makalah pterigium fix

of 30 /30
MODUL MTHT SEORANG PASIEN LAKI-LAKI DENGAN KELUHAN MATA MERAH KELOMPOK I Ageng Budiananti 030.09.002 Agita Maryalda 030.09.003 Agung Alit Dwijakangka 030.09.004 Agustina Marielsa 030.09.005 Ahmad Fatahillah 030.09.006 Ali Aufar H. 030.09.008 Alvian Reza Muhammad 030.09.009 Amelia Lesmana 030.09.011 Amira Danila 030.09.012 Andika Billy 030.09.013 Andika Widyatama 030.09.014 Andreas Ronald 030.09.016 Andreas Surya 030.09.017

Upload: ageng-budiananti

Post on 26-Oct-2015

56 views

Category:

Documents


6 download

DESCRIPTION

pterigium

TRANSCRIPT

Page 1: Makalah Pterigium FIX

MODUL MTHT

SEORANG PASIEN LAKI-LAKI DENGAN KELUHAN MATA MERAH

KELOMPOK I

Ageng Budiananti 030.09.002

Agita Maryalda 030.09.003

Agung Alit Dwijakangka 030.09.004

Agustina Marielsa 030.09.005

Ahmad Fatahillah 030.09.006

Ali Aufar H. 030.09.008

Alvian Reza Muhammad 030.09.009

Amelia Lesmana 030.09.011

Amira Danila 030.09.012

Andika Billy 030.09.013

Andika Widyatama 030.09.014

Andreas Ronald 030.09.016

Andreas Surya 030.09.017

UNIVERSITAS TRISAKTI

JAKARTA, 12 MARET 2012

Page 2: Makalah Pterigium FIX

BAB I

PENDAHULUAN

Angka kesakitan penyakit mata pterigium merupakan penyakit mata tersering nomor

dua di Indonesia setelah penyakit katarak. Departemen Kesehatan RI mencatat, jumlah

pengidap penyakit pterigium di Indonesia mencapai 13,9 %. Dan dari tahun 2000 sampai

tahun 2007, pasien pterigium menunjukan kecenderungan meningkat sebanyak 576 kasus.

Pterigium adalah pertumbuhan jaringan fibrovaskular subepitel konjungtiva

bulbi berbentuk segitiga yang melewatilimbus terus menjalar ke kornea. Timbunan berbentuk

segitiga tersebut akan membuat mata penderita kurang nyaman, karena biasanya akan

berkembang kearah kornea. Sinar ultraviolet terutama sinar UVB beserta polutannya

merupakan pencetus terjadinya inflamasi kronik sebagai penyebab pertumbuhan jaringan

pterigium, selain itu kekeringan okular dan polusi lingkungan dapat berperan serta dalam

progresivitas pterigium dan rekurensinya.1

1

Page 3: Makalah Pterigium FIX

BAB II

LAPORAN KASUS

SEORANG PRIA DENGAN KELUHAN MATA MERAH

Hari I

- Lembar 1

Seorang pria bernama Tn. A berumur 35 tahun bekerja sebagai tukang ojek datang ke Poli

Mata dengan keluhan mata merah.

- Lembar 2

Anamnesis tambahan :

Kedua mata merah sejak 1 hari yang lalu. Merah tampak hanya sebagian. Disertai rasa

mengganjal dan mata berair. Penglihatan buram disangkal, nyeri disangkal, fotofobia

disangkal. Sebelumnya mata pasien sering merah terutama jika terkena debu, hilang timbul

selama 4 tahun. Riwayat operasi mata isangkal. Riwayat trauma mata disangkal.

Hari II

Hasil pemeriksaan didapatkan:

Status generalis : dalam batas normal

Status oftalmologis :

OD OSVisus 6/ 10 C -0.75 aksis 135

derajat6/6

Gerak bola mata Normal ke segala arah Normal ke segala arahTIO n/ p (normal/ palpasi) n/ p (normal/ palpasi)Palpebra Normal NormalKonjungtiva bulbi Massa/ jaringan

fibrovaskuler (bagian nasal) berbentuk segitiga dengan

puncak di kornea, hiperemis

Massa/ jaringan fibrovaskuler (bagian nasal) berbentuk segitiga dengan

puncak di kornea, hiperemisKornea Jernih JernihCOA Dalam DalamIris/ pupil Normal NormalLensa Jernih JernihVitreus Jernih JernihFundus Normal Normal

2

Page 4: Makalah Pterigium FIX

Status Lokalis:

3

Page 5: Makalah Pterigium FIX

BAB III

PEMBAHASAN KASUS

- Identitas Pasien:

Nama : Tn. X

Jenis Kelamin : Laki-laki

Umur : 35 tahun

Pekerjaan : Tukang ojek

Alamat : -

Agama : -

Status Pernikahan: -

Pendidikan : -

- Anamnesis:

Keluhan Utama:

Mata merah sejak satu hari yang lalu.

Keluhan tambahan:

Rasa mengganjal pada mata

Mata berair

Berdasarkan keluhan utama dan keluhan tambahan, didapatkan hipotesis:

- Konjungtivitis

- Pterygium

- Pseudopterygium

- Pinguekula

- Skleritis

- Trauma

Riwayat Penyakit Sekarang:

Apakah pasien mengalami gangguan dalam beraktivitas yang disebabkan oleh

penurunan kejelasan penglihatan?

Jika terdapat gangguan dalam melihat, apakah hal tersebut terjadi perlahan-lahan

atau mendadak?

Apakah pasien pernah mengalami trauma yang mengenai mata sebelumnya?

Apakah saat mengendarai motor, pasien menggunakan helm yang melindungi

seluruh wajah atau tidak?

4

Page 6: Makalah Pterigium FIX

Bagian mata yang mana saja yang merah? Apakah kedua mata atau salah satu

saja?

Bagaimana perkembangan penyakit pasien? Apakah semakin parah dalam waktu

yang lambat atau cepat?

Adakan faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit pasien? Baik yang

memperburuk atau yang membuat penyakit pasien membaik?

Apakah terdapat keluhan-keluhan lain seperti mata terasa kering, mengganjal,

banyak mengeluarkan air mata, berlendir atau nyeri?

Apakah pasien sedang menderita penyakit tertentu? Seperti diabetes mellitus atau

hipertensi?

Apakah pasien memiliki riwayat alergi terhadap makanan, obat atau lainnya?

Riwayat Penyakit Dahulu

Apakah pasien pernah mengalami hal yang sama sebelumnya?

Apakah pasien pernah menderita penyakit mata lainnya?

Apakah pasien memiliki riwayat penyakit sistemik lain seperti DM, hipertensi

atau penyakit infeksi tertentu?

Riwayat Penyakit Keluarga

Apakah terdapat anggota keluarga yang mengalami penyakit yang sama?

Riwayat Pengobatan

Apakah pasien sudah memberi obat untuk penyakit yang sudah dialami?

Apakah dengan obat tersebut, pasien mengalami perbaikkan atau perburukkan?

Dari hasil anamnesis didapatkan bahwa keluhan pada pasien, yaitu mata merah

sebagian didapatkan sejak satu hari yang lalu, disebabkan oleh karena terkena debu,

disertai berair. Pasien merasa ada sesuatu yang mengganjal. Dan penyakit ini hilang

timbul sejak empat tahun yang lalu.

- Pemeriksaan Fisik

Status Generalis: dalam batas normal. Status generalis mencakup pemeriksaan

keadaan umum,tekanan darah,suhu,frekuensi pernafasan dan denyut nadi. Hal ini

dilakukan untuk :

1. Mengetahui kemungkinan adanya keadaan umum yang dapat merupakan

penyebab penyakit mata yang diderita

5

Page 7: Makalah Pterigium FIX

2. Kemungkinan pemakaian obat yang akan memberikan akibat tertentu pada

penderita. Garamisin dapat mengakibatkan sitotoksik pada ginjal. Demikian

pula asetazolamid dapat memberikan gangguan pada keseimbangan

elektrolit tubuh selain dapat membentuk batu ginjal.

Tanda Vital: untuk melihat apakah terdapat penyakit sistemik atau tidak

Tekanan darah : -

Suhu : -

Nadi : -

Respiratory rate : -

- Pemeriksaan Mata

PEMERIKSAAN OD OS INTERPRETASI

Visus 6/10 C – 0,75 aksis 1350 6/6

6/6 Pada okuli sinistra visus 6/6 menunjukkan visus yang normal. Pada okuli dextra visus 6/10 menunjukkan terjadinya kelainan pada visus,bila orang normal dapat melihat huruf pada optotipi Snellen pada jarak 10 meter,namun pada pasien ini baru dapat terlihat pada jarak 6 meter. Pada okuli dextra juga terdapat astigmat yang disebabkan oleh pterigium yang ada,yang menyebabkan cahaya jatuh pada 2 garis titik api yang saling tegak lurus pada retina. Dapat dikoreksi dengan lensa cilindris dengan kekuatan lensa -0,75 dioptri.

Gerak bola mata

(Normal ke segala arah)

(Normal ke segala arah)

Bola mata digerakkan oleh 6 buah otot penggerak bola mata yang dipersarafi oleh 3 buah nervus (III,IV,VI). Pada kelumpuhan saraf penggerak mata,bila dilakukan pemeriksaan terhadap gerakan bola mata akan terlihat otot yang sukar atau tidak dapat digerakkan karena sarafnya lumpuh. Kelainan pada saraf ini dapat diakibatkan oleh tumor,trauma ataupun radang. Gerak bola mata yang normal pada pasien ini menunjukkan tidak adanya

6

Page 8: Makalah Pterigium FIX

kelainan saraf maupun otot penggerak bola mata.

TIO n/p

(normal/palpasi)

n/p

(normal/palpasi)

Pemeriksaan tekanan intraokuler dapat dilakukan dengan pemeriksaan perabaan,menggunakan tonometer Schiotz atau tonometer aplanasi. Tekanan bola mata normal adalah 14-20mg. Tekanan bola mata yang rendah akan mengakibatkan berlanjutnya degenerasi bola mata atau menunjukkan terjadinya kerusakan badan siliar yang berat. Sedangkan bila terjadi peningkatan tekanan bola mata ini berarti adanya glaukoma yang dapat mengakibatkan kerusakan berat pada saraf mata. Pada pasien ini tekanan bola mata adalah normal,menunjukkan tidak adanya kelainan.

Palpebral Normal Normal Pemeriksaan palpebral baik palpebral superior dan inferior meliputi pemeriksaan objektif pada mata. Pemeriksa mencoba menemukan kelainan pada palpebral dengan cara inspeksi,dicatat bila terdapat bengkak,ekimosis,entropion,sikatriks, ptosis,dan lain-lain. Selain itu dilakukan juga pemeriksaan fungsi kelopak. Pada pasien ini didapatkan hasil pemeriksaan normal.

Konjungtiva bulbi

Massa / jaringan fibrovaskular (bagian nasal) berbentuk segitiga dengan puncak di kornea, hiperemis

Massa / jaringan fibrovaskular (bagian nasal) berbentuk segitiga dengan puncak di kornea, hiperemis

Adanya jaringan fibrovaskular di bagian nasal berbentuk segitiga menunjukkan pasien ini menderita pterigium. Puncak di kornea menunjukkan pterigium ini sudah berlangsung lama dan bila mencapai pupil dapat menganggu penglihatan. Terlihat hiperemis karena jaringan ini kaya akan pembuluh darah.

Kornea Jernih Jernih Pemeriksaan kornea meliputi ukuran kornea,ada atau tidaknya ulkus,erosi,pannus,infiltrat,fistel dan lain-lain. Kornea yang jernih menunjukkan mata yang normal dan tidak adanya infiltrat pada kornea.

COA Dalam Dalam COA yang dalam dapat ditemukan pada afakia,miopia,glaukoma kongenital,dan resesi sudut. Pada pasien ini pterigium yang terjadi

7

Page 9: Makalah Pterigium FIX

mungkin menyebabkan resesi sudut dan mengakibatkan COA menjadi dalam.

Iris / pupil Normal Normal Pemeriksaan pupil meliputi: refleks pupil,ukuran pupil antara okuli dextra dan sinistra. Pemeriksaan iris dilihat apakah terdapat atrofi ataupun pembuluh darah. Pada pasien ini iris dan pupil dalam batas normal.

Lensa Jernih Jernih Pemeriksaan lensa dilakukan dengan uji bayangan iris dengan sentolop. Semakin sedikit lensa keruh semakin besar bayangan iris pada lensa yang keruh. Pada pasien ini didapatkan lensa jernih yang berarti normal.

Vitreus Jernih Jernih Vitreus yang jernih terdapat pada normal,apabila terdapat kekeruhan pada vitreus,akan menyebabkan gangguan pengliahatan.

Fundus Normal Normal Dilakukan refleks fundus,apabila refleks fundus terlihat merah menunjukkan gambaran yang normal. Apabila refleks fundus tidak terlihat dapat dicurigai adanya kekeruhan darah atau jaringan fibrosis. Pada pasien ini fundus terlihat normal.

Status Lokalis:

Terdapat massa / jaringan fibrovaskular (bagian nasal) berbentuk segitiga dengan puncak di kornea, hiperemis. Pada okuli dextra pterigium tampak sudah mencapai limbus.

8

Page 10: Makalah Pterigium FIX

Iritasi kronis oleh sinar uv terpajan angin dan debu

Pertumbuhan jaringan fibrovaskular

invasifdegeneratif

Menyebabkan pelepasan mediator peradangan

hiperemis gatalberair

Merusak epitel kornea dan membrane bowman

Degenerasi hialin dalam stroma kornea

Menyebabkan visus turun dan astigmatisme

Pekerjaan tukang ojek

- Patofisiologi

Faktor pemicu yang menjadi penyebab terbentuknya jaringan fibrovaskuler pada

pasien ini adalah riwayat pekerjaanya sebagai tukang ojek yang sangat beresiko terpajan

oleh sinar UV, debu, dan angin. Sinar UV, debu ,dan angin diduga dapat mengiritasi

konjungtiva menyebabkan terbentuknya jaringan fibrovaskuler. Jaringan tersebut dapat

menyebabkan kerusakan dari epitel kornea dan membrane bowman. Hal ini

menyebabkan gangguan dari fungsi kornea dalam meneruskan cahaya karena efek dari

terbemtuknya jaringan fibrovaskuler ini adalah kornea menjadi tertarik sehingga makin

cembung sehingga bayangan akan difokuskan di depan retina(penurunan visus) dan

difokuskan pada lebih dari 1 titik. Jaringan fibrovaskuler tersebut juga dapat

menyebabkan reaksi peradangan, konjungtiva akan melepaskan mediator- mediator

seperti histamine, leukotrien, prostaglandin radangan sebagai respons terhadap

keberadaan jaringan tersebut yang menyebabkan gejala seperti mata merah atau

hiperemis, gatal, dan mata berair.

9

Page 11: Makalah Pterigium FIX

- Diagnosis

Pada pterigium, terdapat grade untuk menentukkan diagnosis, yaitu:

Grade 0—tidak ada pterigium

Grade 1—puncak pterigium ada pada limbus

Grade 2—puncak pterigium terdapat diantara limbus dan margin pupil yang tidak

sedang dilatasi

Grade 3—puncak pterigium terdapat pada margin pupil

Grade 4—puncak pterigium terdapat didalam margin pupil

Berdasarkan grade diatas, maka diagnosisnya adalah:

OD : 6/10 C -0,75 aksis 1350 6/6 dan Pterygium Simpleks Grade III

OS : Pterygium Simpleks Grade I

- Diagnosis Banding

Pseudopterygium tetapi pada pseudopterygium terletak pada celah atau

kelopak atau fisura palpebra sehingga dapat diselipkan sonde dibawahnya, serta

biasanya terdapat riwayat kelainan kornea sebelumnya.

Pinguekulitis pada pinguekulitis, jaringan yang tumbuh merupakan degenerasi

hialin jaringan submukosa konjungtiva, bukan jaringan fibrovaskular.

- Penatalaksanaan

Non-Medikamentosa:

Edukasi:

Pasien disarankan untuk menggunakan helm yang melindungi mata.

Pasien disarankan untuk menggunakan kacamata pelindung.

Pasien disarankan untuk tidak terlalu sering terpajan debu atau sinar

matahari.

Medikamentosa:

Apabila meradang, diberikan air mata buatan, dan bila doperlukan diberikan

steroid atau tetes mata dekongestan.

Apabila terdapat lekukan kornea, diberikan air mata buatan dalam bentuk

salep.

Terapi Konservatif

Dirujuk ke dokter spesialis mata apabila pasien menghendaki untuk dilakukan

tindakan operatif untuk mengangkat jaringan fibrovaskular agar prognosis ad

10

Page 12: Makalah Pterigium FIX

komestikum pasien dapat menjadi baik. Pembedahan dilakukan apabila terdapat

gangguan penglihatan karena astigmatisme ireguler atau pterygium yang sudah

menutupi media penglihatan. Jenis operasi yang dapat dilakukan diantara lain

adalah; Bare Sklera, Subkonjungtiva, dan Graf. Pascaoperasi, pasien diberikan

obat tetes mata atau salep mata antibiotika atau antiinflamasi serta peningkatan

pemberian steroid topikal perlahan-lahan untuk menghindari permasalahan

tekanan intraokular dan katarak.2

- Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita pterygium adalah:

Gangguan penglihatan apabila terjadi invasi ke kornea dan berlanjut ke pupil.

Rasa mengganjal pada saat pergerakkan bola mata dan juga gangguan

pergerakkan bola mata apabila terjadi pelebaran jaringan sampai ke otot-otot

eksternal bola mata.

- Prognosis

Ad Vitam : Bonam

Ad fungsionam : Bonam

Ad sanationam : Dubia ad bonam

Ad komestikum : Dubia ad bonam

Prognosis diatas didapatkan apabila pasien memilih untuk dilakukan tindakan

pembedahan atau operatif dan apabila pasien mengikuti saran/edukasi serta

penatalaksanaan yang diberikan.

11

Page 13: Makalah Pterigium FIX

BAB IV

TINJAUAN PUSTAKA

Anatomi Mata

Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan. Dari

luar ke dalam, lapisan–lapisan tersebut adalah : (1) sklera/kornea, (2) koroid/badan

siliaris/iris, dan (3) retina. Sebagian besar mata dilapisi oleh jaringan ikat yang protektif dan

kuat di sebelah luar, sklera, yang membentuk bagian putih mata. Di anterior (ke arah depan),

lapisan luar terdiri atas kornea transparan tempat lewatnya berkas–berkas cahaya ke interior

mata. Lapisan tengah dibawah sklera adalah koroid yang sangat berpigmen dan mengandung

pembuluh-pembuluh darah untuk memberi makan retina. Lapisan paling dalam dibawah

koroid adalah retina, yang terdiri atas lapisan yang sangat berpigmen di sebelah luar dan

sebuah lapisan syaraf di dalam. Retina mengandung sel batang dan sel kerucut, fotoreseptor

yang mengubah energi cahaya menjadi impuls syaraf.4

Bola mata terdiri atas tiga lapisan dari luar ke dalam, yaitu :

- Tunica Fibrosa

Tunica fibrosa terdiri atas bagian posterior yang opaque atau sklera dan bagian

anterior yang transparan atau kornea. Sklera merupakan jaringan ikat padat fibrosa

dan tampak putih. Daerah ini relatif lemah dan dapat menonjol ke dalam bola mata

oleh perbesaran cavum subarachnoidea yang mengelilingi nervus opticus. Jika

tekanan intraokular meningkat, lamina fibrosa akan menonjol ke luar yang

menyebabkan discus menjadi cekung bila dilihat melalui oftalmoskop.

12

Page 14: Makalah Pterigium FIX

Sklera juga ditembus oleh n. ciliaris dan pembuluh balik yang terkait yaitu

vv.vorticosae. Sklera langsung tersambung dengan kornea di depannya pada batas

limbus. Kornea yang transparan, mempunyai fungsi utama merefraksikan cahaya

yang masuk ke mata. Tersusun atas lapisan-lapisan berikut ini dari luar ke dalam sama

dengan: (1) epitel kornea (epithelium anterius) yang bersambung dengan epitel

konjungtiva. (2) substansia propria, terdiri atas jaringan ikat transparan. (3) lamina

limitans posterior dan (4) endothel (epithelium posterius) yang berhubungan dengan

aqueous humour.

- Lamina vasculosa

Dari belakang ke depan disusun oleh sama dengan : (1) choroidea (terdiri atas

lapis luar berpigmen dan lapis dalam yang sangat vaskular) (2) corpus ciliare (ke

belakang bersambung dengan choroidea dan ke anterior terletak di belakang tepi

perifer iris) terdiri atas corona ciliaris, procesus ciliaris dan musculus ciliaris (3) iris

(adalah diafragma berpigmen yang tipis dan kontraktil dengan lubang di pusatnya

yaitu pupil) iris membagi ruang diantara lensa dan kornea menjadi camera anterior

dan posterior, serat-serat otot iris bersifat involunter dan terdiri atas serat-serat

sirkuler dan radier.

- Tunica sensoria (retina)

Retina terdiri atas pars pigmentosa luar dan pars nervosa di dalamnya.

Permukaan luarnya melekat pada choroidea dan permukaan dalamnya berkontak

dengan corpus vitreum. Tiga perempat posterior retina merupakan organ reseptornya.

Ujung anterior membentuk cincin berombak, yaitu ora serrata, di tempat inilah

jaringan syaraf berakhir. Bagian anterior retina bersifat non-reseptif dan hanya terdiri

atas sel-sel pigmen dengan lapisan epitel silindris di bawahnya. Bagian anterior retina

ini menutupi procesus ciliaris dan bagian belakang iris.

Di pusat bagian posterior retina terdapat daerah lonjong kekuningan, macula

lutea, merupakan daerah retina untuk penglihatan paling jelas. Bagian tengahnya

berlekuk disebut fovea sentralis.

13

Page 15: Makalah Pterigium FIX

Nervus opticus meninggalkan retina lebih kurang 3 mm medial dari macula

lutea melalui discus nervus optici. Discus nervus optici agak berlekuk di pusatnya

yaitu tempat dimana ditembus oleh a. centralis retinae. Pada discus ini sama sekali

tidak ditemui coni dan bacili, sehingga tidak peka terhadap cahaya dan disebut

sebagai bintik buta. Pada pengamatan dengan oftalmoskop, bintik buta ini tampak

berwarna merah muda pucat, jauh lebih pucat dari retina di sekitarnya.

Yang termasuk media refraksi antara lain kornea, pupil, lensa, dan vitreous.

Media refraksi targetnya di retina sentral (macula). Gangguan media refraksi

menyebabkan visus turun (baik mendadak aupun perlahan).

Bagian berpigmen pada mata: uvea bagian iris, warna yang tampak tergantung pada

pigmen melanin di lapisan anterior iris (banyak pigmen = coklat, sedikit pigmen =

biru, tidak ada pigmen = merah / pada albino).

- Media Refraksi

Hasil pembiasan sinar pada mata ditentukan oleh media penglihatan yang

terdiri atas kornea, aqueous humor (cairan mata), lensa, badan vitreous (badan kaca),

dan panjangnya bola mata. Pada orang normal susunan pembiasan oleh media

penglihatan dan panjang bola mata sedemikian seimbang sehingga bayangan benda

setelah melalui media penglihatan dibiaskan tepat di daerah makula lutea. Mata yang

normal disebut sebagai mata emetropia dan akan menempatkan bayangan benda tepat

di retinanya pada keadaan mata tidak melakukan akomodasi atau istirahat melihat

jauh.

Kornea

Kornea (Latin cornum=seperti tanduk) adalah selaput bening mata, bagian

selaput mata yang tembus cahaya. Kornea merupakan lapisan jaringan yang menutupi

bola mata sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis, yaitu:

1. Epitel

• Tebalnya 50 μm, terdiri atas 5 lapis selepitel tidak bertanduk yang saling tumpang

tindih; satu lapis sel basal, sel poligonal dan sel gepeng.

• Pada sel basal sering terlihat mitosis sel, dan sel muda ini terdorong ke depan

menjadi lapis sel sayap dan semakin maju ke depan menjadi sel gepeng, sel basal

berikatan erat berikatan erat dengan sel basal di sampingnya dan sel poligonal di

14

Page 16: Makalah Pterigium FIX

depannya melalui desmosom dan makula okluden; ikatan ini menghambat pengaliran

air, eliktrolit, dan glukosa yang merupakan barrier.

• Sel basal menghasilkan membran basal yang melekat erat kepadanya. Bila terjadi

gangguan akan mengakibatkan erosi rekuren.

• Epitel berasal dari ektoderm permukaan.

2. Membran Bowman

• Terletak di bawah membran basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang

tersusun tidak teratur seperti stroma dan berasal dari bagian depan stroma.

• Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi

3. Stroma

• Terdiri atas lamel yang merupakan susunan kolagen yang sejajar satu dengan

lainnya, pada permukaan terlihat anyaman yang teratur sadangkan dibagian perifer

serat kolagen ini bercabang; terbentuknya kembali serat kolagen memakan waktu

lama yang kadang-kadang sampai 15 bulan. Keratosit merupakan sel stroma kornea

yang merupakan fibroblas terletak di antara serat kolagen stroma. Diduga keratosit

membentuk bahan dasar dan serat kolagen dalam perkembangan embrio atau sesudah

trauma.

4. Membran Descement

• Merupakan membran aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea

dihasilkan sel endotel dan merupakan membran basalnya

• Bersifat sangat elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 μm.

5. Endotel

• Berasal dari mesotelium, berlapis satu,bentuk heksagonal, besar 20-40 μm. Endotel

melekat pada membran descement melalui hemi desmosom dan zonula okluden.

Aqueous Humor (Cairan Mata)

Aqueous humor mengandung zat-zat gizi untuk kornea dan lensa, keduanya

tidak memiliki pasokan darah. Adanya pembuluh darah di kedua struktur ini akan

mengganggu lewatnya cahaya ke fotoreseptor. Aqueous humor dibentuk dengan

kecepatan 5 ml/hari oleh jaringan kapiler di dalam korpus siliaris, turunan khusus

lapisan koroid di sebelah anterior. Cairan ini mengalir ke suatu saluran di tepi kornea

dan akhirnya masuk ke darah.

15

Page 17: Makalah Pterigium FIX

Lensa

Jaringan ini berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa di dalam

bola mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris dan

terdiri dari zat tembus cahaya (transparan) berbentuk seperti cakram yang dapat

menebal dan menipis pada saat terjadinya akomodasi.

Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik mata

belakang. Lensa akan dibentuk oleh sel epitel lensa yang membentuk serat lensa di

dalam kapsul lensa. Epitel lensa akan membentuk serat lensa terus-menerus sehingga

mengakibatkan memadatnya serat lensa di bagian sentral lensa sehingga membentuk

nukleus lensa. Bagian sentral lensa merupakan serat lensa yang paling dahulu

dibentuk atau serat lensa yang tertua di dalam kapsul lensa. Di dalam lensa dapat

dibedakan nukleus embrional, fetal dan dewasa. Di bagian luar nukleus ini terdapat

serat lensa yang lebih muda dan disebut sebagai korteks lensa. Korteks yang terletak

di sebelah depan nukleus lensa disebut sebagai korteks anterior, sedangkan

dibelakangnya korteks posterior. Nukleus lensa mempunyai konsistensi lebih keras

dibanding korteks lensa yang lebih muda. Di bagian perifer kapsul lensa terdapat

zonula Zinn yang menggantungkan lensa di seluruh ekuatornya pada badan siliar.

Badan Vitreous (Badan Kaca)

Badan vitreous menempati daerah mata di balakang lensa. Struktur ini

merupakan gel transparan yang terdiri atas air (lebih kurang 99%), sedikit kolagen,

dan molekul asam hialuronat yang sangat terhidrasi. Badan vitreous mengandung

sangat sedikit sel yang menyintesis kolagen dan asam hialuronat. Peranannya mengisi

ruang untuk meneruskan sinar dari lensa ke retina. Kebeningan badan vitreous

disebabkan tidak terdapatnya pembuluh darah dan sel. Pada pemeriksaan tidak

terdapatnya kekeruhanbadan vitreous akan memudahkan melihat bagian retina pada

pemeriksaan oftalmoskopi.

Pterigium

Pterygium berasal dari bahasa Yunani yang berarti sayap. Pterygium merupakan suatu

pertumbuhan jaringan konjungtiva yang bersifat degeneratif. Pertumbuhan ini biasanya

terletak pada celah kelopak mata bagian dalam ataupun luar konjungtiva yang meluas sampai

daerah kornea. Pterygium berbentuk segitiga dengan puncak di daerah sentral atau kornea.

16

Page 18: Makalah Pterigium FIX

Pterygium dapat mengenai kedua mata. Penyakit ini mudah meradang dan bila terjadi iritasi

maka bagian pterygium tersebut akan berwarna merah.

Pterigium diduga disebakan iritasi kronis akibat debu, cahaya sinar matahari, dan udara

yang panas. Etiologinya tidak diketahui dengan jelas dan diduga merupakan suatu neoplasma,

radang, dan degenerasi.

Pterigium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan keluhan mata iritatif,

merah dan mungkin menimbulkan astigmat yang akan memberikan keluhan gangguan

penglihatan. Pterigium dapat disertai dengan keratitis pungtata dan dellen (penipisan kornea

akibat kering), dan garis besi (iron line dari Stocker) yang terletak di ujung pterigium.

Diagnosis banding pterigium adalah pseudopterigium, panus, dan kista dermoid. Tidak

diperlukan pengobatan karena sering bersifat rekuren, terutama pada pasien yang masih muda

( < 40 tahun ) tingkat kekambuhan dapat mencapai 50%. Bila pterigium meradang dapat

diberikan steroid atau tetes mata dekongestan.

Pengobatan pterigium adalah dengan sikap konservatif atau dilakukan pembedahan bila

terjadi gangguan penglihatan akibat terjadinya astigmatisme ireguler atau pterigium yang

telah menutupi media penglihatan. Jika sudah mengganggu visus dan tidak dilakukan

pembedahan, maka biasanya akan memperburuk penurunan visus.

Lindungi mata dengan pterigium dari sinar matahari, debu, dan udara kering dengan

kacamata pelindung. Bila terdapat tanda radang beri air mata buatan bila perlu dapat diberi

steroid. Bila terdapat delen (lekukan kornea) beri air mata buatan dalam bentuk salep.

Pemberian vasokonstriktor perlu kontrol dalam 2 minggu dan pengobatan dihentikan, jika

sudah ada perbaikan. Pterigium dapat tumbuh menutupi seluruh permukaan kornea atau bola

mata.

Tindakan pembedahan kombinasi autograf konjungtiva dan eksisi adalah suatu tindakan

bedah plastik yang dilakukan bila pterigium telah mengganggu penglihatan dan mengurangi

resiko kekambuhan.3

Pseudopterigium

Merupakan perlekatan konjungtiva dengan kornea yang cacat. Sering pseudopterigium

ini terjadi pada proses penyembuhan tukak kornea, sehingga konjungtiva menutupi kornea.

Letak pseudopterigium ini pada daerah konjungtiva yang terdekat dengan proses kornea

sebelumnya.

Beda dengan pterigium adalah selain letaknya, pseudopterigium tidak harus pada celah

kelopak atau fisura palpebra juga pada pseudopterigium ini dapat diselipkan sonde

17

Page 19: Makalah Pterigium FIX

dibawahnya. Pada anamnesis pseudopterigium ditanyakan adanya kelainan kornea

sebelumnya, seperti tukak kornea.3

Pseudopterigium

Pinguekula

Pinguekula merupakan benjolan pada konjungtiva bulbi yang ditemukan pada orang

tua, terutama yang matanya sering mendapat rangsangan sinar matahari, debu, dan angin

panas. Letak bercak ini pada celah kelopak mata terutama di bagian nasal.

Pinguekula merupakan degenerasi hialin jaringan mukosa subkonjungtiva. Pembuluh darah

tidak masuk ke dalam pinguekula akan tetapi bila meradang atau terjadi iritasi, maka sekitar

bercak degenerasi ini akan terlihat pembuluh darah yang melebar.

Pada pinguekula tidak perlu diberikan pengobatan, akan tetapi bila terlihat adanya tanda

Peradangan (penguekulitis), dapat diberikan obat-obat antiradang.

18

Page 20: Makalah Pterigium FIX

BAB V

KESIMPULAN

Keadaan pterigium diduga merupakan fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet,

pengeringan dan lingkungan dengan angin banyak, karena sering terdapat pada orang yang

sebagian besar hidupnya berada pada di lingkungan berangin, penuh sinar matahari, berdebu

dan berpasir. Pterygium dapat tidak memberikan keluhan atau akan memberikan keluhan

mata iritatif, merah, dan mungkin menimbulkan astigmatisme yang akan memberikan

gangguan tajam penglihatan.5 Pengobatan tidak diperlukan karena sering bersifat

rekuren/kambuh, tetapi karena pada pasien ini sudah terjadi gangguan penglihatan

(penurunan visus) maka pasien ini sudah termasuk salah satu indikasi tindakan operasi.

19

Page 21: Makalah Pterigium FIX

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

1. Penderita Pterigium di Indonesia, Terbanyak Setelah Katarak. Universitas Padjadjaran.

Available at: http://www.unpad.ac.id/archives/28777. Accessed on March, 11th 2012.

2. Medscape. Pterygium. Jerome P. Fisher, MD, FACS. Available at:

http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview Accessed on: March 11th,

2012.

3. Ilyas S., Yulianti S. R. Ilmu Penyakit Mata. 4th ed. Jakarta: FKUI: 2011. P. 116-7.

4. Sherwood L. Sistem Saraf Perifer: Divisi Afefren; Indera. In: Santoso BI, Editor. Fisiologi

Manusia dari Sel ke Sistem. 2nd ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2001. p. 160-

1.

5. Medline Plus. Pterygium. Available at:

http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001011.htm. Accessed on March 11,

2012.

20