lidya - partus spontan

46
LAPORAN KASUS Partus Spontan Dokter Pembimbing: dr. FX Widiarso, Sp.OG Disusun oleh: Lidya B.E Saptenno, S. Ked 11.2013.151 KEPANITERAAN KLINIK OBSTETRI DAN GYNEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA PERIODE 14 JULI – 20 SEPTEMBER 2014

Upload: yola

Post on 01-Feb-2016

71 views

Category:

Documents


3 download

DESCRIPTION

makalah partus spontan

TRANSCRIPT

Page 1: Lidya - Partus Spontan

LAPORAN KASUS

Partus Spontan

Dokter Pembimbing:

dr. FX Widiarso, Sp.OG

Disusun oleh:

Lidya B.E Saptenno, S. Ked

11.2013.151

KEPANITERAAN KLINIK OBSTETRI DAN GYNEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

PERIODE 14 JULI – 20 SEPTEMBER 2014

RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS

Page 2: Lidya - Partus Spontan

KEPANITERAAN KLINIK

STATUS OBTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

SMF PENYAKIT OBSGYN

RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU

Nama : Lidya B.E Saptenno Tanda Tangan

Nim : 11.2013.151

………………

A. IDENTITAS PASIENNama : Ny. SAlamat : DK Karangrowo RT 03 RW 15 Bulungcangkring, Jekulo, KudusTanggal Lahir : 24-06-1985Umur : 29 tahunStatus : KawinJenis kelamin : PerempuanGol.darah : O/+Pekerjaan : Buruh Djarum PTPendidikan : SDAgama : IslamHamil : GIIPIA0

HPHT : 22 Oktober 2013 No. CM : 38 56 57

B. PEMERIKSAAN SUBYEKTIFAutoanamnesis dilakukan hari Selasa, 22 Juli 2014 pukul 13.40 WIB

Keluhan utama : Perut terasa kencang-kencang sejak malam hari

Riwayat penyakit sekarang:

OS datang dengan keluhan perut terasa kencang-kencang sejak malam hari.

Kemudian pada pukul 05.00 pagi, keluar cairan bening dari jalan lahir. OS mengatakan

cairan yang keluar sedikit merembes kemudian menjadi banyak, tidak dapat ditahan,

Page 3: Lidya - Partus Spontan

berwarna bening, tidak ada darah, tidak ada rasa nyeri pada perut bawah atau alat

kelamin, tidak ada keluhan pusing, mual dan muntah. BAK (+), 4 – 5 x /hari, warna

kuning, nyeri (-). BAB (-). Gerakan janin aktif dan masih dirasakan. OS mengaku tidak

ada riwayat trauma, tidak ada riwayat minum obat – obatan atau jamu.

OS memeriksakan kehamilannya secara teratur di bidan dan dokter. Ini

merupakan kehamilan kedua. Tidak ada masalah pada kehamilan pertama . Tidak ada

riwayat operasi sebelumnya.

Riwayat Haid

Menarche : 11 tahun

Siklus haid : 28 hari

Lama haid : 7 hari

Haid teratur, tidak nyeri

HPHT : 22 Oktober 2013

HPL : 29 Juli 2014

Riwayat Perkawinan

Pernikahan 1 kali, usia 24 tahun, selama 5 tahun

Riwayat Kehamilan

ANC rutin di bidan dan dokter , masalah yang ditemukan pada kehamilan 36 minggu

adalah plasenta letak rendah .

Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas

Ana

k ke

Tahu

n

Umur

Kehamila

n

Jenis

Persalina

n

Penolon

g

Tempat

Melahirka

n

BB,

PB

Saat

lahir

Riw.

Nifa

s

Menete

k

sampai

usia

1 2011 9 bulan Partus

normal

Bidan Puskesmas 2400

gr,

4,6c

m

Baik 2 tahun

2 2014 Hamil ini

Page 4: Lidya - Partus Spontan

Riwayat KB

Os memiliki riwayat pemakaian KB suntik 3 bulan

Riwayat Penyakit Dahulu

Tidak pernah menderita penyakit jantung, darah tinggi, kencing manis, asma dan

alergi.

OS tidak memiliki riwayat operasi sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit jantung, darah tinggi, kencing

manis, asma dan alergi.

C. PEMERIKSAAN OBYEKTIFKeadaan umum : baikKesadaran : compos mentisVital sign

Tekanan darah: 110/70 mmHgNadi : 80 x/menitFrek. Napas : 20 x/menitSuhu : 36 °C

Mata : Konjungtiva Anemis -/-, Sklera Ikterik -/-Paru-paru : Vesikuler +/+, Wheezing -/-, Rhonki -/-Jantung : BJ1-BJ2 murni reguler, gallop (-), murmur (-)Abdomen : Tampak membuncit sesuai massa kehamilan, tampak linea

nigra dan striae gravidarumEkstremitas : Edema -/-

Status Obstetri

Pemeriksaan Luaro Inspeksi : perut membuncit, striae gravidarum (+), linea nigra (+)

o Palpasi

TFU 27 cm Taksiran berat janin : (28-11) x 155 = 2635 gr Leopold I :, teraba

bagian bulat, lunak, tidak melenting Leopold II : Teraba bagian memanjang dan keras di sebelah kanan Leopold III : Teraba bagian bulat, keras dan melenting Leopold IV : Kepala sudah masuk PAP

Page 5: Lidya - Partus Spontan

o Auskultasi : Denyut Jantung Janin (+) 132 x/ menit

o His : (+) sering 2 x dalam 10 menit selama 10 detik

Pemeriksaan Dalam : o Pembukaan : 2 cm

o KK : -

o Effacement : 25 %

o Portio :Tebal lunak

o Hodge : I

o Point of direction : UUK

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium tanggal 22 Juli 2014 pukul 14.36

Darah rutin

Hemoglobin 12,3 g/dL (N: 11,7 – 15,5)

Leukosit 9,89 ribu (N: 3.600 – 11.000)

Eosinofil% 3 % (N: 1-3)

Basofil% 0,3 % (N: 0-1)

Neutrofil % 68,9 % H (N: 50-70)

Limfosit% 19,9 % L (N: 25-40)

Monosit% 6,9 % (N: 2-8)

MCV 81,1 mikro m3 (N: 80-100)

MCH 28,1 pg (N: 26-34)

MCHC 34,6 g/dL (N: 32-36)

Hematokrit 35,5 % (N: 30-43)

Trombosit 226.000 (N: 150.000-440.000)

Eritrosit 4,38 juta (N: 3,8 – 5,2)

RDW 13,3 % (N: 11,5 - 14,5)

PDW 15,1 % (N: 10-18)

MPV 12,0mikro m3 H (N: 6,8 – 10)

Golongan darah/Rh O/+

Waktu perdarahan/BT 1,00 menit (N: 1-3)

Waktu pembekuan/CT 5.00 menit (N: 2-6)

D. RINGKASAN

Page 6: Lidya - Partus Spontan

OS datang dengan keluhan perut terasa kencang-kencang sejak malam hari.

Kemudian pada pukul 05.00 pagi, keluar cairan bening dari jalan lahir, sedikit merembes

kemudian menjadi banyak, tidak dapat ditahan, berwarna bening, tidak ada darah, tidak

ada rasa nyeri pada perut bawah atau alat kelamin, pusing (-), mual dan muntah (-). BAK

(+), 4 – 5 x /hari, warna kuning, nyeri (-). BAB (-). Gerakan janin aktif dan masih

dirasakan. Riwayat trauma (-),riwayat minum obat – obatan atau jamu (-).

OS memeriksakan kehamilannya secara teratur di bidan dan dokter. Ini merupakan

kehamilan kedua. Tidak ada masalah pada kehamilan pertama . Riwayat operasi (-).

Riwayat Haid

Menarche : 11 tahun

Siklus haid : 28 hari

Lama haid : 7 hari

Haid teratur, tidak nyeri

HPHT : 22 Oktober 2013

HPL : 29 Juli 2014

Status Obstetri

Pemeriksaan Luaro Inspeksi : perut membuncit, striae gravidarum (+), linea nigra (+)

o Palpasi

Leopold I : TFU 28 cm , teraba bagian bulat, lunak, tidak melenting

Leopold II : Teraba bagian memanjang dan keras di sebelah kanan Leopold III : Teraba bagian bulat, keras dan melenting Leopold IV : Kepala sudah masuk PAP o Auskultasi : Denyut Jantung Janin (+) 132 x/ menit

o His : (+) sering 2 x dalam 10 menit selama 20 detik

Pemeriksaan Dalam : o Pembukaan : 2 cm

o KK : -

o Effacement : 25 %

o Portio :Tebal lunak

o Hodge : I

o Point of direction : UUK

o Taksiran berat janin : (28-11) x 155 = 2635 gr

Diagnosis Kerja

Page 7: Lidya - Partus Spontan

GIIP1A0 29 tahun hamil 39 mingguJanin 1 hidup intrauterinPresentasi kepala Ʉ pukaInpartu kala I fase latenPlasenta letak rendahKetuban Pecah Dini

Rencana Pengelolaan- VT : Pembukaan 2 cm, effacement 25 % , KK (-), portio tebal lunak,

presentasi kepala Ʉ, Hodge I, UUK - Sikap : Pengawasan 10

Evaluasi setiap 4 jam Infus D5/ RL + 20 ttm Amoxan 2 gr

Gastrul ¼ tab

E. LAPORAN PERSALINAN22 Juli pukul 17.50S : Perut terasa kencangO :

KU : BaikTD : 110/80N : 82 x/menitRR : 17 x/menitDJJ : 11-12-11 = 136 x/menitHis : 2 x/10 menit (25 detik)VT :

o Pembukaan : 3 cm

o KK : -

o Effacement : 25 %

o Portio :Tebal lunak

o Hodge : I

o Point of direction : UUK

A : GIIPIA0 umur 29 tahun hamil 39 minggu Anak 1 hidup intrauterine Presentasi kepala Ʉ puka Inpartu kala I Fase laten Plasenta letak rendah Ketuban Pecah Dini

P : Evaluasi 4 jam

22 Juli pukul 21.50S : Perut kencang-kencang, rasa ingin BAK

Page 8: Lidya - Partus Spontan

O : KU : BaikTD : 120/80N : 80 x/menitRR : 17 x/menitDJJ : 11-12-11 = 130 x/menitHis : 3 x/10 menit (40 detik) VT :

o Pembukaan : 9 cm

o KK : -

o Effacement : 80 %

o Portio :Tipis

o Hodge : III

o Point of direction : UUK

A : GIIPIA0 umur 29 tahun hamil 39 minggu Anak 1 hidup intrauterine Presentasi kepala Ʉ puka Inpartu kala I fase aktif Plasenta letak rendah Ketuban Pecah Dini

P : Evaluasi 1 jamDJJ tiap ½ jam

22 Juli 2014 pukul 22.50S : Rasa ingin mengejanO :

KU : Tampak sakit sedangTD : 120 /70 mmHgN : 88 x/ menitRR : 20 x/menitT : 36,5 0CDJJ : 12 -12-12 = 144 x/menit His : 4 x / 10 menit (40 detik)PPV : (+) lendir darah Tanda-tanda inpartu kala II (+)VT :

o Pembukaan : 10 cm

o KK : -

o Effacement : 100 %

o Portio :Tebal lunak

o Hodge : III +

o Point of direction : UUK Kiri depan

Page 9: Lidya - Partus Spontan

A : GIIPIA0 umur 29 tahun hamil 39 minggu Anak 1 hidup intrauterine Presentasi kepala Ʉ puka Inpartu kala II Plasenta letak rendah Ketuban Pecah Dini

P : Pimpin mengejan saat ada His Pengawasan 9

22 Juli 2014 Pukul 23. 25

Pimpin mengejan saat ada HisPartus + Episiotomi mediolateral Bayi perempuan 2200 gr, 45 cm , apgar score 9 10 10

22 Juli pukul 23.40Plasenta lahir lengkap Jahitan Perineum , Hecting (+)Pospargin 1 ampPehacain 1 ampInduksin ½ amp

Pasca PersalinanS : Perut terasa mulesO:

KU : Tampak sakit sedangTD : 110 /70 mmHgN : 84 x/ menitRR : 20 x/menitT : 36,5 0CTFU : 2 jari di bawah pusatPerdarahan pervaginam ± 250 ccKontraksi baik

A : PIIA0 partus spontan dengan induksi, plasenta lengkapLama persalinan 9 jam 25 menitP : Pantau 2 jam

IMD 30 menit

F. FOLLOW UP23 Juli 2014 pukul 08.00S : Keluhan (-)O :

Page 10: Lidya - Partus Spontan

Keadaan umum : baikKesadaran : compos mentisVital sign

Tekanan darah: 120/80 mmHgNadi : 80 x/menitFrek. Napas : 20 x/menitSuhu : 36,8 °C

Mata : Konjungtiva Anemis -/-, Sklera Ikterik -/-Paru-paru : Vesikuler +/+, Wheezing -/-, Rhonki -/-Jantung : BJ1-BJ2 murni reguler, gallop (-), murmur (-)Abdomen : Tampak membuncit sesuai massa kehamilan, tampak linea

nigra dan striae gravidarumEkstremitas : Edema -/-

A : PIIA0 29 tahun post partum spontanP : Clobat 3 x 1 tablet

Phospargin 2 x 1 tablet Zegavit 1 x 1 tablet

Page 11: Lidya - Partus Spontan

TINJAUAN PUSTAKA

Persalinan Normal

Pengertian Persalinan

Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks, dan janin turun kedalam jalan

lahir. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada :

kehamilan 37-40 minggu

lahir spontan dengan persentasi belakang kepala

berat badan janin 2500-4000 gram

tanpa komplikasi baik ibu maupun janin.

Persalinan dikatakan normal bila tidak ada penyulit.

Persalinan dipengaruhi oleh 3 hal yaitu “POWER, PASSAGE, PASSENGER”

POWER yang mendorong anak keluar : His, tenaga mengejan/meneran,

Passage : ukuran panggul

Passenger : ukuran kepala, bayi, letak dan presentasi bayi, letak plasenta.

POWER

His

His ialah kontraksi otot-otot rahim pada persalinan. Pada bulan terakhir kehamilan sebelum

persalinan dimulai, sudah terdapat kontraksi rahim yang disebut his pendahuluan atau his

palsu. His ini sebetulnya, hanya merupakan peningkatan kontraksi Braxton Hicks, sifatnya

tidak teratur dan menyebabkan nyeri di perut bagian bawah dan lipat paha, tetapi tidak

menyebabkan nyeri yang memancar dari pinggang ke perut bagian bawah seperti his

persalinan. Lamanya kontraksi pendek, tidak bertambah kuat jika dibawa berjalan, bahkan

sering berkurang. His pendahuluan tidak bertambah kuat seiring majunya waktu,

bertentangan dengan his persalinan yang makin lama makin kuat. Hal yang paling penting

adalah bahwa his pendahuluan tidak mempunyai pengaruh pada serviks.

Page 12: Lidya - Partus Spontan

His persalinan merupakan kontraksi fisiologis otot-otot rahim. Bertentangan dengan sifat

kontraksi fisiologis lain, his persalinan bersifat nyeri. Nyeri ini mungkin disebabkan oleh

anoksia dari sel-sel otot sewaktu kontraksi, tekanan oleh serabut otot rahim yang berkontraksi

pada ganglion saraf di dalam serviks dan segmen bawah rahim, regangan serviks, atau

regangan dan tarikan pada peritoneum sewaktu kontraksi.

Kontraksi rahim bersifat autonom, tidak dipengaruhi oleh kemauan, tetapi dapat juga

dipengaruhi oleh rangsangan dari luar, misalnya rangsangan oleh jari-jari tangan. Kontraksi

rahim bersifat berkala dan yang harus diperhatikan ialah sebagai berikut :

Lamanya kontraksi

Kekuatan kontraksi; menimbulkan naiknya tekanan intra uterin sampai 35mmHg.

Interval antara dua kontraksi; pada permulaan persalinan his timbul sekali dalam 10 menit,

pada kala pengeluaran sekali dalam 2 menit.

Tenaga mengejan/meneran

Selain his, setelah pembukaan lengkap dan ketuban pecah, tenaga yang mendorong anak

keluar terutama adalah kontraksi otot-otot dinding perut yang mengakibatkan peninggian

tekanan intraabdominal. Tenaga mengejan hanya dapat berhasil jika pembukaan sudah

lengkap, dan paling efektif sewaktu kontraksi rahim.

Tanpa tenaga mengejan anak tidak dapat lahir, misalnya pada pasien yang lumpuh otot-otot

perutnya, persalinan harus dibantu dengan forceps. Tenaga mengejan juga melahirkan

plasenta setelah plasenta lepas dari dinding rahim.

PASSAGE

Panggul

1. Panggul ginekoidJenis panggul yang paling banyak pada wanita normal, mempunyai diameter  terbaik untuk lahirnya janin tanpa komplikasi.  Pintu atas panggul tampak  berbentuk bulat atau agak lonjong/ellips. Diameter transversal  dari bidang  pintu atas panggul  (pap)  lebih panjang  sedikit dari diameter antero-posterior  dan hampir seluruh daerah pap merupakan ruangan yang terpakai untuk  kepala janin. Dilihat dari bidang pintu atas panggul, panggul menyerupai  silinder tanpa penyempitan dari bidang pintu atas panggul sampai bidang  pintu bawah panggul. Bentuk panggul ini ditemukan pada 45% wanita.

Page 13: Lidya - Partus Spontan

2. Panggul antrhopoidPanggul  yang memiliki suatu  bentuk agak lonjong seperti telur, pada bidang  pintu atas panggul dengan diameter terpanjang antero-posterior. Oleh karena  segmen posterior  panjang dan sempit, kepala janin tegak lurus terhadap  diameter transversal dari pintu atas panggul. Arkus pubis sempit dan lebarnya  kurang dari 2 jari, sehingga menyebabkan penyempitan pintu bawah panggul.  Bentuk panggul ini ditemukan pada 35% wanita.  

3. Panggul androidPanggul mirip laki-laki, mempunyai reputasi jelek dan lebih jarang dijumpai  dibanding bentuk ginekoid. Panggul android ditandai oleh daerah segmen  posterior yang sempit dengan ujung sakrum menonjol ke depan dan segmen  anterior relatif panjang. Dilihat dari pintu atas panggul tampak seperti bentuk  segitiga, tulang-tulang dari panggul android umumnya berat sehingga ruangan  untuk penurunan  kepala juga terbatas. Spina iskiadika menonjol ke dalam  jalan lahir dan pintu bawah panggul menunjukan suatu arkus pubis yang  menyempit. Bentuk panggul ini ditemukan pada 15% wanita. 

4. Panggul PlatipelloidaPanggul berbentuk datar dengan tulang-tulang yang lembut, jenis panggul ini  paling jarang dijumpai dan jumlahnya kurang dari 5% ditemukan pada wanita.   Pintu atas panggul lebih jelas terlihat  dimana menunjukan pemendekan  dari  diameter antero-posterior, sebaliknya diameter transversal  lebar. Penyempitan  panggul tengah bukanlah suatu masalah, karena arkus pubis sangat lebar dan sakrum pendek mengarah kebelakang, maka distosia pada pintu bawah  panggul jarang terjadi.

Frekuensi dan ukuran jenis-jenis panggul berbeda diantara berbagai bangsa,  dipengaruhi faktor sosial dan ekonomi. Pada panggul ukuran normal dan jenis apapun  panggulnya, kelahiran pervaginam janin dengan Berat Badan (BB) yang normal tidak  akan mengalami kesukaran. Akan tetapi karena pengaruh gizi, ukuran panggul dapat  menjadi lebih kecil dari pada standar normal sehingga bisa terjadi kesulitan dalam  persalinan pervaginam. Terutama kelahiran pada panggul android dapat menimbulkan  distosia yang sukar diatasi.

Bidang Hodge

Untuk menentukan berapa jauhnya bagian depan anak itu turun ke dalam rongga panggul,

maka Hodge telah menentukan berapa bidang khayalan dalam panggul :

H I : sama dengan pintu atas panggul

H II : Sejajar dengan H I melalui pinggir bawah symphysis

Page 14: Lidya - Partus Spontan

H III : Sejajar H I melalui spina ischiadica

H IV : Sejajar H I melalui ujung os coccygis

PASSENGER : Makrosomia, hidrocephalus, kelainan kongenital,letak lintang/sungsang,

presentasi muka, dll

Adapun perubahan yang terjadi pada jalan lahir saat persalinan berlangsung sebagai berikut :

1. Keadaan segmen atas dan segmen bawah rahim pada persalinan

Sejak kehamilan lanjut, uterus dengan jelas terdiri dari 2 bagian, yaitu segmen atas rahim

yang dibentuk oleh korpus uteri dan segmen bawah rahim yang terbentuk dari isthmus uteri.

Dalam persalinan, perbedaan antara segmen atas dan bawah rahim lebih jelas lagi. Segmen

atas memegang peranan aktif karena berkontraksi. Dindingnya bertambah tebal dengan

majunya persalinan. Sebaliknya, segmen bawah rahim memegang peranan pasif dan makin

menipis seiring dengan majunya persalinan karena direnggang. Jadi, segmen atas

berkontraksi, menjadi tebal dan mendorong anak keluar sedangkan segmen bawah dan

serviks mengadakan relaksasi dan dilatasi serta menjadi saluran yang tipis dan teregang yang

akan dilalui bayi.

2. Sifat kontraksi otot rahim

Kontraksi otot rahim mempunyai dua sifat yang khas, yaitu :

Setelah kontraksi, otot tersebut tidak berelaksasi kembali ke keadaan sebelum kontraksi,

tetapi menjadi sedikit lebih pendek walaupun tonusnya seperti sebelum kontraksi. Kejadian

ini disebut retraksi. Dengan retraksi, rongga rahim mengecil dan anak berangsur di dorong ke

bawah dan tidak banyak naik lagi ke atas setelah his hilang. Akibatnya segmen atas makin

tebal seiring majunya persalinan, apalagi setelah bayi lahir.

Kontraksi tidak sama kuatnya, tetapi paling kuat di daerah fundus uteri dan berangsur

berkurang ke bawah dan paling lemah pada segmen bawah rahim.Jika kontraksi di bagian

bawah sama kuatnya dengan kontraksi di bagian atas, tidak akan ada kemajuan dalam

persalinan. Karena pada permulaan persalinan serviks masih tertutup, isi rahim tentu tidak

dapat didorong ke dalam vagina. Jadi, pengecilan segmen atas harus diimbangi oleh relaksasi

segmen bawah rahim. Akibat hal tersebut, segmen atas makin lama semakin mengecil,

sedangkan segmen bawah semakin diregang dan makin tipis, isi rahim sedikit demi sedikit

terdorong ke luar dan pindah ke segmen bawah. Karena segmen atas makin tebal dan segmen

bawah makin tipis, batas antar segmen atas dan segmen bawah menjadi jelas. Batas ini

disebut “lingkaran retraksi fisiologis”.Jika segmen bawah sangat diregang, lingkaran retraksi

Page 15: Lidya - Partus Spontan

lebih jelas lagi dan naik mendekati pusat, lingkaran ini disebut “lingkaran retraksi patologis”

atau“lingkaran Bandle” yang merupakan tanda ancaman robekan rahim dan muncul jika

bagian depan tidak dapat maju, misalnya karena pangul sempit.

3. Perubahan bentuk rahim

Pada tiap kontraksi, sumbu panjang rahim bertambah panjang, sedangkan ukuran melintang

maupun ukuran muka belakang berkurang. Pengaruh perubahan bentuk ini ialah sebagai

berikut :

Karena ukuran melintang berkurang, lengkungan tulang punggung anak berkurang, artinya

tulang punggung menjadi lebih lurus. Dengan demikian, kutub atas anak tertekan pada

fundus, sedangkan kutub bawah ditekan ke dalam pintu atas panggul. Karena rahim

bertambah panjang, otot-otot memanjang direnggang dan menarik segmen bawah dan

serviks. Hal ini merupakan salah satu penyebab pembukaan serviks.

4. Perubahan pada serviks

Agar anak dapat keluar dari rahim, perlu terjadi pembukaan serviks. Pembukaan serviks ini

biasanya didahului oleh pendataran serviks.

−Pendataran serviks

Pendataran serviks adalah pemendekan kanalis servikalis yang semula berupa sebuah saluran

dengan panjang 1-2 cm, menjadi satu lubang saja dengan pinggir yang tipis. Pendataran ini

terjadi dari atas ke bawah.

−Pembukaan serviks

Yang dimaksud dengan pembukaan serviks adalah pembesaran ostium eksternum menjadi

suatu lubang dengan diameter sekitar 10 cm yang akan di lalui anak..2,7

5. Perubahan pada vagina dan dasar panggul

Setelah ketuban pecah, segala perubahan terutama pada dasar panggul ditentukan oleh bagian

depan anak. Oleh bagian depan yang maju itu, dasar panggul diregang menjadi saluran

dengan dinding yang tipis. Sewaktu kepala sampai di vulva, lubang vulva menghadap ke

depan atas. Dari luar, peregangan oleh bagian depan tampak pada perineum yang menonjol

dan tipis, sedangkan anus menjadi terbuka.

Page 16: Lidya - Partus Spontan

MEKANISME PERSALINAN NORMAL

KALA PERSALINAN

Partus dibagi menjadi 4 kala.

Mekanisme persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu

Kala I : waktu untuk pembukaan serviks sampai menjadi pembukaan lengkap 10 cm,disebut

kala pembukaan.

- Klinis dapat dinyatakan partus dimulai bila timbul his dan keluar lendir darah. Lendir

darah ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai membuka dan

mendatar, sedangkan darahnya berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler yang berada

disekitar kanalis servikalis itu pecah karna pergeseran ketika serviks membuka.

Mekanisme membukanya serviks berbeda antara primigravida dan multigravida. Pada

primigravida ostium uteri internum akan membuka lebih dahulu, sehingga serviks

akan mendatar dan menipis, baru kemudian oue membuka. Pada multigravida oue dan

oui sudah sedikit membuka. Penipisan dan pendataran serviks terjadi dalam saat yang

sama pada pembukaan. Ketuban akan pecah sendiri ketika pembukaan hampir atau

telah lengkap. Tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan hampir

lengkap atau telah lengkap. Bila ketuban telah pecah sebelum mencapai pembukaan

atau inpartu kala 1 maka disebut ketuban pecah dini.

- Kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap. Pada primigravida kala I

berlangsung kira-kira 13jam. Sedangkan multipara kira-kira 7 jam.

Kala II : Kala pengeluaran janin, waktu uterus dengan kekuatan his ditambah kekuatan

mengedan mendorong janin keluar hingga lahir

His menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2 – 3 menit sekali. Karena biasanya dalam

kepala janin sudah masuk ruang panggul, maka pada his dirasakan tekanan pada otot-otot

dasar panggul, yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Wanita merasa pula

tekanan kepada rektum dan hendak buang air besar. Kemudian perineum mulai menonjol dan

menjadi lebar dengan anus membuka. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian kepala

janin tampak dalam vulva pada waktu his. Bila dasar panggul sudah lebih berelaksasi, kepala

janin tidak masuk lagi diluar his, dan dengan his dan kekuatan mengedan maksimal kepala

janin dilahirkan dengan suboksiput dibawah simfisis dan dahi, muka dan dagu melewati

perineum.

Page 17: Lidya - Partus Spontan

Setelah beristirahat sebentar, his mulai lagi untuk mengeluarkan badan anggota bayi lain.

Pada primigravida kala II berlangsung 2 jam dan pada multigravida 1 jam.

Kala III : Batasan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta

1. Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri sedikit diatas pusat.

2. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari

dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 – 15 menit setelah bayi lahir dan keluar

spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri.

Tanda – tanda lepasnya plasenta :

1. Perubahan ukuran dan bentuk uterus

2. Tali pusat memanjang

3. Semburan darah tiba – tiba

Manajemen aktif kala III :

- Pemberian oksitosin 10 unit IM dalam 2 menit setelah bayi lahir

- Melakukan PTT ( Penegangan tali pusat terkendali )

- Masase ( pemijatan ) fundus uteri segera setelah plasenta lahir

Catatan :

- Jika plasenta belum lahir dalam 15 menit , dapat diberikan oksitosin 10 unit IM dosis

kedua dan ulangi PTT

- Jika kandung kemih teraba penuh, bisa dilakukan kateterisasi

- Jika dalam menit ke-30 belum lahir secara spontan dapat dilakukan manual plasenta.

-

Kala IV : 2 jam setelah plasenta lahir lengkap

Penatalaksanaaan :

1. Lakukan masase fundus uteri

2. Evaluasi tinggi fundus ( normalnya fundus uteri setinggi pusat atau dibawahnya ,

misal 2 jari dibawah pusat )

3. Periksa plasenta dan selaputnya untuk memastikan keduanya lengkap dan utuh

4. Periksa kehilangan darah secara keseluruhan

5. Periksa perineum dan perdarahan aktif ( apabila ada laserasi atau episiotomi )

6. Evaluasi kondisi umum ibu

7. Dokumentasikan semua temuan dan penatalaksaan kala IV dibelakang partograf

Page 18: Lidya - Partus Spontan

Gerakan-gerakan anak pada persalinan

Gerakan-gerakan anak pada persalinan yang paling sering kita jumpai ialah presentasi

belakang kepala dan kebanyakan presentasi ini masuk ke dalam pintu atas panggul dengan

sutura sagitalis melintang. Ubun-ubun kecil kiri melintang lebih sering daripada ubun-ubun

kecil kanan melintang. Karena itu, akan diuraikan pergerakan anak dalam presentasi belakang

kepala dengan posisi ubun-ubun kecil kiri melintang.

Mekanisme persalinan terdiri dari suatu gabungan gerakan-gerakan yang berlangsung pada

saat yang sama. Misalnya, sebagai bagian dari proses engagement terjadi fleksi dan

penurunan kepala. Gerakan-gerakan tersebut tidak mungkin diselesaikan bila bagian

terbawah janin tidak turun secara bersamaan. Seiring dengan itu, kontraksi uterus

menghasilkan modifikasi penting pada sikap atau habitus janin, terutama setelah kepala turun

ke dalam panngul.

Selama proses persalinan, janin melakukan serangkaian gerakan untuk melewati panggul

-“seven cardinal movements of labor” yang terdiri dari :

1. Engagemen

2. Fleksi

3. Desensus

4. Putar paksi dalam

5. Ekstensi

6. Putar paksi luar

7. Ekspulsi

Gerakan-gerakan tersebut terjadi pada presentasi kepala dan presentasi bokong.

Gerakan-gerakan tersebut menyebabkan janin dapat mengatasi rintangan jalan lahir dengan

baik sehingga dapat terjadi persalinan per vaginam secara spontan.

Engagemen

Suatu keadaan dimana diameter biparietal sudah melewati pintu atas panggul.

Page 19: Lidya - Partus Spontan

Pada 70% kasus, kepala masuk pintu atas panggul ibu pada panggul jenis ginekoid

dengan oksiput melintang (tranversal)

Proses engagemen kedalam pintu atas panggul dapat melalui proses normal

sinklitismus , asinklitismus anterior dan asinklitismus posterior :

Normal sinklitismus. Sutura sagitalis tepat diantara simfisis pubis dan sacrum. Pada

presentasi belakang kepala , engagement berlangsung apabila diameter biparietal telah

melewati pintu atas panggul. Kepala paling sering masuk dengan sutura sagitalis

melintang.Ubun-ubun kecil kiri melintang merupakan posisi yang paling sering kita temukan.

Apabila diameter biparietal tersebut sejajar dengan bidang panggul,kepala berada dalam

sinklitisme. Sutura sagitalis berada di tengah-tengah antara dinding panggul bagian depan dan

belakang. Engagement dengan sinklitisme terjadi bila uterus tegak lurus terhadap pintu atas

panggul dan panggulnya luas. Jika keadaan tersebut tidak tercapai, kepala berada dalam

keadaan asinklitisme.

Asinklitismus anterior : Sutura sagitalis lebih dekat kearah sacrum. Asinklitismus derajat

sedang pasti terjadi pada persalinan normal, namun jika derajat berat, gerakan ini dapat

menimbulkan disproporsi sefalo pelvik pada panggul yang berukuran normal sekalipun.

Perubahan yang berturut-turut dari asinklitismus posterior ke anterior mempermudah

desensus dengan memungkinkan kepala janin mengambil kesempatan memanfaatkan daerah-

daerah yang paling luas di rongga panggul.

Page 20: Lidya - Partus Spontan

o Asinklitismus posterior: Sutura sagitalis lebih dekat kearah simfisis pubis

(parietal bone presentasion)

Fleksi

Gerakan fleksi terjadi akibat adanya tahanan servik, dinding panggul dan otot dasar panggul.

Fleksi kepala diperlukan agar dapat terjadi engagemen dan desensus. Pada gerakan ini, dagu

mendekat ke dada janin dan diameter suboksipitobregmatika yang lebih pendek

menggantikandiameter oksipitofrontal yang lebih panjang.

Bila terdapat kesempitan panggul, dapat terjadi ekstensi kepala sehingga terjadi letak defleksi

(presentasi dahi, presentasi muka).

Page 21: Lidya - Partus Spontan

Desensus ( Penurunan Kepala )

Pada nulipara, engagemen terjadi sebelum inpartu dan tidak berlanjut sampai awal kala II;

pada multipara desensus berlangsung bersamaan dengan dilatasi servik.

Penyebab terjadinya desensus :

1. Tekanan cairan amnion

2. Tekanan langsung oleh fundus uteri pada bokong

3. Usaha meneran ibu

4. Gerakan ekstensi tubuh janin (tubuh janin menjadi lurus)

Faktor lain yang menentukan terjadinya desensus adalah :

Ukuran dan bentuk panggul

Posisi bagian terendah janin

Semakin besar tahanan tulang panggul atau adanya kesempitan panggul akan menyebabkan

desensus berlangsung lambat.

Desensus berlangsung terus sampai janin lahir.

Putar paksi dalam- internal rotation

Bersama dengan gerakan desensus, bagian terendah janin mengalami putar paksi

dalam pada level setinggi spina ischiadica (bidang tengah panggul).

Kepala berputar dari posisi tranversal menjadi posisi anterior (kadang-kadang kearah

posterior).

Pada presentasi belakang kepala, bagian yang terendah adalah daerah ubun-ubun kecil

dan bagian inilah yang akan memutar ke depan, ke bawah simfisis. Putaran paksi

dalam mutlak diperlukan untuk kelahiran kepala, karena putaran paksi merupakan

suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala dengan bentuk jalan lahir, khususnya

bentuk bidang tengah dan pintu bawah panggul. Putaran paksi dalam tidak terjadi

tersendiri, tetapi selalu bersamaan dengan majunya kepala dan tidak terjadi sebelum

kepala sampai ke Hodge III kadang-kadang baru terjadi setelah kepala sampai di dasar

panggul

Page 22: Lidya - Partus Spontan

Putar paksi biasanya berakhir setelah kepala mencapai dasar panggul.

Sebab-sebab putaran paksi dalam yakni:

Pada letak fleksi, bagian belakang kepala merupakan bagian terendah darikepala.

Bagian terendah kepala ini mencari tahanan yang paling sedikit, yaitu disebelah depan

atas tempat terdapatnya hiatus genitalis antara antara musculuslevator ani kiri dan

kanan.

Ukuran terbesar dari bidang tengah panggul ialah diameter anteroposterior.

Ekstensi

Setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai di dasar panggul terjadilah ekstensi atau

defleksi kepala. Hal ini disebabkan karena sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul

mengarah ke depan dan ke atas sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk

melaluinya. Kalau tidak terjadi ekstensi, kepala akant tertekan pada perineum dan

menembusnya. Pada kepala, bekerja dua kekuatan yang satu mendesaknya ke bawah, dan

yang satunya disebabkan oleh tahanan dasar panggul yang menolaknya ke atas. Resultannya

ialah kekuatan ke arahdepan atas. Setelah suboksiput tertahan pada pinggir bawah simfisis,

yang dapat maju karena kekuatan tersebut di atas ialah bagian yang berhadapan dengan

subocciput sehingga pada pinggir atas perineum, lahirlah berturut-turut ubun-ubun besar, dahi

hidung, mulut, dan akhirnya dagu dengan gerakan ekstensi. Suboksiput yang menjadi pusat

pemutaran disebut hipomoklion.

Proses ekstensi berlanjut dan seluruh bagian kepala janin lahir.

Putar paksi luar- external rotation

Setelah kepala lahir, terjadi putar paksi luar (restitusi) yang menyebabkan posisi kepala

kembali pada posisi saat engagemen terjadi dalam jalan lahir. Belakang kepala anak memutar

kembali ke arah punggung anak untuk menghilangkan torsi pada leher yang terjadi karena

putaran paksi dalam. Gerakan ini disebut putaran restitusi (putaran balasan : putaran

paksiluar). Selanjutnya putaran dilanjutkan hingga belakang kepala berhadapan dengan tuber

ischiadicum sesisi. Gerakan yang terakhir ini adalah putaran paksi luar yang sebenarnya dan

Page 23: Lidya - Partus Spontan

disebabkan karena ukuran bahu menempatkan diri dalamdiameter anteroposterior pintu

bawah panggul.

7. Ekspulsi

Setelah putaran paksi luar, bahu depan sampai di bawah simfisis dan menjadi hipomoklion

untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya seluruh

badan anak lahir searah dengan paksi jalan lahir. Bahu anterior akan mengalami putar paksi

dalam sejauh 450 menuju arcus pubis sebelum dapat lahir dibawah simfisis. Persalinan bahu

depan dibantu dengan tarikan curam bawah pada samping kepala janin . Setelah bahu depan

lahir, dilakukan traksi curam atas untuk melahirkan bahu posterior. Traksi untuk melahirkan

bahu harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari cedera pada pleksus brachialis.

Setelah persalinan kepala dan bahu, persalinan selanjutnya berlangsung pada sisa bagian

tubuh janin dengan melakukan traksi pada bahu janin. Setelah kepala lahir, muka janin

dibersihkan dan jalan nafas dibebaskan dari darah dan cairan amnion. Mulut dibersihkan

terlebih dahulu sebelum melakukan pembersihan hidung.

Setelah jalan nafas bersih, dilakukan pemeriksaan adanya lilitan talipusat sekitar leher dengan

jari telunjuk. Lilitan talipusat yang terjadi harus dibebaskan terlebih dahulu. Bila lilitan

talipusat terlalu erat dapat dilakukan pemotongan diantara 2 buah klem.

Episiotomi

Definisi :

Page 24: Lidya - Partus Spontan

Suatu tindakan insisi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina,

cincin selaput dara, jaringan pada septum rektovaginal, otot-otot dan fasea perineum dan kulit

sebelah depan perineum

Indikasi terdiri dari Indikasi janin dan indikasi ibu.

Indikasi janin :

- Sewaktu melahirkan janin prematur. Tujuanya untuk mencegah terjadinya trauma

yang berlebihan pada kepala janin

- Sewaktu melahirkan janin letak sungsang, melahirkan janin dengan cunam, ekstraksi

vakum dan janin besar

Indikasi ibu

Apabila terjadi peregangan perineum yang berlebihan sehingga ditakuti akan terjadi robekan

perineum atau ruptur perineum.

Jenis – jenis episiotomi :

Episiotomi medialis

Pada teknik ini insisi dimulai dari ujung terbawah introitus vagina sampai batas atas otot –

otot sfingter ani

Keuntungan dari episiotomi medialis ini adalah: 

Perdarahan yang timbul dari luka episiotomi lebih sedikit oleh karena daerah yang relatif

sedikit mengandung pembuluh darah.

-  Sayatan bersifat simetris dan anatomis sehingga penjahitan kembali lebih mudah dan

penyembuhan lebih memuaskan.

- Tidak akan mempengaruhi keseimbangan otot dikanan kiri dasar pelvis

- Insisi akan lebih mudah sembuh, karena bekas insisi tersebut mudah dirapatkan.

-  Tidak begitu sakit pada masa nifas yaitu masa setelah melahirkan

-  Dispareuni jarang terjadi

Kerugiannya adalah terjadi perluasan laserasi ke sfingter ani (laserasi median sfingter ani)

sehingga terjadi laserasi perinei tingkat III inkomplet atau laserasi  menjangkau hingga

rektum (laserasi dinding rektum), sehingga terjadi ruptur perineii komplit  yang

mengakibatkan kehilangan darah lebih banyak dan lebih sulit dijahit.

Episiotomi Mediolateralis

Sayatan yang di buat dari garis tengah kesamping menjauhi anus yang sengaja dilakukan

menjauhi otot sfingter ani untuk mencegah ruptura perinei tingkat III, dimana insisi dimulai

dari ujung terbawah introitus vagina menuju ke belakang dan samping kiri atau kanan

ditengah antara spina ischiadica dan anus.

Page 25: Lidya - Partus Spontan

Keuntungan dari epistomi mediolateral adalah

• perluasan laserasi akan lebih kecil kemungkinannya mencapai otot sfingter ani dan

rektum sehingga dapat mencegah  terjadinya laserasi perinei tingkat III ataupun

laserasi perineum yang lebih parah yang sampai pada rectum.

Kerugian

• Perdarahan luka lebih banyak oleh karena melibatkan daerah yang banyak pembuluh

darahnya.  Daerah insisi kaya akan fleksus venosus

• Otot-otot perineum terpotong sehingga penjahitan luka lebih sukar dan penyembuhan

terasa lebih sakit dan lama

• Insisi lateral akan menyebabkan distorsi (penyimpangan) keseimbangan dasar pelvis.

• Otot – ototnya agak lebih sulit untuk disatukan secara benar (aposisinya

sulit), sehingga terbentuk jaringan parut yang kurang baik

• Rasa nyeri pada sepertiga kasus selama beberapa hari dan kadang – kadang diikuti

dispareuni (nyeri saat berhubungan)

• Hasil akhir anatomik tidak selalu bagus (pada 10% kasus) dan Pelebaran introitus

vagina

Episiotomi lateralis

• Pada teknik ini insisi dilakukan ke arah lateral mulai dari kira kira pada jam 3 atau 9

menurut arah jarum jam

• Luka insisi ini dapat melebar ke arah dimana terdapat pembuluh darah pundendal

interna, sehingga dapat menimbulkan perdarahan yang banyak. Selain itu parut yang

terjadi dapat menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu penderita

Robekan perineum

Etiologi :

Robekan pada perineum umumnya terjadi pada persalinan dimana :

1. Kepala janin terlalu cepat lahir

2. Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya

3. Sebelumnya pada perineum terdapat banyak jaringan parut

4. Pada persalinan dengan distosia bahu

Robekan perineum dapat dibagi menjadi 4 tingkat :

Page 26: Lidya - Partus Spontan

1. Tingkat 1 : Robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa

mengenai kulit perinum sedikit

2. Tingkat 2 : Robekan yang terjadi lebih dalam yaitu selain mengenai selaput lendir

vagina juga mengenai muskulus perinei transversalis, tapi tidak mengenai sfingter ani

3. Tingkat 3 : Robekan yang terjadi mengenai seluruh perineum sampai mengenai otot –

otot sfingter ani

4. Tingkat 4 : Kanalis ani terbuka dan robekan dapat meluas ke rectum.

Ketuban Pecah Dini

Pengertian

1. Ketuban pecah dini atau yang sering disebut dengan KPD adalah ketuban pecah

spontan tanpa diikuti tanda-tanda persalinan, ketuban pecah sebelum pembukaan 3 cm

(primigravida) atau sebelum 5 cm (multigravida).

2. Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan.

Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu maka disebut

ketuban pecah dini pada kehamilan prematur.

Etiologi

1. Infeksi amnionitis atau korionamnionitis

2. Infeksi genitalia

3. Inkompetensia serviks

4. Trauma terutama pada koitus

5. Faktor pskiologis

6. Riwayat ketuban pecah dini

7. Tekanan intrauterine yang meningkat secara berlebihan( overdistensi uterus) misalnya

hidramion dan gemelli

8. Usia ibu yang < 19 tahun dan > 34 tahun

Page 27: Lidya - Partus Spontan

Patofisiologi

Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus dan

peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu terjadi perubahan

biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena seluruh selaput

ketuban rapuh. Selaput ketuban sangat kuat pada kehamilan muda. Pada trimester tiga selaput

ketuban mudah pecah. Melemahnya kekuatan selaput ada hubungannya dengan pembesaran

uterus, kontraksi rahim, dan gerakan janin. Pada trimester terakhir terjadi perubahan biokimia

pada selaput ketuban. Ketuban pecah dini pada kehamilan premature disebabkan oleh adanya

factor-faktor eksternal, misalnya infeksi yang menjalar dari vagina. Ketuban pecah dini

sering terjadi pada polihidramnion, inkompeten serviks, dan solusio plasenta.

Faktor resiko untuk terjadinya ketuban pecah dini adalah :

1. Berkurang nya asam askorbik sebagai komponen kolagen

2. Kekurangan tembaga dan asam askorbik yang berakibat pertumbuhan struktur

abnormal karena antara lain merokok

Degradasi kolagen dimediasi oleh matriks metalloproteinase (MMP) yang dihambat oleh

inhibitor jaringan spesifik dan inhibitor protease.

Mendekati waktu persalinan, keseimbangan antara MMP dan TIMP-1 mengarah pada

degradasi proteolitik dari matriks ekstraseluler dan membrane janin. Aktivitas degradasi

proteolitik ini meningkat menjelang persalinan

Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala yang selalu ada ketika terjadi ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan

ketuban merembes melalui vagina.

Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi

bila ibu duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya mengganjal

atau menyumbat kebocoran untuk sementara. Ada pula tanda dan gejala yang tidak selalu ada

(kadang-kadang) timbul pada  ketuban pecah dini seperti ketuban pecah secara tiba-tiba,

kemudian cairan tampak diintroitus dan tidak adanya his dalam satu jam. Keadaan lain seperti

nyeri uterus, denyut jantung janin yang semakin cepat serta perdarahan pervaginam sedikit 

tidak selalu dialami ibu dengan kasus ketuban pecah dini. Namun, harus tetap diwaspadai

untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada ibu maupun janin.

Page 28: Lidya - Partus Spontan

Menegakan diagnosis

Diagnosis KPD didasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan laboratorium.

Anamnesa

Menanyakan identitas dan data umum seperti nama, usia, pekerjaan, agama, suku

Menanyakan keadaan sosial dan ekonomi, gaya hidup dan kondisi lingkungan

Menanyakan adanya keluhan utama dan penyerta

Menanyakan apakah pasien telah melakukan pemeriksaan sebelumnya atau

pengobatan sebelumnya, apa yang dilakukan untuk mengatasi keluahannya sebelum

ke dokter

Menanyakan riwayat penyakit keluarga dan penyakit terdahulu

Didahului dengan pencatatan identitas penderita secara lengkap.

Pada anamnesis umum kehamilan perlu ditanyakan usia kehamilan atau menghitung

kehamilan dengan menanyakan hari pertama dari haid terakhir, riwayat pernikahan ibu,

riwayat penyakit yang sedang diderita ibu seperti preeklamsia, maupun keadaan janin dalam

pemeriksaan kandungan sebelumnya seperti adanya kondisi hidroamnion pada janin, atau

solusio plasenta. Tanyakan pula tentang riwayat penyakit dahulu, khususnya penyakit kronis

seperti hipertensi, diabetes, atau kelainan jantung. Perlu ditanyakan pula keluhan tambahan

seperti adanya nyeri pinggang, atau nyeri perut untuk melihat adakah indikasi inpartu pada

ibu pasca terjadinya KPD. Penting juga untuk menanyakan sudah berapa lama ibu tersebut

mengalami ketuban pecah dini, dikarenakan pada umumnya 24 jam setelah terjadi KPD ibu

akan merasakan tanda-tanda inpartu sebagai akibat dari rangsangan kontraksi uterus. Perlu

ditanyakan juga apa warna, konsistensi, dan bau dari cairan yang keluar, sehingga dapat

dibedakan dengan kemungkinan inkontinensia urin pada ibu hamil maupun untuk

membedakan dengan darah dan sekret vagina. Tanyakan pula apakah ibu masih merasakan

pergerakan bayi atau tidak, sebagai indikasi kehidupan bayi, apakah frekuensinya bertambah

banyak atau tidak mengindikasikan bayi sedang dalam stres atau tidak dikarenakan kondisi

oligoamnion pasca KPD. Tanyakan pula apakah saat bayi bergerak ibu terasa kesakitan

sebagai kemungkinan dari berkurangnya cairan amnion akibat KPD.

Keluhan lainnya yang perlu ditanyakan adanya apakah terdapat demam untuk indikasi adanya

infeksi. Selain itu tanyakan pula apakah ibu pernah mengalami keadaan seperti ini, sehingga

dapat diperkirakan apakah terlah terjadi pada janin atau tidak karena jika telah lama terjadi

atau berulang kemungkian infeksi dan efek dari KPD pada ibu dan janin akan lebih

berbahaya bagi keselamatan keduanya. Pelajari pola makan dan kualitas gizinya. Apakah ia

Page 29: Lidya - Partus Spontan

merokok atau minum minuman beralkohol? Bagaimana penghasilan dan ruang lingkup

sosialnya?

Bagaimana riwayat kehamilan sebelum ini, apakah pernah mengalami masalah seperti ini

atau masalah lainnya seperti preeklamsia maupun hidroamnion dan sebagainya.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan tanda-tanda vital seperti tekanan darah, frekuensi napas, frekuensi nadi dan suhu

tubuh. Suhu dan keadaan umum dapat menunjukan indikasi adanya infeksi atau tidak, tanda-

tanda infeksi adalah bila suhu ibu lebih dari 38° C serta air ketuban keruh dan berbau.

Lakukan pula pemeriksaan pada janinnya dengan memeriksa denyut jantungnya dengan

menggunakan doppler atau stetoskop bidan untuk melihat tanda bahaya atau kehidupan janin,

untuk hasil yang lebih akurat lakukan pemeriksaan dengan USG.

Hal yang penting untuk diperhatikan juga adalah, melihat adanya kontraksi pada ibu, jika

terdapat kontraksi teratur maka perlu dipertimbangkan unutk melakukan terminasi kehamilan.

Sehubungan dengan terjadinya kontraksi perlu juga dilakukan pemeriksaan fisik kehamilan

seperti Leopold untuk menilai keadaan atau posisi janin, terutama menilai tinggi fundus uteri

dan dilihat apakah sesuai dengan usia kehamilannya. Pemeriksaan ini juga perlu dilakukan

apabila dipertimbangkan unutk melakukan terminasi kehamilan atau kontraksi teratur

menunjukan akan terjadi proses inpartu dalam 24 jam. Sehingga dapat nilai posisi janin,

apakah telah berada pada posisi yang tepat untuk persalinan pada kehamilan aterm.

Pada pasien yang menunjukan tanda inpartu seperti nyeri kontraksi yang teratur maka, perlu

dilakukan pemeriksaan pada serviks pasien dengan teknik pemeriksaan bimanual untuk

menilai konsistensi lunaknya serviks guna melakukan proses persalinan dan menilai bukaan

yang terjadi. Namun pada pasien tanpa tanda inpartu hal ini dikontraiindikasikan karena

diduga dapat membantu penyebaran infeksi pasca pecahnya ketuban.

Pemeriksaan Fisik Abdomen

Atur tubuh ibu hamil dalam posisi setengah duduk dengan kedua lutut ditekuk. Lakukan

inspeksi untuk menemukan setiap sikatriks atau stria, bentuk serta kontur abdomen dan tinggi

fundus uteri. Gambaran stria yang berwarna keunguan dan linea nigra merupakan keadaan

yang normal pada kehamilan. Bentuk dan kontur abdomen dapat menunjukkan ukuran

kehamilan. Lakukan palpasi abdomen untuk menemukan:

-Organ atau massa

Page 30: Lidya - Partus Spontan

-Gerakan janin, biasanya gerakan janin (yang sering pula disebut dengan istilah goyang janin)

dapat dirasakan oleh pemeriksa pada kehamilan sesudah 24 minggu (dan oleh ibu pada usia

kehamilan 18-20 minggu

Pemeriksaan dengan Spekulum

Langkah penting yang akurat dalam menentukan diagnosis adalah dengan pemeriksaan

spekulum steril. Ada 2 temuan yang dapat digunakan sebagai konfirmasi diagnosis ketuban

pecah dini :

1. Pooling : pengumpulan cairan pada fornix posterior

Tes nitrazin : menggunakan swab steril unutk mengumpulan cairan dari fornix posterior

dan mengujinya dengan kertas nitrazin (phenaphthazine). Jika cairan tersebut merupakan

cairan amnion maka kertas nitrazin akan berubah menjadi biru, yang menunjukan pH

alkalis (7.0-7.25). Pada tes Nitrazin dengan pH alkalis dapat juga disebabkan infeksi

vagina atau terdapatnya darah atau semen pada sampel.

2. Ferning: cairan dari fornix posterior diletakan pada slide dan keringkan pada udara

kering. Cairan amnion akan berubah menjadi bentuk bekuan dari kristalisasi.

Mukus servikal dapat menyebabkan ferning namun biasanya hanya berbentuk titik-titik

kecil. Saat pemeriksaan spekulum, serviks pasien harus diinspeksi untuk memperkirakan

derajat dilatasi atau adanya prolaps plasenta atau tali pusar janin.

Komplikasi dari ketuban pecah dini:

1. Persalinan premature

2. Infeksi

3. Hipoksia dan asfiksia

4. Sindrom deformitas janin

Plasenta Letak Rendah

Plasenta Previa

Adalah suatu plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga

menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri internum.

Page 31: Lidya - Partus Spontan

Sejalan dengan bertambah membesarnya rahim dan meluasnya segmen bawah rahim kea rah

proksimal memungkinkan plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim ikut

berpindah mengikuti perluasan segmen bawah rahim seolah plasenta tersebut bermigrasi.

Ostium uteri yang secara dinamik mendatar dan meluas dalam persalinan kala satu bias

mengubah luas pembukaan serviks yang tertutup oleh plasenta. Fenomena ini berpengaruh

pada derajat atau klasifikasi dari plasenta previa ketika pemeriksaan dilakukan baik dalam

masa antenatal maupun dalam masa intranatal, baik dengan ultrasonografi maupun

pemeriksaan digital. Oleh karena itu, pemeriksaan ultrasonografi perlu diulang secara berkala

dalam asuhan antenatal ataupun intranatal.

Klasifikasi

1. Plasenta previa totalis

Plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum

2. Plasenta previa parsialis

Plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri internum

3. Plasenta previa marginalis

Plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri internum

4. Plasenta letak rendah

Plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa sehingga tepi

bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum. Jarak yang

lebih dari 2 cm dianggap plasenta letak normal.

Gambar 1 Implantasi plasenta normal Gambar 2 Plasenta previa letak rendah

Page 32: Lidya - Partus Spontan

Gambar 3 Plasenta previa parsialis Gambar 4 Plasenta previa totalis

DAFTAR PUSTAKA

1. Asrih Dwi H, Cristine Clervo P, 2012. Asuhan Persalinan Normal. Nuha Medica.

Yogyakarta.

2. Saifuddin, Abdul Bari, dkk : Buku Ilmu Kebidanan, Edisi Keempat, Cetakan Ketigta,

Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2010

3. Mochtar, Rustam, : Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi, Obstetri Patologi, Edisi

Kedua, EGC, Jakarta, 1998; 269 -278.

4. http://id.scribd.com/doc/113877463/Induksi-Persalinan

5. Hassan Rusepno dr.dkk.1985.Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak.Staff Pengajar

Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

6. Saifuddin, Abdul Bari, dkk : Buku Acuan  pelayanan Kesehatan Maternal dan

Neonatal, Edisi Pertama, Cetakan Keempat, Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo, Jakarta, 2006; 162 -166.

7. Wiknjosastro, H.Ilmu Kebidanan (kesembilan ed.). Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo.2007.

8. Wiknjosastro, H.Ilmu Kebidanan (keempat ed.). Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo.2011.