laporan tetap praktikum biokimia ii

Download Laporan Tetap Praktikum Biokimia II

Post on 06-Jul-2015

998 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM BIOKIMIA II

PUTU EKA WAHYU RATNANINGSIH G1C 007032

PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS MATARAM 20101

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-Nyalah maka Laporan Tetap Praktikum Biokimia II ini dapat saya selesaikan. Adapun dalam laporan ini terdapat empat percobaan yang telah dilakukan, antara lain: Uji Sifat Fisik dan Kimia Cairan Tubuh (Air Liur dan Empedu), Penetapan Kadar Kolesterol, Faktor-faktor yang mempengaruhi Kerja Enzim (Pengaruh Suhu dan pH Terhadap Aktifitas Enzim), dan Percobaan Protein. Dalam penulisannya laporan tetap ini, serta saat praktikum berlangsung tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan kali ini saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada para pembimbing mata kuliah biokimia dan kepada semua pihak atas bantuan, dukungan, dan motivasinya. Saya menyadari laporan tetap ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat saya harapkan dating dari semua pihak. Akhirnya, semoga laporan tetap ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Mataram, 10 Juli 2010

Penilis

2

DAFTAR ISI

Kata pengantar Daftar isi

. 2 . 3 . 4

Uji Sifat Fisik dan Kimia Cairan Tubuh (Air Liur dan Empedu)

Penetapan Kadar Kolesterol . 17 Faktor-faktor yang mempengaruhi Kerja Enzim (Pengaruh Suhu dan pH Terhadap Aktifitas Enzim) Percobaan Protein . 32 . 44

3

UJI SIFAT FISIK DAN KIMIA CAIRAN TUBUH (AIR LIUR DAN EMPEDU)

I. PELAKSANAAN PRAKTIKUMTujuan Hari/Tanggal Tempat : menguji sifat fisik dan kimia cairan tubuh (air liur dan empedu) : Selasa, 18 Mei 2010 : Laboratorium Kimia, Lt.2, Fakultas MIPA UNIVERSITAS MATARAM

II. LANDASAN TEORI Empedu adalah cairan bersifat basa yang pahit dan berwarna hijau kekuningan, yang disekresikan oleh hepatosit hati pada sebagian besar vertebrata. Empedu dihasilkan secara terus-menerus oleh hati, akan tetapi ditampung dalam sebuah alat penampungan yaitu kantung empedu diantara waktu makan. Bila makanan masuk ke duodenum, lepasnya kolesistokinin akan merangsang kontraksi kantung empedu dan keluarnya empedu akan dihimpun ke dalam duodenum (Kimball, 2007: 451).

(Y3n, 2009)

Fungsi cairan empedu adalah untuk mencerna makanan di dalam usus, terutama lemak. Cairan empedu dari hati ini sebagian disalurkan langsung ke usus dan bercampur dengan makanan yang akan dicerna. Sementara sebagian cairan lagi masuk ke kantung empedu. Disini sebagian air akan diserap/dibuang, sehingga cairannya akan lebih pekat.

4

Cairan empedu yang pekat ini lebih efektif untuk mencerna makananan dibandingkan yang langsung dari hati tadi (Y3n, 2009). Empedu sebagian besar adalah hasil dari excretory dan sebagian adalah sekresi dari pencernaan. Garam-garam empedu termasuk ke dalam kelompok garam natrium dan kalium dari asam empedu yang berkonjugasi dengan glisin atau taurin suatu derifat/turunan dari sistin. Garam empedu menyebabkan meningkatnya kelarutan kolesterol, lemak dan vitamin yang larut dalam lemak, sehingga membantu penyerapannya dari usus. Hemoglobin yang berasal dari penghancuran sel darah merah dirubah menjadi bilirubin (pigmen utama dalam empedu) dan dibuang ke dalam empedu. Berbagai protein yang memegang peranan penting dalam fungsi empedu juga disekresi dalam empedu (Jevuska, 2009). Asam-asam empedu membantu emulsifikasi lipid yang dimakan, suatu proses yang memudahkan pencernaan enzimatik dan absorbsi lemak diet. Asam-asam deoksikolat dan litokolat adalah asam-asam empedu sekunder yang disintesis dalam usus lewat kerjanya enzim-enzim bakteri pada asam-asam empedu primer. Hanya sebagian asam-asam empedu primer yang terdapat dalam usus diubah menjadi asam empedu sekunder (Montgomery, 1993: 911-912). Pada rongga mulut terdapat tiga macam kelenjar ludah (saliva) yang menghasilkan cairan ludah. Kelenjar-kelenjar tersebut adalah: kelenjar parotis, yang terletak di dekat telinga, kelenjar sublingualis yang terletak di bawah rahang atas, kelenjar submandibularis yang terletak di bawah lidah. Di dalam cairan ludah mengandung sebanyak 90% air, dan sisanya terdiri atas garam-garam bikarbonat, lendir (mukus), lizozim (enzim penghancur bakteri), dan amilase (ptialin). Ketiga kelenjar ludah setiap harinya dapat menghasilkan lebih kurang 1600 cc air ludah. Cairan ludah berfungsi untuk memudahkan dalam menelan makanan karena makanan tercampur dengan lendir dan air, melindungi rongga mulut dari kekeringan, panas, asam dan basa, serta membantu pencernaan kimiawi, karena kelenjar ludah menghasilkan enzim ptialin (amilase) yang berperan dalam pencernaan amilum menjadi maltosa dan glukosa, enzim ini berfungsi dengan baik pada pH netral (pH 7) (Cryonpedia, 2010).

5

Gambar. Kelenjar ludah (Cryonpedia, 2010)

Saliva adalah cairan yang lebih kental daripada air biasa. Saliva terdiri atas ion-ion Ca2+, Mg2+, Na+, K+, PO43-, Cl-, HCO3-, SO42-, dan zat-zat organic seperti musin dan enzim amilase atau ptyalin. Saliva mempunyai pH antar 5,75 sampai 7,05. Pada umumnya pH saliva sedikit dibawah 7. Rangsangan yang menyebabkan pengeluaran saliva dari kelenjar saliva adalah pikiran tentang makanan yang disukai, adanya bau makanan yang sedap atau melihat makanan yang diharapkan sehingga menimbulkan selera. Rangsangan demikian disebut rangsangan reflex. Rangsangan keluarnya saliva karena adanya makanan dalam mulut disebut rangsangan mekanik, sedangkan rasa makanan yang lezat atau manis dapat menimbulkan rangsangan yang disebut rangsangan kimiawi (Poedjadi, 2007: 235-236).

III. ALAT DAN BAHANA. Alat Tabung reaksi Tutup tabung reaksi Rak tabung reaksi Pipet tetes Pipet ukur Kertas saring Gelas kimia Gelas ukur6

-

Penjepit tabung reaksi Pengaduk

B. Bahan Air liur Aquadest Empedu Larutan NaOH 10% Larutan CuSO4 Pereaksi molish Asam sulfat pekat Larutan asam asetat encer Larutan HCl Larutan BaCl2 10% HNO3 pekat Larutan sukrosa 5% Minyak

IV. CARA KERJAA. Air Liur Air liur + aquadest Sampai V = 200 ml

Penetapan pH Air Liur Air liur encer Diukur pH pH =

7

Uji Biuret 2 ml air liur encer + NaOH 10% Dicampur + beberapa tetes H2SO4 Hasil

Uji Molish 2 ml air liur encer + 2 tetes pereaksi molish Dicampur Tabung reaksi dimiringkan + 2 ml H2SO4 melalui dinding tabung Hasil

Uji Presipitasi 2 ml air liur encer + 1 tetes asam asetat encer Dicampur dengan baik Hasil

Uji Sulfat 1 ml air liur + 3 5 tetes HCl + 5 10 tetes BaCl2 2% Hasil

B. Empedu Sifat Fisik Empedu Empedu Diperhatikan dan dicatat sifat fisik empedu Hasil8

Empedu Dihancurkan dengan pengaduk + aquadest disaring Larutan empedu encer

Uji Gmelin Tabung reaksi + 3 mL HNO3 pekat + 3 mL larutan empedu encer (melalui dinding tabung) Hasil

Uji Pettenkofer 5 ml larutan larutan empedu encer + 5 tetes larutan sukrosa 5% Tabung reaksi dimiringkan + 3 ml H2SO4 (melalui dinding tabung) Hasil

Fungsi Empedu Sebagai Emulgator 2 tabung reaksi @ + 1 tetes minyak

Tabung 1

Tabung 2 + 3 ml larutan empedu Dikocok Hasil

9

V. HASIL PENGAMATANA. Air Liur 1. Uji Biuret Perlakuan + 2 mL NaOH Hasil Pengamatan Terbentuk 3 fase Bagian atas: busa Bagian tengah: kental Bagian bawah: larutan bening + CuSO4 Awal CuSO4 tidak larut, pada larutan terdapat seperti bercak biru. Setelah dicampur dengan baik Terdapat endapan biru tua, larutan biru keunguan.

2. Uji Molish Perlakuan + Pereaksi Molish +H2SO4 Hasil Pengamatan Coklat susu busa Hangat pada bagian atas, semakin kental kental coklat bening. Terbentuk cincin ungu kehitaman. Sebagian larutan lama kelamaan berubah menjadi hitam, beruap dan semakin panas.

3. Uji Presipitasi Perlakuan Filtrate liur + asam asetat Hasil Pengamatan Terbentuk gel bening keputihan, Ada yang larut dan tidak larut.

4. Uji Sulfat Perlakuan + HCl + BaCl2 Hasil Pengamatan Terbentuk seperti gel Terdapat butiran-butiran putih kecil. Larutan hasil bening.10

B. Empedu Uji Gmelin Perlakuan HNO3 + empedu Hasil Pengamatan Terbentuk 4 fase. Berturut-turut dari atas ke bawah : larutan hijau, orange, kuning dan bening.

Uji Pettenkofer Perlakuan + Sukrosa + H2SO4 Hasil Pengamatan Tidak terjadi perubahan apa-apa Terbentuk 4 fase Berturut-turut dari atas ke bawah: larutan berwarna hijau, hitam, coklat, bening kekuningan.

Fungsi Empedu sebagai Emulgator Perlakuan Tabung 1 Air + Minyak Hasil Pengamatan Terbentuk 2 fase Bagian atas minyak Bagian bawah air Tabung 2 Air + minyak + empedu Terbentuk emulsi, hijau lumut

VI. ANALISIS DATAa. Uji Biuret Protein (gugus CO dan NH2) + Cu2+NaOH

kompleks berwarna ungu

11

b. Uji MolishOH H H OH HO H OH Hidroksimetilfurfural H OH O H H2SO 4 3H2O

HO O

O

Heksosa

OH HO O O

+

H2SO 4

HO O

O

OH

Hidroksimetilforfural

-naftol

cincin ungu

c. Uji Presipitasi Air liur + CH3COOH mengendap (koagulasi) d. Uji Sulfat BaCl2 + SO42e. Uji Gmelin Bilirubin + HNO3 kompleks kuning kemerahan f. Uji Pattenkofer Sukrosa + H2SO4 hidroksometilfurfural Hidroksimetilfurfural + cairan empedu cincin ungu g. Fungsi Empedu sebagai Emulgator Garam-garam empedu + minyak micelles Micelles + air larutHCl

BaSO4(s) + 2Cl-

12

VII. PEMBAHASANAir liur atau saliva memiliki peran penting dalam system pencernaan makanan. Saliva berfungsi untuk memudahkan dalam menelan makanan, melindungi rongga mulut dari kekeringan, panas, asam dan basa, dan untuk membantu pencernaan kimiawi. Pada umumnya pH saliva berada sedikit dibawah 7. Uji biuret pada air liur merupakan uji warna yang dilakukan untuk mengetahui adanya protein dalam air liur. Uji biuret ini khas untuk mengetahui adanya ikatan peptide yang ada pada protein. Dimana dalam sua