leukemia suryanti

Download Leukemia Suryanti

Post on 13-Jul-2015

124 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

STATUS PASIEN

I.

IDENTIFIKASI A. Identitas Pasien Nama sex orang tua Alamat Usia orang tua Pendidikan Pekerjaan orang tua Agama Suku bangsa : : : : : : : : : Tita laki-laki Syariffudin Jl. Tomang tinggi II No. 9 Rt. 008 / Rw. 07 35 tahun SD Karyawan Islam Jawa

II.

RIWAYAT PASIEN Keluhan Utama : Benjolan di perut selama 1 tahun SMRS

Pasien datang dengan keluhan utama benjolan di perut sebelah kiri 1 tahun SMRS. Benjolan tidak terasa sakit tetapi nyeri bila ditekan. Benjolan dirasakan semakin membesar bila O.S sedang demam. Benjolan di tempat lain disangkal ibu pasien menyatakan bahwa tidak ada perubahan dalam pola deifekasi pasien dan menyangkal pernah kencing darah. ibu pasien menyangkal pasien pernah menderita demam tinggi yang disertai berkeringat banyak, dan menyangkal pernah menderita sakit kuning. Pasien tidak pernah keluar dari jakarta setelah lahir, tetapi ibu pasien menjelaskan pasien sering terlihat pucat, lemas, tidak nafsu makan 1 tahun belakangan. Pasien juga pernah muntah

darah segar 2 x 2 bulan SMRS. Tubuh pasien sering terlihat adanya memar-memar berwarna kebiruan. Pasien juga sering mimisan, 1 bulan SMRS. Demam nadi turun yang tidak terlalu sering dialami oleh pasien selama benjolan ini timbul. Nyeri sendi dan tulang-tulang sering diderita oleh pasien. Pada saat pemeriksaan pasien mengeluh lemas dan batuk pilek.

RPD : sering menderita batuk pilek, Ayahnya menderita asthma. R. Kehamilan Ibu : Selama hamil tidak ada kelainan/penyakit, hanya 2x memeriksakan diri ke bidan di puskemas. Ibu pernah di diperiksa TT 2x sebelum menikah R. Kelahiran : Tita lahir 29 September 2002 di RS bersalin Harapan Ibu secara spontan oleh bidan. Masa kehamilan cukup bulan dengan nilai. Apgar 8 BBL R. Makanan : 3100 gr , PBL = 50 cm : Selama demam anak susah makan hanya lebih banyak minum susu cair 1 + + 4 x (H). Sebelumnya anak mudah makan dengan makanan bubur + Pasi 3 (x) / (H) . anak diberikan Asi sampai usia 6 bulan. R. Imunisasi : (-) BCE 15 (H) campak 9 bulan (-) DPT I, II, III 2-3-4 bulan (-) Polio I, II, III, IV 15 (H) -2 -3 -4 belum (-) rititis B I, II, III 15 (H) -1 bulan 6 bulan.

R. Tumbuh Kembang : a. R. Pertumbuhan b. R. Perkembangan : Tampak kurang (10 %0) : Tampak baik. Sebelum sakit pasien senang menari dan bermain lompat tali, pasien sudah berhitung dengan jari dan menyebutkan hari dalam seminggu c. R. Keluarga ( Silsilah keluarga ) d. Lorak reproduksi itu : Ibu hamil usia 35 tahun, mempunyai bersebe 2 anak dengan jarak + 1 tahun. e. Data perumahan (sanitasi anak) : : Keluarga inti dengan tinggal bersebelahan dengan rumah kakek dan nenek pasien. St. Generalis a. Keadaan Umum : : : Pasien sakit sedang : Compos mentis : Gizi tampak otot-otot eutrophi dengan tebal kurang. b. Tanda vital 1. Tekanan darah 2. Nadi : : 95/65 mmHg di LKA. : 140, teratur, isi cukup, kanan kiri sama. 3. Suhu 4. Nafas : 380c : 24 x /t1, teratur jaringan lemak subcutan :

1. Kesan keadaan sakit 2. Kesadaran 3. St gizi / nutrisi

c. Data antropometrik

1. BB 2. PB 3. BB/PB (%) 4. LLA 5. TLK

: 16 kg BB/U = 14/19 73,7 % : 99 cm TB/U = 99/10 90 % : 164kg/15kg x 100% = 93,33 % : 165 mm (10%0) : 7 mm (10%0)

Kulit, Rambut, Kgb 1. Kulit : Tampak bercak kebiruan + 3 x 2 cm di daerah wajah atas, tangkai, dada. Teraba hangat. 2. Rambut 3. Kgb : Warna hitam, cukup tebal, distribusi merata. : a. occipital : tidak teraba : teraba + 2 cm, dingin, NT (-), M(-) c. cervicalis anterior: tidak teraba d. inguinal : teraba + 2 cm, dingin, NT (-), M(-).

b. retroauricular

Kepala dan Leher : 1. Normecephali 2. Mata 3. telinga 4. Hidung : CA +/+, 817. , pupil bulat isokor, RCL +/+

: normotia, secret (-) membrane tympany intak : tampak secret bening, mukosa hiperemis dan oedema.

5. Mulut

: mucosa pucat Gusi pucat gigi susu 16

6. Phanynx 7. Leher Thorax :

: phanynx hiperemis, exudat (-) : kgb ttm inspeksi Palpasi Perkusi : simetris, retraksi (-) : vocal fremitus simetris : sonor bilateral

Auskultasi : suara napas vesicular, rh 7-wh 7Jantung : inspeksi Palpasi : ictus cordis tidak terlihat : ictus cordis teraba ics IV 2 cm medial midclavicularis sinistra Perkusi : batas jantung superior : ics III sinistra Batas jantung kanan Batas jantung kiri : sternalis : Ics IV 2 cm

medial midcal miduavicularis sinistra Auskultasi : S1S2 reguler S3 (+), m (-), g (-)

Abdomen Inspeksi Palpasi : : buncit asimetris (sinistra) supel, NT (+) area lumbalis sinistra, Lien teraba S3 NT (+), Hepar teraba 5 cm di bawah proc. Xyphoideus, bawah arcus costa tidak teraba. Perkusi : tympany kecuali area lien dan di batas procxyphhoideus Auskultasi : BU (+)

Genitalia extrnal Labium mayor dan minor : tidak ada kelainan

Extrimitas

:

tonus baik, otot-otot eutrophy, mobility baik.

LEUKEMIA Penyakit ini merupakan proliferasi patologis dan sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya berakhir fatal.

Klasifikasi Berdasarkan morfologik sel terdapat 5 golongan besar leukemia, sesuai dengan 5 macam system hemopoetik dalam sumsum tulang yaitu : 1. Leukemia system eritropoetik : mielosis eritremika atau penyakit di Guglielmo 2. Leukemia mielielmo. 3. 4. 5. Leukemia sistem trombopoetik : leukemia megakariositik Leukemia sistem limfopoetik: leukemia limfsitik Leukemia RES: retikuloendoteliosis atau retikulosis yang dapat berupa leukemia monositik, leukemia plasmositik (penyakit Kahler), histiositosis dan sebagainya. Di samping itu mungkin pula ditemukan proliferasi campuran dari 2 sistem hemopoetik, seperti pada eritroleukemia yang merupakan leukemia sistem granulopoetik dan eritropoetik. Setiap golongan tersebut di atas dapat dibagi lagi berdasarkan jenis selnya, misal leukemia granulositik terbagi menjadi leukemia mieloblastik, promielosiik, eosinofilik, basofilik dan sebagainya. Bila jenis sel tidak dikenal biasanya disebut undifferentiated cell leukemia atau bila sel yang sukar dikenal itu mengandung nukleolus (sel muda) biasanya disebut stemm cell leukemia. Leukemia paramieloblastik merupakan sebutan terhadap jenis leukemia yang jenis selnya tidak dapat digolongkan ke dalam seri system granulopoetik: leukemia megakariositik atau

granulopoetik atau limfofoetik, tetapi agaknya lebih condong berasal dari sistem granulopoetik. Gambaran yang sama didapat pada leukemia mikromieloblastik, tetapi sangat mungkin berasal dari sistem lomfopoetik. Bergantung pada perjalanan penyakitnya, dikenal leukemia akut dan menahun. Dalam keputustakaan dikenal pula jenis subakut. Berdasarkan pada jumlah leukosit dalam darah tepi, leukemia akut dapat dibagi menjadi leukemia aleukemik (leukosit kurang dari 10.000/mm3) leukemia subleukemik (leukosit 10.000-25.000/mm3) dan leukemia leukemik (leukosit lebih dari 25.000/mm3). Reaksi leukemoid ialah keadaan darah tepi yang menyerupai gambaran leukemia, tetapi pemeriksaan sumsum tulangnya menunjukkan gambaran yang normal atau gambaran bukan leukemia. Keadaan ini terdapat pada infeksi (tuberkulosis, pertusis, virus, protozoa) intoksikasi (eklampsia, kombustio, gagal hati), tumor ganas yang bermetastasis ke sumsum tulang (karsinoma paru), perdarahan yang hebat dan hemolisis akut. Ada anak yang sering ditemukan ialah leukemia limfositik akut (LLA). Jenis lain seperti leukemia mieloblastik akut (LMA), leukemia limfositik kronik (LLK), leukemia mielositik kronik (LMK), mielosis eritremik (ME),

eritroleukemia dan retikulosis jarang ditemukan. Karena yang terbanyak pada akan ialah LLA maka jenis akan dibahas lebih mendalam. Pada umumnya gejala klinis dari berbagai leukemia hampir sama, hanya berbeda apakah leukemia akut atau menahun, tetapi gejala hematologis selain dibedakan oleh jenis dan menahun, juga bergantung pada morfologi selnya.

Leukemia Limfositik Akut (LLA) Etiologinya sampai saat ini masih belum jelas, diduga kemungkinan besar karena virus (virus onkogenik). Faktor lain yang turut berperanan ialah : 1. Faktor eksogen seperti sinas X, sinar radioaktif, hormon, bahan kimia (benzol, Arsen, preparat sulfat). Infeksi (virus, bakteri). 2. Faktor endogen seperti ras (orang Yahudi mudah menderita LLK), faktor konstitusi seperti kalainan kromosim (angka kejadian LMK lebih tinggi pada sindrom Down), herediter (kadang-kadang dijumpai kasus leukemia pada kakak-beradik atau kembar satu telur), anka kejadian pada anak lebih tinggi sesuai dengan usia maternal. Secara imunologik, patogenesis leukemia dapat diterangkan sebagai berikut : Bila virus dianggap sebagai penyebabnya (virus onkogenik yang mempunyai struktur antigen tertentu), maka virus tersebut dengan mudah akan masuk ke dalam tubuh manusia seandainya struktur antigennya sesuai dengan struktur antigen manusia itu. Bila struktur tersebut akan

ditolanyaknya, sama dengan sturktur antigen virus, maka virus tersebut akan ditolaknya, sama kejadian dengan penolakan terhadap benda asing struktur antigen manusia terbentuk oleh struktur antigen dari berbagai alat tubuh, terutama kulit dan selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh (kulit disebut juga antigen jaringan). Oleh WHO terhadap antigen jaringan telah ditetapkan istilah HL-A (Human Leucocyte locus A).Sistem HL-A individu ini diturunkan menurut hukum genetik, sehingga agaknya peranan factor ras dan keluarga dalam etiologi leukemia tidak dapat diabaikan.

Gejala Klinis Gejala yang khas ialah pucat, panas dan perdarahan disertai splenomegali dan kadang-kadang hepatomegalia serta limfadenopatia. Penderita yang menunjukkan gejala lengkap seperti tersebut di atas, secara klinis dapat didiagnosis leukemia. Pucat dapat terjadi mendadak, sehingga bila pada seorang anak terdapat pucat yang mendadak dan sebab terjadinya sukar diterangkan, waspadalah terhadap leukemia. Perdarahan dapat berupa ekimosis, petekia, epistaksis, perdarahan gusi dan sebagainya. Pada stadium permulaan mungkin tidak terdapat splenomega