laprak kimor 2

Download Laprak Kimor 2

Post on 10-Feb-2016

229 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

praktikum metil salisilat

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ORGANIK IIPEMBUATAN ASAM SALISILAT

Dosen Pembimbing : Lina Elfita, M.Si, Apt.

Oleh :

KELOMPOK 4A

RIDHO FAIQIL LAYALI(11141020000002)

KHOIRUN NISA

(11141020000009)

NABILAH AL-ALUF

(11141020000012)

RISYDA AFDHILATI

(11141020000016)

DEKI YANTO

(11141020000019)

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2015

I. TUJUAN PRAKTIKUM

Mahasiswa diharapkan mampu menghidrolisis metil salisilat menjadi asam salisilat.

II. DASAR TEORI

Asam salisilat merupakan salah satu bahan kimia yang cukup tinggi kegunaannya dalam kehidupan sehari-hari serta mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi karena dapat digunakan sebagai bahan intermediet dari pembuatan obat-obatan seperti antiseptik dan analgesik serta pembuata bahan baku untuk keperluan farmasi.Asam salisilat yang memiliki rumus molekul C6H4COOHOH berbentuk kristal kecil berwarna merah muda terang hingga kecoklatan yang memiliki berat molekul sebesar 138,123 g/mol dengan titik leleh sebesar 1560C dan densitas pada 250C sebesar 1,443 g/mL. Mudah larut dalam air dingin tetapi dapat melarutkan dalam keadaan panas. Asam salisilat dapat menyublim tetapi dapat terdekomposisi dengan mudah menjadi karbon dioksida dan phenol bila dipanaskan secara cepat pada suhu sekitar 200C. Selain itu asam salisilat mudah menguap dalam steam. Metil salisilat adalah cairan kuning kemerahan dengan bau wintergreen. Tidak larut dalam air tetapi larut dalam alkohol dan eter. Metil salisilat sering digunakan sebagai bahan farmasi, penyedap rasa pada makanan, minuman, gula-gulaan, pasta gigi, antiseptik dan kosmetik serta parfum. Metil salisilat telah digunakan untuk pengobatan sakit syaraf, sakit pinggang, radang selaput dada dan rematik, juga esring digunakan sebagai obat gosok dan balsem. Secara teknik metil salisilat pun digunakan sebagai bahan pencelup pada fiber poliester, fiber tracetate dan fiber sintetik lainnya. Pembuatan asam salisilat dalam praktikum ini dilakukan dengan menghidrolisis metil salisilat dengan katalis basa. Prinsip percobaan ini adalah reaksi hidrolisis ester dengan menggunakan NaOH sebagai katalis basa. Metode yang digunakan adalah metode refluks, metode kristalisasi, dan metode rekristalisasi. Metil salisilat akan membentuk garam natrium salisilat saat direaksikan dengan NaOH yang kemudian akan membentuk asam salisilat saat direaksikan dengan H2SO4. Asam salisilat yang diperoleh merupakan kristal putih dengan bentuk kristal kecil dan rapuh.Refluks adalah suatu metode untuk mencampurkan dua zat atau senyawa dengan cara pemasan tanpa adanya senyawa yang hilang. Refluks dilakukan dengan mendidihkan cairan dalam wadah yang disambung dengan kondensor sehingga cairan yang teruapkan akan mengembun kembali ke wadah (Wilcox, 1995). Fungsi refluks atau pemanasan adalah untuk mereaksikan dengan sempurna dari 2 campuran tersebut sehingga dapat bercampur dengan baik.Kristalisasi merupakan metode pemurnian dengan cara pembentukan kristal sehingga campuran dapat dipisahkan. Suatu gas atau cairan dapat mendingin atau memadat serta membentuk kristal karena proses kristalisasi. Kristal-kristal dapat terbentuk dari larutan yang dijenuhkan dengan pelarut tertentu. Makin besar kristal, maka makin baik karena makin kecil kandungan zat pengotornya (Arsyad, 2001).Rekristalisasi merupakan metode pemurnian Kristal dari zat pengotor-pengotornya. Campuran yang akan dimurnikan dilarutkan dam pelarut yang bersesuaian pada temperature yang dekat dengan titik didihnya. Selanjutnya untuk memisahkan pengotor dari zat yang diinginkan, dilakukan penyaringan dan diteruskan dengan pendinginan sampai terbentuk Kristal (cahyono, 1991). III. ALAT DAN BAHAN

Alat

: Labu destilasi, beaker glass, erlenmeyer vakum flask, buchner funnel, kertas saring, oven, ice-water bath.Bahan

: Metil salisilat, NaOH, H2SO4, Es batu

IV. PROSEDUR KERJA

V. HASIL

Pada praktikum kali ini dilakukan pembuatan asam salisilat, salah satu bahan yang digunakan adalah metil salisilat dalam bentuk liquid sebanyak 7,5 ml (0,05 mol). Dari data tersebut dapat dihitung berat gram metil salisilat yang digunakan menggunakan persamaan :

=

Keterangan:

= massa jenis suatu zat (g/m3 atau g/cm3)

m = massa zat (Kg atau gram)

V = volume zat (m3 atau cm3)

Diketahui :

massa jenis metil salisilat= 1,174 g/cm3

Volume metil salisilat

= 7,5 ml

Maka massa metil salisilat yaitu :

m = x V

= 1,174 g/cm3 x 7,5 ml

= 8,805 g

Kemudian hasil praktikum didapat asam salisilat kering seberat 4,0354 gram Perhitungan :Massa asam salisilat secara Teoritis = x Mr asam salisilat

= = 7,994 gram

Massa asam salisilat Percobaan = 9,1125 gram

Maka rendemennya =

= x 100%

= 1,13 %VI. PEMBAHASANTelah dilakukan percobaan hidrolisis metil salisilat menjadi asam salisilat yang bertujuan untuk menghasilkan suatu asam salisilat. Prinsip percobaan ini adalah reaksi hidrolisis ester dengan menggunakan NaOH sebagai katalis basa. Hidrolisis ester dalam basa merupakan reaksi irreversible (tidak dapat kembali kebentuk semula). Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode refluks, kristalisasi dan rekristalisasi. Refluks adalah suatu metode untuk mencampurkan dua zat atau senyawa dengan cara pemanasan tanpa adanya senyawa yang hilang. Refluks dilakukan dengan mendidihkan cairan dalam wadah yang disambung dengan kondensor sehingga cairan yang teruapkan akan mengembun kembali ke wadah, sehingga tidak ada bahan yang terbuang.Kristalisasi merupakan metode pemurnian dengan cara pembentukan kristal sehingga campuran dapat dipisah. Suatu gas atau cairan dapat membentuk kristal karena proses kristalisasi. Kristal-kristal dapat terbentuk dari larutan yang dijenuhkan dengan pelarut tertentu. Metil salisilat akan membentuk garam natrium salisilat saat direaksikan dengan NaOH yang kemudian akan membentuk asam salisilat saat direaksikan dengan H2SO4. Pada hidrolisis metil salisilat menjadi asam salisilat, bahan utama yang digunakan pada praktikum adalah metil salisilat. Langkah kerja pertama dalam praktikum ini adalah mencampurkan NaOH (yang sebelumnya telah di encerkan; 5 gram NaOH dalam 25 ml H2O) dengan metil salisilat (liquid) sebanyak 7,5 gram. Bahan uji berubah warna dari bening menjadi putih dan tampak seperti ada endapan. Setelah itu ditambahkan kembali H2O sebanyak 20 ml, gunanay adalah agar sampel tidak jenuh sehingga endapan mudah larut dan menghemat waktu pemanasan. Kemudian dilakukan perefluksan yang bertujuan untuk memaksimalkan reaksi antara metil salisilat dan NaOH, sehingga diperoleh natrium salisilat. Hal ini disebabkan pada proses refluks tidak ada senyawa yang hilang sebab senyawa yang menguap, uapnya didinginkan oleh kondensor sehingga menjadi cair dan kembali ke labu. Prinsip kondensor pada refluks yaitu air masuk dari bawah dan air keluar dari atas, tujuannya untuk membantu mempercepat penguapan karena uap air dapat menjaga agar senyawa yang direfluks tidak hilang. Sedangkan bila air masuk dari atas dan keluar dari bawah maka hanya berupa aliran air biasa yang memperlambat proses refluks. Fungsi pemanasan saat refluks yaitu mempercepat reaksi. Setelah selesai di refluks campuran dipindahkan ke beaker glass untuk siap ditambahkan H2SO4, guna ditambahkannya H2SO4 untuk membuat campuran ini bersifat asam. Penambahan H2SO4 Untuk mengetahui campuran ini sudah bersifat asam atau belum kita bisa menggunakan kertas lakmus, dimana jika campuran ini sudah bersifat asam kertas lakmus biru akan berubah menjadi merah. Jika dirasa campuran sudah menjadi asam, maka tahap selanjutnya yaitu meletakan campuran pada icebath untuk proses kristalisasi , proses ini bertujuan agar kristal terbentuk lebih cepat.Kemudian dilakukan rekristalisasi menggunakan Buchner funnel dan kemudian dikeringkan dalam oven dengan suhu 50 derajat selsius dalam kurun waktu 24-48 jam sehingga dapat dihitung berat Kristal asam salilsilat yang terbentuk.

Menghasilkan serbuk putih dari asam salisilat 9,1 gram. Hasil rendemen yang diperoleh membuktikan bahwa hasil praktikum berbeda jauh dengan hasil teori. Hal ini disebabkan karena beberapa hal :

1. Senyawa yang didapat masih mengandung metanol atau asam salisilat

2. Pengendali suhu penangas yang digunakan sudah tidak akurat sehingga cairan yang direfluks tidak menjadi homogenVII. KESIMPULAN

Dari percobaan di atas dapat disimpulkan, bahwa :

1. Asam salisilat yang dihasilkan berupa Kristal, berwarna putih.2. Asam salisilat diperoleh dengan cara menghidrolisis metil salisilat dengan NaOH. Reaksi tidak dapat kembali kebentuk semula (irreversible).3. Massa asam salisilat yang didapatkan berdaasarkan hasil praktikum adalah 4,0354 gram 4. Massa asam salisilat secara teoritis adalah 7,994 gram5. Rendemen yang dihasilkan adalah 50,48 %VIII. DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, MN. 2001. Kamus Kimia. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.Basri, S. 1996. Kamus Kimia. Rineka Cipta : Jakarta.

Sarker, Satyajit D.Nahar, Lutfun. 2009. Kimia untuk Mahasiswa Farmasi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.Sastrohamidjojo, Hardjono. 2011. Kimia Organik Dasar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

_____________, Pranowo, Harno Dwi. 2009. Senyawa Organik.Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama.

Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar: Konsep-Konsep Inti Edisi III Jilid 1. Bandung: Institut Teknik Bandung.IX. LAMPIRAN

GambarKeterangan

Proses merefluks larutan

Penambahan H2SO4 pekat dan memeriksa keasamannyamengunakan kertas lakmus

Mendinginkan larutan hingga terbentuk kristal asam salisilat

Prose penyaringan kr