partisipasi anggota kelompok wanita tani (kwt ...repository.ub.ac.id/5274/1/puput dewi...

of 152 /152
PARTISIPASI ANGGOTA KELOMPOK WANITA TANI (KWT) PADA PROGRAM OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN MELALUI KONSEP KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL) (Kasus pada Kelompok Wanita Tani Dewi Sartika, Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang) SKRIPSI Oleh PUPUT DEWI MULASARI PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2017

Author: others

Post on 20-Dec-2020

8 views

Category:

Documents


1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • PARTISIPASI ANGGOTA KELOMPOK WANITA TANI (KWT) PADA PROGRAM OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN MELALUI KONSEP KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI (KRPL)

    (Kasus pada Kelompok Wanita Tani Dewi Sartika, Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang)

    SKRIPSI

    Oleh PUPUT DEWI MULASARI

    PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN

    UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

    2017

  • PERNYATAAN

    Saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah

    diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan

    sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah

    ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah

    ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

    Malang, Juli 2017

    Puput Dewi Mulasari

    13504010111113

  • RIWAYAT HIDUP

    Puput Dewi Mulasari merupakan anak ketiga dari pasangan Bapak Nasokha

    dan Ibu Rumini yang lahir pada 6 November 1994 di Pemalang, Jawa Tengah.

    Penulis melakukan studi S-1 di Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas

    Pertanian, Universitas Brawijaya. Pendidikan sebelumnya penulis tempuh di

    daerah asalnya yaitu Kabupaten Pemalang. Pendidikan Taman Kanak-kanak

    ditempuh di TK Handayani XIII. Jenjang Sekolah Dasar ditempuh di SD Negeri 2

    Pendowo. Jenjang Sekolah Menengah Pertama ditempuh di SMP Negeri 1 Comal

    dan jenjang Sekolah Menengah Akhir ditempuh di SMA Negeri 1 Comal. Penulis

    juga merupakan penerima Beasiswa Bidikmisi dan Data Print.

    Penulis merupakan insan akademis yang tidak hanya berfokus pada kegiatan

    akademis, akan tetapi juga aktif dalam kegaitan non akademis. Organisasi yang

    pernah diikuti adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FP UB dengan menjadi

    Staf muda Kementerian Kebijakan Publik BEM FP UB 2013, Staff Eksternal

    Kementerian Kebijakan Publik BEM FP UB 2014 dan Dirjen Kastrat (Kajian dan

    Strategi) Kementerian Kebijakan Publik BEM FP UB 2015. Penulis juga aktif

    membagi ilmu akademik selama kuliah dengan menjadi asisten praktikum pada

    berbagai matakuliah. Beberapa matakuliah yang pernah diasisteni oleh penulis

    adalah Sosiologi Pertanian, Pengantar Ekonomi Pertanian, Penulisan Ilmiah,

    Pengantar Usaha Tani, Manajemen Keuangan, Pemasaran Hasil Pertanian,

    Ekonomi Pembangunan Pertanian dan Dasar Komunikasi. Penulis juga lolos

    pendanaan PKM-K Dikti tahun 2015 dan 2016 serta lolos pendanaan PMW tahun

    2016.

  • Bismillahirrohmanirrohim…

    “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya

    bersama kesulitan ada kemudahan (Q.S. Al-Insyirah: 5-6)”

    “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

    (Q.S. Ar-Rahman: 16)”

    Alhamdulillah… Puji syukur kepada Allah SWT karena telah menghadirkan

    mereka yang selalu memberikan dukungan, semangat dan doa sehingga skripsi

    ini dapat terselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

    Skripsi ini kupersembahkan untuk:

    Bapak dan Ibu tercinta serta kakak, dan adikku tersayang yang selalu

    memberikan kasih sayang, dukungan, semangat dan doa yang tiada

    henti.

    Sahabat-sahabatku tersayang yang telah memberikan kenangan indah

    dan membuat hari-hari semasa kuliah lebih berarti.

    Teman-teman seperjuangan yang telah memberikan dukungan dan

    semangat selama ini.

    Teman-teman BEM FP UB dan IMP UB yang telah memberikan

    warna di kampus.

    Seseorang yang selalu ada di setiap cerita, yang selalu mendampingi di

    kala susah dan senang, yang selalu menjadi alasan untuk selalu

    tersenyum, terus berusaha dan pantang menyerah.

    Terimakasih tak terhingga karena telah membantu sampai terselesaikannya

    skripsi ini. Semoga Allah memberikan balasan yang lebih dan memberikan

    kemudahan dalam segala hal. Amin

  • i

    RINGKASAN

    PUPUT DEWI MULASARI. 135040101111131. Partisipasi Anggota Kelompok

    Wanita Tani (KWT) Pada Program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan

    Melalui Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) (Kasus pada Kelompok

    Wanita Tani Dewi Sartika, Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten

    Malang). Di bawah bimbingan Mas Ayu Ambayoen, SP.,M.Si. selaku dosen

    pembimbing utama dan Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., MS.,Ph.D selaku dosen

    pembimbing pendamping.

    Program KRPL bertujuan untuk meningkatkan partisipasi kelompok wanita

    tani dalam penyediaan sumber pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi

    pemanfaatan lahan pekarangan sebagai penghasil sumber karbohidrat, protein,

    vitamin dan mineral. Pelaksanaan program tersebut membutuhkan partisipasi dari

    anggota KWT untuk mencapai keberhasilan program. Tujuan dari penelitian ini

    yaitu: 1. Mendeskripsikan implementasi program Optimalisasi Pemanfaatan

    Lahan Pekarangan Melalui Konsep KRPL 2. Menganalisis partisipasi anggota

    KWT pada program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan Melalui

    Konsep KRPL 3. Menganalisis faktor internal dan eksternal yang ikut berperan

    dalam partisipasi anggota KWT pada program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan

    Pekarangan Melalui Konsep KRPL. Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok

    Wanita Tani Dewi Sartika Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten

    Malang, Provinsi Jawa Timur pada bulan Maret-April 2017.

    Pendekatan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis

    penelitian deskriptif. Metode penentuan responden dilakukan dengan metode

    sensus sebanyak 27 orang anggota KWT dan purposive sampling terdiri atas

    penyuluh pertanian dan pengurus KWT Dewi Sartika. Pengumpulan data primer

    diperoleh melalui wawancara menggunakan kuisioner dan observasi yang

    didukung dengan dokumentasi. Pengumpulan data sekunder diperoleh melalui

    berbagai pustaka, literatur, selain itu dari arsip dokumen maupun dokumentasi

    yang dimiliki oleh KWT Dewi Sartika dan Penyuluh Pertanian desa Petungsewu.

    Teknik analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif model interaktif

    yang dikemukakan oleh Miles, Huberman dan Saldana digunakan untuk

    menjawab tujuan nomor satu. Teknik analisis data dengan statistik deskriptif

    menggunakan analisis skala likert untuk menjawab tujuan nomor dua dan tiga.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

    1. Implementasi program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan Melalui Konsep KRPL di Kelompok Wanita Tani Dewi Sartika, Desa

    Petungsewu meliputi empat tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan,

    evaluasi dan pemanfaatan hasil.

    2. Partisipasi anggota KWT pada program KRPL tergolong sedang persentase 76,06%. Partisipasi anggota KWT pada tahap perencanaan tergolong sedang

    dengan persentase 66,78%, tahap pelaksanaan tergolong tinggi dengan

    persentase 80,56%, tahap evaluasi tergolong sedang dengan persentase

    71,60% dan tahap pemanfaatan hasil tergolong tinggi dengan persentase

    85,30%.

    3. Faktor internal yang paling berperan dalam partisipasi anggota KWT adalah luas lahan pekarangan dan tingkat pendidikan. Faktor eksternal yang paling

  • ii

    berperan dalam partisipasi anggota KWT adalah peranan dari ketua KWT

    dan penyuluh pertanian.

    Saran yang dapat peneliti berikan:

    1. Saran bagi penyuluh : Melibatkan anggota KWT pada tahap perencanaan program KRPL.

    2. Saran bagi anggota Kelompok Wanita Tani: Agrokompleks diupayakan untuk dilakukan, sehingga tidak hanya fokus

    pada sektor pertanian dan anggota KWT perlu meningkatkan partisipasinya

    dalam tahap evaluasi khususnya evaluasi anggaran.

    3. Saran bagi pemerintah setempat khususnya kepala desa: Kepala desa diharapkan untuk ikut dalam kegiatan penting KWT seperti saat

    ada pelatihan dan monev dari BKP3 serta dapat memberikan bantuan

    tambahan dana untuk pengembangan produk olahan KWT.

  • iii

    SUMMARY

    PUPUT DEWI MULASARI. 135040101111131. Participation of Women

    Farmer Group (KWT) Members in the Optimization of Land Use Yard Program

    through the Concept of the Sustainable Food House (KRPL) (Case of Woman

    Farmer Group “Dewi Sartika”, Petungsewu Village, Dau District, Malang

    Regency). Under the Supervision of Mas Ayu Ambayoen, SP., M.Si as the Main

    Supervisor And Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., Ms., Ph.D as the Associate

    Supervisor

    KRPL program aims to increase the participation of women farmers in

    providing a source of food and nutrition through the optimization of yard land

    usage as a producer of carbohydrates, protein, vitamins and minerals. The

    implementation of the program requires the participation of KWT members to

    achieve program success. The purposes of this study are: 1. Describing the

    program implementation Optimization of Yard Land Usage Through KRPL 2.

    Analyzing the concept of KWT members participation in the program of

    Optimization of Yard Land Usage Through KRPL Concept 3. Analyzing the

    internal and external factors that contribute to the participation of KWT members

    on optimization program of Land Usage through the Concept KRPL. The research

    was conducted at Dewi Sartika Farmer Group of Petungsewu Village, Dau

    District, Malang, East Java from March to April 2017.

    The approach of this research was qualitative approach with type of

    research was descriptive. The method of determining the respondents used census

    method as many as 27 members KWT and purposive sampling consisting of

    agricultural extension and administrators KWT Dewi Sartika. Primary data

    collection was obtained through interviews using questionnaires and observations

    supported by documentation. The collection of secondary data obtained through

    various libraries, literature, besides of archive documents and documentation are

    owned by KWT Dewi Sartika and Agricultural Counselor at Petungsewu village.

    Data analysis technique was done by descriptive analysis of interactive

    model proposed by Miles, Huberman and Saldana used to answer first goal. Data

    analysis technique with descriptive statistics used likert scale analysis to answer

    the second and third goals.

    The results showed that:

    1. The implementation of optimization program of Yard Land Use through KRPL Concepts in Women Farmer Group of Dewi Sartika, Petungsewu

    Village includes four phases: planning, implementation, evaluation and

    utilization of results.

    2. The participation of KWT members in the KRPL program was in moderate percentage of 76.06%. KWT member participation in the planning stages was

    classified as moderate by percentage of 66.78%, the implementation phase

    was high with the percentage of 80.56%, and the evaluation stage was

    classified as moderate by percentage of 71.60% and a relatively high

    utilization phase with the percentage of 85.30%.

    3. The internal factors the most involved in the participation of KWT members were the area of yard and level of education. External factors that played a role

  • iv

    in the participation of KWT members were the role of the head of KWT and

    agricultural counselor.

    Suggestions that researchers can provide:

    1. Suggestion for agricultural counselor: Involving KWT members at the planning stage of the KRPL program.

    2. Suggestion for woman farmer group member: Agro complex is strived to do. So it does not only focus on the agricultural

    sector and KWT members need to increase their participation in the evaluation

    phase, especially budget evaluation.

    3. Suggestion for local government especially village head: The village head is expected to participate in important KWT activities such

    as training and monev from BKP3 and can provide additional funding for the

    development of superior products of KWT.

  • v

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang

    telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat

    menyelesaikan penulisan skripsi yang berjudul “Partisipasi Anggota Kelompok

    Wanita Tani (KWT) pada Program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan

    Melalui Konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)” sebagai salah satu

    syarat untuk menyelesaikan studi di program Strata 1 Fakultas Pertanian

    Universitas Brawijaya Malang. Program KRPL bertujuan untuk meningkatkan

    partisipasi kelompok wanita dalam penyediaan sumber pangan dan gizi keluarga

    melalui optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan sebagai penghasil sumber

    karbohidrat, protein, vitamin dan mineral. Pelaksanaan program tersebut

    membutuhkan partisipasi dari anggota KWT untuk mencapai keberhasilan

    program. Melalui partisipasi dalam program KRPL maka akan dapat mencapai

    tujuan dari program KRPL yaitu terwujudnya pola konsumsi pangan yang

    Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) melalui optimalisasi pemanfaatan

    lahan pekarangan.

    Penelitian ini membahas secara spesifik implementasi dari program KRPL

    yang dilaksanakan oleh KWT Dewi Sartika, tingkatan partisipasi anggota KWT

    Dewi Sartika dan faktor yang berperan dalam partisipasi anggota KWT pada

    program KRPL. Faktor tersebut mencakup faktor internal dan faktor eksternal.

    Penelitian-penelitian sebelumnya terkait dengan partisipasi kurang membahas

    secara detail tingkatan partisipasi mulai dari pengambilan keputusan dalam

    perencanaan. Sumbangan pemikiran, sumbangan materi dan bentuk tindakan pada

    tahap pelaksanaan. Umpan balik berupa kendala/masalah yang dihadapi, umpan

    balik masukan dan infomasi perkembangan kegiatan demi perbaikan pelaksanaan

    program KRPL pada tahap evaluasi. Manfaat yang didapatkan anggota dengan

    mengikuti program KPRL pada tahap pemanfaatan hasil. Pada penelitian ini,

    tingkatan partisipasi dibahas mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan,

    evaluasi dan pemanfaatan hasil. Akan tetapi, dengan segala kekurangan yang ada,

    skripsi ini diharapkan dapat mengisi kekosongan pembahasan mengenai

    partisipasi pada suatu program pembangunan pertanian.

  • vi

    Pada proses penulisan skripsi ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih

    atas segala dukungan dan bantuan yang terutama kepada:

    1. Kedua Orang Tua dan Keluarga yang selalu memberikan semangat dan

    do’a.

    2. Ibu Mas Ayu Ambayoen, SP.,M.Si dan Bapak Ir. Edi Dwi Cahyono,

    M.Agr.Sc.MS.,Ph.D. selaku dosen pembimbing skripsi, yang telah

    memberikan bimbingan, arahan dan waktu dalam penyelesaian skripsi ini.

    3. Ibu Vi’in Ayu Pertiwi, SP.,MP selaku dosen penguji yang telah memberikan

    banyak masukan berarti untuk skripsi ini.

    Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan

    skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang

    membangun untuk lebih menyempurnakannya. Sehingga, skripsi ini dapat

    memberikan manfaat bagi pembaca.

    Malang, Juli 2017

    Penulis

  • vii

    DAFTAR ISI

    Halaman

    RINGKASAN ........................................................................................ i

    SUMMARY ........................................................................................... iii

    KATA PENGANTAR ........................................................................... v

    RIWAYAT HIDUP ............................................................................... vii

    DAFTAR ISI ......................................................................................... viii

    DAFTAR TABEL ................................................................................. x

    DAFTAR GAMBAR ............................................................................. xii

    DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... xiii

    I. PENDAHULUAN ........................................................................ 1

    1.1 Latar Belakang ........................................................................ 1 1.2 Rumusan Masalah .................................................................. 4 1.3 Batasan Masalah ..................................................................... 6 1.4 Tujuan Penelitian .................................................................... 6 1.5 Kegunaan Penelitian ............................................................... 6

    II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................... 8

    2.1 Telaah Penelitian Terdahulu ................................................... 8 2.2 Tinjuan tentang Partisipasi ..................................................... 10 2.3 Tinjauan tentang Program P2KP ............................................ 27 2.4 Tinjauan tentang Program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan

    Pekarangan melalui Konsep KRPL ........................................ 30

    III. KERANGKA PEMIKIRAN ....................................................... 32

    3.1 Kerangka Teoritis ................................................................... 32 3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ..................... 36

    IV. METODE PENELITIAN ............................................................ 50

    4.1 Pendekatan dan Jenis Penelitian ............................................. 50 4.2 Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian ................................ 50 4.3 Teknik Penentuan Responden ................................................ 50 4.4 Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 51 4.5 Teknik Analisis Data .............................................................. 53

    V. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................... 58

    5.1 Gambaran Umum ................................................................... 58 5.2 Hasil dan Pembahasan ............................................................ 66

    VI. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................... 126

    6.1 Kesimpulan ............................................................................. 126 6.2 Saran ....................................................................................... 128

  • viii

    DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 129

    LAMPIRAN ........................................................................................... 133

  • ix

    DAFTAR TABEL

    Nomor Halaman

    Teks

    1 Tipologi Partisipasi ..................................................................... 25

    2 Pengukuran Variabel Partisipasi Anggota KWT dalam Program KRPL ............................................................................ 39

    3 Pengukuran Variabel, Indikator Faktor Eksternal dalam Program KRPL…………………………………………………. 47

    4 Penentuan Skoring ....................................................................... 56

    5 Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Terakhir ....................................................................................... 61

    6 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur…………………… 62

    7 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin………….. 63

    8 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Perkawinan….. 63

    9 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Anggota Keluarga ...................................................................................... 64

    10 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Sampingan….. 65

    11 Karakteristik Responden Berdasarkan Luas Lahan Pekarangan . 66

    12 Indikator Partisipasi Anggota KWT Tahap Perencanaan Program KRPL ............................................................................ 81

    13 Sebaran Indikator Partisipasi Anggota KWT Tahap Perencanaan Program KRPL ....................................................... 82

    14 Indikator Partisipasi Anggota KWT Tahap Pelaksanaan Program KRPL ............................................................................ 89

    15 Sebaran Indikator Partisipasi Anggota KWT Tahap Pelaksanaan Program KRPL ....................................................... 90

    16 Indikator Partisipasi Anggota KWT Tahap Evaluasi Program KRPL ........................................................................................... 98

    17 Sebaran Indikator Partisipasi Anggota KWT Tahap Evaluasi Program KRPL ............................................................................ 98

    18 Indikator Partisipasi Anggota KWT Tahap Pemanfaatan Hasil Program KRPL ............................................................................ 102

    19 Sebaran Indikator Partisipasi Anggota KWT Tahap Pemanfaatan Hasil Program KRPL…………………………………………… 103

    20 Partisipasi Anggota KWT pada Semua Tahapan Program KRPL ........................................................................................... 107

  • x

    21 Faktor Internal Berdasarkan Umur .............................................. 110

    22 Faktor Internal Berdasarkan Tingkat Pendidikan ........................ 112

    23 Faktor Internal Berdasarkan Jenis Pekerjaan .............................. 113

    24 Faktor Internal Berdasarkan Pendapatan Keluarga ..................... 115

    25 Faktor Internal Berdasarkan Luas Lahan Pekarangan ................. 117

    26 Faktor Internal yang Berperan dalam Partisipasi ........................ 118

    27 Hasil Skor dan Persentase Faktor Eksternal yang Berperan dalam Partisipasi Anggota KWT ................................. 119

  • xi

    DAFTAR GAMBAR

    Nomor Halaman

    Teks

    1 Kerangka Pemikiran Partisipasi Anggota KWT pada program KRPL ............................................................................ 35

    2 Komponen-komponen Analisis Data Model Interaktif Miles, Huberman dan Saldana (2014) ......................................... 53

    3 Struktur Organisasi Kelompok Wanita Tani Dewi Sartika ......... 59

    4 Wawancara dengan Pak Ady (Penyuluh) .................................... 67

    5 Pembibitan menggunkaan bedengan ........................................... 74

    6 Pembibitan menggunkaan pot try ................................................ 74

    7 Penanaman benih kangkung ........................................................ 75

    8 Perawatan .................................................................................... 75

    9 Pengendalian Hama dan Penyakit ............................................... 75

    10 Panen dan Pasca Panen ............................................................... 76

    11 Tingkat Partisipasi Anggota KWT pada Semua Tahapan Program ....................................................................................... 108

    12 Partisipasi anggota KWT pada program KRPL .......................... 109

    13 Wawancara dengan Ibu Yuli ....................................................... 114

    14 Wawancara: a. Wawancara dengan Ibu Winariasih; b. Wawancara

    dengan Ibu Sumarlikah ................................................................ 120

    15 Wawancara: a. Wawancara dengan Ibu Rini; b. Wawancara

    dengan Ibu Putri Prawati ............................................................. 121

    16 Wawancara: a. Wawancara dengan Ibu Khoiramah; b. Wawancara

    dengan Ibu Umi ........................................................................... 122

    17 Wawancara: a. Wawancara dengan Ibu Pranti; b. Wawancara

    dengan Ibu Sujiati ........................................................................ 124

    18 Wawancara: a. Wawancara dengan Ibu Rumayani; b. Wawancara

    dengan Ibu Siti Mariyam………………………………………... 125

  • xii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Nomor Halaman

    Teks

    1 Kuisioner Anggota KWT ............................................................ 133

    2 Kuisioner Penyuluh Pertanian ..................................................... 149

    3 Peta Lokasi Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang ...................................................................... 153

    4 Identitas Anggota KWT Responden............................................ 154

    5 Partisipasi Anggota KWT pada Tahap Perencanaan Program KRPL ........................................................................................... 156

    6 Partisipasi Anggota KWT pada Tahap Pelaksanaan Program KRPL ........................................................................................... 159

    7 Partisipasi Anggota KWT pada Tahap Evaluasi Program KRPL ........................................................................................... 162

    8 Partisipasi Anggota KWT pada Tahap Pemanfaatan Hasil Program KRPL ............................................................................ 164

    9 Total Partisipasi Anggota KWT pada Program KRPL ............... 167

    10 Faktor Eksternal yang Berperan dalam Partisipasi Anggota ....... 169

    11 Dokumentasi ................................................................................ 171

  • 1

  • 1

    1

    I. PENDAHULUAN

    1.1 Latar Belakang

    Masyarakat dunia menghadapi banyak tantangan dalam memenuhi

    kebutuhan pangan. Salah satu tantangannya adalah akses secara fisik dan ekonomi

    terhadap pangan yang cukup agar hidup sehat dan aktif. Menurut Serikat Petani

    Indonesia (2014) pada laporan Organisasi Pangan Dunia (FAO) pada 17

    September 2014, angka kelaparan tahun 2014 mencapai 805 juta jiwa. Laporan

    FAO tersebut juga menyampaikan bahwa angka kelaparan negara dunia

    berkembang masih pada angka 790,7 juta jiwa. Satu dari sembilan orang di dunia

    atau satu dari delapan orang di dunia berkembang tidak mempunyai pangan cukup

    untuk aktif dan hidup sehat.

    Undang-undang No.18 Tahun 2012 tentang Pangan telah mengamanatkan

    dalam beberapa pasal antara lain Pasal 60. Pasal tersebut berisi bahwa Pemerintah

    dan Pemerintah Daerah berkewajiban mewujudkan penganekaragaman konsumsi

    pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sesuai dengan potensi dan

    kearifan lokal untuk mewujudkan hidup sehat, aktif, dan produktif.

    Penganekaragaman konsumsi pangan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran

    masyarakat dan membudayakan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi

    seimbang dan aman serta sesuai dengan potensi dan kearifan lokal. Melihat

    kondisi tersebut pemerintah mencanangkan program Percepatan

    Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP). Secara umum tujuan program

    P2KP berdasarkan Juknis P2KP (2016) adalah untuk memfasilitasi dan

    mendorong terwujudnya pola konsumsi pangan masyarakat yang Beragam,

    Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) yang diindikasikan dengan meningkatnya

    skor Pola Pangan Harapan (PPH).

    Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Jawa Timur (2014) bahwa skor

    PPH ideal adalah 100 yang diproyeksikan akan tercapai pada Tahun 2025.

    Perkembangan skor PPH pada periode 2010–2014 menunjukkan peningkatan skor

    PPH sebesar 1,42 per tahun, dengan capaian skor PPH pada tahun 2013 sebesar

    81,4. Data tersebut menunjukkan bahwa capaian diversifikasi konsumsi pangan

    masyarakat belum mencapai sasaran yang diharapkan karena sasaran PPH tahun

  • 2

    2

    2013 adalah 91,5 (Kementerian Pertanian, 2015). Belum tercapainya sasaran

    tersebut diduga akibat tingginya konsumsi padi-padian, minyak, dan lemak. Selain

    itu juga disebabkan masih rendahnya konsumsi sayur-buah, umbi-umbian, pangan

    hewani, dan kacang-kacangan (Kementerian Pertanian, 2015). Tidak tercapainya

    PPH tidak hanya terjadi pada tingkat nasional, namun pada tingkat provinsi juga.

    Sebagai contoh di tingkat provinsi yaitu Provinsi Jawa Timur. Walaupun skor

    PPH tiap tahun meningkat, akan tetapi belum mencapai target skor PPH yang

    ditetapkan. Pada tahun 2014 target skor PPH Jawa Timur adalah 82,2 akan tetapi

    pada realisasinya baru mencapai 81,6 (BKP Jatim, 2014). Berdasarkan data

    tersebut, maka ketahanan pangan di Indonesia perlu diperbaiki agar tercipta

    kualitas konsumsi pangan yang baik.

    Acara Konferensi Dewan Ketahanan Pangan di Jakarta International

    Convention Center (JICC) pada bulan Oktober 2010, Mantan Presiden Susilo

    Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa ketahanan dan kemandirian pangan

    nasional dengan upaya diversifikasi pangan harus dimulai dari rumah tangga

    (Nurjannah, Yulida dan Sayamar, 2015). Mewujudkan hal tersebut yaitu dengan

    cara menerapkan salah satu dari tiga program yang diturunkan oleh program

    P2KP. Salah satu program yang dimaksud adalah Optimalisasi Pemanfaatan

    Lahan Pekarangan melalui konsep Kawasan Rumah Pangam Lestari. Tahun 2017,

    Badan Ketahanan Pangan fokus pada dua kegiatan prioritas, yakni Kawasan

    Rumah Pangan Lestari (KRPL) dan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat

    (PUPM) melalui Toko Tani Indonesia (TTI) (BKP, 2017).

    Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan melalui konsep KRPL

    dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu tahap penumbuhan dan tahap pengembangan.

    Program KRPL bertujuan untuk meningkatkan partisipasi kelompok wanita dalam

    penyediaan sumber pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi pemanfaatan

    lahan pekarangan sebagai penghasil sumber karbohidrat, protein, vitamin dan

    mineral. Desa Petungsewu Kecamatan Dau Kabupaten Malang merupakan salah

    satu desa yang telah melaksanakan program KRPL. Program tersebut

    dilaksanakan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Dewi Sartika. KWT Dewi

    Sartika telah selesai melaksanakan tahap penumbuhan dan tahap pengembangan.

    Pelaksanaan program tersebut membutuhkan partisipasi dari anggota KWT.

  • 3

    3

    Penelitian-penelitian tentang partisipasi selama ini banyak mengupas

    berbagai sisi. Dewi, Sudarta dan Putra (2015) melakukan penelitian untuk

    mengukur tingkat partisipasi dilihat dari partisipasi finansial, partisipasi material,

    partisipasi jasa, partisipasi moral dan kendala yang dihadapi. Sementara itu

    Irwansyah, Muhdar dan Jamaludin (2015) menggunakan indikator partisipasi

    yaitu partisipasi tahap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Rizal dan Rahayu

    (2015) melakukan penelitian tentang partisipasi menggunakan indikator

    partisipasi yaitu kesadaran menjadi anggota, keterlibatan dalam kegiatan

    kelompok dan manfaat yang diperoleh setelah menjadi anggota kelompok.

    Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan, penelitian

    ini penting untuk dilakukan karena partisipasi pada program pembangunan

    dianalisis menggunakan indikator tingkat partisipasi pada tahap perencanaan,

    pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan hasil. Hal tersebut dikarenakan pada tahap

    perencanaan perlu dianalisis mengenai keterlibatan anggota dalam proses

    pengambilan keputusan. Pada tahap pelaksanaan perlu dianalisis sumbangan

    pemikiran, sumbangan materi dan bentuk tindakan sebagai anggota program

    KRPL. Pada tahap evaluasi akan dianalisis umpan balik berupa kendala/masalah

    yang dihadapi, umpan balik masukan dan infomasi perkembangan kegiatan demi

    perbaikan pelaksanaan program KRPL. Pada tahap pemanfaatan hasil perlu

    dinalisis manfaat yang didapatkan anggota dengan mengikuti program KPRL.

    Penelitian ini juga akan menganalisis faktor internal dan eksternal yang berperan

    dalam partisipasi anggota KWT pada program KRPL. Hal ini perlu dilakukan

    karena partisipasi anggota ditentukan melalui adanya peranan faktor internal dan

    eksternal.

    Melalui partisipasi aktif anggota KWT Dewi Sartika di Desa Petungewu,

    maka dapat mewujudkan keberhasilan program KRPL yaitu terwujudnya pola

    konsumsi pangan yang Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) melalui

    optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan sehingga dapat meningkatkan skor

    Pola Pangan Harapan (PPH). Partisipasi aktif anggota KWT dalam program

    KRPL juga ditentukan oleh peran dari faktor internal dan eksternal. Dari uraian

    tersebut diperlukan penelitian untuk dapat mengetahui tingkat partisipasi anggota

    KWT Dewi Sartika pada program KRPL di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau,

  • 4

    4

    Kabupaten Malang, Jawa Timur. Selain itu, melalui penelitian ini juga akan

    menjelaskan peranan faktor internal dan faktor eksternal dalam keikutsertaan

    anggota KWT pada program KRPL.

    1.2 Rumusan Masalah

    Terwujudnya pola konsumsi pangan yang Beragam, Bergizi Seimbang, dan

    Aman (B2SA) adalah salah satu indikasi tercapainya ketahanan pangan.

    Ketahanan pangan yang dicapai dengan upaya diversifikasi pangan harus dimulai

    dari tingkat rumah tangga. Melihat pentinganya pencapaian diversifikasi pangan

    di tingkat rumah tangga, pemerintah telah mewujudkan suatu program yaitu

    program Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP).

    Program ini diharapkan dapat mewujudkan amanah dari Undang-undang No 18

    Tahun 2012 tentang Pangan. Pelaksanaan program Gerakan P2KP didukung

    dengan berbagai program salah satunya adalah program Optimalisasi Pemanfaatan

    Lahan Pekarangan melalui konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

    Program KRPL dilakukan dengan memberdayakan anggota KWT melalui

    penanaman berbagai jenis tanaman sesuai kebutuhan pangan keluarga seperti

    aneka umbi, sayuran, buah, serta ternak dan ikan sebagai tambahan untuk

    ketersediaan pangan sumber karbohidrat, vitamin, mineral dan protein bagi

    keluarga.

    Anggota pada KWT Dewi Sartika belum sepenuhnya berperan aktif dalam

    melaksanakan program KRPL. Hal ini terlihat dari kegiatan masing-masing

    anggota yang sehari-hari sebagian mata pencahariannya tidak hanya menjadi ibu

    rumah tangga akan tetapi menjadi petani, buruh pabrik dan pembantu rumah

    tangga. Adanya pekerjaan di luar ibu rumah tangga menyebabkan asumsi mereka

    kurang berpartisipasi terhadap program seperti kehadiran anggota dalam rapat

    yang diadakan belum sesuai yang diharapkan, kehadiran dalam kegiatan gotong

    royong/kerja bakti yang diadakan di demplot dan kebun bibit desa masih rendah,

    serta anggota kurang memberikan masukan berupa saran-saran/ide-ide dalam

    pelaksanaan program KRPL

    Partisipasi dari anggota sangat penting dan salah satu faktor dari berhasil

    atau tidaknya pelaksanaan program KRPL tersebut. Menurut Kurniawan,

  • 5

    5

    Soemarno dan Purnomo (2015) menyatakan bahwa partisipasi masyarakat sangat

    penting karena, pertama, merupakan metode untuk mendapatkan informasi

    tentang keadaan, kebutuhan dan sikap masyarakat terhadap sebuah program;

    kedua, masyarakat akan merasa memiliki dan menjamin keberlanjutannya apabila

    dilibatkan dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan monitoring dan

    evaluasinya; ketiga partisipasi merupakan hak setiap warga Negara yang

    dilindungi oleh undang-undang. Hal tersebut juga didukung berdasarkan Juknis

    P2KP (2016) yang menyatakan bahwa sesuai dengan semangat dan paradigma

    baru pembangunan, peran dan partisipasi masyarakat dalam kegiatan P2KP harus

    dikedepankan sebagai pelaku utama penentu keberhasilan program. Keterbatasan

    dan permasalahan setiap anggota untuk berpartisipasi menjadikan adanya

    perbedaan antara harapan dari program dengan kenyataan tentang partisipasi

    anggota terhadap program KRPL.

    Program KRPL di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau memerlukan

    partisipasi aktif dari anggota KWT. Partisipasi aktif anggota KWT dapat dilihat

    pada rangkaian kegiatan program mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi

    hingga pemanfaatan hasil. Program KRPL di Desa Petungsewu, Kecamatan Dau

    merupakan program baru bagi KWT Dewi Sartika yang memerlukan evaluasi dan

    penelitian tentang partisipasi aktif anggota. Sesuai dengan uraian tersebut maka

    permasalahan yang dapat dirumuskan adalah:

    1. Bagaimanakah implementasi program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan

    Pekarangan Melalui Konsep KRPL di Kelompok Wanita Tani Dewi Sartika,

    Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang?

    2. Bagaimanakah partisipasi anggota KWT pada program Optimalisasi

    Pemanfaatan Lahan Pekarangan Melalui Konsep KRPL di Kelompok

    Wanita Tani Dewi Sartika, Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten

    Malang?

    3. Bagaimanakah faktor internal dan eksternal ikut berperan dalam partisipasi

    anggota KWT pada program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan

    Melalui Konsep KRPL di Kelompok Wanita Tani Dewi Sartika, Desa

    Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang?

  • 6

    6

    1.3 Batasan Masalah

    Batasan masalah diperlukan agar penelitian ini dapat terfokus. Adapun

    batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

    1. Penelitian ini mendeskripsikan kegiatan yang terdapat dalam tahapan

    program KRPL dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan

    hasil.

    2. Penelitian ini membahas partisipasi anggota KWT pada program KRPL

    dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan hasil.

    3. Penelitian ini melihat faktor yang ikut berperan dalam partisipasi pada

    program KRPL, baik faktor internal maupun faktor eksternal.

    1.4 Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah yang tersebut diatas, maka tujuan dari adanya

    penelitian ini adalah:

    1. Mendeskripsikan implementasi program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan

    Pekarangan Melalui Konsep KRPL di Kelompok Wanita Tani Dewi Sartika,

    Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

    2. Menganalisis partisipasi anggota KWT pada program Optimalisasi

    Pemanfaatan Lahan Pekarangan Melalui Konsep KRPL di Kelompok

    Wanita Tani Dewi Sartika, Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten

    Malang.

    3. Menganalisis faktor internal dan eksternal yang ikut berperan dalam

    partisipasi anggota KWT pada program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan

    Pekarangan Melalui Konsep KRPL di Kelompok Wanita Tani Dewi Sartika,

    Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

    1.5 Kegunaan Penelitian

    Penelitian mengenai partisipasi anggota KWT dalam program optimalisasi

    pemanfaatan lahan pekarangan melalui konsep KRPL ini diharapkan dapat

    berguna untuk:

    a. Bagi peneliti, penelitian ini memberikan tambahan pengetahuan dan

    pengalaman tentang partisipasi anggota KWT dalam program KRPL, di

  • 7

    7

    samping itu untuk melengkapi salah satu syarat guna memperoleh gelar

    Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

    b. Bagi anggota kelompok wanita tani dapat menjadi bahan masukan bagi

    anggota KWT untuk lebih berpartisipasi aktif dalam Kelompok Wanita Tani

    Dewi Sartika.

    c. Bagi pemerintah setempat dan instansi terkait, penelitian ini dapat dijadikan

    sebagai bahan masukan, pertimbangan dan informasi dalam menentukan

    kebijakan selanjutnya.

    d. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber informasi

    dan dapat dijadikan pembanding untuk menentukan penelitian sejenis.

  • 8

    8

    II. TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Telaah Penelitian Terdahulu

    Terdapat beberapa permasalahan yang akan dikaji peneliti berkaitan dengan

    penelitian partisipasi anggota KWT Dewi Sartika pada program KRPL sebagai

    kelompok wanita tani yang ada di Desa Petungsewu diantaranya bagaimana

    implementasi program KRPL, bagaimana tingkat partisipasi pada program KRPL,

    dan faktor-faktor yang ikut berperan dalam keikutsertaan anggota untuk

    berpartisipasi pada program KRPL dalam KWT Dewi Sartika.

    Beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan partisipasi, kelompok

    wanita tani dan program KRPL dapat menjadi bahan acuan dan pembanding.

    Seperti penelitian yang dilakukan oleh Nurjannah, Yulida dan Sayamar (2015)

    yang berjudul “Tingkat Partisipasi Anggota Kelompok Wanita Tani dalam

    Program Model Kawasan Rumah Pangan Lestari” menggunakan metode analisis

    deskriptif dan skala ordinal yang berpedoman pada skala likert. Metode

    pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Tingkat partisipasi

    dilihat dari partisipasi dalam perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan hasil dan

    evaluasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi anggota KWT

    berada pada semua tahapan masuk katagori penilaian partisipasi tinggi. Terdapat

    beberapa permasalahan yaitu permasalahan sarana produksi, kurangnya sumber

    air dan ketiadaannya keterbukaan, permasalahan partisipasi anggota KWT dalam

    perencanaan program dan pelaksanaan program. Persamaan dan perbedaan

    dengan penelitian ini. Persamaannya yaitu menganalisis tingkat partisipasi

    perempuan pada program KRPL dan menggunakan analisis data skala likert.

    Perbedaannya pada tujuan penelitian, pada penelitian ini menganalisis faktor

    internal dan eksternal yang berperan dalam partisipasi. Selain itu terdapat

    perbedaan metode penentuan sampel, pada penelitian ini menggunakan metode

    sensus.

    Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Dewi, Sudarta dan Putra (2015)

    yang berjudul “Partisipasi anggota Kelompok Wanita Tani Pangan Sari pada

    Program Kawasan Rumah Pangan Lestari” dengan metode analisis deskriptif

    kualitatif yang menggunakan skala ordinal (Likert) dan penentuan responden

  • 9

    9

    dengan metode sensus. Tingkat partisipasi dilihat dari partisipasi finansial,

    partisipasi material, partisipasi jasa dan partisipasi moral. Hasil penelitian ini

    menunjukkan tingkat partisipasi tergolong tinggi. Kendala yang dihadapi yaitu

    aspek teknis (ketersediaan lahan tetap), aspek ekonomi (kekurangan modal), aspek

    sosial (tidak terdapat masalah). Persamaan penelitian yaitu metode yang

    digunakan yaitu sensus. Perbedaannya pada indikator partisipasi, menganalisis

    faktor internal dan eksternal yang berperan dalam partisipasi.

    Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Irwansyah, Muhdar dan Jamaludin

    (2015) yang berjudul “Partisipasi Masyarakat dalam Program Corporate Social

    Responsibility PT. Arutmin Nort Pulau Laut Coal Terminal Kota Baru” dengan

    metode analisis data kualitatif Miles & Huber. Penentuan informan dan responden

    dengan teknik purposive. Tingkat partisipasi dilihat pada tahap perencanaan,

    pelaksanaan dan evaluasi. Hasil penelitian menunjukkan partisipasi pada tahap

    perencanaan diwujudkan dengan keikutsertaan masyarakat pada rapat-rapat, pada

    tahap pelaksanaan diwujudkan dengan memberikan sumbangan pemikiran, modal

    awal, dan pengelolaan program. Tahap evaluasi diwujudkan dengan keikutsertaan

    sebagian peserta dalam posisi pengawas koperasi. Persamaan penelitian ini adalah

    pada metode analisis data kualitatif Miles & Huber. Perbedaannya pada indikator

    partisipasi pemanfaatan hasil, menganalisis faktor internal dan eksternal yang

    berperan dalam partisipasi serta penentuan responden pada penelitian ini juga

    menggunkan metode sensus.

    Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Rizal dan Rahayu (2015) berjudul

    “Tingkat partisipasi petani dalam Kelompok Tani Padi Sawah untuk mendukung

    Program M-P3MI di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur dengan metode analisis

    kualitatif dan skoring. Metode penentuan sampel dengan simple random

    sampling. Tingkat partisipasi yang diukur adalah kesadaran menjadi anggota,

    keterlibatan dalam kegiatan kelompok dan manfaat yang diperoleh setelah

    menjadi anggota kelompok. Hasil penelitian menunjukkan tingkat partisipasi

    tinggi pada semua indikator, hal ini disebabkan selain adanya kesadaran sendiri

    tanpa ada paksaan dan memiliki banyak waktu juga merasakan banyaknya

    manfaat yang diperoleh. Persamaan penelitian adalah metode analisis dengan

    skoring. Perbedaannya pada indikator partisipasi yaittu menganalisis faktor

  • 10

    10

    internal dan eksternal yang berperan dalam partisipasi serta metode penentuan

    sampel dengan metode sensus.

    Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Anggita (2016) berjudul

    “Partisipasi Petani dan Strategi Komunikasi dalam Kegiatan GP-PTT (Gerakan

    Penerapan Pengelolaan Tanaman terpadu) pada Program Upaya Khusus (UPSUS)

    Peningkatan Produksi Kedelai”. Pengambilan sampel dilakukan dengan

    pendekatan probability sampling secara simple random sampling dan

    nonprobability sampling secara purposive. Metode analisis data menggunakan

    analisis deskriptif kualitatif dan analisis deskriptif kuantitatif. Hasil dari penelitian

    ini adalah implementasi kegiatan GP-PTT pada program UPSUS terdiri dari 4

    tahap yaitu tahap persiapan, tahap sosialisasi, tahap pelaksanaan, dan evaluasi.

    Tingkat partisipasi petani pada tahap persiapan memiliki presentase sebesar 80%.

    Partisipasi petani pada tahap sosialisasi memiliki presentase sebesar 99,5%.

    Partisipasi petani pada tahap pelaksanaan memiliki presentase sebesar 79,7%.

    Partisipasi pada tahap evaluasi memiliki presentase sebesar 61,6%. Faktor internal

    sebagai penentu partisipasi petani paling tinggi yaitu usia dan jenis pekerjaan,

    tergolong sedang dengan presentase sebesar 68%. Faktor eksternal yang menjadi

    faktor penentu partisipasi yang paling tinggi adalah peran ketua kelompok tani,

    tergolong sedang dengan presentase 65,5%. Strategi komunikasi yang dilakukan

    melalui metode SMCR (Source, Message, Channel dan Receiver). Persamaan

    penelitian ini yaitu metode analisis yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dan

    kuantitatif. Perbedaannya adalah pada penelitian ini dilakukan pada Kelompok

    Wanita Tani sedangkan pada penelitian sebelumnya dilakukan pada Kelompok

    Tani yang anggotanya petani laki-laki, indikator tingkat partisipasi. Selain itu,

    terdapat perbedaan dalam penentuan sampel. Pada penelitian ini penentuan

    sampelnya menggunakan metode sensus.

    2.2 Tinjauan tentang Partisipasi

    2.2.1 Teori Partisipasi

    Partisipasi adalah keikutsertaan atau keterlibatan secara sadar dan sukarela

    untuk berkontribusi secara fisik maupun non fisik dalam suatu kegiatan

    pengambilan keputusan dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan pemanfaatan

  • 11

    11

    hasil pembangunan (Solekhan, 2014). Partisipasi perempuan adalah kesediaan

    perempuan secara sukarela dalam menunjang program-program baik atas inisiatif

    masyarakat lokal maupun pemerintahan yang tercermin dari pikiran, sikap dan

    tindakan mereka baik sifatnya individual maupun kolektif dalam model kerangka

    partisipasi yang dikembangkan baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan,

    pengawasan maupun tahap pengambilan manfaat dari program-program yang

    terdapat di lingkungan tempat tinggal mereka tersebut (Remiswal, 2013).

    Kata kunci dari pengertian partisipasi masyarakat dalam pembangunan

    adalah adanya kesukarelaan (anggota) masyarakat untuk terlibat dan atau

    melibatkan diri dalam kegiatan pembangunan. Berkaitan dengan tingkat

    kesukarelaan masyarakat untuk berpartisipasi, Dusseldorp, 1981 (dalam

    Mardikanto, 2009) membedakan adanya beberapa jenjang kesukarelaan:

    1. Partisipasi spontan yaitu peran serta yang tumbuh karena motivasi intrinsik

    berupa pemahaman, penghayatan, dan keyakinan sendiri.

    2. Partisipasi terinduksi yaitu peran serta yang tumbuh karena terinduksi oleh

    adanya motivasi ekstrinsik (berupa bujukan, pengaruh, dorongan) dari luar,

    meskipun yang bersangkutan tetap memiliki kebebasan penuh untuk

    berpartisipasi.

    3. Partisipasi tertekan oleh kebiasaan yaitu peran serta yang tumbuh karena

    adanya tekanan yang dirasakan sebagaimana layaknya warga masyarakat

    pada umumnya, atau peran serta yang dilakukan untuk mematuhi kebiasaan,

    nilai-nilai atau norma yang dianut oleh masyarakat setempat. Jika tidak

    berperan serta, khawatir akan tersisih atau dikucilkan masyarakatnya.

    4. Partisipasi tertekan oleh alasan sosial-ekonomi yaitu peran serta yang

    dilakukan karena takut akan kehilangan status sosial atau menderita

    kerugian/tidak memperoleh bagian manfaat dari kegiatan yang dilaksanakan

    5. Partisipasi tertekan oleh peraturan yaitu peran serta yang dilakukan karena

    takut menerima hukuman dari peraturan/ketentuan-ketentuan yang sudah

    diberlakukan.

    Participation strengthens people’s capacity to make decisions and their

    ability to create an environment for change (He, Ho and Xu, 2015). As farmers

    and communities know their needs and local site conditions best (Roshetko et al,

  • 12

    12

    2008; Suarez et al, 2012 in He, Ho and Xu, 2015), a participatory approach

    involves farmers in processes that generate economically and environmentally

    sound technologies and manage natural resources more sustainably and more

    equitably (He, Ho and Xu, 2015).

    Partisipasi memperkuat kapasitas masyarakat dalam membuat keputusan

    dan kemampuan mereka menciptakan lingkungan untuk perubahan. Sebagai

    petani dan masyarakat mengetahui kebutuhan mereka dan kondisi lokasi setempat

    dengan baik. Pendekatan partisipatif melibatkan petani dalam proses yang

    menghasilkan ekonomi dan lingkungan teknologi dan mengelola sumber daya

    alam yang lebih berkelanjutan dan lebih adil (He, Ho and Xu, 2015).

    Partisipasi masyarakat sangat penting karena, pertama, merupakan metode

    untuk mendapatkan informasi tentang keadaan, kebutuhan dan sikap masyarakat

    terhadap sebuah program; kedua, masyarakat akan merasa memiliki dan

    menjamin keberlanjutannya apabila dilibatkan dalam proses perencanaan,

    pelaksanaan dan monitoring dan evaluasinya; ketiga partisipasi merupakan hak

    setiap warga Negara yang dilindungi oleh undang-undang (Kurniawan, Soemarno

    dan Purnomo, 2015).

    Pentingnya partisipasi masyarakat juga dikemukakan oleh Firmanyah, 2007

    (dalam Wulansari, 2015) sebagai berikut: 1. Partisipasi masyarakat merupakan

    suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan, dan sikap

    masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta

    proyek-proyek akan gagal. 2. Bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek

    atau program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses persiapan dan

    perencanaannya, karena mereka akan lebih mengetahui seluk-beluk proyek

    tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek tersebut. 3. Bahwa

    merupakan suatu hak demokrasi bila masyarakat dilibatkan dalam pembangunan

    masyarakat mereka sendiri

    Partisipasi dalam kelompok akan memperkuat kohesi sosial, meningkatkan

    kapasitas masyarakat untuk memanfaatkan sumber daya, dan memungkinkan

    untuk merespon pada perubahan (Alexander, 1995 dalam Hastuti, 2009).

    Partisipasi yang baik dari anggota jika sebagian besar anggota KRPL sudah

  • 13

    13

    menjalankan kewajiban dan melaksanakan hak keanggotaannya secara

    bertanggung jawab (Nurjannah, Yulida dan Sayamar, 2015).

    Program pembangunan dapat diterapkan secara berkelanjutan bila terjadi

    partisipasi dan kesepakatan para stakeholder (Solihin, 2006 dalam Setiani dan

    Prasetyo, 2014). Terdapat tujuh pilar yang dipandang penting dan menjadi

    pendorong bagi keberlanjutan implementasi KRPL di masyarakat, yaitu

    partisipasi aktif masyarakat, peran tokoh masyarakat (local champion),

    infrastruktur, ketersediaan bibit/pengelolaan KBD, pilihan komoditas yang tepat

    dan rotasi tanaman, kelembagaan pasar, dan dukungan pemerintah (Badan

    Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2014).

    2.2.2 Tujuan Partisipasi

    Taliziduhu, 1990 (dalam Remiwal, 2013) mengemukakan bahwa ada 4

    tujuan partisipasi masyarakat dalam pembangunan yaitu:

    1. Menumbuhkan kemampuan untuk mengusahakan, memelihara atau untuk

    merawat segenap sumber, aset, dan sarana yang ada, baik fisik maupun non

    fisik

    2. Menumbuhkan kemampuan untuk bangkit kembali dari keterpurukan atau

    kemunduran sebagai akibat kekeliruan yang pernah ditempuh

    3. Menumbuhkan kemampuan untuk mengembangkan serta meningkatkan

    sumber, aset atau peralatan yang ada

    4. Menumbuhkan kemampuan untuk memberikan respon yang positif terhadap

    setiap perubahan yang tengah berlangsung.

    Salah satu tujuan terpenting partisipasi masyarakat yang tidak bisa

    terlepaskan dalam setiap kegiatan yaitu dalam proses pengambilan keputusan dan

    untuk menjamin adanya keterlibatakan masyarakat dalam proses pengambilan

    keputusan tersebut, maka pelaksanaannya harus didasarkan pada konteks sosial,

    ekonomi dan budaya masyarakat setempat (Solekhan, 2014). Hal ini diperkuat

    dengan pendapat dari Adiyoso, 2009 (dalam Solekhan, 2014) tujuan utama

    partisipasi adalah melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan,

    memberikan hak suara masyarakat dalam prosess pengambilan keputusan,

    mendorong dan melibatkan masyarakat serta menyatukan tujuan.

  • 14

    14

    Partisipasi masyarakat dalam pengembangan program merupakan salah satu

    modal sosial yang dikembangkan secara integratif dalam rangka mengoptimalkan

    sumber daya alam yang ada, meningkatkan kehidupan di pedesaan lebih

    produktif, mampu mempertahankan nilai-nilai budaya yang baik, mendukung

    sistem penguasaan dan tata guna lahan yang jelas, meningkatkan pendapatan

    masyarakat yang pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan

    masyarakat (Suwardane dkk., 2015).

    2.2.3 Tahapan Partisipasi

    Partisipasi adalah suatu bentuk keterlibatan dan keikutsertaan secara aktif

    dan sukarela, baik karena alasan-alasan dari dalam (intrinsik) maupun dari luar

    (ekstrinsik) dalam keseluruhan proses kegiatan yang bersangkutan, yang

    mencakup pengambilan keputusan dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian

    (pemantauan, evaluasi, pengawasan) serta pemanfaatan hasil-hasil kegiatan yang

    dicapai (Mardikanto, 2009).

    Bentuk partisipasi diatas juga didukung oleh pendapat Solekhan (2014)

    yang mengemukakan bahwa pada intinya ada 4 bentuk partisipasi masyrakat

    1. Partisipasi dalam pembuatan keputusan (participation in decision making)

    2. Partisipasi dalam pelaksanaan (participation in implementation)

    3. Partisipasi dalam menerima manfaat (participation in benefit)

    4. Partisipasi dalam evaluasi (participation in evaluation)

    Participation in decision making, participation in implementation,

    participation in benefits, and participation in evaluation (Cohen, 1992 dalam

    Remiswal, 2013). Partisipasi adalah proses pengambilan keputusan. Pengambilan

    keputusan memiliki pengertian yang luas, yaitu meliputi proses perencanaan,

    pengambilan keputusan, pelaksanaan, evaluasi serta menikmati hasil

    pembangunan itu sendiri (Levis, 1996 dalam Sriati, Hakim dan Arby, 2015).

    Partisipasi dalam pemanfaatan hasil program pembangunan sangat penting karena

    akan merangsang kemauan dan kesukarelaan masyarakat untuk berperan serta

    dalam setiap program pembangunan (Kurniawan, Soemarno dan Purnomo, 2015).

    Yadav, 1973 (dalam Mardikanto, 2009) mengemukakan tentang adanya

    empat macam kegiatan yang menunjukkan partisipasi masyarakat di dalam

    kegiatan pembangunan yaitu

  • 15

    15

    1. Partisipasi dalam pengambilan keputusan

    Pada setiap program pembangunan masyarakat termasuk di dalamnya

    pemanfaatan sumberdaya lokal dan alokasi anggarannya selalu ditetapkan sendiri

    oleh pemerintah pusat yang dalam banyak hal lebih mencerminkan sifat

    kebutuhan kelompok-kelompok kecil elit berkuasa dan kurang mencerminkan

    keinginan dan kebutuhan masyarakat banyak. Perlu adanya penumbuhan

    partisipasi masyarakat dalam pembangunan melalui dibukanya forum yang

    memungkinkan banyak berpartisipasi langsung di dalam proses pengambilan

    keputusan tentang program-program pembangunan di wilayah setempat atau di

    tingkat lokal.

    2. Partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan

    Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan harus diartikan

    sebagai pemerataan sumbangan masyarakat dalam bentuk tenaga, uang tunai atau

    beragam bentuk korbanan lainnya yang sepadan dengan manfaat yang akan

    diterima oleh masing-masing warga masyarakat yang bersangkutan. Pada

    pelaksanaan pembangunan juga diperlukan partisipasi masyarakat dalam

    pemeliharaan proyek-proyek pembangunan kemasyarakatan yang telah berhasil

    diselesaikan. Perlu adanya kegiatan khusus untuk dapat mengorganisir warga

    masyarakat guna memelihara hasil-hasil pembangunan agar manfaatnya dapat

    terus dinikmati (tanpa penurunan kualitas) dalam jangka panjang.

    3. Partisipasi dalam pemantauan dan evaluasi pembangunan

    Kegiatan pemantauan dan evaluasi program dan proyek pembangunan

    sangat perlu dilakukan. Agar tujuan dapat tercapai seperti yang diharapkan, selain

    itu juga diperlukan untuk memperoleh umpan balik tentang masalah-masalah dan

    kendala yang muncul dalam pelaksanaan pembangunan yang bersangkutan.

    Partisipasi masyarakat dalam hal ini untuk mengumpulkan informasi yang

    berkaitan dengan perkembangan kegiatan serta perilaku aparat pembangunan

    sangat diperlukan.

    4. Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan

    Partisipasi masyarakat dalam pemanfaatan hasil pembangunan adalah unsur

    yang terpenting sering dilupakan. Tujuan pembangunan adalah memperbaiki mutu

    hidup masyarakat banyak sehingga pemerataan hasil pembangunan adalah tujuan

  • 16

    16

    utama. Pemanfaatan hasil pembangunan juga akan merangsang kemauan dan

    kesukarelaan masyarakat untuk selalu berpartisipasi dalam program pembangunan

    yang akan datang.

    Partisipasi dalam pemanfaatan hasil pembangunan sering kurang

    mendapatkan perhatian dari pemerintah dan administrasi pembangunan.

    Seringkali dianggap bahwa dengan selesainya pelaksanaan pembangunan itu

    otomatis manfaatnya akan pasti dapat dirasakan oleh masyarakat sasarannya.

    Padahal, seringkali masyarakat sasaran justru tidak memahami manfaat dari setiap

    program pembangunan secara langsung sehingga hasil pembangunan yang

    dilaksanakan menjadi sia-sia.

    Menurut Cohen dan Uphoff, 1979 (dalam Irwansyah, Muhdar dan

    Jamaludin, 2014) membagi partisipasi ke dalam beberapa tahapan, yaitu sebagai

    berikut:

    1. Partisipasi dalam pengambilan keputusan yang diwujudkan dengan

    keikutsertaan masyarakat dalam rapat-rapat. Tahap pengambilan keputusan

    yang dimaksud di sini yaitu pada perencanaan dan pelaksanaan suatu

    program.

    2. Partisipasi dalam pelaksanaan yang merupakan tahap terpenting dalam

    pembangunan, sebab inti dari pembangunan adalah pelaksanaannya. Wujud

    nyata partisipasi pada tahap ini digolongkan menjadi tiga, yaitu partisipasi

    dalam bentuk sumbangan pemikiran, sumbangan materi dan bentuk

    tindakan sebagai anggota program.

    3. Tahap Evaluasi, dianggap penting sebab partisipasi masyarakat pada tahap

    ini merupakan umpan balik yang dapat memberikan masukan demi

    perbaikan pelaksanaan program selanjutnya.

    4. Tahap menikmati hasil yang dapat dijadikan indikator keberhasilan

    partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan dan pelaksanaan program.

    Selain itu, dengan melihat posisi masyarakat sebagai subjek pembangunan,

    maka semakin besar manfaat program tersebut berhasil, berarti program

    tersebut berhasil mengenai sasaran.

  • 17

    17

    2.2.4 Bentuk-bentuk Partisipasi

    Menurut Oakley, 1991 (dalam Remiswal, 2013) partisipasi dapat

    diinterpretasikan ke dalam bentuk: a. partisipasi sebagai bentuk kontribusi, berupa

    keterlibatan dan kontribusi lainnya masyarakat secara sukarela terhadap program

    pembangunan, b. partisipasi sebagai organisasi merupakan sarana bagi masyarakat

    untuk melibatkan diri dalam pembangunan c. partisipasi sebagai pemberdayaan

    adalah upaya mengembangkan keterampilan dan kemampuan masyarakat guna

    memutuskan keterlibatannya dalam pembangunan.

    Bentuk-bentuk partisipasi apabila dilihat dari proses pembangunan suatu

    program pembangunan mulai dari gagasan sampai bentuknya sebagai bangunan

    maka partisipasi itu menurut Rusidi, 2001 (dalam Solekhan, 2014) menyatakan

    ada empat dimensi dalam berpartisipasi yang terdiri dari

    1. Sumbangan pemikiran (ide gagasan)

    2. Sumbangan materi (dana, barang dan alat)

    3. Sumbangan tenaga (bekerja)

    4. Memanfaatkan dan melaksanakan pelayanan pembangunan.

    Bentuk partisipasi yang ditunjukkan masyarakat, juga berkaitan dengan

    kemauan politik (political will) penguasa untuk memberikan kesempatan kepada

    masyarakat untuk berpartisipasi. Raharjo, 1983 (dalam Mardikanto, 2009)

    mengemukakan adanya tiga variasi bentuk partisipasi yaitu

    1. Partisipasi terbatas, yaitu partisipasi yang hanya digerakkan untuk kegiatan-

    kegiatan tertentu demi tercapainya tujuan pembangunan, tetapi untuk

    kegiatan tertentu yang dianggap menimbulkan kerawanan bagi stabilitas

    nasional dan kalangan pembangunan, diatasi.

    2. Partisipasi penuh (full cale pasrtcipation) artinya partisipasi seluas-luasnya

    dalam segala aspek kegiatan pembangunan.

    3. Mobilisasi tanpa partisipasi artinya partisipasi yang dibangkitkan

    pemerintah (penguasa), tetapi masyarakat sama sekali tidak diberi

    kesempatan untuk mempertimbangkan kepentingan pribadi dan tidak diberi

    kesempatan untuk turut mengajukan tuntutan maupun mempengaruhi

    jalannya kebijaksanaan pemerintah.

  • 18

    18

    2.2.5 Faktor yang Mempengaruhi Partisipasi

    2.2.5.1 Faktor Internal

    Partisipasi seseorang terhadap suatu kegiatan atau program, terdapat faktor

    yang mempengaruhinya Menurut Solekhan (2014) faktor internal yang

    mempengaruhi partisipasi masyarakat adalah motivasi, pengetahuan, pengalaman

    individu, dan sebagainya. The respondents’ individual characteristics; age,

    marital status, level of education and income had a statistically significant

    relationship with the level of participation in the project (Kiseto, 2014).

    Karakteristik responden individu; usia, status perkawinan, tingkat pendidikan dan

    pendapatan memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan tingkat

    partisipasi dalam program (Kiseto, 2014).

    Faktor internal petani dibentuk secara nyata oleh variabel umur, pendidikan,

    luas pemilikan hutan rakyat, dan pengalaman petani (Sudrajat, Hardjanto dan

    Sundawati, 2016). Keberlangsungan petani dalam mengikuti program PUAP

    sedikit banyak dipengaruhi oleh karakteristik sosial ekonomi petani, terdapat

    perbedaan tingkat partisipasi petani dalam program PUAP di Kabupaten OKU

    berdasarkan status sosial petani, dan kegiatan pendampingan yang pernah diikuti

    petani. Sedangkan tingkat partisipasi petani tidak berbeda berdasarkan pendidikan

    petani, pelatihan yang pernah diikuti, dan sosialisasi program (Lastinawati, 2011).

    Motivasi masyarakat untuk terlibat sebagian besar karena faktor internal

    individu yaitu harapan dan keinginan untuk hidup di lingkungan desa yang indah,

    bersih dan nyaman (Kurniawan, Soemarno dan Purnomo, 2015). Sedangkan

    alasan untuk tidak terlibat, sebagian karena alasan hambatan internal individu

    masing-masing antara lain waktunya tersita untuk mencari nafkah dan persepsi

    bahwa lingkungan desa sudah baik (Kurniawan, Soemarno dan Purnomo, 2015).

    Pada penelitian ini menggunakan faktor internal umur, tingkat pendidikan,

    jenis pekerjaan, pendapatan keluarga dan luas lahan pekarangan. Menurut

    Nasution (2009) memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi

    masyarakat sebagai berikut :

    1. Komunikasi

    Masyarakat sering melakukan interaksi dan berkomunikasi dengan orang

    lain dapat menambah informasi baru yang belum mereka ketahui terkait dengan

  • 19

    19

    pelaksanaan program pembangunan. Komunikasi yang intens juga akan

    mengakrabkan masyarakat serta membuat mereka merasakan manfaat dari

    program pembangunan tersebut. Manfaat program yang mereka peroleh karena

    terjalinnya komunikasi yang baik dapat mendorong mereka untuk meningkatkan

    partisipasi.

    2. Tingkat Pendidikan

    Pendidikan yang dimiliki oleh masyarakat menjadi salah satu faktor penting

    yang mendasari masyarakat untuk berpartisipasi. Semakin tinggi pendidikan

    masyarakat maka semakin tinggi pula kesadaran masyarakat dalam pembangunan.

    Para pakar pembangunan menyatakan bahwa tingkat pendidikan berhubungan erat

    dengan tingkat partisipasi.

    3. Pekerjaan (Mata Pencaharian)

    Pekerjaan dapat dilihat berdasarkan jenis pekerjaan dan pendapatan yang

    diperolehnya. Besarnya pendapatan memberi peluang bagi masyarakat untuk

    berpartisipasi, karena penghasilan mempengaruhi kemampuan finansial

    masyarakat. Masyarakat yang memiliki kemampuan finansial baik akan bersedia

    untuk berpartisipasi dalam mensukseskan pembangunan.

    4. Usia

    Faktor usia merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi sikap

    seseorang terhadap kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ada. Mereka dari

    kelompok usia menengah ke atas dengan keterikatan moral kepada nilai dan

    norma masyarakat yang lebih mantap cenderung lebih banyak berpartisipasi dari

    pada yang dari kelompok sebaliknya.

    5. Lama Tinggal

    Lamanya tinggal seseorang dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya

    berinteraksi dengan lingkungan tersebut akan berpengaruh pada partisipasi

    seseorang. Semakin lama seseorang tinggal di lingkungannya, maka rasa memiliki

    terhadap lingkungan cenderung lebih terlihat dalam partisipasinya yang besar

    dalam setiap kegiatan lingkungan tersebut

    Faktor-faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang untuk ikut

    berpartisipasi menurut Pangestu, 1995 (dalam Anggita, 2016), yaitu

  • 20

    20

    1. Faktor Usia

    Faktor usia merupakan faktor yang mempengaruhi sikap seseorang terhadap

    kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang ada. Mereka dari kelompok usia

    menengah ke atas dengan keterikatan moral kepada nilai dan norma masyarakat

    yang lebih mantap, cenderung lebih banyak yang berpartisipasi daripada mereka

    yang dari kelompok usia lainnya.

    2. Jenis Kelamin

    Nilai yang cukup lama dominan dalam kultur berbagai bangsa mengatakan bahwa

    pada dasarnya tempat perempuan adalah “di dapur” yang berarti bahwa dalam

    banyak masyarakat peranan perempuan yang utama adalah mengurus rumah

    tangga, akan tetapi semakin lama nilai peran perempuan tersebut telah bergeser

    dengan adanya gerakan emansipasi dan pendidikan perempuan yang semakin

    baik.

    3. Pendidikan

    Pendidikan dikatakan sebagai salah satu syarat mutlak untuk berpartisipasi.

    Pendidikan dianggap dapat mempengaruhi sikap hidup seseorang terhadap

    lingkungannya, suatu sikap yang diperlukan bagi peningkatan kesejahteraan

    seluruh masyarakat.

    4. Pekerjaan dan Penghasilan

    Hal ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena pekerjaan seseorang akan

    menentukan berapa penghasilan yang akan diperolehnya. Pekerjaan dan

    pengahasilan yang baik dan mencukupi kebutuhan sehari-hari dapat mendorong

    seseorang untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan masyarakat.

    Pengertiannya bahwa untuk berpartisipasi dalam suatu kegiatan, harus didukung

    oleh suasana yang mapan dari segi perekonomiannya.

    5. Lamanya Tinggal

    Lamanya seseorang tinggal dalam lingkungan tertentu dan pengalamannya

    berinteraksi dengan lingkungan tersebut akan berpengaruh pada partisipasi

    seseorang. Semakin lama tinggal dalam lingkungan tertentu, maka rasa memiliki

    terhadap lingkungan cenderung lebih terlihat partisipasinya yang besar dalam

    setiap kegiatan lingkungan tersebut.

  • 21

    21

    1. Umur

    Menurut Yasin, 2003 (dalam Nurjannah, Yulida dan Sayamar, 2015)

    menyatakan bahwa penduduk yang memiliki umur berada pada kisaran 15-54

    tahun termasuk ke dalam golongan umur produktif, sedangkan umur 0-14 tahun

    dan >54 tahun termasuk kedalam golongan umur tidak produktif. Umur petani

    yang masih tergolong produktif memungkinkan untuk mengadopsi suatu inovasi

    baru sehingga kelompok bisa berkembang dan dinamis (Lestari, Yulida dan

    Kausar, 2015). Toha dan Asmoro, 2009 (dalam Yani, 2013) bahwa usia 30–60

    tahun termasuk masa pertengahan kedewasaan (middle age), pada rentang usia ini

    manusia mencapai puncak interaksi dalam masyarakat.

    2. Tingkat pendidikan

    Pendidikan formal dan pengetahuan anggota kelompok tani yang rendah

    dapat mempengaruhi pola pikir, kemampuan dan wawasan petani serta

    memungkinkan kelompok tani yang ada sulit untuk berkembang (Lestari, Yulida

    dan Kausar, 2015). Umumnya orang yang berpendidikan tinggi di pedesaan

    cenderung berperan dalam kehidupan sosial, sehingga sering terlibat dalam urusan

    kemasyarakatan ( Yani, 2013).

    3. Penerimaan

    Penerimaan petani merupakan gambaran umum mengenai keadaan

    perekonomian suatu rumah tangga. Luas lahan dan pekerjaan sampingan

    mempengaruhi penerimaan anggota kelompok tani (Lestari, Yulida dan Kausar,

    2015). Partisipasi masyarakat terutama golongan kurang mampu cukup tinggi,

    baik dalam keikutsertaannya di dalam kelembagaan maupun dalam pengambilan

    keputusan, hal ini disebabkan karena didapatkan manfaat baik secara ekonomi

    maupun sosial (Hastuti, 2009).

    4. Luas Lahan

    Luas lahan merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting bagi

    petani. Besar kecilnya lahan mempengaruhi penerimaan yang diperoleh dari

    produk yang dihasilkan (Lestari, Yulida dan Kausar, 2015). Luasan lahan

    merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi partisipasi. Menurut Mardikanto

    (2009), semakin luas lahan biasanya semakin cepat mengadopsi inovasi, karena

    memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik. Luas pemilikan lahan erat

  • 22

    22

    hubungannnya dengan kesediaan petani untuk menerapkan teknologi (Faqih,

    2011).

    2.2.5.2 Faktor Eksternal

    Partisipasi seseorang terhadap suatu kegiatan atau program, terdapat faktor

    yang mempengaruhinya. Menurut Solekhan (2014) faktor eksternal yang

    mempengaruhi partisipasi masyarakat adalah peran stakeholders, kondisi sosial,

    politik dan budaya. Hal ini diperkuat dengan pernyataan Kurniantara dan

    Pratikno, 2005 (dalam Anggita, 2016) yang menyatakan faktor eksternal dapat

    dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti:

    1. Kepemimpinan kepala desa, tipe kepemimpinan dan pola kepemimpinan

    akan berpengaruh terhadap keikutsertaan petani dalam suatu program

    2. Peranan organisasi lokal akan berpengaruh dalam pembangunan desa. Salah

    satu lembaga organisasi desa adalah Lembaga Kemasyarakatan Desa

    (LKMD) yang memiliki fungsi sebagai lembaga korporatis dan lembaga

    untuk penyaluran aspirasi masyarakat.

    3. Peranan pemerintah desa. Peranan pemerintah desa mengalami perubahan

    pada masa sentralistik dan masa desentralistik. Pada masa otonomi desa,

    pemerintah lebih mengembangkan pola hubungan yang fasilitatif dengan

    memberikan ruang publik bagi masyarakat untuk berpartisipasi

    Para local campion (orang/warga yang mempunyai atensi besar terhadap

    program misalnya Kepala Desa, Ketua Kelompok Tani, Ketua Wanita Tani

    (KWT), dan ketua PKK) di wilayah KRPL merupakan sinyal positif yang harus

    sambut dan diperdayakan dengan baik (BPTP Jatim, 2012). Faktor eksternal

    petani (penyuluhan, kelompok tani, dan akses informasi) memberikan pengaruh

    nyata terhadap rendahnya partisipasi pengelolaan hutan rakyat. Penyuluhan dan

    pertemuan kelompok kendati masih berlangsung relatif jarang, telah menjadi

    sarana transfer pengetahuan bagi petani (Sudrajat, Hardjanto dan Sundawati,

    2016).

    Tingkat partisipasi masyarakat dipengaruhi oleh program pembangunan,

    kondisi sosial ekonomi masyarakat dan kondisi fisik geografis lingkungan.

    Kondisi sosial ekonomi antara lain meliputi tingkat pendidikan, pendapatan,

    kultur dan strata sosial dalam sistem kemasyarakatan. Program pembangunan

  • 23

    23

    ialah kegiatan yang disusun dan direncanakan oleh pemerintah, berupa organisasi

    masyarakat dan strategi kebijaksanaan. Kondisi fisik geografis lingkungan

    misalnya waktu dan jarah tempuh, akses transportasi dan lain-lain. Tokoh

    masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, pimpinan desa/kelurahan merupakan

    komponen yang sangat berpengaruh dalam menggerakkan partisipasi masyarakat

    (Saptorini, 2003 dalam Kurniawan, Soemarno dan Purnomo, 2015).

    2.2.6 Syarat Tumbuh Partisipasi

    Partisipasi dapat terwujud jika struktur kelembagaan memungkinkan warga

    untuk berpartisipasi dan memutuskan persoalan mereka sendiri, dan adanya

    keterwakilan masyarakat secara proporsional di dalam setiap proses pengambilan

    kebijakan atas nama kepentingan bersama. Oleh karena itu partisipasi masyarakat

    harus didasarkan pada 1. Pembuatan keputusan 2. Penerapan keputusan 3.

    Menikmati hasil dan 4. Evaluasi hasil (Solekhan, 2014).

    Slamet, 1985 (dalam Mardikanto, 2009) menyatakan bahwa tumbuh dan

    berkembangnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, sangat ditentukan

    oleh 3 unsur pokok yaitu

    1. Adanya kesempatan yang diberikan kepada masyarakat untuk berpartisipasi

    2. Adanya kemauan masyarakat untuk berpartisipasi

    3. Adanya kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi

    Sedangakan Remiswal (2013) mengemukakan persyaratan bagi model

    partisipasi yang menggairahkan masyarakat adalah

    1. Pemikiran kreatif di kalangan pelaku pembangunan (pemerintah dan

    masyarakat

    2. Bertoleransi dan berfikir positif di kalangan para pelaksana atas kritikan

    masyarakat bawah

    3. Membudayakan sikap dan perilaku mengakui kesalahan dalam

    merencanakan pembangunan daerah

    4. Bekerja atas rancangan dasar skenario

    5. Menciptakan sistem evaluasi pembangunan atas dasar kemampuan rakyat

    untuk mandiri terhadap permasalahan dan solusinya.

  • 24

    24

    2.2.7 Masalah-masalah Partisipasi

    Soetrisno, 1995 (dalam Mardikanto, 2009) mengidentifikasi beberapa

    masalah kaitannya dengan pengembangan partisipasi masyarakat dalam

    pembangunan yaitu

    1. Masalah pertama dan terutama dalam pengembangan partisipasi masyarakat

    adalah belum dipahaminya makna sebenarnya tentang partisipasi oleh pihak

    perencana dan pelaksana pembangunan.

    2. Masalah kedua adalah dengan dikembangkannya pembangunan sebagai

    ideologi baru yang harus diamankan dengan dijaga ketat, mendorong aparat

    pemerintah bersifat otoriter. Kondisi seperti itu dapat menimbulkan reaksi

    balik berupa “budaya diam” yang pada gilirannya menumbuhkan

    keengganan masyarakat untuk berpartisipasi karena dianggap “asal beda”

    atau “waton suluyo”.

    3. Masalah ketiga adalah banyaknya peraturan yang meredam keinginan

    masyarakat untuk berpartisipasi.

    Hal ini didukung oleh pendapat dari Remiswal (2013) yang mengemukakan

    bahwa pelaksanaan partisipasi sering terkendala oleh hambatan struktural,

    hambatan administratif dan hambatan sosial. Hambatan struktural dapat berbentuk

    situasi politik negara seperti masalah ideologi yang tertutup, sistem politik yang

    terpusat bukan desentralistik, tekanan di antara kebijakan yang diputuskan pusat

    dan daerah, tekanan terhadap kebijakan ekonomi dan politik dan hukum yang

    banyak aturan. Hambatan administratif terkait dengan sistem pemerintahan yang

    sentralistik, maka sistem administrasinya pun terpusat. Akibatnya pengendalian

    pengambilan keputusan, alokasi sumber dan informasi dan pengetahuan terpusat,

    pencegah terjadinya keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam melakukan asisteni

    administrasi. Termasuk pula perencanaan terpusat dapat melemahkan partisipasi

    masyarakat dalam pembangunan. Hambatan sosial berkaitan dengan sikap mental

    yang terjajah selama ini, terutama pada masyarakat di negara-negara berkembang.

    Yang mana elit politik mendominasi wilayah pedesaan serta kurangnya partisipasi

    perempuan dalam pembangunan

    Apabila dikelompokkan paling tidak ada lima kendala dalam pelaksanaan

    KRPL yakni sumber daya alam, sumber daya manusia, kelembagaan, akses

  • 25

    25

    teknologi, dan stake holders (BPTP Jatim, 2012). Berdasarkan data perkembangan

    KRPL di masing-masing Kabupaten/Kota, telah dapat diidentifikasi atau direkam

    kendala-kendala yang muncul terkait dengan SDM. Paling tidak ada empat

    kendala antara lain: waktunya tidak cukup karena mempunyai lahan yang luas

    selain di pekarangan, kekurangan tenaga kerja untuk memelihara tanaman/ternak,

    motivasi menurun/jenuh, dan pengetahuan terbatas terhadap teknologi pertanian

    tertentu (BPTP Jatim, 2012). Sejumlah kendala terkait masalah sosial, budaya dan

    ekonomi masih dijumpai dalam program pemanfaatan lahan pekarangan,

    diantaranya belum membudayanya budidaya pekarangan secara intensif, masih

    bersifat sambilan dan belum berorientasi pasar, kurang tersedianya teknologi

    budidaya spesifik pekarangan, serta proses pendampingan dari petugas yang

    belum memadai (Ashari, Saptana dan Purwantini, 2012).

    Mengatasi hambatan partisipasi, menurut Soetrisno, 1995 (dalam Remiswal,

    2013) maka langkah awalnya adalah

    1. Adanya dasar-dasar desentralisasi yang memperbesar peranan budaya lokal

    dalam pembangunan

    2. Adanya kerelaan-kerelaan berkorban bagi pembangunan.

    2.2.8 Tipologi Partisipasi

    Mardikanto (2009) mengemukakan ada 7 tipologi partisipasi yaitu

    partisipasi pasif, informatif, konsultatif, insentif, fungsional, interaktif dan

    mobilization. Berikut akan dijelaskan lebih rinci masing-masing tipologi

    partisipasi tersebut.

    Tabel 1. Tipologi Partisipasi

    No Tipologi Karakteristik

    1. Partisipasi

    Pasif/Manipulatif

    a. Masyarakat diberitahu apa yang sedang atau

    telah terjadi

    b. Pengumuman sepihak oleh pelaksana proyek

    tanpa memperhatikan tanggapan masyarakat

    c. Informasi yang dipertukarkan terbatas pada

    kalangan profesional di luar kelompok

    sasaran

    2. Partisipasi Informatif a. Masyarakat menjawab pertanyaan-pertanyaan

  • 26

    26

    penelitian

    b. Masyarakat tidak diberi kesempatan untuk

    terlibat dan mempengaruhi proses penelitian

    c. Akurasi hasil penelitian tidak dibahas

    bersama masyarakat

    3. Partisipasi

    Konsultatif

    a. Masyarakat berpartisipasi dengan cara

    berkonsultasi

    b. Orang luar mendengarkan, menganalisis

    masalah dan pemecahannya

    c. Tidak ada peluang untuk pembuatan

    keputusan bersama

    d. Para profesional tidak berkewajiban untuk

    mengajukan pandangan

    e. Masyarakat (sebagai masukan) untuk

    ditindaklanjuti

    4. Partisipasi Insentif a. Masyarakat memberikan korbanan/jasanya

    untuk memperoleh imbalan berupa

    insentif/upah

    b. Masyarakat tidak dilibatkan dalam proses

    pembelajaran atau eksperimen-eksperimen

    yang dilakukan

    c. Masyarakat tidak memiliki andil untuk

    melanjutkan kegiatan-kegiatan setelah

    insentif dihentikan

    5. Partisipasi

    Fungsional

    a. Masyarakat membentuk kelompok untuk

    mencapai tujuan proyek

    b. Pembentukan kelompok (biasanya) setelah

    ada keputusan-keputusan utama yang

    disepakati

    c. Pada tahap awal, masyarakat tergantung

    kepada pihak luar, tetapi secara bertahap

    menunjukkan kemandiriannya

  • 27

    27

    6. Partisipasi Interaktif a. Masyarakat berperan dalam analisis untuk

    perencanaan kegiatan dan pembentukkan atau

    penguatan kelembagaan

    b. Cenderung melibatkan metode interdisipliner

    yang mencari keragaman perspektif dalam

    proses belajar yang terstruktur dan sistemik

    c. Masyarakat memiliki peran untuk mengontrol

    atas (pelaksanaan) keputusan-keputusan

    mereka, sehingga memiliki andil dalam

    keseluruhan proses kegiatan

    7. Self Mobilization

    (Mandiri)

    a. Masyarakat mengambil inisiatif sendiri

    secara bebas (tidak dipengaruhi oleh pihak

    luar) untuk mengubah sistem atau nilai-nilai

    ynag mereka miliki

    b. Masyarakat mengembangkan kontak dengan

    lembaga-lembaga lain untuk mendapatkan

    bantuan-bantuan teknis dan sumberdaya yang

    diperlukan

    c. Masyarakat memegang kendali atas

    pemanfaatan sumberdaya yang ada atau

    digunakan

    2.3 Tinjauan tentang Program P2KP

    Sejak tahun 2010 Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan Pangan

    sesungguhnya telah melaksanakan kegiatan Percepatan Penganekaragaman

    Konsumsi Pangan (P2KP) yang juga merupakan perwujudan dari Peraturan

    Presiden Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Kebijakan Percepatan

    Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal, yang

    ditindaklanjuti oleh Peraturan Menteri Pertanian Nomor 43 Tahun 2009 Tentang

    Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya

    Lokal. Peraturan tersebut merupakan acuan untuk mendorong upaya

    penganekaragaman konsumsi pangan dengan cepat melalui basis kearifan lokal

  • 28

    28

    serta kerja sama terintegrasi antara pemerintah, pemerintah daerah, dan

    masyarakat. Di tingkat provinsi, kebijakan tersebut telah ditindaklanjuti melalui

    surat edaran atau Peraturan Gubernur (Pergub), dan di tingkat kabupaten/kota

    ditindaklanjuti dengan surat edaran atau Peraturan Bupati/Walikota

    (Perbup/Perwalikota) (Juknis P2KP, 2016).

    Sebagai bentuk keberlanjutan Gerakan Percepatan Penganekaragaman

    Konsumsi Pangan (P2KP) Berbasis Sumber Daya Lokal diimplementasikan

    melalui kegiatan: (1) Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan melalui konsep

    Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), (2) Model Pengembangan Pangan

    Pokok Lokal (MP3L), serta (3) Sosialisasi dan Promosi P2KP. Sebelum tahun

    2016 kegiatan ini dibiaya dari dana Bantuan Sosial, namun untuk tahun 2016

    dibiayai dengan dana bantuan pemerintah. Melalui tiga kegiatan besar ini

    diharapkan dapat meningkatkan kualitas konsumsi pangan masyarakat untuk

    membentuk pola konsumsi pangan yang baik (Juknis P2KP, 2016).

    Secara umum tujuan program P2KP berdasarkan Juknis P2KP (2016),

    adalah untuk menfasilitasi dan mendorong terwujudnya pola konsumsi pangan

    masyarakat yang Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA) yang

    diindikasikan dengan meningkatnya skor Pola Pangan Harapan (PPH). Tujuan

    Khusus Kegiatan P2KP antara lain

    1. Meningkatkan partisipasi kelompok wanita dalam penyediaan sumber

    pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan

    sebagai penghasil sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral.

    2. Mendorong pengembangan usaha pengolahan pangan skala Usaha Mikro

    Kecil dan Menengah (UMKM) sumber karbohidrat selain beras dan terigu

    yang berbasis sumber daya dan kearifan lokal.

    3. Meningkatkan kesadaran, peran, dan partisipasi masyarakat dalam

    mewujudkan pola konsumsi pangan B2SA serta mengurangi ketergantungan

    terhadap bahan pangan pokok beras. Melalui program P2KP dimaksudkan

    dapat meningkatkan kualitas konsumsi pangan nasional masyarakat

    dikarenakan skor Pola Pangan Harapan (PPH) yang belum mencapai target

    yaitu 95.

  • 29

    29

    Mengacu pada tujuan di atas, menurut Juknis P2KP (2016) sasaran kegiatan

    P2KP ialah:

    1. Peningkatan pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan dan gizi untuk

    memenuhi kebutuhan keluarga.

    2. Perkembangnya usaha pengolahan pangan skala UMKM sumber

    karbohidrat selain beras dan terigu yang berbasis sumber daya dan kearifan

    lokal.

    3. Peningkatan kesadaran dan peran serta masyarakat dalam mewujudkan pola

    konsumsi pangan B2SA serta menurunnya tingkat ketergantungan

    masyarakat terhadap bahan pangan tertentu dengan pemanfaatan pangan

    lokal.

    Kegiatan P2KP tahun 2016 dilaksanakan dengan sasaran lokasi sebagai

    berikut:

    1. Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan Melalui Konsep KRPL di

    dilaksanakan di 34 provinsi yang terdiri dari:

    a. 2.873 desa lanjutan tahun 2015 di 256 kabupaten/kota

    b. 2.012 desa baru tahun 2016 di 139 kabupaten/kota

    2. Model Pengembangan Pangan Pokok Lokal (MP3L) dilaksanakan di 16

    provinsi yang terdiri dari :

    a. 26 kabupaten lanjutan tahun 2015

    b. 3 kabupaten baru tahun 2016

    3. Sosialisasi dan Promosi P2KP dilaksanakan di 34 provinsi (Juknis P2KP,

    2016).

    Keberhasilan kegiatan P2KP akan tercermin dari indikator berikut:

    1. Jumlah kelompok wanita yang berpartisipasi dalam pemanfaatan

    pekarangan untuk penyediaan pangan keluarga yang B2SA

    2. Jumlah usaha pengolahan pangan lokal berbasis tepung-tepungan dan

    penyediaan pangan sumber karbohidrat dari bahan pangan lokal yang

    dikembangkan

    3. Jumlah provinsi yang berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan promosi

    P2KP.

  • 30

    30

    2.4 Tinjauan tentang Program Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Pekarangan

    melalui Konsep KRPL

    2.4.1 Pengertian KRPL

    Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) adalah sebuah konsep lingkungan

    perumahan penduduk yang secara berama-sama mengusahakan pekarangannya

    secara intensif untuk dimanfaatkan menjadi sumber pangan secara berkelanjutan

    dengan mempertimbangkan aspek potensi wilayah dan kebutuhan gizi warga

    set