meninjau kembali sejarah masuknya islam di jambi_aliyas

Download Meninjau Kembali Sejarah Masuknya Islam Di Jambi_Aliyas

Post on 12-Jan-2016

22 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Sudah saatnya kita meninjau kembali bagaimana sejarah masuknya Islam di Jambi.

TRANSCRIPT

  • Media Akademika, Vol. 28, No. 3, Juli 2013

    MENINJAU KEMBALI SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JAMBI 301

    Meninjau Kembali Sejarah Masuknya Islam di Jambi

    AliyasFakultas Adab IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

    Abstrak:

    Fakta sejarah mengenai letak geografis Nusantara sebagai salah satu pusat perniagaan dan tempat pertemuan budaya dari beberapa negara, memberi indikasi bahwa Islam Nusantara tidak hanya berasal dari satu daerah melainkan berbagai daerah. Bukti sejarah untuk melihat adanya interaksi pedagang asing dengan masyarakat Jambi adalah ditemukannya pecahan kaca berwarna gelap dan hijau muda di Muara Sabak (Tanjung Jabung Timur), selain itu juga ditemukan pecahan kaca berwarna biru tua dan biru muda, hijau, kuning dan merah di Muara Jambi, serta ditemukan juga sejumlah permata di Muara Jambi, yang semuanya itu diperkirakan berasal dari Arab dan Persia (Iran) sekitar abad ke-9 hingga abad ke-13 M. Bukti arkeologi ini juga diperkuat oleh berita Cina dalam kitab Pei-Hu-Lu tahun 875 M yang menyebut nama Chan-Pei yang didatangi oleh para pedagang Posse (orang-orang Persia) untuk mengumpulkan barang dagangan berupa buah pinang (areca nuts). Berdasarkan bukti sejarah tersebut, sejak abad ke-9 Masehi telah ada kontak masyarakat Jambi dengan pedagang Islam dari Arab dan Persia. Namun perlu dijelaskan jika proses islamisasi pada abad ke-9 M telah ada di Jambi, kemungkinan hanya sebatas perorangan. Sebab, proses islamisasi besar-besaran di Jambi bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya kerajaan Islam Jambi sekitar abad ke-15 Masehi.

    Kata-kata Kunci: sejarah, Islam, Jambi, arkeologi.

  • Media Akademika, Vol. 28, No. 3, Juli 2013

    302 ALIYAS

    Pendahuluan Sejarah masuknya Islam ke wilayah Nusantara sudah

    berlangsung lama, namun diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli mengenai tempat kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya masih menjadi topik hangat yang terus berlangsung. Nusantara memang merupakan sebuah wilayah yang ramai dilalui oleh para pedagang asing dari berbagai wilayah di belahan dunia; orang-orang Cina dari bagian utara, orang-orang India dan Arab dari belahan barat dan beberapa pedagang asing yang datang dari bangsa yang kurang dikenal.1

    Keadaan Nusantara yang selalu ramai oleh para pedagang asing mengakibatkan adanya pertemuan budaya, oleh sebab itu tidak heran jika didalam kehidupan masyarakat Nusantara ditemukan persamaan budaya dengan daerah lain di luar Nusantara. Fenomena persamaan unsur kebudayaan yang terjadi di Nusantara menimbulkan perdebatan panjang oleh para ahli sejarah mengenai tempat kedatangan Islam. Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa Islam dibawa langsung dari Arab oleh para pedagang dan musafir Arab,2 sedangkan sejarawan yang mendasarkan pada pengamatan unsur-unsur budaya dan Mazhab Syafii lebih dominan ke India.3 Teori yang tidak kalah populer dalam islamisasi Nusantara adalah teori Persia. Tidak jauh dari persamaan kebudayaan, teori ini juga melihat adanya persamaan antara budaya Syiah di Persia dengan budaya di Nusantara.4

    Selain tiga teori tersebut (Arab, India dan Persia), baru-baru ini berkembang sebuah teori yang menaikkan popularitas Cina di Nusantara. Peran Cina dalam Islamisasi Nusantara telah lama disinggung oleh sejarawan asing. Namun akibat image negatif Cina yang dikait-kaitkan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) mengakibatkan fakta historis Cina Muslim dianggap bukan fakta, melainkan dongeng atau bualan sejarah.5 Bukti sejarah islamisasi yang dilakukan oleh Cina dapat dilihat dari peninggalan budayanya yang mengalami akulturasi dan memudarkan corak kecinaan, sehingga lebih menonjolkan corak Islam (seperti baju koko atau baju busana muslim), bukti lainnya juga dapat dilihat

  • Media Akademika, Vol. 28, No. 3, Juli 2013

    MENINJAU KEMBALI SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JAMBI 303

    dari peninggalan arsitektur masjid, pemakaman serta sejarah lokal yang memasukkan peran Cina dalam perkembangan daerahnya.6

    Islamisasi NusantaraPerdebatan panjang mengenai tempat asal kedatangan

    Islam Nusantara tidak akan menemukan titik temu jika tidak dilandasi pendekatan historis, terutama dengan melihat adanya kemungkinan dari beberapa teori tersebut. Fakta sejarah mengenai letak geografis Nusantara yang dijadikan sebagai salah satu pusat perniagaan dan tempat pertemuan budaya dari beberapa negara, memberi indikasi bahwa Islam Nusantara tidak hanya berasal dari satu daerah melainkan berbagai daerah. Berbagai Bangsa muslim yang melakukan perdagangan di Nusantara, semuanya memberikan pengaruh kebudayaan Islam di Nusantara. Selain itu perlu ditekankan bahwa, perkembangan budaya Islam di Nusantara bukan hanya akibat dari perdagang muslim asing, tetapi juga peran orang-orang Nusantara sendiri dalam membentuk kebudayaan Islam yang bercorak Indonesia. Sehingga sangat sulit untuk mengidentifikasi bahwa suatu budaya berasal dari satu teori kedatangan Islam Nusantara.

    Sejarah Nusantara merupakan peristiwa yang panjang dan selalu dikaitkan dengan perdagangan. Menurut Anthony Reid, perdagangan merupakan hal yang vital bagi Asia Tenggara dimana di dalamnya termasuk Nusantara. Hal ini dilihat dari peran laut yang menjadi satu-satunya jalur atau lalu lintas yang bisa dilalui sebagai penghubung antar negara maritim. Posisi Nusantara yang strategis menjadikan daerah-daerah di sekitarnya sebagai tempat perniagaan yang selalu ramai didatangi oleh para pedagang asing. Jalur maritim antara Cina dan pusat-pusat pemukiman penduduk seperti India, Timur-Tengah dan Eropa mempengaruhi meningkatnya perdagangan maritim Internasional. Produk yang menjadi andalan di Asia Tenggara berupa cengkeh, pala, kayu cendana, kayu sapan, kamper dan pernis mendapatkan pasaran tinggi sejak zaman Romawi dan Dinasti Han, Cina.7 Semakin berkembangnya Nusantara sebagai daerah perniagaan yang ramai

  • Media Akademika, Vol. 28, No. 3, Juli 2013

    304 ALIYAS

    khusunya di Asia Tenggara, banyak bermunculan perkampungan-perkampungan Muslim di sepanjang pantai Nusantara. Hal ini mengindikasikan bahwa pedagang muslim tidak hanya berdagang di Nusantara tetapi juga melakukan islamisasi. Semakin berkembang dan ramainya komunitas muslim di Nusantara, banyak ahli sejarah mengajukan teori bahwa pedagang sebagai agen pembawa Islam ke- Nusantara.8

    Menurut Van Leur, penyebaran Islam di Nusantara tidak terlepas dari motif-motif ekonomi dan sekaligus peran para pedagang. Namun teori ini dikritik oleh Johns, seraya berargumen; jika islam di bawa oleh pedagang, kenapa Islam baru kelihatan nyata dan membentuk society (kemasyarakatan) pada abad ke-12, padahal para pedagang muslim ini sudah berada di Nusantara sejak abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Oleh sebab itu, Johns menyimpulkan bahwa bukti adanya muslim lokal di Nusantara dalam jumlah besar pada abad ke-7 Masehi tidak terbukti, bahkan islamisasi substansial yang dilakukan oleh pedagang pada abad ke-7 tidak terlihat sama sekali. Selanjutnya, Johns mengajukan teori bahwa para sufi pengembaralah yang memainkan peran utama dalam proses penyebaran Islam di kawasan Nusantara.9 Para sufi berhasil mengislamkan penduduk Nusantara dalam jumlah besar setidaknya sejak abad ke-13.10 Faktor utama keberhasilan konversi adalah kemampuan para sufi yang menyajikan Islam secara atraktif, khususnya dengan menekankan kekuasaan dengan Islam atau kontinuitas, dari pada perubahan dalam kepercayaan dan praktik keagamaan lokal. Berkat otoritas kharismatik dan kekuatan magis para sufi yang dipercaya oleh masyarakat, sebagian dari para sufi yang melakukan islamisasi mampu menikahi putri-putri bangsawan Nusantara dan menghasilkan anak keturunan bangsawan sekaligus memiliki wibawah dan aura keilahian atau kharisma keagamaan.11 Teori Johns diperkuat oleh cerita lokal masyarakat Jawa yang sangat menghormati Wali Songo sebagai agen penyebar Islam di tanah Jawa.

    Peristiwa panjang islamisasi Nusantara tidak bisa dipandang sebagai peristiwa lokal, cerita perorangan, atau peristiwa yang

  • Media Akademika, Vol. 28, No. 3, Juli 2013

    MENINJAU KEMBALI SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI JAMBI 305

    hanya membenarkan atau membatasi peran suatu kelompok mayoritas dalam melakukan islamisasi di Nusantara. Teori pedagang dan teori sufi yang dipelopori oleh Van Leur dan Johns serta para sejarawan lainnya, bukan merupakan hal yang berbeda dan terpisah secara ekstrim. Peristiwa islamisasi dapat dilihat secara luas, sebab terjadi dalam waktu yang tidak bersamaan. Penyempitan dalam melakukan interpretasi sejarah akan mengakibatkan reduksi kesejarahan. Fakta sejarah secara luas menunjukkan, perkembangan Islam di Nusantara bukan hanya dipelopori oleh pedagang ataupun peran para sufi pengembara, melainkan para penguasa, mubaligh, serta masyarakat Nusantara juga mengambil peran penting pada perkembangan selanjutnya. Peristiwa islamisasi Nusantara harus dilihat secara keseluruhan dan tidak setengah-setengah, agar tercipta suatu sejarah yang kompleks dan minimnya subjektifitas.

    Seperti yang telah dijelaskan di awal, masuknya Islam ke berbagai wilayah di Nusantara tidak berada dalam suatu waktu yang bersamaan, melainkan dalam suatu proses yang panjang. Pendapat mengenai waktu kedatangan Islam di Nusantara juga masih di perdebatkan. Sebagian berpendapat bahwa kedatangan Islam sudah berlangsung sejak abad ke-7 Masehi. Sumbernya adalah berita luar negeri terutama Cina. Sebagian yang lain berpendapat bahwa Islam masuk ke Nusantara dan membentuk suatu komunitas muslim baru terjadi pada abad ke-13, sumbernya adalah berita atau laporan perjalanan pelaut asing dan makam-makam Islam. Terlepas dari perdebatan teori-teori tersebut, secara kronologis perkembangan agama Islam di Nusantara dapat dibagi menjadi tiga fase. Senada dengan pendapat Badri Yatim yang meliputi; fase pertama, masuknya pedagang-pedagang Islam ke Nusantara; fase kedua, adanya komunitas-komunitas musl

Recommended

View more >