pengaruh pegawasan thp disiplin kerja pegawai

Click here to load reader

Post on 23-Oct-2015

160 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • PENGARUH PENGAWASAN TERHADAP DISIPLIN KERJA PEGAWAI

    KANTOR BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH

    KABUPATEN BREBES

    SKRIPSI

    Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Ekonomi Pada Universitas Negeri Semarang

    Oleh

    TETY ASMIARSIH M

    NIM. 3301401075

    FAKULTAS ILMU SOSIAL

    JURUSAN EKONOMI 2006

  • PERSETUJUAN PEMBIMBING

    Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang

    panitia ujian skripsi pada :

    Hari : Kamis

    Tanggal : 23 Februari 2006

    Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

    Drs. Partono Drs. H. Muhsin, M.Si NIP. 131125942 NIP. 130818770

    Mengetahui,

    Ketua Jurusan Ekonomi

    Drs. Kusmuriyanto, M.Si. NIP. 131404309

    ii

  • PENGESAHAN KELULUSAN

    Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi

    Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada :

    Hari : Sabtu

    Tanggal : 25 Maret 2006

    Penguji Skripsi

    Dra. Palupiningdyah, M.Si NIP. 130812917

    Anggota I Anggota II

    Drs. Partono Drs. H. Muhsin, M. Si. NIP. 131125942 NIP. 130818770

    Mengetahui

    Dekan,

    Drs. H. Sunardi, M. M. NIP. 130367998

    iii

  • PERNYATAAN

    Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar

    hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian

    atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini

    dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

    Semarang, 23 Februari 2006

    Tety Asmiarsih M. NIM. 3301401075

    iv

  • MOTTO DAN PERSEMBAHAN

    MOTTO :

    Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan sholat sebagai

    penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

    (Q.S. Al Baqarah : 153)

    Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu telah

    selesai dari sesuatu urusan kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang

    lain.

    (Q.S. Al Insyirah : 6 7)

    Dalam mencapai keberhasilan, pertama-tama kita harus yakin bahwa kita

    mampu.

    PERSEMBAHAN :

    Tanpa mengurangi rasa syukur kepada Allah SWT,

    skripsi ini saya persembahkan kepada :

    1. Bapak dan Mamah tercinta, yang tak pernah

    lelah berdoa untuk keberhasilanku.

    2. Adik-adikku tersayang : Roy Aswin Danu dan

    Rocky Asandi.

    3. Mas Yayat, yang dengan penuh kasih sayang

    memberikan perhatian, doa, cinta dan dorongan

    demi keberhasilanku.

    4. Sahabatku: Tyas, Endang N.S, teman-teman AP

    angkatan 2001, serta teman-teman kost puri

    puspita, terima kasih untuk persahabatannya.

    5. Almamater

    v

  • PRAKATA

    Alhamdullilah, puji syukur senantiasa penulis panjatkan ke hadirat Allah

    SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya, sehingga penulis

    dapat menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul Pengaruh Pengawasan

    Terhadap Disiplin Kerja Pegawai Kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten

    Brebes. Penulisan skripsi ini sebagai salah satu syarat guna mendapatkan gelar

    Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Ekonomi, Program Studi

    Administrasi Perkantoran Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

    Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat tersusun dengan baik

    tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam

    kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

    1. Dr. H. Ari Tri Soegito, SH. M.M, selaku Rektor Universitas Negeri Semarang

    yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan studi di

    Universitas (UNNES).

    2. Drs. H. Sunardi, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri

    Semarang yang telah memberikan rekomendasi serta kemudahan lain kepada

    penulis hingga terselesaikannya skripsi ini.

    3. Drs. Kusmuriyanto, M.Si, Ketua Jurusan Ekonomi Fakultas Ilmu Sosial

    Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan segala kemudahan

    kepada penulis untuk studi di jurusan ekonomi.

    4. Drs. Partono selaku dosen pembimbing I, yang telah sabar memberikan

    bimbingan dan pengarahan serta motivasi kepada penulis sehingga penulis

    dapat menyelesaikan skripsi ini.

    vi

  • 5. Drs. H. Muhsin, M.Si selaku dosen pembimbing II, yang telah sabar

    memberikan bimbingan dan pengarahan serta motivasi kepada penulis

    sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

    6. Dra. Palupiningdyah, M.Si selaku dosen penguji skripsi, yang telah

    memberikan masukan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

    7. Drs. Sasongko, Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Brebes yang

    telah memberikan ijin dan membantu terlaksananya penelitian ini.

    8. Semua karyawan dan karyawati kantor Badan Kepegawaian Daerah

    Kabupaten Brebes yang telah membantu terlaksananya penelitian ini.

    9. Bapak dan Mamah tercinta yang telah memberikan dukungan moral dan

    material.

    10. Semua pihak yang telah memberikan bantuan, dukungan moral maupun

    spiritual yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

    Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya atas kebaikan semua

    pihak yang membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

    Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi

    penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

    Semarang, Februari 2006

    Penulis

    vii

  • SARI Tety Asmiarsih M, 2006, Pengaruh Pengawasan Terhadap Disiplin Kerja Pegawai Kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Brebes. Skripsi. Jurusan Pendidikan Ekonomi Adm. Perkantoran. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang, Pembimbing I : Drs. Partono, Pembimbing II : Drs. H. Muhsin, M.Si. 75 halaman. 18 daftar tabel. 10 daftar gambar. 15 daftar lampiran. Kata Kunci : Pengawasan, Disiplin Kerja

    Suatu organisasi untuk memperoleh kemajuan dan mencapai tujuan yang

    telah ditetapkan, perlu menggerakkan serta memantau pegawainya agar dapat mengembangkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan diarahkan untuk meningkatkan mutu kerja pegawai. Sebab pengawasan merupakan tindakan nyata dan paling efektif dalam mewujudkan kedisiplinan pegawai. Kedisiplinan adalah kunci keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya. Dengan disiplin yang baik berarti pegawai sadar dan bersedia mengerjakan semua tugasnya dengan baik. Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti, menunjukkan bahwa pengawasan yang ada di kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Brebes sudah diterapkan tetapi dalam pelaksanaannya, pengawasan yang diberikan oleh pimpinan sebatas melihat laporan-laporan kerja dari pegawai sehingga tindakan koreksi tidak dilakukan secara langsung pada saat aktivitas pekerjaan berlangsung. Hal tersebut apakah mempengaruhi tingkat disiplin kerja pegawai dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan. Berdasarkan hal tersebut, permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pengawasan di kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes, bagaimanakah disiplin kerja pegawai kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes, adakah pengaruh pengawasan terhadap disiplin kerja pegawai kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes dan seberapa besar pengaruhnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengawasan di kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes, untuk mengetahui disiplin kerja pegawai kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes, untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh pengawasan terhadap disiplin kerja pegawai serta untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pengawasan terhadap disiplin kerja pegawai kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes.

    Populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes baik pegawai negeri sipil maupun honor yang berjumlah 49 pegawai. Penelitian ini merupakan penelitian populasi karena anggota populasi sekaligus menjadi anggota sampel, dimana jumlah populasi kurang dari 100. Variabel dalam penelitian ini meliputi pengawasan (X) sebagai variabel bebas dan disiplin kerja (Y) sebagai variabel terikat. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode angket dan metode dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif persentase dan teknik analisis regresi sederhana dengan menggunakan program statistik SPSS.

    viii

  • Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi pengawasan di kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes termasuk kategori baik dan disiplin kerja termasuk kategori sangat tinggi. Hasil analisis regresi memperoleh persamaan regresi = 17, 806 + 0,472X. Uji signifikansi persamaan regresi uji F diperoleh F

    Yhitung = 86,827 dengan probabilitas sebesar 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan

    bahwa pengawasan berpengaruh positif terhadap disiplin kerja pegawai Kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Brebes. Besar pengaruh pengawasan terhadap disiplin kerja pegawai pada kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes sebesar 64,9% dan selebihnya disiplin kerja pegawai dipengaruhi oleh faktor lain selain pengawasan sebesar 35,1%.

    Mengacu dari hasil penelitian di mana pengawasan besar pengaruhnya terhadap disiplin kerja pegawai, maka penulis mengajukan saran sebagai berikut: pihak pimpinan kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Brebes hendaknya dapat meningkatkan pemberian teguran lisan maupun tertulis secara tegas kepada para pegawai yang melanggar peraturan agar pegawai lebih bertanggung jawab atas segala tugas yang telah kewajibannya.

    ix

  • DAFTAR ISI

    Halaman

    HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

    HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. ii

    HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN................................................. iii

    PERNYATAAN............................................................................................... iv

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN ................................................................... v

    PRAKATA....................................................................................................... vi

    SARI................................................................................................................. viii

    DAFTAR ISI.................................................................................................... x

    DAFTAR TABEL............................................................................................ xii

    DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xiii

    DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xiv

    BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1

    1.1 Latar Belakang Masalah................................................................. 1

    1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah ............................................. 5

    1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................... 6

    1.4 Kegunaan Penelitian ...................................................................... 6

    1.5 Sistematika Penulisan Skripsi ........................................................ 7

    BAB II LANDASAN TEORI PENELITIAN................................................. 10

    2.1 Landasan Teori Pengawasan .......................................................... 10

    2.1.1 Pengertian Pengawasan......................................................... 10

    2.1.2 Tujuan Pengawasan............................................................... 11

    2.1.3 Prinsip-prinsip Pengawasan .................................................. 12

    2.1.4 Bentuk-bentuk Pengawasan .................................................. 13

    2.1.5 Asas-asas Pengawasan .......................................................... 14

    2.1.6 Cara Pengawasan .................................................................. 14

    2.1.7 Standar Pengawasan.............................................................. 16

    2.1.8 Proses Dasar Pengawasan ..................................................... 17

    2.1.9 Karakteristik Pengawasan yang Efektif ................................ 21

    x

  • 2.2 Landasan Teori Disiplin................................................................. 22

    2.2.1 Pengertian Disiplin................................................................ 22

    2.2.2 Tujuan Disiplin Kerja............................................................ 24

    2.2.3 Jenis-jenis Disiplin Kerja ...................................................... 25

    2.2.4 Pendekatan Disiplin Kerja..................................................... 26

    2.2.5 Prinsip-prinsip Pendisiplinan ................................................ 28

    2.2.6 Alat untuk Mengukur Disiplin Kerja ................................... 29

    2.2.7 Faktor-faktor yang Dapat Meningkatkan Disiplin Kerja ...... 31

    2.2.8 Tingkat dan Jenis Sanksi Disiplin Kerja ............................... 33

    2.3 Kerangka Berpikir.......................................................................... 34

    2.4 Hipotesis......................................................................................... 36

    BAB III METODE PENELITIAN................................................................ 37

    3.1 Populasi .......................................................................................... 37

    3.2 Variabel Penelitian ......................................................................... 38

    3.3 Metode Pengumpulan Data ............................................................ 39

    3.4 Validitas dan Reliabilitas Instrumen .............................................. 40

    3.5 Metode Analisis Data..................................................................... 45

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................. 50

    4.1 Hasil Penelitian .............................................................................. 50

    4.2 Pembahasan.................................................................................... 70

    BAB V SIMPULAN DAN SARAN................................................................ 75

    5.1 Simpulan ....................................................................................... 75

    5.2 Saran............................................................................................... 75

    DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 76

    LAMPIRAN..................................................................................................... 78

    xi

  • DAFTAR TABEL

    Tabel Hal

    1. Rincian Jumlah Populasi ............................................................................ 38

    2. Uji Coba Validitas Angket Pengawasan .................................................... 42

    3. Uji Coba Validitas Angket Disiplin Kerja 43

    4. Anava Untuk Uji Kelinieran Regresi ......................................................... 47

    5. Jumlah Pegawai Menurut Jabatan.............................................................. 52

    6. Jumlah Pegawai Menurut Pangkat dan Golongan ..................................... 53

    7. Jumlah Pegawai Menurut Pendidikan........................................................ 53

    8. Jumlah Pegawai Menurut Usia................................................................... 54

    9. Jumlah Pegawai Menurut Masa Kerja ....................................................... 55

    10. Distribusi Kategori Pengawasan ................................................................ 56

    11. Distribusi Kategori Ukuran / standar Pengawasan..................................... 57

    12. Distribusi Kategori Penilaian Kerja ........................................................... 58

    13. Distribusi Kategori Perbandingan Hasil Pekerjaan dengan Standar .......... 60

    14. Distribusi Kategori Perhatian Atas Penyimpangan.................................... 61

    15. Distribusi Kategori Disiplin Kerja ............................................................. 62

    16. Distribusi Kategori Disiplin Waktu ........................................................... 64

    17. Distribusi Kategori Disiplin Peraturan....................................................... 65

    18. Distribusi Kategori Disiplin pada Tangung Jawab. ................................... 66

    xii

  • DAFTAR GAMBAR

    Halaman

    Gambar 1. Kerangka Berfikir Penelitian......................................................... 36

    Gambar 2. Distribusi Pengawasan .................................................................. 56

    Gambar 3. Distribusi Kategori Ukuran / Standar ........................................... 58

    Gambar 4. Distribusi Kategori Penilaian Pekerjaan ....................................... 59

    Gambar 5. Distribusi Kategori Perbandingan Hasil Pekerjaan dengan Standar . 60

    Gambar 6. Distribusi Kategori Perbaikan Atas penyimpangan..................... 61

    Gambar 7. Distribusi Disiplin Kerja ............................................................... 63

    Gambar 8. Distribusi Kategori Disiplin Waktu .............................................. 64

    Gambar 9. Distribusi Kategori Disiplin Peraturan.......................................... 65

    Gambar 10. Distribusi Kategori Disiplin Tanggung Jawab.............................. 67

    xiii

  • DAFTAR LAMPIRAN

    Halaman

    Lampiran 1. Kisi-kisi Angket Penelitian ......................................................... 78

    Lampiran 2. Angket Penelitian........................................................................ 79

    Lampiran 3. Data Karakteristik Responden Penelitian.................................... 87

    Lampiran 4. Data Hasil Uji Coba Angket Penelitian Pengawasan.................. 89

    Lampiran 5. Contoh Perhitungan Reliabilitas Angket Pengawasan................ 91

    Lampiran 6. Data Hasil Uji Coba Angket Penelitian Disiplin Kerja............... 92

    Lampiran 7. Contoh Perhitungan Reliabilitas Angket Disiplin Kerja ............ 94

    Lampiran 8. Data Hasil Penskoran Angket Pengawasan (X) dan Disiplin

    Kerja (Y) ..................................................................................... 95

    Lampiran 9. Deskripsi Data Hasil Variabel Pengawasan (X) ......................... 97

    Lampiran 10. Deskripsi Data Hasil Variabel Disiplin Kerja (Y) ...................... 98

    Lampiran 11. Penentuan Kategori Pada Analisis Deskriptif Persentase. .......... 99

    Lampiran 12. Uji Normalitas Data, Uji Linieritas Data. ................................... 102

    Lampiran 13. Analisis Regresi Antara Pengawasan Dengan Disiplin Kerja .... 103

    Lampiran 14. Surat surat ................................................................................ 104

    Lampiran 15. Susunan Organisasi Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten

    Brebes .....................................................................................................110

    xiv

  • Lampiran 14

    Surat Rekomendasi

    Yang bertandatangan di bawah ini Dosen Pembimbing Skripsi dari

    mahasiswa:

    Nama : Tety Asmiarsih M

    NIM : 3301401075

    Jurusan/ Prodi : Pendidikan Ekonomi/ Administrasi Perkantoran

    Judul Skripsi : Pengaruh Pengawasan Terhadap Disiplin Kerja Pegawai Kantor

    Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Brebes.

    Menerangkan bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah menyelesaikan

    skripsi dan siap untuk diajukan pada Sidang Skripsi. Demikian Surat

    Rekomendasi ini dibuat agar dipergunakan sebagaimana mestinya.

    Semarang, Februari 2006

    Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

    Drs. Partono Drs. H. Muhsin, M. Si NIP. 131125942 NIP. 130818770

    Mengetahui,

    Ketua Jurusan Ekonomi

    Drs. Kusmuriyanto, M.Si. NIP. 131404309

    xv

  • i ii iii iv v vi vii viii ix x

    xi xii xiii xiv

    i ii iii iv v vi vii viii ix x

    xi xii xiii xiv

    1 26 51 76 101 1 26 51 76 101

    2 27 52 77 102 2 27 52 77 102

    3 28 53 78 103 3 28 53 78 103

    4 29 54 79 104 4 29 54 79 104

    5 30 55 80 105 5 30 55 80 105

    6 31 56 81 106 6 31 56 81 106

    7 32 57 82 107 7 32 57 82 107

    8 33 58 83 108 8 33 58 83 108

    9 34 59 84 109 9 34 59 84 109

    10 35 60 85 110 10 35 60 85 110

    11 36 61 86 111 11 36 61 86 111

    12 37 62 87 112 12 37 62 87 112

    13 38 63 88 113 13 38 63 88 113

    14 39 64 89 114 14 39 64 89 114

    15 40 65 90 115 15 40 65 90 115

    16 41 66 91 116 16 41 66 91 116

    17 42 67 92 117 17 42 67 92 117

    18 43 68 93 118 18 43 68 93 118

    19 44 69 94 119 19 44 69 94 119

    20 45 70 95 120 20 45 70 95 120

    21 46 71 96 121 21 46 71 96 121

    22 47 72 97 122 22 47 72 97 122

    23 48 73 98 123 23 48 73 98 123

    24 49 74 99 124 24 49 74 99 124

    25 50 75 100 125 25 50 75 100 125

    xvi

  • xvii

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang Masalah

    Sumber Daya Manusia dalam suatu organisasi mempunyai peranan yang

    sangat penting, karena suatu tujuan dalam suatu organisasi dapat berjalan

    dengan berhasil atau tidak tergantung dari faktor manusia yang berperan

    merencanakan, melaksanakan dan mengendalikan organisasi yang bersangkutan.

    Untuk memperoleh kemajuan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan,

    pimpinan perlu menggerakkan serta memantau pegawainya agar dapat

    mengembangkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Pengawasan yang

    dilakukan oleh pimpinan diarahkan untuk meningkatkan mutu kerja pegawai.

    Menurut Malayu S.P Hasibuan (2003 : 194 196), pengawasan adalah tindakan

    nyata dan paling efektif dalam mewujudkan kedisiplinan pegawai. Kedisiplinan

    harus ditegakkan dalam suatu organisasi. Tanpa dukungan disiplin pegawai yang

    baik, sulit bagi organisasi untuk mewujudkan tujuannya. Jadi kedisiplinan

    adalah kunci keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuannya. Dengan

    disiplin yang baik berarti pegawai sadar dan bersedia mengerjakan semua

    tugasnya dengan baik.

    Pada dasarnya pengawasan berarti pengamatan dan pengukuran sesuatu

    kegiatan operasional dan hasil yang dicapai dibandingkan dengan sasaran dan

    1

  • 2

    standar yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengawasan dilakukan dalam usaha

    menjamin kegiatan terlaksana sesuai dengan kebijakan, strategi, keputusan,

    rencana dan program kerja yang telah dianalisa, dirumuskan dan ditetapkan

    sebelumnya dalam wadah yang disusun (Sondang P.Siagian, 1986 : 98).

    Pengawasan kerja sangatlah penting dalam setiap pekerjaan baik itu

    organisasi kecil maupun organisasi besar. Sebab dengan adanya pengawasan

    kerja yang baik maka suatu pekerjaan akan dapat berjalan dengan lancar dan

    dapat menghasilkan hasil kerja yang baik pula. Menurut Gouzali Saydam (1993

    : 198), melalui pengawasan dapat dipantau berbagai hal yang dapat merugikan

    organisasi, antara lain : kesalahan-kesalahan dalam pelaksanaan pekerjaan,

    kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaan pekerjaan, kelemahan pelaksanaan

    dan cara kerjanya, rintangan-rintangan yang dialami maupun hal-hal lain yang

    mungkin akan dialami, kegagalan-kegagalan ataupun sukses-sukses yang dicapai

    dalam pelaksanaan pekerjaan.

    Suatu pengawasan yang baik harus bersifat mendidik dalam arti mendidik

    kearah kerja yang baik dan menjauhkan kemungkinan-kemungkinan

    penyelewengan (Nitisemito, 1996 : 109). Pengawasan yang dilaksanakan

    pimpinan bukanlah untuk mencari-cari kesalahan, pengawasan terutama

    ditujukan agar rencana-rencana dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

    Setiap organisasi perlu memiliki ketentuan yang harus ditaati oleh para

    anggotanya. Disiplin merupakan tindakan manajemen untuk mendorong para

  • 3

    anggota organisasi memenuhi tuntutan berbagai ketentuan tersebut.

    Pendisiplinan pegawai adalah suatu bentuk pelatihan yang berusaha

    memperbaiki dan membentuk pengetahuan, sikap dan perilaku karyawan untuk

    bekerja secara kooperatif dengan para karyawan yang lain (Sondang P. Siagian,

    2000 : 305).

    Disiplin yang baik tercermin dari besarnya rasa tanggung jawab seseorang

    terhadap tugas yang diberikan kepadanya. Maka peraturan sangat diperlukan

    untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan bagi pegawai dalam menciptakan

    tata tertib yang baik di dalam organisasi, sebab kedisiplinan suatu organisasi

    dikatakan baik jika sebagian pegawai menaati peraturan-peraturan yang ada

    (Malayu S.P Hasibuan, 2003 : 193-194).

    Untuk lebih mengefektifkan peraturan yang telah dikeluarkan dalam

    rangka menegakkan disiplin, perlu adanya teladan pimpinan. Pimpinan

    mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menegakkan kedisiplinan, sebab

    pimpinan merupakan panutan dan sorotan dari bawahannya (Nitisemito, 1996 :

    118). Pimpinan harus memberi contoh yang baik, berdisiplin naik, jujur, serta

    sesuai kata dengan perbuatan. Apabila teladan pimpinan baik, kedisiplinan

    bawahanpun akan ikut baik. Jadi pimpinan ikut berperan serta dalam

    menciptakan kedisiplinan pegawai, pimpinan harus mampu menggerakkan dan

    mengarahkan pegawai karena pimpinan bertanggung jawab terhadap

    keberhasilan dan kegagalan pegawai.

  • 4

    Apabila organisasi melaksanakan pengawasan secara baik sesuai dengan

    aturan yang telah ditetapkan dan dilaksanakan sesuai dengan tugas dan

    wewenang yang telah ditentukan, maka dengan sendirinya disiplin kerja

    karyawan akan baik. Alfred R. Lateiner (1983 : 72) menyatakan bahwa disiplin

    sejati apabila para pegawai datang kekantor dengan teratur dan tepat pada

    waktunya, apabila mereka berpakaian serba baik pada tempatnya, apabila

    mereka menggunakan perlengkapan-perlengkapan dengan hati-hati, apabila

    mengikuti cara kerja yang ditentukan oleh kantor atau organisasi dan apabila

    mereka menyelesaikan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab.

    Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes merupakan Perangkat

    Daerah yang melaksanakan manajemen Pegawai Negeri Sipil Daerah dalam

    membantu tugas pokok Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah di kabupaten

    Brebes (Keputusan Bupati Tk II Kabupaten Brebes, 2001 : 3). Untuk menunjang

    pelaksanaan kegiatan operasional, perlu diterapkan tindakan pengawasan yang

    rutin dari pimpinan terhadap pegawainya. Berdasarkan survey awal yang

    dilakukan peneliti, menunjukkan bahwa pengawasan yang ada di kantor Badan

    Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes sudah diterapkan tetapi dalam

    pelaksanaannya, pengawasan yang diberikan oleh pimpinan sebatas melihat

    laporan-laporan kerja dari pegawai sehingga tindakan koreksi tidak dapat

    dilakukan secara langsung pada saat aktivitas pekerjaan berlangsung. Hal

    tersebut apakah mempengaruhi tingkat disiplin kerja pegawai dalam

  • 5

    menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh pimpinan. Kondisi inilah yang

    menarik perhatian peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul :

    PENGARUH PENGAWASAN TERHADAP DISIPLIN KERJA

    PEGAWAI KANTOR BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH

    KABUPATEN BREBES.

    1.2 Identifikasi dan Perumusan Masalah

    Permasalahan merupakan bagian dari suatu kegiatan yang berupa

    pertanyaan yang nantinya diperoleh jawaban setelah penelitian selesai

    dilaksanakan, yaitu pada kesimpulan (Suharsimi Arikunto, 2002 : 51)

    Berdasarkan latar belakang, maka permasalahan yang diangkat dalam

    penelitian ini adalah :

    1. Bagaimanakah pengawasan di kantor Badan Kepegawaian Daerah

    Kabupaten Brebes ?

    2. Bagaimanakah disiplin kerja pegawai kantor Badan Kepegawaian Daerah

    Kabupaten Brebes ?

    3. Adakah pengaruh pengawasan terhadap disiplin kerja pegawai kantor

    Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Brebes ?

    4. Seberapa besar pengaruh pengawasan terhadap disiplin kerja pegawai

    kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Brebes ?

  • 6

    1.3 Tujuan Penelitian

    Tujuan penelitian merupakan hal pokok yang harus ada terlebih dahulu

    sebelum seseorang melaksanakan kegiatan penelitian. Karena dengan

    merumuskan tujuan diharapkan dapat memberikan arah yang jelas bagi peneliti

    dalam melangkah.

    Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini antara lain :

    1. Mengetahui pengawasan yang ada di kantor Badan Kepegawaian Daerah

    Kabupaten Brebes.

    2. Mengetahui disiplin kerja pegawai kantor Badan Kepegawaian Daerah

    Kabupaten Brebes.

    3. Mengetahui ada tidaknya pengaruh pengawasan terhadap disiplin kerja

    pegawai Kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes.

    4. Mengetahui seberapa besar pengaruh pengawasan terhadap disiplin kerja

    pegawai kantor Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Brebes.

    1.4 Kegunaan Penelitian

    Dengan adanya penelitian ini manfaat yang diharapkan adalah :

    1.4.1 Kegunaan Praktis

    1. Bagi Peneliti

    Hasil penelitian ini berguna sebagai wahana latihan pengembangan

    kemampuan dalam bidang penelitian dan penerapan yang di dapat di

  • 7

    bangku kuliah, serta menambah pengetahuan peneliti berkaitan dengan

    pengawasan dan disiplin kerja.

    2. Bagi kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes

    Hasil penelitian ini dapat memberi masukan kepada pimpinan kantor

    Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes dalam rangka pembinaan

    disiplin pegawai negeri sipil. Dalam hal ini berkaitan dengan mengadakan

    pengawasan, sehingga pegawai dapat lebih bertanggung jawab dalam

    melaksanakan tugas-tugasnya. Serta sebagai bahan perbandingan baik pada

    keadaan sebelumnya maupun yang akan datang mengenai disiplin kerja

    pegawai di lingkungan kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten

    Brebes.

    3. Bagi Perguruan Tinggi

    Sebagai lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat digunakan

    sebagai bahan pustaka atau referensi untuk penelitian selanjutnya.

    1.4.2 Kegunaan Teoritis

    Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi

    pengembangkan ilmu pengetahuan di bidang manajemen, khususnya

    Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).

    1.5 Sistematika Penulisan Skripsi

    Sistematika penulisan skripsi dimaksudkan agar terdapat tata urutan

    dalam penulisan. Sistematika penulisan skripsi merupakan rangkaian urut-

    urutan logis dan teratur dalam suatu kerangka acuan, untuk mencari dan

  • 8

    mengelola serta menganalisis data dan informasi yang telah diperoleh di

    lapangan.

    Pemberian sistematika penulisan juga dimaksudkan untuk mempermudah

    pemahaman isi dari suatu hasil penelitian yang mempunyai bobot tertentu.

    Skripsi ini terdiri dari tiga bagian yaitu :

    1.5.1 Bagian Awal

    Pada bagian awal terdiri dari : Halaman Judul, Persetujuan

    Pembimbing, Pengesahan Kelulusan, Pernyataan, Motto dan Persembahan,

    Prakata, Sari, Daftar Isi, Daftar Tabel, Daftar Gambar, dan Daftar Lampiran.

    1.5.2 Bagian Isi, meliputi :

    BAB I : PENDAHULUAN

    Berisi tentang latar belakang masalah, identifikasi dan

    perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian,

    serta sistematika skripsi.

    BAB II : LANDASAN TEORI PENELITIAN

    Berisi landasan teori tentang pengawasan dan disiplin kerja,

    kerangka berpikir, dan hipotesis.

    BAB III : METODE PENELITIAN

    Dalam bab ini diuraikan tentang populasi, variabel dan sub

    variabel penelitian, metode pengumpulan data, validitas dan

    reliabilitas instrumen, analisis data dan teknik menganalisis

    data.

  • 9

    BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    Menjelaskan tentang hasil-hasil penelitian disertai pembahasan

    secara lengkap dan mendetail.

    BAB V : PENUTUP

    Berisi simpulan dari analisis-analisis yang telah dilakukan dan

    saran-saran dari peneliti untuk pihak-pihak yang terkait.

    1.5.3 Bagian Akhir

    Pada bagian akhir terdiri dari daftar pustaka dan lampiran-lampiran

    yang diperlukan.

  • BAB II

    LANDASAN TEORI PENELITIAN

    2.1 Landasan Teori Pengawasan

    2.1.1 Pengertian Pengawasan

    Pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan agar pekerjaan-

    pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan atau hasil yang

    dikehendaki (Ranupandojo, 1990 : 109).

    Pengawasan mempunyai hubungan yang erat dengan fungsi manajemen

    lainnya, terutama dengan fungsi perencanaan. Oleh karena itu Herbert G. Hicks

    dalam Ulbert Silalahi (1992 : 175) mengatakan bahwa pengawasan adalah

    berhubungan dengan :

    1) Perbandingan kejadian-kejadian dengan rencana-rencana

    2) Melakukan tindakan-tindakan korektif yang perlu terhadap kejadian-kejadian

    yang menyimpang dari rencana-rencana.

    Sedangkan Sondang P. Siagian dalam Ulbert Silalahi (1992 : 175)

    mengemukakan pengertian pengawasan yaitu proses pengamatan dari pada

    pelaksanaan seluruh kegiatan organisasi untuk menjamin agar semua pekerjaan

    yang dilakukan berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.

    Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan, bahwa pengawasan

    adalah proses untuk menjaga agar kegiatan terarah menuju pencapaian tujuan

    seperti yang direncanakan dan bila ditemukan penyimpangan-penyimpangan

    diambil tindakan koreksi.

    10

  • 11

    2.1.2 Tujuan Pengawasan

    Dalam rangka meningkatkan disiplin kerja pegawai dengan tujuan untuk

    mencapai tujuan organisasi sangat perlu diadakan pengawasan, karena pengawasan

    mempunyai beberapa tujuan yang sangat berguna bagi pihak-pihak yang

    melaksanakan.

    Menurut Ranupandojo (1990 : 109) tujuan pengawasan adalah

    mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang

    ditetapkan dan atau hasil yang dikehendaki.

    Sedangkan Soekarno dalam Gouzali Saydam (1993 : 197) mengemukakan

    tujuan pengawasan antara lain adalah :

    1) Untuk mengetahui apakah suatu kegiatan sudah berjalan sesuai dengan rencana.

    2) Untuk mengetahui apakah suatu kegiatan sudah sesuai dengan instruksi.

    3) Untuk mengetahui apakah kegiatan telah berjalan efisien.

    4) Untuk mengetahui kesulitan-kesulitan dan kelemahan-kelemahan dalam

    kegiatan.

    5) Untuk mencari jalan keluar bila ada kesulitan, kelemahan atau kegagalan kearah

    perbaikan.

    Tujuan utama dari pengawasan ialah mengusahakan agar apa yang

    direncanakan menjadi kenyataan. Untuk dapat benar-benar merealisasi tujuan utama

    tersebut, maka pengawasan pada taraf pertama bertujuan agar pelaksanaan

    pekerjaan sesuai dengan instruksi yang telah dikeluarkan, dan untuk mengetahui

    kelemahan-kelemahan serta kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan

    rencana berdasarkan penemuan-penemuan tersebut dapat diambil tindakan untuk

    memperbaikinya, baik pada waktu itu maupun waktu-waktu yang akan datang.

    (Manullang, 2004 : 173).

  • 12

    Dapat disimpulkan bahwa tujuan pengawasan secara umum adalah

    menciptakan suatu efisiensi dan efektivitas dalam setiap kegiatan dan berusaha

    agar apa yang direncanakan dapat menjadi kenyataan.

    2.1.3 Prinsip-prinsip Pengawasan

    Agar fungsi pengawasan mencapai hasil yang diharapkan, maka pimpinan

    organisasi atau unit organisasi yang melaksanakan fungsi pengawasan harus

    mengetahui dan menerapkan prinsip-prinsip pengawasan.

    George R. Terry dalam Winardi (1986 : 396) mengemukakan bahwa

    prinsip pengawasan yang efektif membantu usaha-usaha kita untuk mengatur

    pekerjaan yang direncanakan untuk memastikan bahwa pelaksanaan pekerjaan

    tersebut berlangsung sesuai dengan rencana. Sedangkan menurut Ulbert Silalahi

    (1992 : 178) prinsip-prinsip pengawasan adalah :

    1) Pengawasan harus berlangsung terus menerus bersamaan dengan pelaksanaan

    kegiatan atau pekerjaan.

    2) Pengawasan harus menemukan, menilai dan menganalisis data tentang

    pelaksanaan pekerjaan secara objektif.

    3) Pengawasan bukan semata-mata untuk mencari kesalahan tetapi juga mencari

    atau menemukan kelemahan dalam pelaksanaan pekerjaan.

    4) Pengawasan harus memberi bimbingan dan mengarahkan untuk

    mempermudah pelaksanaan pekerjaan dalam pencapaian tujuan.

    5) Pengawasan tidak menghambat pelaksanaan pekerjaan tetapi harus

    menciptakan efisiensi (hasil guna).

    6) Pengawasan harus fleksibel.

  • 13

    7) Pengawasan harus berorientasi pada rencana dan tujuan yang telah ditetapkan

    (Plan and Objective Oriented).

    8) Pengawasan dilakukan terutama pada tempat-tempat strategis atau kegiatan-

    kegiatan yang sangat menentukan atau control by exception.

    9) Pengawasan harus membawa dan mempermudah melakukan tindakan

    perbaikan (Corrective Action).

    2.1.4 Bentuk-bentuk Pengawasan

    Bentuk-bentuk atau tipe pengawasan menurut Hamdan Mansoer (1989 :

    158-159) sebagai berikut :

    1. Pengawasan Pra Kerja

    Bentuk pengawasan pra kerja ini sifatnya mempersiapkan antisipasi

    permasalahan yang akan datang. Sifatnya mengarahkan keadaan yang akan

    terjadi di masa datang, sebagai peringatan untuk tidak dilanggar. Pengawasan

    bentuk ini memberikan patokan kerja dan tidak memandori kerja.

    2. Pengawasan Semasa Kerja

    Pengawasan yang dilakukan pada saat tugas diselenggarakan,

    memungkinkan manajer melakukan perbaikan di tempat pada waktu

    penyimpangan diketahui. Perbaikan secara langsung sebelum penyimpangan

    terlalu jauh terjadi, yang mungkin akan sangat sukar meluruskannya, lebih

    menguntungkan pengawasan ini ialah supervisi. Supervisi langsung

    memungkinkan manajer melakukan tindakan koreksi langsung pula.

    3. Pengawasan Pasca Kerja

    Pengawasan dilakukan sesudah kegiatan atau pekerjaan berlangsung

    dan sudah berselang waktu yang lama. Kelemahannya ialah penyimpangan

  • 14

    baru diketahui setelah pekerjaan seluruhnya selesai, sehingga tidak mungkin

    diperbaiki lagi.

    2.1.5 Asas-asas Pengawasan

    Asas-asas pengawasan yang dikemukakan oleh Komaruddin (1992 : 19-

    21) antara lain :

    1) Asas Sumbangan terhadap Tujuan

    2) Asas Penetapan Standar

    3) Asas Penetapan Pokok-Pokok Pengawasan Strategi

    4) Asas Tindakan Perbaikan

    5) Asas Manajemen dengan Kekecualian

    6) Asas Keluwesan Pengawasan

    7) Asas Keharmonisan Pengawasan

    8) Asas Kecocokan Pengawasan

    9) Asas Tanggung Jawab Pengawasan

    10) Asas Akuntabilitas Pengawasan

    2.1.6 Cara Pengawasan

    Supaya pengawasan yang dilakukan seorang atasan efektif, maka haruslah

    terkumpul fakta-fakta di tangan pemimpin yang bersangkutan. Guna maksud

    pengawasan seperti ini, ada beberapa cara untuk mengumpulkan fakta-fakta

    menurut Manullang (2004 : 178-180) yaitu :

    1. Pengawasan Melalui Peninjauan Pribadi

    Peninjauan pribadi (personal inspection, personal observation) adalah

    mengawasi dengan jalan meninjau secara pribadi. Sehingga dapat dilihat

    pelaksanaan pekerjaan. Cara pengawasan ini mengandung segi kelemahan,

  • 15

    bila timbul syak wasangka dari bawahan. Cara seperti ini memberi kesan

    kepada bawahan bahwa mereka diamat-amati secara keras dan kuat sekali.

    Sebagai alasan karena dengan cara ini kontak langsung antara atasan dengan

    bawahan dapat dipererat.

    2. Pengawasan Melalui Laporan Lisan

    Dengan cara ini, pengawasan dilakukan dengan mengumpulkan fakta-

    fakta melalui laporan lisan yang diberikan bawahan. Wawancara yang

    diberikan ditujukan kepada orang-orang atau segolongan orang tertentu yang

    dapat memberi gambaran dari hal-hal yang ingin diketahui, terutama tentang

    hasil sesungguhnya (actual result) yang dicapai oleh bawahannya. Dengan

    cara ini kedua belah pihak aktif, bawahan memberikan laporan lisan tentang

    hasil pekerjaannya dan atasan dapat menanyakannya lebih lanjut untuk

    memperoleh fakta-fakta yang diperlukan.

    3. Pengawasan Melalui Laporan Tertulis

    Laporan tertulis (written report) merupakan suatu pertanggung

    jawaban kepada atasan mengenai pekerjaan yang dilaksanakannya, sesuai

    dengan instruksi dan tugas-tugas yang diberikan atasannya kepadanya.

    Dengan laporan tertulis yang diberikan oleh bawahan, maka atasan dapat

    membaca apakah bawahan-bawahan tersebut melaksanakan tugas-tugas yang

    diberikan kepadanya dengan penggunaan hak-hak atau kekuasaan yang

    didelegasikan kepadanya.

    4. Pengawasan Melalui Laporan Kepada Hal-hal yang Bersifat Khusus

    Pengawasan yang berdasarkan kekecualian atau control by exception

    adalah suatu sistem pengawasan dimana pengawasan itu ditujukan kepada

    soal-soal kekecualian. Jadi pengawasan hanya dilakukan bila diterima laporan

    yang menunjukkan adanya peristiwa-peristiwa yang istimewa.

  • 16

    2.1.7 Standar Pengawasan

    Sebelum kegiatan pengawasan itu dilakukan perlu ditentukan standar

    atau ukuran pengawasan. Manullang (2004 : 186-187) menggolongkan jenis-

    jenis standar pengawasan ke dalam tiga golongan besar, yaitu :

    1. Standar dalam Bentuk Fisik (physical standard), adalah semua standar yang

    dipergunakan untuk menilai atau mengukur hasil pekerjaan bawahan dan

    bersifat nyata tidak dalam bentuk uang. Meliputi :

    a. Kuantitas hasil produksi

    b. Kualitas hasil produksi

    c. waktu

    2. Standar dalam Bentuk Uang, adalah semua standar yang dipergunakan

    untuk menilai atau mengukur hasil pekerjaan bawahan dalam bentuk jumlah

    uang. Meliputi :

    a. Standar biaya

    b. Standar penghasilan

    c. Standar investasi

    3. Standar Intangible, adalah standar yang biasa digunakan untuk mengukur

    atau menilai kegiatan bawahan diukur baik dengan bentuk fisik maupun

    dalam bentuk uang. Misalnya untuk mengukur kegiatan bagian atau kepala

    bagian hubungan kemasyarakatan atau mengukur sikap pegawai terhadap

    perusahaan.

  • 17

    2.1.8 Proses Dasar Pengawasan

    Proses pengawasan adalah serangkaian kegiatan di dalam melaksanakan

    pengawasan terhadap suatu tugas atau pekerjaan dalam suatu organisasi. Proses

    pengawasan ini terdiri dari beberapa tindakan (langkah pokok) tertentu yang

    bersifat fundamental bagi semua pengawasan manajerial.

    Menurut George R. Terry dalam Winardi (1986 : 397) mengemukakan

    bahwa pengawasan merupakan suatu proses yang dibentuk oleh tiga macam

    langkah-langkah, meliputi :

    1) Mengukur hasil pekerjaan

    2) Membandingkan hasil pekerjaan dengan standar dan memastikan perbedaan

    (apabila ada perbedaan)

    3) Mengoreksi penyimpangan yang tidak dikehendaki melalui tindakan

    perbaikan

    Sedangkan Ranupandojo (1990 : 109) menyatakan bahwa proses

    pengawasan biasanya meliputi empat kegiatan utama, yaitu :

    1) Menentukan ukuran atau pedoman baku atau standar

    2) Mengadakan penilaian terhadap pekerjaan yang sudah dikerjakan

    3) Membandingkan antara pelaksanaan pekerjaan dengan pedoman baku yang

    ditetapkan untuk mengetahui penyimpangan-penyimpangan yang terjadi

    4) Mengadakan perbaikan atau pembetulan atas penyimpangan yang terjadi,

    sehingga pekerjaan yang dikerjakan sesuai dengan apa yang direncanakan.

    Pengawasan menurut T. Hani Handoko (1995 : 363) biasanya terdiri

    paling sedikit lima tahap, sebagai berikut :

  • 18

    1. Penetapan standar pelaksanaan (perencanaan)

    Tahap pertama dalam pengawasan adalah penetapan standar

    pelaksanaan. Standar mengandung arti sebagai suatu satuan pengukuran yang

    dapat digunakan sebagai patokan untuk penilaian hasil-hasil, tujuan, sasaran,

    kuota, dan target pelaksanaan dapat digunakan sebagai standar.

    2. Penentuan pengukuran pelaksanaan kegiatan

    Penetapan standar adalah sia-sia bila tidak disertai berbagai cara untuk

    mengukur pelaksanaan kegiatan nyata. Oleh karena itu tahap kedua dalam

    pengawasan adalah menentukan pengukuran pelaksanaan kegiatan secara

    tepat.

    3. Pengukuran pelaksanaan kegiatan nyata

    Setelah frekuensi pengukuran dan sistem monitoring ditentukan,

    pengukuran dilakukan sebagai proses yang berulang-ulang dan terus menerus.

    Ada berbagai cara untuk melakukan pengukuran pelaksanaan, yaitu

    pengamatan (observasi), laporan-laporan baik tertulis maupun lisan. Metoda-

    metoda otomatis dan inspeksi, pengujian (test) atau dengan pengambilan

    sampel.

    4. Pembandingan pelaksanaan kegiatan dengan standar dan penganalisaan

    penyimpangan-penyimpangan

    Perbandingan pelaksanaan nyata dengan pelaksanaan yang direncanakan

    atau standar yang telah ditetapkan merupakan tahap yang paling mudah

    dilakukan, tetapi kompleksitas dapat terjadi pada saat menginterprestasikan

    adanya penyimpangan (deviasi). Penyimpangan-penyimpangan harus

    dianalisa untuk menentukan mengapa standar tidak dapat dicapai.

  • 19

    5. Pengambilan tindakan korektif bila perlu

    Bila hasil analisa menunjukkan perlunya tindakan koreksi, tindakan ini

    harus diambil. Tindakan koreksi dapat diambil dalam berbagai bentuk. Standar

    mungkin diubah, pelaksanaan diperbaiki, atau keduanya dilakukan bersamaan.

    Menurut Manullang (2004 : 184) untuk mempermudah dalam merealisasi

    tujuan, pengawasan harus perlu dilalui beberapa fase atau urutan pelaksanaan

    yang terdiri dari :

    1. Menetapkan alat ukur (standard)

    Alat penilai atau standar bagi hasil pekerjaan bawahan, pada umumnya

    terdapat baik pada rencana keseluruhan maupun pada rencana-rencana bagian.

    Dengan kata lain, dalam rencana itulah pada umumnya terdapat standar bagi

    pelaksanaan pekerjaan. Agar alat penilai itu diketahui benar oleh bawahan,

    maka alat penilai itu harus dikemukakan, dijelaskan kepada bawahan. Dengan

    demikian atasan dan bawahan bekerja dalam menetapkan apa yang menjadi

    standar hasil pekerjaan bawahan tersebut.

    2. Mengadakan penilaian (evaluate)

    Dengan menilai dimaksudkan membandingkan hasil pekerjaan

    bawahan (actual result) dengan alat pengukur (standar) yang sudah

    ditentukan. Jadi pimpinan membandingkan hasil pekerjaan bawahan yang

    senyatanya dengan standar sehingga dengan perbandingan itu dapat dipastikan

    terjadi tidaknya penyimpangan.

    3. Mengadakan tindakan perbaikan (corective action)

    Dengan tindakan perbaikan diartikan, tindakan yang diambil untuk

    menyesuaikan hasil pekerjaan nyata yang menyimpang agar sesuai dengan

  • 20

    standar atau rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Tindakan perbaikan itu

    tidak serta merta dapat menyesuaikan hasil pekerjaan yang senyatanya dengan

    rencana atau standar. Oleh karena itulah, perlu sekali adanya laporan-laporan

    berkala sehingga segera sebelum terlambat dapat diketahui terjadinya

    penyimpangan-penyimpangan, serta dengan tindakan perbaikan yang akan

    diambil, pelaksanaan pekerjaan seluruhnya dapat diselamatkan sesuai dengan

    rencana.

    Dari proses pengawasan yang dikemukakan keempat ahli tersebut, maka

    dapat diambil beberapa pernyataan untuk dijadikan sebagai indikator yang dapat

    mengukur pengawasan, yaitu :

    1. Ukuran atau standar pekerjaan

    Standar secara singkat dapat diartikan sebagai suatu nilai atau petunjuk

    yang menjadi suatu ukuran atau model sehingga hasil-hasil yang nyata dapat

    dibandingkan (Ulbert Silalahi, 1992 : 176).

    Standar atau ukuran ditetapkan sebelum pengawasan dilaksanakan, jadi

    penetapan standar dapat disebut sebagai perencanaan pengawasan.

    Singkatnya, standar atau ukuran adalah dasar dalam melaksanakan kegiatan

    pengawasan dalam suatu organisasi.

    2. Penilaian pekerjaan

    Penilaian atau pengukuran pekerjaan yang dimaksud adalah mengukur

    atau menilai kinerja yang dicapai oleh pegawai. Pengukuran pekerjaan yang

    dilaksanakan harus tepat sehingga dapat dihilangkan adanya perbedaan

  • 21

    penting antara yang sedang terjadi dengan apa yang semula diinginkan sesuai

    rencana.

    3. Perbandingan antara hasil pekerjaan dengan ukuran atau standar pekerjaan

    Perbandingan adalah untuk menentukan tingkat perbedaan antara

    pelaksanaan (hasil) kerja yang dicapai dengan rencana yang diinginkan

    sebelumnya (Ulbert Silalahi, 1992 : 176).

    Perbandingan hasil kerja dengan ukuran merupakan tindakan penting

    dalam menentukan seberapa baik atau seberapa buruk pengendalian yang

    terjadi pada situasi tersebut. Perbandingan antara kinerja sesungguhnya dan

    kinerja yang diinginkan akan menentukan tindakan yang akan diambil.

    4. Perbaikan atas penyimpangan

    Tindakan perbaikan atau koreksi dilaksanakan apabila dalam

    pelaksanaan kerja ditemukan penyimpangan-penyimpangan atau kesalahan

    yang harus segera dibetulkan. Dalam manajemen, apapun besarnya suatu

    kesalahan dalam pekerjaan, kesalahan tersebut harus diperbaiki. Perbaikan

    yang dilakukan haruslah mengacu kepada peraturan organisasi dan mengarah

    kepada tujuan organisasi. Melalui tindakan perbaikan terhadap suatu

    penyimpangan, diharapkan hasil kerja akan sesuai dengan rencana.

    2.1.9 Karakteristik Pengawasan yang Efektif

    Agar dapat efektif setiap pengawasan harus memenuhi kriteria tertentu.

    Kriteria penting bagi pengawasan yang baik menurut pendapat Ranupandojo

    (1990 : 114) yaitu :

  • 22

    1) Informasi yang akan diukur harus akurat

    2) Pengawasan harus dilakukan tepat waktu disaat penyimpangan diketahui

    3) Sistem Pengawasan yang dipergunakan harus mudah dimengerti oleh orang

    lain

    4) Pengawasan harus dititik beratkan pada kegiatan-kegiatan strategis

    5) Harus bersifat ekonomis, artinya biaya pengawasan harus lebih kecil

    dibandingkan dengan hasilnya

    6) Pelaksanaan pengawasan sesuai dengan struktur organisasi

    7) Harus sesuai dengan arus kerja atau sesuai dengan sistem dan prosedur yang

    dilaksanakan dalam organisasi

    8) Harus luwes dalam menghadapi perubahan-perubahan yang ada

    9) Bersifat memerintah dan dapat dikerjakan oleh bawahan

    10) Sistem pengawasan harus dapat diterima dan dimengerti oleh semua anggota

    organisasi

    2.2 Landasan Teori Disiplin Kerja

    2.2.1 Pengertian Disiplin

    Kata disiplin itu sendiri berasal dari bahasa Latin discipline yang

    berarti latihan atau pendidikan kesopanan dan kerohanian serta pengembangan

    tabiat. Hal ini menekankan pada bantuan kepada pegawai untuk

    mengembangkan sikap yang layak terhadap pekerjaannya dan merupakan cara

    pengawas dalam membuat peranannya dalam hubungannya dengan disiplin.

    Disiplin merupakan suatu kekuatan yang berkembang di dalam tubuh pekerja

    sendiri yang menyebabkan dia dapat menyesuaikan diri dengan sukarela kepada

  • 23

    keputusan-keputusan, peraturan-peraturan, dan nilai-nilai tinggi dari pekerjaan

    dan tingkah laku (Moekijat, 1989 : 139).

    Menurut Keith David dalam A.A. Anwar Prabu Mangkunegara (2001 :

    129), menyatakan bahwa disiplin kerja dapat diartikan sebagai pelaksanan

    manajemen untuk memperteguh pedoman-pedoman organisasi.

    Rumusan lain menyatakan bahwa disiplin merupakan tindakan

    manajemen mendorong para anggota organisasi memenuhi tuntutan berbagai

    ketentuan tersebut. Dengan perkataan lain, pendisiplinan pegawai adalah suatu

    bentuk pelatihan yang berusaha memperbaiki dan membentuk pengetahuan, sikap

    dan perilaku karyawan sehingga para karyawan tersebut secara sukarela berusaha

    bekerja secara kooperatif dengan para karyawan yang lain serta meningkatkan

    prestasi kerjanya ( Sondang P. Siagian, 2000 : 305 ).

    Sedangkan pendapat Siswanto Sastrohadiwiryo (2003 : 291) disiplin kerja

    dapat didefinisikan sabagai suatu sikap menghormati, menghargai, patuh, dan taat

    terhadap peraturan-peraturan yang berlaku baik yang tertulis maupun tidak tertulis

    serta sanggup menjalankannya dan tidak mengelak untuk menerima sanksi-

    sanksinya apabila ia melanggar tugas dan wewenang yang diberikan kepadanya.

    Kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang menaati semua

    peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. Kesadaran disini

    merupakan sikap seseorang yang secara sukarela menaati semua peraturan dan

    sadar akan tugas dan tanggung jawabnya. Jadi, dia akan mematuhi atau

    mengerjakan semua tugasnya dengan baik, bukan atas paksaan. Sedangkan

    kesediaan adalah suatu sikap, tingkah laku, dan perbuatan seseorang yang sesuai

  • 24

    dengan peraturan perusahaan, baik yang tertulis maupun tidak tertulis (Malayu

    S.P Hasibuan, 2003 : 193-194).

    Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut diatas, dapat disimpulkan

    bahwa disiplin kerja pegawai merupakan sikap atau tingkah laku yang

    menunjukkan kesetiaan dan ketaatan seseorang atau sekelompok orang terhadap

    peraturan yang telah ditetapkan oleh instansi atau organisasinya baik yang

    tertulis maupun tidak tertulis sehingga diharapkan pekerjaan yang dilakukan

    efektif dan efesien.

    2.2.2 Tujuan Disiplin Kerja

    Secara umum dapat disebutkan bahwa tujuan utama disiplin kerja adalah

    demi kelangsungan organisasi atau perusahaan sesuai dengan motif organisasi

    atau perusahaan yang bersangkutan baik hari ini maupun hari esok. Menurut

    Siswanto Sastrohadiwiryo (2003 : 292) secara khusus tujuan disiplin kerja para

    pegawai, antara lain :

    1) Agar para pegawai menepati segala peraturan dan kebijakan ketenagakerjaan

    maupun peraturan dan kebijakan organisasi yang berlaku, baik tertulis

    maupun tidak tertulis, serta melaksanakan perintah manajemen dengan baik.

    2) Pegawai dapat melaksanakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya serta mampu

    memberikan pelayanan yang maksimum kepada pihak tertentu yang

    berkepentingan dengan organisasi sesuai dengan bidang pekerjaan yang

    diberikan kepadanya.

    3) Pegawai dapat menggunakan dan memelihara sarana dan prasarana, barang

    dan jasa organisasi dengan sebaik-baiknya.

  • 25

    4) Para pegawai dapat bertindak dan berpartisipasi sesuai dengan norma-norma

    yang berlaku pada organisasi.

    5) Pegawai mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi sesuai dengan

    harapan organisasi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

    2.2.3 Jenis-jenis Disiplin Kerja

    T. Hani Handoko dalam Susilo Martoyo (1996 : 144) menggolongkan

    jenis-jenis disiplin antara lain :

    1. Disiplin Preventif

    Disiplin preventif merupakan kegiatan yang dilaksanakan dengan

    maksud untuk mendorong para karyawan agar sadar mentaati berbagai standar

    dan aturan, sehingga dapat dicegah berbagai penyelewengan atau pelanggaran.

    Yang utama dalam hal ini adalah ditumbuhkannya self discipline pada setiap

    karyawan tanpa kecuali.

    2. Disiplin Korektif

    Disiplin korektif merupakan kegiatan yang diambil untuk menangani

    pelanggaran yang terjadi terhadap aturan-aturan, dan mencoba untuk

    menghindari pelanggaran-pelanggaran lebih lanjut. Kegiatan korektif ini

    berupa suatu bentuk hukuman atau tindakan pendisiplinan (disciplinary

    action), yang wujudnya dapat berupa peringatan ataupun berupa

    schorsing. Semua sasaran pendisiplinan tersebut harus positif, bersifat

    mendidik dan mengoreksi kekeliruan untuk tidak terulang kembali.

  • 26

    Sedangkan menurut Keith Davis dan John W. Newstrom dalam Triguno

    (1997 : 50-51), menyatakan bahwa disiplin mempunyai 3 (tiga) macam bentuk,

    yaitu :

    1. Disiplin Preventif

    Disiplin preventif adalah tindakan SDM agar terdorong untuk menaati

    standar atau peraturan. Tujuan pokoknya adalah mendorong SDM agar

    memiliki disiplin pribadi yang tinggi, agar peran kepemimpinan tidak terlalu

    berat dengan pengawasan atau pemaksaan, yang dapat mematikan prakarsa

    dan kreativitas serta partisipasi SDM.

    2. Disiplin Korektif

    Disiplin korektif adalah tindakan dilakukan setelah terjadi pelanggaran

    standar atau peraturan, tindakan tersebut dimaksud untuk mencegah timbulnya

    pelanggaran lebih lanjut. Tindakan itu biasanya berupa hukuman tertentu yang

    biasa disebut sebagai tindakan disipliner, antara lain berupa peringatan, skors,

    pemecatan.

    3. Disiplin Progesif

    Disiplin progresif adalah tindakan disipliner berulang kali berupa

    hukuman yang makin berat, dengan maksud agar pihak pelanggar bisa

    memperbaiki diri sebelum hukuman berat dijatuhkan.

    2.2.4 Pendekatan Disiplin Kerja

    Ada tiga pendekatan disiplin menurut A.A. Anwar Prabu Mangkunegara

    (2001 : 130) yaitu :

  • 27

    1. Pendekatan Disiplin Modern

    Pendekatan disiplin modern yaitu menemukan sejumlah keperluan

    atau kebutuhan baru di luar hukuman. Pendekatan ini berasumsi :

    a. Disiplin modern merupakan suatu cara menghindarkan bentuk hukuman

    secara fisik.

    b. Melindungi tuduhan yang benar untuk diteruskan pada proses hukuman

    yang berlaku.

    c. Keputusan-keputusan yang semuanya terhadap kesalahan atau prasangka

    harus diperbaiki dengan mengadakan proses penyuluhan dengan

    mendapatkan fakta-faktanya.

    d. Melakukan protes terhadap keputusan yang berat sebelah pihak terhadap

    kasus disiplin.

    2. Pendekatan Disiplin dengan Tradisi

    Pendekatan disiplin dengan tradisi, yaitu pendekatan dengan cara

    memberi hukuman. Pendekatan ini berasumsi :

    a. Disiplin dilakukan oleh atasan kepada bawahan, dan tidak pernah ada

    peninjauan kembali bila telah diputuskan.

    b. Disiplin adalah hukuman untuk pelanggaran, pelaksanaannya harus

    disesuaikan dengan tingkat pelanggaran.

    c. Pengaruh hukuman untuk memberikan pelajaran kepada pelanggaran

    maupun kepada pegawai lainnya.

    d. Peningkatan perbuatan pelanggaran diperlukan hukuman yang lebih keras.

  • 28

    e. Pemberian hukuman terhadap pegawai yang melanggar kedua kalinya

    harus diberi hukuman yang lebih berat.

    3. Pendekatan Disiplin Bertujuan

    Pendekatan disiplin bertujuan berasumsi :

    a. Disiplin kerja harus dapat diterima dan dipahami oleh semua pegawai.

    b. Disiplin bukanlah suatu hukuman, tetapi merupakan pembetulan perilaku.

    c. Disiplin ditujukan untuk perbuatan perilaku yang lebih baik.

    d. Disiplin pegawai bertujuan agar pegawai bertanggung jawab terhadap

    peraturannya.

    2.2.5 Prinsip-prinsip Pendisiplinan

    Prinsip-prinsip pendisiplinan yang dikemukakan Ranupandojo (1990 :

    241-242) adalah :

    1. Pendisiplinan dilakukan secara pribadi.

    Pendisiplinan seharusnya dilakukan dengan memberikan teguran

    kepada karyawan. Teguran jangan dilakukan di hadapan orang banyak. Karena

    dapat menyebabkan karyawan yang ditegur akan merasa malu dan tidak

    menutup kemungkinan menimbulkan rasa dendam yang dapat merugikan

    organisasi.

    2. Pendisiplinan harus bersifat membangun.

    Selain memberikan teguran dan menunjukkan kesalahan yang

    dilakukan karyawan, harus disertai dengan saran tentang bagaimana

    seharusnya berbuat untuk tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama.

  • 29

    3. Pendisiplinan harus dilakukan sacara langsung dengan segera.

    Suatu tindakan dilakukan dengan segera setelah terbukti bahwa

    karyawan telah melakukan kesalahan. Jangan membiarkan masalah menjadi

    kadaluarsa sehingga terlupakan oleh karyawan yang bersangkutan.

    4. Keadilan dalam pendisiplinan sangat diperlukan.

    Dalam tindakan pendisiplinan dilakukan secara adil tanpa pilih kasih.

    Siapapun yang telah melakukan kesalahan harus mendapat tindakan

    pendisiplinan secara adil tanpa membeda-bedakan.

    5. Pimpinan hendaknya tidak melakukan pendisiplinan sewaktu karyawan absen.

    Pendisiplinan hendaknya dilakukan dihadapan karyawan yang

    bersangkutan secara pribadi agar ia tahu telah melakukan kesalahan. Karena

    akan percuma pendisiplinan yang dilakukan tanpa adanya pihak yang

    bersangkutan.

    6. Setelah pendisiplinan sikap dari pimpinan haruslah wajar kembali.

    Sikap wajar hendaknya dilakukan pimpinan terhadap karyawan yang

    telah melakukan kesalahan tersebut. Dengan demikian, proses kerja dapat

    lancar kembali dan tidak kaku dalam bersikap.

    2.2.6 Alat Untuk Mengukur Disiplin Kerja

    Menurut Alfred R. Lateiner dalam Imam Soejono (1983 : 72), umumnya

    disiplin kerja karyawan dapat diukur dari :

    1. Para pegawai datang ke kantor dengan tertib, tepat waktu dan teratur.

    Dengan datang ke kantor secara tertib, tepat waktu dan teratur maka

    disiplin kerja dapat dikatakan baik.

  • 30

    2. Berpakaian rapi di tempat kerja.

    Berpakaian rapi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi

    disiplin kerja karyawan, karena dengan berpakaian rapi suasana kerja akan

    terasa nyaman dan rasa percaya diri dalam bekerja akan tinggi.

    3. Menggunakan perlengkapan kantor dengan hati-hati.

    Sikap hati-hati dapat menunjukkan bahwa seseorang memiliki disiplin

    kerja yang baik karena apabila dalam menggunakan perlengkapan kantor tidak

    secara hati-hati, maka akan terjadi kerusakan yang mengakibatkan kerugian.

    4. Mengikuti cara kerja yang ditentukan oleh organisasi.

    Dengan mengikuti cara kerja yang ditentukan oleh organisasi maka

    dapat menunjukkan bahwa karyawan memiliki disiplin kerja yang baik, juga

    menunjukkan kepatuhan karyawan terhadap organisasi.

    5. Memiliki tanggung jawab.

    Tanggung jawab sangat berpengaruh terhadap disiplin kerja, dengan

    adanya tanggung jawab terhadap tugasnya maka menunjukkan disiplin kerja

    karyawan tinggi.

    Disiplin mencakup berbagai bidang dan cara pandangnya, seperti menurut

    Guntur (1996 : 34 35) ada beberapa sikap disiplin yang perlu dikelola dalam

    pekerjaan, yaitu :

    1. Disiplin terhadap waktu

    2. Disiplin terhadap target

    3. Disiplin terhadap kualitas

    4. Disiplin terhadap prioritas kerja

    5. Disiplin terhadap prosedur

    Adapun kriteria yang dipakai dalam disiplin kerja tersebut dapat

    dikelompokkan menjadi tiga indikator disiplin kerja yaitu diantaranya :

  • 31

    1. Disiplin waktu

    Disiplin waktu disini diartikan sebagai sikap atau tingkah laku yang

    menunjukkan ketaatan terhadap jam kerja yang meliputi : kehadiran dan

    kepatuhan pegawai pada jam kerja, pegawai melaksanakan tugas dengan tepat

    waktu dan benar.

    2. Disiplin peraturan

    Peraturan maupun tata tertib yang tertulis dan tidak tertulis dibuat agar

    tujuan suatu organisasi dapat dicapai dengan baik. Untuk itu dibutuhkan sikap

    setia dari pegawai terhadap komitmen yang telah ditetapkan tersebut.

    Kesetiaan disini berarti taat dan patuh dalam melaksanakan perintah dari

    atasan dan peraturan, tata tertib yang telah ditetapkan. Serta ketaatan pegawai

    dalam menggunakan kelengkapan pakaian seragam yang telah ditentukan

    organisasi atau lembaga.

    3. Disiplin tanggung jawab

    Salah satu wujud tanggung jawab pegawai adalah penggunaan dan

    pemeliharaan peralatan yang sebaik-baiknya sehingga dapat menunjang

    kegiatan kantor berjalan dengan lancar. Serta adanya kesanggupan dalam

    menghadapi pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang

    pegawai.

    2.2.7 Faktor-faktor yang Dapat Meningkatkan Disiplin Kerja

    Disiplin kerja yang tinggi merupakan harapan bagi setiap pimpinan kepada

    bawahan, karena itu sangatlah perlu bila disiplin mendapat penanganan intensif

    dari semua pihak yang terlibat dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan dari

    suatu organisasi / perusahaan. Dalam menangani pelanggaran yang dilakukan

  • 32

    bawahan perlu adanya kebijakan yang tegas guna mengoreksi, memperbaiki dan

    menghindari terulangnya pelanggaran kembali hal-hal yang negatif di masa-masa

    mendatang.

    Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh pimpinan untuk memelihara disiplin

    pegawainya menurut D.S. Widodo (1981 : 98) antara lain :

    1. Mengadakan pengawasan yang konsisten dan kontinyu

    2. Memberi koreksi terhadap berbagai kekurangan dan atau kekeliruan

    3. Memberi reward atau penghargaan walaupun dengan kata-kata terhadap

    prestasi yang diraih bawahannya

    4. Mengadakan komunikasi dengan bawahan pada waktu senggang yang

    diarahkan pimpinan

    5. Mengubah pengetahuan bawahan, sehingga dapat meningkatkan nilai dirinya

    untuk kepentingan maupun organisasi / lembaga tempat bekerja

    6. Memberikan kesempatan berdialog demi meningkatkan keakraban antara

    pimpinan dan bawahan

    D.S. Widodo (1981 : 98) juga mengemukakan hal-hal yang perlu

    diperhatikan oleh pimpinan dalam usaha meningkatkan disiplin pegawai adalah

    dengan ketegasan dan kejelasan pengaturan itu sendiri, yaitu :

    1. Pengaturan yang jelas dan tegas dengan sanksi-sanksi hukuman yang sama

    bagi pelanggaran yang sama

    2. Penjelasan kepada karyawan tentang apa yang diharapkan dari mereka

    3. Memberitahu pada para pegawainya bagaimana peraturan dan tata tertib

    4. Menyelidiki dengan seksama mengenai latar belakang terjadinya pelanggaran

    peraturan

    5. Tindakan disiplin yang tegas bila ternyata telah terjadi pelanggaran

  • 33

    2.2.8 Tingkat dan Jenis Sanksi Disiplin Kerja

    Tujuan utama pengadaan sanksi disiplin kerja bagi para tenaga kerja yang

    melanggar norma-norma organisasi adalah memperbaiki dan mendidik para tenaga

    kerja yang melakukan pelanggaran disiplin. Pada umumnya sebagai pegangan

    pimpinan meskipun tidak mutlak, tingkat dan jenis sanksi disiplin kerja yang

    dikemukakan oleh Siswanto Sastrohadiwiryo (2003 : 293 294) terdiri atas sanksi

    disiplin berat, sanksi disiplin sedang, sanksi disiplin ringan.

    1. Sanksi Disiplin Berat

    Sanksi disiplin berat misalnya :

    a. Demosi jabatan yang setingkat lebih rendah dari jabatan atau pekerjaan

    yang diberikan sebelumnya.

    b. Pembebasan dari jabatan atau pekerjaan untuk dijadikan sebagai tenaga

    kerja biasa bagi yang memegang jabatan.

    c. Pemutusan hubungan kerja dengan hormat atas permintaan sendiri tenaga

    kerja yang bersangkutan.

    d. Pemutusan hubungan kerja tidak dengan hormat sebagai tenaga kerja di

    organisasi atau perusahaan.

    2. Sanksi Disiplin Sedang

    Sanksi disiplin sedang misalnya :

    a. Penundaan pemberian kompensasi yang sebelumnya telah dirancangkan

    sabagaimana tenaga kerja lainnya.

    b. Penurunan upah atau gaji sebesar satu kali upah atau gaji yang biasanya

    diberikan harian, mingguan, atau bulanan.

  • 34

    c. Penundaan program promosi bagi tenaga kerja yang bersangkutan pada

    jabatan yang lebih tinggi.

    3. Sanksi Disiplin Ringan

    Sanksi disiplin ringan misalnya :

    a. Teguran lisan kepada tenaga kerja yang bersangkutan.

    b. Teguran tertulis.

    c. Pernyataan tidak puas secara tertulis.

    Dalam penetapan jenis sanksi disiplin yang akan dijatuhkan kepada

    pegawai yang melanggar hendaknya dipertimbangkan dengan cermat, teliti, dan

    seksama bahwa sanksi disiplin yang akan dijatuhkan tersebut setimpal dengan

    tindakan dan perilaku yang diperbuat. Dengan demikian, sanksi disiplin tersebut

    dapat diterima dengan rasa keadilan. Kepada pegawai yang pernah diberikan

    sanksi disiplin dan mengulangi lagi pada kasus yang sama, perlu dijatuhi sanksi

    disiplin yang lebih berat dengan tetap berpedoman pada kebijakan pemerintah

    yang berlaku.

    2.3 Kerangka Berpikir

    Dalam kegiatan suatu organisasi, pengawasan sangat penting dalam

    upaya mendorong disiplin guna mencapai mutu kerja yang tinggi. Pengawasan

    bagi pimpinan merupakan proses pemantauan kegiatan untuk menjaga bahwa

    kegiatan tersebut memang dilaksanakan terarah dan menuju kepada pencapaian

    tujuan yang direncanakan. Pegawai yang tidak mempunyai komitmen terhadap

    tujuan organisasi dan mudah terganggu dalam bekerja membutuhkan

    pengawasan yang tinggi. Pengawasan disini meliputi ukuran atau standar

    pekerjaan, penilaian terhadap pekerjaan, perbandingan antara hasil pekerjaan

  • 35

    dengan ukuran atau standar pekerjaan, dan perbaikan atas penyimpangan.

    Dimana pengawasan dilaksanakan guna tercapainya kelancaran kerja agar semua

    rencana yang telah ditetapkan dapat terealisasi dengan baik.

    Dengan adanya pengawasan yang baik dimungkinkan akan

    meningkatkan disiplin kerja pegawai. Karena disiplin kerja merupakan salah

    satu faktor yang sangat penting bagi terciptanya suatu tujuan organisasi. Dan

    dengan adanya kedisiplinan diharapkan pekerjaan akan dilaksanakan seefektif

    mungkin, bilamana kedisiplinan tidak dilaksanakan maka kemungkinan tujuan

    yang telah ditetapkan tidak dapat tercapai secara efektif dan efesien. Disiplin

    kerja ini dapat diukur dengan adanya disiplin waktu, disiplin peraturan, dan

    disiplin tanggung jawab.

    Pengawasan adalah tindakan nyata dan paling efektif dalam mewujudkan

    kedisiplinan pegawai. Melalui pengawasan secara efektif, dimaksudkan agar

    para pegawai tidak melanggar aturan yang telah ditetapkan. Tingkat kesalahan

    dan pelanggaran yang terjadi dapat ditekan sekecil mungkin dengan adanya

    sikap disiplin dalam diri para pegawai, karena seketat apapun pengawasan yang

    dilakukan oleh pihak pimpinan jika dalam diri pegawai tersebut tidak

    mempunyai sikap disiplin maka akan sulit untuk bekerja sesuai aturan. Disinilah

    perlunya pengawasan untuk mendukung disiplin kerja pegawai agar lebih

    efektif. Sebab disiplin disini berarti ketaatan pegawai terhadap aliran atau

    pengaturan organisasi. Sedangkan pengawasan berarti mencegah adanya

    penyimpangan, keterlambatan kerja, kesalahpahaman dan penyelewengan kerja.

    Dengan demikian apabila pengawasan dilakukan secara teratur dan kontinyu

    maka penyimpangan kerja dapat dihindari yang berarti disiplin kerja dapat terus

    dipertahankan dan ditingkatkan dalam kegiatan instansi.

  • 36

    Untuk lebih jelasnya, hubungan keduanya dapat ditunjukkan pada bagan

    keterkaitan dibawah ini :

    :

    Gambar 1. Kerangka berfikir penelitian

    Pengawasan 1. Ukuran atau standar

    pekerjaan. 2. Penilaian pekerjaan. 3. Perbandingan antara hasil

    pekerjaan dengan ukuran atau standar pekerjaan.

    4. Perbaikan atas penyimpangan.

    Disiplin kerja : 1. Disiplin waktu 2. Disiplin peraturan 3. Disiplin tanggung jawab

    2.4 Hipotesis

    Hipotesis adalah jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan

    penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto,

    2002 : 64).

    Dalam penelitian ini peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :

    Hipotesis Kerja atau Alternatif (Ha) : Ada pengaruh signifikan pengawasan

    terhadap disiplin kerja pegawai kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten

    Brebes.

  • BAB III

    METODE PENELITIAN

    3.1 Populasi

    Sudjana (1996 : 6) menyatakan bahwa populasi adalah totalitas semua

    nilai yang mungkin baik hasil menghitung ataupun pengukuran kualitatif

    mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan

    jelas yang ingin dipelajari dari sifat-sifatnya. Sedangkan menurut Suharsimi

    Arikunto (2002 : 108), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.

    Dari kedua pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa populasi adalah

    keseluruhan subyek yang mempunyai ciri-ciri atau karakteristik tertentu dan

    berfungsi sebagai subyek yang dikenai suatu penelitian.

    Didalam penelitian ini peneliti mengambil populasi keseluruhan pegawai

    di kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes, yang terdiri dari 49

    orang pegawai baik pegawai negeri sipil maupun honor. Mengacu pada penjelasan

    Suharsimi Arikunto (2002 : 112), bahwa untuk sekedar ancer-ancer maka apabila

    subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya

    merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika jumlah subyeknya lebih besar

    dari 100, dapat diambil antara 10 15 % atau 20 25 % atau lebih.

    Dalam penelitian ini setiap anggota populasi sekaligus menjadi anggota

    sampel, karena jumlah subyek kurang dari 100 maka disebut sebagai penelitian

    populasi. Keadaan dari populasi dalam penelitian dapat dilihat pada tabel berikut

    :

    37

  • 38

    Tabel 1. Rincian Jumlah Populasi

    No. Bagian Jumlah

    1.

    2.

    3.

    4.

    Sekretariat

    Pengembangan pegawai

    Mutasi pegawai

    Dokumentasi dan informasi kepegawaian

    11

    12

    13

    13

    Jumlah 49

    Sumber : Kantor BKD Kabupaten Brebes

    3.2 Variabel Penelitian

    Variabel adalah objek penelitian yang bervariasi (Suharsimi Arikunto,

    2002 : 94).

    Sebagai variabel dalam penelitian ini adalah :

    3.2.1 Variabel Bebas (X)

    Variabel bebas adalah suatu variabel yang akan mempengaruhi variabel

    terikat. Dalam penelitian ini, variabel bebasnya adalah pengawasan dan sebagai

    indikatornya adalah :

    1. Ukuran atau standar pekerjaan

    2. Penilaian pekerjaan

    3. Perbandingkan hasil pekerjaan dengan ukuran atau standar pekerjaan

    4. Perbaikan atas penyimpangan

    3.2.2 Variabel Terikat (Y)

    Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas.

    Dalam penelitian ini sebagai variabel terikatnya adalah disiplin kerja, dengan

    indikator :

    1. Disiplin waktu, meliputi : kehadiran pegawai dan kepatuhan pegawai pada jam

    kerja, menyelesaikan tugas dengan tepat waktu dan benar.

  • 39

    2. Disiplin peraturan, meliputi : ketaatan pada peraturan dan tata tertib yang ada,

    kepatuhan pegawai terhadap instruksi dari atasan, menggunakan kelengkapan

    pakaian seragam sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    3. Disiplin tanggung jawab, meliputi : kesanggupan dalam menghadapi

    pekerjaan yang menjadi tanggung jawab, menggunakan dan memelihara

    fasilitas atau peralatan kerja sesuai dengan prosedur dan cara kerja yang telah

    ditentukan.

    3.3 Metode Pengumpulan Data

    Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini, peneliti

    menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :

    3.3.1 Metode Angket / Kuesioner

    Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

    memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau

    hal-hal lain yang ia ketahui (Suharsimi Arikunto, 2002 : 128).

    Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang pengawasan dan

    disiplin kerja melalui pertanyaan-pertanyaan secara tertulis yang digunakan untuk

    memperoleh informasi dari responden di kantor Badan Kepegawaian Daerah

    kabupaten Brebes.

    Dalam penelitian ini, metode kuesioner yang digunakan adalah kuesioner

    tertutup. Pertanyaan yang tersusun dalam angket berbentuk pilihan ganda dan

    responden tinggal memilih alternatif jawaban yang disediakan. Alternatif jawaban

    yang disediakan dengan skor masing-masing sebagai berikut :

  • 40

    a. Alternatif jawaban a diberi skor 4

    b. Alternatif jawaban b diberi skor 3

    c. Alternatif jawaban c diberi skor 2

    d. Alternatif jawaban d diberi skor 1

    Alasan digunakan metode angket dalam penelitian ini adalah :

    1) Responden adalah orang-orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri,

    sehingga akan diperoleh data yang lengkap dan benar sebab materi yang

    diungkap lebih bersifat pribadi.

    2) Responden memiliki kebebasan dan keleluasaan untuk mengungkap informasi

    yang diperlukan.

    3) Hemat waktu, biaya dan tenaga.

    3.3.2 Metode Dokumentasi

    Metode dokumentasi adalah suatu cara untuk memperoleh data atau

    informasi mengenai hal-hal atau variabel yang ada kaitannya dengan penelitian

    yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, notulen rapat, agenda,

    dan sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2002 : 206).

    Metode ini digunakan untuk mendapatkan data mengenai jumlah pegawai,

    pangkat dan golongan, masa kerja, tingkat pendidikan pegawai atau hal-hal yang

    terkait dengan penelitian ini.

    3.4 Validitas dan Reliabilitas Instrumen

    Instrumen penelitian yang baik harus memenuhi dua persyaratan yang

    penting yaitu valid dan reliabel (Arikunto, 2002 : 144). Oleh karena itu dalam

    penelitian ini akan di bahas masalah validitas dan reabilitas angket yang

    digunakan sebagai alat pengumpul data.

  • 41

    3.4.1 Validitas

    Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan

    atau kesahihan suatu instrument (Arikunto, 2002 : 144).

    Instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan,

    apabila dapat mengungkap data variabel yang diteliti secara tepat. Validitas yang

    digunakan dalam penelitian ini adalah validitas internal dengan menggunakan

    analisis faktor dengan cara mengkorelasikan jumlah skor tiap factor dengan skor

    total masing-masing variabel. Rumus korelasi yang digunakan untuk menguji

    validitas tersebut adalah rumus korelasi product moment yang dikemukakan oleh

    Pearson, yaitu :

    { }{ }2222xy Y)( - YN X)( - XN(Y)X)(( - XYN r

    =

    Keterangan :

    rxy : Koefisien korelasi

    X : Nilai faktor tertentu

    Y : Skor total

    N : Jumlah responden

    (Arikunto, 2002 : 146)

    Dari hasil perhitungan validitas akan dikonsultasikan dengan rtabel dengan

    taraf signifikasi 5 %. Jika hasil r hitung > r tabel maka instrumen dinyatakan valid

    dan dapat digunakan untuk pengambilan data dalam penelitian.

    Berdasarkan hasil uji coba validitas angket penelitian yang diujikan

    kepada 20 responden, diperoleh hasil sebagai berikut :

  • 42

    a. Variabel Pengawasan

    Tabel 2. Hasil Uji Coba Validitas Angket Pengawasan

    No. Item Rhitung Rtabel Kriteria

    1.

    2.

    3.

    4.

    5.

    6.

    7.

    8.

    9.

    10.

    11.

    12.

    13.

    14.

    15.

    0,589

    0,688

    0,705

    0,631

    0,775

    0,626

    0,736

    0,694

    0,725

    0,676

    0,498

    0,680

    0,551

    0,711

    0,634

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Sumber : Data penelitian yang diolah

  • 43

    b. Variabel Disiplin Kerja

    Tabel 3. Hasil Uji Coba Validitas Angket Disiplin Kerja

    No. Item Rhitung Rtabel Kriteria

    16.

    17.

    18.

    19.

    20.

    21.

    22.

    23.

    24.

    25.

    26.

    0,726

    0,699

    0,807

    0,713

    0,630

    0,537

    0,607

    0,871

    0,576

    0,764

    0,807

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    0,444

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Valid

    Sumber : Data penelitian yang diolah

    Berdasarkan hasil uji coba kuesioner kepada 20 orang responden diperoleh hasil

    bahwa 26 butir angket yang diujicobakan memiliki harga rhitung > rtabel = 0,444

    untuk taraf signifikansi 5 % dengan n = 20. Dengan demikian seluruh butir angket

    dalam penelitian ini valid dan dapat digunakan untuk pengambilan data penelitian.

    3.4.2 Reliabilitas

    Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrument

    cukup dapat dipercaya unuk digunakan sebagai alat pengumpulan data, karena

    instrument tersebut sudah baik (Arikunto, 2002 : 154).

  • 44

    Dalam penelitian ini untuk mencari reliabilitas instrumen menggunakan

    rumus Alpha karena instrument dalam penelitian ini berbentuk angket dengan

    skornya merupakan rentangan antara 1 4 dan uji validitasnya menggunakan item

    soal. Rumus untuk mencari reliabilitas menggunakan rumus alpa adalah sebagai

    berikut :

    = 2t

    2

    11 1

    1kKr b

    Keterangan :

    r11 = Realibilitas instrumen

    K = Banyaknya butir soal

    b2 = Jumlah varians butir

    (Arikunto, 2002 : 171)

    Untuk mencari varians butir digunakan rumus berikut :

    NN

    22 (x) - )(x

    =

    keterangan :

    b = varians butir t = varians total x = jumlah skor butir

    N = jumlah responden (Arikunto, 2002 : 171)

    Hasil perhitungan reliabilitas akan dikonsultasikan dengan rtabel dengan

    taraf signifikan 5 %. Jika rhitung > rtabel maka instrument tersebut dinyatakan

    reliabel untuk digunakan dalam pengambilan data.

  • 45

    Berdasarkan hasil uji reliabilitas menggunakan rumus alpha diperoleh

    koefisien reliabilitas untuk angket pengawasan sebasar 0,898 (lihat lampiran 5

    halaman 91) dan untuk angket disiplin kerja sebesar 0,881 (lihat lampiran 7

    halaman 94) pada taraf kesalahan 5% dengan n = 20 diperoleh harga rtabel = 0,444.

    Karena kedua koefisien reliabilitas tersebut lebih besar dari nilai rtabel, maka dapat

    dinyataan bahwa angket tersebut reliabel dan dapat digunakan untuk pengambilan

    data penelitian.

    3.5 Metode Analisis Data

    Analisis data ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji hipotesis dalam

    rangka penarikan kesimpulan. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini

    meliputi :

    3.5.1 Metode Deskriptif Persentase

    Metode analisis ini digunakan untuk mendiskripsikan variabel-variabel

    yang ada dalam penelitian dengan demikian dapat diketahui tingkat pengawasan

    dan disiplin kerja pegawai kantor Badan Kepegawaian Daerah kabupaten Brebes.

    Langkah-langkah yang ditempuh dalam penggunaan teknik analisis ini,

    yaitu :

    a. Membuat tabel distribusi jawaban angket X dan Y.

    b. Menentukan skor jawaban responden dengan ketentuan skor yang telah

    ditetapkan.

    c. Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari tiap-tiap responden.

    d. Menentukan skor tersebut ke dalam rumus :

  • 46

    % = 100%Nn

    Keterangan :

    N : Nilai total

    n : Nilai yang diperoleh

    % : Tingkat keberhasilan yang di capai

    (Ali, 1984 : 184)

    3.5.2 Uji Prasyarat Analisis Regresi

    1. Uji Normalitas

    Uji normalitas data dimaksudkan untuk mengetahui apakah data-data

    berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas ini untuk menentukan langkah

    seterusnya, untuk mengetahui distribusi data yang diperoleh maka dilakukan

    dengan rumus chi kuadrat yang rumusnya:

    2 = fhfh) -(fo2

    Keterangan:

    2 = chi kuadrat fo = frekuensi yang diperoleh berdasarkan data

    fh = frekuensi yang diharapkan

    (Arikunto, 2002 : 286)

    2. Uji Linieritas Regresi

    Untuk menguji keberartian persamaan regresi dan uji kelinieran garis

    regresi digunakan tabel seperti berikut :

  • 47

    Tabel 4. Anava Untuk Uji Kelinieran Regresi

    Sumber Varians

    db Jk Kk K

    Total N Y2 Y2 - Regresi (a) 1 ( )

    nY 2 ( )

    nY 2

    resSregS

    2

    2

    Regresi (b/a)

    1 JKreg = JK(b/a) S2reg=JK(b/a)

    Residu n-2 JKres = (YY)2S2res = ( )

    2

    2

    nYY

    Tuna Cocok k-2 JK(TC) S2TC= 2

    JK(TC)k e2

    TC2

    SS

    Kekeliruan n-k JK(E) S2e=

    knJK(E)

    (Sudjana, 1996 : 332)

    Keterangan :

    JK (T) = Y2

    JK (a) = ( )nY 2

    JK (b/a) = b ( ) ( )

    n

    YXXY

    JKres = (YY)2

    JK (E) = ( )

    1 1

    212

    1X n

    YY

    Keterangan :

    JK = Jumlah kuadrat

    dk = Derajat kebebasan

    KT = Kuadrat total

  • 48

    Dari tabel 4 sekaligus diperoleh dua hasil yaitu :

    1) Harga F1 = resSregS

    2

    2

    , untuk uji keberartian regresi

    (Sudjana, 1996 : 332)

    Jika F1 > Ftabel pada dk pembilang 1 dan dk penyebut (n-2) dengan taraf

    signifikan 5 % maka persamaan tersebut dinyatakan signifikan.

    2) Harga F2 = e

    2

    2

    SS TC , untuk uji kelinieran regresi

    (Sudjana, 1996 : 332)

    Jika F2 > Ftabel pada dk pembilang (k-2) dan dk penyebut (n-2) dengan taraf

    signifikasi 5 % maka persamaan regresi tersebut dinyatakan linier.

    3.5.3 Analisis Regresi Linier

    Analisis regresi digunakan untuk menganalisa data penelitian tentang

    pengaruh pengawasan terhadap disiplin kerja pegawai.

    a. Persamaan Regresi Linier

    Bentuk persamaan regresi linier sederhana adalah sebagai berikut :

    = a + bX

    Keterangan :

    : Kriterium / variabel terikat

    X : Prediktor / variabel bebas

    a, b : koefisien regresi

    Untuk mendapatkan nilai a dan b digunakan rumus sebagai berikut :

    a = ( )( ) ( )( )( )222

    XXnXYXXY

  • 49

    b = ( ) ( )( )( )22 XXnYXXYn

    Keterangan :

    XY = Jumlah variabel dari X dan Y

    X = Jumlah variabel bebas

    Y = Jumlah variabel terikat

    n = Jumlah responden

    (Sudjana, 1996:315)

    b. Analisis Korelasi

    Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui besarnya hubungan

    antara variabel bebas dengan variabel terikat, rumus yang digunakan adalah :

    r = ( )( )( )( ) ( )( )2222 YYnXXn YXXYn (Sudjana, 1996 : 369)

    c. Koefisien Korelasi Determinasi

    Digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi variabel bebas (X)

    terhadap variabel terikat (Y), rumus yang digunakan adalah :

    r2 = ( )( ){ }(