pengaruh pembagian saham bonus dan stock split

Click here to load reader

Post on 24-Oct-2015

138 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Jurnal Pengaruh pembagian saham bonus dan stock split

TRANSCRIPT

PENGARUH PEMBAGIAN SAHAM BONUS DAN STOCK SPLIT

JURNAL PENDIDIKAN AKUNTANSI INDONESIA

Vol. III No. 2 Tahun 2005

Hal. 58 - 78

64 JPAI Vol. III No.2 Tahun 2005

Mardiyanti, Murdiyanto, Isroah

65

PENGARUH PEMBAGIAN SAHAM BONUS DAN STOCK SPLIT

PADA MASA SEBELUM RIGHT ISSUE TERHADAP KEMAKMURAN PEMEGANG SAHAM DI BEJ

Oleh : Mardiyanti; Murdiyanto; Isroah

Alumni Jur. Pend. Akt; Staf Pengajar Jur. Man; Jur. Pend. Akt FIS UNY

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan saham melalui pembagian saham bonus dan stock split pada masa sebelum right issue terhadap kemakmuran pemegang saham.

Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan yang melakukan right issue yang sebelumnya telah menambah sahamnya melalui pembagian saham bonus atau stock split dari tahun 1995 sampai dengan 2000. Pengambilan sampel dengan metode purposive sampling yang terdiri dari 30 perusahaan. Penelitian ini merupakan event study dengan menggunakan periode estimasi 233 hari dan periode peristiwa 21 hari. Alat pengujian yang digunakan untuk menganalisis data adalah dengan statistik berupa one samples t test..

Hasil analisis penelitian ini untuk hipotesis pertama menunjukkan bahwa rata-rata abnormal return di sekitar hari pengumuman right issue yang didahului dengan pembagian saham bonus tidak mempengaruhi kemakmuran pemegang saham. Sedangkan hipotesis kedua ternyata menunjukkan bahwa rata-rata abnormal return di sekitar hari pengumuman right issue yang didahului dengan stock split tidak mempengaruhi kemakmuran pemegang saham.

Keywords : saham bonus, stock split, right issue

A. Pendahuluan

Pasar modal merupakan pasar untuk berbagai instrumen keuangan (sekuritas) jangka panjang yang bisa diperjualbelikan, baik dalam bentuk hutang maupun modal sendiri, baik yang diterbitkan oleh pemerintah, public authorities maupun perusahaan swasta (Husnan, 2001:3). Secara tidak langsung pasar modal menjalankan 2 fungsi sekaligus yakni fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal dikatakan memiliki fungsi ekonomi karena menyediakan fasilitas atau wahana yang mempertemukan dua kepentingan yaitu investor dan issuer. Pasar modal memiliki fungsi keuangan karena memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh return bagi pemilik dana, sesuai dengan karakteristik investasi yang dipilih.

Menurut Mahmud dalam Alam (1994:1) secara makro pasar modal Indonesia memiliki peranan sebagai:

1. Sumber pembiayaan (jangka panjang) bagi dunia usaha sekaligus memungkinkan alokasi sumber dana yang optimal.

2. Memberikan outlet informasi bagi pemodal yang sekaligus memungkinkan upaya diversifikasi dan pembentukan well-diversified portfolio.

3. Menyediakan leading indicator bagi trend ekonomi negara.

Dengan adanya pasar modal diharapkan aktivitas perekonomian menjadi meningkat. Hal tersebut disebabkan karena pasar modal merupakan alternatif pendanaan bagi perusahaan-perusahaan, sehingga dapat beroperasi dengan skala yang lebih besar dan pada gilirannya akan meningkatkan pendapatan perusahaan dan kemakmuran masyarakat luas.

Menurut Brigham dan Gapenski dalam Safitri (2000: 6) perusahaan yang sudah go public ketika membutuhkan tambahan dana segar dapat menerbitkan saham baru dengan cara yaitu:

1. menawarkan kepada pemegang saham saat ini melalui right offering;2. melalui bank investasi yang ditujukan kepada publik secara umum dalam public offering;3. dijual langsung kepada satu pembeli (atau pembeli yang sangat terbatas) dalam suatu private placement;4. dijual kepada para pekerja sendiri melalui employee stock purchase plan;5. melalui dividend reinvestment plan yaitu penambahan saham melalui dividen yang tidak dibagi.

Dari berbagai alternatif di atas, emiten biasanya melakukan penambahan dana melalui right offering atau right issue. Right issue adalah penawaran saham terbatas kepada pemegang saham lama dengan harga yang lebih murah dari harga pasar yang berlaku. Selama ini right issue dianggap sebagai salah satu cara mencari dana yang murah dan mudah sehingga digemari oleh emiten. Hal tersebut dikarenakan dana dapat diperoleh tanpa melalui prosedur yang berbelit, tanpa agunan dan tidak memakan waktu yang cukup lama, emiten hanya perlu menunjukkan prospek yang baik.

Right issue biasanya dilakukan oleh emiten dengan tujuan memperoleh dana dari pihak eksternal yang digunakan untuk melakukan akuisisi, baik akuisisi intern maupun ekstern terhadap perusahaan yang berhubungan ataupun tidak berhubungan dengan core businessnya, pembayaran utang perusahaan serta melakukan ekspansi.

Bila suatu perusahaan melakukan right issue, maka pemegang saham lama mempunyai hak untuk memegang atau membeli saham baru yang ditawarkan tersebut sesuai dengan proporsi kepemilikan mereka masing-masing dengan harga yang lebih murah (preemptive right). Tujuan dari hak tersebut untuk menjaga kontrol kekuasaan dari pemegang saham saat ini dan menghindarkan pemegang saham dari dilusi nilai (Brigham dan Gapenski dalam Safitri, 2000:16). Dalam right issue pemegang saham akan diberi suatu opsi untuk membeli sejumlah saham dan opsi tersebut tertulis di dalam suatu sertifikat yang disebut stock purchase right atau secara singkat disebut right.

Syarat bagi investor agar memperoleh right yakni investor tersebut harus memiliki atau membeli saham sebelum atau pada saat tanggal yang telah ditetapkan (cum-right date), akibatnya investor yang membeli saham di luar tanggal tersebut atau pada periode ex-right date tidak akan mendapat right. Pemegang saham yang mendapatkan right akan mempunyai 3 alternatif pilihan (Tubastuvi, 2001:22):

1. membeli saham baru yang ditawarkan dengan right yang ada dan mencari sejumlah uang yang besarnya sama dengan harga saham baru tersebut;

2. tidak membeli saham baru yang ditawarkan pada right issue tetapi menjual right seharga kupon right tersebut;

3. tidak melaksanakan haknya untuk membeli saham baru yang ditawarkan pada right issue dan juga tidak menjual right yang dimiliki dengan pertimbangan bahwa right issue akan berdampak negatif bagi investor.

Right pertama kali diperdagangkan di pasar modal Indonesia pada tahun 1992 yang diprakarsai oleh PT Dharmala Intiland, Sebelum itu tidak ada pilihan lain bagi para pemegang saham. Bila tidak segera menukarkan rightnya menjadi saham dalam waktu yang telah ditentukan, maka haknya atas emisi tersebut menjadi hilang.

Kebijakan right issue mungkin merupakan suatu keuntungan dan bermanfaat besar bagi perusahaan dalam ekspansi usahanya. Namun bagi pemegang saham khususnya yang lama, kebijakan ini masih dipertanyakan pengaruhnya terhadap peningkatan kemakmuran mereka. Right issue akan menguntungkan investor lama jika pada saat right issue perusahaan memiliki prospek yang bagus dan dana yang diperolehnya dipergunakan untuk investasi yang menguntungkan. Tetapi jika dana tersebut hanya dipergunakan untuk membayar utang, maka kondisi yang demikian justru akan menurunkan kredibilitas emiten dan merugikan pemegang saham.

Menurut Laksana (2002:18), keuntungan yang diperoleh para pemegang saham jika perusahaan emiten mengeluarkan right antara lain :

1. Bagi pemilik saham lama (current stockholder), dengan adanya preemptive rights, maka right issue merupakan hak bagi mereka untuk membeli tambahan saham tersebut terlebih dahulu. Hal tersebut ditujukan agar proporsi kepemilikan modal pemegang saham lama tidak mengalami perubahan.

2. Pemegang saham lama yang memegang hak atas right dapat menggunakan hak tersebut atau mengalihkan dengan menjualnya di pasar sekunder (selama perdagangan right) kepada investor lain.

3. Keuntungan lain yang diperoleh pemegang saham adalah gain jika harga pasar saham setelah pelaksanaan right issue lebih tinggi dari harga teoritis.

4. Penambahan jumlah saham yang beredar dapat menjadikan saham tersebut lebih likuid, sehingga diharapkan harga saham di bursa akan meningkat. Kondisi yang demikian sangat menguntungkan bagi pemegang saham karena mereka akan mendapatkan gain.

Kemakmuran pemegang saham pada dasarnya dapat tercermin dari pergerakan saham yang selanjutnya dipergunakan untuk menghitung abnormal return yang diterima di sekitar pengumuman right issue. Jika abnormal return positif di sekitar hari pengumuman akibat dari peningkatan harga saham, maka pemegang saham akan memperoleh tambahan kemakmuran dari selisih return sesungguhnya dengan return ekspektasi yang diperoleh. Kondisi yang demikian menunjukkan bahwa kinerja saham baik, pengumuman tersebut mengandung informasi yang dapat dijadikan bahan pertimbangan oleh pemegang saham dalam memperkirakan nilai sekuritas. Namun sebaliknya pemegang saham akan merugi jika abnormal return negatif. Hal tersebut dikarenakan harga saham di sekitar hari pengumuman menurun.

Pemegang saham sendiri pada dasarnya mengalami dilema dengan adanya right issue. Mereka seringkali mengalami dilusi ganda yakni berkurangnya persentase kepemilikan atas saham (dilusi kepemilikan) bila tidak melakukan konversi rightnya dan menurunnya harga saham secara teoritis pada periode ex-right (dilusi kekayaan) karena harga pelaksanaan right selalu lebih rendah daripada harga sebelumnya. Peristiwa tersebut mengakibatkan pemegang saham terpaksa melakukan exercise meskipun dalam pertimbangannya hal itu bukan merupakan keputusan investasi terbaik.

Pada perkembangannya perusahaan emiten seringkali mengeluarkan kebijakan pendamping agar right issue lebih laku di pasaran. Kebijakan tersebut dilakukan dengan pembagian berbagai bentuk saham gratis yaitu pembagian saham bonus, dividen saham dan stock split, sehingga jumlah saham yang beredar mengalami peningkatan. Akibatnya pemegang saham mengalami kebingungan dalam menyikapi kebijakan ini. Oleh karena itu, pemegang saham yang ingin menghindari adanya dilusi berupaya untuk mengexercisekan rightnya. Namun dana yang dibutuhkan pemegang saham dalam mengexercisekan rightnya semakin bertambah banyak seiring bertambahnya saham outstanding padahal mereka sendiri terkadang mempunyai alternatif pilihan investasi yang lebih baik. Hal tersebut sangat memberatkan investor terutama dalam penyediaan dana untuk mengexercisekan rightnya.

Berdasarkan kondisi dilematis di atas, penelitian ini dilakukan untuk memberikan bukti empiris tentang pengaruh pembagian saham bonus dan stock split pada masa sebelum right issue terhadap kemakmuran pemegang saham.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah pembagian saham bonus dan stock split pada masa sebelum right issue memberikan kemakmuran kepada pemegang saham.

B. Kajian Teori

1. Efisiensi Pasar Modal

Efisiensi pasar modal secara informasi (informationally efficient market) adalah bagaimana pasar bereaksi terhadap informasi yang tersedia. Kunci utama untuk mengukur pasar yang efisien adalah hubungan antara harga sekuritas dengan informasi (Jogiyanto, 2000:352).

Fama dalam Jogiyanto (2000:353) mengelompokkan efisiensi pasar modal berdasarkan informasi menjadi 3 yaitu:

a. Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form)b. Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form)c. Efisiensi pasar bentuk kuat (strong form)2. Right issueRight adalah salah satu hak bagi pemegang saham yang ada untuk membeli terlebih dahulu saham baru yang akan diterbitkan oleh emiten (Koentin dalam Maryadi, 1998:3). Dengan kata lain, pemegang saham memiliki preemptive rights atau Hak Memesan Efek Terlebih dahulu atas saham-saham yang diterbitkan tersebut.

3. Saham Bonus

Bonus share atau saham bonus merupakan bonus pembagian saham baru untuk para pemegang saham, dimana pembagian bonus ini ditujukan sebagai bentuk reward (Darmadji dan Fakhruddin, 2001:125). Saham yang diberikan secara cuma-cuma tersebut dapat berasal dari kapitalisasi agio saham (paid up capital) atau dari selisih surplus revaluasi aktiva tetap yang diperbolehkan.

4. Stock SplitStock split adalah perubahan nilai nominal per lembar saham dan menambah jumlah saham yang beredar sesuai dengan faktor pemecah (split factor). Kebijakan ini biasanya dilakukan pada saat harga saham dinilai terlalu tinggi sehingga akan mengurangi kemampuan investor untuk membelinya.

5. Kemakmuran Pemegang Saham

Dalam penelitian ini kemakmuran pemegang saham dinilai dengan menghitung abnormal return. Pemegang saham akan mengalami peningkatan kemakmuran apabila memperoleh abnormal return (abnormal returnnya positif), dan sebaliknya akan mengalami kerugian apabila abnormal returnnya negatif.

Abnormal return atau excess return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return ekspektasi. Return normal merupakan return ekspektasi (return yang diharapkan oleh investor). Dengan demikian abnormal return merupakan selisih antara return sesungguhnya yang terjadi dengan return ekspektasi.

C. Penelitian yang Relevan

Alam (1994) menguji terhadap 21 perusahaan yang melakukan right issue selama tahun 1993 di BEJ yang dihubungkan dengan kemakmuran pemegang saham. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa right issue yang dilakukan oleh emiten baru dapat meningkatkan kemakmuran pemegang saham mayoritas..

Meliana (2002) meneliti perusahaan yang melakukan right issue di BEJ tahun 1995 2003 yang juga dihubungkan dengan kemakmuran pemegang saham berhasil menguatkan kesimpulan sebelumnya bahwa right issue pada dasarnya belum mampu meningkatkan kemakmuran pemegang saham (yang ditandai dengan abnormal return yang negatif).

Adapun perbedaan penelitian ini dengan penelitian di atas adalah:

1. Penggunaan metode yang berbeda (market model) dalam menghitung abnormal return.

2. Rentang waktu yang tidak sama (1995 2000).3. Pemilihan sampel yang berbeda (peneliti tidak memasukkan sampel yang membagikan saham bonus dan melakukan stock split secara bersama-sama).D. Kerangka Berpikir dan Hipotesis Penelitian

Right issue merupakan salah satu corporate action perusahaan yang diluncurkan dalam rangka untuk memperoleh tambahan dana dari masyarakat secara mudah dan murah. Oleh karena itu perusahaan akan mempunyai kecenderungan untuk melakukannya lebih dari sekali.

Bagi perusahaan yang bersangkutan right issue mungkin merupakan suatu keuntungan dan bermanfaat besar dalam ekspansi usahanya. Namun bagi pemegang saham khususnya yang lama, kebijakan ini masih dipertanyakan kebermanfaatannya. Jika dana yang diperoleh diinvestasikan untuk proyek, terutama yang menghasilkan imbal hasil yang tinggi, maka right issue akan berdampak positif bagi pemegang saham karena perusahaan mampu menghasilkan laba yang akan meningkatkan kemakmuran investornya. Namun jika dana tersebut hanya digunakan untuk membayar utang, maka right issue akan terkesan negatif, karena memberikan sinyal ke pasar bahwa manajemen kesulitan untuk membayar utang.

Pada perkembangannya perusahaan emiten seringkali mengeluarkan kebijakan pendamping agar right issue lebih laku di pasaran yang berupa pembagian berbagai bentuk saham gratis yaitu pembagian saham bonus, dividen saham dan stock split, sehingga jumlah saham yang beredar mengalami peningkatan. Akibatnya pemegang saham mengalami kebingungan dalam menyikapi kebijakan ini. Oleh karena itu, pemegang saham yang ingin menghindari adanya dilusi berupaya untuk mengexercisekan rightnya. Namun dana yang dibutuhkan untuk mengexercisekan rightnya semakin bertambah banyak seiring bertambahnya saham outstanding padahal mereka sendiri terkadang mempunyai alternatif pilihan investasi yang lebih baik.

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

1. Pembagian saham bonus pada masa sebelum right issue mempengaruhi kemakmuran pemegang saham.

2. Stock split pada masa sebelum right issue mempengaruhi kemakmuran pemegang saham.

E. Metode Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang melakukan right issue di Bursa Efek Jakarta dari tahun 1995 sampai dengan tahun 2000. Menurut data yang diperoleh dari JSX Statistic antara tahun 1995 2000 terdapat 150 perusahaan yang melakukan right issue.

Teknik pengambilan sampel yang dipakai dalam penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Adapun pertimbangan yang digunakan untuk menentukan sampel adalah:

1. Perusahaan yang telah menerbitkan laporan keuangan tiap tahun.

2. Perusahaan yang telah terdaftar di Bursa Efek Jakarta sejak Desember 1994 sampai dengan Desember 2000.

3. Perusahaan yang dipilih melakukan pembagian saham bonus atau stock split sebelum melaksanakan right issue.

Berdasarkan pertimbangan di atas, maka sampel pada penelitian ini berjumlah 30 perusahaan yang terdiri atas 16 perusahaan yang melakukan stock split sebelum right issue dan 14 perusahaan yang membagikan saham bonus sebelum right issue.

Teknik Analisis Data Dan Pengujian Hipotesis1. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan untuk hipotesis pertama dan kedua adalah:

a. Menentukan periode estimasi

b. Menentukan periode peristiwa (event window)c. Menghitung actual return dari masing-masing data harga saham harian selama periode penelitian dengan rumus:

dimana:

Pit= harga saham i pada hari t

Pit-1= harga saham i pada hari t-1

Rit= actual return saham i pada hari t

d. Menghitung return pasar harian selama periode peristiwa, dengan rumus:

dimana:

IHSGt= IHSG pada hari t

IHSGt-1= IHSG pada hari t-1

Rmt= return pasar pada hari t

e. Menghitung koefisien regresi (i dan (i dengan rumus:

dimana:

n= jumlah sampel penelitian

f. Setelah menghitung koefisien ( dan ( diperoleh expected return dihitung dengan menggunakan single market model, yaitu:

dimana:

Rmt= return pasar pada hari t

(i= return saham i yang tidak terpengaruh pasar

(i= tingkat pengaruh return pasar terhadap estimated return saham I

E (Rit)= expected return untuk saham i pada hari t

g. Menghitung besarnya abnormal return untuk setiap saham yang diteliti selama periode peristiwa dengan rumus:

dimana:

ARit= abnormal return saham i pada hari t

h. Menghitung rata-rata abnormal return pada periode yang telah ditetapkan, dengan rumus:

dimana:

AARit = rata-rata abnormal return seluruh saham yang diamati pada hari t

n= jumlah seluruh saham yang diamati

2. Pengujian Hipotesis

a. Uji Prasyarat Analisis

Dalam penelitian ini data diuji dengan menggunakan one sample Kolmogorov Smirnov test. Data terdistribusi normal jika angka signifikansi (2 tailed) lebih besar dari 5% atau 0,05.

b. Uji Beda

Pengujian hipotesis pertama dan kedua menggunakan uji t satu sampel. Dasar pengujian untuk mengetahui pengaruh pembagian saham bonus dan stock split pada masa sebelum right issue terhadap kemakmuran pemegang saham yang diproksikan dengan rata-rata abnormal return. Adapun rumus untuk menghitung t adalah (Sugiyono, 2002:177):

dimana:

t= nilai t yang dihitung

= rata-rata

((= nilai yang dihipotesiskan

s= simpangan baku

n= jumlah anggota sampel

Kriteria penolakan Ho adalah:

Bila t tabel < t hitung < +t tabel, maka Ho diterima.

Bila t hitung < -t tabel dan t hitung > +t tabel, maka Ho ditolak.

F. Deskripsi Data

1. Populasi Penelitian

Setelah dilakukan penelitian, jumlah perusahaan yang melakukan right issue di Bursa Efek Jakarta selama tahun 1995 2000 sebanyak 150 perusahaan. Namun jumlah perusahaan yang memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh peneliti sebanyak 30 perusahaan yang terdiri dari 14 perusahaan yang membagikan saham bonus sebelum right issue dan 16 perusahaan yang melakukan stock split sebelum right issue.

Tabel 3: Daftar Perusahaan yang Membagikan Saham Bonus Sebelum

Right Issue

No.Nama PerusahaanKodeTanggal Pengumuman Right Issue

1Ometraco Financeomtr12 Juli 1995

2Indorama Synteticindr07 Juni 1995

3Putra Surya Perkasaptra26 Februari 1995

4Indah Kiat Pulp & Paperinkp12 April 1996

5Bank Danamondmn19 Mei 1996

6Bhuwantala Indah Permaibipp28 November 1996

7Kawasan Industri Jababekakija13 Desember 1996

8Lippo Life Insurancelpli12 Juli 1996

9Mulia Industrindomlia28 Mei 1996

10Sinar Mas Multiarthasmma27 November 1996

11Bumi Modern Tbk.bumi21 November 1997

12Bank NISP Tbk.nisp17 Desember 1998

13Wahana Jaya Perkasa Tk. ugar01 Mei 1998

14Bank Internasional Indonesia Tbk.bnii05 April 1999

Tabel 4: Daftar Perusahaan yang Melakukan Stock Split Sebelum Right Issue

No.Nama PerusahaanKodeTanggal Pengumuman Right Issue

1Bank Internasional Indonesia Tbk.bnii15 Januari 1997

2Central Proteina Primacppr01 Juli 1996

3Ciputra Developmentctra07 Oktober 1996

4Panin Insurancepnin08 Januari 1997

5Perdana Cipta Multi Financepcmf17 Juli 1996

6Asiana Multikreasi Tbk.asia16 Juli 1997

7Bakrie Finance Corporation Tbk.mtfn18 Desember 1997

8Duta Pertiwiduti14 April 1997

9Keramika Indonesiakias08 Juli 1997

10Lippo Securitieslpps16 Juli 1997

11Matahari Putra Prima Tbk.mppa31 Oktober 1997

12Multipolarmlpl11 Juli 1997

13Bank Panin Indonesia tbk.pnbn26 Juni 1997

14Pudjiadi & Sonspnse23 Desember 1997

15Tificotfco08 September 1997

16Bank CIC Internasional Tbk.bcic19 April 1999

2. Model Perhitungan Abnormal ReturnAbnormal return atau excess return merupakan kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap return realisasi atau dengan kata lain selisih antara actual return dengan return ekspektasi.

Menurut Brown dan Warner dalam Jogiyanto (2000:416), mengestimasi return ekspektasi dapat menggunakan 3 model:

a. Mean adjusted modelb. Market modelc. Market adjusted modelModel yang digunakan dalam penelitian ini adalah market model, karena model ini memperlihatkan fluktuasi harga sekuritas sejalan dengan fluktuasi harga pasar. Menurut Strong dalam Maryadi (1998:14) menyebutkan bahwa penggunaan market model secara umum menghasilkan abnormal return yang mempunyai varian lebih kecil, selain itu juga mempunyai kekuatan uji statistik yang kuat. Model ini merupakan model yang menghasilkan korelasi diantara semua abnormal return saham yang lebih mendekati serta sesuai dengan uji standar statistik. Model pasar menggunakan periode estimasi selain periode peristiwa. Penelitian ini menggunakan periode estimasi 233 hari dan periode peristiwa 21 hari. Periode estimasi dan periode peristiwa digambarkan sebagai berikut:

Gambar II : Periode Peristiwa dan Periode Estimasi Penelitian

G. Analisis Data

1. Uji Prasyarat

Uji Normalitas

Berdasarkan uji normalitas data rata-rata abnormal return perusahaan yang membagikan saham bonus sebelum right issue pada lampiran 6 dengan menggunakan one sample Kolmogorov Smirnov test diperoleh hasil signifikansi 0,098. Sedangkan uji normalitas data rata-rata abnormal return perusahaan yang melakukan stock split sebelum right issue pada lampiran 6 dengan menggunakan one sample Kolmogorov Smirnov test diperoleh hasil signifikansi 0,591. Dengan demikian diperoleh kesimpulan bahwa kedua data tersebut terdistribusi normal (sig > 0,05), sehingga syarat penggunaan statistik parametrik dengan dengan uji t terpenuhi.

2. Pengujian Hipotesis

a. Pengujian hipotesis I

Hipotesis nol pertama berbunyi pembagian saham bonus pada masa sebelum right issue tidak mempengaruhi kemakmuran pemegang saham. Hasil uji beda yang tercantum pada lampiran 7 adalah:

Tabel 7: Hasil Uji t Rata-Rata Abnormal Return Perusahaan yang Membagikan Saham Bonus Sebelum Right IssueKeteranganNilai Statistik

t hitung-1,607

df20

sig (2 tailed)0,124

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa:

1) t tabel= 2,086 < t hitung= 1,607 < +t tabel= 2,086 dengan derajat kebebasan (df)=20, sehingga Ho diterima dan Ha ditolak.

2) Nilai probabilitas pada sig 2 tailed adalah 0,124, karena probabilitas >0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

b. Pengujian hipotesis II

Hipotesis nol kedua berbunyi stock split pada masa sebelum right issue tidak mempengaruhi kemakmuran pemegang saham. Hasil uji beda yang tercantum pada lampiran 7 adalah:

Tabel 8: Hasil Uji t Rata-Rata Abnormal Return Perusahaan yang Melakukan Stock Split Sebelum Right IssueKeteranganNilai Statistik

t hitung-1,116

df20

sig (2 tailed)0,278

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa:

1) t tabel= 2,086 < t hitung= 1,116 < +t tabel= 2,086 dengan derajat kebebasan (df)=20, sehingga Ho diterima dan Ha ditolak.

2) Nilai probabilitas pada sig 2 tailed adalah 0,278, karena probabilitas >0,05, maka Ho diterima dan Ha ditolak.

H. Pembahasan Penelitian

Hasil penelitian berdasarkan uji hipotesis I yang menyatakan bahwa pembagian saham bonus pada masa sebelum right issue tidak mempengaruhi kemakmuran pemegang saham, diterima.

Hasil penelitian berdasarkan uji hipotesis II yang menyatakan bahwa stock split pada masa sebelum right issue tidak mempengaruhi kemakmuran pemegang saham, diterima.

Kedua peristiwa penambahan saham di atas (melalui pembagian saham bonus dan stock split ), ternyata tidak memberikan tambahan kemakmuran bagi pemegang saham. Hal tersebut dikarenakan mereka tidak mendapatkan abnormal return selama periode peristiwa, abnormal return justru cenderung negatif.

Di samping itu, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penambahan saham sebelum pengumuman right issue, baik dengan pembagian saham bonus maupun dengan stock split tidak mempunyai kandungan informasi. Hal tersebut ditandai dengan banyaknya abnormal return yang negatif selama periode peristiwa. Pengumuman right issue dianggap oleh pasar sebagai bad news sehingga reaksinya negatif.

Menurut peneliti, pasar bereaksi demikian karena pemegang saham membutuhkan dana yang besar untuk mengkonversikan rightnya. Semakin banyak saham yang beredar (akibat penambahan saham), maka akan semakin besar pula dana yang dibutuhkan. Kondisi yang demikian dapat menyebabkan adanya dilusi kepemilikan pemegang saham minoritas, karena kemungkinan mereka tidak mempunyai dana yang cukup untuk mengkorvesikan right. Di samping itu, reaksi ini juga ditimbulkan karena pengumuman right issue akan menyebabkan penurunan dividen per lembar saham.

Hasil penelitian tersebut di atas, mendukung penelitian:

1. Alam (1994)

2. Meliana (2002)

I. Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan hasil penelitian secara keseluruhan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Pembagian saham bonus pada masa sebelum right issue tidak mempengaruhi kemakmuran pemegang saham yang ditunjukkan dengan t tabel= 2,086 < t hitung= 1,607 < +t tabel= 2,086, df=20.

2. Stock split pada masa sebelum right issue tidak mempengaruhi kemakmuran pemegang saham yang ditunjukkan dengan t tabel= 2,086 < t hitung= 1,607 < +t tabel= 2,086, df=20.

Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, maka terdapat beberapa hal yang perlu disarankan:

1. Bagi investor

Hendaknya investor lebih cermat lagi dalam menyikapi pengumuman right issue yang didahului dengan pembagian saham bonus dan stock split karena kebijakan tersebut tidak memberikan tambahan kemakmuran bagi mereka.

2. Bagi penelitian selanjutnya

a. Hendaknya perlu membandingkan perusahaan yang melakukan penambahan saham (melalui pembagian saham bonus dan stock split) sebelum right issue dengan perusahaan yang hanya melakukan right issue saja.

b. Penggunaan metode yang lain dalam menghitung abnormal return (market adjusted model atau mean adjusted).c. Tahun penelitian sebaiknya lebih actual. J. DAFTAR PUSTAKA

Alam, Syamsu. (1994). Dampak Right Issue Pada Kemakmuran Pemegang Saham : Periode Amatan Selama Tahun 1993 (Studi Kasus PT Bursa Efek Jakarta). Laporan Internship tidak diterbitkan. MM UGM.

Budiarto, Arif & Zaki Baridwan. (1999). Pengaruh Pengumuman Right Issue terhadap Tingkat Keuntungan dan Likuiditas Saham di Bursa Efek Jakarta Periode 1994 1996. . Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 2, No.1 Januari 1999. Hlm 91 116.

Budi. (1997). Perlukah Right Issue Dijadikan Second IPO ?. Buletin Info Finansial 51/VIII/08 Oktober 1997. Hlm 18 19.

Darmadji, Tjiptono & Fakhruddin, Hendy M. (2001). Pasar Modal di Indonesia Pendekatan Tanya Jawab. Jakarta : Salemba Empat.

Daryono. (1998). Dampak Right Issue Pada Kemakmuran Investor Publik Periode Amatan Selama Tahun 1995 1997 (Studi Kasus PT Bursa Efek Jakarta). Laporan Internship tidak diterbitkan. MM UGM.

Ewijaya & Nur Indriantoro. (1999). Analisis Pengaruh Pemecahan Saham terhadap Perubahan Harga Saham. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia Vol. 2, No.1 Januari 1999. Hlm 53 65.

Fatmawati, Sri & marwan Asri. (1999). Pengaruh Stock Split terhadap Likuiditas Saham yang Diukur dengan Besarnya Bid-Ask Spread di Bursa Efek Jakarta. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia Vol. 14, No.4. Hlm 93 110.

Husnan, Suad. (2001). Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas. Yogyakarta : UPP AMP YKPN.

Jogiyanto, HM. (2000). Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta : BPFE.

Keowin, Arthur J., et al. (2000). Dasar-Dasar Manajemen Keuangan. Jakarta : Salemba Empat.

Kieso, Donald E. & Jerry J. Weygandt. (1995). Akuntansi Intermediate. Jakarta : Binarupa Aksara.

Laksana, Yudi. (2002). Perilaku Return Saham di Sekitar Hari Pengumuman Right Issue. Tesis tidak diterbitkan. MM UGM.

Maryadi, Fisa. (1998). Analisis Perilaku Harga Saham Saat Melakukan Right Issue di Bursa Efek Jakarta Periode Januari Juli 1997. Tesis tidak diterbitkan. MM UGM.

Meliana, Wenni. (2002). Pengaruh Pembagian Saham Bonus, Deviden Saham dan Stock Split Pada Masa Pra Right Issue terhadap Kemakmuran Shareholder Kasus Right Issue di BEJ Periode 1995 2002. Tesis tidak diterbitkan. MM UGM.

Safitri, Amalia. (2000). Analisis Reaksi Investor terhadap Pengumuman Right Issue di Pasar Modal Indonesia. Tesis tidak diterbitkan. Pasca Sarjana FE UGM.

Santoso, Singgih. (2002). Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

. (2002). Statistik Multivariat. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.

Sigma Research Ins. (1996). Bursa Stabil, Penawaran Right Issue Marak. Buletin Info Finansial 31/VII/22 Mei 1996. Hlm 14 16.

Sharpe, Willian F. et al. (1999). Invesment. New Jersey: Prentice Hall.

Sugiyono. (2002). Metode Penelitian Bisnis. Bandung : Alfabeta.

Suharsimi Arikunto. (1993). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Bandung : Rineka Cipta.

R., Ardiansyah (2002). Pengaruh Pengumuman Saham Bonus terhadap Volume Perdagangan Saham. Tesis tidak diterbitkan. Pasca Sarjana FE UGM.

Tubastuvi, Naelati (2001). Analisis Pengaruh Pengumuman Right Issue terhadap Abnormal Return Saham : Studi Empiris di Bursa Efek Jakarta. Tesis tidak diterbitkan. Pasca Sarjana FE UGM.

www.bapepam.co.id

www.e-samuel.com

EMBED Unknown

EMBED Equation.3

EMBED Equation.3

EMBED Equation.3

EMBED Equation.3

EMBED Equation.3

t0

t4

t3

t2

t1

-254

-11

-10

0

58

_1145433921.unknown

_1148727460.unknown

_1148898926.unknown

_1370097513.unknown

_1147428771.unknown

_1141100818.unknown

_1145433907.unknown

_1130585157.unknown

_1130585761.unknown