laporan survey gili sulat-lawang

Download Laporan Survey Gili Sulat-lawang

Post on 31-Oct-2015

149 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • LaporanSurveydanAnalisaKKLDGiliSulatGiliLawangPengembanganSistemObservasiuntukKawasanPesisir

    BalaiRisetdanObservasiKelautanBadanRisetKelautandanPerikananDepartemenKelautandanPerikanan

    TA2007

  • Laporan Survey dan Analisa Gili Sulat Gili Lawang Pengembangan Sistem Obseravsi untuk Kawasan Pesisir TA 2007

    1

    KATA PENGANTAR

    Laporan Kegiatan Survei ini disusun untuk memenuhi persyaratan pelaporan pekerjaan Pengembangan Sistem Observasi untuk Kawasan Pesisir sesuai dengan isi Kerangka Acuan Kerja. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan penelitian yang dilakukan pada tahun 2007. Pelaksanaan survey dilakukan oleh Tim Peneliti dari Balai Riset dan Observasi Kelautan bekerjasama dengan Universitas Mataram, Pemkab Lombok Timur dan masyarakat setempat. Di dalam laporan ini diuraikan kerangka kerja, metodologi pelaksanaan, hasil dan analisa survei. Secara keseluruhan laporan ini melaporkan hasil survey pengumpulan data primer dan sekunder yang telah dilaksanakan.

    Ichigodisclaimer2

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1. LATAR BELAKANG Kawasan pesisir dan laut Indonesia memiliki potensi dan keanekaragaman hayati

    tertinggi di dunia (mega biodiversity) dan termasuk dalam kawasan CTC (Coral Triangle Center). Tingginya potensi dan keanekaragaman hayati tersebut baik dalam bentuk keanekaragaman genetik, spesies maupun ekosistem merupakan aset yang sangat berharga, untuk menunjang pembangunan ekonomi Indonesia. Tingginya keanekaragaman hayati perairan tersebut dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan kesejahteraan rakyat Indonesia bila dikelola secara optimal dan berkelanjutan dengan memperhatikan karakteristik dan daya dukung (carrying capacity) lingkungan, serta mengacu pada setiap peraturan dan perundang-undangan yang telah ditetapkan.

    Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, sekitar 75% terdiri dari perairan pesisir dan lautan, dengan luas perairan sekitar 5,8 juta km2 (3,1 juta km2 lautan teritorial dan archipelago, serta 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Secara geografis kepulauan dan perairan Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis karena terletak antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dan antara Benua Asia dan Australia, termasuk didalamnya paparan Sunda di bagian barat dan Paparan Sahul di bagian timur.

    Sejalan dengan tugas pokok Departemen Kelautan dan Perikanan cq. Dirketorat Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil, Direktorat konservasi dan Taman Nasional Laut memiliki misi dan tanggung jawab untuk mendorong dan memfasilitasi daerah untuk mengembangkan program Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) dalam skala kecil maupun besar khususnya dalam mekanisme penentuan zonasinya.

    Pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah merupakan paradigma baru, disamping kawsan konservasi nasional sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dalam hal ini Pemerintah Daerah berkewajiban mengatur sumberdaya alam laut di wilayahnya melalui Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah, khususnya Pasal 18 menyatakan bahwa salah satu kewenangan daerah di wilayahnya.

    Pengelolaan sumberdaya alam laut menjadi hal yang penting di daerah oleh karenanya rencana pengelolaan KKLD Gili Lawang dan Gili Sulat perlu disusun berdasarkan kajian ilmiah, mengacu kepada pedoman pembentukan Kawasan Konservasi Laut dan sesuai kebutuhan daerah. Balai Riset dan Observasi Kelautan SEACORM (South East Asia Center for Ocean Research and Monitoring) sebagai salah satu UPT dari Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan merasa perlu mengadakan kajian lebih lanjut dalam memberikan rekomendasi guna penentuan Kawasan Konservasi Laut Daerah khususnya di Lombok Timur (Gili Sulat dan Gili Lawang).

    1.2. TUJUAN Kegiatan ini bertujuan untuk :

    Studi lokasi dan kelayakan potensi sumberdaya kelautan dalam rangka penentuan zonasi KKLD dengan data insitu.

    Ichigodisclaimer2

  • Laporan Survey dan Analisa Gili Sulat Gili Lawang Pengembangan Sistem Obseravsi untuk Kawasan Pesisir TA 2007

    3

    Penentuan zonasi kawasan konservasi dengan mengintegrasi data satelit dan aplikasi dengan program Marxan.

    1.3. SASARAN Sasaran dari kegiatan ini adalah mengetahui potensi sumberdaya pesisir guna pelaksanaan penentuan kawasan konservasi laut daerah sehingga diharapkan dapat terwujud suatu kawasan pengelolaan sumberdaya laut secara efisien dan berkesinambungan dengan melihat carrying capacity KKLD khususnya di Gili Lawang dan Gili Sulat.

    1.4. RUANG LINGKUP 1. Kajian dan pengumpulan data lapangan oseanografi dan ekologi. 2. Kajian dan pengumpulan data lapangan guna proses penentuan lokasi KKLD dengan

    program MARXAN. 3. Kajian potensi sumberdaya kelautan.

    1.5. MANFAAT Meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang keberadaan, zonasi dan potensi Pulau Gili Lawang dan Gili Sulat terutama tentang penentuan zonasi KKLD.

    Ichigodisclaimer2

  • Laporan Survey dan Analisa Gili Sulat Gili Lawang Pengembangan Sistem Obseravsi untuk Kawasan Pesisir TA 2007

    4

    BAB II

    GAMBARAN UMUM LOKASI KEGIATAN

    Secara administratif, Pulau Gili Sulat dan Pulau Gili Lawang dengan luas wilayah masing-masing 694 ha dan 483 ha merupakan bagian dari Desa Sambelia, Kecamatan Sambelia, yang terletak sebelah timur dari pusat Desa Sambelia. Pulau Gili Sulat dan Pulau Gili Lawang merupakan kawasan hutan lindung yang berupa hutan mangrove.

    Berdasarkan peritungan dari citra satelit Ikonos diperoleh informasi luasan Gili Sulat serta jenis penutupan lahannya (tabel 1), yaitu :

    Luas pulau 6.940.466 m2 (694 ha) Panjang garis pantai 13.069 m (13 km) Panjang pulau 5.16 km dan lebar pulau 1.88 km

    Tabel 1. Tutupan lahan Pulau Gili Sulat

    No. Tipe Penggunaan Lahan Jumlah (ha) 1. 2. 3. 4. 5 6. 7.

    Belukar Karang Penghalang Mangrove Padang Lamun Pasir Rataan Terumbu Karang Tanah Terbuka

    2.409 2.236

    641.630 47.599 0.775

    178.688 35.666

    T o t a l 909.003

    Sumber : Hasil studi identifikasi KKLD Lombok Timur, 2002

    Sedangkan berdasarkan perhitungan dari citra satelit ikonos diperoleh informasi luasan Pulau Gili Lawang serta jenis penutupan lahannya (Tabel 2), yaitu :

    Luasan pulau 4.384.638 m2 (438 ha) Panjang garis pantai 9.856 m (9.9 km) Panjang pulau 3.57 km dan lebar pulau 1.47 km Tabel 2. Tutupan lahan Pulau Gili Lawang

    No. Tipe Penggunaan Lahan Jumlah (ha) 1. 2. 3. 4. 5 6. 7. 8.

    Belukar Karang Penghalang Laguna Mangrove Padang Lamun Pasir Rataan Terumbu Karang Tanah Terbuka

    21.367 5.996

    13.028 369.023 35.682 1.932

    181.254 40.892

    T o t a l 909.003

    Sumber : Hasil studi identifikasi KKLD Lombok Timur, 2002

    Ichigodisclaimer2

  • Laporan Survey dan Analisa Gili Sulat Gili Lawang Pengembangan Sistem Obseravsi untuk Kawasan Pesisir TA 2007

    5

    Oleh karena Pulau Gili Sulat dan Gili Lawang pada umumnya merupakan kawasan mangrove, sehingga daerah ini tidak berpenghuni atau tidak didiami secara menetap, kecuali pada saat-saat tertentu, hanya disinggahi oleh para nelayan yang menangkap ikan di lokasi sekitar pulau-pulau tersebut.

    Mata pencaharian penduduk Desa Sambelia pada umumnya adalah sebagai petani sawah dan petani lahan pekarangan seperti tembakau, kelapa, umbi-umbian, dan kacang-kacangan. Sedangkan masyarakat yang bermata pencaharian nelayan umumnya bertempat tinggal di wilayah pantai terutama di Labuhan Pandan dan Sugian (Tekalok Dalam).

    Rendahnya tingkat perekonomian masyarakat juga dapat dilihat dari kondisi perumahan terlihat bahwa sebagian besar 5,77% terdiri atas rumah dengan tipe sederhana, 25,82% rumah permanen, dan 21,41% sisanya merupakan rumah semi permanen.

    Penduduk Desa Sambelia umunya etnis Sasak. Etnis Sasak merupakan penduduk asli Desa Sambelia. Selain itu terdapat juga etnis lain seperti Bugis, Mandar, Makassar dan Jawa. Etnis Bugis, Mandar dan Makassar mendominasi profesi nelayan, sementara etnis Sasak lebih banyak mengembangkan perikanan budidaya seperti tambak udang dan tambak kepiting. Dari total jumlah penduduk Kecamatan Sambelia mayoritas memeluk agama Islam. Sebagian kecil masyarakat lainnya memeluk agama Hindu sejumlah 108 jiwa; agama Kristen/Khatolik 35 jiwa; dan agama Budha 4 jiwa.

    Pulau Gili Sulat dab Gili Lawang mempunyai jarak yang cukup dekat baik dengan mainland (Kecamatan Sambelia), Ibukota Kabupaten (Selong) dan Ibukota Propinsi (Mataram). Dari Pulau Gili Sulat maupun Gili Lawang ke mainland dapat dicapai dalam waktu 10 30 menit dengan menggunakan perahu bermotor 25 PK. Sedangkan dari pulau ke Ibukota Kabupaten dapat ditempuh dalam waktu 40 60 menit dan dari Pulau ke Ibukota Propinsi dapat ditempuh dalam waktu 2,5 3 jam.

    Ichigodisclaimer2

  • Laporan Survey dan Analisa Gili Sulat Gili Lawang Pengembangan Sistem Obseravsi untuk Kawasan Pesisir TA 2007

    6

    BAB III

    TINJAUAN PUSTAKA

    3.1. Mangrove

    Mangrove merupakan jenis tumbuhan pantai yang secara spesifik tumbuh subur di sepanjang pantai beriklim tropis dan sub tropis yang terlindung dengan membentuk formasi di sepanjang pantai yang hidupnya dari hasil perpaduan antara daratan dan lautan.

    Tumbuhan ini memiliki sistem perakaran menonjol yang disebut akar napas (pneumatofor) yang mampu beradaptasi terhadap keadaan tanah yang miskin oksigen. Karena itu tumbuhan mangrove memperoleh sumber makanan dari dua alam yakni air laut (laut pasang) dan air tawar ditambah bahan makanan pendukung dari endapan debu hasil erosi sungai yang memperkaya sedimen dan mineral pada daerah rawa-rawa dimana mangrove tumbuh.

    Beberapa jenis mangrove yang dikenal di Indonesia antara lain Bakau (Rhizopora), Api-api (Avicenn