pasar regional cafta

Download Pasar Regional Cafta

Post on 08-Oct-2015

48 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Menjelaskan mengenai Pengaruh Pasar Regional Cafta dengan studi kasus permasalahan perlambatan ekonomi Cina

TRANSCRIPT

Pasar Regional Cina - ASEAN :

Pasar Regional Cina - ASEAN :Dampak Melemahnya Ekonomi China Terhadap Pasar Regional China - ASEAN (CAFTA)Anggota Kelompok :Anestya Pradina PutriF0112Damar Fitriyanto Nugroho F0112Dellarosa FatimuzzahraF0112Haris Akhmad AffandiF0112Novia WijarningrumF01122014EKONOMI PEMBANGUNAN AUNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA11/27/2014

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada awalnya, pendirian ASEAN Free Trade Area (AFTA) merupakan wujud dari kesepakatan dari negara-negara ASEAN untuk membentuk suatu kawasan bebas perdagangan dalam rangka meningkatkan daya saing ekonomi kawasan regional ASEAN dengan menjadikan ASEAN sebagai basis produksi dunia serta serta menciptakan pasar regional bagi 500 juta penduduknya. Namun, ASEAN melalui penerapan perdagangan bebasnya mengalami perkembangan dari waktu ke waktu dengan mulai berkembangnya perdagangan bebas dengan beberapa negara di luar kawasan ASEAN, yaitu kawasan Asia khususnya Asia Timur seperti Cina, Jepang, dan Korea Selatan. Di antara ketiga negara tersebut, Cinalah yang menjadi sorotan utama ASEAN dalam penerapan free trade area ini. Bersama dengan Cina, ASEAN melalui free tradenya kemudian menciptakan suatu bentuk kesepakatan baru pada tanggal 4 November 2002 yang selanjutnya dikenal dengan ACFTA atau ASEAN China Free Trade Area. ACFTA ini sendiri dibentuk untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan menghilangkan atau mengurangi hambatan-hambatan perdagangan baik tarif ataupun non-tarif, peningkatan akses pasar jasa, peraturan dan ketentuan investasi, sekaligus peningkatan aspek kerjasama ekonomi untuk mendorong hubungan perekonomian para pihak ACFTA dalam rangka meningkatkan kesehjateraan masyarakat ASEAN dan China. Disepakatinya ACFTA, secara positif dipandang sebagai sebuah jalan untuk negara-negara anggota memperluas pasar luar negerinya melalui kerjasama dengan China. Secara awam, kerjasama antar negara anggota dengan China akan memberikan keuntungan tersendiri bagi masing-masing negara. Dua tahun setelah penandatangannya, yakni tahun 2004, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mengalami kenaikan yang pesat sebesar 5.1 persen jika dibandingkan dari tahun 1998 yang bahkan mencapai titik minus 13.1 persen. Sementara itu, di tahun 2008, tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan sebesar 6.4 persen. Namun menurut data yang baru dirilis beberapa waktu belakangan juga menunjukkan bahwa ekonomi Negeri Panda mulai menunjukan adanya perlambatan sejak awal tahun 2014. Dalam Kongres Rakyat Nasional, penentu kebijakan di China menetapkan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di level 7,5% untuk tahun ini. Angka tersebut turun dari pencapaian 2013 lalu di mana pertumbuhan PDB China mampu tumbuh sebesar 7,7%. Namun, adanya perlambatan ekonomi China memang disengaja oleh pemerintah China sebagai bagian dari upaya untuk menurunkan persyaratan pengucuran kredit serta menyeimbangkan kembali ekonomi China menuju pertumbuhan yang disokong permintaan domestik.Adanya perlambatan perekonomian China ini tentunya dapat berdampak pula terhadap perdagangan antara Indonesia dan China dalam pasar regional ACFTA. Mengingat disini cukup tinggi pula ekspor antara kedua belah negara, hubungan ekonomi Indonesia dan China terutama dalam bidang ekonomi ini pada dasarnya saling bergantung satu sama lain. Indonesia membutuhkan China untuk semakin meningkatkan perekonomian negara begitu juga sebaliknya. Dalam makalah ini, kami akan memaparkan studi kasus dampak perlambatan perekonomian China ini dengan disertai alasan logis berlandaskan tori mengenai pasar regional.

B. Rumusan MasalahDalam makalah ini, rumusan masalah yang hendak dibahas diantaranya adalah :

Apakah dampak signifikan dari adanya ACFTA terhadap perkembangan perekonomian Indonesia dan China? Bila dikaitkan dengan landasan teori mengenai pasar regional, apakah dampak dari perlambatan perekonomian China tersebut terhadap perekonomian Indonesia? Apakah perubahan yang nyata terjadi terhadap perkeonomian Indonesia dan China sebelum dan sesudah krisis ekonomi China?

C. TujuanDari perumusan masalah di atas, dapat ditarik beberapa tujuan yang diharapkan oleh kami dalam penyusunan makalah ini, diantaranya adalah :

Mengetahui dampak signifikan dari adanya ACFTA terhadap perkembangan perekonomian Indonesia dan China. Bila dikaitkan dengan landasan teori mengenai pasar regional, maka kami dapat menarrik kesimpulan mengenai dampak dari perlambatan perekonomian China tersebut terhadap perekonomian Indonesia. Menegtahui perubahan yang nyata terjadi terhadap perkeonomian Indonesia dan China sebelum dan sesudah krisis ekonomi China serta dampak signifikannya terhadap perekonomian Indonesia.

BAB IILANDASAN TEORI

A. Pasar Regional dan Integrasi EkonomiNegara-negara kaya dewasa ini untuk terus-menerus berusaha merambah dan merentangkan ekonominya ke negara-negara lain. Langkah ini dilakukan guna memperoleh sumber pasokan produk primer dan bahan baku, tenaga kerja yang murah dan lokasi pemasaran yang sangat menguntungkan bagi produk-produk manufaktur mereka. Oleh karenanya beberapa kawasan telah membentuk beberapa zona perdagangan bebas seperti kawasan Amerika dan Mexico dengan membentuk NAFTA (North America Free Trade Zone), negaranegara Eropa dengan membentuk pasar tunggal Eropa (Masyarakat Ekonomi Eropa), demikian juga negara-negara Asean membentuk AFTA (Asean Free Trade Zone). Kerjasama beberapa negara yang kemudian membentuk suatu free trade merupakan bentuk pasar regional yang saat ini sedang berkembang.Terdapat beberapa teori yang dijadikan dasar dari adanya pasar regional, salah satunya adalah teori basis. Teori basis ekonomi ini dikemukakan oleh Harry W. Richardson (1973) yang menyatakan bahwa faktor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah (Arsyad 1999:116). Dalam penjelasan selanjutnya dijelaskan bahwa pertumbuhan industri-industri yang menggunakan sumberdaya lokal, termasuk tenaga kerja dan bahan baku untuk diekspor, akan menghasilkan kekayaan daerah dan penciptaan peluang kerja (job creation). Asumsi ini memberikan pengertian bahwa suatu daerah akan mempunyai sektor unggulan apabila daerah tersebut dapat memenangkan persaingan pada sektor yang sama dengan daerah lainsehingga dapat menghasilkan ekspor (Suyatno 2000:146).Ada serangkaian teori ekonomi sebagai teori yang berusaha menjalankan perubahan-perubahan regional yang menekankan hubungan antara sektor-sektor yang terdapat dalam perekonomian daerah. Teori yang paling sederhana dan populer adalah teori basis ekonomi (economic base theory). Menurut Glasson (1990:63-64), konsep dasar basis ekonomi membagi perekonomian menjadi dua sektor yaitu:1. Sektor-sektor Basis adalah sektor-sektor yang mengekspor barang-barang dan jasa ke tempat di luar batas perekonomian masyarakat yang bersangkutan atas masukan barang dan jasa mereka kepada masyarakat yang datang dari luar perbatasan perekonomian masyarakat yang bersangkutan.2. Sektor-sektor Bukan Basis adalah sektor-sektor yang menjadikan barang-barang yang dibutuhkan oleh orang yang bertempat tinggal di dalam batas perekonomian masyarakat bersangkutan. Sektor-sektor tidak mengekspor barang-barang. Ruang lingkup mereka dan daerah pasar terutama adalah bersifat lokal. Secara implisit pembagian perekonomian regional yang dibagi menjadi dua sektor tersebut terdapat hubungan sebab-akibat dimana keduanya kemudian menjadi pijakan dalam membentuk teori basis ekonomi. Bertambahnya kegiatan basis di suatu daerah akan menambah arus pendapatan ke dalam daerah yang bersangkutan sehingga menambah permintaan terhadap barang dan jasa yang dihasilkan, akibatnya akan menambah volume kegiatan bukan basis. Sebaliknya semakin berkurangnya kegiatan basis akan menurunkan permintaan terhadap produk dari kegiatan bukan basis yang berarti berkurangnya pendapatan yang masuk ke daerah yang bersangkutan. Dengan demikian kegiatan basis mempunyai peran sebagai penggerak utama. Kegiatan perambahan yang giat dilakukan oleh negara-negara maju tersebut membawa pengaruh besar berupa terintegrasinya perekonomian dunia. Langkah-langkah tersebut membuka kemungkinan ke arah dominasi politik dan ekonomi oleh negara-negara berkembang. (Todaro & Stephen, 2006).Dari sisi ekonomi sendiri, berdasarkan teori perdagangan internasional, motivasi utama untuk melakukan perdagangan internasional adalah mendapatkan gains from trade yakni meningkatkan pendapatan dan menurunkan biaya (cost). Perdagangan internasional memberikan akses terhadap barang yang lebih murah bagi konsumen dan bagi pemilik sumber daya (resources) memperoleh peningkatan pendapatan karena menurunnya biaya produksi. Negara-negara modern baru seperti Korea Selatan dengan mengimpor bahan baku dan mengekspor barang-barang manufaktur. Teori mengenai pasar regional juga dikuatkan oleh teori integrasi ekonomi yang muncul sejak tahun 1960-an, dimana teori integrasi ekonomi kawasan dipengaruhi oleh pendekatan yang dikembangkan oleh Bela Balassa, yang berpendapat bahwa integrasi ekonomi kawasan berlangsung melalui beberapa tahapan, yakni: free trade area, custom union, common market, economic and political union. Tahapan-tahapan ini berlangsung terpisah di mana sebelum melangkah ke tahapan lebih tinggi, perlu diselesaikan terlebih dahulu tahapan yang lebih rendah.B. Nota Kesepakatan Pasar RegionalUpaya menuju pasar bebas ditempuh melalui penghapusan hambatan-hambatan tariff lewat GTT ( General Agreement on Tarrifs and Trade ) dan melalui stabilisasi nilai mata uang yang dimotori oleh IMF (International Moneter Fund). Bersamaan dengan meningkatnya upaya-upaya diatas hingga mencapai siklus global, perhatian pada pentingnya kerjasama ekonomi ditingkat regional juga berkembang yang kemudian melahirkan kesepakatan dalam bentuk-bentuk yang berbeda.Kesepakatan ekonomi regional didasarkan pada premis bahwa sambil merespon kes