pemetaan lama ketergenangan zona intertidal di .pemetaan lama ketergenangan zona intertidal di...

Download PEMETAAN LAMA KETERGENANGAN ZONA INTERTIDAL DI .Pemetaan Lama Ketergenangan Zona Intertidal di Pantai

Post on 08-Mar-2019

216 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PEMETAAN LAMA KETERGENANGAN ZONA INTERTIDAL DI PANTAI TIMUR BINTAN

DESA TELUK BAKAU

Arief Herriansyah; Risandi Dwirama Putra, ST, M.Eng; Arief Pratomo, ST, M.Si.*)

Jurusan Ilmu Kelautan

Fakulas Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Jl Politeknik Senggarang KM 24 Tanjungpinang 29125 - Telepon: (0771) 4500098

Email : ariefherri@gmail.com; risandiutmme@gmail.com; see_a_reef@gmail.com

ABSTRAK

Herriansyah, Arief. 2016. Pemetaan Lama Ketergenangan Zona Intertidal di Pantai Timur Bintan Desa

Teluk Bakau. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Maritim Raja Ali Haji.

Pembimbing I : Risandi Dwirama Putra, ST, M.Eng. Pembimbing II : Arief Pratomo, ST, M.Si.

Penelitian ini bertujuan untuk memetakan, menganalisa dan mengklasifikasikan zona intertidal

berdasarkan data lama ketergenangan perairan di daerah Pantai Trikora Desa Teluk Bakau. Pengambilan

data survey lapangan meliputi 2 data, yaitu data batimetri perairan dan kemiringan pantai. Data batimetri

kemudian dikoreksi dengan nilai kedalaman transducer serta data pasang surut DISHIDROS TNI-AL

2016 stasiun Tanjung Uban. Kontur batimetri perairan diolah menggunakan Surfer untuk menghasilkan

daerah batasan zona intertidal dan lama ketergenangannya yang diolah berdasarkan data tabel pasang

surut DISHIDROS TNI-AL 2016 selama 1 tahun. Kelas kemiringan didapati pada daerah Pantai Trikora

Desa Teluk Bakau lereng miring medominasi wilayah ini dengan persentase 50.7%. Batasan zona

intertidal pada daerah Pesisir Teluk Bakau tersebut yaitu pada kedalaman 3.4 m diukur saat pasang

tertinggi (Hide Astronomical Tide/HAT) dengan lama ketergenangannya pada kedalaman 0-0.5 m akan

digenangi selama 8.4 hari/tahun; kedalaman 0.5-1 m tergenang selama 52 hari/tahun; kedalaman 1-1.5 m;

1.5-2 m; 2-2.5 m; dan 2.5-3 m akan mengalami masa genangan beturut selama 134 hari; 252 hari; 357

hari; dan 365 hari/tahun.

Kata Kunci : Zona Intertidal, Lama Ketergenangan, Batimetri, Kemiringan, Pantai, Pasang Surut, Surfer

10, Arc GIS 10.1.

ABSTRACT

Herriansyah, Arief. 2016. Mapping of Intertidal Zone Puddle Period on the East Coast Teluk Bakau

Bintan. Faculty of Marine Sciences and Fisheries. Maritime University of Raja Ali Haji. Supervisor

I: Risandi Dwirama Putra, ST, M.Eng. Supervisor II: Arief Pratomo, ST, M.Si.

This study aims to map, analyze and classify the intertidal zone is based on puddle period data

Trikora Beach area waters in the village of Teluk Bakau. Data retrieval field survey covers 2, data

bathymetry and slope of the coastal waters. Bathymetry data is then corrected by the value of the depth

transducer and tide data DISHIDROS-TNI AL 2016 Tanjung Uban station. Bathymetric contour

mailto:ariefherri@gmail.commailto:risandiutmme@gmail.commailto:see_a_reef@gmail.com

2

processed using Surfer to generate local restrictions and long puddle period intertidal zone are processed

by a data table tidal DISHIDROS the Navy in 2016 for 1 year. Class found in the slope of Trikora Beach

area Teluk Bakau angled slopes dominanted this region with the percentage of 50.7%. Limitation of the

intertidal zone in the Gulf Coast area of mangrove, which is at a depth of 3.4 m measured at the highest

tide (Hide Astronomical Tide / HAT) with long puddle period at a depth of 0-0.5 m will be inundated

during the 8.4 days / year; depth of 0.5-1 m stagnant for 52 days / year; depth 1-1.5 m; 1.5-2 m; 2-2.5 m;

and 2.5-3 m will experience a period of inundation continue for 134 days; 252 days; 357 days; 365 days /

year.

Keywords: Intertidal Zone, Puddle Period, Bathymetry, Tilt, Beach, Tidal, Surfer 10, Arc GIS 10.1.

PENDAHULUAN

Wilayah pesisir merupakan suatu wilayah

daratan yang berbatasan dengan laut, dengan

batas di daratan meliputi daerah-daerah yang

tergenang air maupun yang tidak tergenang air

yang masih dipengaruhi oleh proses-proses laut

seperti pasang surut, arus, dan gelombang.

Desa Teluk Bakau merupakan salah satu

daerah di Kepulauan Riau yang ditetapkan

menjadi daerah konservasi padang lamun

dimana pada bagian zona intertidalnya terdapat

berbagai ekosistem yang menjadi rumah bagi

bermacam-macam organisme. Banyaknya faktor

lingkungan maupun dari manusia ikut turut

mempengaruhi keberlangsungan ekosistem

tersebut, salah satunya ialah lamanya

ketergenangan perairan akibat adanya pasang

surut.

Zona intertidal merupakan suatu kawasan

di daerah pantai dimana didalamnya terdapat

pengaruh pasang surut air laut secara berkala.

Penelitian tentang zonasi daerah intetidal ini

sangat dibutuhkan untuk keperluan penelitian

dan pengetahuan terhadap keberadaan zona

intertidal. Penelitian zonasi ini dilakukan dengan

memetakan suatu zona intertidal atau daerah

pasang surut. Dengan adanya pemetaan zona

intertidal, akan didapatkan data dasar mengenai

zona pasang surut dan lama ketergenangan

perairan di daerah Teluk Bakau yang berguna

sebagai acuan dalam pengembangan kegiatan

penelitian yang lebih lanjut.

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan

Februari Maret 2016. Tempat penelitian di

perairan pesisir Teluk Bakau, Kecamatan

Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi

Kepulauan Riau. Lokasi pengamatan (Gambar

4) terletak pada 1.000 LU 1.005 LU hingga

104.035 BT 104.040 BT.

Gambar 1. Lokasi Penelitian

Alat dan Bahan

Adapun peralatan serta bahan-bahan yang

digunakan dalam penelitian ini tertera pada tabel

dibawah :

3

No Nama Alat dan

Bahan

Deskripsi

1 Fish Finder Digunakan untuk keperluan survey pemeruman

perairan intertidal.

2 Global Positioning

System (GPS)

Menentukan titik koordinat/mencatat posisi dalam

penelitian.

3 Perahu Motor Digunakan sebagai alat transportasi dalam survey

pemeruman.

4 Tongkat Ukur Digunakan sebagai alat ukur kemiringan pantai.

5 Selang Waterpass Diguanakan sebagai penyeimbang dalam pengukuran

pantai.

6 Lembar Kerja dan alat

tulis

Sebagai media pencatatan data selama survey

pemeruman.

7 Kamera Keperluan dokumentasi.

8 ArcGIS versi (10.1) Digunakan dalam pengolahan citra kemudian

mendigitasi wilayah penelitian, membuat pemetaan

wilayah genangan.

9 Microsoft Excel 2007 Digunakan untuk pengolahan data.

10 Surfer versi (10) Digunakan untuk analisa kontur dan pembuatan kontur

3D zona intertidal.

11 Data Pasang Surut

DIHISROS

Digunakan untuk meramalkan masa lama genangan

pada zona intertidal.

12 Citra SPOT Digunakan sebagai bahan dasar dalam pemetaan.

Tabel 1. Alat dan Bahan

Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan terdiri dari 2

jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data

primer merupakan data yang didapat dari hasil

survey pemeruman dan kemiringan pantai.

Sedangkan data sekunder di peroleh dari instansi

terkait seperti data pasang surut dari DIHIDROS

TNI-AL dan citra satelit dengan lokasi Pulau

Bintan. Kemudian untuk mengolah dan

menganalisis data dilakukan di Laboratorium

Sistem Informasi dan Komputasi, Fakultas Ilmu

Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim

Raja Ali Haji.

Pengukuran Batimetri

Pengambilan data pemeruman/batimetri

menggunakan alat perum gema (fishfinder)

secara singlebeam (pancaran tunggal).

Pengukuran data kedalaman dilakukan langsung

di pesisir perairan pantai Trikora Desa Teluk

Bakau dengan metode Shallow Sounding

menggunakan perahu motor. Sebelum

melakukan pemeruman terlebih dahulu

ditentukan perencanaan lajur perum pada peta

lokasi.

Lajur pemeruman dibuat berupa garis,

dilakukan sebanyak 4 garis lajur sejajar garis

pantai dengan jarak antar lajur 50 m.

Pemeruman akan dilakukan mengikuti garis

dengan jarak antara titik pengambilan data

kedalaman perairan yaitu 25-30 m.

Gambar 2. Contoh Lajur Pemeruman Dengan

Metode Shallow Sonding (BIG, dimodifikasi)

Pengukuran Kemiringan Pantai

Pengukuran kemiringan dari pantai ini

bertujuan untuk mendapatkan klasifikasi dari

profil pantai. Selain itu titik koordinat yang

didapat akan digunakan sebagai penentu batas

pasang tertinggi. Pengukuran dilakukan pada

saat surut terendah.

Gambar 3. Pengukuran Kemiringan Pantai

Dan gambar diatas, diketahui bahwa X

merupakan jarak antara kedua tongkat ukur, Y

merupakan selisih antara ketinggian tongkat

ukur dari pantai (b) dan ketinggian tongkat ukur

4

pada perairan (a), serta merupakan besarnya

persentase sudut dari kemiringan pantai.

Hubungan antara tiap komponen tersebut dapat

dirumuskan seperti berikut ini :

=

x 100%

Keterangan:

: Besarnya persentase (%) kemiringan

pantai (slope)

Y : Selisih ketinggian yang diperoleh

tongkat ukur (cm)

X : Jarak antara

Recommended

View more >