omo hada murni

Download Omo Hada Murni

If you can't read please download the document

Post on 27-Jun-2015

704 views

Category:

Documents

13 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

OMO HADA RUMAH TRADISIONAL TAHAN GEMPA NIASTUGAS UTS Mata Kuliah Arsitektur Vernakular Semester Gasal Tahun Akademik 2010/2011 Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Untag Surabaya

Oleh

Muzakki Ahmad440901594

JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SURABAYANovember 2010

1

A. GAMBARAN UMUM PULAU NIAS Pulau Nias terletak di antara 0 12 - 1 32 LU dan 97 - 98 BT. Kepulauan Nias yang terdiri dari empat kabupaten ini terdiri dari sebuah pulau yang cukup besar yaitu pulau Nias dan 131 pulau kecil. Pada awal 2009, sebanyak 37 pulau telah dihuni manusia dan 95 pulau sisanya belum dihuni. Luas Pulau Nias 5.625 km atau sekitar 7,82 % luas Sumatra Utara secara keseluruhan. Berada di bagian barat daya Provinsi Sumatra Utara dan berjarak 85 mil laut dari Pelabuhan Sibolga di daratan Pulau Sumatra. Topografi Pulau Nias berupa bukit-bukit sempit dan terjal serta pegunungan yang memiliki ketinggian hingga 800 meter di atas permukaan laut. Bagian wilayahnya yang berupa dataran rendah sampai bergelombang mencapai jumlahan 24%, tanah bergelombang sampai berbukit 28,8%, sedangkan tanah berbukit sampai pegunungan mencapai 51,2% dari seluruh luas dataran. Dataran rendah terdapat di bagian tepi pulau, dan sebagian tepi Pulau Nias tersebut merupakan tebing karang yang menyulitkan pencapaiannya dari arah laut. Daerah perbukitan berada di bagian tengah pulau. Keadaan iklim Pulau Nias yang merupakan daerah rawan gempa ini dipengaruhi Samudra Indonesia. Curah hujan tinggi dan relatif turun sepanjang tahun serta sering kali disertai badai besar. Musim badai biasanya berkisar antara bulan April - Oktober, tetapi kadang-kadang terjadinya badai pada bulan-bulan lainnya. Sering kali terjadi perubahan cuaca secara mendadak. Mengikut pencacahan yang dilakukan Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias (1977) diketahui bahwa wilayah di Samudra Indonesia ini memiliki curah hujan yang tinggi, rata-rata mencapai 3.145,1 milimeter per tahun, dan dengan

2

banyak hujan mencapai 273 hari per tahun. Besarnya curah hujan ini menyebabkan kondisi alamnya lembab dan basah, suhu udara berkisar antara 14,3 - 30,4 C dengan kelembaban sekitar 80 - 90 % dan kecepatan angin antara 5-6 knot. Struktur geologis yang labil, dengan curah hujan tinggi menyebabkan sering terjadinya banjir bandang yang diikuti berpindah-pindahnya aliran sungai. B. SEJARAH MASYARAKAT NIAS Antara tahun 851 dan 1154, orang-orang asli Pulau Nias yang menyebut dirinya Ono Niha yang berarti keturunan manusia pertama terkenal sebagai kanibal dan pemburu kepala manusia. Mereka yang menyebut tanah airnya Tano Niha ini memiliki banyak emas dan sangat menghargai mayat leluhurnya. Sekitar 500 tahun kemudian, kebudayaan Nias yang dikenal saat ini ditularkan oleh sekelompok imigran asal China yang membawa kemajuan bagi masyarakat Nias di beberapa bidang antara lain arsitektur, pertukangan, pertanian, peternakan, tenunan, juga kemajuan dalam hal kebudayaan megalitik, patung, silsilah, dan kasta.

3

Pada saat ini, puing-puing kebudayaan Megalitikum yang sangat tua dan eksotis masih banyak terdapat di pulau ini seperti ukiran batu, kayu, dan logam. Nias merupakan pulau dengan peradaban paling tua dan terisolir dibanding pulau-pulau lain di perairan Hindia. C. KEBUDAYAAN MASYARAKAT NIAS Berikut ini adalah beberapa kebudayaan masyarakat Nias : Mata pencaharian penduduk pada umumnya adalah bertani dan berkebun yang menghasilkan antara lain; padi, jagung, ketela, rambat, nilam, pisang, nanas, jeruk, durian, langsat, mangga, karet, kelapa, kopi, cengkeh, coklat, dan lainnya. Masyarakat Nias sangat lekat dengan kegiatan adat. Mendirikan rumah, selesai membangun rumah, saat melahirkan, prosesi melamar, menikahkan anak hingga meninggal, semua diatur dalam acara adat. Kegiatan-kegiatan adat tersebut dilakukan di dalam rumah sehingga rumah adat Nias merupakan titik sentral setiap kegiatan adat. Mengutamakan prinsip kegotong-royongan. Atraksi lompat batu sebagai test kedewasaan pria Nias. Hukum yang berlaku di Nias adalah hukum penggal bagi seseorang yang terbukti bersalah. Kemudian tengkoraknya dikubur di dalam batu yang diletakkan di halaman rumah. Orang yang meninggal secara wajar, tulangnya disimpan hingga busuk, baru kemudian disimpan dalam batu.

4

Untuk menghormati orang tua yang sudah meninggal, biasanya seorang anak akan membuat patung orang tuanya dan diletakkan di depan rumah. Sangat suka beternak babi dengan dibiarkan berkeliaran di halaman rumah layaknya memelihara kucing dan anjing. D. GAMBARAN UMUM OMO HADA Dalam sebuah perkampungan Nias, terdapat dua jenis rumah dapat dijumpai yaitu rumah untuk warga biasa atau "Omo Pasisir" dan rumah adat/tradisional yang dikenal sebagai Omo Hada. Omo Hada inilah yang menjadi tempat tinggal raja atau kepala suku (tuhenori/salawa). Berikut ini adalah beberapa gambaran umum Omo Hada : Tiang-tiang kayu bulat besar dan keras sebagai kolom-kolom struktur utama yang cukup tinggi berdasarkan pengalaman sejarah suku Nias yang bertempat tinggal di bukit bahwa tempat perlindungan (rumah) terbaik adalah memakai tiang tinggi. Selain itu kolong rumah bisa meredam kelembaban yang tinggi. Selain itu terdapat tiang penyangga saling menyilang sebagai penyangga rumah dari terpaan angin yang kuat di Pulau Nias yaitu antara 5-6 knot. Tiang-tiang tersebut tidak ditancapkan ke tanah melainkan ditumpukan pada umpak. Sambungan sistem pasak digunakan untuk membuat ikatan sendi dan rol antar kolom yang menjadikan bangunan ini tahan gempa. Ukuran bangunan yang besar karena sering digunakan sebagai tempat pertemuan. Luas ruangan berkisar antara panjang 9 - 10 m dan lebarnya 24 28 m. Tinggi ruangan antara 3 - 4 m di atas tanah. Sedangkan tinggi bubungan atapnya antara 4 - 5 m. Konstruksi dinding yang dimiringkan ke depan dengan jendela yang selalu terbuka memudahkan penghuni untuk melihat ke halaman sekaligus mengawasi ternak babi yang sengaja dibiarkan berkeliaran di halaman. Selain itu juga berfungsi sebagai ventilasi. Tangga dengan jumlah anak tangga yang selalu ganjil 5 7 buah diletakkan di bagian bawah rumah karena konon kabarnya pada zaman dahulu banyak pengayau (emali) yang sering mengambil kepala orang. Selain itu juga sering

5

terjadi perkelahian antar kampung sehingga pada saat rumah diserbu, musuh yang mendekati tangga dapat dengan mudah dibunuh dari dalam rumah. Dipenuhi ukiran baik 2 dimensi maupun 3 dimensi hampir di seluruh ruangan dan terdapat sebuah tiang (kholo-kholo) yang sengaja dirancang untuk dipenuhi dengan ukiran-ukiran. Skylight pada atap yang bisa dibuka-tutup dengan penyangga berupa kayu. E. PROSES PEMBANGUNAN RUMAH ADAT NIAS Rumah adat Nias didirikan atas dasar kesatuan seluruh warga kampung dalam menyampaikan pendapat bersama secara kekeluargaan untuk membangun sebuah rumah. Diadakanlah musyawarah besar yang disebut famagolo yang bertujuan untuk membicarakan tentang pembangunan sebuah rumah. Dalam musyawarah itu dihadiri para penatua adat (Satua Mbanua), warga kampung juga para tukang. Musyawarah tersebut membahas besarnya upah para tukang yang disesuaikan dengan besarnya bangunan. Ukuran besar bangunan yang digunakan adalah balika yang diperkirakan 1,2 meter atau sepanjang helai atap dari rumbia yang dianyam dari daun sagu. Ada dua kewajiban yang harus dipenuhi oleh orang yang mendirikan rumah adalah famato yaitu menentukan besarnya upah yang harus dibayar pada para tukang dan fanua yaitu menentukan ukuran rumah yang akan dibangun. Setelah itu pemilik rumah memberikan uang untuk pembangunan rumah tersebut kepada para penatua adat untuk dimusyawarahkan kembali. Kemudian dalam musyawarah, mereka membahas tentang bahan-bahan bangunan yang dibutuhkan dan siapa-siapa saja yang bisa menyediakan bahan-bahan bangunan tersebut. Misalnya ada yang mampu menyediakan kayu yang sangat kokoh untuk bahan bangunan yang sering disebut manawa tentunya dengan imbalan uang yang layak dari uang yang telah diserahkan pada penatua adat tadi. Setelah itu proses persiapan bahan bangunan pun dilakukan dengan bergotong-royong. Musyawarah kembali diadakan setelah semua persiapan bahan bangunan selesai untuk membahas proses pembangunan. Dalam proses pembangunan, seluruh warga kampung tak terkecuali tua-muda bahkan anak-anak

6

yang bisa bekerja diharuskan ikut membantu. Mereka melakukan gotong-royong ini tanpa diberi upah melainkan hanya diberi sepiring nasi saja yang telah disiapkan oleh pemilik bangunan yang juga memotong beberapa ekor babi untuk lauknya. Semangat kebersamaan ini sesuai dengan semboyan masyarakat Nias yaitu aoha noro nilului wahea aoha noro nilului waoso alisi khoda tafadaya hulu tafaewolo wolo yang artinya sesulit dan seberat apapun pekerjaan akan terasa mudah jika dikerjakan bersama-sama. Pada saat peresmian bangunan, mereka melakukan suatu atraksi menari dengan gerakan melompat-lompat di ruang tamu rumah baru tersebut yang tujuannya untuk menguji ketahanan rumah. Dalam pesta peresmian juga dilakukan pemajangan semua rahang babi yang telah disembelih sejak awal pembangunan rumah adat. Rahang-rahang babi yang dipajang di dinding itu merupakan lambang kejayaan dan kenang-kenangan untuk anak cucu pemilik rumah. F. JENIS-JENIS OMO HADA

7

Omo Hada dibedakan menjadi dua tipe yaitu tipe gomo yang bentuknya bujur sangkar dengan sisi lengkung dan tipe moro yang bentuknya oval. Tipe gomo adalah Omo Hada daerah Nias bagian Selatan sedangkan tipe moro adalah Omo Hada daerah Nias bagian Utara. G. OMO HADA TIPE GOMO Rumah adat Nias tipe gomo yang masih alami bisa ditemui di desa Orahili, Kecamatan Gomo dan di desa Bawomataluo, Kecamatan Teluk Dalam. Desa Bawomataluo sendiri berarti desa "bukit matahari karena desa ini memang berada di atas bukit, seolah dekat dengan matahari. Untuk sampai ke desa Bawomataluo diawali dengan melewati kurang lebih 86 anak tangga yang dianggap sebagai gerbang desa sehingga tidak dapat dilalui o