makalah inventori kel 4 bismillah (2)

of 47 /47
Bab 1 - Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pendahuluan Era globalisasi yang ditandai dengan kebebasan bersaing diberbagai bidang usaha dewasa ini sudah mulai terasa dampaknya termasuk terhadap dunia usaha di Indonesia. Oleh karena itu, setiap perusahaan harus bisa beroperasi secara efektif dan efisien sehingga mampu menghadapi persaingan dengan perusahaan yang sejenis. Pada umumnya tujuan semua perusahaan sama, yaitu pencapaian laba yang optimal. Alasan utamanya adalah laba merupakan penentu utama kelangsungan hidup dan perkembangan suatu perusahaan. Pada kurun 10 tahun terakhir persaingan dirasakan begitu ketat terutama di negara- negara berkembang. Inilah globalisasi yang benar-benar sedang menjalar dan demikianlah akibatnya terhadap persaingan. Terdapat tiga hal pokok yang menjadi ajang persaingan, yaitu harga, mutu dan layanan. Harga seringkali ditentukan oleh biaya sedangkan biaya sendiri adalah hasil penentuan dan pemilihan proses produksi perusahaan. Salah satu komponen biaya produksi yang tinggi adalah barang, Ini merupakan bidang manajemen logistik, khususnya manajemen barang atau material, yang lebih khusus lagi manajemen persediaan barang (Indrajid dan Djokopranoto, 2003). Manajemen persediaan merupakan komponen penting dalam perusahaan karena persediaan merupakan aset termahal bagi perusahaan. Alokasi dana untuk persediaan bisa mencakup 50% dari total modal yang 2 ditanamkan (Heizer dan Render dalam Anwar, 2008). Oleh karena itu, perkembangan dibidang ini harus dicari secara terus menerus dan diupayakan memperoleh biaya yang paling optimal. Manajemen persediaan harus mampu mengatur keseimbangan antara investasi persediaan dengan pelayanan pelanggan. Manajemen persediaan tidak bisa terlalu menekan biaya persediaan karena bisa jadi proses produksi akan terganggu 1

Upload: atikah-a

Post on 09-Jul-2016

67 views

Category:

Documents


7 download

DESCRIPTION

u

TRANSCRIPT

Page 1: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

Bab 1 - Pendahuluan

BAB IPENDAHULUAN

1.1 PendahuluanEra globalisasi yang ditandai dengan kebebasan bersaing diberbagai bidang usaha

dewasa ini sudah mulai terasa dampaknya termasuk terhadap dunia usaha di Indonesia.

Oleh karena itu, setiap perusahaan harus bisa beroperasi secara efektif dan efisien sehingga

mampu menghadapi persaingan dengan perusahaan yang sejenis. Pada umumnya tujuan

semua perusahaan sama, yaitu pencapaian laba yang optimal. Alasan utamanya adalah laba

merupakan penentu utama kelangsungan hidup dan perkembangan suatu perusahaan. Pada

kurun 10 tahun terakhir persaingan dirasakan begitu ketat terutama di negara-negara

berkembang. Inilah globalisasi yang benar-benar sedang menjalar dan demikianlah akibatnya

terhadap persaingan. Terdapat tiga hal pokok yang menjadi ajang persaingan, yaitu harga,

mutu dan layanan. Harga seringkali ditentukan oleh biaya sedangkan biaya sendiri adalah

hasil penentuan dan pemilihan proses produksi perusahaan. Salah satu komponen biaya

produksi yang tinggi adalah barang, Ini merupakan bidang manajemen logistik, khususnya

manajemen barang atau material, yang lebih khusus lagi manajemen persediaan barang

(Indrajid dan Djokopranoto, 2003). Manajemen persediaan merupakan komponen penting

dalam perusahaan karena persediaan merupakan aset termahal bagi perusahaan. Alokasi

dana untuk persediaan bisa mencakup 50% dari total modal yang 2 ditanamkan (Heizer dan

Render dalam Anwar, 2008). Oleh karena itu, perkembangan dibidang ini harus dicari secara

terus menerus dan diupayakan memperoleh biaya yang paling optimal. Manajemen

persediaan harus mampu mengatur keseimbangan antara investasi persediaan dengan

pelayanan pelanggan. Manajemen persediaan tidak bisa terlalu menekan biaya persediaan

karena bisa jadi proses produksi akan terganggu bahkan terhenti dan pada akhirnya

pelanggan tidak puas karena barang yang telah dipesan tidak tersedia.

Setiap perusahaan memerlukan persediaan karena suatu ketika perusahaan pasti

menghadapi resiko tidak tersedianya barang yang diperlukan untuk proses produksi dari

pemasok. Apabila ketika perusahaan diharuskan menghasilkan produk namun pada saat itu

barang yang diperlukan untuk menghasilkan produk tersebut tidak tersedia maka perusahaan

tidak akan mendapatkan keuntungan bahkan perusahaan akan mengalami kerugian. Maka

perusahaan memerlukan suatu sistem perencanaan dan pengendalian persediaan yang

efektif agar mampu memenuhi semua permintaan konsumen.

Inventori (stock barang) merupakan permasalahan operasional yang sering dihadapi

oleh perusahaan. Inventori bisa berupa jumlah barang yang diletakkan di etalase atau bisa

berupa jumlah barang yang disimpan di gudang. Jika jumlah inventori terlalu sedikit dan

permintaan tidak dapat dipenuhi karena kekurangan persediaan, hal ini akan mengakibatkan

1

Page 2: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

2

konsumen akan kecewa dan ada kemungkinan konsumen tidak akan kembali lagi. Begitu

juga jika inventori terlalu besar, hal ini akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan karena

harus menyediakan tempat yang lebih besar, kemungkinan terjadinya penyusutan nilai guna

barang, serta harus menyediakan biaya-biaya tambahan yang terkait dengan dengan biaya

inventori seperti biaya pemeliharaan dan biaya akuntansi. Karena itu, manajemen harus bisa

memutuskan berapa banyak suatu barang harus disiapkan (distock) untuk keperluan

perusahaan. Selain itu, manajemen juga harus jeli dalam melihat kebutuhan konsumen

sehingga mereka merasa puas karena mendapatkan apa yang dibutuhkannya.

Untuk melihat dan mendapatkan jumlah inventori yang tepat serta bisa melihat

kebutuhan konsumen, manajemen harus sering mengadakan kajian terhadap masalah

tersebut. Mereka memerlukan survei pasar, menganalisa data penjualan, mengamati pola

pembelian , mengamati keterkaitan barang yang dibeli oleh konsumen, dan kegiatan lain

lainnya. Salah satu kajian yang bisa di lakukan untuk mengetahui kondisi pasar (konsumen)

adalah dengan mengamati transaksi penjualan dan dilanjutkan dengan melakukan

pengolahan terhadap data penjualan tersebut. Dengan proses pengolahan terhadap data

penjualan ini, manajemen bisa mendapatkan informasi yang digunakan untuk keperluan

manajemen inventori swalayan seperti menentukan jumlah barang yang harus disiapkan di

gudang, mengatur jumlah minimal stok, jumlah stok aman (safety stock,) dan jumlah stok

maksimal setiap barang. Selain itu dengan menggunakan informasi ini, manajemen bisa

memutuskan kapan mereka harus melakukan re-order pembelian barang pada suplier,

menentukan strategi yang harus dilakukan jika ada barang yang pergerakan stoknya lambat

serta menentukan barang apa yang harus dihapus dari stok karena sudah tidak diminati oleh

konsumen.

Page 3: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

3Bab II - Tinjauan Pustaka dan Metodologi

1.2 Perumusan masalahBerdasarkan dari latar belakang masalah tersebut diatas, maka masalah yang dihadapi

dapat dirumuskan sebagai berikut :

“Bagaimana melakukan Analisis Manajemen Inventori yang efektif dan efisien terhadap

studi kasus yang dipilih guna memahami dan menemukan akar permasalahan serta

memberikan solusi perbaikan dan implemetasi yang sebaiknya dilakukan”

1.4. Batasan MasalahPermasalahan dibatasi hanya pada studi kasus yang telah ditentukan yakni kasus

stockout atau kehabisan bahan baku di PT. Combiphar indonesia

1.5 TujuanTujuan yang ingin dicapai dalam paper ini adalah:

1. Memahami apa itu manajemen logistik

2. Melakukan analisis manajemen inventori / persediaan pada studi kasus yang telah di

tetapkan (kasus stockout/ kehabisan bahan baku di PT Combiphar)

3. Memberikan perbaikan dan implementasi terhadap studi kasus yang telah ditetapkan

1.6 ManfaatManfaat yang ingin dicapai dalam paper ini adalah:

1. Mampu Memahami apa itu manajemen logistik

2. Mampu Melakukan analisis manajemen inventori / persediaan pada studi kasus yang

telah di tetapkan (kasus stockout/ kehabisan bahan baku di PT Combiphar)

3. Dapat memberikan perbaikan dan implementasi terhadap studi kasus yang telah

ditetapkan

Page 4: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

Bab II - Tinjauan Pustaka dan Metodologi

BAB IITINJAUAN PUSTAKA DAN METODOLOGI

2.1 Persediaan (Inventory) Persediaan didefinisikan sebagai barang jadi yang disimpan atau digunakan

untuk dijual pada periode mendatang, yang dapat berbentuk bahan baku yang

disimpan untuk diproses, barang dalam proses manufaktur dan barang jadi yang

disimpan untuk dijual maupun diproses. Persediaan diterjemahkan dari kata

“inventory” yang merupakan timbunan barang (bahan baku, komponen, produk

setengah jadi, atau produk akhir, dll) yang secara sengaja disimpan sebagai

cadangan (safety atau buffer-stock) untuk manghadapi kelangkaan pada saat proses

produksi sedang berlangsung.

Untuk lebih jelasnya mengenai persediaan, maka akan dipaparkan pengertian

persediaan. Pengertian persediaan akan dijelaskan dari beberapa defenisi berikut:

1. Starr dan Miller (1997:3) menjelaskan bahwa inventory is theory hardly enquires

education and inventory immediately brings to minds a stock of some kind of physical

commodity

2. Rangkuti (2007:2) menyatakan bahwa persediaan adalah bahan-bahan, bagian yang

disediakan, dan bahan-bahan dalam proses yang terdapat dalam perusahaan untuk

proses produksi, serta barang-barang jadi atau produk yang disediakan untuk

memenuhi permintaan dari konsumen atau pelanggan setiap waktu

3. Baroto (dalam Riggs, 1976) menyatakan bahwa persediaan adalah bahan mentah,

barang dalam proses (work in process), barang jadi, bahan pembantu, bahan

pelengkap, komponen yang disimpan dalam antisipasinya terhadap pemenuhan

permintaan.

Dari definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa persediaan adalah material yang

berupa bahan baku, barang setengah jadi, atau barang jadi yang disimpan dalam

suatu tempat atau gudang dimana barang tersebut menunggu untuk diproses atau

diproduksi lebih lanjut.

2.2 Penyebab Persediaan Persediaan merupakan suatu hal yang tak terhindarkan. Menurut Baroto (2002:53)

mengatakan bahwa penyebab timbulnya persediaan adalah sebagai berikut:

1. Mekanisme pemenuhan atas permintaan Permintaan terhadap suatu barang tidak

dapat dipenuhi seketika bila barang tersebut tidak tersedia sebelummya. Untuk

menyiapkan barang ini diperlukan waktu untuk pembuatan dan pengiriman, maka

adanya persediaan merupakan hal yang sulit dihindarkan

4

Page 5: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

Bab II - Tinjauan Pustaka dan Metodologi

2. Keinginan untuk meredam ketidakpastian Ketidakpastian terjadi akibat: permintaan

yang bervariasi dan tidak pasti dalam jumlah maupun waktu kedatangan, waktu

5

Page 6: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

6

pembuatan yang cenderung tidak konstan antara satu produk dengan produk

berikutnya, waktu tenggang (lead time) yang cenderung tidak pasti karena banyak

faktor yang tidak dapat dikendalikan. Ketidakpastian ini dapat diredam dengan

mengadakan persediaan

3. Keinginan melakukan spekulasi yang bertujuan mendapatkan keuntungan besar dari

kenaikan harga di masa mendatang.

2.5 Jenis-Jenis Persediaan Setiap jenis persediaan memiliki karakteristik tersendiri dan cara pengelolaan

yang berbeda. Rangkuti (2007:15) memaparkan persediaan dapat dibedakan

menjadi beberapa jenis:

1. Persediaan bahan mentah (raw material) yaitu persediaan barang-barang berwujud,

seperti besi, kayu, serta komponen-komponen lain yang digunakan dalam proses

produksi

2. Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased parts/components), yaitu

persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari

perusahaan lain yang secara langsung dapat dirakit menjadi suatu produk.

3. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan barangbarang

yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi bukan merupakan bagian atau

komponen barang jadi

4. Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barangbarang

yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah

diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang

jadi. 5. Persediaaan barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang yang

telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap dijual atau dikirim kepada

pelanggan

2.4 Fungsi-Fungsi Persediaan Pada prinsipnya persediaan mempermudah atau memperlancar jalannya

operasi perusahaan/pabrik yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk

memproduksi barang-barang serta menyampaikannya pada para pelanggan atau

konsumen. Rangkuti (2007:15) menjelaskan adapun fungsi-fungsi persediaan oleh

suatu perusahaan/pabrik adalah sebagai berikut

1. Fungsi Decoupling

Adalah persediaan yang memungkinkan perusahaan dapat memenuhi permintaan

pelanggan tanpa tergantung pada supplier. Persediaan bahan mentah diadakan agar

perusahaan tidak akan sepenuhnya tergantung pada pengadaannya dalam hal

Page 7: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

7

kuantitas dan waktu pengiriman. Persediaan barang dalam proses diadakan agar

departemen-departemen dan proses-proses individual perusahaan terjaga

“kebebasannya”. Persediaan barang jadi diperlukan untuk memenuhi permintaan

produk yang tidak pasti dari para pelanggan. Persediaan yang diadakan untuk

menghadapi fluktuasi permintaan konsumen yang tidak dapat diperkirakan atau

diramalkan disebut fluctuation stock

2. Fungsi Economic Lot Sizing

Persediaan lot size ini perlu mempertimbangkan penghematan atau potongan

pembeliaan, biaya pengangkutan per unit menjadi lebih murah dan sebagainya. Hal ini

disebabkan perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih besar

dibandingkan biaya- biaya yang timbul karena besarnya persediaan (biaya sewa

gudang, investasi, resiko, dan sebagainya)

3. Fungsi Antisipasi

Apabila perusahan menghadapi fluktuasi permintaan yang dapat diperkirakan dan

diramalkan berdasar pengalaman atau data-data masa lalu, yaitu permintaan musiman.

Dalam hal ini perusahaan dapat mengadakan persediaan musiman (seasional

inventories).

2.5 Pengertian Pengendalian Persediaan

Pengendalian persediaan (Inventory Control) adalah penentuan suatu kebijakan

pemesanan dalam antrian, kapan bahan itu dipesan dan berapa banyak yang

dipesan secara optimal untuk dapat memenuhi permintaan, atau dengan kata lain,

pengendalian persediaan adalah suatu usaha atau kegiatan untuk menentukan

tingkat optimal dengan biaya persediaan yang minimum sehingga perusahaan dapat

berjalan lancar.

Masalah penentuan besarnya persediaan merupakan masalah yang penting

bagi perusahaan. Karena persediaan mempunyai efek yang langsung terhadap

keuntungan perusahaan. Adanya persediaan bahan baku yang terlalu besar

dibandingkan kebutuhan perusahaan akan menambah beban bunga, biaya

penyimpanan dan pemeliharaan dalam gudang, serta kemungkinan penyusutan dan

kualitas yang tidak bisa dipertahankan, sehingga akan mengurangi keuntungan

perusahaan. Sebaliknya persediaan bahan yang terlalu kecil akan mengakibatkan

kemacetan dalam produksi, sehingga perusahaan akan mengalami kerugian juga.

Apabila persediaan bahan terlalu besar atau penentuan tingkat persediaan yang

salah dapat berakibat buruk dan menimbulkan perusahaan antara lain disebabkan

oleh:

1. penimbunan persediaan mengakibatkan modal tertanam terlalu besar

Page 8: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

8

2. keputusan memesan atau membeli barang berulang-ulang dalam jumlah kecil

mengakibatkan biaya pemesanan menjadi besar

3. kekurangan persediaan yang mengakibatkan terhambatnya kegiatan produksi,

a. ongkos persediaan

b. resiko kerusakan bahan

Sebaliknya, apabila persediaan bahan yang terlalu kecil maka akan menimbulkan

kerugian bagi perusahaan antara lain disebabkan oleh:

1. kemacetan dalam produksi

2. ongkos pemesanan

3. ongkos kekurangan persediaan

Dan faktor-faktor yang mempengaruhi persediaan bahan baku adalah:

1. perkiraan pemakaian

2. harga bahan baku

3. biaya-biaya dari persediaan, yang meliputi biaya pemesanan dan biaya penyimpanan

4. pemakaian senyatanya, artinya pemakaian yang real yang sesuai dengan data

perusahaan

5. waktu tunggu (lead time), yaitu waktu yang diperlukan untuk memesan barang sampai

barang tersebut tiba.Waktu tunggu ini tidak selamanya konstan, cenderung bervariasi

karena tergantung dari jumlah barang yang dipesan dan waktu pemesanan.

2.6 Tujuan Pengendalian Persediaan Divisi yang berbeda dalam industri manufaktur akan memiliki tujuan

pengendalian persediaan yang berbeda. Menurut Ginting (2007:125) menjelaskan

bahwa tujuan dari pengendalian persediaan adalah:

1. pemasaran ingin melayani konsumen secepat mungkin sehingga menginginkan

persediaan dalam jumlah yang banyak

2. produksi ingin beroperasi secara efisien. Hal ini mengimplikasikan order produksi yang

tinggi akan menghasilkan persediaan yang besar (untuk mengurangi setup mesin). Di

samping itu juga produk menginginkan persediaan bahan baku, setengah jadi atau

komponen yang cukup sehingga proses produksi tidak terganggu karena kekurangan

bahan

3. personalia (personel and industrial relationship) menginginkan adanya persediaan

untuk mengantisipasi fluktuasi kebutuhan tenaga kerja dan PHK tidak perlu dilakukan

2.7 Komponen Biaya Persediaan Salah satu tujuan persediaan adalah mendapatkan biaya yang minimum. Oleh

karena itu, menurut Nasution dan Prasetyawan (2008:121) dalam menentukan biaya

Page 9: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

9

persediaaan perlu diketahui bahwa biaya-biaya yang mencakup dalam persediaan

sebagai berikut:

1. Biaya penyimpanan (holding costs atau carrying costs), yaitu terdiri atas biaya-biaya

yang bervariasi secara langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per

periode akan semakin besar apabila kuantitas bahan yang dipesan semakin banyak

atau rata- rata persediaan semakin tinggi. Biayabiaya yang termassuk sebagai biaya

penyimpanan adalah:

a. biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pendingin ruangan,

dan sebagainya)

b. biaya modal (opportunity costs of capital), yaitu alternative pendapatan atas dana

yang diinvestasikan dalam persediaan

c. biaya keusangan

d. biaya penghitungan fisik

e. biaya asuransi persediaan

f. biaya pajak persediaan

g. biaya pencurian, pengrusakan, atau perampokan

h. biaya penanganan persediaan dan sebagainya.

Biaya-biaya tersebut di atas merupakan variabel apabila bervariasi dengan tingkat

persediaan. Apabila biaya fasilitas penyimpanan (gudang) tidak variabel, tetapi tetap,

maka tidak dimasukkan dalam biaya penyimpanan per unit. Biaya penyimpanan

persediaan berkisar antara 12 sampai 40 persen dari biaya atau harga barang. Untuk

perusahaaan manufakturing biasanya, biaya penyimpanan rata-rata secara konsisten

sekitar 25 persen.

2. Biaya pemesanan atau pembelian (ordering costs atau procurement costs). Biaya-biaya

ini meliputi:

a. pemrosesan pesanan dan biaya ekspedisi

b. upah

c. biaya telepon

d. pengeluaran surat menyurat

e. biaya pengepakan dan penimbangan

f. biaya pemeriksaan (inspeksi) penerimaan

g. biaya pengiriman ke gudang

h. biaya utang lancar dan sebagainya.

Pada umumnya, biaya pemesanan (di luar biaya bahan dan potongan kuantitas)

tidak naik apabila kuantitas pemesanan bertambah besar. Tetapi, apabila semakin

banyak komponen yang dipesan setiap kali pesan, jumlah pesanan per periode turun,

maka biaya pemesanan total akan turun. Ini berarti, biaya pemesanan total per periode

Page 10: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

10

(tahunan) sama dengan jumlah pesanan yang dilakukan setiap periode dikalikan biaya

yang harus dikeluarkan setiap kali pesan.

3. Biaya kehabisan atau kekurangan bahan (shortage costs)

Adalah biaya yang timbul apabila persiapan tidak mencukupi adanya permintaan

bahan. Biaya-biaya yang termasuk biaya kekurangan bahan adalah sebagai berikut:

a. kehilangan penjualan

b. kehilangan pelanggan

c. biaya pemesanan khusus

d. biaya ekspedisi

e. selisih harga

f. terganggunya operasi

g. tambahan pengeluaran kegiatan manajerial dan sebagainya.

Biaya kekurangan bahan sulit diukur dalam praktik, terutama karena kenyataannya

biaya ini sering merupakan opportunity costs yang sulit diperkirakan secara objektif.

2.8 Sistem Pengendalian Persediaan Sistem persediaan adalah suatu mekanisme mengenai bagaimana mengelola

masukan-masukan yang berhubungan dengan persediaan menjadi output, dimana

untuk ini diperlukan umpan balik agar output memenuhi standar tertentu. Mekanisme

sistem ini adalah pembuatan serangkaian kebijakan yang memonitor tingkat

persediaan, menentukan persediaan yang harus dijaga, kapan persediaan harus

diisi, dan berapa besar pesanan harus dilakukan.

Sistem ini bertujuan untuk menetapkan dan menjamin tersedianya produk jadi,

barang dalam proses, komponen dan bahan baku secara optimal, dan pada waktu

yang optimal. Kriteria optimal adalah minimasi biaya total yang terkait dengan

persediaan, yaitu biaya penyimpanan, biaya pemesanan dan biaya kekurangan

persediaan. Variabel keputusan dalam pengendalian persediaan tradisional dapat

diklasifikasikan ke dalam variabel kuantitatif dan variabel kualitatif. Secara kuantitatif,

variabel keputusan pada pengendalian sistem persediaan adalah sebagai berikut:

1. berapa banyak jumlah barang yang akan dipesan atau dibuat

2. kapan pemesanan atau pembuatan harus dilakukan

3. berapa jumlah persediaan pengaman

4. bagaimana mengendalikan persediaan.

Secara kualitatif, masalah persediaan berkaitan dengan sistem pengoperasian

persediaan yang akan menjamin kelancaran pengelolaan persediaan adalah sebagai

berikut:

1. jenis barang apa yang dimiliki

Page 11: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

11

2. dimana barang tersebut berada

3. berapa jumlah barang yang harus dipesan

4. siapa saja yang menjadi pemasok masing-masing item.

Secara luas, tujuan dari sistem persediaan adalah menemukan solusi optimal

terhadap seluruh masalah yang berkaitan dengan persediaan. Dikaitkan dengan

tujuan umum perusahaan, maka optimalitas pengendalian persediaan sering kali

diukur dengan keuntungan maksimum yang dicapai. Karena perusahaan memiliki

banyak subitem lain selain persediaan, maka mengukur kontribusi pengendalian

persediaan dalam mencapai total keuntungan bukan hal mudah. Optimalisasi

pengendalian persediaan biasanya diukur dengan total biaya minimum pada suatu

periode tertentu (Baroto, 2002:54).

2.9 Model-Model Persediaan Model persediaan dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu: (Taha, 1982)

1. Model Deterministik Model deterministik ditandai oleh karakteristik permintaan dan

periode kedatangan pesanan yang dapat diketahui secara pasti sebelumnya. Model ini

dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Deterministik Statis Pada model ini tingkat permintaan setiap unit barang untuk tiap

periode diketahui secara pasti dan bersifat konstan.

b. Deterministik Dinamik Pada model ini tingkat permintaan setiap unit barang untuk

tiap periode diketahui secara pasti, tetapi bervariasi dari satu periode ke periode

lainnya.

2. Model Probabilistik Model probabilistik ditandai oleh karakteristik permintaan dan

periode kedatangan pesanan yang tidak dapat diketahui secara pasti sebelumnya,

sehingga perlu didekati dengan distribusi probabilitas. Model ini dibedakan menjadi dua

yaitu:

a. Probabilistik Stationary Pada model ini tingkat permintaaan bersifat random, dimana

probability density function dari permintaan tidak dipengaruhi oleh waktu setiap

periode.

b. Probabilistik Nonstationary Pada model ini tingkat permintaaan bersifat random,

dimana probability density function dari permintaan bervariasi dari satu periode ke

periode lainnya.

2.10Metode Economic Order Quantity (EOQ) Model ini diarahkan untuk menemukan jumlah pesanan yang memenuhi total

biaya persediaan minimal dengan mempertimbangkan biaya pemesanan dan biaya

penyimpanan, sehingga diharapkan tidak ada kekurangan persediaan. Metode ini

Page 12: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

12

dapat digunakan baik untuk barang yang dibeli maupun untuk barang yang

diproduksi sendiri.

2.10.1 Perumusan Metode EOQ Model Persediaan ini memakai asumsi-asumsi sebagai berikut:

1. Hanya satu barang yang diperhitungkan

2. Kebutuhan (permintaan) setiap periode diketahui, relatif tetap dan terus menerus

3. Barang yang dipesan diasumsikan langsung dapat tersedia atau berlimpah

4. Waktu tenggang (lead time) bersifat konstan

5. Setiap pesanan diterima dalam sekali pengiriman dan langsung dapat digunakan

6. Tidak ada pesanan ulang (back order) karena kehabisan persediaan

7. Tidak ada quantity discount.

Secara grafis, model dasar persediaan ini dapat digambarkan sebagai berikut

(Nasution, 2008:135)

Gambar 2.1 Grafik Model Persediaan EOQ

Dalam metode EOQ digunakan beberapa notasi sebagai berikut:

D = jumlah pemesanan barang suatu periode (unit/tahun)

d = tingkat kebutuhan per unit waktu (unit/tahun)

S = biaya pemesanan (rupiah)

T = periode/waktu pemesanan (tahun)

t = waktu satu putaran produksi (tahun)

C = harga barang (rupiah)

H = biaya penyimpanan (rupiah/unit/tahun)

Q = jumlah pemesanan (unit)

F = frekuensi pemesanan (kali/tahun)

L = waktu tenggang atau lead time (hari)

Page 13: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

13

TC = total biaya persediaan (rupiah/tahun)

EOQ adalah yaitu jumlah pemesanan yang memberikan total biaya persediaan yang

optimal, berikut merupakan rumus dari EOQ

EOQ =

Dimana :

S = biaya pesan/order

D = permintaan (kebutuhan)

H = Biaya simpan/u/th

2.11Persediaan Pengaman (Safety Stock) Berfungsi untuk melindungi atau menjaga kemungkinan terjadinya kekurangan

barang, misalnya karena penggunaan barang yang lebih besar dari perkiraan semula

atau keterlambatan dalam penerimaan barang yang dipesan.

Batas toleransi ( α ) yang digunakan oleh perusahaan adalah 5% di atas

perkiraan dan 5% di bawah perkiraan. Dengan dua batas toleransi tersebut pada

Tabel Standar Deviasi Normal maka nilai Standar Normal Deviasi ( Z ) yang

digunakan adalah 1,65.

Dengan Rumus :

SS = Z δ

Dimana :

SS = Safety Stock

Z= Standar deviasi

δ = banyaknya data

(Eddy Herjanto, 1999 : 182)

2.12 Pemesanan Kembali (Reorder Point)Saat harus diadakan pemesanan kembali sehingga kedatangan atau

penerimaan barang yang dipesan tepat waktu (di mana persediaan di atas

persediaan pengaman sama dengan nol). Titik pemesanan ulang dapat ditetapkan

dengan menjumlahkan penggunaan selama waktu tenggang ditambah dengan

persediaan pengaman.

Dengan Rumus:

ROP = Dl + SS

Dimana:

ROP= titik pemesanan ulang (reorder point)

d= tingkat kebutuhan persediaan per hari

Page 14: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

14

L= waktu tenggang (lead time)

(Eddy Herjanto, 1999: 182)

2.13 Persediaan Maksimal (Maximum Inventory) Persediaan maksimal merupakan jumlah persediaan yang paling banyak yang

boleh ada di gudang. Besarnya persediaan maksimal atau maximum inventory yang

ada di gudang dapat dicari dengan menjumlahkan kuantitas persediaan menurut

dengan jumlah persediaan pengaman (safety stock).

Dengan Rumus:

MI = SS + EOQ

Dimana:

MI= Maximum Inventory

( Eddy Herjanto, 1999: 183)

2.14Penyimpanan Material2.14.1Kontrol penyimpanan di Gudang Penyimpanan

Langkah-langkah yang digunakan agar material tersimpan pada lokasi yang seharusnya:

1. Pertama, memisahkan material berdasarkan status hasil pemeriksaan kualitas. Status

dapat berupa lulus atau tidak lulus uji kualitas.

2. Setelah ditentukan lokasi penyimpanan berdasarkan status, dilanjutkan dengan

memperhatikan karakter khusus material yang bersangkutan.

3. Langkah ketiga setelah penyimpanan berdasarkan karakter adalah penyimpanan

berdasarkan part number

4. Langkah terakhir adalah penyimpanan berdasarkan urutan serial number.

2.14.2 Identifikasi lokasi penyimpanan.Berikut ini adalah contoh identifikasi lokasi penyimpanan dengan menggunakan 6 angka

digital (contoh :102304).

1. Angka pertama menunjukkan lokasi gudang

1= gudang konduktor ?

2= gudang isolator ?

3= gudang B3

4= gudang reject material

2. Angka kedua dan ketiga menunjukkan lokasi BIN/rak. Perhitungan BIN dimulai dari rak

kanan menuju ke kiri.

3. Angka keempat menunjukkan tingkatan BIN. Perhitungan tingkat dimulai dan atas ke

bawah.

Page 15: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

15

4. Angka kelima dan keenam menunjukkan urutan penyekatan. Perhitungan sekat dimulai

dari kanan ke kiri.

2.15Kontrol kualitas dan kuantitas materialAda 2 cara untuk menjaga kualitas penyimpanan material, yaitu melalui kontrol usia dan

kontrol penumpukan material.

Sementara untuk kontrol kuantitas dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan silang

(cross check) antara data yang tertulis dengan kondisi aktual di gudang.

Ada 3 jenis pemeriksaan kuantitas yang biasa dilakukan:

1. pemeriksaan saat material akan digunakan.

2. pemerikasaan setiap bulan.

3. pemeriksaan setiap semester (per 6 bulan)

2.15.1 Kontrol kualitas material lamaTahapan untuk melakukan kontrol kualitas bagi material lama:

1. melakukan identifikasi terhadap material yang sudah tersimpan untuk waktu lama.

2. melakukan pemeriksaan secara berkala terhadap material-material lama yang sudah

terindentifikasi tersebut.

3. jika suatu waktu material yang tersimpan lama tersebut tampak dalam kondisi yang

tidak sesuai maka harus dilaporkan ke departemen quality control.

4. hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan oleh departemen quality control akan

ditindaklanjuti oleh departemen logistik.

2.15.2Kontrol untuk Shelf Life MaterialAda beberapa hal yang sebaiknya dilakukan ketika shelf material akan berakhir:

1. memberikan informasi kondisi material sekitar 3-6 bulan kepada departemen produksi

sebelum shelf life berakhir.

2. memberikan label peringatan yang ditempelkan pada boks material.

2.15.3Kontrol untuk Stock Aging Materialmaterial stock aging adalah material yang disimpan dan belum digunakan dalam waktu

tertentu. proses perawatan yang dilakukan oleh operator logistik lebih bersifat perawatan

fisik. sementara untuk pemeriksaan fungsi dan kareakter dilakukan oleh unit incoming

quality control

2.15.4Tindak Lanjut Status Material1. Penggantian dari supplier

Page 16: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

16

Material berkualitas buruk atau rusak yang bukan disebabkan oleh pembeli ,seharusnya

mendapat penggantian dari supplier.

2. Penjualan Material

prioritas kedua untuk material berkualitas buruk adalah untuk dijual. Perlu digaris

bawahi bahwa material ini hanya dapat dijual jika mendapat izin dari top management.

3. Material Rusak adalah Urgent material

Departemen logistik harus menginformasikan identitas material yang tidak dapat

digunakan kepada departemen produksi sebelum material didisposal. Tujuannya adalah

untuk memastikan bahwa material-material tersebut tidak termasuk material penting

yang mendesak untuk digunakan segera.

4. Material Review Board (MRB).

MRB adalah pertemuan bersama untuk mendapatkan tujuan disposal dari semua

departemen terkait. Hasil MRB harus tertuang dalam suatu form yang berisi tanda

tangan dari semua pihak wakil departemen terkait.

5. Pemeriksaan ulang IQC

Permintaan pemeriksaan material ini lebih sering dilakukann untuk beberapa

alasan:

1) material yang sudah lama disimpan akan digunakan lagi dalam waktu dekat.

2) material yang rusak secara fisik.

3) material termasuk urgent material.

6. Disposal

Proses disposal tidak boleh sembarangan. jika material atau produk yang anda akan

disposal mengandung bahan kimia berbahaya, maka anda harus berkoordinasi dengan

lembaga pemerintah yang terkait.

2.16Pengeluaran Material2.16.1 Proses pengeluaran material1. Material yang akan digunakan oleh departemen produksi atau departemen lainnya

harus ditulis terlebih dahulu dalam suatu form yang biasa disebut shop order atau daftar

permintaan material

2. Kemudian material akan disiapkan berdasarkan identitas pada shop order tersebut.

Seperti waktu penggunaan, part number, spefikasi, dan jumlah yang dibutuhkan.

3. Kemudian operator akan mencari material sesuai dengan part number yang diminta.

4. Selanjutnya operator akan memperhatikan spesifikasi material.

5. Setelah memperhatikan dengan part number dan spesifikasi yang diminta ditemukan,

operator akan menyiapkan material sesuai dengan banyaknya material yang

dibutuhkan.

Page 17: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

17

2.16.2 Aturan Pengambilan MaterialAturan yang umum digunakan untuk peletakan dan pengambilan material adalah FIFO (First

In First Out), artinya material yang digunakan pertama kalli adalah material yang masuk

terlebih dahulu.

Berikut ini adalah beberapa langkah yang mendukung aturan FIFO ini agar mudah

terlaksana:

1. informasi waktu kedatangan, bisa dibantu juga dengan informasi warna.

2. status shelf life.

2.17Material Masuk2.17.1Pemeriksaan DokumenMemeriksa kelengkapan dokumen dengan material yang diterima. Dokumen- dokumen

tersebut antara lain adalah:

1. Dokumen pemesanan atau Purchase Order.

2. Surat jalan atau Delivery Order

3. Dokumen yang memperlihatkan bahwa material yang dikirim telah lulus uji kualitas oleh

Quality Control Supplier.

2.17.2Pemeriksaan KemasanPemeriksaan ini lebih bersifat pada pemeriksaan fisik kemasan semata.

2.17.3Pemeriksaan JumlahPemeriksaan paling ideal adalah perhitungan semua material sesuai dengan yang

tercantum pada dokumen DO.

Input Arrival

Beberapa identitas material yang dimasukkan pada database computer antara lain adalah;

1. Nama material

2. Part number

3. Serial number (optional)

4. Jumlah material yang diterima

5. Waktu penerimaan

6. Nama supplier

7. Nama pemeriksa

8. Status

9. Keterangan

Page 18: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

18

2.18Metodologi Penelitian Studi Kasus

Page 19: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

19

Gambar 2.2 Diagram Alir Penelitian

Page 20: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

20Bab III - Analisis Studi Kasus dan Pembahasan

Penjelasan Langkah-Langkah diagram alir Pemecahan Masalah Penjelasan Flow Chart pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Pendahuluan

Pada tahapan ini dilakukan semacam studi mengenai pengenalan dan permasalahan

inventorisecara general serta sebagai landasan pemilihan studi kasus yang akan

dibahas.

2. Studi Kepustakaan

Studi Kepustakaan ini bertujuan untuk mengumpulkan segala informasi dan dasar-

dasar teori penunjang baik berasal dari buku, jurnal, ataupun referensi yang lain. Teori-

teori pendukung yang digunakan sebagai Pemecahan masalah antara lain metode

system pengendalian persediaan, Forecasting , EOQ, ROP

2. Identifikasi Masalah

Setelah mengetahui studi kasus dapat ditentukan topik permasalahan yang akan

dibahas pada tugas akhir ini. Permasalahan yang diangkat dari penelitian ini dapat

dilihat pada bab 3. Perumusan masalah dilakukan untuk merumuskan permasalahan

apa yang akan diamati dan dianalisa dalam penelitian. Perumusan masalah yang diteliti

mengacu pada latar belakang yang telah diuraikan. Dengan rumusan masalah yang

jelas maka diharapkan pada saat melakukan penelitian baik permasalahan maupun

obyek yang diteliti tidak akan mengalami perluasan atau perubahan.

3. Pengumpulan Data

Pada tahap ini data-data dikumpulkan untuk menunjang penelitian baik itu data primer

maupun sekunder.

4. Analisis Permasalahan

Selanjutnya kita lakukan analisis secara keseluruhan untuk dapat mengendalikan

persediaan yang ada yakni antara lain melakukan analisis peramalan, EOQ, Safety

Stock , Reorder Point , dll . dan setelah melakukan semua analisis dan menemukan

solusi yang efektif dan efisien kemudian kita dapat ke tahap selanjutnya

5. Kesimpulan dan implementasi

Dari hasil analisis tersebut kemudian diambil kesimpulan yang merupakan hasil akhir

dari penelitian ini. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat diberikan rekomendasi atau

masukan dan juga saran-saran yang dapat menjadi masukan bagi pihak rumah sakit

dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanannya.

Page 21: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

BAB IIIANALISIS STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

3.1 Studi Kasus dan Identifikasi PermasalahanPersediaan merupakan salah satu aset yang paling penting dalam perusahaan,

terutama di perusahaan manufaktur. Dalam hal masalah yang berkaitan dengan persediaan,

proses bisnis perusahaan akan terganggu. Salah satu contoh dari masalah persediaan

adalah stock out terjadi. Stock out adalah suatu kondisi di mana perusahaan tidak dapat

memenuhi permintaan pelanggan karena kekurangan persediaan di gudang. Masalah ini

sering terjadi pada perusahaan manufaktur yang diadaptasi membuat sistem stockout, untuk

perusahaan farmasi misalnya.

PT. Combiphar adalah salah satu perusahaan farmasi di Indonesia yang mengadaptasi

sistem. Dengan sistem ini, perusahaan dituntut untuk melakukan peramalan permintaan

untuk menghindari kekurangan atau kelebihan persediaan di masa mendatang. Hal lain

yang harus ditentukan oleh perusahaan adalah penataan kembali waktu pemesanan dan

safety stock dalam mengantisipasi persediaan di gudang.

Manajemen persediaan merupakan aspek penting dalam manajemen rantai pasokan

yang dapat menyesuaikan tingkat persediaan di gudang dengan mempertimbangkan biaya-

biaya seperti: biaya pemesanan, biaya penyimpanan dan biaya prmbelian. Persediaan yang

dibutuhkan untuk mengantisipasi out of stock, dan menghindari ketidakpastian harga, waktu,

dan permintaan.

Economic Order Quantity (EOQ) adalah salah satu model persediaan yang menghitung

tingkat persediaan maksimum harus dipesan dengan biaya terendah. Penelitian ini

menggunakan metode kuantitatif, meliputi: perhitungan peramalan dengan double

exponential smoothing models untuk menentukan tingkat permintaan pada 2013 dan 2014,

menentukan titik re-order dan tingkat safety stock untuk mengetahui kapan perusahaan

harus memesan dan berapa banyak persediaan harus diantisipasi, juga EOQ perhitungan

untuk mengetahui berapa banyak pesanan bahan baku pada biaya terendah.

3.2 Reaserch Model Penyelesaian PermasalahanBerdasarkan studi kasus stockout di PT Combiphar yang terjadi, ada faktor yang secara

langsung mempengaruhi kasus ini. Artinya, tingkat safety stock perusahaan. Safety stock

juga dipengaruhi oleh peramalan dan Re-order point. Ketika persediaan pengaman pada

tingkat yang sesuai, dapat mengurangi tingkat kekurangan bahan baku.

21

Page 22: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

22

Namun, perhitungan safety stock dipengaruhi oleh peramalan, karena tingkat safety

stock ditentukan berdasarkan perhitungan peramalan. Tidak hanya itu, tetapi juga menyusun

ulang titik dapat menentukan tingkat persediaan pengaman. Berdasarkan gambar di atas,

dapat diketahui proposisi sebagai berikut:

P1: Peramalan dapat menentukan tingkat safety Stock;

P2: Re-Order point dapat menentukan tingkat safety stock;

P3: Safety Stock dapat menurunkan tingkat Stock Out / kekurangan bahan baku

3.3 Pengumpulan dataMetodologi penelitian adalah langkah-langkah dan prosedur yang akan dilakukan dalam

pengumpulan data atau informasi untuk memecahkan masalah dan uji hipotesis penelitian.

Salah satu elemen yang paling penting dalam metodologi penelitian adalah penggunaan

metode ilmiah sebagai alat untuk mengidentifikasi objek atau fenomena. Tidak hanya itu,

tetapi juga mencari solusi untuk masalah yang sedang dipelajari, sehingga hasil yang

diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Metodologi dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif, dimana

peneliti melakukan survei atau pengamatan langsung dan pengolahan data kuantitatif.

Data ini baik kualitatif maupun kuantitatif dan ketika diolah akan menghasilkan informasi

yang diinginkan. Berdasarkan jenis, data dibagi menjadi dua jenis yakni data primer dan

data sekunder.

1. Data primer

Dalam penelitian ini data primer yang digunakan meliputi survei atau pengamatan

langsung

2. Data sekunder yang diperoleh dari penelitian sebelumnya

Dalam penelitian ini data sekunder adalah data historis perusahaan seperti: stock out,

permintaan dan lead time.

Penelitian ini berfokus pada kasus out of stock di gudang barang jadi. Ada lebih dari

100 produk yang mengalami kehabisan stok. Data yang digunakan adalah data internal

perusahaan termasuk: pending order atau stock out, permintaan, data actual produksi dan

pengiriman, lead time, biaya penyimpanan, biaya pemesanan, dan biaya pembelian.

Page 23: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

23

3.4 Analisis Permasalahan3.4.1 Level Stock Out dan Produk

Stock out atau pesanan yang tertunda adalah suatu kondisi yang dialami oleh

perusahaan yang tidak dapat memenuhi permintaan pelanggan dalam jangka waktu

tertentu.

Di PT. Combiphar sering terjadi kehabisan stok di tingkat value yang sangat tinggi di

tiap bulannya. Berikut ini Tabel 1: Stock Out Produk 2012 menunjukkan jumlah stock out

yang diidentifikasi dari produk. Dari Tabel 1 menunjukkan 20 produk mengalami stock out

tertinggi (kuantitas), paling sering (frekuensi) dan nilai. Pembatasan (restrications) adalah

sebagai berikut:

(1) kuantitas ≥ 30.000 (jumlah pesanan rata-rata per periode)

(2) frekuensi ≥ 3 kali (pesanan rata-rata per tahun)

(3) nilai ≥ Rp. 500 juta.

Objek penelitian dipilih berdasarkan kuantitas tertinggi, frekuensi dan juga nilai. CTS3

atau "Comtusi" terpilih sebagai objek yang akan diteliti karena memiliki stock out dengan

kuantitas, frekuensi dan nilai tertinggi. Comtusi Syrup adalah produk obat batuk langsung

diproduksi oleh PT. Combiphar, Padalarang, Indonesia. Produk ini dibuat untuk rumah sakit

dan apotek dan tersedia dalam paket 60ml.

Total stockout kuantitas pada tahun 2012 sebesar 1.390.698 unit dan total nilai sebesar

Rp 35.139.229.335. CTS3 memiliki proporsi 9% dari total stockout kuantitas; jumlah yang

sama dengan 128.036 unit. Produk ini memiliki proporsi 9,75% dari nilai total, yaitu Rp

3.424.963.000. Karena stockout kasus di atas, pendapatan dan laba kotor menurun. Berikut

ini menunjukkan hasil perhitungan, jika permintaan terpenuhi dan tidak terpenuhi.

Page 24: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

24

Perhitungan di atas menunjukkan perbedaan substansial dalam keuntungan karena kasus

stockout. Perusahaan tidak mengalami kerugian, tetapi keuntungan menurun. Karena

stockout di 2012, perusahaan kehilangan penjualan Rp1,888,383,500. Berdasarkan analisis

keuntungan di atas, jelas bahwa perusahaan mengalami menurunnya keuntungan karena

kekurangan persediaan.

3.4.3 Forecast Permintaan dengan Double Exponential Smoothing ModelDengan menggunakan metode double exponential smoothing model, ada dua

konstanta pemulusan; alpha (α) dan beta (β). Smoothing konstanta alpha: 0,6 atas dasar

bahwa data berfluktuasi tapi tidak terlalu ekstrim, sedangkan nilai beta: 0,4 atas dasar

bahwa tren permintaan telah menurun selama 24 bulan terakhir (2 tahun). Penentuan nilai

beta juga didasarkan oleh trial and error. Dari data di atas pada permintaan pada tahun

2011 dan 2012, dan langkah-langkah peramalan untuk 2013 dan 2014, statistik berikut

dapat dihitung Berikut ini Tabel 3 hasil peramalan untuk permintaan tahun 2013 dan 2014

Berdasarkan perhitungan Peramalan menggunakan QM, hasilnya keluar sebagai berikut:

Page 25: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

25

Dari tabel di atas, ditunjukkan berbagai tingkat kesalahan mulai dari kuantitas kesalahan,

MAD, MSE dan MAPE juga. Kuantitas kesalahan adalah nilai negatif, itu berarti bahwa rata-

rata kuantitas permintaan peramalan lebih tinggi dari masa lalu (data history). Dan, jika

perusahaan mengikuti angka peramalan tersebut, maka perusahaan harus memproduksi

lebih dari 936 produk dibandingkan dengan permintaan terakhir. Perusahaan Mungkin dapat

menghindari kasus stockout tetapi perusahaan harus berhati-hati karena jumlah 936,39

akan dapat menetap di gudang jika aktualnya di masa depan permintaan lebih rendahh dari

permintaan terakhir

3.4.4 Penetapan EOQPerlu adanya penilaian kebijakan pengelolaan persediaan bahan baku dalam mencapai

efisiensi dalam pengadaannya serta untuk mengetahui sejauh mana efisiensi biaya dapat

dilakukan. Salah satu alternatif pemecahan masalah pada perusahaan yaitu menggunakan

metode EOQ dalam pengelolaan persediaan bahan bakunya.

EQO adalah total persediaan dipesan pada waktu untuk meminimalkan biaya

persediaan tahunan. Berdasarkan perhitungan EOQ menggunakan POM-QM, hasil keluar

sebagai berikut:

Berdasarkan perhitungan EOQ, urutan maksimum pada tingkat 65,509 unit untuk

pesanan satu kali, di mana pada tahun itu perusahaan dapat memesan sebanyak 8 kali.

Jumlah ini adalah pesanan dengan biaya tahunan terendah bagi perusahaan. Hal ini

menunjukkan perbedaan besar antara hasil perhitungan dengan kuantitas pemesanan yang

sebenarnya. Faktanya, perusahaan hanya memesan 30.000 per order satu kali, sedangkan

Page 26: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

26

jumlah pesanan yang disarankan adalah 65.509. Tanpa perhitungan safety stock

perusahaan harus memesan kembali bahan baku ketika tingkat persediaan mencapai

58,558 unit.

3.4.5 Penetapan Safety Stock dan Reorder PointPersediaan pengaman diperlukan untuk menjaga kemungkinan kekurangan bahan

baku, akibat penggunaan bahan baku lebih besar dari pada perkiraan semula ataupun

karena keterlambatan datangnya bahan baku yang dipesan.

Persediaan pengaman dihitung untuk menentukan berapa banyak produk harus

digunakan oleh perusahaan sebagai "ban serep" dalam waktu tertentu untuk mengurangi

kasus stockout. Berdasarkan Stockout ,ROP perhitungan safety stock menggunakan POM-

QM, hasilnya ditunjukkan pada Figure 2: Safety Stock dan Hasil Re-Order Point.

Safety stock = 300 adalah stock maksimum yang harus dimiliki oleh perusahaan dalam

mengantisipasi out of stock karena keterlambatan, kesalahan pemesanan bahan baku dan

juga setiap permintaan darurat selama periode lead time. Dengan menambahkan safety

stock, perusahaan harus re-order bahan ketika tingkat persediaan mencapai maksimum

58,858 unit

3.4.6 Hubungan Antara EOQ, Safety Stock Dan Reorder PointBerdasarkan permintaan peramalan selama 1 tahun (permintaan harian rata-rata =

1.464), berapa banyak kuantitas yang harus dipesan, disimpan, dan kapan titik re-order

(ROP) dilakukan. Perusahaan harus membuat maksimum pemesanan sebnyak 65,509 unit.

Pada tingkat di mana persediaan yang telah diproduksi mencapai 58,858, maka perusahaan

harus melakukan reorder. Untuk menghindari stockout selama periode lead time

perusahaan harus memiliki safety stock 300 unit.

Safety stock dan hasil ROP didasarkan kepada peramalan permintaan. Faktanya,

metode sebaik apapun yang digunakan, tentu saja mempunyai tingkat kesalahan. Hal ini

Page 27: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

27

terlihat dalam perbandingan permintaan aktual dan peramalan pada periode Januari-Juli

2013. Oleh karena itu, perlu untuk menyesuaikan tingkat safety stock dan ROP setiap

periode. Hal ini juga disebabkan oleh perbedaan tingkat permintaan untuk setiap periode,

sehingga safety stock dan tingkat ROP berbeda serta setiap periode nya. Berikut ini adalah

tabel Rencana Kebutuhan Produksi 2013 yang merupakan kombinasi dari semua hasil

perhitungan mulai dari peramalan, persediaan pengaman dan juga ROP menggunakan

Economic Order Quantity model.

Page 28: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

28

Pada Tabel 5: Rencana Kebutuhan Produksi (Jan-Jul 2013) dan Tabel 6: Produksi

Rencana Kebutuhan (Agustus-Desember 2013) adalah ringkasan dari semua hasil yang

telah diperoleh. Safety stock dan titik re-order ditentukan setiap periode dengan lead time

(30 hari) berdasarkan permintaan rata-rata per bulan. Hasil yang ditunjukkan pada gambar

4.5 adalah safety stock maksimum dan ROP dalam jangka waktu satu tahun karena

permintaan yang digunakan adalah rata-rata per tahun bukan per bulan. Permintaan dari

Januari sampai Juli 2013 adalah permintaan yang sebenarnya, sedangkan bulan Agustus-

Desember didasarkan pada permintaan peramalan. Perencanaan produksi disesuaikan

dengan permintaan, persediaan pengaman dan persediaan sebelumnya. Jika permintaan

sebelumnya tidak terpenuhi, maka permintaan tersebut dipindahkan ke bulan berikutnya.

Hal ini ditunjukkan dengan angka merah pada tabel 6. kebutuhan produksi.

EOQ adalah 65,508 unit. Namun, kapasitas produksi tidak boleh melebihi EOQ, karena

jika produksi lebih besar dari EOQ, itu berarti kelebihan kapasitas dan meningkatkan biaya.

Jika produksi lebih tinggi dari ROP, maka pemesanan ulang dibuat ketika produksi selesai.

Hal ini untuk menghindari kelebihan persediaan di gudang.

Sebagai perbaikan untuk waktu lead time, maka analisis efisiensi garis diperlukan untuk

menentukan keseluruhan proses yang bertujuan untuk memotong proses non value added,

sehingga tidak terlalu banyak waktu yang terbuang.

Page 29: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

29

Efisiensi baris bertujuan untuk mengetahui perbandingan antara Value Added proses (VA) dan waktu siklus. Rasio ini menunjukkan

berapa persentase proses VA dibandingkan dengan Non value added (NVA) Berdasarkan pada data lead time atas, terlihat yang memakan

waktu lama. Melalui analisis efisiensi line, maka diperoleh presentase yang sangat kecil. Itu berarti proses "Value Added" dari suatu produk

seperti: sampling, produksi, dan release sedangkan "Non Value Added" meliputi proses administrasi, seperti: membuat permintaan pembelian

dan pesanan pembelian, pesanan rilis sampai pengiriman bahan baku

Page 30: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

Bab IV- Kesimpulan dan Rancangan Tindak Lanjut

BAB IVKESIMPULAN DAN RANCANGAN TINDAK LANJUT

4.1 KesimpulanBerdasarkan kasus stockout atau kekurangan bahan baku, perusahaan harus

melakukan peramalan. Tidak hanya peramalan, tetapi juga perusahaan perlu tahu kapan

titik pemesanan ulang dan tingkat safety stock. Teknik peramalan permintaan menggunakan

Double Exponential Smoothing dilakukan untuk menentukan berapa banyak permintaan

setiap bulan di masa depan, sehingga tidak ada kelebihan atau kekurangan persediaan;

sedangkan titik re-order dilakukan untuk menentukan tingkat pemesanan kembali bahan

baku yang optimal dengan biaya terendah. Persediaan pengaman tidak lepas dari dua hal

ini dan juga memegang peranan penting. Safety stock memungkinkan perusahaan untuk

mengurangi dan bahkan menghindari kasus stock out. Titik re-order dan perhitungan safety

stock dilakukan dengan menggunakan Economic Order Quantity Model (EOQ).

Sistem persediaan PT. Combiphar menunjukkan bahwa jumlah pesanan lebih kecil dari

EOQ perhitungan yaitu: 30.000 unit (permintaan yang diorder perusahaan per periode) dan

65.508 unit (berdasarkan model Economic Order Quantity). Dengan demikian, hal itu akan

menyebabkan kasus kehabisan bahan baku terus menerus. Dari sisi lain, ada non-efisiensi

biaya karena perusahaan tidak memesan pada titik jumlah maksimum dengan biaya

minimum. Tidak hanya non-efisiensi biaya, tetapi juga lead time. Rendahnya persentase

efisiensi garis menggambarkan banyak Non Value Added (NVA) pada proses di perusahaan

yang memakan waktu yang lama.

4.2 Rancangan Tindak Lanjut1. Mengimplementasikan hasil analisis pengendalian persedian berdasarkan hasil analisis

inventori PT. Combiphar

2. Melakukan proses peramalan seefektif mungkin sehingga mendekati data actual

permintaan yang dapat meminimalisir kekurangan atau kelebihan barang di gudang

yang tidak hanya dapat menjadikan kerugian materi terhadap perusahaan namun juga

dapat menghambat jalannya supply chain perusahaan.

30

Page 31: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

31

3. Memberikan pelatihan kepada karyawan dengan pengenalan terhadap metode

peramalan dan EOQ dengan benar

4. Melakukan improvement secara berkelanjutan (continuous Impovement).

Page 32: Makalah Inventori Kel 4 Bismillah (2)

32

DAFTAR PUSTAKA

Baroto, T. 2002. Perencanaan dan PengendalianProduksi. Jakarta: Ghalia Indonesia

Herjanto, Eddy. 2008. Manajemen Operasi. Edisi Ketiga. Jakarta: Grasindo

Mekel, C., Anantadjaya, S.P. and Lahindah, L., 2014. Stock Out Analysis: An Empirical Study on

Forecasting, Re-Order Point and Safety Stock Level at PT Combiphar, Indonesia. RIBER:

Review of Integrative Business and Economics Research, 3(1), pp.52-64.

Nasution, A.H dan Prasetyawan, Y. 2008. Perencanaan dan Pengendalian Produksi. Edisi Pertama.

Yogyakarta: Graha Ilmu

Pangestu Subagyo. 1984. Forecasting K,onsep dan Aplikasi. Yohyakarta: Liberty

Rangkuti, F. (2000). Manajemen Persediaan Aplikasi di Bidang Bisnis. Jakarta: Raja Grafindo

Persada

Siagian, Sondang P. 2006. Manajemen Sumber Daya Manusia. Cetakan Ketiga belas. Jakarta: Bumi

Aksara

Starr, M. K. And Miller, D. W. (1962). Inventory Control: Theory and Practice. London: Prentice-

Hall International, Inc.

Subagya, MS.1996. Manajemen Logistik. Jakarta: Haji Masagung

Taha, Hamdy A. 1982. Operation Research. New York: Macmillan Publishing Co.,Inc.