makalah perekonomian indonesia menuju swasembada pangan 2017

Download Makalah perekonomian indonesia  menuju swasembada pangan 2017

Post on 18-Aug-2015

79 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  1. 1. MENUJU SWASEMBADA PANGAN TAHUN 2017 Disus Oleh : 1. Ninik Sumarwiyah 221308311 2. Endang Sri W 221308319 3. Kiki Vila Veronika 221308321 4. Eka Umrotul Khorida 221308322 5. Wulan Dwi Oktavia 221308332
  2. 2. Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya Tahun 2015 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Inflasi merupakan peningkatan harga-harga secara umum dan terus menerus. Penyebab terjadinya inflasi adalah besarnya permintaan terhadap barang (berlebihnya likuiditas atau uang sebagai alat tukar). Sementara, produksi serta distribusinya kurang. Tingkat inflasi di Indonesia selama 10 tahun terakhir rata-rata 7,98%. Penyebab inflasi di Indonesia, contohnya turunnya nilai mata uang rupiah terhadap dollar (USD), naikknya harga BBM yang mempengaruhi kenaikan harga pada komoditas barang lainnya, aksi spekulasi di sektor industri keuangan dan investasi, serta dampak dan pengaruh kebijakan moneter negara besar seperti Amerika Serikat. Selama ini, tinggi rendahnya inflasi memang bergantung pada kemampuan bank sentral dalam mengatasi tingkat inflasi yang terjadi di Indonesia. Besarnya permintaan dapat dipengaruhi oleh kebijakan moneter pemerintah. Sedangkan ketidaklancaran distribusi dan macetnya produksi dapat dipengaruhi oleh kebijakan fiskal pemerintah, contohnya naiknya pungutan pajak (insentif/disinsentif) serta perubahan kebijakan pembangunan infrastruktur. Dampaknya, akan menjadi tekanan terhadap dunia usaha. Tekanan ini bisa menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Meningkatnya biaya produksi juga dapat disebabkan oleh naiknya harga bahan baku serta kenaikan upah buruh dan atau gaji PNS. Hal ini menyebabkan, dunia usaha akan menaikkan harga barang-
  3. 3. barangnya. Melalui survey dan sensus, iInformasi dan data naiknya harga barang menjadi wewenang dan tugas Badan Pusat Statistik (BPS) untuk publikasi. Selain itu, Inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi. Tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga, menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah. Untuk mengurangi tingkat inflasi di Indonesia yang semakin meningkat, pemerintah banyak melakukan upaya-upaya, salah satunya yaitu swasembada pangan ditahun 2017. indonesia sebenarnya memiliki sarana dan prasarana lengkap dan dapat diandalkan untuk mendukung swasembada pangan. Terutama dalam sektor pertanian, karena pembangunan sektor pertanian sebagai bagian integral dari pembangunan nasional semakin penting dan strategis. Pembangunan pertanian telah memberikan sumbangan besar dalam pembangunan nasional, baik sumbangan langsung dalam pembentukan PDB,penyerapan tenaga kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, menyediakan sumber pangan dan bahan baku industri, pemicu pertumbuhan ekonomi di pedesaan, perolehan devisa, maupun sumbangan tidak langsung melalui penciptaan kondisi kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan hubungan sinergis dengan sektor lain. Dengan demikian, sektor pertanian masih tetap akan berperan besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Sektor pertanian haruslah diposisikan sebagai sektor andalan perekonomian nasional. Hal ini sejalan dengan prioritas pembangunan ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu, dimana salah satunya adalah Revitalisasi Pertanian dan Perdesaan. Revitalisasi Pertanian dan Perdesaan, secara garis besar ditujukan untuk: (a) meningkatkan peran sektor pertanian dalam perekonomian nasional, (b) menciptakan lapangan kerja berkualitas di perdesaan, khususnya lapangan kerja non- pertanian, yang ditandai dengan berkurangnya angka pengangguran terbuka dan setengah terbuka, dan (c) meningkatkan kesejahteraan petani, nelayan dan masyarakat perdesaan, yang dicerminkan dari peningkatan pendapatan dan produktivitas pekerja di sektor pertanian. 1.2 Rumusan Masalah
  4. 4. 1.2.1 Pengertian Swasembada Pangan 1.2.2 Hambatan apa saja dalam Swasembada Pangan 1.2.3 Upaya pemerintah dalam melaksanakan Swasembada Pangan II DESKRIPSI 2.1 Objek Rencana pemerintah dalam meningkatkan Swasembada pangan khususnya untuk 3 jenis produk pertanian meliputi padi, jagung, dan kedelai dalam 3 tahun. Serta menargetkan pemenuhan kebutuhan daging dari produksi dalam negeri 2.2 Kondisi Indonesia yang terkenal dengan sebutan negara agraris, negara yang kaya hasil alam dan hasil bumi, dinilai belum kuat dalam hal bahan pangan. Indonesia masih mengalami ketergantungan pangan dari luar (impor), bahkan diprediksi akan mengalami krisis pangan pada 2017. Dengan laju pertumbuhan penduduk 1,3 hingga 1,5%, sementara luas lahan pertanian tidak ada penambahan, dikhawatirkan Indonesia akan mengalami krisis pangan beberapa tahun ke depan. Akibat tidak mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri,
  5. 5. Indonesia terpaksa impor. Ketergantungan pangan bangsa Indonesia terhadap negara lain sangat tinggi. Pada 2011, volume impor beras, jagung, gandum, kedelai, gula, susu dan daging mencapai 17,6 juta ton senilai US$ 9,4 miliar. Defisit pangan 2011 sejumlah 17,35 juta ton dengan nilai US$ 9,24 miliar karena ekspor hanya 250 ribu ton dengan nilai US$ 150 juta. Pada 2011, data Badan Pusat Statistik (BPS) menjelaskan, impor beras Indonesia dari sejumlah negara mencapai 2,75 juta ton dengan nilai US$ 1,5 miliar atau 5% dari total kebutuhan dalam negeri. Sementara itu, volume impor kedelai 60% dari total konsumsi dalam negeri sekitar 3,1 juta ton dengan nilai US$ 2,5 miliar, jagung 11% dari konsumsi 18,8 juta ton dengan nilai US$ 1,02 miliar, gandum 100% dengan nilai US$ 1,3 miliar, gula putih 18% dari konsumsi dengan nilai US$ 1,5 miliar, daging sapi 30% dari konsumsi dengan nilai US$ 331 juta dan susu 70% dari konsumsi. Sedangkan angka impor bahan pangan pada 2012, beras 1,8 juta ton, jagung 1,7 juta ton, kedelai 1,9 juta ton, gandum 6,3 juta ton, daging sapi 40,338 ton, tepung terigu 479,7 ribu ton, gula pasir 91,1 ribu ton, daging ayam 6.797 kg dan garam 2,2 juta ton. Data di atas menggambarkan dalam fase tiga tahun terakhir angka impor bahan pangan yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia masih tinggi, sehingga saat ini Indonesia berada pada fase pangan stadium empat atau sudah dalam kondisi sangat mengkhawatirkan karena sudah terlalu banyak mengimpor berbagai produk pangan. Produksi pangan yang tidak mencukupi kebutuhan dalam negeri membawa Indonesia selalu dibanjiri bahan pangan impor. Kondisi ini harus secepatnya dihentikan. Pemerintahan baru kabinet kerja dihadapkan pada tantangan kebutuhan pangan nasional dan permintaan internasional khususnya pangan pokok yaitu padi, jagung dan kedelai. Upaya swasembada pangan merupakan tahapan untuk mencapai kedaulatan pangan. Tentu upaya untuk mencapai 2 tahapan tersebut bukan hal yang mudah karena sektor pertanian pada saat ini masih dihadapkan oleh berbagai masalah krusial yaitu (1) Lahan, (2) Infrastruktur, (3) Benih, (4) Regulasi/Kelembagaan, (5) Sumber Daya Manusia, (6) Permodalan.
  6. 6. 1.2.1 Pengertian Swasembada Pangan Swasembada pangan yang berarti kita mampu untuk mengadakan sendiri kebutuhan pangan masyarakat dengan melakukan realisasi dan konsistensi kebijakan tersebut, antara lain dengan melakukan: 1. Pembuatan UU & PP yg berpihak pada petani & lahan pertanian. 2. Pengadaan infra struktur tanaman pangan seperti: pengadaan daerah irigasi & jaringan irigasi, pencetakan lahan tanaman pangan khususnya padi, jagung, gandum, kedelai dll serta akses jalan ekonomi menuju lahan tsb. 3. Penyuluhan & pengembangan terus menerus utk meningkatkan produksi, baik pengembangan bibit, obat2an, teknologi maupun sdm petani. 4. Melakukan Diversifikasi pangan, agar masyarakat tidak dipaksakan utk bertumpu pada satu makanan pokok saja (dlm hal ini padi/nasi), pilihan diversifikasi di indonesia yg paling mungkin adalah sagu, gandum dan jagung (khususnya indonesia timur).
  7. 7. Jadi diversifikasi adalah bagian dr program swasembada pangan yg memiliki arti pengembangan pilihan/ alternatif lain makanan pokok selain padi/nasi (sebab di indonesia makanan pokok adalah padi/nasi). Salah satu caranya adalah dengan sosialisasi ragam menu non padi/nasi. 1.2.2 Hambatan apa saja dalam Swasembada Pangan Ada lima masalah besar terkait rencana swasembada pangan : belum optimalnya jaringan irigasi, benih, ketersediaan pupuk , tenaga kerja, dan penyuluhan program-program pertanian. Adapun uraian mengenai masalah dalam swasembada pangan : 1. Kerusakan infrastruktur jaringan irigasi kini mencapai 52% . Hanya irigasi baik primer dan sekunder tidak tertangani dengan baik. Solusinya yang harus dilakukan untuk menangani masalah ini yaitu skala prioritas perbaikan jaringan irigasi jadi prioritas revolusi anggaran Kementan, termasuk dari APBN perubahan. 2. Terkait persoalan beni realisasi benih pada 2014 secara nasional kurang dari 20% anggaran yang disediakan pemerintah tidak terserap baik oleh petani 3. Ketersediaan pupuk disusupi distributor pupuk ilegal hal ini terjadi di enam wilayah produksi utama di Jawa tengah . Distributor illegal memasok petani dengan pupuk non subsidi. 4. Penurunan jumlah pekerja rata-rata setiap tahun ada 500.000 rumah tangga petani yang beralih profesi pada tahun 2003 berdasarkan data BPS ada sekitar 31 juta tenaga kerja di sektor pertanian tetapi pada tahun 2013 hanya tinggal 26,5 juta . 5. Penyuluhan program-program pertanian belum optimal . Persoalan ada pada perhutani yang bertugas meningkatkan peran penyuluhan dalam mendukung program-program pertanian. Saat ini baru persoalan infrastruktur irigasi yang selalu di tangani.Kementarian pertanian menargetkan jaringan irigasi kedepan bisa mengairi 3 juta hektar lahan pertaniaan . Kementerian pekerjaan umum mendukung dengan memperbaiki 49 waduk termasuk

Recommended

View more >