pengaruh insentif pajak dan insentif non-pajak …

of 154/154
i PENGARUH INSENTIF PAJAK DAN INSENTIF NON-PAJAK TERHADAP MANAJEMEN LABA Diajukan oleh : Baiq Dinda Puspita Ayu 17919019 PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2019

Post on 21-Nov-2021

2 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

NON-PAJAK TERHADAP MANAJEMEN LABA
TERHADAP MANAJEMEN LABA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT dan shalawat serta
salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Alhamdulillah atas segala
karunia dan ridho-Nya sehingga tesis yang berjudul “Pengaruh Insentif Pajak
dan Insentif Non-Pajak Terhadap Manajemen Laba” ini dapat diselesaikan.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini bukan semata-mata
atas usaha sendiri, melainkan berkat bimbinngan, dan dorongan dari berbagai
pihak. Berkenaan dengan hal tersebut, maka pada kesempatan yang baik ini
disampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Johan Arifin, SE., M.Si., Ph.d, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak
membimbing penulis, mengarahkan dan memotivasi penulis, dan telah
berkenan merelakan waktu, tenaga dan ilmu sehingga tesis ini dapat
terselesaikan.
2. Bapak Dekar Urumsah, SE., S.Si., M.Com (IS)., Ph.D., CFrA. selaku Ketua
Program Studi Akuntansi Program Magister Fakultas Ekonomi Universitas
Islam Indonesia, beserta seluruh jajaran staf pengajar dan karyawan.
3. Bapak Zaenal Mustafa, EQ.,MM selaku Direktur Program Studi Akuntansi
Program Magister Universitas Islam Indonesia, beserta seluruh pimpinan
program PPSFE Universitas Islam Indonesia.
4. Bapak dan Ibu ku yang selalu mendoakanku, yang selalu memberikan
dukungan yang tak henti, kasih sayang yang tak berhujung, serta senyum
viii
terindahnya yang selalu ada dalam hatiku dan menjadi semangat dalam setiap
langkahku.
5. Kakak dan adikku tercinta yang selalu memberikan dukungan dan bantuan
setiap membutuhkan sesuatu atau menemui kesulitan serta motivasi dan
nasihat-nasihat berharga.
6. Sahabatku Rizka Luluh dan Fitri Handayani terima kasih atas kebersamaan
dan persaudaraan. Perjalanan bersama kalian, menorahkan banyak
pengalamana dan pelajaran yang sangat bermakna untukku.
7. Teman-teman mahasiswa MAKSI angkatan 15 dan kepada pihak- pihak yang
telah membantu dan mendukung penulis yang tidak dapat penulis sebutkan
satu persatu.
Penulis menyadari dalam penulisan tesis ini tentunya masih jauh dari
kata sempurna dan tiadak luput dari kekurangan-kekurangan, semua ini karena
keterbatasan yang ada. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat
diharapkan, demi perbaikan tesis yang lebih baik.
Wassalamu’alaikum, Wr. Wb
HALAMAN PERSETUJUAN....................................................................................... iv
2.1 Landasan Teori .......................................................................................................... 11
2.1.1 Manajemen Laba .......................................................................................... 10
2.1.2 Insentif Pajak ................................................................................................ 15
2.1.4 Teori Agensi (Agency Theory) ..................................................................... 17
2.2 Hipotesis Penelitian ................................................................................................... 20
2.2.1 Insentif Pajak .................................................................................................. 20
2.2.1.2 Pengaruh Beban Pajak Tangguhan Terhadap Manajemen Laba ........ 22
x
2.2.1.4 Pengaruh Persentase Jumlah Saham Disetor Terhadap
Manajemen Laba .............................................................................. 27
2.2.2.2 Pengaruh Capital Intensity Ratio Terhadap Manajemen Laba ........... 30
2.2.2.3 Pengaruh Kepemilikan Manajerial Terhadap Manajemen Laba ........ 32
2.2.2.4 Pengaruh Profitabilitas Perusahaan Terhadap Manajemen Laba ....... 34
2.3 Kerangka Penelitian .................................................................................................. 37
3.2 Jenis dan Sumber Data .............................................................................................. 38
3.3 Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran Variabel Penelitian ........................ 38
3.4 Teknik Analisis Data ................................................................................................. 45
3.4.1 Analisis Statistik Deskriptif ......................................................................... 45
3.4.2 Uji Korelasi .................................................................................................. 44
3.4.3 Uji Hipotesis ................................................................................................. 46
BAB IV PEMBAHASAN ............................................................................................. 49
4.1 Deskripsi Penelitian .................................................................................................. 50
4.2 Analisis Desriptif ...................................................................................................... 51
4.3 Uji Korelasi ............................................................................................................... 57
4.4 Pengujian Hipotesis ................................................................................................... 61
4.3 Analisis Korelasi ....................................................................................................... 58
Lampiran 2 Hasil Perhitungan Manajemen Laba (DA) .................................................... 101
Lampiran 3 Hasil Perhitungan Perencanaan Pajak (TRR) ................................................ 106
Lampiran 4 Hasil Perhitungan Beban Pajak Tangguhan (BPT) ....................................... 110
Lampiran 5 Hasil Perhitungan Beban Pajak Kini (BPK) .................................................. 114
Lampiran 6 Hasil Perhitungan Persentase Jumlah Saham Disetor
(STOCK) ...................................................................................................... 118
Lampiran 8 Hasil Perhitungan Capital Intensity Ratio (CIR) ........................................... 125
Lampiran 9 Hasil Perhitungan Kepemilikan Manajerial (MGTOWN) ............................ 130
Lampiran 10 Hasil Perhitungan Profitabilitas (ROA) ....................................................... 133
Lampiran 11 Hasil Analisis Statistik Deskriptif ............................................................... 137
Lampiran 12 Hasil Uji Korelasi ........................................................................................ 138
Lampiran 13 Hasil Uji Hipotesis....................................................................................... 139
dalam penelitian ini adalah insentif pajak dengan proksi (perencanaan pajak,
beban pajak tangguhan, beban pajak kini dan persentase jumlah saham disetor)
dan insentif non-pajak dengan proksi (leverage, capital intensity ratio,
kepemilikan manajerial dan profitabilitas), sementara variabel dependentnya
adalah manajemen laba. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan
manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2013-2017.
Sampel penelitian ini menggunakan metode puposive sampling dan di peroleh 97
perusahaan. Metode analisis menggunkan analisis statistik deskriptif dan
Generalized Method of moments. Hasil penelitian menunjukan bahwa
perencanaan pajak, beban pajak tangguhan dan kepemilikan manajerial tidak
berpengaruh terhadap manajemen laba, sedangkan beban pajak kini, persentase
jumlah saham disetor, leverage, capital intensity ratio dan profabilitas
berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba. Dengan demikian
untuk mencegah terjadinya manajemen laba, pemilik (prinsipal) lebih memperkuat
pengawasan dan membuat peraturan yang jelas untuk mengurangi aktivitas
manajemen laba yang hanya memberi keuntungan untuk pihak tertentu.
Kata Kunci : Insentif Pajak, Insentif Non-Pajak, Manajemen Laba
xv
ABSTRACT
This study aims to examine potential factors that are thought to influence
earnings management actions. The independent variables in this study are tax
incentives with proxies (tax planning, deferred tax burden,current tax burden and
percentage of the number of paid shares) and non-tax incentives with proxies
(leverage, capital intensity ratio, managerial ownership and profitability), while
the dependent variable is earnings management. The population in this study are
manufacturing companies listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) in 2013-
2017. The sample of this study used a puposive sampling method and 97
companies were obtained. The analytical method uses descriptive statistical
analysis and the Generalized of moment method. The results showed that tax
planning, deferred tax burden and managerial ownership had no effect on
earnings management, while the variabel current tax burden, percentage of the
number of paid shares, leverage, capital intensity ratio and profitability, positive
and significant effect on earnings management. Thus to avoid of earnings
management, the owner (principals) further strengthen supervision and make
clear rules to reduce earnings management activities that only provide benefit for
certain parties only.
1
keuangan menyediakan informasi yang menyangkut tentang posisi keuangan,
kinerja perusahaan, pajak yang harus dibayarkan serta perubahan posisi keuangan
yang diharapkan dapat bermanfaat bagi stakeholder dalam mengambil keputusan
investasinya. Salah satu informasi potensial yang terkandung dalam laporan
keuangan adalah informasi terkait dengan laba. Laba perusahaan merupakan
informasi terpenting yang terdapat dalam laporan keuangan karena dalam laporan
laba tercantum segala kegiatan operasional perusahaan dari penjualan,
pendapatan, beban pajak dan segala aktivitas operasional yang dilakukan oleh
perusahaan.
pihak-pihak yang berkepentingan disebabkan oleh laba menjadi dasar bagi
perusahaan untuk menentukan seberapa besar kebijakan deviden, laba juga
digunakan untuk memperhitungkan kewajiban perpajakan perusahaan, laba
dipandang sebagai penentu atau pedoman dalam menentukah arah atau alur untuk
melakukan investasi, laba diprediksi mampu untuk membantu dalam menentukan
seberapa besar perusahaan mendapatkan keuntungan dan kejadian ekonomi pada
masa yang akan datang atau masa depan perusahaan serta laba digunakan untuk
mengukur kinerja perusahaan, sehingga laba sering menjadi target rekayasa yang
2
keuntungan, dengan kata lain manajemen melakukan praktik manajemen laba
dengan memanipulasi laporan keuangan (Santana & Wirakusuma, 2016).
Konsep mengenai manajemen laba dapat dijelaskan dengan
menggunakan pendekatan teori keagenan (agency theory). Menurut Anthony &
Govindarajan (2011) “teori agensi adalah hubungan atau kontrak antara
prinsipal dan agen”. Yang menyatakan adanya hubungan antara pihak yang
berkepentingan (prinsipal) dan pihak yang menjalankan kepentingan (agen).
Teori agensi memiliki asumsi bahwa tiap-tiap individu semata-mata termotivasi
oleh kepentingan dirinya sendiri dan berusaha untuk mencapai tingkat
kemakmuran yang diinginkannya sehingga hal ini akan menimbulkan konflik
kepentingan antara prinsipal dan agen.
Dalam praktik manajemen laba sampai saat ini masih menjadi
perdebatan, karena pada satu sisi manajemen laba dipandang sebagai suatu
tindakan yang seharusnya tidak boleh dilakukan karena dengan adanya
manajemen laba maka infomasi yang diberikan tidak sepenuhnya mencerminkan
keadaan perusahaan dan mengaburkan nilai perusahaan sehingga dapat
menyebabkan stakeholders keliru dalam mengambil keputusan (Kamil, 2018).
Pada sisi lainnya, manajemen laba dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan
merupakan tindakan rasional untuk memanfaatkan fleksibilitas dalam ketentuan
untuk pelaporan keuangan dan dalam perundang-undangan tidak ada peraturan
yang mengatur tentang manajemen laba sehingga perusahaan leluasan melakukan
manajemen laba (Sanjaya, 2016).
hal penting yang harus diperhatikan oleh stakeholders. Saat ini praktik manajemen
laba menjadi isu sentral dan telah menjadi fenomena umum yang terjadi
disejumlah prusahaan. Fenomena praktik manajemen laba di Indonesia sering
terjadi karena pihak manajemen mempunyai kenyakinan bahwa pihak
stakeholders tidak memiliki akses terkait dengan informasi perusahaan, sehingga
stakeholders akan menganggap laporan keuangan tersebut sebagai laporan yang
true report (Astari & Suputra, 2019). Manajemen laba seringkali dilakukan oleh
para manajer untuk meningkatkan laba perusahaan dengan berbagai motivasi
manajemen laba seperti misalnya membuat laporan keuangan terlihat lebih baik,
dengan demikian memaksimalkan bonus yang diperoleh manajemen atau motivasi
pajak untuk mengurangi jumlah pajak yang dibayarkan serta untuk meningkatkan
kinerja perusahaan (Aditama & Purwaningsih, 2016).
Keputusan perusahaan untuk melakukan manajemen laba dipengaruhi
oleh beberapa faktor salah satunya dalam bentuk pemberian insentif yang berupa
insentif pajak dan insentif non-pajak. Insentif pajak sendiri merupakan perangsang
yang diberikan untuk menjaga atau meningkatkan kinerja dari standar-standar
yang telah ditetapkan. Insentif pajak muncul ketika perusahaan menganggap pajak
sebagai salah satu komponen biaya yang akan mengurangi laba perusahaan,
sehingga akan mendorong perusahaan melakukan manipulasi lapoaran keuangan
agar pajak yang dibayarkan dapat diminimalisir (Isman, 2013). Oleh karenanya
pemerintah menaruh perhatian lebih terhadap sektor pajak. Di Indonesia sendiri
usaha untuk mendorong atau mengoptimalkan penerimaan sektor pajak dilakukan
4
melalui usaha memberikan insentif pajak yang berupa suatu perangsang yang
ditawarkan kepada wajib pajak. Tujuan dari adanya insentif pajak adalah dapat
meningkatkan investasi dan menurunkan beban pajak yang harus dibayarkan oleh
perusahan secara legal, dimana dengan adanya insentif pajak yang diberikan
kepada perusahaan mampu untuk meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam
melakukan pembayaran kewajiban pajaknya kepada pemerintah (Buletin APBN,
2018).
produktifitas karyawan, mendapatkan bonus, meningkatkan kinerja perusahaan
dan mempertahankan (stakeholder) agar tetap berada dalam perusahaan. Dalam
insentif non-pajak antar perusahaan akan berbeda, baik itu perusahaan yang
memperoleh laba maupun perusahaan yang mengalami kerugian, hal ini akan
menentukan kebijakan dari manajemen dalam melakukan manajemen laba
(Prasetyo, et al,. 2017).
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perusahaan melakukan manajemen
laba. Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu
terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi praktik manajemen laba. Faktor-faktor
yang mempengaruhi manajemen laba memiliki hasil konsisten dan tidak
konsisten. Hasil penelitian konsisten yaitu pada variabel insentif non pajak
variabel yang kosisten yaitu earnings pressure menurut penelitian yang dilakukan
oleh Subagyo & Oktavia (2010), Tierya & Yuyetta (2012), Hardini (2013), dan
Sutrisno,et al., (2018), perusahaan cenderung melakukan earning pressure
5
untuk meningkatkan laba jika laba yang diperoleh perusahaan rendah guna
meningkatkan labanya untuk menarik minat investor. Proksi earnings bath
menurut penelitian yang dilakukan oleh Wijaya & Martini (2011), Tierya &
Yuyetta (2012), Sutrisno,et al., (2018) dan Zahdjuki (2018) menurut peneliti
tingkat pengembalian ekuitas yang menjadi proksi earnings bath menjadi tolak
ukur manajemen laba yang pada umumnya bersifat jangka panjang sehingga akan
menjanjkan perusahaan untuk masa yang akan datang, oleh karena itu potensi
untuk melakukan manajemen laba akan semankin menurun. Proksi ukuran
perusahaan menurut penelitian yang dilakukan oleh Anggraeni & Hadiprajitno
(2013), Hardini (2013), Herlambang & Darsono (2015), Aorora (2018), Arthawan
& Wirasedana (2018), Kurniawati (2018) secara konsisten menemukan adanya
pengaruh signifikan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba.
Sedangkan faktor-faktor yang secara konsisten tidak berpengaruh
signifikan terhadap manajemen laba yaitu insentif pajak dengan proksi
perencanaan pajak menurut penelitian yang dilakukan oleh Wijaya & Martini
(2011), Hu, et al., (2015), Hapsari & Mansilah (2016), Sutrisno. et al., (2018) dan
Yunila & Aryati (2018) menemukan adanya pengaruh perencanaan pajak terhadap
manajeme laba, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Tierya & Yuyetta
(2012), Hardini (2013), Kurnia (2017), Wardani & Santi (2018) dan Achyani &
Lestari (2019) dalam penelitiannya tidak menemukan adanya pengaruh
perencanaan pajak terhadap manajemen laba. Proksi peresentase saham disetor
menurut penelitian yang dilakukan Subagyo & Oktavia (2010) dan Zeng (2015)
menemukan adanya pengaruh antara persentase jumlah saham disetor terhadap
6
(2011), Tierya & Yuyetta (2012) dan Hardini (2013) menemukan tidak adanya
pengaruh antara persentase jumlah saham disetor terhadap manajemen laba.
Hasil tidak konsisten pada insentif non pajak yang terdiri dari tingkat
hutang atau leverage menurut penelitian yang dilakukan oleh Agustia (2013),
Kustyaningrum, et al., (2016), Sutrisno, et al., (2018) menemukan adanya
pengaruh antara leverage terhadap manajemen laba sedangkan menurut penelitian
Rice (2016), Purnama (2017), Widianingrum & Sunarto (2018) dan Suyoto &
Dwimulyani (2019) tidak menemukan adanya pengaruh antara leverage terhadap
manajemen laba.
melakukan pengujian kembali variabel independen yang tidak konsisten yaitu
perencanaan pajak, persentase jumlah saham disetor dan leverage. Pada penelitian
ini penulis juga mengintegrasikan variabel independen sesuai saran dari penelitian
sebelumnya yaitu menurut Achyani & Lestari (2019) untuk menambahkan
variabel independen lainnya yang masih berbasis pada insentif pajak yaitu beban
pajak tangguhan dan saran dari Hardini (2013) untuk menambahkan beban pajak
kini. Untuk insentif non-pajak sesuai saran dari Wardani & Santi (2018) untuk
menggunakan variabel kepemilikan manajerial dan saran yang diberikan oleh
Sutrisno, et al., (2018) untuk menggunakan variabel profitabilitas. Menurut
penelitian terdahulu faktor-faktor ini dianggap mampu untuk mendeteksi
kemungkinan perusahaan melakukan manajemen laba untuk mencapai tujuan
perusahaan, serta peneliti berinisiatif untuk menambahkah capital intensity ratio,
7
membuktikan kemampuan capital intensity ratio dalam mempengaruhi praktik
manajemen laba.
keterbatasan yang hanya menggunakan secara parsial atau menggunakan satu
variabel pengukuran insentif pajak yaitu perencanaan pajak Subagyo & Oktavia
(2010), Wijaya & Martini (2011), Tierya & Yuyetta (2012) dan Sutrisno (2018)
sehingga untuk menutupi keterbatasan penelitian menambahkan proksi lainnya
yaitu beban pajak tangguhan dan beban pajak kini sesuai saran penelitian
terdahulu dan pada faktor insentif non-pajak pada penelitian terdahulu hanya
menggunakan variabel yang disarankan oleh Yin & Chen (2004) dalam penelitian
Wijaya & Martini (2011) yaitu earning pressure, earning bath, tingkat hutang dan
ukuran perusahaan sehingga peneliti menambahkan proksi lainnya yaitu capital
intemtensity ratio, kepemilikan manajerial dan profitabilitas. Sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang ada di Bursa
Efek Indonesia sesuai saran yang dberikan oleh Hapsari & Manzilah (2016) yang
hanya menggunakan perusahaan manufaktur sub sektor industri barang konsumsi
yang terdaftar di BEI sehingga penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel
seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dan membahas masalah tersebut maka penulis melakukan penelitian dengan
8
Manajemen Laba”.
masalah adalah :
laba ?”
dilakukan penelitian ini adalah :
“Untuk menganalisis pengaruh insentif pajak, dan insentif non- pajak terhadap
manajemen laba”.
1. Manfaat penelitian secara teoritis dapat memberi tambahan pengetahuan dan
dapat dijadikan bahan referensi serta kajian lebih lanjut khususnya yang
mengkaji topik-topik yang berkaitan dengan manajemen laba.
2. Manfaat penelitian secara praktis, bagi para praktisi bisnis yang ingin atau
sedang mempelajari ilmu terkait dengan ilmu manajemen laba, dapat
menggunakan penelitian ini untuk memperluas cakrawala di bidang
manajemen laba dengan tetap mematuhi peraturan perundang-undangan
perpajakan untuk menerapkannya pada saat mengambil keputusan.
9
Penulisan tesis ini dibagi menjadi 5 bab dengan sistematika penulisan
sebagai berikut:
Bab ini berisi latar belakang masalah mengenai tindakan perusahaan yang
melakukan manajemen laba, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat
penelitian dan sistematika penulisan penelitian yang akan dilakukan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi landasan teori yang akan digunakan dalam penelitian yaitu
teori manajemen laba, insentif pajak,insentif non-pajak dan teori agensi.
Pada bab ini juga berisi tentang penelitian-penelitian terdahulu yang
mendukung penelitian ini serta pengembangan hipotesis yang didasarkan
pada dasar teori dan penelitian-penelitian terdahulu.
BAB 3 METODE PENELITIAN
data, populasi, sampel, dan teknik pengambilan sampel, dan teknik analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini.
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini berisi mengenai data yang digunakan dalam penelitian serta
pembahasan hasil penelitian yang telah dianalisis dengan metode
penelitian yang telah ditentukan.
BAB 5 SIMPULAN, KETERBATASAN, DAN SARAN
Pada bab ini berisi simpulan yang diperoleh dari pembahasan yang telah
dilakukan pada bab sebelumnya serta saran yang ditujukan pada berbagai
pihak yang terkait.
laba sebagai suatu intervensi manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan
laba untuk memperoleh beberapa keuntungan bagi pihak eksternal dengan tujuan
untuk menguntungkan pihak perusahaan. Maksud dari intervensi di sini adalah
upaya yang dilakukan oleh manajer untuk mempengaruhi informasi- informasi
dalam laporan keuangan dengan tujuan untuk mengelabui stakeholders yang ingin
mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan.Sering kali proses ini mencakup
mempercantik laporan keuangan (fashioning accounting reports), terutama angka
yang paling bawah yaitu laba (Wild, 2014).
Menurut Belkaoui (2011) manajemen laba adalah perilaku yang
dilakukan oleh manajer perusahaan untuk meningkatkan atau menurunkan laba
dalam proses pelaporan keuangan eksternal dengan tujuan untuk menguntungkan
dirinya sendiri. Definisi manajemen laba menurut Damanjaya & Ardiana (2016)
adalah perilaku yang dilakukan manajer menggunakan kebijakan (judgment)
dalam pelaporan keuangan dan dalam menyusun transaksi untuk mengubah
laporan keuangan dan menyesatkan stakeholders mengenai kinerja ekonomi
perusahaan atau untuk mempengaruhi contractual outcomes yang tergantung
pada angka akuntansi yang dilaporkan.
12
definisi yang satu dengan yang lainnya, kesama berupa manajemen laba
merupakan aktivitas manajerial yang dilakukan untuk mempengaruhi laporan
keuangan baik dengan cara memanipulasi atau dengan cara menggunakan metode
akuntansi yang pada akhirnya hal tersebut dilakukan untuk memperoleh
keuntungan dan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam perusahaan.
2.1.1.1 Motivasi Perusahaan Melakukan Manajemen Laba
Setiap manajer perusahaan mempunyai motivasi yang berbeda-beda
dalam melaporkan laba pajak dan laba akuntansi, untuk laba komersial manajer
cenderung untuk melaporkan laba yang besar untuk mendapatkan bonus serta
meningkatkan nilai perusahaan sedangkan untuk tujuan perpajakan manajer justru
cenderung melaporkan laba yang kecil dalam rangka meminimalkan pembayaran
pajak perusahaan sehingga masing-masing memiliki ukuran kinerja berdasarkan
unit pengukuran yang unik, maka baik laba pajak maupun laba akuntansi
mempunyai informasi yang berguna untuk otoritas pajak dan pengguna laporan
keuangan (Ayers, et al., 2010).
Menurut Ying & Yang (2004) dalam Kristanto & Oktavia (2011) secara
khusus manajemen laba memiliki tujuan pajak seringkali terbentur dengan adanya
tekanan untuk meningkatkan laba, hal ini cenderung terjadi pada perusahaan go
public. Menurut Suandy (2011) perusahaan yang sudah go public umumnya
cenderung high profile daripada perusahaan yang belum go public. Agar harga
pasar sahamnya meningkat, manajer perusahaan go public akan berusaha tampil
sebaik mungkin bagi stakeholder dan dapat membagi dividen yang besar
13
pada tahun 1994 berubah menjadi self assessment yang memberikan keuntungan
bagi wajib pajak khususnya wajib pajak badan. Kepercayaan diberikan kepada
wajib pajak untuk menghitung, membayar serta melaporkan sendiri jumlah pajak
yang seharusnya berdasarkan undang-undang perpajakan dan didukung pula
dengan adanya keleluasaan yang diberikan oleh SAK kepada perusahaan untuk
memilih metode akuntansi dalam menyusun laporan keuangan komersial sehingga
perusahaan dapat mengatur besar kecilnya laba akuntansi sesusai dengan keadaan
perusahaan serta UU No. 38 tahun 2008 tentang penurunan tarif pajak bagi
perusahaan yang kemudian dikembangkan dengan PMK No. 77 Tahun 2013
pengurangan tarif pajak 5% bagi perseroan terbatas (Sudaryo & Setiawan, 2017).
Dengan adanya pembaharuan perpajakan ini perusahaaan yang go public cederung
melaporkan dan menginginkan untuk menyajikan laporan laba fiskal yang lebih
rendah dari nilai sebenarnya. Kecenderungan ini memotivasi manajer untuk
bertindak kreatif melakukan tindakan manajemen laba agar laba fiskal yang
dilaporkan memang lebih rendah tanpa melanggar aturan dan kebijakan akuntansi
perpajakan. (Sumomba, 2012).
terdapat 5 (lima) faktor yang dapat memotivasi manajer dalam melakukan
manajemen laba yaitu :
1. Rencana Bonus (bonus scheme). Pengukuran kinerja berdasarkan laba dan
skema bonus memotivasi para manajer untuk memberikan performa
14
baik demi mendapatkan bonus yang maksimal.
2. Kontrak Jangka Panjang (debt convenant). Agar kreditor mau
menginvestasikan dananya di perusahaannya, tentunya manajer harus
menunjukkan performa yang baik dari perusahaannya. Dan untuk
memperoleh hasil maksimal, yaitu pinjaman dalam jumlah besar,
prilaku kreatif dari manajer untuk menampilkan performa yang baik dari
laporan keuangannya pun seringkali muncul.
3. Penawaran saham perdana (initial public offering). Proses penjualan saham
perusahaan ke publik akan direspon positif oleh pasar. Salah satu ukuran
kinerja yang dilihat oleh calon investor adalah penyajian laba pada laporan
keuangan perusahaan. Kondisi ini seringkali memotivasi manajer untuk
berprilaku kreatif dengan berusaha menampilkan kinerja keuangan yang
lebih baik dari biasanya.
terjadi pada sekitar periode pergantian direksi atau chief executive officer
(CEO). Menjelang berakhirnya masa jabatan, direksi cenderung bertindak
kreatif dengan memaksimalkan laba agar performa kerjanya tetap terlihat
baik pada tahun terakhirnya ia menjabat.
5. Motivasi politik (political motivations). Untuk mengurangi biaya politis dan
pengawasan dari pemerintah, untuk memperoleh kemudahan dan fasilitas
pemerintah seperti subsidi dan perlindungan dari pesaing luar negeri, untuk
15
menurunkan laba.
dilakukan oleh manajer untuk mempengarui laba perusahaan yang tujuannya
untuk mencapai keuntungan dalam pelaporan laba (Scott, 2015). Pengukuran
manajemen laba yang dilakukan dengan cara menghitung discreationary
accrual. Pengukuran discreationary accrual sebagai proksi manajemen laba
menggunakan Jones model (1991) yang dimodifikasi oleh Dechow at al., (1995)
atau yang biasa dikenal dengan Modified Jones model. Model ini digunakan
karena dinilai merupakan model yang paling baik dalam mendeteksi earnings
management (Safiq, et al., 2018).
Modified Jones Model (MJM) terdiri dari dua jenis yaitu discretionary
accruals dan non discreationary accruals, dalam penelitian yang dilakukan
Abdurrahim (2015) menunjukkan bahwa sangat penting bagi para pengguna
laporan keuangan untuk menginvestigasi faktor-faktor yang mendorong
timbulnya manajemen laba yang berkaitan dengan kinerja keuangan perusahaan.
Hasil lain diperoleh pula bahwa modified Jones memiliki kemampuan yang
baik untuk mendeteksi adanya manajemen laba (Wijaya & Martini, 2011).
2.1.2 Insentif Pajak
Insentif pajak adalah suatu bentuk fasilitas perpajakan yang diberikan
oleh pemerintah kepada wajib pajak tertentu berupa penurunan tarif pajak yang
bertujuan untuk memperkecil besarnya beban pajak yang harus dibayarkan.
16
beban pajak perusahaan dengan tujuan untuk mendorong perusahaan-perusahaan
tersebut untuk berinvestasi di proyek dan sector tertentu (Prasetya, et al., 2013).
Menurut Holland & Vann (1998) dalam Buletin APBN (2018)
mengkategorikan insentif pajak yaitu tax holiday berupa insentif yang ditunjukan
untuk perusahaan baru dan bukan untuk perusahaan yang sedang beroperasi,
Investmen allowance berupa insentif yang didasarkan pada besarnya jumlah
pengeluaran dari investasi yang bersangkutan, tax credit digunakan untuk
mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar, timing differences, insentif ini
muncul disebabkan adanya perbedaan waktu pengakuan atas akun-akun tertentu,
reduced tax rates berupa insentif pajak yang diberikan dengan pengurangan tariff
pajak dari suatu persentase atau tingkatan tarif tertentu ke tingkatan tarif yang
berada dibawahnya atau lebih rendah dan administrative discretion, berupa
insentif yang memiliki proses administrasi yang selektif dalam rangka pemberian
fasilitas pajak.
oleh insetif pajak, juga dipengaruhi oleh Insnetif non-pajak. Insnetif non-pajak,
merupakan insentif didapat bukan berasal dari kegiatan perpajakan, namun akan
menimbulkan keuntungan dari segi pembayaran pajak. Pelaksanaan insentif
ditunjukkan untuk menigkatkan kinerja perusahaan, mempertahankan reputasi
perusahaan, mempertahankan stakeholder, menarik minat calon investor baru
17
akan berbeda, baik itu perusahaan yang memperoleh laba maupun perusahaan
yang mengalami kerugian, hal ini akan menentukan kebijakan dari manajemen
untuk merespon perubahan tarif dengan melakukan manajemen laba (Sutrisno,
et al., 2018).
Teori agensi merupakan salah satu teori dasar yang digunakan dalam
dunia usaha untuk menjelaskan hubungan agensi (agency relationship) antara
prinsipal sebagai pemilik perusahaan dan agen sebagai pengelola
perusahaan.Teori agensi (agency theory) dikembangkan di tahun 1970-an pada
tulisan Jensen & Meckling, (1976) yang berjudul “Theory of the firm: Managerial
behavior, agency costs, and ownership structure” menjelaskan bahwa :
“Agency relationship as a contract under which one or more person
(the prinsipals) engage another person (the agen) to perform some
service on their behalf which involes delegating some decision making
authority to the agen”
Teori ini menjelaskan hubungan agensi yang merupakan suatu kontrak
dimana satu atau lebih orang (prinsipal) memerintahkan orang lain agen untuk
melakukan suatu jasa atas nama prinsipal serta memberi wewenang kepada agen
membuat keputusan yang terbaik bagi prinsipal. Menurut Eisenhardt (1989) dalam
Midiastuty, et al., (2016), menyatakan bahwa teori agensi menggunakan tiga
asumsi sifat manusia yaitu pada umumnya manusia cenderung mementingkan
dirinya sendiri (self interest), manusia memiliki keterbatasan daya pikir tentang
18
persepsi masa depan (bounded rationality) dan manusia cenderung menghindari
risiko (risk averse). Maka jika didasarkan pada ketiga asumsi dasar manusia
tersebut, seorang manajer sebagai manusia cenderung akan bertindak
mengutamakan kepentingan pribadinya (opportunistic) (Santoso, at al., 2016).
Menurut Anthony & Govindrajan (2011) teori agensi adalah hubungan
atau kontrak antara prinsipal dan agen.Teori agensi memiliki asumsi bahwa tiap-
tiap individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga
menimbulkan konflik kepentingan antara prinsipal dan agen. Dalam teori ini
diasumsikan bahwa dimungkinkan manajemen akan berperilaku oportunistik
untuk memaksimumkan kepentingannya sendiri dengan melakukan manajemen
laba. Tindakan manajerial dapat menyesatkan dan dapat menyebabkan pihak
outsider membuat keputusan ekonomi yang salah. Manajemen sebagai agen
mempunyai tanggung jawab penuh dalam kegiatan operasional perusahaan yaitu
dalam hal pengambilan keputusan berdasarkan informasi yang diperoleh
manajemen. Dengan demikian, manajemen sebagai agen akan memiliki lebih
banyak informasi dibandingkan pemilik. Ketimpangan informasi akan
menyebabkan asimetri informasi (Khaiyat, 2016).
Menurut Arthawan & Wirasedana (2018) menyatakan bahwa asimetri
informasi adalah kesenjangan informasi antara manajer dan pihak luar peusahaan
(pemilik, calon investor, kreditur, supplier, regulator, pemerintah, dan
stakeholder lain) yang mempunyai keterbatasan sumber dan akses untuk
memeroleh informasi mengenai perusahaan. Kesenjangan informasi inilah yang
mendorong manajer untuk berperilaku oportunis dalam mengungkapkan
19
asimetri informasi menyebabkan manajer menjadi pihak yang lebih banyak
mengetahui informasi mengenai perusahaan dibandingkan pihak lain (investor).
Sehingga hal inilah yang menyebabkan manajer mempunyai kesempatan untuk
melakukan manajemen laba.
Dalam kaitan teori agensi dengan variabel independent dalam penelitian
ini di mana dalam insentif pajak. Pada teori agensi, dalam hal ini pemerintah
sebagai pihak prinsipal dan perusahaan sebagai pihak agen masing-masing
memiliki kepentingan yang berbeda dalam hal pembayaran pajak. Perusahaan
sebagai agen berusaha membayar pajak sekecil mungkin karena dengan
membayar pajak berarti mengurangi kemampuan ekonomis perusahaan. Upaya
yang dilakukan perusahaan adalah dengan melakukan manajemen laba agar bisa
meminimalkan pembayaran pajak dengan menggunakan cara yang legal, sehingga
akan terlihat laba yang stabil.
Dalam kaitan teori agensi dengan insentif non -pajak, salah satu asumsi
utama agensi bahwa tujuan prinsipal yaitu stockholder dengan tujuan agen yaitu
manajer berbeda sehingga dapat memunculkan konflik yang disebabkan oleh
manajer perusahaan yang cenderung untuk mengejar tujuan pribadi, hal ini
mengakibatkan kecendrungan manajer untuk memfokuskan pada proyek dan
investasi perusahaan yang menghasilkan laba yang tinggi dalam jangka pendek
dari pada memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham melalui proyek-proyek
yang menguntungkan dalam jangka panjang.
20
Salah satu insentif pajak yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu
melalui proksi tax planning (perencanaan pajak). Tindakan perencanaan pajak
adalah suatu proses mengorganisasi usaha wajib pajak orang pribadi maupun
badan usaha sedemikian rupa dengan memanfaatkan berbagai celah
kemungkinan yang dapat ditempuh oleh perusahaan dalam koridor ketentuan
peraturan perpajakan atau loopholes (Suyoto & Dwimulyani, 2019). Tujuannya
bukan untuk menghindari kewajiban membayar pajak, tetapi dengan melakukan
perencanaan pajak, perusahaan dapat memperkecil jumlah laba perusahaan untuk
dapat memperoleh keuntungan pajak yaitu meminimalkan kewajiban pajaknya
tanpa melakukan pelanggaran terhadap Undang-Undang perpajakan yang
berlaku. Menurut Yin & Cheng (2004) dalam Wijaya & Martini (2011)
menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki perencanaan pajak yang baik akan
mendapatkan keuntungan berupa tax shields dan dapat meminimalisasi
pembayaran pajak, perencanaan pajak juga dapat meningkatkan laba bersih,
dengan perencanaan pajak yang efektif akan mengefisiensi tax credit
perusahaan sehingga dapat meningkatkan laba perusahaan.
Dalam teori keagenan, perencanaan pajak dapat memfasilitasi
managerial extraction yaitu pembenaran atas perilaku oportinistik manajer untuk
melakukan manipulasi laba atau penempatan sumber daya yang tidak sesuai
karena adanya aktivitas perencanaan pajak yang memunculkan kesempatan bagi
21
dalam menjalankan operasional perusahaan, aktivitas perencanaan pajak dapat
dilakukan dengan melakukan perencanaan pajak dengan melakukan
pengurangan pajak secara ekplisit (Wardani, 2018).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hapsari & Manzilah (2016)
yang menujukkan adanya pengaruh signifikan perencanaan pajak terhadap
manajemen laba terbukti. Menurut Sutrisno, et al., (2018) perencanaan pajak
terkait dengan pelaporan laba, laba yang tinggi akan menyebabkan beban pajak
perusahaan juga tinggi sehingga akan memotivasi perusahaan melakukan
manajeman laba. Hal ini didukung oleh penelitian Menurut Yunila & Aryati
(2018) yang menyatakan bahwa perusahaan dengan laba tinggi akan melakukan
perencanaan pajak dengan memilih metode untuk meminimalisir beban pajaknya
dengan judgement yang di pilih oleh manajemen perusahaan tersebut, sehingga
semakin besar tingkat perencanaan pajak yang dilakukan oleh manajemen maka
akan semakin tinggi manajemen laba yang akan terjadi. Berbeda dengan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Hardini (2013) menyatakan bahwa apabila
perencanaan pajak semakin meningkat, maka manajemen laba semakin
menurun.
Berdasarkan uraian dan hasil penelitian di atas maka d apat dirumuskan
hipotesisi sebagai berikut :
laba.
22
Beban pajak tangguhan merupakan beban yang timbul karena adanya
perbedaan temporer antara laba akuntansi yaitu laba dalam laporan keuangan
untuk kepentingan pihak eksternal dengan laba fiskal yaitu laba yang digunakan
sebagai dasar perhitungan pajak (Purnawan & Arisman, 2018). Menurut Utami
& Malik (2015) pajak tangguhan pada prinsipnya merupakan dampak dari
adanya insentif timing differences yang timbul karena adanya perbedaan waktu
pengakuan PPh dimasa ini dan yang akan datang. Perbedaaan pengakuan timing
differences atau temporer (waktu) antara perlakuan akuntansi dan perpajakan
akan menimbulkan biaya yang masih dapat dikompensasikan di masa datang.
Menurut Wijaya, et al., (2017) perbedaan temporer adalah perbedaan antara
jumlah pajak tercatat aktiva atau kewajiban dengan Dasar Pengenaan Pajak
(DPP) atas aktiva atau kewajiban tersebut. Timing differences terjadi karena
adanya perbedaan pengakuan besarnya waktu secara akuntansi komersial
dibandingkan dengan secara fiscal. Selisih dari perbedaan pengakuan antara laba
akuntansi komersial dengan akuntansi fiscal yang akan menghasilkan koreksi
berupa koreksi positif yang akan menghasilkan aktiva pajak tangguhan dan
koreksi negatif akan menghasilkan beban pajak tangguhan.
Peraturan Perpajakan UU No. 36 tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan,
”laba fiskal atau penghasilan kena pajak merupakan laba yang dihitung
berdasarkan perpajakan yang berlaku”. PSAK 46 mengharuskan perusahaan
atau Wajib Pajak untuk memperlakukan konsekuensi perpajakan dari suatu
23
(Budiarti, 2013). Laba akuntansi sebelum pajak adalah jumlah laba sebelum
pajak penghasilan yang ditentukan menurut standar akuntansi keuangan, karena
dihitung hanya untuk tujuan pelaporan keuangan, maka laba akuntansi sebelum
pajak tidak berpengaruh pada jumlah pajak penghasilan yang sebenarnya bagi
pemakai laporan keuangan untuk pengambilan keputusan dan karena terdapat
peraturan pengukuran atau metode alternatif yang dapat dipilih untuk mengukur
laba akuntansi sebelum pajak (Pratikasari, et al., 2019).
Secara konseptual manajemen melakukan praktik manajemen laba
dilandasi oleh teori agensi yang menyebabkan adanya asimetri informasi dan
konflik kepentingan antara agen yaitu pihak internal dan prinsipal yaitu pihak
eksternal. Menurut Kholmi (2010) asimetri informasi terjadinya karena konflik
kepentingan yang terjadi antara prinsipal dengan agen, sehingga menyebabkan
agen menyembunyikan beberapa informasi yang tidak diketahui oleh prinsipal
dan menyajikan informasi yang tidak benar kepada prinsipal. Keadaan ini
didukung dengan adanya kebebasan yang diberikan oleh SAK (Standar
Akuntansi Keuangan) kepada perusahaan untuk memilih metode akuntansi
dalam menyusun laporan keuangan komersial. Sedangkan untuk laporan
keuangan fiskal disusun oleh perusahaan berdasarkan aturan perpajakan yang
tidak memberikan kebebasan kepada manajemen untuk memilih model
akuntansi dan metode akuntansi. Dengan begitu perusahaan dapat mengatur
besar kecilnya laba akuntansi melalui beban pajak tangguhan (Junery, 2016).
24
Menurut penelitian Perwita, et al., (2016) menemukan bahwa semakin tinggi
beban pajak tangguhan dalam suatu perusahaan maka semakin meningkat
manajemen laba yang dilakukan manajer, beban pajak tangguhan timbul akibat
perbedaan temporer antara laba akuntansi dengan laba fiskal. Perbedaan antara
laporan keuangan standard akuntansi dan fiskal yang menghasilkan adanya
pengakuan beban pajak tagguhn yaitu pembayaran pajak pada periode
mendatang yang menjadi lebih besar sehingga menjadi celah bagi manajemen
untuk memanipulasi jumlah laba untuk memperkecil beban pajak (Wijaya, et al.,
2017). Hasil berbeda dengan peneltian yang dilakukan Lubis & Suryani (2018)
menunjukkan besaran beban pajak tangguhan perusahaan bukan merupakan
faktor yang dapat mempengaruhi perusahaan melakukan manajemen laba.
Berdasarkan uraian dan hasil penelitian di atas maka dapat dirumuskan
hipotesisi sebagai berikut :
manajemen.
menggunakan self assessment dimana wajib pajak diberikan wewenang untuk
menghitung, membetulkan besarnya pajak yang dibayarkan, (Permatasari, 2013).
Hal ini menjadi motivasi bagi para manajer melakukan manajemen laba dengan
memanfaatkan beban pajak kini, melaporkan pajak yang lebih rendah dari
25
seharusnya. Menurut Suandy, (2011), pajak kini (current tax) adalah jumlah yang
harus dibayar oleh wajib pajak. Jumlah pajak kini harus dihitung sendiri oleh
wajib pajak berdasarkan penghasilan kena pajak dikalikan dengan tarif pajak,
kemudian dibayar sendiri dan dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT)
sesuai dengan peraturan perundang-undangan pajak yang berlaku (Amanda &
Febrianti, 2015).
informasi, diperlukan pengawasan langsung dan kesalahan tersebut merupakan
salah satu bukti lemahnya pengawasan serta pengendalian dari wakil prinsipal.
Semakin besarnya motivasi manajemen untuk melakukan manajemen laba
akan menyebabkan semakin besarnya perbedaan antara laba akuntansi dengan
laba perpajakan (Sunarto, 2010). Penghasilan kena pajak atau laba fiskal
diperoleh dari hasil koreksi fiskal terhadap laba bersih sebelum pajak
berdasarkan laporan keuangan komersial (laporan akuntansi). Koreksi fiskal
harus dilakukan karena adanya perbedaan perlakuan atas pendapatan maupun
biaya yang berbeda antara standar akuntansi dengan peraturan perpajakan yang
berlaku. Pnyebab perbedaan antara beban pajak penghasilan dengan PPh
terutang menurut Wijaya et al., (2017) dapat dikategorikan dalam dua kelompok :
pertama, beda tetap/beda permanen (permanent difference) adalah perbedaan
yang disebabkan oleh adanya perbedaan pengakuan pendapatan dan beban
antara standar akuntansi dan peraturan perpajakan dan beda waktu atau beda
temporer (timing difference) adalah perbedaan yang disebabkan adanya
26
berdasarkan standar akuntansi dengan peraturan perpajakan.
Beban pajak kini perusahaan dapat berubah–ubah, yang mengakibatkan
laba perusahaan menjadi meningkat atau pun menurun yang menjadi indikasi
terjadinya manajemen laba. Jadi ketika beban pajak kini tinggi maka akan
menurunkan laba perusahaan sehingga memberikan peluang yang lebih besar bagi
manajer untuk melakukan manajemen laba. Sebaliknya ketika beban pajak kini
rendah maka akan menaikkan laba perusahaan sehingga memberikan peluang
yang lebih kecil bagi manajer untuk melakukan manajemen laba.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Amanda & Febrianti, (2015),
Junery (2016) menemukan bahwa beban pajak kini mampu mendeteksi
kemungkinan perusahaan melakukan manajemen laba. Hal tersebut terjadi ketika
manajer memanfaatkan adanya beban pajak kini untuk menggeser pembayaran
pajak saat ini ke periode yang akan datang (Annisa, 2018). Pendapat yang berbeda
oleh Wijaya at al., (2017) menunjukan bahwa koreksi fiskal pada beban pajak kini
terdapat perbedaan perlakuan antara standar akuntansi dan peraturan perpajakan.
Tetapi perbedaan tersebut tidak memberikan peluang manajer melakukan
manajemen laba.
hipotesisi sebagai berikut :
H3 :Beban pajak kini memiliki pengaruh positif terhadap manajemen laba.
27
Manjemen Laba
Untuk mendorong perusahaan agar tidak merasa pajak merupakan beban
yang harus dihindari dan mendorong mereka untuk lebih giat lagi berusaha,
pemerintah memberikan insentif penurunan pajak badan terhadap perusahaan pada
Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 pasal 17 ayat 2(b) dan Peraturan Pemerintah
No. 77 tahun 2013 tentang penyerdehanaan pajak yang memberikan insentif
sebesar 5% untuk perusahaan yang telah go public dengan minimal 40% saham
disetornya diperdagangkan di BEI (Putri & Lautania, 2016). Hal ini menjadi
sinyal bagi perusahaan yang memenuhi syarat di atas akan merespon perubahan
tarif pajak penghasilan tersebut dengan melakukan manajemen laba.
Agency theory bertujuan untuk menyelesaikan masalah yang dapat diukur
dalam hubungan agency. Menurut Scott (1997) dalam Kholmi (2010) mengatakan
bahwa inti dari agency theory (teori keagenan) adalah pendesainan kontrak yang
tepat untuk menyelaraskan kepentingan principal dan agen dalam hal terjadi
konflik kepentingan. Dengan adanya insnetif pajak berupa reduced tax rates yang
diarrur dalam peraturan MK No. 77 Tahun 2013 yang dikeluarkan pemerintah
sebagai prinsipal, maka dengan diberlakukannya tarif pajak yang baru ini,
perusahaan khususnya yang telah go public akan sangat diuntungkan karena tarif
pajak efektif perusahaan akan menjadi lebih kecil. Jika manajer berupaya untuk
memaksimalkan nilai perusahaan dengan meminimalkan beban pajak, maka
perubahan tarif ini akan memberikan insentif bagi manajer untuk menurunkan
28
tersebut (Subagyo & Oktavia, 2010).
bahwa adanya pengaruh antara persentase saham (STOCK) terhadap manajemen
laba. Dengan adanya penurunan tarif pajak di Cina dimanfaatkan oleh manajemen
untuk melakukan manajemen laba guna meminimalkan pajak. Sedangkan menurut
Wijaya & Martini (2011) dan Hardini (2013) menemukan hal yang berbeda yaitu
tidak ada hubungan persentase jumlah disetor terhadap praktik manajemen laba,
dengan kata lain, berapapun jumlah persentase saham disetor dalam perusahaan
tidak mempengaruhi manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan.
Berdasarkan uraian dan hasil penelitian di atas maka dapat dirumuskan
hipotesisi sebagai berikut :
terhadap manajemen laba.
2.2.2 Insentif Non-Pajak
Menurut Nurjanah, et al., (2017) leverage adalah kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansialnya baik jangka panjang maupun
jangka pendek dan digunakan untuk mengukur sejauh mana kegiatan perusahaan
dibiayai oleh hutang. Kondisi leverage dalam perusahaan mampu mempengaruhi
tindakan manajer, ketika perusahaan memiliki lebih banyak aset yang dibiayai
oleh hutang akan cenderung melakukan tindakan menaikkan jumlah laba yang
diperoleh akibat tingginya beban bunga (Rice, 2016). Perusahaan yang
29
bunga yang harus dibayarkan perusahaan. Semakin tinggi nilai rasio leverage
pada perusahaan maka akan semakin tinggi nilai bunga yang timbul dari utang
tersebut, dan akan menunjukan semakin tinggi pula tingkat pendanaan utang
dari pihak ketiga untuk kegiatan perusahaan tersebut Ardyansah & Zulaikha
(2014).
tidak menyukai risiko (risk averse). Oleh karena itu, perusahaan khususnya
manajer yang mempunyai leverage tinggi berusaha untuk mementingkan
kepentingannya sendiri dan menghindari risiko dengan berusaha semaksimal
mungkin untuk mentati perjanjian utang agar tidak terjadi pinalti atau pelanggaran
perjanjian utang. Pinalti atau pelanggaran perjanjian utang merupakan berita
buruk bagi manajer, hal tersebut mengakibatkan perusahaan akan mendapatkan
penilaian kinerja yang buruk dari kreditur dan berkurangnya kepercayaan pasar
sehingga berimplikasi pada jatuhnya harga saham perusahaan (Rahmawati &
Wijayanti, 2010). Perusahaan yang mempunyai leverage tinggi diduga akan
melakukan manjemen laba untuk meningkatkan laba yang dilaporkan dan agar
terhindar pelanggaran perjanjian hutang dan kemungkinan untuk mendapatkan
dana tambahan dari kreditur. Semakin besar leverage suatu perusahaan, maka
akan semakin besar kemungkinan manajer untuk melakukan manajemen laba
(Ramadhan, 2017).
30
Menurut penelitian Tala & Karamoy (2017) menemukan bahwa perusahaan yang
mempunyai proporsi hutang lebih tinggi dibandingkan dengan proporsi aktivanya
akan cenderung melakukan manipulasi laporan keuangan dengan mengatur laba
yang dilaporkan dengan menaikkan atau menurunkan laba periode masa datang ke
periode saat ini. Hasil yang sama dalam penelitian yang dilakukan oleh Deviyanti
& Sudana (2018) apabila perusahaan memiliki utang yang tinggi untuk mendanai
aset-aset atau investasinya maka, manajer akan melakukan manajemen laba untuk
mengatur angka laba yang dihasilkan dengan memiliki tujuan untuk menarik
investor ataupun kreditor yang ingin memberikan pinjaman dana atau
perpanjangan kontrak. semakin tinggi leverage perusahaan dapat memicu
peningkatan manajemen laba. Hasil berbeda dengan penelitian yang dilakukan
oleh Widianingrum & Sunarto (2018) menemukan bahwa leverage tidak
mempengaruhi manajemen laba karena manajemen dalam mengembangkan
usahanya lebih mengutamakan modal sendiri daripada pinjaman.
Berdasarkan uraian dan hasil penelitian di atas maka dapat dirumuskan
hipotesisi sebagai berikut :
2.2.2.2 Pengaruh Capital Intensity Ratio Terhadap Manajemen Laba
Capital Intensity Ratio adalah aktivitas investasi yang dilakukan
perusahaan yang terkait dengan investasi dalam bentuk aset tetap, sehingga
perusahaan dapat mengurangi jumlah pajak yang dibayarkan setiap tahunnya
dengan biaya depresiasi yang terdapat dalam aktiva tetap tersebut (Lestari, et
al., 2019). Biaya depresiasi atau penyusutan tersebut dapat digunakan oleh
31
mempengaruhi jumlah pajak yang harus dibayarkan. Hal tersebut berarti bahwa
semakin besar jumlah aktiva tetap suatu perusahaan maka semakin rendah jumlah
pajak yang dibayarkan tiap tahunnya daripada perusahaan memiliki jumlah
aktiva tetap yang rendah (Rodriguez & Arias, 2013).
Dalam teori agensi dijelaskan adanya perbedaan kepentingan antara
prinsipal (pihak eksternal) dan agen (pihak internal). Kepentingan amnajeman
untuk mendapatkan kompensasi yang diinginkan dengan cara meningkatkan
kinerja perusahaan. Dalam hal ini manajemen dapat memanfaatkan penyusutan
asset tetap untuk menekan beban pajak perusahaan, manajer akan
menginvestasikan dana perusahaan ke dalam bentuk aset tetap dengan tujuan
memanfaatkan penyusutan sebagai pengurang beban pajak, sehingga kinerja
perusahaan akan meningkat karena adanya pengurangan beban pajak, dan
kompensasi kinerja manajer yang diinginkan akan tercapai (Muzakki & Darsono,
2015).
beban depresiasi akan mempengaruhi pajak perusahaan, hal ini dikarenakan beban
depresiasi akan bertindak sebagai pengurang laba yang menyebabkan rendahnya
pajak terhutang perusahaan. Maka, semakin tinggi capital intensity perusahaan
akan menyebabkan semakin meningkatnya tindakan penghindaran pajak
perusahaan. Hal ini didukung oleh penelitian Putri & Lautania (2016) dimana
32
perusahaan diperbolehkan untuk menyusutkan aset tetap sesuai dengan perkiraan
masa manfaat pada kebijakan perusahaan, sedangkan dalam persepsi perpajakan
aset tetap mempunyai masa manfaat tertentu yang umumnya lebih cepat bila
dibandingkan dengan masa manfaat yang diprediksi oleh perusahaan. Hasil
berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ambarita, et al., (2017)
menyatakan bahwa capital intensity ratio tidak berpengaruh terhadap agresivitas
pajak.
Berdasarkan uraian dan hasil penelitian di atas maka dapat dirumuskan
hipotesisi sebagai berikut :
laba.
Kepemilikan Manajerial adalah situsi dimana terjadi peran ganda antara
manajer dan pemegang saham atau dengan kata lain seorang manajer perusahaan
memiliki saham dalam perusahaan (Aryanti, et al.,2017). Menurut Achyani &
Lestari (2019) kepemilikan manajerial merupakan jumlah saham yang dimiliki
pihak manajemen, jadi dalam hal ini manajer berperan sebagai pemegang
tanggungjawab operasi perusahaan maupun sebagai pemilik perusahaan. Dengan
adanya kepemilikan saham oleh pihak manajer maka akan mempengaruhi dalam
pengambilan keputusan perusahaan. Dimana manajer akan melaporkan laporan
keuangan yang baik karena manajer ikut serta dalam kepemilikan perusahaan
(Purnama, 2017).
saham oleh manajer akan mendorong penyatuan kepentingan antara principal dan
agen sehingga manajer bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham dan
dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Kepemilikan manajerial dalam sebuah
perusahaan dipandang dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan
antara pemegang saham di luar manajemen sehingga permasalahan keagenan
diasumsikan akan hilang apabila seorang manajer adalah juga sebagai seorang
pemilik (Aorora, 2018). Semakin besar proporsi kepemilikan manajemen pada
perusahaan akan dapat menyatukan kepentingan antara manajer dengan pemegang
saham. Kepemilikan manajerial memberikan kesempatan manajer terlibat dalam
kepemilikan saham sehingga dengan keterlibatan diharapkan dapat mengurangi
usahanya untuk memanipulasi laba termasuk meningkatkan laba (Sukartha, 2010).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Yunengsih, et al., (2018)
menyatakan bahwa semakin besar proporsi kepemilikan manajerial, maka indeks
perataan laba tinggi, sehingga praktik perataan laba menurun. Menurut Anggraeni
& Hadiprajitno (2013) dalam penelitiannya menemukan bahwa jika kepentingan
manajer dan pemilik dapat disejajarkan, manajer tidak akan termotivasi untuk
memanipulasi informasi atau melakukan manajemen laba sehingga kualitas
informasi akuntansi dan keinformatifan laba dapat meningkat. Sedangkan
menurut. Menurut pendapat Putri & Supadmi (2016) menemukan bahwa
kepemilikan menajerial tidak berpengaruh terhadap persistensi laba, artinya saham
yang dimiliki oleh pihak manajer tidak sebanding dengan saham yang dimiliki
34
perusahaan ataupun pihak luar. Saham yang dimiliki oleh pihak manajer tidak
akan mampu memberikan dampak dalam pengambilan keputusan. Menurut
Ogbonnaya (2016) yang menyatakan pendapat berbeda, penelitian yang dilakukan
pada perusahaan Industri Brewery memperlihatkan hasil bahwa kepemilikan CEO
dan manajerial berpengaruh signifikan terhadap earnings management.
Berdasarkan uraian dan hasil penelitian di atas maka dapat dirumuskan
hipotesisi sebagai berikut :
manajemen laba.
Menurut Darmawan, et al., (2015) profitabilitas adalah tingkat
keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan dalam menjalankan operasionalnya.
Profitabilitas suatu perusahaan dapat ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan
perusahaan. Profitabilitas merupakan indikator kinerja manajemen dalam
mengelola seluruh aset dan kekayaan perusahaan. Laba dihasilkan perusahaan
selama periode berjalan dapat menjadi indikator terjadinya praktik manajemen
laba yang dilakukan dengan manipulasi komponen laba rugi yang dilaporkan
perusahaan (Prasditha & Intani, 2017).
karena apabila profitabilitas tinggi maka kinerja perusahaan dapat dikatakan baik
dan apabila profitabilitas rendah maka kinerja perusahaan dapat dikatakan buruk
(Patricia, et al., 2018). Kenaikan dan penurunan inilah yang dihindari manajer
terkait penilaian kinerja karena investor lebih menyukai kestabilan maupun
35
peningkatan pendapatan dari pada pendapatan yang fluktuatif. Salah satu tujuan
perusahaan beroperasi adalah untuk memperoleh laba. Jika profitabilitas yang
didapat perusahaan rendah, maka bonus yang diterima oleh manajemen
perusahaan pun ikut rendah. Oleh karena itu umumnya pihak manajemen
cenderung akan melakukan tindakan manajemen laba agar pihak manajemen
perusahaan mendapatkan bonus atau kompensasi, sehingga apabila profitabilitas
tinggi maka investor akan percaya bahwa kinerja perusahaan tersebut baik
(Purnama, 2017).
masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri
(self interest) sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara prinsipal dan
agen. Pihak principal termotivasi mengadakan kontrak untuk mensejahterakan
dirinya dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Agen termotivasi untuk
memaksimalkan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan psikologisnya, antara lain
dalam memperoleh investasi, pinjaman, bonus maupun kontrak kompensasi
dengan melakukan bonus sceme. Konflik kepentingan semakin meningkat
terutama karena principal tidak dapat memonitor aktivitas manajer sehari-hari
untuk memastikan bahwa manajer bekerja sesuai dengan keinginan pemegang
saham.
manajemen laba, artinya semakin tinggi profitabilitas perusahaan maka semakin
tinggi kemungkinan terjadinya tindakan manajemen laba. Menurut Kurniawati
36
akan membuat manajer mempunyai kesempatan untuk mengukur kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba, sehingga pihak manajer tertarik untuk
melakukan tindakan manajemen laba. Hasil yang sama dalam penelitian yang
dilakukan oleh Lestari & Wulandari (2019) menyatakan bahwa perusahaan
cenderung melakukan manajemen laba saat memperoleh tingkat profitabilitas
tinggi. Hasil yang berbeda dalam penelitian yang dilakukan oleh Astuti (2017)
dalam penelitiannya menemukan bahwa semakin tinggi atau rendahnya
profitabilitas yang diperoleh perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen
laba
Berdasarkan uraian dan hasil penelitian di atas maka dapat dirumuskan
hipotesisi sebagai berikut :
37
Populasi dalam penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur
yang terdaftar di Burasa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2013-2017. Teknik
pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunaka teknik Purposive Sampling
(sampel bertujuan). Beberapa kriteria atau pertimbangan yang digunakan dalam
pemelihan sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek indonesia periode pengamatan 2013-2017
2. Perusahaan Manufaktur yang melaporkan laporan keuangan secara lengkap
periode pengamaatan 2013-2017.
3. Perusahaan yang tidak memiliki nilai laba negative lima tahun berturut-turut.
4. Perusahaan yang memiliki data yang diperlukan dalam perhitungan variabel.
3.2 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan data
sekunder. Sumber data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah berupa
laporan keuangan tahunan perusahaan yang tercatat pada tahun 2013-2017. Data
diperoleh dari situs Bursa Efek Indonesia yaitu http://www.idx.co.id.
3.3Definisi Operasional Variabel dan Pengukuran Variabel Penelitian
3.3.1 Manajemen Laba (Y)
Modifikasi ini dirancang untuk menghilangkan kemungkinan dugaan Model Jones
dilakukan terhadap pendapatan. Dalam model yang dimodifikasi, akrual
nondiskretioner diperkirakan selama periode peristiwa yaitu, selama periode
di mana manajemen laba dihipotesakan. Penyesuaian yang dilakukan terhadap
Model Jones asli adalah bahwa perubahan pendapatan disesuaikan dengan
perubahan piutang pada periode kejadian. Alasan digunakan discretionary
accrual sebagai proksi atas manajemen laba diukur dengan menggunakan
Modified Jones Model, karena model ini mempunyai standarerror dari eit (error
term) hasil regresi estimasi nilai total akrual yang paling kecildibandingkan
model-model yang lainnya Dechow dalam (Abdurrahim, 2015).
Seperti yang dilakukan Jones dalam Suyono (2017) perhitungan
dilakukan dengan mengukur discretionary accrualsyang dihitung melalui cara
menyelisihkan total accruals (TAC) dan nondiscretionary accruals (NDA).
Model perhitungannya sebagai berikut:
1. Menghitung total accrual (TA) yaitu laba bersih tahun t dikurangi arus kas
operasi tahun t dengan rumus sebagai berikut:
Keterangan :
NIit = Laba bersih (net income) perusahaan i pada periode t
CFOit = Arus kas operasi (cash flow of operation) perusahaan i
pada periode t
= −
40
2. Dengan perhitungan koefisien regresi seperti pada rumus di atas, maka
nondiscretionary accruals (NDA) ditentukan dengan rumus sebagai
berikut:
Keterangan :
tahun t
Revit = Perubahan pendapatan dalam periode t
Recit = Piutang usaha perusahaan I pada tahun t dikurangi
pendapatan
(β)1,(β)2,(β)3 = Koefisiensi regresi
ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
Keterangan :
TAit = Total accruals tahun t
Ait-1 = Total aset periode t-1
NDAit = Non akrual diskresioner pada tahun t
3.3.2 Variabel Independen (X)
menggunakan rumus tax retention rate (tingkat retensi pajak) yaitu menganalisis
= 1 ( 1
−1 ) + 2 (
suatu ukuran dari efektivitas manajemen pajak pada laporan keuangan perusahaan
tahun berjalan Wild et al., (2004) dalam Sutrisno (2018). Berikut ini adalah
rumus yang dugunakan untuk mengetahui tax retention rate sebagai berikut :
Keterangan :
i pada tahun t
Pretax Income (EBIT)it = Laba sebelum pajak i pada tahun t
3.3.2.1.2 Beban Pajak Tangguhan (X2)
Beban pajak tangguhan muncul disebabkan oleh adanya perbedaan
temporer yang terjadi sebagai akibat adanya beda temporar dimana perbedaan
terjadi sebagai akibat dari adanya perbedaan dasar antara pengenaan pajak dari
suatu asset atau kewajiban dengan nilai tersebut yang berakibat pada naik atau
turunya laba fiscal pada periode berikutnya (Sumbari, 2017). Rumus perhitungan
nilai beban pajak tangguhan adalah sebagai berikut :
Keterangan :
BPTit4 = Besaran beban pajak tangguhan perusahaan i pada tahun t
DTEit = Beban pajak tangguhan perusahaan i pada tahun t.
TAit-1 = Total asset perusahaan i pada tahun t.
=
()
=
()
Beban pajak kini adalah jumlah pajak penghasilan yang terutang atas
penghasilan kena pajak pada satu periode. Besarnya dihitung dari penghasilan
kena pajak yang sebelumnya telah memperhitungkan adanya beda tetap sekaligus
beda waktu, dikalikan dengan tarif pajak yang berlaku. Beban pajak kini yang
dimaksud dalam penelitian ini diukur menggunakan skala rasio, dan diperoleh
dari beban pajak kini pada periode laporan keuangan tertentu dibagi dengan
total aset periode sebelumnya. Pengukuran variabel ini mengacu pada penelitian
Amanda & Febrianti, (2015). Dalam penelitian ini beban pajak kini sebagai
variabel bebas ketiga yang diukur dengan:
3.3.2.1.4 Persentasi Jumlah Pajak Disetor (X4)
Sesuai dengan PP No. 77 tahun 2013 perusahaan yang memiliki
minimal 40% saham yang diperdagangkan di BEI akan memperoleh
keuntungan berupa penurunan tarif 5% lebih rendah. Hal ini akan membuat
pajak yang dibayarkan menjadi lebih kecil karena memperoleh penurunan
tarif. Pajak yang semakin rendah akan membuat laba semakin tinggi.
Persentase jumlah saham yang disetor dalam penelitian diukur dengan
menggunakan variabel dummy. Jika saham disetor perusahaan yang
diperdagangkan di BEI kurang dari 40% maka diberi angka 0, dan jika
saham disetor perusahaan yang diperdagangkan di BEI lebih besar atau sama
=
−1
dengan 40% maka diberi angka 1, Variabel inidiberi simbol STOCK
(Sutrisno, et al., 2018).
STOCK =Jika saham yang disetor perusahaan yang diperdagangkan di
BEI <40% maka 0, dan jika saham disetor perusahaan yang diperdagangkan di
BEI ≥ 40% maka 1.
aktiva perusahaan. Rasio ini menunjukkan besarnya besar aktiva yang dimiliki
perusahaan yang dibiayai dengan hutang. Rasio leverage menunjukkan seberapa
besar aset didanai dengan hutang (Ariani & Hasymi, 2018). Persamaan yang
digunakan untuk mengitung leverage adalah sebagai berikut :
3.3.2.2.2 Capital Intensity Ratio (X6)
Capital Intensity Ratio (CIR) perusahaan adalah dimana manajemen
dapat mengurangi pajak melalui capital intensity ratio, karena dalam capital
intensity ratio akan timbul biaya depresiasi atau penyusutan (Nurjanah, et al.,
2017). Menurut Rodriguez & Arias (2012) menyebutkan bahwa aktiva tetap
yang dimiliki perusahaan memungkinkan perusahaan untuk memotong pajak
akibat depresiasi atau penyusutan dari aktiva tetap setiap tahunnya. Hal ini
menunjukkan bahwa perusahaan dengan tingkat aktiva tetap yang tinggi memiliki
beban pajak yang lebih rendah dibandingkan perusahaan yang mempunyai aktiva
=
tetap yang rendah (Putri & Lautania, 2016). Persamaan yang digunakan untuk
mengitung capital intensity ratio adalah sebagai berikut :
3.3.2.2.3 Kepemilikan Manajerial (X7)
adalah persentase jumlah saham yang dimiliki pihak manajemen dari seluruh
modal saham perusahaan yang beredar (Salehi, et al, 2018). Kepemilikan
Manajerial akan mengurangi masalah keagenan. Kepemilikan manajerial diukur
menggunakan persentase jumlah saham yang dimiliki oleh manajemen
dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar.
3.3.2.2.4 Profitabilitas (X8)
perusahaan dalam menjalankan operasionalnya. Profitabilitas (PROFIT) diproksi
dengan return on assets (ROA). Return On Asset (ROA) digunakan untuk
mengukur kemampuan manajemen dalam memperoleh laba secara keseluruhan
(Kurniawati, 2018). Rasio profitabilitas dapat diukur dengan menggunakan
rumus :

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik
deskriptif, uji korelasi, dan pengujian hipotesis. Data yang siap diolah akan
dilakukan pengujian statistik dengan menggunakan program e-views 9. Untuk
menguji hipotesis yang telah dirumuskan, maka dalam penelitian ini
menggunakan metode analisis data sebagai berikut:
3.4.1Analisis Statistik Deskriptif
yang digunakan dan menggambarkan variabel-variabel dalam penelitian. Analisis
statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat
dari jumlah, sampel, nilai minimum, nilai maksimum, nilai rata-rata (mean), nilai
tengah (median) dan standar deviasi dari semua variable (Ghozali, 2016).
3.4.2 Uji Korelasi
Uji korelasi dilakukan untuk mengetahui hubungan variaebel dependen
dan independen. Angka 1 atau -1 pada hasil uji korelasi menunjukkan adanya
korelasi yang sempurna, jika nilai menunjukkan angka 0 maka tidak ada korelasi
(Sugiyono, 2014). Data yang digunakan dalam uji korelasi memiliki skala interval
atau rasio. Berikut adalah pedoman untuk memberikan interpretasi serta analisis
mengenai kekuatan variabel menurut (Sarwono, 2016) sebagai berikut :
0 : Tidak ada korelasi antara dua variabel
0 - 0.25 : Korelasi sangat lemah
0.26 – 0.5 : Korelasi cukup
06 – 0.75 : Korelasi Kuat
1 : Korelasi Sempurna
3.4.3 Uji Hipotesis
variable dependent variabel yang dipengaruhi (variabel respon Y) dengan variabel
yang mempengaruhi (variabel prediktor X). Analisis regresi pada umumnya
digunakan adalah analisis regresi klasik dimana variable responnya merupaka data
bersifat kontinu yang mengikuti distribusi normal, namun dalam
perkembangannya model regresi klasik tidak mampu mengatasi permasalahan-
permasalahan dimana variabek respon atau Y tidak mampu mengatasi permasalah
tersebut dimana data menunjukkan responnya berupa data diskrit dan tidak
berdistribusi normal. Solusi untuk mengatasinya adalah dengan menggunakan
Generalized Linear Models (GLM). Generalized Linear Models (GLM)
merupakan perluasan dari model regresi linear dengan asumsi prediktor memiliki
efek linear akan tetapi tidak mengasumsikan suatu distribusi tertentu dari respon,
(Jong & Heller, 2008). GLM dapat diperluas agar dapat digunakan pada kasus
tidak ada hubungan linear antara variabel respon dan prediktor. Tujuan
menggunakan metode Generalized Linear Models (GLM) adalah untuk
menghindari data ekstrim, untuk menghindari asumsi klasik, dan untuk
menghindari dari data-data yang tidak normal, (Venables & Ripler, 2002).
Adapun persamaannya yaitu sebagai berikut :
DAit = α + β1 DAit+ β2 TRRit+ β3 BPTit+ β4 BPKit+ β5 STROCK + β6L EVit+ β7
CIRit+ β8 MGTOWNit+ β9 ROAit + εit……………….(3.1)
47
Keterangan :
LEVit = Leverage
3.4.3.2 Hipotesa Operasional
Ho1;β1>0: Perencanaan pajak tiak berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
Ha1;β1<0: Perencanaan pajak berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
2. Beban Pajak Tangguhan (X2)
Ho2;β2≤0: Beban Pajak Tangguhan tidak berpengaruh positif terhadap manajemen
laba.
Ha2;β2>0: Beban Pajak Tangguhan berpengaruh positif terhadap manajemen laba
3. Beban Pajak Kini (X3)
Ho3;β3>0: Beban pajak kini tidak berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
Ha3;β3<0: Beban pajak kini berpengaruh positif terhadap manajemen laba
4. Persentase Jumlah Saham Disetor (X4)
Ho4;β4≤0: Persentase jumlah saham disetor tidak berpengaruh positif terhadap
manajemen laba
manajemen laba
Ha5;β5>0: Leverage berpengaruh positif terhadap manajemen laba
6. Capital Intensity Ratio (X6)
Ho6;β6≤0: Capital intensity ratio tidak berpengaruh positif terhadap manajemen
laba.
Ha6;β6>0: Capital intensity ratio berpengaruh positif terhadap manajemen laba
7. Kepemilikan Manajerial (X7)
manajemen laba.
manajemen laba.
Ha8;β8<0: Profitabilitas berpengaruh positif terhadap manajemen laba.
49
perusahaan manufaktur yang terdaftar di website resmi Bursa Efek Indonesia
(BEI) yaitu www.idx.co.id periode 2013-2017. Jumlah perusahaan manufaktur
yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian sejumlah
160. Dalam penentuan sampel dari hasil proses sampling yang digunakan
berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan dalam penelitian ini diperoleh sebanyak
97 perusahaan yang sesuai kriteria dengan total 485 data laporan keuangan. Proses
seleksi sampel berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan di tampilkan dalam tabel
berikut ini :
Tabel 4.1
No Kriteria Jumlah
pengamatan 2013-2017
pengamatan yaitu 2013-2017.
keuangan secara lengkap periode pengamatan 2013-2017.
21
berturut-turut.
20
perhitungan variabel.
6 Jumlah Sampel dalam 1 periode. 97
7 Jumlah data laporan keuangan dalam 5 periode (97 x 5). 485
Sumber : Hasil Analisis Data, 2019
bahwa pada periode penelitian 2013-2017 jumlah perusahaan yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia sebanyak 160 perusahaan, namun tidak semua perusahaan
memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dan tidak semua perusahaan memiliki
data laporan keuangan yang sesuai dengan kebutuhan penelitian ini. Terdapat 12
perusahaan yang belum terdaftar atau IPO sebelum periode pengamatan, selain itu
terdapat perusahaan yang tidak melaporkan atau mempublikasikan laporan
keuangan secara lengkap sebanyak 21 perusahaan. Adapun perusahaan yang
memiliki nilai laba negatif selama periode pengamatan 2013-2017 sebanyak 20
perusahaan dan perusahaan yang tidak memiliki data yang lengkap untuk
perhitungan variabel sebanyak 10 perusahaan. Kesimpulan setelah sampel
diseleksi ditetapkan sebanyak 97 perusahaan yang sesuai dengan kriteria
purposive sampling dengan data laporan keuangan sebanyak 485.
4.2 Analisis Deskriptif
menggambarkan terkait dengan data pada variabel-variabel yang digunakan dalam
penelitian. Pengukuran yang digunakan dalam menganalisis statistik deskriptif
dalam penelitian ini menggunakan rata-rata (mean), nilai tengah (median), nilai
tertinggi (maximum), nilai terendah (minimum), dan standar deviasi dari masing-
masing variabel dalam penelitian. Dengan melakukan perhitungan statistik
deskritif maka dapat diketahui gambaran tentang variabel insentif pajak
(perencanaan pajak, beban pajak tangguhan, beban pajak kini dan persentase
jumlah saham yang disetor), variabel insentif non-pajak (leverage, capital
51
independen dan manajemen laba sebagai variabel dependen. Gambaran mengenai
informasi data tersebut dapat dilihat dalam tabel statistik deskriptif berikut ini :
Tabel 4.2
Sumber : Hasil Olahan Eviews, 2019.
Keterangan : DA = Manajemen Laba, TRR = Perencanaan Pajak, BPT = Beban Pajak Tangguhan,
BPK =, STOCK = Persentase Jumlah Saham di Setor, DER = Leverage, CIR =
Capital Intensity Ratio, MGTOWN = Kepemilikan Manajerial, ROA = Profitabilitas.
Dari hasil uji analisis deskriptif pada Tabel 4.2 di atas menunjukkan
jumlah observasi (n) dalam penelitian ini sebanyak 485 observasi. Nilai
manajemen laba sebagai variabel dependen diproksikan dengan DA memiliki nilai
rata-rata (mean) sebesar 0.652633 yang artinya perusahaa kemungkinan
melakukan manajemen laba dengan memanipulasi jumlah laba sebesar 65.26%
dan memilikianilai standaradeviasi sebesar 0.414349anilaiastandaradeviasi yang
lebih rendah dibandingkan nilaiarata-rata menunjukkan bahwa data bersifat
homogen (tidak tersebar) yang kemungkinan disebabkan oleh manajemen tidak
52
melakukan manajemen laba, namun angka standart deviasi manajemen laba yang
mendekati nilai mean dapat menimbulkan adanya kecendrungan manajemen
melakukan manajemen laba dalam perusahaan. Nilai tengah (median) pada
variable ini sebesar 0.585685, sedangkan untuk nilai tertinggi (maximum)
perusahaan yang melakukan manajemen laba sebesar 2.818452 yaitu pada
perusahaan PT Indo Acitama Tbk (SRSN) pada tahun 2013 dan untuk nilai
terendah (minimum) perusahaan yang melakukan manajemen laba sebesar
0.000251 yang diperoleh dari perusahaan PT Citra Tubindo Tbk (CTBN) pada
tahun 2015.
dengan TRR memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 0.767030 yang artinya
perusahaam melakukan perencanaan pajak sebesar 76.70% dan memilikianilai
standaradeviasi sebesar 0.368350,anilaiastandaradeviasi yangalebiharendah
tersebar) yang kemungkinan disebabkan oleh tujuan dari manajemen melakukan
perencanaan pajak bukan untuk mengurangi laba, namun perusahaan melakukan
perencanaan pajak untuk menghindari sanksi perpajakan berupa bunga, denda
atau kenaikan yang dapat menyebabkan pemborosan sumber daya yang dimiliki
perusahaan. Nilai tengah (median) pada variabel ini sebesar 0.747419, sedangkan
untuk nilai tertinggi (maximum) perusahaan yang melakukan perencanaan pajak
sebesar 2.949495 yaitu pada perusahaan PT Berlina Tbk (BRNA) pada tahun
2015 dan nilai terendah (minimum) perusahaan yang melakukan perencanaan
53
pajak sebesar 0.004739 yaitu pada perusahaan PT Lion Metal Works Tbk (LION)
pada tahun 2016.
diproksikan dengan BPT memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 0.020670 yang
artinya perusahaan memanfaatkan adanya beban pajak tangguhan sebesar 2.06%
dan memilikianilai standaradeviasi sebesar 0.203871,anilaiastandaradeviasi yang
rendah dibandingkan nilaiarata-rata menunjukkan bahwa data bersifat homogen
(tidak tersebar) yang kemungkinan disebabkan oleh beban pajak tangguhan tidak
mampu untuk mendeteksi praktik maanjemen laba yang dilakukan oleh
perusahaan. Nilai tengah (median) pada variabel ini sebesar 0.003975, sedangkan
untuk nilai tertinggi (maximum) perusahaan yang memanfaatkan beban pajak
tangguhan sebesar 2.464998 yaitu pada perusahaan PT Wijaya Karya Beton Tbk
(WTON) pada tahun 2013 dan nilai terendah (minimum) perusahaan
memanfaatkan beban pajak tangguhan sebesar sebesar 0.000105 yairu pada
perusahaan PT Semen Baturaja Tbk (SMBR) pada tahun 2016.
Nilai beban pajak kini sebagai variabel Independen (X3) diproksikan
dengan BPK memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 0.071468 yang artinya
perusahaam melakukan beban pajak kini sebesar 7.10% dan memilikianilai
standaradeviasi sebesar 0.188360,anilaiastandaradeviasi yang tinggi dibandingkan
nilaiarata-rata menunjukkan bahwa data bersifat heterogen (tersebar) yang artinya
bahwa manajemen memanfaatkan adanya beban pajak kini yang berasal dari hasil
rekonsiliasi beda tetap dan beda waktu yang dapat mengurangi beban pajak yang
harus dibayar perusahaan. Nilai tengah (median) pada variabel ini
54
sebesar 0.020974, sedangkan untuk nilai tertinggi (maximum) perusahaan yang
memanfaatkan beban pajak kini sebesar 2.222523 yaitu pada perusahaan PT Budi
Starch and Sweetener Tbk (BUDI) pada tahun 2013 dan nilai terendah (minimum)
perusahaan yang memanfaatkan beban pajak kini sebesar 0.000150 yaitu pada
perusahaan PT Tifico Fiber Indonesia Tbk (TFCO) pada tahun 2015.
Nilai persentase jumlah saham disetor sebagai variabel Independen
(X4) diproksikan dengan STOCK memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar
0.268041 yang artinya masyarakat umum yang memiliki saham dalam perusahaan
sebesar 26.80% dan memilikianilai standaradeviasi sebesar 0.443397, nilai standar
deviasi yang tinggi dibandingkan nilaiarata-rata menunjukkan bahwa data bersifat
heterogen (tersebar) yang kemungkinan disebabkan oleh manajemen
memanfaatkan penurunan tarif tersebut untuk melakukan manajemen laba agar
pajak yang dibayarkan menjadi semakin rendah dengan memanfaatkan jumlah
saham yang dimiliki publik. Nilai tengah (median) pada variabel ini sebesar
0.000000, sedangkan untuk nilai tertinggi (maximum) perusahaan yang
memanfaatkan saham publik yang disetor sebesar 1.000000 yaitu pada perusahaan
PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) pada tahun 2013-2017 dan nilai minimum
sebesar 0.000000 yaitu pada perusahaan PT Akasha Wira International Tbk
(ADES) pada tahun 2013-2017.
DER memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 0.970831 yang artinya perusahaam
melakukan pembiayaan dengan memanfaatkan hutang sebesar 97.08% dan
memiliki nilia standar deviasi sebesar 0.680373, nilai standar deviasi yang lebih
55
aktiva perusahaan dalam pembiayaan menggunakan hutang dan perusahaan
meningkatkan hutangnya untuk mendapatkan bunga pinjaman yang bisa
digunakan untuk mengurangi pajak perusahaan, sehingga perusahaan tidak perlu
melakukan manipulasi laba untuk meminimalkan pembayaran pajak. Nilai tengah
(median) pada variabel ini sebesar 0.806202, sedangkan untuk nilai tertinggi
(maximum) perusahaan yang memanfaatkan hutang sebesar 2.939774 yaitu pada
perusahaan PT Tirta Mahakam Resources Tbk (TIRT) pada tahun 2017 dan nilai
terendah (minimum) perusahaan yang memanfaatkan hutang sebesar 0.002996
yaitu pada perusahaan PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) pada tahun 2013.
Nilai capital intensity ration sebagai variabel Independen (X3)
diproksikan dengan CIR memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 0.409884 yang
artinya perusahaam memanfaatkan biaya depresiasi atau penyusutan untuk sebesar
40.99% dan memiliki nilai standar deviasi sebesar 0.293848, nilai standar deviasi
yang lebih kecil dibandingkan dengan nilai rata-rata (mean) menunjukkan bahwa
data yang digunakan homogen (tidak tersebar) yang kemungkinan disebabkan
oleh manajemen tidak memanfaatkan biaya depresiasi atau penyusutan untuk
mempengaruhi laba dan tingkat investasi pada aset yang dilakukan oleh pihak
manajemen belum bisa menentukan motivasi para manajer untuk melakukan
manipulasi laba berupa manajemen laba. Nilai tengah (median) pada variabel ini
sebesar 0.343565, sedangkan untuk nilai tertinggi (maximum) perusahaan yang
memanfaatkan biaya depresiasi sebesar 2.443972 yaitu pada PT Semen Baturaja
56
Tbk (SMBR) pada tahun 2017 dan nilai terendah (minimum) untuk perusahaan
yang memanfaatkan biaya depresiasi sebesar 0.001155 yaitu pada perusahaan PT
Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) pada tahun 2015.
Nilai kepemilikan manajerial sebagai variabel Independen (X7)
diproksikan dengan MGTOWN memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 0.300576
yang artinya kepemilikan saham manajerial di perusahaan sebesar 30.05% dan
nilai standar deviasi sebesar 0.332140, nilai standar deviasi yang lebih besar
dibandingkan dengan nilai rata-rata (mean) menunjukkan bahwa data yang
digunakan bersifat heterogen (tersebar) yang kemungkinan disebabkan oleh
tingginya tingkat kepemilikan manajerial didalam perusahaan, sehingga pihak
manajemen memiliki kekuasaan penuh dalam segala operasional perusahaan
termasuk dalam pengambilan keputusan. Nilai tengah (median) pada variable ini
sebesar 0.099000, sedangkan untuk nilai tertinggi (maximum) kepemilikan
manajerial sebesar 0.999722 yaitu pada perusahaan PT Garuda Maintenance
Facility Aero Asia Tbk (GMFI) pada tahun 2015-2016 dan nilai terendah
(minimum) kepemilikan manajerial sebesar 0.000135 yaitu pada perusahaan PT
Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) pada tahun 2014.
Profitabilitas sebagai variabel Independen (X6) diproksikan dengan
ROA memiliki nilai rata-rata (mean) sebesar 0.11555 yang artinya nilai
profitabilitas perusahaan sebesar 11.55% dan memilikianilai standaradeviasi
sebesar 0.299119, nilai standar deviasi yang tinggi dibandingkan nilaiarata-rata
menunjukkan bahwa data bersifat heterogen (tersebar) yang kemungkinan
disebabkan oleh perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang rendah mempunyai
57
kecenderungan yang lebih tinggi untuk melakukan praktek manajemen laba. Nilai
tengah (median) pada variabel ini sebesar 0.051634, sedangkan untuk nilai
tertinggi (maximum) nilai tertinggi profitabilitas sebesar 2.982549 yaitu pada
perusahaan PT Merck Indonesia Tbk (MERK) pada tahun 2013 dan nilai
minimum sebesar 0.000180 yaitu pada perusahaan PT Voksel Electric Tbk
(VOKS) pada tahun 2015.
hubungan antar variabel. Berikut hasil korelasi yang terdiri dari variabel insentif
pajak (perencanaan pajak, beban pajak tangguhan, beban pajak kini dan
persentase jumlah saham yang disetor), variabel insentif non-pajak (leverage,
capital intensity ratio, kepemilikan manajerial dan profitabilitas) sebagai variabel
independen dan manajemen laba sebagai variabel dependen yang digambarkan
sebagai berikut:
Keterangan : DA = Manajemen Laba, TRR = Perencanaan Pajak, BPT = Beban Pajak
Tangguhan, BPK= beban Pajak Kini, STOCK = Persentase Jumlah Saham di Setor,
DER = Leverage, CIR = Capital Intensity Ratio, MGTOWN = Kepemilikan
Manajerial, ROA = Profitabilitas.
Dari Tabel 4.3 di atas dapat disimpulkan bahwa variabel independent
perencanaan pajak (X1) menggunakan proksi TRR memiliki korelasi negatif
dengan manajemen laba dengan proksi DA sebesar -0.074979 yang artinya
korelasi yang terjadi sangat lemah, dapat diartikan bahwa semakin rendah
perencanaan pajak yang dilakukan oleh manajer maka semakin rendah tingkat
manajemen laba yang terjadi didalam perusahaan. Hasil korelasi TRR dengan
variabel independent lainnya menunjukkan hasil yang sama yaitu sangat lemah.
Nilai uji korelasi variabel independent beban pajak tangguhan (X2) dengan
proksi BPT memiliki nilai sebesar 0.000782 yang artinya korelasi yang terjadi
antara beban pajak tangguhan terhadap manajemen laba sangat lemah, dapat
diartikan bahwa beban pajak tangguhan tidak mampu untuk mendeteksi
perusahaan melakukan manajemen laba. Untuk hasil korelasi BPT dengan
variabel independent lainnya menunjukkan hasil yang sama yaitu sangat lemah.
59
Nilai uji korelasi beban pajak kini (X3) dengan proksi BPK memiliki nilai
sebesar 0.263411 yang berarti korelasi yang terjadi antara beban pajak kini
terhadap manajemen laba cukup kuat, dapat diartikan bahwa perusahaan
memanfaatkan beban pajak kini untuk mengurangi laba perusahaan dan
mengurangi pembayaran pajak dengan memanfaatkan beda waaktu dan beda
tetap. Hasil korelasi antara beban pajak kini dan variabel independent lainnya
menunjukkan hasil korela yang cukup kuat dengan ROA, sedangkan untuk
variabel lainnya menunjukkan tingkat korelasi sangat lemah.
Nilai uji korelasi persentase jumlah saham disetor (X4) dengan proksi
STOCK memiliki nilai sebesar 0.043790 yang berarti korelasi yang terjadi antara
persentase jumlah saham disetor terhadap manajemen laba sangat lemah, diartikan
bahwa peraturan terbaru mengenai insentif pajak yang diberlakukan pemerintah
tidak mempengaruhi manajemen melakukan manajemen laba pada perusahaan.
Hasil korelasi STOCK dengan variabel independent lainnya juga menunjukkan
korelasi sangat lemah.
Nilai uji korelasi leverage (X5) dengan proksi DER memiliki nilai
sebesar 0.073076 yang berarti korelasi yang terjadi antara leverage terhadap
perusahaan sangat lemah, diartikan bahwa perusahaan dengan tingkat leverage
yang dimiliki perusahaan sangat rendah sehingga perusahaan tidak termotivasi
untuk melakukan manajemen laba. Hasil korelasi DER dengan variabel
independent lainnya juga menunjukkan korelasi sangat lemah.
Nilai uji korelasi capital intensity ratio (X6) dengan proksi CIR memiliki
nilai sebesar 0.260694 yang berarti korelasi yang terjadi antara capital intensity
60
ratio terhadap manajemen laba cukup kuat yang artinya manajemen
memanfaatkan adanya biaya depresi