangan Sebelum
dan Setelah Stock Split pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa
Efek Indonesia Periode 2012-2016”. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan Trading
Volume Activity (TVA) antara sebelum dan setelah pemecahan saham,
tidak terdapat perbedaan yang signifikan Abnormal Return (AR) antara
sebelum dan setelah pemecahan saham, dan tidak terdapat perbedaan
yang signifikan Return on Asset (ROA) serta terdapat perbedaan yang
signifikan Earning Per Share (EPS) antara sebelum dan setelah stock
split.
2. Fatima Nur Izza (2016) melakukan penelitian dengan judul “Analisis
Pengaruh Stock Split Terhadap Likuiditas Saham dan Future
Profitability Perusahaan”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1)
Pengumuman stock split berpengaruh terhadap trading volume
activity, hal ini dibuktikan dengan hasil uji paired sample t-test dengan
tingkat signifikansi 0,019 (0,019<0,05). (2) Pengumuman stock split
berpengaruh terhadap harga saham, hal ini dibuktikan dengan hasil uji
paired sample t-test dengan tingkat signifikasi 0,044 (0,044<0,05). (3)
Pengumuman stock split tidak berpengaruh pada pertumbuhan laba
38
(ΔEAT), hal ini dibuktikan dengan hasil uji regresi linear sederhana
dengan tingkat signifikansi 0,085 (0,085>0,05).
3. Destry Widi Astuti (2015) melakukan penelitian dengan judul
“Dampak Stock Split Terhadap Likuiditas Saham”. Hasil penelitian
menunjukkan terdapat perbedaaan Trading Volume Activity (TVA)
antara sebelum dan sesudah stock split pada perusahaan berukuran
besar, perusahaan berukuran kecil, perusahaan bertumbuh, dan
perusahaan tidak bertumbuh. Berdasarkan hal tersebut dapat
disimpulkan bahwa terdapat dampak stock split terhadap likuiditas
saham.
dengan judul “Pengaruh Perubahan Komposisi Kepemilikan Saham
Sebagai Akibat Stock Split Terhadap Likuiditas Saham”. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa peristiwa stock split memberikan
dampak terhadap perdagangan saham. Stock split menyebabkan
terjadinya perbedaan yang signifikan dari cumulative abnormal return
(CAR) dan ratarata trading volume activity sebelum pemecahan saham
dibandingkan setelah pemecahan saham. Berkenaan dengan komposisi
saham publik dan perubahannya dalam peristiwa stock split ternyata
tidak berpengaruh terhadap likuiditas perdagangan saham.
5. Muniya Alteza, Lina Nur Hidayati & Arum Darmawati (2014)
melakukan penelitian dengan judul “Perubahan Likuiditas Akibat
Pemecahan Saham: Studi di Pasar Modal Indonesia”. Penelitian ini
menemukan bahwa pemecahan saham tidak berpengaruh terhadap
likuiditas saham jangka pendek; pemecahan saham, ukuran perusahaan
dan return secara simultan berpengaruh terhadap likuiditas jangka
pendek; pemecahan saham berpengaruh negatif terhadap likuiditas
saham jangka panjang; dan pemecahan saham, ukuran perusahaan dan
return secara simultan berpengaruh terhadap likuiditas saham jangka
panjang.
39
sebagai berikut :
H0: Tidak terdapat pengaruh signifikan antara stock split dengan
likuiditas saham sebelum dan sesudah dilakukannya stock split
pada perusahaan yang melakukan aksi stock split periode 2017-
2019.
saham sebelum dan sesudah dilakukannya stock split pada
perusahaan yang melakukan aksi stock split periode 2017-2019.
2. Pengaruh Stock Split terhadap Abnormal Return
H0 : Tidak Terdapat pengaruh signifikan antara stock split dengan
likuiditas saham sebelum dan sesudah dilakukannya stock split
pada perusahaan yang melakukan aksi stock split periode 2017-
2019.
return sebelum dan sesudah dilakukannya stock split pada
perusahaan yang melakukan aksi stock split periode 2017-201
Stocksplit
Likuiditas
Saham
Abnormal
Return
5
40
peristiwa) dengan metode penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif
adalah penelitian yang terstruktur dan mengkuantifikasikan data untuk
dapat digeneralisasikan dan penelitian kuantitatif ini bersifat deduktif
(Sugiyono,2011). Penelitian kuantitatif umumnya dilakukan pada populasi
atau sampel tertentu refresentatif. Proses penelitian bersifat deduktif
dimana untuk menjawab rumusan digunakan konsep atau teori. Penelitian
ini dilakukan pada perusahaan yang memenuhi persyaratan yang peneliti
tetapkan yaitu perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)
yang melakukan aksi stock split pada periode 2017-2019 yang diperoleh
dari website BEI www.idx.co.id.
Tempat penelitian yaitu di Bursa Efek Indonesia pada perusahaan
yang melakukan stock split periode 2017-2019. Pengambilan data
dilakukan di Galeri Investasi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
IAIN Batusangkar. Trading Volume Activity yang digunakan adalah rata-
rata TVA tujuh hari sebelum dan sesudah melakukan pemecahan saham.
Jangka waktu penelitian ini dipilih karena merupakan waktu yang tepat
untuk melakukan penelitian dan memiliki kelengkapan informasi yang
lebih lengkap.
Pengajuan proposal
Bimbingan proposal
Seminar Proposal
pengumuman pemecahan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode
2017-2019. Teknik sampel yang digunakan yaitu purposive sampling,
dimana merupakan cara penarikan sampel yang dilakukan dengan memilih
subyek berdasarkan kriteria spesifik yang diterapkan peneliti.
Tabel 3. 2
No Tanggal Kode Emiten Nama Perusahaan
1 27 Mar 2017 KKGI PT. Resource Alam Indonesia Tbk
2 19 Mei 2017 IIKP PT. Inti Agri Resources Tbk
3 02 Jun 2017 SAME PT. Sarana Meditama Metropolitan
Tbk
4 05 Jun 2017 BFIN PT. BFI Finance Indonesia Tbk
5 14 Jun 2017 INTD PT. Inter-Delta Tbk
6 16 Jun 2017 MDIA PT. Intermedia Capital Tbk
7 03 Jul 2017 VOKS PT. Voksel Electric Tbk
8 04 Ags 2017 SMDR PT. Samudera Indonesia Tbk
9 10 Ags 2017 ULTJ PT. Ultra Jaya Milk Industry Tbk
42
Tbk
11 13 Sep 2017 BMRI PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk
12 23 Okt 2017 INAI PT. Indal Aluminium Industry Tbk
13 10 Nov 2017 BBRI PT. Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk
Tbk
Tbk
18 25 Jun 2018 BLTZ PT. Graha Layar Prima Tbk
19 28 Jun 2018 TOWR PT. Sarana Menara Nusantara Tbk
20 04 Jul 2018 MINA PT. Sanurhasta Mitra Tbk
21 09 Jul 2018 TOPS PT. Totalindo Eka Persada Tbk
22 13 Jul 2018 GEMA PT. Gema Grahasarana Tbk
23 17 Jul 2018 MARI PT. Mahaka Radio Integra Tbk
24 01 Ags 2018 BUVA PT. Bukit Uluwatu Villa Tbk
25 28 Ags 2018 MFIN PT. Mandala Multifinance Tbk
26 02 Okt 2018 KPIG PT. MNC Land Tbk
27 11 Feb 2019 MARK PT. Mark Dynamics Indonesia Tbk
28 04 Apr 2019 ZINC PT.Kapuas Prima Coal Tbk
29 24 Mei 2019 LPIN PT.Multi Prima Sejahtera Tbk
30 31 Mei 2019 TOBA PT. Toba Bara Sejahtera Tbk
31 11 Jun 2019 CARS PT. Bintraco Dharma Tbk
32 25 Jun 2019 TAMU PT. Pelayaran Tamarin Samudra
Tbk
34 18 Jul 2019 TMAS PT. Temas Tbk
43
35 16 Ags 2019 JSKY PT. Sky Energy Indonesia Tbk
36 18 Okt 2019 MDKA PT. Merdeka Copper Gold Tbk
37 05 Nov 2019 ANDI PT. Andira Agro Tbk
38 14 Nov 2019 TBIG PT. Tower Bersama Infrastructure
Tbk
1. Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan sahamnya
aktif diperdagangkan dari tahun 2017-2019.
2. Perusahaan tersebut hanya melakukan kebijakan pemecahan saham
(stock split) dan tidak melakukan aksi korporasi lainnya, dengan
tujuan membatasi fokus penulis dalam memperoleh data yang
terkait dengan aksi tersebut.
tahunnya selama periode penelitian.
alasan pemilihan kriteria ini adalah untuk mempermudah pemilihan
sampel serta mendukung hasil penelitian nantinya yaitu untuk
mengetahui pengaruh stock split terhadap likuiditas saham.
Pemilihan periode waktu tahun 2017-2019 agar penelitian berasal
dari data terbaru.
sampel penelitian sebagai berikut :
No Tanggal Kode Emiten Nama Perusahaan
1 19 Mei 2017 IIKP PT. Inti Agri Resources Tbk
2 05 Jun 2017 BFIN PT. BFI Finance Indonesia Tbk
3 14 Jun 2017 INTD PT. Inter-Delta Tbk
4 03 Jul 2017 VOKS PT. Voksel Electric Tbk
5 04 Ags 2017 SMDR PT. Samudera Indonesia Tbk
6 15 Ags 2017 BTEK PT. Bumi Teknokultura Unggul
Tbk
7 13 Sep 2017 BMRI PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk
8 23 Okt 2017 INAI PT. Indal Aluminium Industry Tbk
9 10 Nov 2017 BBRI PT. Bank Rakyat Indonesia
(Persero) Tbk
Tbk
Tbk
14 25 Jun 2018 BLTZ PT. Graha Layar Prima Tbk
15 04 Jul 2018 MINA PT. Sanurhasta Mitra Tbk
16 09 Jul 2018 TOPS PT. Totalindo Eka Persada Tbk
17 17 Jul 2018 MARI PT. Mahaka Radio Integra Tbk
18 01 Ags 2018 BUVA PT. Bukit Uluwatu Villa Tbk
19 28 Ags 2018 MFIN PT. Mandala Multifinance Tbk
20 11 Feb 2019 MARK PT. Mark Dynamics Indonesia Tbk
21 04 Apr 2019 ZINC PT.Kapuas Prima Coal Tbk
22 24 Mei 2019 LPIN PT.Multi Prima Sejahtera Tbk
23 31 Mei 2019 TOBA PT. Toba Bara Sejahtera Tbk
24 11 Jun 2019 CARS PT. Bintraco Dharma Tbk
45
Tbk
27 18 Jul 2019 TMAS PT. Temas Tbk
28 16 Ags 2019 JSKY PT. Sky Energy Indonesia Tbk
29 18 Okt 2019 MDKA PT. Merdeka Copper Gold Tbk
30 05 Nov 2019 ANDI PT. Andira Agro Tbk
31 14 Nov 2019 TBIG PT. Tower Bersama Infrastructure
Tbk
data sekunder. Sumber data sekunder adalah data yang telah dikumpulkan
oleh pihak lain, atau dengan kata lain data yang dikumpulkan bukan pihak
lain yang terkait langsung dengan penelitian yang sedang berjalan
kegunaan data tersebut biasanya tidak hanya untuk penelitian saja
(Yulianto, 2018:37). Sumber data sekunder yang digunakan berupa
laporan tahunan (annual report) perusahaan yang memenuhi persyaratan.
Informasi dari peristiwa stock split yang dipublikasikan akan diuji
dampaknya terhadap likuiditas saham.Pada penelitian ini data yang
digunakan adalah data perusahaan yang melakukan stock split diperoleh
dari Indonesian Stock Exchange (IDX) pada bagian aksi korporasi
perusahaan serta laporan keuangan yang diterbitkan periode 2017-2018.
Selain itu, data juga diperoleh dari aplikasi IPOT (Indopremier Of
Trading) yaitu aplikasi untuk transaksi jual beli saham di Bursa Efek
Indonesia dan situs web Yahoo Finance yang mana diperlukan untuk
melihat volume perdagangan saham serta saham beredar perusahaan
dokumentasi. Teknik pengumpulan data dengan dokumentasi adalah
pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen. Metode
dokumentasi adalah alat pengumpulan data yang digunakan untuk mencari
mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip buku, surat
kabar, majalah, peraturan-peraturan, notulen rapat dan sebagainya
(Nashihim, 2017:83). Dalam penelitian ini, penulis menganalisis data-data
tertulis seperti volume perdagangan saham dan saham beredar pada
perusahaan yang melakukan stock splituntuk mengetahui pengaruh stock
split tersebut terhadap likuiditas saham.
F. Teknik analisis data
Penentuan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
dibedakan berdasarkan pada variabel yang akan diteliti sesuai dengan
rumusan masalah pada bab sebelumnya. Teknik analisis data yang
digunakan oleh peneliti untuk menghitung dan memperoleh hasil yaitu
menggunakan rumus TVA dan abnormal retrun saham dan menggunakan
aplikasi Statistical Package for the Social Sciences 22 (SPSS 22). Adapun
uji yang dilakukan pada penelitian ini adalah :
1. Trading Volume Activity
hari sebelum dan sesudah melakukan pemecahan saham. Untuk
menentukan TVA digunakan rumus :
TVA = Jumlah Saham Diperdagangkan
sebelum dan sesudah melakukan pemecahan saham.
47
periode t
3. Statistik Deskriptif
data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian,
maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness
(kemenangan distribusi) (Ghozali, 2016, hal. 19).
4. Uji Asumsi Klasik
berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas dalam peneliatian
ini dilakukan pada variabel-variabel yang akan digunakan dalam
uji beda maupun residual analisis regresi. Dalam hal ini peneliti
menggunakan uji statistik Kolmogrov-smirnov dengan tingkat
signifikansi 5% untuk mendeteksi normalitas data. Uji statistik
Kolmogorov-smirnov dapat digunakan untuk mengetahui apakah
data terdistribusi normal atau tidak. Hal itu dapat diketahui dengan
melihat signifikansi data tersebut. Apabila signifikansi lebih dari
5% atau 0,05, maka data berdistribusi normal dan dapat dilanjutkan
dengan uji inferensial. Screening terhadap normalitas data
merupakan langkah awal yang harus dilakukan untuk setiap
multivariate, khususnya jika tujuannya adalah inferensi (Ghozali,
2006).
48
dan uji-t. Deteksi adanya autokorelasi dapat dilihat dari besarnya
durbin-watson (D-W). Menurut Firdaus (2004) dalam Margasari
dkk (2010) mengatakan, penentuan pengambilan keputusannya
yaitu, apabila D-W kurang dari 1,10 dan lebih dari 2,90 ada
autokorelasi. Apabila D-W 1,10-1,54 dan 2,46-2,90 tanpa
kesimpulan, dan apabila D-W 1,55-2,46 tidak ada autokorelasi.
c. Uji Multikolinearitas
klasik adalah terdapat pada multkolinearitas dalam model regresi
yang dihasilkan. Artinya, antara variabel independen terdapat
model yang memiliki hubungan sempurna atau mendekati
sempurna. Hal tersebut akan mempunyai konsekuensi yaitu
kesalahan standar estimasi anak cenderung meningkat dengan
bertambahnya variabel dependen, tingkat signifikansi yang
digunakan untuk menolak hipotesis nol akan semakin besar,
probabilitas menerima hipotesis yang salah, kesalahan β juga akan
semakin besar. Akibat dari konsekuensi tersebut adalah model
regresi yang diperoleh tidak valid untuk menaksir nilai variabel
independen (Margasari dkk, 2010). Data mengandung
multikolinearitas atau tidak dapat dilihat dari nilai tolerance dan 56
VIF-nya. Jika nilai tolerance lebih kecil dari 0,1 dan VIF-nya lebih
besar dari 10 maka data dinyatakan mengandung multikolinearitas
(Ghozali, 2006).
selanjutnya adalah adanya heteroskedastisitas, yaitu variance
variabel yang ada pada model tidak sama atau konstan.
Konsekuensi adanya heteroskedastisitas adalah bahwa penaksiran
49
besar, meskipun penaksir yang diperoleh menggambarkan
populasinya (tidak besar) dan bertambahnya sampel yang
digunakan akan mendekati nilai sebenarnya (konsisten). Hal ini
diakibatkan oleh variansnya yang tidak minimum (efisien). Uji
heteroskedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji glejser. Uji
glejser dilakukan dengan meregresikan nilai absolut residual
terhadap variabel bebas. Data tidak terjadi heteroskedastisitas jika
nilai signifikansinya lebih besar dari alfa sebesar 5% (Ghozali,
2006).
likuiditas saham dan abnormal return saham dilakukan pengujian
paired sample t-test dengan asumsi data terdistribusi normal dan
wilcoxon signed-rank test jika data tidak terditribusi normal. Alat uji
ini digunakan karena data sebelum dan sesudah adanya peristiwa stock
split adalah data yang berpasangan.
a. Paired Sampel t-test
dua nilai rata-rata dengan standard error dari perbedaan rata-rata
dua sampel. (Ghozali, 2006). Apabila data dengan distribusi
normal menggunakan paired sample t-test, dimana uji paired
sample t-test adalah untuk mengetahui perbedaan sampel sebelum
dan sesudah diberi perlakuan (pemecahan saham), sedangkan data
tidak terdistribusi normal akan menggunakan uji wilcoxon sign
ranx test (Halim, 2005). Untuk dapat melihat pergerakan dari
harga saham atas kegiatan pemecahan saham akan dilakukan
dengan periode pengamatan (event window) yang digunakan dalam
penelitian ini adalah 14 hari yaitu 7 hari sebelum dan 7 hari
sesudah aktivitas stock split (pemecahan saham).
50
perbedaan Trading Volume Activity (TVA) dan abnormal return
sebelum dan sesudah aksi korporasi dalam hal ini pemecahan
saham (stock split). Rumusan hipotesis yang diajukan:
H0 : Tidak terdapat perbedaan TVA dan abnormal return
sebelum dan sesudah stock split
H1 : Ada perbedaan TVA dan abnormal return sebelum dan
sesudah stock split
signifikasi lebih dari/diatas 0,05 (alpha 5%) maka H1 diterima.
b. Wilcoxon Sign Rank Test
Wilcoxon Sign Rank Test adalah metode statistika non-
parametrik digunakan untuk membandingkan perbedaan dua
median dan merupakan metode statistik non- parametrik alternatif
untuk paired t-test jika populasi tidak terdistribusi normal.
Wilcoxon Sign Rank Test merupakan uji non parametrik yang
digunakan karena pemilihan dilakukan terhadap dua sampel yang
berhubungan satu sama lain (dependen), karena subjek
mendapatkan pengukuran yang sama yaitu diukur sebelum dan
sesudah. Adapun dasar pengambilan keputusan dalam pengujian
Wilcoxon Sign Rank Test dengan membandingkan angka Zhitung
dengan Ztabel. Kriteria pengujian:
Bentuk pengambilan keputusan dengan α 0.05 untuk tingkat
kepercayaan 90% dari pengujian dua sisi. Adapun kriteria
pengambilan keputusan adalah:
yang signifikan.
signifikan.
pengaruh satu variabel penjelas/independen secara individual dalam
menerangkan variasi variabel dependen. Hipotesis no (Ho) yang
hendak diuji adalah apakah suatu parameter (bi) sama dengan nol,
atau:
1) Ho : bi = 0, Artinya apakah suatu variabel independen bukan
merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel
dependen.Hipotesis alternatifnya (HA) parameter suatu variabel
tidak sama dengan nol.
yang signifikant terhadap variabel dependen.
Cara melakukan uji t adalah sebagai berikut :
a) Bila jumlah degree of freedom (df) adalah 20 atau lebih, dan
derajat kepercayaan sebesar 5%, maka Ho yang menyatakan
bi = 0 dapat ditolak bila nilai t lebih besar dari 2 (dalam
nilai absolut). Dengan kata lain kita menerima hipotesis
alternatif, yang menyatakan bahwa suatu variabel
independen secara individual mempengaruhi variabel
dependen.
dibandingkan nilai t tabel, kita menerima hipotesis alternatif
yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara
individual mempengaruhi variabel dependen (Ghozali,
2016: 97).
Uji statistik F pada dasarnya menunjukan apakah semua
variabel independen atau bebas yang dimasukkan dalam model
mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel
dependen atau terikat.
kreteria pengambilan keputusan (Ghozali, 2016: 96):
1. Bila nilai F lebih besar dan pada maka Ho dapat ditolak pada
derajat kepercayaan 5%. Dengan kata lain menerima hipotesis
alternative, yang menyatakan bahwa semua variabel
independen secara serentak dan signifikan mempengaruhi
variabel dependen.
2. Membandingkan nilai F hasil perhitungan dengan nilai F
menurut tabel. Bila nilai F hitung lebih besar dari pada nilai F
tabel maka Ho ditolak dan menerima HA.
5
53
PT Inti Agri Resources Tbk, (selanjutnya disebut ”Perseroan”)
didirikan pada tanggal 16 Maret 1999 dengan nama PT Inti Indah
Karya Plasindo berdasarkan Akta Notaris Ruth Karliena, SH., No. 17
dan telah mendapatkan pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik
Indonesia dalam Surat Keputusan No. C-14036.TH.1999 tanggal 2
Agustus 1999. Pada saat didirikan, Perseroan bergerak dalam bidang
usaha plastik.
PT BFI Finance Indonesia Tbk („BFI Finance atau
„Perusahaan) merupakan salah satu pelopor perusahaan pembiayaan di
Indonesia. Awalnya dibentuk sebagai PT Manufacturers Hanover
Leasing Indonesia, perusahaan kongsi dengan Manufacturer Hanover
Leasing Corporation dari Amerika Serikat, Perusahaan didirikan pada
7 April 1982 berdasarkan Akta Notaris No. 57. Ruang lingkup bisnis
Perusahaan adalah Pembiayaan Investasi, Pembiayaan Modal Kerja,
Pembiayaan Multiguna, dan Kegiatan usaha lain berdasarkan
persetujuan OJK.
Indonesia, dengan jaringan dan cakupan produk terluas, didukung oleh
9.884 karyawan di 218 kantor cabang dan 124 gerai yang tersebar di
seluruh Indonesia
PT Inter Delta Tbk (“Perusahaan”) didirikan berdasarkan akta
notaris Kartini Muljadi, SH No. 119 tanggal 15 Nopember 1976
dengan nama PT Inter Delta. Kegiatan usaha Perseroan,erat
hubungannya dengan perfilman termasuk pemrosesan film foto,
54
industry pembuatan alat-alat percetakan dan menjalankan perdagangan
umum dalam bidang alat-alat perfilman ,microfilm,bahan-bahan kimia
untuk foto dan film serta alat-alat elektronik. Di tahun 2016 Perseroan
menambah kegiatan usaha baru berupa bisnis makanan dan minuman,
Ekspansi ini sebagai usaha untuk meyakinkan investor terkait prospek
perusahaan ke depannya, karena sejak tahun 2006 terjadi titik balik
pada bisnis fotografi. Era digitalisasi foto membuat penjualan film
menjadi lesu.
PT Voksel Electric Tbk. (“Perseroan”) didirikan pada tanggal
19 April 1971 di Jakarta dan bergerak di bidang industri kabel. Pada
tahun 1989, status Perseroan berubah menjadi PMA dengan
ditandatanganinya persetujuan kerjasama patungan dengan Showa
Electric Wire & Cable Co. Ltd. (“Showa”), sebuah perusahaan kabel
terkemuka di Jepang, yang sejak tahun 2006 berubah menjadi SWCC
Showa Cable Systems Co., Ltd.
Sejalan dengan perkembangan industri kabel yang meningkat
pesat, dan strategi pertumbuhan yang semakin agresif, Perseroan
melakukan penawaran umum saham perdana di Bursa Efek Jakarta
(sekarang Bursa Efek Indonesia) dan Surabaya pada tanggal 20
Desember 1990. Kegiatan operasional Perseroan adalah memproduksi
kabel listrik, kabel telekomunikasi dan kabel serat optik. Di tahun 2017
Perusahaan mulai melebarkan produksinya ke jenis kabel High
Voltage.
PT Samudera Indonesia Tbk (IDX: SMDR) merupakan
perusahaan publik yang bergerak dalam bidang pelayaran, logistik, dan
kepelabuhanan yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini
didirikan pada tahun 1964 oleh Soedarpo Sastrosatomo dan pada
mulanya merupakan perusahaan keagenan.Saat ini Samudera Indonesia
merupakan perusahaan transportasi terpadu, yang memiliki berbagai
55
layanan yang terbagi atas lini: shipping, logistics, ports, property dan
services.
pada tanggal 6 Juni 2001. Ruang lingkup kegiatan Perusahaan
berdasarkan pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan adalah mencakup
bioteknologi pertanian, Hak Perusahaan Hutan (HPH), Hutan Tanaman
Industri (HTI) dan Perdagangan. Perusahaan mulai melakukan
kegiatan komersialnya pada bulan Juni 2001.Bidang usaha Perseroan
mencakup bioteknologi pertanian, Hak Pengusahaan Hutan (HPH),
Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Perdagangan. Perusahaan fokus di
sektor pertanian bioteknologi khususnya kayu dan juga mendukung
pelestarian bibit unggulan serta industri pengolahan biji kakao
berkalitas dunia untuk pasar Global.
7. PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (selanjutnya disebut “Bank
Mandiri” atau “Perseroan”) didirikan pada tanggal 2 Oktober 1998 di
Negara Republik Indonesia dengan akta notaris Sutjipto, S.H., No. 10.
Bank Mandiri didirikan melalui penggabungan usaha PT Bank Bumi
Daya (Persero) (“BBD”), PT Bank Dagang Negara (Persero) (“BDN”),
PT Bank Ekspor Impor Indonesia (Persero) (“Bank Exim”) dan PT
Bank Pembangunan Indonesia (Persero) (“Bapindo”) (selanjutnya
secara bersama-sama disebut “Bank Peserta Penggabungan”).
Berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar Bank Mandiri, ruang lingkup
kegiatan Bank Mandiri adalah melakukan usaha di bidang perbankan
sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku. Bank Mandiri mulai beroperasi pada tanggal 1 Agustus 1999.
8. PT. Indal Aluminium Industry Tbk (INAI)
PT Indal Aluminium Industry Tbk (Perseroan) didirikan pada
tahun 1971, berdasarkan akta pendirian No.62 tanggal 16 Juli 1971
dari Djoko Supadmo, S.H. yang diubah dengan akta No.2 tanggal 1
56
aluminium ekstrusion yang terkemuka di Indonesia, bahkan telah
memperoleh pengakuan di pasar internasional. Kegiatan utama
Perseroan adalah mengelola bahan baku aluminium ingot (atau billet)
menjadi aluminium ekstrusion profil yang banyak digunakan dalam
industri konstruksi, peralatan rumah tangga, komponen
elektronik/otomotif, dan sebagainya.
Pada tahun 1992, BRI berubah status hukum menjadi PT Bank
Rakyat Indonesia (Persero) berdasarkan Undang-Undang Perbankan
No. 7 tahun 1992 dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta,
kini Bursa Efek Indonesia pada 10 November 2003, dengan kode
saham BBRI. Kegiatan usaha BRI berdasarkan Akta Perubahan
terakhir No. 81 tanggal 23 April 2015 Pasal 3 ayat (2) Anggaran Dasar
BRI adalah melakukan usaha di bidang Perbankan serta optimalisasi
pemanfaatan sumber daya yang dimiliki Perseroan untuk
menghasilkan jasa yang bermutu tinggi dan berdaya saing kuat untuk
mendapat/ mengejar keuntungan guna meningkatkan nilai Perseroan
dengan menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.
10. PT. Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT)
PT. Mitra Komunikasi Nusantara Tbk didirikan pada tanggal
14 Juli 2008, berperan sebagai distributor terbesar untuk produk
prepaid voucher dan sim card dengan menggandeng perusahaan
operator seluler terkemuka Telkomsel melalui Telkomsel Distribution
Center (TDC) yang tersebar di sejumlah kota besar di Indonesia.
Berdasarkan Anggaran Dasar perusahaan, PT Mitra Komunikasi
Nusantara Tbk (MKNT) melakukan kegiatan usaha yang mencakup
distribusi prepaid voucher dan sim card, bekerja sama dengan PT
Telkomsel. Di samping itu Perseroan juga menjadi dealer untuk
beberapa merek lainnya, seperti Samsung, Oppo dan Huawei.
57
Pada 1 Januari 2011, PT Tri Polyta Indonesia Tbk (TPI),
produsen Polypropylene terbesar di Indonesia yang didirikan pada
tahun 1984 melakukan transaksi penggabungan usaha (merger) dengan
PT Chandra Asri (CA), produsen Olefins dan Polyethylene, yang
didirikan pada tahun 1989. Merger tersebut merubah nama TPI sebagai
surviving company menjadi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk
(Perseroan). Perusahaan bergerak pada bidang Industri, petrokimia,
perdagangan, angkutan dan jasa.
PT Bukit Asam Tbk didirikan pada tanggal 2 Maret 1981
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 42 tahun 1980. Perseroan
memiliki sejarah yang sangat panjang di industri batubara nasional.
Operasional perusahaan ini ditandai dengan beroperasinya tambang
Air Laya di Tanjung Enim tahun 1919 oleh pemerintah kolonial
Belanda. Kala itu, penambangan masih menggunakan metode
penambangan terbuka. Berdasarkan Anggaran Dasar Perseroan Pasal
3, Perseroan berusaha dalam bidang pengembangan bahan-bahan
galian, terutama pertambangan batubara sesuai dengan ketentuan
dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan
menerapkan prinsip-prinsip Perseroan Terbatas.
Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) didirikan tanggal 23 Januari
1995 dan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1995.
Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan
MAPI meliputi perdagangan, jasa, manufaktur, transportasi, pertanian,
kehutanan, perkebunan, perikanan, peternakan dan pertambangan.
Kegiatan utama MAPI adalah bergerak di bidang perdagangan eceran,
pakaian, sepatu, asesoris, tas dan peralatan olahraga di lebih dari 1.900
toko/outlet yang berlokasi di Jakarta, Bandung, Surabaya, Bali,
Medan, Makassar, Batam, Manado dan kota-kota lainnya di Indonesia.
58
Negara Republik Indonesia, berdasarkan Akta Pendirian No. 1 tanggal
3 Februari 2004, yang dibuat di hadapan Merryana Suryana, S.H.,
Notaris di Jakarta, yang telah disahkan oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia. Berdasarkan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan,
kegiatan usaha Perseroan adalah bergerak dalam bidang perfilman,
perekaman video, penyediaan makanan dan minuman serta jasa
rekreasi dan hiburan.
PT. Sanurhasta Mitra Tbk. (selanjutnya disebut Perseroan)
berkedudukan di Jakarta Selatan, didirikan berdasarkan Akta
Pendirian No. 196 tanggal 29 Desember 1993, dibuat dihadapan Ny.
Pudji Redjeki Irawati, S.H., Notaris di Jakarta dan diperbaiki dengan
akta Notaris No. 32 tanggal 5 Agustus 1994, dibuat dihadapan
Drs. Sutjahjo Srudji, S.H., pengganti dari Pudji Redjeki Irawati,
S.H., Notaris di Jakarta, yang telah mendapat pengesahan dari
Menteri Kehakiman Republik Indonesia.
Perseroan telah mencatatkan sahamnya untuk
pertama kalinya pada tanggal 28 April 2017 di Bursa Efek Indonesia d
engan kode saham MINA. Kegiatan usaha Perseroan adalah
bergerak di bidang pengembangan properti dan perhotelan.
16. PT. Totalindo Eka Persada Tbk (TOPS)
PT Totalindo Eka Persada Tbk, selanjutnya disebut sebagai
“Perseroan” atau “Totalindo”, resmi didirikan pada 31 Oktober 1996.
Totalindo didirikan oleh Bapak Donald Sihombing yang sangat
berpengalaman dalam bidang jasa konstruksi di Indonesia. Sesuai
dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perseroan yang terakhir disahkan
melalui Akta No.36 tanggal 6 Februari 2017 yang dibuat di hadapan
Notaris Dr. Irawan Soerodjo, S.H., M.Si., berkedudukan di Jakarta,
maksud dan tujuan Perseroan ialah berusaha dalam bidang
59
percetakan, pengangkutan darat, perbengkelan.
PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) merupakan perusahaan
yang bergerak dalam bidang Investasi, Jasa Konsultasi, dan Digital
Media dengan Entitas Anak di bidang Radio. Perusahaan didirikan
pada tahun 2006 berdasarkan Akta Pendirian No. 11 tanggal 4 Juli
2006,dibuat di hadapan Aulia Taufani, S.H., dan Akta tersebut telah
memperoleh pengesahan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia
Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan No. C-22427
HT.01.01.TH2006 tanggal 1 Agustus 2006 dengan nama PT Genta
Sabda Nusantara dan mengalami perubahan nama menjadi PT Mahaka
Radio Integra berdasarkan Akta Notaris No. 22 tanggal 9 Juli 2015.
18. PT. Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA)
PT Bukit Uluwatu Villa Tbk, disebut juga sebagai “BUVA”
atau “Perseroan”, merupakan perusahaan pengembang terkemuka di
Indonesia. Didirikan pada 15 Desember 2000, BUVA fokus pada hotel
dan resor ramah lingkungan. Perseroan dikenal dengan keunggulannya
dalam arsitektur bertaraf internasional. Properti Perseroan telah
memperoleh pengakuan global sebagai tujuan investor. Hal ini
dikarenakan Perseroan terus bertumbuh dengan mengembangkan
pariwisata nasional secara bertanggung jawab dan etis, sekaligus
melestarikan budaya dan lingkungan. Kegiatan usaha Perusahaan
sebagaimana tercantum dalam Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan
adalah dalam bidang jasa akomodasi (cottage) dan perhotelan.
19. PT. Mandala Multifinance Tbk (MFIN)
Perjalanan PT Mandala Multifinance Tbk dimulai sejak tanggal
13 Agustus 1983 pada awal berdiri bernama PT Vidya Cipta Leasing
Corporation, setelah mengalami beberapa kali perubahan nama,
akhirnya pada tanggal 21 Juli 1997 berubah menjadi PT Mandala
Multifinance dan disahkan oleh Keputusan Menteri Keuangan Nomor.
60
Anggaran Dasar terakhir yaitu menjalankan usaha dalam bidang
perusahaan pembiayaan dan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, Perusahaan
melaksanakan kegiatan usaha yang meliputi, pembiayaan investasi,
pembiayaan modal kerja, pembiayaan multiguna dan kegiatan usaha
pembiayaan lain berdasarkan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan
(OJK).
20. PT. Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK)
Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) didirikan pada
tanggal 10 April 2002. Kantor