neutrophil gelatinase associated lipocalin

Download Neutrophil Gelatinase Associated Lipocalin

Post on 07-Dec-2015

11 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Neutrophil Gelatinase Associated Lipocalin

TRANSCRIPT

PENDAHULUAN

Kematian neonatus merupakan komponen utama kematian bayi dan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya angka kematian bayi (infant mortality rate), yaitu angka yang dipakai sebagai indikator kemajuan kesehatan di suatu negara. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 5 juta bayi tidak mampu bertahan hidup sampai usia 28 hari setiap tahunnya dan 98% kematian tersebut berasal dari negara berkembang. Penyebab kematian neonatus pada negara berkembang berturut-turut adalah penyakit infeksi/sepsis neonatorum (42%), asfiksia dan trauma lahir (14%), bayi lahir kurang bulan dan berat lahir rendah (10%), kelainan bawaan (14%) dan sebab lain (4%).1Angka kejadian sepsis di negara berkembang masih cukup tinggi (1,8-18/1000) dibandingkan negara maju (1-5 pasien/1000 kelahiran). Sepsis pada neonatus adalah suatu kondisi yang mengancam nyawa, timbulnya kejadian sepsis ini berhubungan dengan masa gestasi, yang ditemukan lebih banyak pada neonatus kurang dari 28 bulan (16,6%) dibandingkan neonatus cukup bulan (0,6%). Dengan pesatnya kemajuan teknologi kedokteran dan penemuan bermacam antibiotik baru, serta rekomendasi untuk memulai terapi antibiotik spektrum luas pada setiap neonatus yang dicurigai sepsis, didapatkan penurunan angka kematian sepsis neonatorum. Walaupun demikian, hal ini ternyata tidak memperbaiki angka kejadian sepsis neonatorum.2Seperti pada banyak negara berkembang lainnya, penyebab utama sepsis neonatorum di Indonesia adalah kuman gram negatif berupa kuman enterik, antara lain Enterobacter spp, Klebsiella spp, dan Coli spp. Selain masalah identifikasi kuman, diagnosis klinis sepsis neonatorum mempunyai masalah tersendiri. Gambaran klinis sepsis neonatorum tidak spesifik. Gejala klinis sepsis spesifik yang ditemukan pada anak lebih besar jarang ditemukan pada neonatus. Pelepasan dini mediator inflamasi menyebabkan letargi, demam, takikardi, takipnu, vasodilatasi, tonus yang melemah, pucat dan hipotensi. Jika respon tersebut tidak dikontrol dengan baik, akan menyebabkan hipoperfusi, somnolen dan penurunan jumlah urin, dan disertai tanda-tanda syok berupa akral dingin dan waktu pengisian kembali kapiler memanjang. Pembuktian infeksi dengan biakan darah sering tidak menunjukkan hasil yang memuaskan dan hasil kultur perlu waktu yang lama. Keterlambatan pengobatan akan memperburuk keadaan bayi dan dapat menyebabkan banyak komplikasi hingga kematian. Sebaliknya penanganan yang berlebihan akan meningkatkan penggunaan antibiotik dan lamanya rawat inap di rumah sakit sehingga meningkatkan biaya perawatan dan pengobatan. Pemakaian antibiotik yang tidak perlu pada populasi yang rentan terhadap infeksi seperti pada neonatus telah menciptakan suatu keadaan resistensi bakterial yang berbahaya dan menyebabkan hasil yang buruk dalam pemberian.3Sepsis merupakan akibat interaksi yang kompleks antara mikro organisme patogen dan penjamu yang akan menimbulkan respon inflamasi dengan meningkatnya sekresi bermacam-macam mediator seperti sitokin, protein fase akut dan penimbunan leukosit pada jaringan yang terinfeksi. Dalam sepsis terjadi patofisiologi yang kompleks dalam terjadinya hipotensi dan obstruksi aliran darah karena pembentukan mikrotrombus pada sistem kapiler. Hal ini akan mengakibatkan disfungsi organ, yang selanjutnya menyebabkan disfungsi multi organ dan akhirnya kematian. Respon inflamasi terhadap bakteri gram negatif dimulai dengan pelepasan lipopolisakarida (LPS), suatu endotoksin dari dinding sel yang dilepaskan pada saat lisis. Organisme gram positif, jamur dan virus memulai respon inflamasi dengan pelepasan eksotoksin/superantigen dan komponen antigen sel.4Berbagai usaha telah dilakukan untuk mendiagnosis dini sepsis neonatorum antara lain berdasarkan pemeriksaan hematologis. Pemeriksaan hematologis terdiri dari seri eritrosit, leukosit, trombosit dan faktor koagulasi dapat memberikan gambaran yang berbeda pada sepsis neonatorum. Pada seri leukosit dapat ditemukan leukositosis atau leukopenia, peningkatan rasio neutrofil imatur dibandingkan total (shift to the left), adanya granula toksik dan vakuolisasi.5 Neutrofil merupakan salah satu innate immunity yang pertama melawan invasi patogen. Neutrofil memiliki 4 subset granula dan vesikel sitoplasmik (yaitu granula primer/azurofil, sekunder/spesifik, tersier dan vesikel sekretorik) yang berperan dalam eliminasi patogen. neutrophil gelatinase-associated lipocalin (NGAL) merupakan salah satu komponen granula sekunder/spesifik yang dilepaskan cepat bila ada stimulus. NGAL merupakan agen bakteriostatik karena mampu berikatan dengan siderophores bakteri sehingga mencegah pengambilan Fe oleh bakteri dimana Fe sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan bakteri. Penelitian terakhir mendapatkan bahwa NGAL juga diekspresikan oleh sel dalam traktus respiratorius, gastrointestinal dan urinarius. Peningkatan kadar NGAL jaringan ditemukan pada keadaan infeksi dan inflamasi seperti inflammatory bowel disease, infeksi saluran kemih.6-8

SEPSIS NEONATORUMDEFINISISepsis Neonatorum adalah sindrom klinis yang timbul akibat invasi mikroorganisme ke dalam aliran darah yang timbul pada 1 bulan pertama kehidupan. Pada sepsis neonatorum terdapat infeksi aliran darah yang bersifat invasif dan ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam cairan tubuh seperti darah, cairan sumsum tulang atau air kemih. Sepsis neonatorum masih merupakan masalah yang belum dapat terpecahkan dalam pelayanan dan perawatan bayi baru lahir (BBL). Di negara berkembang, hampir sebagian besar bayi baru lahir yang dirawat mempunyai kaitan dengan masalah sepsis. Hal yang sama ditemukan di negara maju pada bayi yang dirawat di unit perawatan intensif. Disamping morbiditas, mortalitas yang tinggi ditemukan pada penderita sepsis neonatorum. Dalam laporan WHO yang dikutip Child Health Research Project Special Report : Reducing perinatal and neonatal mortality (1999) dikemukakan bahwa 42% kematian neonatus terjadi karena berbagai bentuk infeksi seperti infeksi saluran pernapasan, tetanus neonatorum, sepsis dan infeksi gastrointestinal. Disamping tetanus neonatorum, case fatality rate yang tinggi ditemukan pada sepsis neonatorum. Hal ini terjadi karena banyak faktor risiko infeksi pada masa perinatal yang belum dapat dicegah dan ditanggulangi.1,9-11Sepsis neonatorum dibedakan menjadi sepsis neonatorum awitan dini (SNAD) dan sepsis neonatorum awitan lambat (SNAL). Keduanya berbeda dalam patogenesis, mikroorganisme penyebab, tatalaksana dan prognosis. SNAD terjadi pada usia 72 jam. Dapat disebabkan oleh mikroorganisme yang didapat selama proses persalinan tetapi manifestasinya lambat (setelah 3 hari) atau biasanya terjadi pada bayi-bayi yang dirawat di rumah sakit (infeksi nosokomial). Perjalanan penyakit SNAD biasanya lebih berat, dan cenderung menjadi fulminan yang dapat berakhir dengan kematian.12 Keadaan ini sering terjadi pada bayi berisiko misalnya pada bayi prematur, bayi berat lahir rendah, bayi dengan sindrom gangguan napas atau bayi yang lahir dari ibu berisiko. Sejak adanya konsensus dari American College of Chest Physicians / Society of Critical Care Medicine (ACPP/SCMM) telah timbul berbagai istilah dan definisi di bidang infeksi yang banyak pula dibahas pada kelompok bayi baru lahir dan penyakit anak. Istilah tersebut antara lain : Sepsis merupakan sindrom respon inflamasi sistemik (systemic inflammatory respons syndrome SIRS) yang terjadi sebagai akibat infeksi bakteri, virus, jamur ataupun parasit. Sepsis berat adalah keadaan sepsis yang disertai disfungsi organ kardiovaskular dan gangguan napas akut atau terdapat gangguan dua organ lain (seperti gangguan neurologi, hematologi, urogenital dan hepatologi). Syok sepsis terjadi apabila bayi masih dalam keadaan hipotensi walaupun telah mendapatkan cairan adekuat. Sindroma disfungsi multi organ terjadi apabila bayi tidak mampu lagi mempertahankan homeostasis tubuh sehingga terjadi perubahan fungsi dua atau lebih organ tubuh.13-16

ANGKA KEJADIANAngka kejadian / insidens sepsis di negara yang sedang berkembang masih cukup tinggi (1,8 18 / 1000) dibanding dengan negara maju (1 5 pasien / 1000 kelahiran). Angka kejadian di Asia Tenggara berkisar 2,4 16 per 1000 kelahiran hidup, di Amerika Serikat 1-8 per 1000 kelahiran hidup, sedangkan di Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM pada tahun 2003 sebesar 56,1 per 1000 kelahiran hidup. Pada bayi laki-laki risiko sepsis 2 kali lebih besar dari bayi perempuan. Kejadian sepsis juga meningkat pada bayi prematur dan bayi berat lahir rendah (BBLR). Pada bayi berat lahir amat sangat rendah ( 37,80 C, maka sekitar 9,2- 38,2% diantara bayi yang dilahirkan akan menderita sepsis neonatorum. Sebagian besar meningitis neonatorum sebagai akibat dari bakteriemia maternal, atau infeksi transplasental. Pada saat kelahiran, invasi bakteri melalui kulit yang terinfeksi dapat menjalar melalui jaringan lunak dan sutura kepala, atau melalui trombosis vena akhirnya terjadi meningitis, akan tetapi jalur terbanyak melalui aliran darah ke pleksus koroideus pada saat terjadi sepsis. Sepsis biasanya dimulai dengan adanya respons sistemik tubuh dengan gambaran proses inflamasi, koagulopati, gangguan fibrinolisis yang selanjutnya menimbulkan gangguan sirkulasi dan perfusi yang berakhir dengan gangguan fungsi organ.3,14-18Bila bakteremia tidak mampu diatasi oleh kekebalan tubuh maka akan menjadi respons sistemik (systemic inflammatory response syndrome/SIRS). SIRS dapat disebabkan oleh infeksi maupun noninfeksi, dan bila disebabkan oleh infeksi maka SIRS dianggap identik dengan sepsis. Endotoksin bakteri maupun komponen-komponen dinding sel bakteri yang dilepaskan ke sirkulasi akan mengaktivasi berbagai sitokin yang berperan sebagai mediator proinflamasi, sehingga timbul respon fisiologis tubuh yaitu : aktivasi sistem komplemen, aktivasi sistem koagulasi, sekresi ACTH dan endorfin, stimulasi neutrofil polimorfonuklear dan stimulasi sistem kinin-kalikrein. Akibat aktivasi berb

Recommended

View more >