makalah topikal fix

26
MAKALAH FARMASI PRAKTIS II SEDIAAN TOPIKAL OLEH: ANNISA MUKMINAH (1011013069) SUYANDA DWINA (1011013072) DESI ELFIRA (1011013074) FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS ANDALAS

Upload: desi-elfira

Post on 28-Nov-2015

815 views

Category:

Documents


100 download

TRANSCRIPT

Page 1: Makalah Topikal Fix

MAKALAH

FARMASI PRAKTIS II

SEDIAAN TOPIKAL

OLEH:

ANNISA MUKMINAH (1011013069)

SUYANDA DWINA (1011013072)

DESI ELFIRA (1011013074)

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2013

Page 2: Makalah Topikal Fix

I. PENDAHULUAN

Obat topikal merupakan salah satu bentuk obat yang sering dipakai dalam terapi

dermatologi. Obat ini terdiri dari vehikulum (bahan pembawa) dan zat aktif. Kecermatan

memilih bentuk sediaan obat topikal yang sesuai dengan kondisi kelainan kulit merupakan

salah satu faktor yang berperan dalam keberhasilan terapi topikal, di samping faktor lain

seperti: konsentrasi zat aktif obat, efek fi sika dan kimia, cara pakai, lama penggunaan obat

agar diperoleh efikasi yang maksimal dan efek samping minimal.

Obat topikal terdiri dari vehikulum (bahan pembawa) dan zat aktif. Saat ini,

banyaknya sediaan topikal yang tersedia ditujukan untuk mendapat efi kasi maksimal zat

aktif obat dan menyediakan alternatif pilihan bentuk sediaan yang terbaik.1,2 Obat topikal

merupakan salah satu bentuk obat yang sering dipakai dalam terapi dermatologi. Banyaknya

pilihan bentuk sediaan, memerlukan kecermatan dalam memilih, karena di samping

pertimbangan bahan aktif, bentuk sediaan berpengaruh terhadap keberhasilan terapi.

Kecermatan memilih bentuk sediaan obat topikal yang sesuai dengan kondisi kelainan kulit

diperlukan, karena merupakan salah satu faktor yang berperan dalam keberhasilan terapi

topikal di samping faktor lain seperti: konsentrasi zat aktif obat, efek fi sika dan kimia, cara

pakai, lama penggunaan obat agar diperoleh efi kasi maksimal dengan efek samping

minimal.1,2 Suatu uji coba efektivitas yang membandingkan sediaan losion dan salep untuk

kulit kepala memperlihatkan banyaknya kasus drop out karena ketidaknyamanan terhadap

bentuk sediaan obat. Berbagai laporan mencoba membandingkan efektifi tas berbagai bentuk

sediaan topical pada satu macam penyakit; terlihat bahwa sediaan baru memiliki kelebihan

dibandingkan bentuk konvensional.

Page 3: Makalah Topikal Fix

II. ISI

2.1. Definisi topikal

Kata topikal berasal dari bahasa Yunani topikos yang artinya berkaitan dengan daerah

permukaan tertentu. Dalam literatur lain disebutkan kata topikal berasal dari kata topos yang

berarti lokasi atau tempat. Secara luas obat topikal didefi nisikan sebagai obat yang dipakai di

tempat lesi.

2.2. Berbagai bentuk sediaan obat topikal

Obat topikal adalah obat yang mengandung dua komponen dasar yaitu zat pembawa

(vehikulum) dan zat aktif. Zat aktif merupakan komponen bahan topikal yang memiliki efek

terapeutik, sedangkan zat pembawa adalah bagian inaktif dari sediaan topikal dapat berbentuk

cair atau padat yang membawa bahan aktif berkontak dengan kulit. Idealnya zat pembawa mudah

dioleskan, mudah dibersihkan, tidak mengiritasi serta menyenangkan secara kosmetik. Selain itu,

bahan aktif harus berada di dalam zat pembawa dan kemudian mudah dilepaskan. Untuk

mendapatkan sifat zat pembawa yang demikian, maka ditambahkanlah bahan atau unsur senyawa

tertentu yang berperan dalam memaksimalkan fungsi dari zat pembawa

2.3. Bahan Pembawa

Bahan pembawa yang banyak dipakai:

1. Lanolin

Disebut juga adeps lanae, merupakan lemak bulu domba. Banyak digunakan pada produk

kosmetik dan pelumas. Sebagai bahan dasar salep lanolin bersifat hipoalergik diserap oleh kulit,

memfasilitasi bahan aktif obat yang dibawa.

2. Paraben

Paraben (para-hidroksibenzoat) banyak digunakan sebagai pengawet sediaan topikal.

Paraben dapat juga bersifat fungisid dan bakterisid lemah. Paraben banyak dipakai pada

Page 4: Makalah Topikal Fix

shampo, sediaan pelembab, gel, pelumas, pasta gigi.

3. Petrolatum

Merupakan sediaan semisolid yang terdiri dari hidrokarbon (jumlah karbon lebih dari 25).

Petrolatum (vaselin), misalnya vaselin album, diperoleh dari minyak bumi. Titik cair 10-50°C,

dapat mengikat kira-kira 30% air.

4. Gliserin

Berupa senyawa cairan kental, tidak berwarna, tidak berbau. Gliserin memiliki 3

kelompok hidroksil hidrofi lik yang berperan sebagai pelarut dalam air. Secara umum, zat

pembawa dibagi atas 3 kelompok, cairan, bedak, dan salep. Ketiga pembagian tersebut

merupakan bentuk dasar zat pembawa yang disebut juga sebagai bentuk monofase. Kombinasi

bentuk monofase ini berupa krim, pasta, bedak kocok dan pasta pendingin.

a. Cairan

Cairan adalah bahan pembawa dengan komposisi air. Jika bahan pelarutnya murni air

disebut sebagai solusio. Jika bahan pelarutnya alkohol, eter, atau kloroform disebut tingtura.

Cairan digunakan sebagai kompres dan antiseptik. Bahan aktif yang dipakai dalam kompres

biasanya bersifat astringen dan antimikroba.

Penggunaan kompres terutama kompres terbuka dilakukan pada :

a. Dermatitis eksudatif; pada dermatitis akut atau kronik yang mengalami eksaserbasi.

b. Infeksi kulit akut dengan eritema yang mencolok. Efek kompres terbuka ditujukan untuk

vasokontriksi yang berarti mengurangi eritema seperti eritema pada erisipelas.

c. Ulkus yang kotor: ditujukan untuk mengangkat pus atau krusta sehingga ulkus menjadi

bersih.

b. Bedak

Merupakan sediaan topikal berbentuk padat terdiri atas talcum venetum dan oxydum

zincicum dalam komposisi yang sama. Bedak memberikan efek sangat superfi sial karena tidak

melekat erat sehingga hampir tidak mempunyai daya penetrasi.

Page 5: Makalah Topikal Fix

Oxydum zincicum merupakan suatu bubuk halus berwarna putih bersifat hidrofob.

Talcum venetum merupakan suatu magnesium polisilikat murni, sangat ringan. Dua bahan ini

dipakai sebagai komponen bedak, bedak kocok dan pasta.

Indikasi bedak:

Bedak dipakai pada daerah yang luas, pada daerah lipatan.

c. Salep

Salep merupakan sediaan semisolid berbahan dasar lemak ditujukan untuk kulit dan

mukosa. Dasar salep yang digunakan sebagai pembawa dibagi dalam 4 kelompok yaitu: dasar

salep senyawa hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang bisa dicuci dengan air dan dasar

salep yang larut dalam air. Setiap bahan salep menggunakan salah satu dasar salep tersebut.

Indikasi salep :

Salep dipakai untuk dermatosis yang kering dan tebal (proses kronik), termasuk likenifi

kasi, hiperkeratosis. Dermatosis dengan skuama berlapis, pada ulkus yang telah bersih.

Kontraindikasi salep:

Salep tidak dipakai pada radang akut, terutama dermatosis eksudatif karena tidak dapat

melekat, juga pada daerah berambut dan lipatan karena menyebabkan perlekatan.

d. Krim

Krim adalah bentuk sediaan setengah padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat

terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Formulasi krim ada dua, yaitu sebagai

emulsi air dalam minyak (W/O), misalnya cold cream, dan minyak dalam air (O/W), misalnya

vanishing cream. Dalam praktik, umumnya apotek tidak bersedia membuat krim karena tidak

tersedia emulgator dan pembuatannya lebih sulit dari salep. Jadi, jika hendak menulis resep krim

dan dibubuhi bahan aktif, dapat dipakai krim yang sudah jadi, misalnya biocream. Krim ini

bersifat ambifi lik artinya berkhasiat sebagai W/O atau O/W. Krim dipakai pada kelainan yang

kering, superfi sial. Krim memiliki kelebihan dibandingkan salep karena nyaman, dapat dipakai

di daerah lipatan dan kulit berambut.

Indikasi krim :

Krim dipakai pada lesi kering dan superfi sial, lesi pada rambut, daerah intertriginosa.

Page 6: Makalah Topikal Fix

e. Pasta

Pasta ialah campuran salep dan bedak sehingga komponen pasta terdiri dari bahan untuk

salep misalnya vaselin dan bahan bedak seperti talcum, oxydum zincicum. Pasta merupakan salep

padat, kaku yang tidak meleleh pada suhu tubuh dan berfungsi sebagai lapisan pelindung pada

bagian yang diolesi. Efek pasta lebih melekat dibandingkan salep, mempunyai daya penetrasi

dan daya maserasi lebih rendah dari salep.

Indikasi pasta :

Pasta digunakan untuk lesi akut dan superficial

f. Bedak kocok

Bedak kocok adalah suatu campuran air yang di dalamnya ditambahkan komponen bedak

dengan bahan perekat seperti gliserin. Bedak kocok ini ditujukan agar zat aktif dapat

diaplikasikan secara luas di atas permukaan kulit dan berkontak lebih lama dari pada bentuk

sediaan bedak serta berpenetrasi kelapisan kulit.

Indikasi bedak kocok :

Bedak kocok dipakai pada lesi yang kering, luas dan superfisial seperti miliaria.

g. Gel

Gel merupakan sediaan setengah padat yang terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel

organik dan anorganik. Gel dikelompokkan ke dalam gel fase tunggal dan fase ganda. Gel fase

tunggal terdiri dari makromolekul organic yang tersebar dalam suatu cairan sedemikian hingga

tidak terlihat adanya ikatan antara molekul besar yang terdispersi dan cairan. Gel fase tunggal

dapat dibuat dari makromolekul sintetik (misalnya karbomer) atau dari gom alam (seperti

tragakan). Karbomer membuat gel menjadi sangat jernih dan halus. Gel fase ganda yaitu gel

yang terdiri dari jaringan partikel yang terpisah misalnya gel alumunium hidroksida. Gel ini

merupakan suatu suspensi yang terdiri dari alumunium hidroksida yang tidak larut dan

alumunium oksida hidrat. Sediaan ini berbentuk kental, berwarna putih, yang efektif untuk

menetralkan asam klorida dalam lambung. Gel segera mencair jika berkontak dengan kulit dan

membentuk satu lapisan. Absorpsi pada kulit lebih baik daripada krim. Gel juga baik dipakai

pada lesi di kulit yang berambut.

Page 7: Makalah Topikal Fix

Berdasarkan sifat dan komposisinya, sediaan gel memilliki keistimewaan:

a. Mampu berpenetrasi lebih jauh dari krim.

b. Sangat baik dipakai untuk area berambut.

c. Disukai secara kosmetika.

h. Jelly

Jelly merupakan dasar sediaan yang larut dalam air, terbuat dari getah alami seperti

tragakan, pektin, alginate, borak gliserin.

i. Losion

Losion merupakan sediaan yang terdiri dari komponen obat tidak dapat larut terdispersi

dalam cairan dengan konsentrasi mencapai 20%. Komponen yang tidak tergabung ini

menyebabkan dalam pemakaian losion dikocok terlebih dahulu. Pemakaian losion meninggalkan

rasa dingin oleh karena evaporasi komponen air. Beberapa keistimewaan losion, yaitu mudah

diaplikasikan, tersebar rata, favorit pada anak. Contoh losion yang tersedia seperti losion

calamin, losion steroid, losion faberi.

j. Foam aerosol

Aerosol merupakan sediaan yang dikemas di bawah tekanan, mengandung zat aktif yang

dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Sediaan ini digunakan untuk pemakaian lokal

pada kulit, hidung, mulut, paru. Komponen dasar aerosol adalah wadah, propelen, konsentrat zat

aktif, katup dan penyemprot.

Foam aerosol merupakan emulsi yang mengandung satu atau lebih zat aktif

menggunakan propelen untuk mengeluarkan sediaan obat dari wadah. Foam aerosol merupakan

sediaan baru obat topikal. Foam dapat berisi zat aktif dalam formulasi emulsi dan surfaktan serta

pelarut. Sediaan foam yang pernah dilaporkan antara lain ketokonazol foam dan betamethasone

foam.

Keistimewaan foam:

Foam saat diaplikasikan cepat mengalami evaporasi, sehingga zat aktif tersisa cepat

berpenetras

Sediaan foam memberikan efek iritasi yang minimal

Page 8: Makalah Topikal Fix

2.4. Jalur Penetrasi sediaan topikal

2.5. Cara Pakai

1. Oles

Pengolesan pada lokasi lesi merupakan cara pakai sediaan topikal yang umum dilakukan.

Cara ini dilakukan untuk hampir semua bentuk sediaan. Banyaknya sediaan yang dioleskan

disesuaikan dengan luas kelainan kulit. Penambahan cara oles sediaan dengan menggosok dan

menekan juga dilakukan pada obat topikal dengan tujuan memperluas daerah aplikasi namun

juga meningkatkan suplai darah pada area lokal, memperbesar absorpsi sistemik. Penggosokan

ini mengakibatkan efek eksfoliatif lokal yang meningkatkan penetrasi obat.

2. Kompres

Cara kompres digunakan untuk sediaan solusio. Komponen cairan yang dominan

menjadikan kompres efektif untuk lesi basah dan lesi berkrusta. Dua cara kompres yaitu kompres

Page 9: Makalah Topikal Fix

terbuka dan tertutup. Pada kompres terbuka diharapkan ada proses penguapan. Caranya dengan

menggunakan kain kasa tidak tebal cukup 3 lapis, tidak perlu steril, jangan terlampau erat.

Pembalut atau kain kasa dicelupkan ke dalam cairan kompres, sedikit diperas, lalu dibalutkan

pada kulit lebih kurang 30 menit. Pada kompres tertutup tidak diharapkan terjadi penguapan,

namun cara ini jarang digunakan karena efeknya memperberat nyeri pada lokasi kompres.

3. Penggunaan oklusif pada aplikasi

Cara oklusi ditujukan untuk meningkatkan penetrasi sediaan; namun cara ini tidak

banyak digunakan. Berbagai teknik oklusi menggunakan balutan hampa udara seperti

penggunaan sarung tangan vinyl, membungkus dengan plastik.17 Teknik oklusi mampu

meningkatkan hantaran obat 10-100 kali dibandingkan tanpa oklusi, namun lebih cepat

menimbulkan efek samping obat, seperti efek atrofi kulit akibat kortikosteroid.

4. Mandi

Mandi atau berendam dianggap lebih disukai daripada kompres pada pasien dengan lesi

kulit luas seperti pada penderita lesi vesiko bulosa. Contoh zat aktif yang pernah digunakan

untuk mandi seperti potassium permanganate. Namun cara ini sudah tidak dianjurkan lagi

mengingat efek maserasi yang ditimbulkan

2.6. Pemberian obat topikal pada kulit

Tujuan dari pemberian obat secara topical pada kulit adalah untuk memperoleh reaksi

lokal dari obat tersebut.

Standar operasional prosedur pemberian obat topical pada kulit:

a. Persiapan alat

o Obat topical sesuai yang dipesankan (krim, lotion, aerosol, bubuk, spray)

o Buku obat

o Kassa kecil steril (sesuai kebutuhan)

o handscoon bersih dan baki

o Lidi kapas atau tongue spatel

Page 10: Makalah Topikal Fix

o Baskom dengan air hangat, waslap, handuk dan sabun basah) Kassa balutan,

penutup plastic dan plester (sesuai kebutuhan)

b. Teknik Pemberian obat pada kulit (dermatologis)

Obat dapat diberikan pada kulit dengan cara digosokkan, ditepukkan, disemprotkan,

dioleskan dan iontoforesis (pemberian obat pada kulit dengan listrik).Prinsip kerja pemberian

obat pada kulit antara lain meliputi:

o Gunakan teknik steril bila ada luka pada kulit.

o Bersihkan kulit sebelum memberikan obat (bahan pembersih ditentukan oleh

dokter).

o Ambil  obat kulit dari tempatnya dengan batangh spatel lidah dan bukan dengan

tangan.

o Bila obat perlu digosok, gunakan tekanan halus.

o Oleskan obat tipis-tipis kecuali ada petunjuk lain.

o Obat dalam bentuk cair harus diberikan dengan aplikator.

o Bila digunakan kompres atau kapas lembab maka pelembab harus steril.

o Cek instruksi dokter untuk memastikan nama obat, daya kerja dan tempat

pemberian.

o Cuci tangan

o Atur peralatan disamping tempat tidur klien

o Tutup gorden atau pintu ruangan

o Identifikasi klien secara tepat

o  Posisikan klien dengan tepat dan nyaman, pastikan hanya membuka area yang

akan diberi obat

o Inspeksi kondisi kulit. Cuci area yang sakit, lepaskan semua debris dan kerak

pada kulit

o Keringkan atau biarkan area kering oleh udara

o Bila kulit terlalu kering dan mengeras, gunakan agen topical

o Gunakan sarung tangan bila ada indikasi

o Oleskan agen topical

Page 11: Makalah Topikal Fix

(1) Krim, salep dan losion yang mengandung minyak

Cara pemberian obat pada kulit

Letakkan satu sampai dengan dua sendok teh obat di telapak tangan kemudian

lunakkan dengan menggosok lembut diantara kedua tangan

Usapkan merata diatas permukaan kulit, lakukan gerakan memanjang searah

pertumbuhan bulu.

Jelaskan pada klien bahwa kulit dapat terasa berminyak setelah pemberian

(2) Lotion mengandung suspense

Kocok wadah dengan kuat

Oleskan sejumlah kecil lotion pada kassa balutan atau bantalan kecil

Jelaskan pada klien bahwa area akan terasa dingin dan kering.

(3) Bubuk

Pastikan bahwa permukaan kulit kering secara menyeluruh

Regangkan dengan baik lipatan bagian kulit seperti diantara ibu jari atau bagian

bawah lengan

Bubuhkan secara tipis pada area yang bersangkutan

(4) Spray aerosol      

Kocok wadah dengan keras

Baca label untuk jarak yang dianjurkan untuk memegang spray menjauhi area

(biasanya 15-30 cm)

Bila leher atau bagian atas dada harus disemprot, minta klien untuk memalingkan

wajah dari arah spray.

Semprotkan obat dengan cara merata pada bagian yang sakit

Rapikan kembali peralatan yang masih dipakai, buang peralatan yang sudah tidak

digunakan pada tempat yang sesuai.

Cuci tangan

Page 12: Makalah Topikal Fix

2.7. Pemberian obat pada mata

Pemberian obat melalui mata adalah memberi obat kedalam mata berupa cairan dan salep.

Tujuan pemberian obat pada mata:

a) Untuk mengobati gangguan pada mata

b) Untuk mendilatasi pupil pada pemeriksaan ‘struktur internal mata

c) Untuk melemahkan otot lensa mata pada pengukuran refraksi mata

d) Untuk mencegah kekeringan pada mata

Standar operasional prosedur pemberian obat topical pada mata (tetes mata)

a. Persiapan alat

Botol obat dengan pensteril atau salep dalam tube (tergantung jenis sediaan obat)

Buku obat

Bola kapas kering steril (stuppers)

Bola kapas basah (normal salin) steril

Baskom cuci dengan air hangat

Penutup mata (bila perlu)

Sarung tangan

b. Prosedur kerja

a) Cek instruksi dokter untuk memastikan nama obat, daya kerja dan tempat pemberian.

b) Cuci tangan dan gunakan sarung tangan

c) Identifikasi klien secara tepat

d) Jelaskan prosedur pengobatan dengan tepat

e) Atur klien dengan posisi terlentang atau duduk dengan hiperektensi leher

f) Dengan kapas basah steril, bersihkan kelopak mata dari dalam keluar

g) Minta klien untuk melihat ke langit – langit

h) Teteskan obat tetes mata :

Page 13: Makalah Topikal Fix

Dengan tangan dominan anda di dahi klien, pegang penetes mata yang

terisi obat kurang lebih 1-2 cm (0,5 – 0,75 inci) diatas sacus konjungtiva.

Sementara jari tangan non dominan menarik kelopak mata kebawah.

Teteskan sejumlah obat yang diresepkan kedalam sacus konjungtiva.

Sacus konjungtiva normal menahan 1-2 tetes. Meneteskan obat tetes ke

dalam sacus memberikan penyebaran obat yang merata di seluruh mata.

Bila klien berkedip atau menutup mata atau bila tetesan jatuh ke pinggir

luar kelopak mata, ulangi prosedur

Setelah meneteskan obat tetes, minta klien untuk menutup mata dengan

perlahan

Berikan tekanan yang lembut pada duktus nasolakrimal klien selama 30-

60 detik.

      j) Memasukkan salep mata :

Pegang aplikator salep diatas pinggir kelopak mata, pencet tube sehingga

memberikan aliran tipis sepanjang tepi dalam kelopak mata bawah pada

konjungtiva.

Minta klien untuk melihat kebawah

Membuka kelopak mata atas

Berikan aliran tipis sepanjang kelopak mata atas pada konjungtiva  dalam.

Biarkan klien memejamkan mata dan menggosok kelopak mata secara

perlahan dengan gerakan sirkuler menggunakan bola kapas.

k) Bila terdapat kelebihan obat pada kelopak mata, dengan perlahan usap dari bagian

dalam ke luar kantus

l) Bila klien mempunyai penutup mata, pasang penutup mata yang bersih diatas pada

mata yang sakit sehingga seluruh mata terlindungi. Plester dengan aman tanpa

memberikan penekanan pada mata.

m) Lepaskan sarung tangan, cuci tangan dan buang peralatan yang sudah dipakai

n) Catat obat, konsentrasi, jumlah tetesan, waktu pemberian dan mata (kiri, kanan atau

kedua duanya) yang menerima obat.

Page 14: Makalah Topikal Fix

Irigasi dan instalasi mata

Irigasi mata merupakan satu tindakan pencucian kantung konjungtiva mata. Berbagai bentuk

spuit tersedia khusus untuk melakukan irigasi  tetapi bila tidak ada dapat digunakan spuit dengan

tabung yang besar. Peralatan yang digunakan harus dalam keadaan steril. Obat mata biasanya

berbentuk cairan (obat tetes mata) dan ointment/ obat saleb mata biasanya diramu dengan

kekuatan yang rendah misalnya 2%.

Untuk irigasi :

Tabung steril untuk tempat cairan.

Cairan irigasi sebanyak 60 sampai dengan 240 cc dengan suhu 37 derajat

celcius.

Alat irrigator mata atau spuit steril.

Bengkok steril.

Bola kapas steril.

Cairan normal salian steril (bila diperlukan)

Perlak

Sarung tangan steril

Buka mata dengan jari dengan jari telunjuk dan ibu jari sehingga kantong konjungtiva

dapat dilihat. Pegang irigator yang telah berisi cairan 2,5 cm diatas mata. Arahkan air pada

konjungtiva bawah dari kantus dalam menuju kantus luar. Lanjutkan irigasi sampai air yang

meninggalkan mata tampak bersih. Anjurkan pasien untuk membuka dan menutup mata secara

teratur. Bila sudah selesai , bersihkan sekitar mata dengan bola kapas.

Instalasi

Obat yang diperlukan

Kapas kering steril

Kapas basah (normal saline ) steril

Page 15: Makalah Topikal Fix

Kassa / penutup mata dan plaster

Sarung tangan steril

a. Periksa nama, kekuatan dan jenis obat. Anjurkan pasien memandang keatas dan

beri       pasien sebuah bola kapas.Buka mata dengan cara menarik kelopak mata

bawah dengan jempol atau jari-jari tangan yang tidak memegang obat.Dekatkan

ke mata sampai berjarak 1 sampai dengan 2 cm dari mata lalu teteskan obat sesuai

yang dibutuhkan pada kantung konjungtiva bawah sepertiga dari luar.Bila obat

berupa saleb mata, Pegang pipa saleb diatas kantung  konjungtiva  atas dan

oleskan sekitar 3 cm saleb dari kantus dalam ke kantus luar. Lalu anjurkan pasien

menutup mata tanpa mengusap obat keluar. Untuk obat cair, pasien dianjurkan

menutup  mata selama 30 detik dan menekan hati-hati duktus nasolakrimalis agar

obat tidak masuk keduktus tersebut.

b. Siapkan pasien yaitu dengan memberitahu pasien tentang irigasi / pengobatan

yang akan diberikan . Bantu pasien mengatur posisi duduk atau berb aring sambil

memiringkan kepala kearah mata yang sakit.Pasang kain penutup untuk

melindungi pasien dan baju pasien agar tidak basah dan pasang bengkok dibawah

mata yang sakit 9pada pelaksanaan irigasi).

c. Kaji mata pasien. Amati adanya gangguan pada mata misalnya warna merah,

adanya kotoran, bengkak, pandangan kabur, mata sering dikucek-kucek dan lain-

lain.

d. Bersihkan kelopak mata dan bulu mata dengan bola kapasyang telah dibasahi

dengan cairan irigasi dengan arah dari kantus dalam menuju kantus luar.

e. Masukkan cairan irigasi atau obat mata

f. Tutup mata bila diperlukan  dan kaji respon pasien.

g. Bereskan alat yang digunakan dan catat tindakan dengan sinkat dan jelas.

Page 16: Makalah Topikal Fix

2.8. Pemberian obat pada telinga

Tujuan pemberian obat pada telinga:

a) Untuk memberikan effek terapi lokal (mengurangi peradangan, membunuh organisme

penyebab infeksi pada kanal telinga eksternal)

b) Menghilangkan nyeri

a. Cara kerja irigasi dan instalasi telinga

1.  Pastikan tentang adanya order pengobatan.

2.  Siapkan peralatan

Untuk irigasi:

Tabung berisi cairan irigasi dengan jumlah dan konsentrasi  sesuai

yang dikehendaki.

Alat suntik / spuit

Bengkok

Perlak handuk

Kapas pengusap

Bola kapas

Sarung tangan (kadang-kadang)

Untuk instalasi:

Obat tetes dalam tempatnya

Kapas dibungkus dalam kasa

Batang karet (tambahan) terutama digunakan untuk tetesan terakhir

untuk mencegah gerakan tiba-tiba anak atau pasien tidak sadar.

Bola kapas.

Nearbaken

Page 17: Makalah Topikal Fix

Handscoon

2.9. Prinsip pemilihan sediaan

1. Pada kulit tidak berambut, secara umum dapat dipakai sediaan salep, krim, emulsi. Krim

dipakai pada lesi kulit yang kering dan superfi sial, salep dipakai pada lesi yang tebal

(kronis).

2. Pada daerah berambut, losion dan gel merupakan pilihan yang cocok.

3. Pada lipatan kulit, formulasi bersifat oklusif seperti salep, emulsi W/O dapat

menyebabkan maserasi sehingga harus dihindari.

4. Pada daerah yang mengalami ekskoriasi, formulasi berisi alkohol dan asam salisilat

sering mengiritasi sehingga harus dihindari.

5. Sediaan cairan dipakai untuk kompres pada lesi basah, mengandung pus, berkrusta.

2.10. Cara Penyimpanan

Simpan sediaan di tempat yang sejuk atau suhu kamar (suhu 25oC)

Simpan sediaan dari sinar matahari langsung

Pastikan sediaan tetutup rapat setelah digunakan

Jauhkan sediaan topical dari jangkauan anak-anak

2.11. Penggunaan pada anak-anak

Pengunaan pada anak dan orang tua harus dilakukan dalam pengawasan orang

dewasa, Karena penggunaan sediaan topical tidak boleh ditelan dan

penggunaannya hanya diluar tubuh.

Penggunaan dosis pada anak-anak harus diperhatikan

2.12. Bila terjadi keracunan

Bila sediaan topical ini termakan, segeralah dimuntahkan. Dan banyak minum air

putuh atau minum susu untuk penetralan obat dalam tubuh.

Bila terjadi iritasi pada kulit (terasa panas, meradang) cepat hentikan obat dan

cuci dengan air mengalir dan langsing hubungi dokter atau apoteker anda.

Page 18: Makalah Topikal Fix

DAFTAR PUSTAKA

Bobak, K. Jensen. 2005. Perawatan Maternitas. Jakarta: EGC.

Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan. Jakarta.

Engenderhealt. 2000. Infection Prevention. New York.

Elly, Nurrachmah. 2001. Nutrisi dalam keperawatan. Jakarta: CV Sagung Seto.

JHPIEGO. 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan Buku 5 Asuhan Bayi Baru Lahir. Jakarta: Pusdiknakes.

JNPK, KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Johnson, Ruth Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta: EGC.

Potter. 2000. Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar Edisi III. Alih bahasa Ester Monica. Penerbit buku kedokteran EGC.

Prharjo, Robert.1995,Tekhnik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat. Jakarta: EGC.

Samba, Suharyati. 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta: EGC