leukemia fixhendy

Download Leukemia Fixhendy

Post on 16-Jun-2015

2.546 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

read it..

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN A. Skenario Anakku Sering Pingsan Anak Dodi ,laki-laki 12 tahun dibawa ibunya kedokter dengan keluhan sering pingsan dan cepat merasa lelah.Pada pemeriksaan ,anak tampak pucat,didapatkan splenomegali .Hasil pemeriksaaan laboratorium darah diperoleh kadar Hb 8 gr/dl dan jumlah leukosit meningkat dari keadaan normal .Dari hapusan darah tepi didapatkan banyak leukosit muda.Dokter menyarankan untuk melakukan pemeriksaan penunjang lebih lanjut. B. Analisa Kasus I. Klarifikasi kata/istilah (clarify terms) = leukosit yang imatur, belum mencapai bentuk fungsionalnya Hapusan darah tepi Hematologi = Sediaan darah yang diambil dari darah perifer mekanisme pembentukan sampai dengan = Ilmu yang mempelajari tentang darah,dari kondisi patologis dari darah tersebut. II 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Daftar Masalah (define the problems) Diagnosis sementara ? Mengapa sering pingsan dan cepat lelah ? Berapa kadar Hb dan jumlah leukosit normal pada anak-anak ? Mengapa kondisi fisik anak pucat dan splenomegali ? Mengapa jumlah leukosit meningkat sampai 2 kali lipat ? Mengapa banyak ditemukan banyak leukosit muda ? Pemerikasaan penunjang apa saja yang dapat dilakukan ? Apakah ada hubungan antara jenis kelamin ,umur,faktor hereditas dengan penyakit ini ? Leukosit muda

1

9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Mengapa pada kasus ini kadar Hb rendah? Mengapa perlu dilakukan pemeriksaan penunjang ? Prognosis dan etiologi terhadap penyakit kasus diatas? Bagaimanakah penatalaksaan dan terapi terhadap penyakit ini? Adakah gejala klinis lain terhadap penyakit ini ? Bagaimanakah proses hemopoeisis secara fisiologis? Fungsi masing-masing unsur darah?

III. Menganalisis Masalah (analyze problems) 1. Leukimia ,khususnya leukimia akut . 2. Karena kadar Hb yang menurun disebabkan oleh menurunnya sel darah merah.Nutrisi berupa vitamin dan asam amino yang ada diserap oleh sel kanker Ada beberapa penyebab pingsan, yaitu: karena peningkatan proliferasi leukosit sehingga menekan eritropoesis, terjadinya penurunan nafsu makan, suplai oksigen yang kurang karena gangguan saluran nafas dsb 3. Kadar Hb normal 11-13 gr/dl ,kadar leukosit 5000-9000 ml 4. Splenomegali terjadi karena peningkatan beban kerja limpa menghancurkan sel abnormal yang berlebihan sehingga terjadi hipertropi. 5. Leukosit yang tidak terkontrol diikuti sifat metastais kanker ,leukosit terus bereproduksi menggantikan sel normal ,sehingga terjadi peningkatan sel abnormal mengganggu proses hemopoesis terjadilah peningkatan leukosit. 6. Banyak detemukan leukosit muda karena terjadi proliferasi sehingga tidak sempat matur tetapi sudah menyebar kemana-mana terutama ke sirkulasi sehingga banyak ditemukan didarah tepi. 7. Pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan sum sum tulang dan lainnya. 8. Ada, leukemia cenderung pada jenis kelamin laki laki, untuk LLA lebih cenderung pada anak anak dan hereditas sangat berpengaruh pada leukemia.

2

9. Kadar Hb rendah dihubungkan dengan kadar leukosit yang meningkat adalah karena terjadinya penekanan eritropoesis karena terdesak oleh leukosit, sehingga proses pembentukan Hb menurun. 10. Untuk menegakkan diagnosis 11. Prognosis LLA tipe L1 lebih baik daripada tipe L2 dan L3. 12. Secara umum penatalaksanaan dibagi menjadi 2 yaitu farmakologis dan non farmakologis. Contoh farmakologis adalah pemberian obat yang mampu menekan sel kanker dan non farmakologis berupa terapi radiasi.

3

IV. Pohon Masalah (problem tree)

Hoemopoesis

Etiologi

Leukemia

Diagnosa banding: Leukemia Limfoblas Akut

Leukemia Limfoblas Akut Manifestasi Klinis

Patofiologi

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang

Terapi dan Penatalaksana an

Farma

Non Farma

V. Sasaran belajar 1. 2. 3. 4. 5. 6. Menjelaskan proses hemopoesis. Menjelaskan definisi dan klasifikasi leukimia. Menjelaskan etiologi leukimia. Menjelaskan patofisiologi leukimia. Menjelaskan manifestasi klinis dari leukimia. Menjelaskan pemeriksaan fisik dan penunjang dari leukimia.

4

7. 8. 9.

Menjelaskan komplikasi dari leukimia. Menjelaskan penatalaksanaan secara non-farmakologi untuk leukimia. Menjelaskan penatalaksanaan secara farmakologi untuk leukimia.

10. Menjelaskan prognosis dari leukimia.

5

BAB II PEMBAHASAN 2.1. DARAH Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma di dalam cairan yang disebut Plasma. Secara keseluruhan darah dapat dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang berbentuk plasma. Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit.[1] Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila kaya oksigen sampai merah tua apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein), yang terdapat dalam eritrosit dan mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. Darah juga mengangkut bahan bahan sisa metabolisme, obat-obatan dan bahan kimia asing ke hati untuk diuraikan dan ke ginjal untuk dibuang sebagai air seni. Pada manusia umumnya memiliki volume darah sebanyak kurang lebih 5 liter dengan unsur-unsur pembentuknya yaitu sel-sel darah, platelet, dan plasma. Sel darah terdiri dari eritrosit dan leukosit, platelet yang merupakan trombosit atau keping darah, sedangkan plasma darah pada dasarnya adalah larutan air yang mengandung : Air (90%). Zat terlarut (10%) yang terdiri dari : Protein plasma (albumin, globulin, fibrinogen) 7% Senyawa Organik (As. Amino, glukosa, vitamin, lemak) 2.1% Garam organik (sodium, pottasium, calcium) 0.9%

6

Untuk dapat melihat perbedaan dari sel darah dengan plasma dapat dilakukan dengan cara sentrifugasi tabung hematokrit berisi darah yang telah diberi bahan anti pembekuan.Eritrosit, leukosit, plasma dapat dilihat untuk bagian yang berwarna merah merupakan eritrosit, selapis tipis warna putih merupakan kumpulan sel-sel darah putih (leukosit) can cairan kuning merupakan plasma. 2.1.1 Eritrosit Dalam setiap 1 mm3 darah terdapat sekitar 5 juta eritrosit atau sekitar 99%, oleh karena itu setiap pada sediaan darah yang paling banyak menonjol adalah sel-sel tersebut. Dalam keadaan normal, eritrosit manusia berbentuk bikonkaf dengan diameter sekitar 7 -8 m, tebal 2.6 m dan tebal tengah 0.8 m dan tanpa memiliki inti. Komposisi molekuler eritrosit menunjukan bahwa lebih dari separuhnya terdiri dari air (60%) dan sisanya berbentuk substansi padat. Secara keseluruhan isi eritrosit merupakan substansi koloidal yang homogen, sehingga sel ini bersifat elastis dan lunak. Eritrosit mengandung protein yang sangat penting bagi fungsinya yaitu globin yang dikonjugasikan dengan pigmen hem membentuk hemoglobin untuk mengikat oksigen yang akan diedarkan keseluruh bagian tubuh. Seperti halnya sel-sel yang lain, eritrositpun dibatasi oleh membran plasma yang bersifat semipermeable dan berfungsi untuk mencegah agar koloid yang dikandungnya tetap didalam.[1] Dari pengamatan eritrosit banyak hal yang harus diperhatikan untuk mengungkapkan berbagai kondisi kesehatan tubuh. Misalnya tentang bentuk, ukuran, warna dan tingkat kedewasaan eritrosit dapat berbeda dari normal. Jika dalam sediaan apus darah terdapat berbagai bentuk yang abnormal dinamakan poikilosit, sedangkan sel-selnya cukup banyak maka keadaan tersebut dinamakan poikilositosis. Eritrosit yang berukuran kurang dari normalnya dinamakan mikrosit dan yang berukuran lebih dari normalnya dinamakan makrosit.[1] Warna eritrosit tidak merata seluruh bagian, melainkan bagian tengah yang lebih pucat, karena bagian tengah lebih tipis daripada bagian pinggirnya. Pada keadaan normal bagian tengah tidak melebihi 1/3 dari

7

diameternya sehingga selnya dinamakan eritrosit normokhromatik. Apabila bagian tengah yang pucat melebar disertai bagian pinggir yang kurang terwarna maka eritrosit tersebut dinamakan eritrosit hipokromatik. Sebaliknya apabila bagian tengah yang memucat menyempit selnya dimanakan eritrosit hiperkhromatik.[1] 2.1.2 Leukosit Leukosit adalah sel darah yang mengendung inti, disebut juga sel darah putih. Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asingan. Didalam darah manusia, normal didapati jumlah leukosit rata-rata 6000-10000 sel/mm3, bila jumlahnya lebih dari 12000, keadaan ini disebut leukositosis, bilakurang dari 5000 disebut leukopenia. Sebenarnya leukosit merupakan kelompok sel dari beberapa jenis. Untuk klasifikasinya didasarkan pada morfologi inti adanya struktur khusus dalam sitoplasmanya. Dilihat dalam mikroskop cahaya maka sel darah putih dapat dibedakan yaitu :[1] A. Granulosit Yang mempunyai granula spesifik, yang dalam keadaan hidup berupa tetesan setengah cair, dalam sitoplasmanya dan mempunyai bentuk inti yang bervariasi. Terdapat tiga jenis leukosit granuler : Neutrofil, Di antara granulosit, netrofil merupakan merupakan jenis sel yang terbanyak yaitu sebanyak 60 70% dari jumlah seluruh leukosit atau 30006000 per mm3 darah normal. Pada perkembangan sel netrofil dalam sumsum tulang, terjadi perubahan bentuk intinya, sehingga dalam darah perifer selalu terdapat bentuk-bentuk yang masih dalam perkembangan. Dalam keadaan normal perbandingan tahap-tahap mempunyai harga tertentu sehingga perubahan perbandingan tersebut dapat mencerminkan kelainan. Sel netrofil matang berbentuk bulat dengan diameter 10-12 m. Intinya berbentuk tidak bulat melainkan berlobus berjumlah 2-5 lobi bahkan dapat lebih. Makin muda jumlah lobi akan berkurang. Yang dimaksudkan dengan lobus yaitu bahan inti yang terpisah-pisah oleh bahan inti berbentuk benang. Inti