pabrik gula hindia belanda

Download PABRIK GULA HINDIA BELANDA

Post on 08-Feb-2016

258 views

Category:

Documents

17 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

dokumen: slamet sulaimanfarmer at darussalam foundation

TRANSCRIPT

  • PABRIKGULAHINDIABELANDA.

    (BABIV)

  • IV. Pabrik gula besar dahulu dan sekarang. Sejarah Pabrik Gula Besar di Indonesia.

    Sebagai acuan dan untuk lebih memperluas pandangan, sekilas kita kaji dan amati bagaimana Indonesia memulai industri gulanya dengan pabrik gula besar yang pernah menghantar Indonesia sebagai exporter gula terbesar didunia, dan dari semua buku maupun Handbook of sugar manufacture/ proses/ machinery selalu menjadikan industri gula di Java menjadi acuan atau dengan kata lain mereka belajar dari Indusri Gula Indonesia (Jawa). 4.1.Pabrik gula di Indonesia (abad 17 - 18 - 19).

    Perkembangan penggilingan atau pengepresan tebu di Jawa, secara agak besar dimulai pertama kali pada pertengahan abad-17 di dataran rendah Batavia, dikelola oleh orang-orang Cina. Kemudian di awal abad-19 muncul industri gula modern di Pamanukan-Ciasem, Jawa Barat, yang dikelola oleh para pedagang-besar dari Inggris. Yang karena kesalahan lokasi hanya bertahan satu dasawarsa (kekurangan tenaga kerja) . Kehancuran industri gula Inggris (Pamanukan-Ciasem) digantikan industri gula Belanda dalam kurun cultuurstelsel. VOC mulai melakukan pengiriman gula Batavia sejak 1637 ke Eropa, dengan jumlah ekspor per tahun lebih dari 10.000 pikul. 130 buah penggilingan pada tahun 1710 , dengan produksi rata-rata setiap penggilingan sekitar 300 pikul. tahun 1745 terdapat 65 penggilingan, sedang pada 1750 naik menjadi 80, dan diakhir abad ke-18 merosot tinggal 55 penggilingan yang memasok sekitar 100.000 pikul gula.

    Bab IV -1

  • Bentuk dan tehnologi pengepres tebu ini, hanya terdiri dari dua buah silinder batu atau kayu yang diletakkan berhimpitan, dengan salah satu selinder diberi tonggak sedang pada ujung tonggak diikatkan ternak, atau digunakan tenaga manusia (digerakkan secara manual) untuk memutar selinder. Sementara itu pada salah satu sisi pengepres biasanya satu orang atau lebih memasokkan tebu. Kemudian hasil pengepresan dialirkan ke kuali besar yang terletak tepat di bawah selinder. Mudah pengoperasiannya dan dapat dipindah-pindahkan menurut kebutuhan. Di masa panen tebu, penggilingan-penggilingan ini akan dibawa menghampiri kebun yang sedang panen.

    Harga kuda lebih mahal dibanding sapi atau kerbau

    Mesin pabrik gula ( 1830).

    Industri gula di Jawa Barat didukung oleh modal besar, dengan menggunakan mesin-mesin impor yang sebelumnya tidak pernah digunakan di Jawa, seperti bisa dilihat dalam salah satu surat Jessen Trail and Company ditujukan kepada NHM (Bank Tempo doeloe) yg mengatakan:

    In embarking on the enterprises we now have on hand, we were sensible of the

    deficiency of the rude and imperfect machinery by which the manufacture of sugar

    was carried on here, and therefore determined to import European machinery, with

    skilful men to conduct the same We now have [1826] three distinct sets of mills,

    Bab IV -2

  • where we employ a European horizontal mill with three cylinders, driven by a six

    horsepower steam engine; a European eight horse-power mill, with three cylinders,

    worked by cattle, and three auxilliary stone perpendicular mills, also worked by

    cattled, with six complete sets of iron boilers and iron and copper clarifiers; as also

    three distilleries, comprising six European copper stills ... and a suitable complement

    of fermenting systems for distilling the molasses into Arak and Rum.

    Sejak tahun 1830 di Pekalongan terdapat tiga buah pabrik gula yang beroperasi untuk menggiling tebu-tebu gubernemen, dua diantaranya dioperasikan oleh orang-orang Tionghoa, yaitu oleh Gou Kan Tjou di desa Wonopringo dan Tan Hong Jan di desa Klidang. Sedang yang ketiga dioperasikan oleh Alexander Loudon, seorang bekas pedagang besar Inggris yang dilibatkan kerja administratif dalam kurun pasca Raffles. Loudon menjadi fabriekant di pabrik gula Karanganjar, kabupaten Pemalang. Loudon selain membangun pabrik di Pemalang, juga bersama De Sturler dan Verbeek membangun pabrik gula Poegoe dan Gemoe di Kendal pada tahun 1835-36.Namun karena keterbatasan informasi untuk ketiga pabrik gula di atas maka pembicaraan lebih diarahkan pada tiga buah pabrik modern yang didirikan sekitar tahun 1837-1838 yaitu Wonopringo, Sragie, Kalimatie. Ketiga pabrik gula di Pekalongan ini memakai lahan sawah untuk tebu seluas sekitar 1500 bau, pabrik Sragie dun Kaliematie masing-masing menggunakan 400 bau, dan Wonopringo, yang terbesar, memakai 700 bau lahan sawah (1ha=1,5 bau) .Tenaga kerja dari buuruh pribumi yang diikat dengan kontrak, Kontrak-kontrak gula gubernemen tersebut mengikat petani untuk bekerja tanpa batas waktu yang tegas:

    Bab IV -3

  • kontract iki bakal kanggo setaun, atawa saingga kongsi rolas taun, apa kersane kandjeng

    gupernemen.

    Sedang kerja-kerja yang terkait dalam kontrak tersebut meliputi: Sakabehe pegawejan ing dalem panggilingan sarta ing dalem kebon atawa nebang tebu,

    amek kaju bakar, iku uwong-uwong amesthi anglakoni pegawejan iku.

    Varietas tebu yang ditanam merupakan jenis terbaik, dengan kadar rendemen (kadar gula dalam tebu) tinggi yang hanya dihasilkan oleh tebu yang dikenal dengan sebutan zwarte Cheribonriet (Tebu Hitam dari Cirebon), mulai digunakan sistem Reynoso tahun 1863, para buruh tebang (rappoe) bisa menghasilkan antara 30 hingga 50 ikat/ kolong tebu (atau antara 750 hingga 1.250 batang tebu). Panen setiap tahun, untuk setiap bau tidak mencapai 25 pikul. Jumlah yang sering didapat dalam setiap panennya antara 17 hingga 22 pikul. Setiap hari, selama musim panen dan giling, pabrik memerlukan 40 hewan penarik beserta tukang gerobak. Panen tebu 1850-1865. Tahun Wonopringo Sragie Kalimatie Total 1850 11.204 9.462,44 8.724,24 29.390,68 1851 13.759,80 9.635,12 8.950 32.344,92 1852 8.892,50 7.212,50 6.120 22.225 1853 14.324,88 7.381,60 10.292,86 31.994,34 1854 21.518,16 10.282,16 9.550,13 41.350,57 1855* 24.441 9.161 12.591 46.193 1856 25.729,32 9.445,95 12.163 47.338,27 1857 29.933 12.850,11 11.000 53.783,11 1858 33.333,96 12.700 13.363 59.396,96 1860 31.994,26 11.867,78 14.250 58.476,46 1861 31.927,59 9.043,87 13.505 54.476,46 1862 27.792,92 11.540,97 15.500 54.834,89 1865 40.869,55 11.638,24 27.000 79.507,79 Sumber: Jaarlijks Rapporten van de Residentie Pekalongan, 1834-1865. (AC1624) Satuan pikoel.

    Bab IV -4

  • 4.2.Pabrik gula abad 20 (1934)

    Suikerfabriek Pangka

    Bab IV -5

  • Suikerfabriek Tjomal

    Bab IV -6

  • Kemlangen SF

    Kedawoeng SF

    Bab IV -7

  • Suasana suikerfabriek

    Bab IV -8

  • Dari laporan Proefstation Voor De Java Suikerindustrie Jaargang 1934 didapatkan data data performance pabrik gula sbb: Pabrik dan performancenya (untuk per pabrik dalam tabel terlampir).

    Tahun Ton tebu/ha Gula ton/ha Rendemen %

    1933 132.0 15.58 11.80

    1932 133.7 14.99 11.21

    Statiun pemerahan. Statiun pemerahan atau tandem mill belum sehebat sekarang, masih menggunakan rangkaian 3 unit gilingan dengan ukuran 30 x 60 atau satu crusher dengan 3 dan 4 gilingan ukuran bervariasi dari diameter 24 sampai 34 dengan pamjang bervariasi dari 60 sampai 78 atau dengan 2 unit crusher diikuti dengan 3 atau 4 gilingan atau dengan meinecke diikuti dengan serangkaian gilingan (rincian per pabrik pada tabel terlampir).

    Preparator Jumlah mill unit

    Ukuran mill D X L

    Ton tebu/jam

    Imbibissi % tebu

    Brix (Voor persap)

    Purity

    _ 3 30 x 60 32.2 20.4 17.8 84.8

    _ 4 30 x 60 34.9 17.6 19.0 87.4

    Crusher 4 30 x 60 45.9 17.5 18.9 87.2

    Crusher 4 32 x 72 60.8 18.2 18.8 86.7

    Crusher 4 34 x 78 70.4 18.2 19.9 87.5

    Crusher 4 36 x 84 83.2 14.9 20.7 88.8

    _ 5 32 x 72 46.3 18.3 18.9 86.6

    Crusher 5 30 x 60 54.5 21.6 19.0 86.8

    Crusher 5 32 x 68 46.8 17.5 18.4 85.6

    Crusher 6 36 x 84 96.9 14.0 19.3 89.6

    Bab IV -9

  • Bagi pelaku industri gula pasti menarik kesimpulan bahwa statiun pemerahan saat ini jauh lebih sempurna dibanding masa lalu, tetapi performance pemerahan sangat dibawah masa lalu dan kesimpulan yang dapat diambil adalah karna kwalitas tebu masa lalu dan managemen tebang angkut masa lalu sangat jauh lebih baik dari masa kini.

    Gilingan tahun 1930

    Volume tangki pengendap , luas filter, juice heater, verdamper, pan masakan dan kristaliser per 100 tcd. Defikasi

    Thn Tangki endap (Hl)

    Filter (m2)

    Juice heater ( HS - m2)

    Verdamper (HS - m2)

    Pan masak (HS - m2)

    Cristaliser (Hl)

    33 81 38 34 30 116 30 145

    32 77 27 33 32 113 33 159

    Bab IV -10

  • Sulphitasi

    Thn Tangki endap (Hl)

    Filter (m2)

    Juice heater ( HS - m2)

    Verdamper (HS - m2)

    Pan masak (HS - m2)

    Cristaliser (Hl)

    33 83 34 34 120 38 166

    32 81 21 34 - 16 33 118 39 159

    Carbonatasi

    Thn Tangki endap (Hl)

    Filter (m2)

    Juice heater ( HS - m2)

    Verdamper (HS - m2)

    Pan masak (HS - m2)

    Cristaliser (Hl)

    33 29 - 13 28 133 35 167

    32 29 - 13 27 126 34 171

    Tabel diatas menunjkkan bahwa pemurnian masa lalu dilakukan sangat sederhana, belum ditemukan bahan pembantu ntuk mempercepat pengendapan (polymer baru dikembangkan tahun 1950), belumditemukan alat control pH (pH ajuster), belum diterapkan continous clarifier yang ada adalah tangki pengendap (bezinking kasten) dengan operasi terputus. Sistem penapisan nira kotor masih belum menggunakan rotary vacuum filter masih menggunakan filter model kuno Plate and frame clotch filter. Sentrifugal separator vertical 30 x 18 unit per tcd

    Ukuran D x H Defikasi Sulphitasi Carbonatasi

    30 x 18 2.50 3.73 3.68

Recommended

View more >