microbacterium tbc

Download microbacterium tbc

Post on 18-Dec-2015

5 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

farmakologi

TRANSCRIPT

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah Farmakologi dengan judul Mycrobacterium tuberculosa.Makalah ini disusun sebagai upaya memenuhi kebutuhan materi belajar-mengajar untuk mata kuliah Farmakologi.Dalam penulisan makalah ini juga tidak lepas dari dukungan berbagai pihak sehingga penulisan makalah ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen mata kuliah Farmakologi yang telah membimbing penulis. Tidak lupa kepada teman-teman yang telah memberi dukungan dan semangat kepada penulis.Penulis menyadari walaupun sudah berusaha sekuat kemampuan yang maksimal, mencurahkan segala pikiran dan kemampuan yang dimiliki, makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya, baik dari segi bahasa, pengolahan, maupun dalam penyusunan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik yang sifatnya membangun demi tercapai suatu kesempurnaan dalam memenuhi kebutuhan dalam bidang mata ajar Farmakologi. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua.

Bandung, Oktober 2014Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...1Daftar Isi....2BAB I Pendahuluan1.1 Latar belakang...31.2 Rumusan Masalah.31.3 Tujuan...3BAB II Pembahasan2.1 Defenisi.......42.2 Obat-obat TBC ....42.3 Obat obat untuk lepra.................................................................................202.4 Kemoterapi tuberculosis..........................................................................232.5 Kemoterapi Mycrobacterium avium kompleks....25BAB III Penutup3.1 Kesimpulan ...263.2 Saran..27Daftar Pustaka..28

BAB IPENDAHULUAN1.1 Latar BelakangTuberkulosis ( TBC ) paru merupakan penyakit menular langsung yang masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat Indonesia. Walaupun penanggulangan penyakit ini sudah menerapkan strategi Directly Observed Treatment Shortcource ( DOTS ) sejak tahun 1995 sampai sekarang hasilnya belum sesuai harapan. WHO mensinyalir negara - negara yang tinggi beban tuberkulosisnya termasuk Indonesia tidak sungguh-sungguh menjalankan pengendalian dengan strategi DOTS. WHO juga menyatakan Indonesia termasuk 22 negara yang bermasalah dalam penanggulangan TBC Di Indonesia, WHO memperkirakan terdapat 583.000 kasus baru dengan 140.000 kematian terjadi setiap tahun. Perkiraan jumlah penderita TBC paru dengan Bakteri Tahan Asam ( BTA ) positif adalah sebesar 1,3 per 1000 penduduk. Sekitar 75 % penderita adalah angkatan kerja yaitu golongan usia produktif. Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia merupakan penyumbang terbesar ke-3 penyakit tuberkulosis di dunia. Menurut hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 TBC paru merupakan penyebab kematian ke 3 setelah penyakit jantung & pembuluh darah dan penyakit saluran pernafasan.

1.2 Rumusan Masalah1. Apa saja obat-obat yang digunakan untuk TBC?2. Bagaimana cara kemoterapi pada penderita TBC?3. Apa saja obat-obat lepra dan bagaimana kemoterapinya?4. Bagaimana kemoterapi Mycrobacterium avium kompleks?

1.3 Tujuan Penulisan1. Untuk mengetahui obat-obat yang digunakan pada penderita TBC2. Untuk mengetahui cara kemoterapi TBC3. Untuk mengetahui obat-obat lepra dan kemoterapinya4. Untuk mengetahui kemoterapi Mycrobacterium avium kompleksBAB II PEMBAHASAN 2.1 Defenisi TBCTuberculosis paru adalah penyakit infeksi saluran pernapasan, yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang bervariasi, yang biasanya ditularkan melalui inhalasi percikan ludah (droplet) orang ke orang. Penyakit TBC dapat menyerang siapa saja (tua, muda, laki-laki, perempuan, miskin, atau kaya) dan dimana saja. Setiap tahunnya, Indonesia bertambah dengan seperempat juta kasus baru TBC dan sekitar 140.000 kematian terjadi setiap tahunnya disebabkan oleh TBC. Bahkan, Indonesia adalah negara ketiga terbesar dengan masalah TBC di dunia.

2.2 Obat-obat TBCObat- obat yang digunakan pada kemoterapi tuberculosis, penyakit kompleks akibat Mycobacterium avium dan lepra. 1. Obat-obat untuk tuberculosisa. Isoniazid Aktivitas antibakteri Isoniazid bersifat bakteriostatik untuk basil yang istirahat, tetapi bakterisid untuk mikroorganisme yang sedang membelah dengan cepat. Konsentrasi tuberkulostatik minimal adalah 0,025 hingga 0,05 g/ml. Bakteri mengalami satu atau dua kali pembelahan sebelum perkembang biakan terhenti. Obat ini luar biasa selektif untuk mikobakteri, dan dibutuhkan konsentrasi yang melebihi 500 g/ml untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain. Isoniazid sangat efektif untuk pengobatan tuberculosis yang diinduksi secara eksperimen pada hewan dan jauh lebih unggul dari pada streptomisin. Berbeda dengan streptomisin, isoniazid dapat menembus sel dengan mudah dan sama efektifnya terhadap basil yang tumbuh di dalam sel maupun yang tumbuh dalam media kultur. Diantara berbagai mikobakteri nontuberkulosis (atipikal), hanya M. kansasii yang biasanya rentan terhadap isoniazid. Namun, kepekaan harus selalu diuji secara invitro, karena konsentrasi hambat yang dibutuhkan mungkin agak tinggi.Resistensi bakteriJika basil tuberculosis di tumbuhkan secara invitro dalam konsentrasi isoniazid yang kian meningkat, mutan-mutan yang resisten terhadap obat ini dapat dipilih dengan mudah, sekalipun jika obat tersebut terdapat dalam konsentrasi yang sangat tinggi. Namun, tidak terjadi resistensi silang antara isoniazid dan obat lain yang biasa digunakan untuk mengobati tuberculosis (kecuali etionamida, yang strukturnya mirip dengan isoniazid). Mekanisme resistensi isoniazid yang paling umum adalah mutasi pada katalase peroksidase yang menurunkan aktivitasnya, mencegah konversi isoniazid pro drug menjadi metabolit aktifnya (Blanchard, 1996).Mekanisme resistensi lain terkait dengan missense mutation (mutasi yang mengubah kodon sehingga mengkodekan asam amino yang berbeda) di dalam gen inh A micobakteri yang terlibat dalam biosintesis asam mikolat (Beneerje et al, 1994).Seperti halnya obat-obat lain yang dibahas, pengobatan dengan isoniazid saja mengakibatkan munculnya galur-galur yang resisten in vivo. Perubahan dari mikroorganisme yang sebagian besar peka menjadi sebagian besar tidak peka kadang-kadang terjadi dalam beberapa minggu setelah terapi dimulai, namun waktu munculnya fenomena ini sangat beragam antara kasus yang satu dengan yang lain. Sekitar satu dari 106 basil tuberculosis akan menjadi resisten secara genetis terhadap isoniazid, karena rongga tuberculosis dapat mengandung 107 hingga 109 mikroorganisme, tidaklaah mengherankan bahwa pengobatan dengan isoniazid saja menyebabkan seleksi bakteri resisten ini (Iseman, 1993).Mekanisme kerjaMekanisme kerja isoniazid bersifat kompleks, disertai pemetaan resistensi terhadap mutasi pada sedikitnya lima gen yang berbeda (kat G, inh A, ahp C, kas A, dan ndh). Sebagian besar bukti menunjuki inh A sebagai target utama obat. (Vilchezeet al.2000)ABSORPSI, DISTRIBUSI DAN EKSRESIIsoniazid cepat diabsorpsi setelah pemberian oral atau parenteral. Isoniazid lebih cepat berdifusi kedalam seluruh cairan tubuh dan sel. Obat ini mencapai jumlah yang signifikan pada cairan pleural dan asites; konsentrasi dicairan serebrospinal (CSF) dengan selaput otak terinfalamsi menyerupai konsntrasi dalam plasma. Isoniazid berpenetrasi baik kedalam materi kaseus dan bertahan pada konsentrasi terapeutik.Dari 75% hingga 95% dosis isoniazid dieksresikan di urine dalam waktu 24 jam, sebagian besar berupa metabolit. Produk eksresi utama pada manusia dihasilkan dari asetilasi (asetil isoniazid) dan hidrolisis (asam nikotinat).T1/2 serum pada asetil atorcepat adalah satu jam versus 2-5 jam pada asetilator lambat. Karena isoniazid relative tidak toksik, sejumlah obat yang memadai dapat diberikan pada asetilator cepat untuk mencapai efek terapeutik. Insuufisiensi hepatic juga meningkatkan kensentrasi obat, dan penurunan dosis direkomendasikan untuk asetilator lambat dalam kondisi ini. Asetilator lambat jarang mengalami akumulasi konsentrasi toksik jika fungsi ginjal mereka terganggu.Obat - obat yang digunakan dalam pengobatan Tuberculosis, Mycrobacterium avium kompleks dan lepraSpesies MikrobakteriaTerapi pilihan - pertamaSenyawa alternatif

tuberculosisIsoniazid + rifamfisin + pirazinamida + etambutol atau streptomisinMoksifloksasin atau gatiflokasasin; sikloserin; kampreomisin; kanamisin; amikasin; etionamida; klofazimin; asam aminosalisilat

Avium kompleksKlaritromisin atau aziitromisin + etambutol dengan atau tanpa rifabutinRifabutin; rifampin; etionamida; sikloserin; mesilfloksasin atau gatifloksasin

KansasiiIsoniazid + rifampin + etambutolTrimetropim- sulfametoksazol; etionamida; sikloserin; klaritromisin; amikasin; streptomisin; moksifloksasin; atau gatiflokasin

Fortiutim kompleksAmikasin + doksisiklinSefoksitin; rifampin; sulfonamida; moksifloksasin atau gatifloksasin; klaritromisin; trimetroprim-sulfametoksazol; imipenem

Marinumrifampin + etambutolTrimetroprim - sulfametoksazol; klaritromisin; minosiklin; doksisiklin

LapraeDapson + rifampin + klofaziminMinosiklin; miksifloksasin atau gatifloksasin; klarotromisin; etionamida

*Pada pasien yang terinfeksi HIV, substitusi rifampin dan rifabutin meminimalisasi interaksi obat dengan inhibitor HIV protease dan inhibitor transcriptase balik non-nukleosidaPENGATURAN TERAPEUTIKIsoniazid merupakan obat yang paling penting dalam pengobatan tuberculosis. Efek toksik diminimalisasi oleh terapi propilaksis dengan piridokasin dan pemantauan pasien dengan teliti. Untuk pengobatan infeksi aktif, isoniazid dikombinasikan dengan senyawa lain, meskipun isoniazid digunakan tunggal untuk profilaksis. Isoniazid biasanya diberikan melalui oral dalam dosis harian tunggal sebesar 5 mg/kg, dengan dosis maksimum sebesar 300 mg. Anak anak sebaiknya menerima 10-20 mg/kg/hari (maksimum 300 mg). Setelah 2 bulan terapi harian dengan isoniazid, rifampin dan pirazinamida, pasien dengan galur M tuberculosis yang