muscle relaxant

Download Muscle Relaxant

Post on 14-Dec-2015

10 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

hh

TRANSCRIPT

Referat

Muscle RelaxantDiajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS)

di Departemen Anestesi dan Reanimasi RSMH Palembang

Oleh:

M Giovanni Abdillah, S.Ked

04114708046Atika Pusparani S.Ked

041247090Pembimbing:

dr. Endang Melati Maas, SpAn.,KIC.,KAPDEPARTEMEN ANESTESI DAN REANIMASI

RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2013HALAMAN PENGESAHAN

Referat yang berjudul:

Muscle RelaxantOleh:

M Giovanni Abdillah, S.Ked

04114708046

Atika Pusparani S.Ked

041247090Pembimbing:

dr. Endang Melati Maas, SpAn.,KIC.,KAPTelah diterima sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di Departemen Anestesi dan Reanimasi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode 19 agustus 23 september 2013.

Palembang, Februari 2010

Pembimbing,

dr. Kusuma Harimin, SpAn

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat dan karunia-Nya sehingga Penyusun dapat menyelesaikan referat yang berjudul Muscle Relaxant. Referat ini merupakan salah satu syarat Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Departemen Anestesi dan Reanimasi, Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada dr. Endang Melati Maas, SpAn.,KIC.,KAP selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan selama penulisan dan penyusunan referat ini, serta semua pihak yang telah membantu hingga selesainya referat ini.

Penyusun menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan referat ini disebabkan keterbatasan kemampuan Penyusun. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat Penyusun harapkan demi perbaikan di masa yang akan datang. Mudah-mudahan referat ini dapat memberi manfaat bagi yang membacanya.

Palembang, Agustus 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul

i

Halaman Pengesahan

ii

Kata Pengantar

iii

Daftar Isi

iv

Pendahuluan

1

Transmisi Saraf - Otot

1

Farmakologi Dasar Obat Pelumpuh Otot

2

Pembagian Obat-obat Pelumpuh Otot

2

Struktur Kimia

3

Mekanisme Kerja

3

Mekanisme Nonklasik Blokade Saraf Otot

4

Farmakodinamik Obat Pelumpuh Otot

4

Farmakokinetik Obat Pelumpuh Otot

6

Obat Pelumpuh Otot Depolarisasi

8

Dosis

8

Efek Samping

9

Obat Pelumpuh Otot Nondepolarisasi

12

Ciri Blokade Saraf Otot Depolarisasi

12

Intubasi

13

Mencegah Fasikulasi

14

Rumatan Relaksasi Otot

14

Potensiasi oleh Anestesi Inhalasi

15

Efek Samping Otonom

15

Pelepasan Histamin

15

Metabolisme di Hati

16

Ekskresi Renal

16

Karakteristik Farmakologis Umum

16

Macam Macam Obat Pelumpuh Otot Nondepolarisasi

18

Atracurium

18

Cisatracurium

20

Mivacurium

22

Doxacurium

23

Pancuronium

24

Pipecuronium

26

Vecuronium

27

Rocuronium

29

Pelumpuh Otot Lain

30

Pembalikan Blokade Saraf Otot

30

Pemilihan Obat

31

PENDAHULUANObat-obat yang mempengaruhi otot skeletal berfungsi sebagai 2 kelompok obat yang sangat berbeda. Pertama, kelompok yang digunakan selama prosedur pembedahan dan unit perawatan intensif untuk menghasilkan efek paralisis pada pasien yang membutuhkan bantuan ventilator (pelumpuh otot) dan kelompok lain yang digunakan untuk mengurangi spastisitas pada sejumlah kelainan neurologis (spasmolitik). Obat-obat pelumpuh otot bekerja pada transmisi neuromuscular end-plate dan menurunkan aktivitas sistem saraf pusat. Golongan ini sering digunakan sebagai obat tambahan selama anestesi umum untuk memfasilitasi intubasi trakea dan mengoptimalkan proses pembedahan dengan menimbulkan imobilitas dan pemberian ventilasi yang adekuat. Obat-obat spasmolitik biasa disebut pelumpuh otot kerja pusat dan digunakan terutama untuk menangani nyeri punggung kronis dan kondisi fibromialgia.Walaupun obat pelumpuh otot bukan merupakan obat anestetik, tetapi obat ini sangat membantu pelaksanaan anestesia umum, antara lain memudahkan dan mengurangi cidera tindakan laringoskopi dan intubasi trakea serta memberi relaksasi otot yang dibutuhkan dalam pembedahan dan ventilasi kendali.Fisiologi transmisi syaraf ototTransmisi rangsangan syaraf ke ortot terjadi melalui hubungan syaraf otot (neuromuscular junction). Hubungan ini terdiri atas bagian ujung syaraf motor yang tidak berlapis myelin dan membran otot yang dipisah oleh celah sinap (sympatic cleft). Pada ujung syaraf motor terdapat gudang persediaan kalsium, vesikel atau gudang asetilkolin, mitokondria dan reticulum endoplasmic. Pada bagian membran otot terdapat reseptor asetilkolin.

Asetilkolin merupakan bahan perangsang syaraf (neurotransmitter) yang dibuat di dalam ujung serabut syaraf motor melalui proses asetilasi kolin ekstra sel dan koenzim A. untuk itu diperlukan enzim asetiltransferasi. Asetilkolin disimpan dalam kantung atau gudang yang disebut vesikel. Ada tiga bentuk asetilkolin yaitu bentuk bebas, bentuk cadangan belum siap pakai dan bentuk siap pakai. Faktor faktor yang dapat mempengaruhi proses sintesis dan atau pelepasan asetilkolin antara lain kalsium, magnedsium, nutrisi, oksigenasi, suhu, analgetik lokal dan antibiotic golongan aminoglikosida.Potensial istirahat membran ujung syarafmotor ( resting membran potensial) terjadi karna membranbersifat lebih mudah ditembus(permiabel) ion kalium ekstrasel dari pada natrium. Potensi yang terukur umumnya sebesar85 90 mV. Pada saat pelepasan asetilkolin, membran tersebut sebaliknya terjadi lebih permiabel terhadap ion natrium sehingga terjadi keadaan depolarisasi dan aksi potensial. Bila depolarisasi ini cukup kuat,maka akan diikuti oleh kontraksi otot. Repolarisasi membran proses hidrolisis asetilkolin oleh enzim asetilkolinestrase.Neuromuscular junction (NM) adalah region di sekitar neuron motorik dan sel otot. Membran sel neuron dan serabut otot dipisahkan oleh celah sempit (20 nm) yaitu celah sinaptik. Saat potensial aksi saraf mendepolarisasi terminalnya, terjadi influks ion kalsium melalui voltage-gated calcium channel ke dalam sitoplasma sehingga memungkinkan vesikel berfusi dengan membran terminal dan melepaskan asetilkolin yang disimpan. Molekul asetilkolin berdifusi sepanjang celah sinaptik untuk berikatan dengan reseptor kolinergik nikotinik pada bagian khusus membran sel otot, yaitu motor end-plate. Setiap NM memiliki sekitar 5 juta reseptor, tetapi untuk aktivasi saat kontraksi otot normal hanya dibutuhkan sekitar 500.000 reseptor. Pada orang dewasa, reseptor NM terdiri dari 5 peptida: 2 peptida alfa, 1 beta, 1 gamma, dan 1 peptida delta. Ikatan dua molekul asetilkolin pada reseptor subunit - dan - menyebabkan pembukaan channel yang menimbulkan potensial motor end-plate. Magnitudo potensial end-plate berhubungan secara langsung dengan jumlah asetilkolin yang dilepaskan. Jika potensialnya kecil permeabilitas dan potensial end-plate kembali normal tanpa penyampaian impuls dari ujung end-plate ke seluruh membran sel serabut otot. Jika potensial end-plate besar, membran sel otot yang berdekatan akan terpolarisasi, dan potensial aksi akan diteruskan ke seluruh serabut otot. Kontraksi otot kemudian akan diinisiasi oleh proses kopling eksitasi-kontraksi. Asetilkolin dengan cepat dihidrolisis menjadi asetat dan kolin oleh enzim substrat spesifik asetilkolinesterase. Enzim kolinesterase spesifik atau kolinesterase asli ditemukan dalam end-plate membran sel motorik yang berdekatan dengan reseptor asetilkolin. Akhirnya, terjadi penutupan ion channel menimbulkan repolarisasi. Ketika pembentukan potensial aksi terhenti, channel natrium pada membran sel otot juga menutup. Kalsium kembali masuk ke retikulum sarkoplasma dan sel otot akan berelaksasi.

Gambar 1. Struktur NMJFARMAKOLOGI DASAR OBAT-OBAT PELUMPUH OTOTPembagian Obat-obat Pelumpuh Otot

Berdasarkan perbedaan mekanisme kerja dan durasi kerjanya, obat-obat pelumpuh otot dapat dibagi menjadi obat pelumpuh otot depolarisasi (meniru aksi asetilkolin) dan obat pelumpuh otot nondepolarisasi (mengganggu kerja asetilkolin). Obat pelumpuh otot nondepolarisasi dibagi menjadi 3 grup lagi yaitu obat kerja lama, sedang, dan singkat. Obat-obat pelumpuh otot dapat berupa senyawa benzilisokuinolin atau aminosteroid. Obat-obat pelumpuh otot membentuk blokade saraf-otot fase I depolarisasi, blokade saraf-otot fase II depolarisasi atau nondepolarisasi. Struktur Kimia

Semua obat pelumpuh otot memiliki kemiripan struktur dengan asetilkolin. Sebagai contoh, suksinilkolin adalah dua molekul asetilkolin yang berikatan pada kedua ujungnya. Sebaliknya, obat-obat nondepolarisasi (misal pancuronium) mempunyai struktur ganda asetilkolin dalam satu dari dua tipe sistem cincin besar dan semi-kaku. Ciri kimiawi lain yang dimiliki oleh semua pelumpuh otot adalah keberadaan satu atau dua atom amonium kuartener yang memberi muatan positif pada nitrogen untuk berikatan pada reseptor nikotinik membuat obat-obat ini sulit larut dalam lemak dan menghambat entrinya ke sistem saraf pusat. Mekanisme Kerja

Seperti yang telah disebut sebelumnya, obat pelumpuh otot depolarisasi sangat mirip dengan asetilkolin dan dapat segera berikatan pada reseptor asetilkolin dan membentuk potensial aksi otot. Namun, obat-obat ini tidak dimetabolisme ol

Recommended

View more >