makalah mpkt fungsi otak

Click here to load reader

Post on 06-Feb-2016

97 views

Category:

Documents

8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

abc

TRANSCRIPT

I. Fungsi OtakA. Tiga Serangkai OtakOtak manusia merupakan hasil evolusi terakhir yang paling canggih. Berdasarkan penelitiannya, Paul D. MacLean, seorang ahli neorusains asal Amerika, mencetuskan sebuah konsep yang disebut Tiga Serangkai Otak (The Triune Brain/Three-layered Brain). Otak manusia telah melalui tahapan evolusi dalam tiga periode besar yang membentuk tiga lapisan otak (MacLean: 1990). Ketiga lapisan penyusun otak adalah R-Complex, Limbic System, dan Neo Cortex. Masing-masing lapisan memiliki fungsi yang berbeda namun saling melengkapi fungsi satu sama lain dalam menentukan perilaku suatu individu.1. R-ComplexR-Complex merupakan lapisan pertama dan tertua dalam proses evoulsi otak. R-Complex terdiri dari batang otak dan cerebellum. R-Complex sering disebut juga sebagai otak reptile karena memiliki fungsi yang dominan pada hewan jenis reptile. Bagian R-Complex mengatur gerakan-gerakan involunter dari manusia yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya, beberapa diantaranya adalah gerak jantung, peredaran darah, reproduksi, dan bernafas. R-Complex bekerja secara autopilot atau otomatis. Otak ini akan melaksanakan fungsinya tanpa harus diperintah atau berpikir. Selain mengatur tentang gerakan involunter, R-Complex juga mengatur perilaku pertahanan diri atau Fight or Flight behavior. Kerusakan pada bagian R-Complex dapat berakibat fatal bagi kelansungan hidup seseorang. Dengan ilmu medis yang ada sekarang dapat diketahui apakah batang otak seseorang masih bekerja atau tidak. Oleh karena itu alih-alih memeriksa apakah jantung seseorang masih berdetak atau tidak, tenaga medis akan memeriksa fungsi batang otak untuk menentukan apakah seseorang masih hidup atau tidak.2. Limbic SystemLapisan otak kedua yang terbentuk dalam tahapan evolusi otak manusia adalah sistem limbik atau otak Paleomammalia. Bagian ini memegang peranan penting dalam mengatur emosi, motivasi, kebiasaan, proses pembelajaran, dan pembentukan memori. Sistem limbik terdiri dari dua struktur penting, yaitu amygdala dan hippocampus.a. AmygdalaAmygdala pada suatu organisme memiliki fungsi untuk mengenali situasi. Amygdala akan berusaha mengenali situasi apakah sesuatu berbahaya atau tidak, apakah sesuatu penting atau tidak. Amygdala akan merespon keadaan-keadaan atau situasi-situasi tertentu dengan cara melepaskan senyawa-senyawa kimia yang disebut hormon untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Akibatnya, tubuh akan bereaksi terhadap keadaan yang sedang dihadapi.Pada manusia, amygdala tidak hanya untuk mengenali situasi, tetapi juga untuk memahami ekspresi dan emosi orang yang sedang dihadapinya. Dengan pemahaman ini seseorang dapat memberikan respon yang tepat terhadap emosi yang diberikan.Kerusakan pada bagian amygdala dapat menyebabkan buta afektif atau ketidakmampuan menangkap emosi. Hal ini disebabkan hilang atau berkurangnya fungsi amygdala dalam mengerti emosi yang diberikan lawan bicara seseorang sehingga menyebabkan salah persepsi terhadap emosi tersebut. Buta afektif dapat berpengaruh buruk dalam hubungan interpersonal seseorang. b. Hippocampus Hippocampus merupakan bagian yang memiliki peran khusus dalam pembentukan ingatan jangka panjang. Hippocampus berfungsi untuk membentuk ingatan mengenai fakta-fakta yang dialami dan didapat suatu individu walaupun hanya mengalami sekali saja. Oleh karena itu bagian ini memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran. 3. Neo CortexNeo Cortex atau otak Neomammalian merupakan lapisan terakhir yang dihasilkan oleh proses evolusi otak. Neo Cortex merupakan lapisan teratas yang menyelubungi otak. Bagian otak ini hanya dimiliki oleh mamalia dan hanya mamalia kelas tinggi (primata dan lumba-lumba) yang memiliki neo cortex dengan ukuran yang sangat besar. Berbeda dengan amygdala yang bekerja dengan sistem intuitif dan primitif, neo cortex bekerja dengan sistem analitis yang lebih canggih sehingga sering disebut sebagai otak berpikir atau otak logika. Neo cortex pada manusia memberikan kemampuan untuk berpikir abstrak, transendens, dan tidak terbatas pada hal-hal yang dialami saat ini saja.

Ketiga serangkai otak tidak bekerja secara terpisah, melaikan bekerja secara bersama-sama dan saling berkaitan satu sama lain. Tiga lapisan otak bekerja layaknya suatu komputer biologis (MacLean: 1990). Secara konseptual, hubungan ketiga bagian otak memiliki sistem kerja sebagai berikut: R-Complex memberikan respon terhadap ransangan yang didapatkan dari panca indera. Respon ini kemudian diteruskan kepada sistem limbik untuk menentukan perasaan terhadap rangsangan tersebut. Dari respon perasaan yang muncul, neo cortex berperan untuk menentukan tindakan apa yang diambil oleh suatu individu.

B. Dua Hemisfer OtakKemampuan berpikir manusia merupakan hasil kontribusi dari bagian terluar Cerebral Cortex. Cerebral cortex milik manusia memiliki ketebalan dua kali li[at dari mamalia lainnya sehingga memiliki fungsi yang lebih kompleks. Secara fisiologis, otak manusia terbagi menjadi dua hemisfer yang mengendalikan tubuh secara silang. Bagian otak kanan mengendalikan hemisfer tubuh bagian kiri dan begitu juga sebaliknya. Penelitian tentang kedua belahan otak ini kemudian berlanjut hingga pada tahun 1960, seorang ahli neuropsikologi dan neurobiologi bernama Roger Wolcott Sperry mencetuskan bahwa selain mengatur hemisfer tubuh yang berbeda, kedua hemisfer otak juga memiliki fungsi yang berbeda. Sperry pada kala itu sedang meneliti tentang epilepsi dan cara mengurangi efeknya pada manusia. Beliau menemukan bahwa dengan memotong sebagian dari corpus collosum (struktur penghubung dua hemisfer otak) efek kejang epilepsi pada pasien dapat berkurang. Namun terdapat efek samping yang terjadi pada pasien yang diteliti. Beberapa pasien yang diobati dengan metode ini mengalami penurunan kemampuan berbicara dan kehilangan sebagian kemampuan dalam mengenali objek. Dari temuannya ini lah, Sperry mencetuskan bahwa kedua hemisfer otak memiliki fungsi yang berbeda.1. Belahan Otak KiriSistem pendidikan pada umumnya lebih menitikberatkan pada kemampuan otak kiri, sehingga kecerdasan otak kiri seringkali dikaitkan dengan keberhasilan seseorang. Otak kiri memiliki spesialisasi dalam menghadapi masalah sekuensial, analitikal, bahasa lisan, operasi aritmatika, penalaran, dan operasi rutin (Sousa: 2003). Orang-orang yang memiliki otak kiri yang kuat cenderung berpikir secara sistematis dan taat pada aturan.2. Belahan Otak KananBelahan otak kanan memiliki sifat bebas dan terlepas dari aturan, sehingga seringkali dikaitkan dengan kreativitas. Otak kanan bersifat heuristic, sangat bebas, dan melompat-lompat. Otak kanan berperan dalam menghadapi masalah holistic, abstrak, bahasa tubuh, pencerahan, dan operasi baru (Sousa: 2003). Otak kanan bertanggung jawab atas kecerdasan emosional dan ingatan jangka panjang. Dalam proses keratif, otak kanan berperan dalam menciptakan ide-ide baru. Namun, karena sifatnya yang bebas dan tidak taat aturan, seingkali ide-ide tersebut sulit direalisasikan. Dalam proses mewujudkan ide tersebut, diperlukan otak kiri yang lebih teratur dan taat peraturan. Oleh karena itu, kreativitas dapat dikatakan sebagai hasil kerja sama kedua belahan otak.

C. Peta OtakTeori perbedaan fungsi kedua hemisfer otak bertahan cukup lama hingga ditemukannya beberapa fakta terbaru mengenai fungsi otak. Studi terbaru membuktikan bahwa tidak ada perbedaan fungsi antara otak kiri dan otak kanan. Dalam studi kemampuan berbahasa diteliti mengenai bagian otak yang aktif pada manusia ketika menggunakan kemampuan berbahasa. Hasil yang didapat adalah 97% dari subjek aktif pada bagian otak kiri ketika menggunakan kemampuan berbahasa. Akan tetapi 19% dari subjek yang merupakan orang kidal mengalami keaktifan di hemisfer kanan otaknya, dan 68% dari subjek yang kidal mengalami keaktifan di kedua belahan otaknya secara bersamaan. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan berbahasa tidak termonopoli di bagian otak kiri. Fungsi otak tidak terbagi berdasarkan hemisfer otaknya, melainkan berdasarkan sisi aktifnya. Kedua belahan otak bekerja secara bersamaan dalam mengolah informasi dan menghasilkan ide.

Gambar 1. Peta Fungsi Otak Berdasarkan Sisi Aktif(Sumber: http://www.dana.org/uploadedImages/Images/neuroanatomy_large.jpg)

II. Jenis KecerdasanPerilaku manusia diregulasi oleh otak, hal ini dapat dilihat dari hasil-hasil penelitian yang menunjukkan adanya kecenderungan hubungan antara perilaku seseorang dengan aktifitas otaknya. Dari premis tersebut, kecerdasan seseorang menjadi sesuatu yang diperbincangkan pada awal abad kedua puluh. Adanya pengaruh kecerdasan dengan perilaku yang menghasilkan keberhasilan seseorang menarik perhatian banyak ilmuwan. Secara umum kecerdasan dibagi menjadi tiga bagian yang terdiri dari kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. A. Kecerdasan IntelektualKonsep mengenai intelegensi didasari pada teori Darwin mengenai survival of the fittest yang berpandangan bahwa spesies yang dapat bertahan adalah spesies yang memiliki kemampuan adaptasi yang baik. Dari pemikiran ini para ahli menyimpulkan bahwa manusia yang unggul adalah manusia yang dapat beradaptasi dengan lebih baik. Oleh karena itu penelitian mengenai kemampuan intelegensi seseorang dan metode pengukurannya mulai dilakukan. Secara umum kecerdasan intelektual adalah kemampuan untuk menggunakan kognisi (penalaran) guna menyelesaikan permasalahan dan beradaptasi dengan lingkungan. Menurut King dalam bukunya The Science of Psychology, intelegensi adalah kemampuan multiguna untuk melaksanakan perintah kognitif, menyelesaikan masalah, dan untuk belajar dari pengalaman. Pengukuran intelegensi pertama kali dilakukan pada masa Perang Dunia I. Pengukuran intelegensi dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat guna merekrut tentara-tentara terpilih untuk menjalankan misi-misi tertentu. Intelegensi manusia diukur menggunakan suatu skala yang disebut Intelligence Quotient atau IQ.Pada tahun 1904, Charles Spearman, psikolog asal Inggris, mencetuskan sebuah konsep yang disebut sebagai kecerdasan tunggal atau the G Factor. Spearman melakukan beberapa tes mental kepada beberapa subjek untuk mengetahui tingkat kecerdasan orang tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek yang memiliki perforam baik dalam suatu tes kognitif akan memiliki performa yang baik di dalam tes yang lain. Begitu juga sebaliknya. Dari penelitian ini, Spearman menyimpulkan bahwa manusia memiliki kecerdasan tunggal yaitu kemampuan kognitif umum yang dapat diukur dan dinilai. Kecerdasan tunggal ini sering kali disebut sebagai kemampuan analitikal.Permasalahan yang muncul di masyarakat adalah mengapa seseorang yang memiliki kemampuan analitikal tinggi masih mengalami kegagalan di dalam kegiatan bermasyarakat. Louis L. Thurstone pada tahun 1938 mencetuskan teori mengenai tujuh kemampuan mental dasar atau primary mental abilities. Thurstone membagi kecerdasan intelegensi menjadi 7 kemampuan mental dasar, yaitu kemampuan verbal, penalaran, kemampuan numeric, kelancaran berkata-kata, mengasosiasikan memosi, visualisasi spasial, dna kecepatan perseptual. Teori mengenai kemampuan mental dasar kemudian dikembangkan oleh Howard Gardner, seorang ilmuwan dari Harvard, menjadi sebuah teori yang dikenal dengan nama Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence). Gardner dalam bukunya yang berjudul Frame of Mind membagi kecerdasan intelektual menjadi delapan macam yang didasarkan pada kemampuan yang dihargai dalam berbagai budaya yang ada di dunia. Gardner membagi kecerdasan intelektual menjadi visual-spasial, verbal-linguistik, kinestetik, logika-matematika, inter personal, musical, intra personal dan naturalistik.Sedikit berlawanan dengan teori Gardner, Robert Sternberg berpendapat bahwa yang dimaksud dengan intelegensi adalah aktivitas mental yang bertujuan unutk beradaptasi dengan lingkungan yang relevan dengan kehidupan seseorang. Sternberg berpendapat bahwa beberapa macam intelgensi yang diajukan Gardner lebih menjurus kepada bakat seseorang, bukan kecerdasan intelegensi secara umum. Sternberg membagi kecerdasan intelektual menjadi tiga macam, yaitu analitikal (kemampuan memecahkan masalah), praktikal (kemampuan beradaptasi), dan kreatif (kemampuan menggunakan pengalaman dan kemampuan untuk mengatasi hal baru). Teori ini dikenal dengan nama Triarchic Theory of Intelligence atau Trias Intelegensi.Beberapa faktor yang mempengaruhi kecerdasan intelegensi antara lain:a. UmurSeiring bertambahnya usia, IQ berubah mengikuti individu tersebut. Hal ini bisa disebabkan karena masih terlalu muda untuk mengerti soal tes IQ, atau sudah terlalu tua sehingga mengalami kepikunan atai kesulitan berpikir.b. GenetikTingkat kecerdasan orang tua berpengaruh terhadap kecerdasan keturunan-keturunannya.c. LingkunganLingkungan tempat tumbuh seseirang berpengaruh dengan kecerdasan intelegensinya. Lingkungan yang berisi orang-orang yang mengutamakan logika dibanding takhayul akan menghasilkan orang-orang yang lebih mampu berpikir logis.d. IntervensiBeberapa proyek pemerintah, terutama pemerintah Amerika Serikat untuk meningkatkan kecerdasan orang-orang berpengaruh terhadap IQ seseorang. Seseorang yang diberi asupan obat-obatan peningkat kemampuan otak akan memiliki IQ yang lebih tinggi dibanding orang yang tidak mendapat treatment apapun.e. MusikPelajaran music pada masa kanak-kanak memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan kecerdasan seseorang.f. Anatomi OtakRasio otak dengan berat badan, ukuran, bentuk, ketebalan korteks, laju darah ke otak, hormon yang sedang bekerja, metabolisme glukosa di otak dan ukuran serta bentuk lobus frontal berpengaruh terhadap kemampuan orang tersebut untuk berpikir.g. KesehatanKondisi kesehatan seseorang ketika mengambil tes IQ berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh.h. PendidikanSemakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, cenderung semakin tinggi IQ nyai. SeksPerbedaan antara jenis kelamin memiliki pengaruh terhadap nilai IQ seseorang.j. Ras dan Etnik

B. Kecerdasan EmosionalSecara umum, orang-orang yang memiliki intelegensi yang tinggi lah yang disebut sebagai orang cerdas. Kemampuan kognitif yang tinggi ini yang dianggap membuahkan keberhasilan bagi seseorang. Pada praktiknya banyak ditemui orang-orang yang cerdas mengalami kegagalan. Didasari pada fenomena ini, Peter Salovey dan John D. Mayer mengajukan teori mengenai kecerdasan emosional dalam artikel ilmiahnya yang berjudul Emotional Intelligence yang diterbitkan pada tahun 1990. Di dalam artikelnya, Salovey dan Mayer mengajukan definisi kecerdasan emosional sebagai suatu set dari kecerdasan sosial yang terdiri dair kemampuan untuk memonitor perasaan dan emosi diri sendiri dan orang lain, membedakannya, dan menggunakan informasi yang didapat untuk membimbing seseorang dalam berpikir dan melakukan sesuatu.Terdapat beberapa model mengenai kecerdasan emosional, yaitu ability model, trait model,dan ability-trait model. Ability model adalah model kecerdasan emosional yang didasari oleh kemampuannya dalam hal-hal terkait emosi. Model ini dipopulerkan oleh Peter Alovey dan John D. Mayer. Salovey dan Mayer membagi kecerdasan emosional menjadi 4 tipe kemampuan, yaitu mengenali emosi, menggunakan emosi, memahami emosi, dan mengatur emosi. Kecerdasan emosional model kemampuan dapat diukur dengan Mayer-Salovey-Caruso Emotional Intelligence Test (MSCEIT), sebuah tes kecerdasan emosional yang berdasarkan pertanyaan-pertanyaan pada tes IQ yang sesuai dengan setiap cabang kecerdasan emosional. Trait Model adlah model kecerdasan emosional yang dipopulerkan oleh Kontantinos Vasilis Petrides. Petrides mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai persepsi atas kemampuan emosional dari diri sendiri. Kecerdasan emosional trait model dapat diukur menggunakan Swinburne University Emotional Intelligence Test (SUEIT) dan Trait Emotional Intelligence Questionnaire (TEIQue). SUEIT berbentuk self-report dan TEIQue berbentuk kuisioner yang diisi oleh kerabat dari yang bersangkutan. Tujuan dari dilakukannya dua test ini adalah untuk mengtahui kemampuan emosional dari seseorang dan membandingkannya dengan pendapat orang lain.Model ketiga adalah Model Goleman yang merupakan kombinasi dari kedua model kecerdasan emosional diatas. Daniel Goleman mempepulerkan kecerdasan emosional melalui bukunya yang berjudul Emotional Intelligence: Why It can Matter More Than IQ yang diterbitkan pada tahun 1996 dan dalam buku What Makes A Leade yang diterbitkan pada tahun 1998. Goleman berpendapat bahwa kecerdasan emosional adalah kompetensi serta kemampuan seseorang yang berpengaruh terhadap performanya sebagai seorang pemimpin. Goleman membagi kecerdasan emosional menjadi lima macam, yaitu: Memahami emosi diri sendiri Mengendalikan emosi diri sendiri Memotivasi diri sendiri Mengenali emosi orang laing Menjalin hubungan dengan orang lain

Kecerdasan emosional model Goleman dapat diukur dengan Emotional and Social Competency Inventory (ESCI) dan The Emotional Intelligence Appraisal (EIA). ESCI merupakan bentuk pengembangan dari ECI, metode penilaian yang dikembangkan oleh Goleman dan Boyatzis.

C. Kecerdasan SpiritualCassirer (1944) dalam bukunya yang berjudul An Essay on Man menjelaskan bagaimana sejak pertama kali menjejakkan kakinya dibumi, manusia dengan instingnya memiliki kecenderungan untuk mencari sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Menusia memiliki kemampuan untuk berpikir transendental. Kecenderungan ini menenujukkan selain sebagai mahluk individual dan mahluk sosial, pada dasarnya manusia juga merupakan mahluk spiritual. Kecerdasan spiritual erat kaitannya dengan keagamaan, tetapi tidak identik dengan keberagamaannya. Bisa saja seseorang yang beragama memiliki kecerdasan spiritual yang rendah dan begitu juga sebaliknya. Penekanan dalam konsep kecerdasan spiritual lebih pada titik spiritual, bukan agama.\Robert Emmons mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai penggunaan informasi spiritual untuk memfasilitasi pemecahan masalah sehari-hari dan pencapaian tujuan. Cindy Wiggleswort mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai kemampuan untuk bertindak secara bijak dengan menjaga kedamaian diri tanpa terpengaruh keadaan. Wigglesworth membagi SQ menjadi 21 kompetensi dasar yang dibagi menjadi 4 quadran, yaitu kesadaran ego, kesadaran universal, penguasaan ego, dan penguasaan rohani/sosial. Frances Vaughan mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan pikiran dan jiwa, dan hubungannya dengan dunia. David B. King mendefinisikan kecerdasan spiritual sebagai suatu set kemampuan mental adaptif yang berlandaskan aspek non-material dan transenden dari realita yang berkontribusi terhadap kesadaran, inegrasi, dan aplikasi aspek non-material dan transenden seseorang yang mengarah ke hasil seperti refleksi eksistensial yang mendalam, pendalaman maksan, pengakuan diri, dan penguasaan mental spiritual. King membagi kecerdasan spiritual menjadi empat kemampuan utama, yaitu berpikir kritis tentang eksistensi, produksi makna personal, kesadaran transcendental, dan kesadaran tingkat tinggi.Kecerdasan spiritual dapat diukur dengan berbagai macam tes. Beberapa diantaranya adalah Spiritual Intelligence Self-Report Inventory (SISRI-24) yang dikembangkan oleh David King dan Teressa L. DeCicco, SQ21 yang dikembangkan oleh Wiggleswort, dan Scale for Spiritual Intellingece yang dikembangkan oleh Vineeth V. Kumar dan Mahju Mehta.

DAFTAR PUSTAKAGardner, H. (1983). Frames of mind: The theory of multiple intelligences. New York: Basic Books.Spearman, C. (1904). "General intelligence," objectively determined and measured. American Journal of Psychology 15, 201-293.Sternberg, R. J. (1985). Beyond IQ: A Triarchic Theory of Intelligence. Cambridge: Cambridge University Press.Thurstone, L.L. (1938). Primary mental abilities. Chicago: University of Chicago Press.Goleman, Daniel (1996). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. Bantam Books.Salovey, Peter; Mayer, John; Caruso, David (2004), "Emotional Intelligence: Theory, Findings, and Implications", Psychological Inquiry: 197215Goleman, Daniel (1998),What Makes a Leader?, Harvard Business ReviewSalovey, P., & Mayer, J. (1990). Emotional intelligence. Imagination, cognition, and personality, 9(3), 185-211.Goleman, D. (n.d.). Emotional intelligence. Diakses melalui http://danielgoleman.info/topics/emotional-intelligence/ Cherry, Kendra. (n.d.). Theories of Intelligence. Diakses melalui http://psychology.about.com/od/cognitivepsychology/p/intelligence.htmCherry, Kendra. (n.d). 7 Myths About the Brain. Diakses melalui http://psychology.about.com/od/biopsychology/a/myths-about-the-brain.htmCherry, Kendra. (n.d.). What Is Emotional Intelligence?. Diakses melalui http://psychology.about.com/od/personalitydevelopment/a/emotionalintell.htmAnanya, Mandal. (2014). The Human Brain. Diakses melalui http://www.news-medical.net/health/The-Human-Brain.aspxAnanya, Mandal. (2014). Human Brain Structure. Diakses melalui http://www.news-medical.net/health/Human-Brain-Structure.aspxAnanya, Mandal. (2013). Language and the Human Brain. Diakses melalui http://www.news-medical.net/health/Language-and-the-Human-Brain.aspxAnonim. (n.d). What are the regions of the brain and what do they do?. Diakses melalui http://askabiologist.asu.edu/what-your-brain-doingAnonim. (n.d.) Parts of the Brain and Their Functions. Diakses melalui http://www.md-health.com/parts-of-the-brain-and-function.htmlKing, David B. (2008). A Viable Model of Spiritual Intelligence. Diakses melalui http://www.davidbking.net/spiritualintelligence/model.htmKing, David B. (2008). The Spiritual Intelligence Self-Report Inventory (SISRI-24). Diakses melalui http://www.davidbking.net/spiritualintelligence/sisri.htmWigglesworth, Cindy. (2006). Why Spiritual Intelligence Is Essential to Mature Leadership. Diakses melalui http://www.godisaserialentrepreneur.com/uploads/2/8/4/4/2844368/spiritual-intelligence-n-mature-leadership.pdfWigglesworth, Cindy. (2002). Spiritual Intelligence and Why It Matters. Diakses melalui http://www.godisaserialentrepreneur.com/uploads/2/8/4/4/2844368/spiritual_intelligence__emotional_intelligence_2011.pdfWigglesworth, Cindy. (2012). Spiritual Intelligence: Living as Your Higher Self. Diakses melalui http://www.huffingtonpost.com/cindy-wigglesworth/spiritual-intelligence_b_1752145.htmlVaughan, Frances. (2002). What Is Spiritual Intelligence?. Diakses melalui http://www.francesvaughan.com/files/Spiritualintell.pdf