lapsus - fin

Author: padma-amrita

Post on 04-Apr-2018

225 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    1/33

    1

    LEMBAR PENGESAHAN

    Judul : Perforasi Gaster

    Jenis : Laporan Kasus

    Penyusun : Nicholas Andrew Soegandhi, S.Ked

    Disetujui pada tanggal :

    ..

    Pembimbing :

    dr. Budi Setyawan, Sp. B

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    2/33

    2

    KATA PENGANTAR

    Puji syukur penulis panjatkkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat

    rahmat dan karunia-Nya, maka penulis mampu menyelesaikan tugas laporan kasus yang

    berjudul Perforasi Gaster pada SMF Ilmu Bedah Rumah Sakit Umum Daaerah Ibnu Sina

    Gresik dengan tepat pada waktunya.

    Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang

    telah membantu saya dalam menghadapi Kendala-kendala dalam penyusunan laporan kasus

    ini. Untuk itu saya berterima kasih kepada :

    1. dr. Budi Setyawan, Sp.B selaku dosen pembimbing dalam pembuatan tugas laporankasus

    2. Semua dokter ilmu bedah RSUD Ibnu Sina Gresik beserta staff3. Kedua orangtua saya yang telah membesarkan dan mendidik saya

    Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari kondisi sempurna karena

    keterbatasan dalam menyusun laporan kasus ini. Oleh karena itu dengan senang hati akan

    menerima semua kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan loporan

    kasus ini.

    Akhirnya penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak

    bilamana telah melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak disengaja selama

    proses penulisan laporan kasus ini.

    Gresik, Februari 2012

    Penulis

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    3/33

    3

    DAFTAR ISI

    Lembar Pengesahan.........i

    Kata Pengantar ......ii

    Daftar Isi ......iii

    BAB I. LAPORAN KASUS .........1

    BAB II. PENDAHULUAN ..............6

    BAB III. TINJAUAN PUSTAKA 7

    3.1 Definisi ........15

    3.2 Anatomi .......15

    3.3 Etiologi......................22

    3.6 Patofisiologi .........24

    3.7 Gejala dan Tanda .........25

    3.8 Diagnosa............................. .........25

    3.9 Diagnosa Banding ............26

    3.11 Terapi .........27

    3.12 Pencegahan ....27

    3.14 Prognosis ...28

    DAFTAR PUSTAKA .........29

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    4/33

    4

    Abstrak : Peritonitis merupakan kondisi peradangan pada selaput peritoneum, biasa terjadi

    akut dan butuh tindakan segera. Peritonitis selalu diikuti oleh penyakit lain pada regio

    abdomen. Perforasi lambung merupakan salah satu penyebabnya dan termasuk dalam

    kegawatdaruratan bedah, yang harus menjalani tindakan pembedahan/laparotomi guna

    menurunkan moerbiditas dan mortalitas. Perforasi lambung sering disebabkan oleh ulkus

    peptikumKata kunci : peritonitis, perforasi gaster, ulkus peptikum

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    5/33

    5

    BAB I

    LAPORAN KASUS

    I. IDENTITASNama : Tn. Yasri

    Umur : 50 thn

    Jenis kelamin : Laki2

    Alamat : Sumengko RT 4/RW 2, Duduk Sampeyan

    Pekerjaan : Petani

    Agama : Islam

    Status perkawinan : Menikah

    Suku bangsa : Indonesia

    Tanggal MRS : 16-1-2012

    Tanggal KRS : 24-1-2012

    II. ANAMNESIS Keluhan Utama

    Pasien mengeluh nyeri ulu hati menjalar ke seluruh perut

    Riwayat Penyakit SekarangNyeri ulu hati sejak sehari sebelum masuk IGD, nyeri bila dibuat bernapas, flatus(-

    ), BAB(-), sesak(-), mual(-), muntah(-), pusing(-)

    Riwayat Penyakit DahuluDM(-), HT(-)

    III. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum : tampak kesakitan GCS : 456 Keadaan gizi : baik Tensi : 130/70 mmHg Nadi : 82 x/mnt Suhu : 36,50C Respiratory rate : 24x/mnt

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    6/33

    6

    Status General

    Kepala / LeherKepala : anemia(-), ikterus(-), cyanosis(-), dypsneu(-)

    Leher : deviasi trachea(-), JVP(-), pembesaran KGB(-), nyeri telan(-)

    ThoraxDada : pergerakan dada simetris, jejas(-), retraksi intercostalis(-)

    Pulmo : Inspeksi : pergerakan nafas simetris

    Palpasi : nyeri tekan(-), krepitasi(-)

    Perkusi : sonor +/+

    Auskultasi : suara nafas vesikuler, rhonki -/- whezzing -/-

    Jantung: Inspeksi : ictus cordis(-)

    Palpasi : thrill tidak teraba

    Perkusi : pekak (+)

    Auskultasi : S1 S2 tunggal

    AbdomenInspeksi : Jejas(-)

    Palapasi : Hepar dan Lien tidak ditemukan pembesaran

    Nyeri tekan (+)

    Defansmuskuler(+)

    Perkusi : meteorismus (-)

    Auskultasi : bising usus (+)

    Ekstremitas SuperiorTidak ditemukan adanya ekskoriasi/ vulnus apertum

    Ekstremitas InferiorTidak ditemukan adanya ekskoriasi / vulnus apertum

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    7/33

    7

    IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

    Hasil LaboratoriumPemeriksaan Laboratorium Hasil Nilai Normal

    Darah lengkapHb

    LED

    Leukosit

    DIFF Eo / Ba / St / Sg / Ly / Mo

    Trombosit

    GDA

    HBS Ag

    PCV

    MCV

    MCH

    MCHC

    Faal Ginjal Laki2

    BUN

    Serum Creatinin

    Uric Acid

    Faal Hati Laki2

    Bil. Dir

    Bil. Tot

    SGOT

    SGPT

    Elektrolit

    Natrium

    Kalium

    Kalsium

    16,2

    8-14

    22600

    0 / 0 / 0 / 92 / 5 / 3

    310.000

    123

    (-)

    48

    95

    32

    34

    33,1

    1,10

    4,2

    0,62

    1,02

    19,2

    15,0

    139

    5,2

    9,7

    L: 13-17,9 gr% P: 11.4-15,1 gr%

    L: 0-15, P: 0-20

    4500-11000/ ml

    1-2/0-1/3/5/40-50/20-40/4-8

    150000-350000 / L

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    8/33

    8

    X-RayFoto Thorax

    Gambar 1. Foto

    Thorax PA : dalam

    batas normal

    Foto Abdomen

    Gambar 2. Foto Lumbosakral

    Lateral, dalam batas normal

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    9/33

    9

    Gambar 3. Foto Lumbosakral AP

    bof : dalam batas normal

    Gambar 4. Foto diafragma,

    dalam batas normal

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    10/33

    10

    DIAGNOSA KERJA

    Peritonitis karena perforasi gaster

    TANGGAL 17 Januari 2012

    S: nyeri di ulu hati menjalar ke seluruh perut, nyeri dirasakan terutama saat menarik

    napas, flatus(-), BAB(-), dyspneu(-), mual(-), muntah(-), nyeri kepala(-)

    O: TD :120/70mmHg

    N : 84 x / menit

    S : 36 C

    RR : 24 x / menit

    Status Lokalis Regio Abdomen

    Inspeksi : datar, distended

    Auskultasi : BU (+) lemah

    Palpasi : nyeri tekan (+), defans (+)

    Perkusi : tympani

    A: Peritonitis

    TANGGAL 18 Januari 2012

    S: nyeri di perut kanan, kembung(+), flatus(-), BAB(-)

    O: TD :120/80mmHg

    N : 84 x / menit

    S : 36,2 C

    RR : 20 x / menit

    Status Lokalis Regio Abdomen

    Inspeksi : datar

    Auskultasi : BU (+) lemah

    Palpasi : nyeri tekan (+) pada hipokondrium kanan, defans (+)

    Perkusi : meteorismus (+)

    A: Peritonitis

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    11/33

    11

    Laporan Operasi : Laparotomy, jahit gaster + omental fetch

    Follow Up setelah Laparotomy

    TANGGAL 19 Januari 2012

    S: kembung(+), flatus(-), BAB(-)

    O: TD :110/70mmHg

    N : 81 x / menit

    S : 36,4 C

    RR : 21 x / menit

    Status Lokalis Regio Abdomen

    Inspeksi : datar

    Auskultasi : BU (+) lemah

    Palpasi : nyeri tekan (+) pada hipokondrium kanan, defans (+)

    Perkusi : meteorismus (+)

    A: Peritonitis

    Perforasi gaster

    (Post Laparotomy H+1)

    TANGGAL 20 Januari 2012

    S: flatus(+), BAB(-)

    O: TD :110/70mmHg

    N : 74 x / menit

    S : 36,3 C

    RR : 21 x / menit

    Status Lokalis Regio Abdomen

    Inspeksi : datar

    Auskultasi : BU (+) normal

    Palpasi : nyeri tekan (-)

    Perkusi : tympani

    A: Peritonitis

    Perforasi gaster

    (Post Laparotomy H+2)

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    12/33

    12

    TANGGAL 21 Januari 2012

    S: flatus(+), BAB(+)

    O: TD :120/70mmHg

    N : 47 x / menit

    S : 37 C

    RR : 19 x / menit

    Status Lokalis Regio Abdomen

    Inspeksi : datar

    Auskultasi : BU (+) normal

    Palpasi : nyeri tekan (-)

    Perkusi : tympani

    A: Peritonitis

    Perforasi gaster

    (Post Laparotomy H+3)

    TANGGAL 22 Januari 2012

    S: tdk ada keluhan

    O: TD :120/80mmHg

    N : 68 x / menit

    S : 36 C

    RR : 20 x / menit

    Status Lokalis Regio Abdomen

    Inspeksi : datar

    Auskultasi : BU (+) normal

    Palpasi : nyeri tekan (-)

    Perkusi : tympani

    A: Peritonitis

    Perforasi gaster

    (Post Laparotomy H+4)

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    13/33

    13

    TANGGAL 23 Januari 2012

    S: tdk ada keluhan

    O: TD :120/80mmHg

    N : 64 x / menit

    S : 36,1 C

    RR :191 x / menit

    Status Lokalis Regio Abdomen

    Inspeksi : datar

    Auskultasi : BU (+) normal

    Palpasi : nyeri tekan (-)

    Perkusi : meteorismus (+)

    A: Peritonitis

    Perforasi gaster

    (Post Laparotomy H+5)

    TANGGAL 24 Januari 2012

    S: tdk ada keluhan

    O: TD :120/80mmHg

    N : 73 x / menit

    S : 36,2 C

    RR : 21 x / menit

    Status Lokalis Regio Abdomen

    Inspeksi : datar

    Auskultasi : BU (+) normal

    Palpasi : nyeri tekan (-)

    Perkusi : tympani

    A: Peritonitis

    Perforasi gaster

    (Post Laparotomy H+6)

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    14/33

    14

    BAB II

    PENDAHULUAN

    Perforasi gaster paling sering dimulai dari timbulnya suatu ulkus pada lambung

    karena paparan asam lambung terus menerus (kronis), disebut ulkus peptikum.

    Infeksi, obstruksi dann strangulasi saluran cerna dapat menyebabkan perforasi yang

    mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah

    peritonitis. Ada banyak penyebab lain seperti trauma, penyakit Crohn, kolitis

    ulserartiva, tumor ganas, dan sebagainya. Perforasi dalam bentuk apapun yang

    mengenai saluran cerna merupakan suatu kasus kegawatan bedah.

    Peritonitis merupakan suatu kondisi peradangan pada selaput pembungkus abdomen.

    Peritonitis seing didahului oleh penyakit lain di regio abdomen, dan dalam laporan

    kasus ini penyebabnya adalah perforasi gaster. Karena biasa diikuti oleh keadaan

    gawat abdomen seperti perforasi gaster, maka keputusan untuk melakukan tindakan

    bedah harus segera diambil karena setiap kelambatan akan menimbulkan penyulit

    yang berakibat meningkatnya morbiditas dan mortalitas.

    Epidemiologi peritonitis dan perforasi lambung sendiri tidak banyak diteliti di

    Indonesia, namun kita bisa melihat dari kasus ulkus peptikum yang merupakan awal

    dari timbulnya perforasi. Penyakit ini terjadi dengan frekuensi paling besar pada

    individu antara usia 40 dan 60 tahun. Tetapi, relatif jarang pada wanita menyusui. Pria

    lebih sering terkena dibanding wanita, tapi terdapat beberapa bukti bahwa insiden

    pada wanita hampir sama dengan pria, terutama setelah menopause. Ulkus peptikum

    pada korpus lambung dapat terjadi tanpa sekresi asam lambung berlebihan

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    15/33

    15

    BAB III

    TINJAUAN PUSTAKA

    I. DEFINISI(1,3)

    Perforasi Gaster adalah terbentuknya lubang pada lambung karena proses patologis

    Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput

    rongga perut (peritoneum)

    II. ANATOMI DAN FISIOLOGI (1,2,3,6,7,8)

    Anatomi Lambung

    Gambar 5. Lambung dan bagian-bagiannya

    Lambung adalah merupakan bagian sistem gastrointestinal yang terletak di antara

    esofagus dan duodenum. Dari hubungan anatomi topografik lambung-duodenum

    dengan hati, pankreas, dan limpa, dapat diperkirakan bahwa tukak peptik akan

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    16/33

    16

    mengalami perforasi ke rongga sekitarnya secara bebas atau penetrasi ke dalam organ

    di dekatnya bergantung pada letak tukak

    Berdasarkan faalnya, lambung dibagi dalam dua bagian. Tiga perempat proksimal

    yang terdiri atas fundus dan korpus, berfungsi sebagai penampung makanan yang

    ditelan, serta tempat produksi asam lambung dan pepsin, sedangkan seperempat distal

    atau antrum bekerja mencampur makanan dan mendorongnya ke duodenum serta

    memproduksi gastrin.

    Dinding fundus tipis, sedangkan dinding korpus, apalagi antrum, tebal, dan kuat

    lapisan ototnya.

    Fungsi utama lambung adalah penerima makanan dan minuman, dikerjakan oleh

    fundus dan korpus, dan penghancur dikerjakan oleh antrum, selain turut bekerja

    dalam pencernaan awal berkat kerja kimiawi asam lambung dan pepsin

    Lambung dapat dibagi menjadi tiga daerah, yaitu daerah

    1. Kardia.2. Fundus.3. Pilorus.

    1. Kardia, daerah pintu masuk makanan dari kerongkongan itu sendiri .

    2. Fundus, bentuknya membulat.

    3. Pilorus, daerah yang berhubungan dengan usus 12 jari atau sering

    disebut duodenum.

    Dinding lambung tersusun menjadi empat lapisan, yakni :

    1.Mucosa.2. Submucosa.3.Muscularis.4. Serosa.

    1. Mucosa ialah lapisan dimana sel-sel mengeluarkan berbagai jenis cairan, seperti

    enzim, asam lambung, dan hormon. Lapisan ini berbentuk seperti palung untuk

    memperbesar perbandingan antara luas dan volume sehingga memperbanyak volume

    getah lambung yang dapat dikeluarkan.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Duodenumhttp://id.wikipedia.org/wiki/Duodenum
  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    17/33

    17

    2. Submucosa ialah lapisan dimana pembuluh darah arteri dan vena dapat ditemukan

    untuk menyalurkan nutrisi dan oksigen ke sel-sel perut sekaligus untuk membawa

    nutrisi yang diserap, urea, dan karbon dioksida dari sel-sel tersebut.

    3. Muscularis adalah lapisan otot yang membantu perut dalam pencernaan mekanis.

    Lapisan ini dibagi menjadi 3 lapisan otot, yakni otot melingkar, memanjang, dan

    menyerong. Kontraksi dan ketiga macam lapisan otot tersebut mengakibatkan

    4. Gerak peristaltik (gerak menggelombang). Gerak peristaltik menyebabkan makanan

    di dalam lambung diaduk-aduk. Lapisan terluar yaitu serosa berfungsi sebagai lapisan

    pelindung perut. Sel-sel di lapisan ini mengeluarkan sejenis cairan untuk mengurangi

    gaya gesekan yang terjadi antara perut dengan anggota tubuh lainnya.

    Di lapisan mucosa terdapat 3 jenis sel yang berfungsi dalam pencernaan, yaitu :

    1. Sel goblet (goblet cell).2. Sel parietal (parietal cell).3. Sel chief (chief cell).

    1. Sel goblet berfungsi untuk memproduksi mucus atau lendir untuk menjaga lapisan

    terluar sel agar tidak rusak karena enzim pepsin dan asam lambung.

    2. Sel parietal berfungsi untuk memproduksi asam lambung [Hydrochloric acid] yang

    berguna dalam pengaktifan enzim pepsin. Diperkirakan bahwa sel parietal

    memproduksi 1.5 mol dm-3

    asam lambung yang membuat tingkat keasaman dalam

    lambung mencapai pH 2.

    3. Sel chief berfungsi untuk memproduksi pepsinogen, yaitu enzim pepsin dalam

    bentuk tidak aktif. Sel chief memproduksi dalam bentuk tidak aktif agar enzim

    tersebut tidak mencerna protein yang dimiliki oleh sel tersebut yang dapat

    menyebabkan kematian pada sel tersebut.

    Di bagian dinding lambung sebelah dalam terdapat kelenjar-kelenjar yang

    menghasilkan getah lambung. Aroma, bentuk, warna, dan selera terhadap makanan

    secara refleks akan menimbulkan sekresi getah lambung. Getah lambung mengandung

    asam lambung (HCI), pepsin, musin, dan renin. Asam lambung berperan sebagai

    pembunuh mikroorganisme dan mengaktifkan enzim pepsinogen menjadi pepsin.

    http://id.wikipedia.org/wiki/Arterihttp://id.wikipedia.org/wiki/Venahttp://id.wikipedia.org/wiki/Ureahttp://id.wikipedia.org/wiki/Karbon_dioksidahttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pepsinogen&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Enzimhttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pepsin&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Reninhttp://id.wikipedia.org/wiki/Reninhttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pepsin&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Enzimhttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pepsinogen&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Karbon_dioksidahttp://id.wikipedia.org/wiki/Ureahttp://id.wikipedia.org/wiki/Venahttp://id.wikipedia.org/wiki/Arteri
  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    18/33

    18

    Pepsinmerupakan enzim yang dapat mengubah protein menjadi molekul yanglebih kecil.

    Musinmerupakan mukosa protein yang melicinkan makanan.

    Reninmerupakan enzim khusus yang hanya terdapat pada mamalia, berperansebagai kaseinogen menjadi kasein. Kasein digumpalkan oleh Ca

    2+dari susu

    sehingga dapat dicerna oleh pepsin. Tanpa adanya renim susu yang berwujud cair

    akan lewat begitu saja di dalam lambuing dan usus tanpa sempat dicerna.

    Kerja enzim dan pelumatan oleh otot lambung mengubah makanan menjadi lembut

    seperti bubur, disebut chyme (kim) atau bubur makanan. Otot lambung bagian pilorus

    mengatur pengeluaran kim sedikit demi sedikit dalam duodenum. Caranya, otot

    pilorus yang mengarah ke lambung akan relaksasi (mengendur) jika tersentuk kimyang bersifat asam.

    Sebaliknya, otot pilorus yang mengarah ke duodenum akan berkontraksi (mengerut)

    jika tersentuh kim. Jadi, misalnya kim yang bersifat asam tiba di pilorus depan, maka

    pilorus akan membuka, sehingga makanan lewat. Oleh karena makanan asam

    mengenai pilorus belakang, pilorus menutup. Makanan tersebut dicerna sehingga

    keasamanya menurun.

    Makanan yang bersifat basa di belakang pilorus akan merangsang pilorus untuk

    membuka. Akibatnya, makanan yang asam dari lambung masuk ke duodenum.

    Demikian seterusnya. Jadi, makanan melewati pilorus menuju duodenum segumpal

    demi segumpal agar makanan tersebut dapat tercerna efektif. Seteleah 2 sampai 5 jam,

    lambung kosong kembali.

    Pada lambung terdapat kelenjar oksintik(bahasa Inggris:oxyntic gland) yang

    memproduksi hormon GHS. Hormon lain yang disekresi antara lain adalah GHIH.

    http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pepsin&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pepsin&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musin&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musin&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Reninhttp://id.wikipedia.org/wiki/Reninhttp://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggrishttp://id.wikipedia.org/wiki/Hormonhttp://id.wikipedia.org/wiki/Ghrelinhttp://id.wikipedia.org/wiki/Somatostatinhttp://id.wikipedia.org/wiki/Somatostatinhttp://id.wikipedia.org/wiki/Ghrelinhttp://id.wikipedia.org/wiki/Hormonhttp://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Inggrishttp://id.wikipedia.org/wiki/Reninhttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Musin&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pepsin&action=edit&redlink=1
  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    19/33

    19

    Peritoneum adalah suatu membran serosa, terdiri dari satu lapisan sel mesothelial

    pipih, didukung oleh jaringan ikat submesothelial. Dalam jaringan subserosal ini

    terdapat sel-sel lemak, limfatik, pembuluh darah, dan sel-sel infalmasi seperti limfosit

    dan sel plasma

    Peritoneum terdiri dari 2 lapisan dan ruangan di antaranya:

    - Peritoneum Visceralis, melapisi seluruh rongga abdomen hingga panggul,menempel pada dinding abdomen

    - Peritoneum Parietalis, melapisi bagian luar/permukaan dari kebanyakanorgan intra abdominal, termasuk saluran pencernaan

    - Cavitas Peritoneal, ruangan yang terletak diantara 2 lapisan peritoneum,diisi oleh sedikit cairan serosa yang memungkinkan kedua lapisan tadi

    bergerak bebas terhadap satu sama lain

    Gambar 1. Rongga Abdomen

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    20/33

    20

    Gambar 2. (garis merah) di bagian bawah abdomen, dilihat dari atas

    Gambar 3. Peritoneum (garis merah) di bagian atas abdomen, dilihat dari atas

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    21/33

    21

    Gambar 4. Struktur yang dilapisi oleh peritoneum

    Ruang di dalam Peritoneum dapat dibagi menjadi 2 bagian

    1. Cavitas Peritonealis (kantong besar) merupakan ruang utama yang terbentang daridiafragma ke bawah (warna pink pada gambar diatas)

    2. Bursa omentalis (kantong kecil) yang berukuran lebih kecil dan terletak dibelakang gaster (warna biru pada gambar diatas). Dibagi menjadi 2 :

    a. Omentum Majormenghubungkan curvatura major gaster dengan colontransversum

    b. Omentum Minormenempel pada curvatura minor gaster dan portahepatis pada permukaan bawah hepar

    Kantong besar dan kantong kecil berhubungan bebas satu sama lain melalui foramen

    epiploicum

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    22/33

    22

    Klasifikasi struktur abdomen berdasarkan letaknya terhadap peritoneum :

    IntraPeritoneal RetroPeritoneal InfraPeritoneal

    Lambung

    Bagian awal Duodenum

    (5cm)

    Pankreas(caput dan corpus)

    Jejunum

    Ileum

    Appendix

    Caecum

    Colon Transversum

    Colon Sigmoid

    Rectum, 1/3 superior

    Hepar

    Lien

    Pd wanita :

    Uterus

    Tuba Fallopi

    Ovarium

    Sisa bagian Duodenum

    Rectum, 1/3 medial

    Ginjal

    Pankreas

    Glandula Suprarenal

    Ureter

    Colon ascenden

    Colon descenden

    Rectum, 1/3 inferior

    Buli-buli

    Istilah intra peritoneal dan retro peritoneal digunakan untuk melukiskan hubungan berbagai

    organ dengan peritoneum yang meliputinya

    Sebuah organ dikatakan intra peritoneal jika hampir seluruh organ tersebut dilapisi oleh

    peritoneum viscerale

    Organ-organ retroperitoneal terletak di belakang peritoneum dan hanya sebagian diliputi oleh

    peritoneum viscerale

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    23/33

    23

    III. ETIOLOGI(5,9)

    Penyebab perforasi bervariasi bergantung pada daerah perlubangan, tetapi luka berat

    bisa mempengaruhi setiap bagian sistem pencernaan. Benda asing yang ditelan biasanya

    tertelan tanpa menimbulkan kesulitan tetapi kadangkala menjadi tersangkut dan

    menimbulkan perlubangan

    Beberapa Penyebab

    Perforasi

    Area Perforasi Penyebab Keterangan

    Saluran pencernaan manapun Luka

    Benda asing

    Esofagus Muntah yang kuat

    Luka dari tindakan medis

    Menelan senyawa korosif

    kuat

    DisebutBoerhaaves

    syndrome

    Khususnya disebabkan oleh

    esophagoscope, baloon

    dilator, atau bougie (alat

    silinder tipis dan tajam)

    Seperti asam batere atau

    pewarna

    Lambung atau duodenum Penyakit tukak lambung

    Menelan senyawa korosif

    kuat

    Appendisitis akut dan

    Meckels diverticulitis

    Sembelit (obstruction )

    Sekitar sepertiga penderita

    tidak memiliki gejala tukak

    sebelumnya

    Biasanya mempengaruhi

    lambung dibanding usus

    kecil

    Resiko tinggi : penderita

    yang minum prednison atau

    imunosupresan lainnya

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    24/33

    24

    Ulkus peptik sebagai salah satu penyebab utama perforasi lambung dapat terjadi

    karena :

    - Infeksi Helicobacter pylori, salah satu studi menyebutkan 63% penderitaulkus lambung didapati positif terinfeksiH. pylori

    - Obat-obatan, terutama golongan NSAID- Faktor gaya hidup, rokok dan alkohol meningkatkan resiko- Stress fisiologik yang parah, contoh : luka bakar, trauma kepala, operasi,

    penyakit sistemik yang serius, sepsis, hipotensi, gagal napas, trauma

    multipel

    - Keadaan hipersekretori (jarang), contoh : Syndroma Zolinger-Ellison,Leukemia Basofilik, Hiperparatiroid

    - Faktor genetik

    Faktor resiko ulkus peptik yang mengarah pada perforasi gaster :

    1. Rokok2. Alkohol3. Obat-obatan ulserogenik4. Cafein5. Terapi radiasi

    Perforasi alat saluran cerna dapat dibagi dalam:

    Perforasi non-trauma, misalnya pada ulkus lambung, tifoid, dan appendicitis;

    Perforasi oleh trauma, akibat benda tajam atau tumpul.

    Perforasi pada pasien ini terjadi akibat tukak peptik yang dideritanya. Secara prinsip

    tukak adalah kerusakan mukosa akibat ketidakseimbangan antara faktor pertahanan

    mukosa dan factor perusak asam lambung dan pepsin. Keadaan akan menjadi makin

    buruk mengkonsumsi nikotin, kopi, alcohol, salisilat, OAINS, dan kortikosteroid.

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    25/33

    25

    Gambar 5. Ulkus lambung

    Gambar 6. Tampak perforasi lambung pada waktu operasi

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    26/33

    26

    IV. PATOFISIOLOGI(10)

    Biasanya, lambung sudah relatif bebas dari bakteri dan mikroorganisme lainnya

    karena keasaman tinggi intraluminalnya. Kebanyakan orang yang mengalami

    trauma perut memiliki fungsi lambung normal dan tidak berisiko kontaminasi

    bakteri setelah perforasi lambung. Namun, mereka yang memiliki masalah

    lambung yang sudah ada sebelumnya berada pada risiko kontaminasi peritoneal

    dengan perforasi lambung. Kebocoran cairan asam lambung ke dalam rongga

    peritoneum sering menyebabkan peritonitis kimia. Jika kebocoran tersebut

    tidak ditutup dan partikel makanan mencapai rongga peritoneal, peritonitis

    kimia digantikan oleh pengembangan secara bertahap dari

    peritonitis bakteri. Pasien mungkin bebas dari gejala selama beberapa jam

    antara awal peritonitis kimia dan kemudian terjadinya peritonitis bakteri.

    Terdapat perubahan mikrobiologi dari usus proksimal ke bagian distal. Hanya

    sedikit bakteri mengisi bagian proksimal usus halus, sedangkan bagian distal dari

    usus kecil (jejunum dan ileum) mengandung organisme aerobik (misalnya :

    Escherichia coli) dan persentase yang lebih tinggi dari organisme anaerob(misalnya:

    Bacteroides fragilis). Dengan demikian, kemungkinan infeksi intra-abdomen atau

    luka meningkat dengan perforasi dari usus distal.

    Kehadiran bakteri dalam rongga peritoneal merangsang masuknya sel-sel

    inflamasi akut. Omentum cenderung untuk melokalisasi daerah peradangan,

    menghasilkan sebuah phlegmon (Ini biasanya terjadi pada perforasi dari

    usus besar). Para hipoksia yang dihasilkan di daerah tersebut

    memfasilitasi pertumbuhan anaerob dan menghasilkan penurunan aktivitas

    bakterisida dari granulosit, yang mengarah pada aktivitas

    fagositosis meningkatdari granulosit,

    degradasi sel, hipertonisitas cairan membentuk abses , efekosmotik,

    pergeseran cairan lebih ke daerah abses, dan pembesaran abses perut. Jika tidak

    diobati, bakteremia, sepsis umum, kegagalan multiorgan, dan shock dapat terjadi.

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    27/33

    27

    Gambar 7. Lokasi tersering pada ulkus atau perforasi gaster ada di area dekat

    curvatura minor

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    28/33

    28

    V. GEJALA DAN TANDA(1,3,9)

    Gejala perforasi gaster tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya

    - Biasanya penderita muntah, demam tinggi dan merasakan nyeri tumpul diperutnya, bisa terbentuk satu atau beberapa abses

    - Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan(perlengketan, adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus

    - Bisa terdapat tanda-tanda syok dan dehidrasiKomplikasi : Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama, komplikasi bisa

    berkembang dengan cepat. Gerakan peristaltik usus akan menghilang dan cairan

    tertahan di usus halus dan usus besar. Cairan juga akan merembes dari peredaran

    darah ke dalam rongga peritoneum, terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan

    elektrolit. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama, seperti kegagalan paru-paru,

    ginjal atau hati dan bekuan darah yang menyebar

    VI. DIAGNOSA(5,9)Inspeksi :

    Pernafasan perut tertinggal

    Palpasi :

    Nyeri tekan seluruh perut, defans muskuler

    Perkusi :

    Nyeri ketuk seluruh perut, suara redup hati hilang oleh karena ada

    pneumoperitoneum)

    Auskultasi :

    Bising usus hilang atau melemah

    Foto rontgen :

    Gas bebas yang terdapat dalam perut dapat terlihat dan merupakan petunjuk

    adanya perforasi.

    USG :

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    29/33

    29

    Cairan bebas positif, kelainan organ akut abdomen yang lain

    Lainnya :

    Tes darah -- melihat adanya bakteri

    Sampel cairan dlm abdomen -- mengidentifikasi bakteri penyebab

    CT Scan -- mengidentifikasi cairan dalam abdomen, atau organ terinfeksi

    VII. DIAGNOSA BANDING(10)

    DD Perforasi Gaster :

    - Ulkus Peptikum- Gastritis- Pakreatitis akut- Cholecystitis- Endometriosis- Gastroenteritis akut- Penyakit Radang Panggul- Salpingitis- Diverticulitis- Appendisitis akut- Meckel divertikulum- Demam Tifoid- Colitis ischemic- Penyakit Crohn- Colitis

    VIII. TERAPI(9)

    Penderita yang lambungnya mengalami perforasi harus diperbaiki keadaan umumnya

    sebelum operasi. Hal- hal yang perlu dilakukan sebelum operasi diantaranya

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    30/33

    30

    1. Pemberian cairan dan koreksi elektrolit,2. pemasangan pipa nasogastrik, dan3. pemberian antibiotikLaparotomi segera dilakukan setelah upaya diatas dikerjakan. Jahitan saja setelah

    eksisi tukak yang perforasi belum mengatasi penyakit primernya, tetapi tindakan ini

    dianjurkan bila keadaan umum kurang baik, penderita usia lanjut, dan terdapat

    peritonitis purulenta. Bila keadaan memungkinkan, tambahan tindakan vagotomi dan

    antrektomi dianjurkan untuk mencegah kekambuhan.

    Prosedur operasi yang dilakukan untuk perforasi gaster

    - penjahitan gaster- omental patch- eksisi dan penutupan luka

    1. Billroth I reseksi distal gaster / gastroduodenostomi end to end2. Billroth II reseksi gaster sebagian / gastrojejunostomiTeknik operasi pada ulkus peptikum

    - Vagotomy - prosedur yang melibatkan memotong bagian-bagian darisaraf vagus(saraf yang mentransmisikan pesan dari otak ke perut) untuk

    mengganggu pesan yang dikirim melalui itu, oleh karena itu,

    mengurangi sekresi asam

    - Antrectomy - operasi untuk menghapus bagian bawah lambung (antrum),yang menghasilkan hormon yang merangsang perut untuk

    mengeluarkan cairan pencernaan. Kadang-kadang, dokter bedah juga dapat

    menghapus bagian yang berdekatan dari lambung yangmengeluarkan pepsin dan asam. Vagotomy biasanya dilakukan bersamaan

    dengan sebuah antrectomy.

    - Pyloroplasty - prosedur pembedahan yang mungkin dilakukan bersamadengan vagotomy, di mana pembukaan ke dalam duodenum dan usus kecil

    (pilorus) yang diperbesar, yang memungkinkan isi untuk lolos lebih

    bebas dari lambung.

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    31/33

    31

    Terapi ulserasi gaster diarahkan pada

    1. Replesi kehilangan dari perdarahan

    2. Istirahat lambung dengan bilas sisa darah dan bekuan, 80% perdarahan akan

    berhenti secara spontan, dan

    3. Menetralisir asam lambung dengan H2 bloker dan titrasi pH antasid sampai >5.

    Tambahan lain mencakup kauter transendoskopik, pitresin atau embolisasi

    intrakranial. Perdarahan yang menetap (> 4-6 unit, kehilangan darah masif), dapat

    pada awalnya diterapi secara endoskopik dengan kauter atau arteriografi, tetapi

    perdarahan yang menetap membutuhkan operasi dengan gastrostomi dan penjahitan

    tempat perdarahan, disertai dengan vagotomi dan piloroplasti. Gastrektomi mungkin

    dibutuhkan jika semua terapi

    IX. PREVENSI(9)

    Untuk mencegah perforasi gaster yang sering disebabkan oleh ulkus peptikum, dapat

    dilakukan cara-cara berikut :

    - Menghindari pemakaian NSAIDs, termasuk setiap obat yang mengandungibuprofen maupun aspirin

    - Jika tidak ada makanan tertentu yang diduga menjadi penyebab maupunpemicu terjadinya ulkus, biasanya tidak dianjurkan untuk membatasi

    pemberian makanan kepada anak-anak. Makanan yang bergizi dengan

    berbagai variasi makanan adalah penting untuk pertumbuhan dan

    perkembangan anak

    Alkohol dan merokok dapat memicu terbentuknya ulkus. Selain itu, kopi, teh, soda

    dan makanan yang mengandung kafein dapat merangsang pelepasan asam lambung

    dan memicu terbentuknya ulkus. Jadi sebaiknya makanan tersebut tidak diberikan

    kepada anak- anak yang menderita ulkus

    Seringkali peritonitis yang terkait dengan dialisa peritoneal disebabkan oleh kuman di

    sekeliling kateter, maka menjaga kebersihan dari kateter itu sendiri

    Antibiotika bisa digunakan untuk mencegah peritonitis pada pasien dengan sirosis

    yang memiliki banyak cairan di perutnya

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    32/33

    32

    X. PROGNOSIS(10)

    Prognosis perforasi dipengaruhi oleh faktor-faktor resiko berikut :

    Malnutrisi :

    Adanya penyakit penyerta;

    Daya tahan tubuh;

    Usia;

    o Makin tua usia penderita, makin buruk prognosisnya.

    Komplikasi.

    b.

  • 7/31/2019 Lapsus - Fin

    33/33

    DAFTAR PUSTAKA

    1. Richard S. Snell, MD, PhD. Anatomi Klinik. Jakarta. EGC, 2000

    2. R. Sjamsuhidayat, Wim de Jong, editor. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta. EGC,2005

    3. Pedoman Diagnosis dan Terapi. Surabaya. Lab/UPF Ilmu Bedah RSUD DokterSoetomo,1994

    4. http://www.mayoclinic.com/health/peritonitis/DS00990/DSECTION=prevention

    5. http://medicastore.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut.html

    6. http://www.umm.edu/altmed/articles/peritonitis-000127.htm

    7.

    http://peritoneum-peritoneal.uv.ro/peritoneum-classification-abdominal-structures.htm

    8. http://www.radiologyassistant.nl/en/4a252c5303035#a4a252c530e9f7

    9. http://medicastore.com/penyakit/3127/PerforasiPerlubangan.html

    10.http://emedicine.medscape.com/article/195537-overview#a0104

    http://www.mayoclinic.com/health/peritonitis/DS00990/DSECTION=preventionhttp://www.mayoclinic.com/health/peritonitis/DS00990/DSECTION=preventionhttp://medicastore.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut.htmlhttp://medicastore.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut.htmlhttp://www.umm.edu/altmed/articles/peritonitis-000127.htmhttp://www.umm.edu/altmed/articles/peritonitis-000127.htmhttp://peritoneum-peritoneal.uv.ro/peritoneum-classification-abdominal-structures.htmhttp://peritoneum-peritoneal.uv.ro/peritoneum-classification-abdominal-structures.htmhttp://www.radiologyassistant.nl/en/4a252c5303035#a4a252c530e9f7http://www.radiologyassistant.nl/en/4a252c5303035#a4a252c530e9f7http://medicastore.com/penyakit/3127/PerforasiPerlubangan.htmlhttp://medicastore.com/penyakit/3127/PerforasiPerlubangan.htmlhttp://emedicine.medscape.com/article/195537-overview#a0104http://emedicine.medscape.com/article/195537-overview#a0104http://emedicine.medscape.com/article/195537-overview#a0104http://emedicine.medscape.com/article/195537-overview#a0104http://medicastore.com/penyakit/3127/PerforasiPerlubangan.htmlhttp://www.radiologyassistant.nl/en/4a252c5303035#a4a252c530e9f7http://peritoneum-peritoneal.uv.ro/peritoneum-classification-abdominal-structures.htmhttp://www.umm.edu/altmed/articles/peritonitis-000127.htmhttp://medicastore.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut.htmlhttp://www.mayoclinic.com/health/peritonitis/DS00990/DSECTION=prevention