lapsus abses peritonsilar

Download Lapsus Abses Peritonsilar

Post on 09-Oct-2015

25 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Laporan kasus

TRANSCRIPT

LAPORAN KASUS

ABSES PERITONSILITIS

DOKTER PEMBIMBING

Dr Ni Putu Anggraini Sp. THT KLDISUSUN OLEH:

RR Putri Ayu Hapsari09. 06. 0022DALAM RANGKA MENGIKUTI KEGIATAN KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN/ SMF ILMU PENYAKIT TELINGA, HIDUNG DAN TENGGOROKAN RSUD Dr. R. SOEDJONO SELONG FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM AL AZHAR

2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini. Laporan Kasus berjudul Abses Peritonsilitis ini dibuat dengan tujuan memberikan manfaat bagi mahasiswa kedokteran mengenai ilmu penyakit telinga, hidung dan tenggorokan sebagai salah satu kompetensi yang harus dikuasai. Dalam pembuatan tinjauan pustaka dari laporan kasus ini, saya mengambil referensi dari literatur dan jaringan internet.Saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada dokter pembimbing, dr. Ni Putu Anggraini, Sp.THT-KL yang telah memberikan bimbingannya dalam proses penyelesaian laporan kasus ini, juga untuk dukungannya baik dalam bentuk moril maupun dalam mencari referensi yang lebih baik.

Penulis sadar bahwa dalam pembuatan laporan kasus ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu penulis menghimbau agar para pembaca dapat memberikan saran dan kritik yang membangun dalam perbaikan laporan kasus ini.

Penulis berharap agar laporan kasus ini dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan ilmu pengetahuan bagi pihak yang memerlukan khususnya bagi Penulis sendiri.

Selong, 31 Agustus 2014Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................iiDAFTAR ISI....................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................iv

BAB II LAPORAN KASUS...............................................................................................1BAB III TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI DAN FISIOLOGI TONSIL.......................................................................9

TONSILITIS AKUT

A. Definisi ................................................................ .......................................................13B. Etiologi..................... ...................................................................................................13C. Patofisiologi..................................................................................................................13D. Manifestasi Klinis ........................................................................................................13E. Pemeriksaan Penunjang................................................................................................14F. Komplikasi...................................................................................................................14G. Penatalaksanaan............................................................................................................14PERITONSIL ABSESA. Definisi .........................................................................................................................15B. Etiologi..........................................................................................................................15C. Faktor predisposisi..........................................................................................................16D. Patofisiologi...................................................................................................................16E. Manifestasi Klinis...........................................................................................................17F. Pemeriksaan Fisik...........................................................................................................17G. Diagnosis .......................................................................................................................18H. Diagnosis Banding..........................................................................................................18I. Penatalaksanaan..............................................................................................................20J. Komplikasi.....................................................................................................................21KESIMPULAN ...................................................................................................................23

DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................24BAB IPENDAHULUANAbses peritonsiler dapat terjadi pada umur 10-60 tahun, namun paling sering terjadi pada umur 20-40 tahun. Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka yang menurun sistem immunnya, tapi infeksi bisa menyebabkan obstruksi jalan napas yang signifikan pada anak-anak. Infeksi ini memiliki proporsi yang sama antara laki-laki dan perempuan. Bukti menunjukkan bahwa tonsilitis kronik atau percobaan multipel penggunaan antibiotik oral untuk tonsilitis akut merupakan predisposisi pada orang untuk berkembangnya abses peritonsiler. Di Amerika insiden tersebut kadang-kadang berkisar 30 kasus per 100.000 orang per tahun, dipertimbangkan hampir 45.000 kasus setiap tahun.

Abses leher dalam terbentuk dalam ruang potensial diantara fasia leher dalam sebagai akibat dari penjalaran infeksi dari berbagai sumber, seperti gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga tengah dan leher tergantung ruang mana yang terlibat. Gejala dan tanda klinik dapat berupa nyeri dan pembengkakan. Abses peritonsiler (Quinsy) merupakan salah satu dari Abses leher dalam dimana selain itu abses leher dalam dapat juga abses retrofaring, abses parafaring, abses submanidibula dan angina ludovici (Ludwig Angina).

Abses peritonsiler adalah penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada bagian kepala dan leher. Gabungan dari bakteri aerobic dan anaerobic di daerah peritonsilar. Tempat yang bisa berpotensi terjadinya abses adalah adalah didaerah pillar tonsil anteroposterior, fossa piriform inferior, dan palatum superior. Abses peritonsil terbentuk oleh karena penyebaran organisme bakteri penginfeksi tenggorokan kesalah satu ruangan aereolar yang longgar disekitar faring menyebabkan pembentukan abses, dimana infeksi telah menembus kapsul tonsil tetapi tetap dalam batas otot konstriktor faring.BAB IILAPORAN KASUSA. IDENTITAS PASIEN

Nama

: Nn. VUmur

: 20 tahun

Jenis Kelamin

: PerempuanAlamat

: Batu YangPendidikan

: SMAPekerjaan

: MahasiswaAgama

: Islam

Status pernikahan

: Belum menikah

Tanggal Datang RS: 05 Agustus 2014B. ANAMNESIS

Diambil secara: autoanamnesis

Pada tanggal: 05 Agustus 2014

Jam: 11.00 WIB1. KELUHAN UTAMA: Rasa sakit di tenggorokan2. KELUHAN TAMBAHAN: tidak ada 3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANGOS datang ke poliklinik THT RS Daerah R Soedjono Selong dengan keluhan rasa sakit di tenggorokan yang dirasakan sejak 5 hari yang lalu, rasa sakit di tenggorok dirasakan terus menerus dan semakin berat sejak 3 hari terakhir dan menjalar hingga ke telinga bagian kanan. OS juga mengeluhkan nyeri ketika menelan, sulit membuka mulut dan berbicara sejak 2 hari lalu, batuk, pilek dan demam menggigil yang dirasakan OS terutama ketika serangan. OS juga mengeluhkan saat tidur mendengkur (ngorok), rasa tercekik saat tidur dan terbangun tiba-tiba karena sesak nafas sejak 5 hari terakhir. Nafsu makan berkurang dan berat badan dirasakan menurun. Karena keluhan pasien memberat, ia datang ke Poli THT4. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU-Pasien mengaku memang hobi mengkonsumsi air dingin sejak kecil-4 hari yang lalu mengkonsumsi coklat dan makanan pedas

-Riwayat demam menggigil 4 hari lalu, kemudian mengeluh sakit menelan dan mual disertai muntah

-Sejak kecil sering mengeluh sakit tenggorokan namun dapat hilang sendiri

-Riwayat hipertensi (-), diabetes mellitus (-)C. PEMERIKSAAN FISIK

I. KEADAAN UMUM

Kesadaran: Compos mentis

Tensi : 100/80 mmHg

Nadi

: 100x/menit

Suhu

: 36.2C

Pernapasan: 20x/menit

Berat badan: 50 kg

II. TELINGA

KananKiri

Bentuk Daun TelingaNormal

Deformitas (-)Normal

Deformitas (-)

Kelainan CongenitalTidak adaTidak ada

Radang, Tumor Tidak adaTidak ada

Nyeri Tekan TragusTidak adaTidak ada

Penarikan Daun TelingaTidak adaTidak ada

Kelainan pre-, infra-, retroaurikulerTidak adaTidak ada

Regio MastoidTidak ada kelaiananTidak ada kelaianan

Liang TelingaCAE lapang, serumen tidak adaCAE lapang, serumen tidak ada

Valsava Test

Toyinbee TestTidak dilakukan

Tidak dilakukanTidak dilakukan

Tidak dilakukan

Membran TimpaniMT intak, hiperemis (-), edema (-), refleks cahaya (+) jam 5MT intak, hiperemis (-), edema (-), refleks cahaya (+) jam 7

TES PENALA

TESTKANANKIRI

RinnePositif (+)Positif (+)

WeberTidak ada lateralisasiTidak ada lateralisasi

SwabachSama dengan pemeriksaSama dengan pemeriksa

Penala yang dipakai512 Hz512 Hz

Kesan : Tidak ada kelainan pada kedua telinga (ADS dalam batas normal)III. HIDUNG DAN SINUS PARANASAL

Bentuk

: Normal, tidak ada deformitas

Tanda peradangan: Hiperemis (-), Panas (-), Nyeri (-), Bengkak (-)

Vestibulum

: Hiperemis -/-, sekret -/-

Cavum nasi

: Lapang +/+, edema -/-, hiperemis -/-

Konka inferior

: Eutrofi/eutrofi

Meatus nasi inferior: Eutrofi/eutrofi

Konka medius

: Eutrofi/eutrofi

Meatus nasi medius: Sekret -/-