laporan praktikum konservasi tanah dan reklamasi lahan

Upload: maimunah-mumun

Post on 13-Oct-2015

396 views

Category:

Documents


27 download

TRANSCRIPT

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    LAPORAN PRAKTIKUM KONSERVASI TANAH

    DAN REKLAMASI LAHAN

    Oleh :

    MAIMUNAH

    E1A210042

    Kelompok 1

    UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

    FAKULTAS PERTANIAN

    BANJARBARU

    2012

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    DAFTAR ISI

    Halaman

    DAFTAR ISI ............................................................................................ i

    DAFTAR TABEL .................................................................................... ii

    DAFTAR GAMBAR ............................................................................... IV

    PENDAHULUAN ................................................................................... 1

    Latar belakang .................................................................................... 2

    Tujuan ................................................................................................ 3

    TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................... 4

    BAHAN DAN METODE ......................................................................... 9

    Alat dan Bahan ................................................................................... 9

    Alat ........................................................................................... 9

    Bahan ........................................................................................ 9

    Waktu dan Tempat ............................................................................. 10

    Metode ............................................................................................... 10

    HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................. 11

    Hasil ................................................................................................... 11

    Pembahasan ........................................................................................ 21

    KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................. 25

    Kesimpulan ........................................................................................ 26Saran .................................................................................................. 27

    DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 28

    LAMPIRAN

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    DAFAT TABEL

    Nomor Halaman

    1. Pengamatan erosivitas hujan harian (Rh) Januari-April tahunan2007 .............................................................................................. 11

    2. Pengamatan erosivitas hujan harian (Rh) Mei-Agustus tahunan2007 .............................................................................................. 12

    3. Pengamatan erosivitas hujan harian (Rh) September-Desembertahunan 2007 ................................................................................ 13

    4. Hasil pengamatan erosivitas hujan bulanan (Rh) tahun 2007 ...... 145. pengamatan erosivitas hujan tahunan (Rt) .................................. 146. Hasil nilai K dari setiap unit lahan ............................................... 157. Menentukan nilai LS dari setiap units lahan ................................ 168. Menentukan nilai C dan P pada setiap unit lahan ........................ 179. Hasil jumlah erosi dari setiap lahan pada tahun 2007 .................. 1710. Menentukan indeks bahaya erosi (IBE) dari setiap unit lahan ..... 1811. Hasil Lapangan Data dari Abney Level ....................................... 2512. Pernilaian ukuran butir (M) (Hammer, 1978) .............................. 2513. Kelas kandungan C-organik ......................................................... 2514. Penilaian stuktur tanah (Hammer, 1978) ...................................... 2515. Penilaian permeabilitas tanah (Hammer,1978) ............................ 2516. Penilaian tekstur lapangan untuk dipergunakan dalam nomograph

    (Hammer 1978) ............................................................................ 26

    17. Kelas kemiringan lahan (LS) ........................................................ 2618.Nilai Kemiringan Lereng ............................................................. 2619. Prakiraan Nilai C .......................................................................... 26

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    20.Nilai Faktor P untuk Berbagai Tindakan Konservasi TanahKhusus .......................................................................................... 28

    21. Kode Permeabilitas Profil Tanah ................................................. 2822. Pengharkatan Indeks Bahaya Erosi (IBE) .................................... 2823.Nilai faktor C dengan pertanaman tunggal (Abdulrachman,

    Sopiah, dan Undang, 1981), dan (Hammer, 1981) ....................... 28

    24.Nilai faktor C dengan berbagai pengelolaan tanaman(Abdulrachman, Sopiah, dan Undang,1981) ................................ 30

    25.Nilai Faktor P berbagai aktivitas konservasi tanah (Abdulrachmandkk, 1984 dalam (Asdam, 1995)) ................................................. 31

    26. Dokumentasi Praktikum yang dilakukan ..................................... 31

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    DAFAT GAMBAR

    Nomor Halaman

    1. Teras Pada Kemiringan Lahan ..................................................... 192. Penentuan Tekstur Tanah ............................................................. 193. Penampang Saluran Pembuangan Air dan Tanah ........................ 20

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    PENDAHULUAN

    Latar belakang

    Erosi merupaka peristiwa pengikisan padatan seperti sedimen, tanah,

    batuan, dan partikel lainnya yang ditimbulkan oleh transportasiangin,air ataues,

    karakteristik hujan, creep pada tanah dan material lain yang dipengaruhi faktor

    alam secara alami maupun oleh adanya tindakan dari manusia yang berusaha

    untuk mengolah tanah dan lingkungan demi kepentingannya selain itu juga dapat

    dipengaruhi oleh gravitasi, atau oleh makhluk hidup misalnya hewan yang

    membuat liang, dalam hal ini disebut bio-erosi. Erosi tidak sama dengan

    pelapukan akibat cuaca, yang mana merupakan proses penghancuran mineral

    batuan dengan proses kimiawi maupun fisik, atau gabungan keduanya (Anonim,

    2012).

    Erosi umumnya merupakan proses alami yang mudah dikenali, namun di

    kebanyakan tempat kejadian ini diperparah oleh aktivitasmanusia dalam tata guna

    lahan yang buruk, penggundulan hutan,kegiatan pertambangan,perkebunan dan

    perladangan, kegiatan konstruksi / pembangunan yang tidak tertata dengan baik

    dan pembangunan jalan. Tanah yang digunakan untuk menghasilkan tanaman

    pertanian biasanya mengalami erosi yang jauh lebih besar dari tanah dengan

    vegetasi alaminya. Alih fungsi hutan menjadi ladang pertanian meningkatkan

    erosi, karena struktur akar tanaman hutan yang kuat mengikat tanah digantikan

    dengan struktur akar tanaman pertanian yang lebih lemah (Anonim, 2012).

    Konservasi tanah dalam arti yang luas dapat diartikan penempatan setiap bidang

    tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah itu

    http://id.wikipedia.org/wiki/Tanahhttp://id.wikipedia.org/wiki/Anginhttp://id.wikipedia.org/wiki/Airhttp://id.wikipedia.org/wiki/Eshttp://id.wikipedia.org/wiki/Hujanhttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Creep&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bio-erosi&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Manusiahttp://id.wikipedia.org/wiki/Hutanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Pertambanganhttp://id.wikipedia.org/wiki/Perkebunanhttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perladangan&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Jalanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Vegetasihttp://id.wikipedia.org/wiki/Vegetasihttp://id.wikipedia.org/wiki/Jalanhttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Perladangan&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Perkebunanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Pertambanganhttp://id.wikipedia.org/wiki/Hutanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Manusiahttp://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Bio-erosi&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Creep&action=edit&redlink=1http://id.wikipedia.org/wiki/Hujanhttp://id.wikipedia.org/wiki/Eshttp://id.wikipedia.org/wiki/Airhttp://id.wikipedia.org/wiki/Anginhttp://id.wikipedia.org/wiki/Tanah
  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar

    tidak terjadi kerusakan tanahsedangkan dalam arti yang sempit konservasi tanah

    diartikan sebagai upaya mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan memperbaiki

    tanah yang rusak oleh erosi (Noerd, 2011).

    Konservasi tanah atau penyelamatan tanah juga dapat diartikan sebagai

    pencegahan terhadap erosi oleh aliran air, perubahan unsur tanah oleh zat kimia

    atau organik akibat dari industri atau limbah rumah tangga, pencemaran tanah

    akibat salinsasi, pengasaman atau unsur hara tanah yang rusak karena

    terkontaminasi zat lain. Kerusakan tanah dan undurnya kualitas tanah

    mengakibatkan mundurnya produktivitas tanah untuk usaha-usaha pertanian juga

    pemetakan. Tanah yang telah terkontaminasi atau mengalami pencemaran

    merupakan masalah yang serius yang harus ditangani segera (Noerd, 2011).

    Terasering adalah penanaman dengan membuat teras-teras yang dilakukan

    untuk mengurangi panjang lereng dan menahan atau memperkecil aliran

    permukaan agar air dapat meresap ke dalam tanah. Sistem Terasering merupakan

    sistem yang umumnya digunakan masyarakat desa dalam membentuk sawah.

    sistem ini membantu para petani dalam mengairi sawah tersebut. Bentuk

    terasering berupa tangga yang tersusun secara rapih, sehingga air dapat mengalir

    dengan mudah ke daerah-daerah sawah yang kering. Sistem ini sengaja dibuat

    agar menghemat temapt, dan juga mempermudah pengaliran ari ke sawah-sawah

    lain. Sistem ini telah dikenal sejak lama dan telah dilakukan turun-temurun.

    terbukti lebih efektif dan bermanfaat (Ibnu, 2011).

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Tujuan

    Tujuan praktikum ini untuk memperkirakan tingkat erosi suatu lahan

    dengan menggunakan rumus Universal Soil Loss Equation (USLE), untuk

    menentukan indeks bahaya erosi pada suatu lahan, membuat rencana

    pembangunan sistem terasering, serta menentukan kelas kesesuaian lahan untuk

    pembuangan penimbunan sampah dan menentukan kelas kesesuaian lahan untuk

    tanaman tahunan.

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    TINJAUAN PUSTAKA

    Besarnya erosi sangat tergantung dari faktor-faktor alam ditempat

    terjadinya erosi tersebut erodibilitas tanah, karakteristik landskap dan iklim.

    Adapula Proses alam yang menyebabkan terjadinya erosi yang dikarena adanya

    faktor curah hujan, tekstur tanah, tingkat kemiringan dan tutupan tanah.

    Intensitas curah hujan yang tinggi di suatu lokasi yang tekstur tanahnya

    merupakan sedimen, misalnya pasir serta letak tanahnya juga agak curam

    menimbulkan tingkat erosi yang tinggi. Selain faktor curah hujan, tekstur tanah

    dan kemiringannya, tutupan tanah juga mempengaruhi tingkat erosi. Tanah yang

    gundul tanpa ada tanaman pohon atau rumput akan rawan terhadap erosi. Erosi

    juga dapat disebabkan oleh angin, air laut dan es. Menurut Arsyad (2006),

    berdasarkan bentuk erosi dapat dibedakan sebagai berikut Erosi lembar (sheet

    erosion),Erosi alur (rill erosion) Erosi parit (gully erosion), Erosi tebing sungai

    (river bank erosion), Longsor (lendslide) (Askari wahyu, 2010).

    Metode yang sering digunakan untuk memprediksi erosi adalah Metode USLE (Universal

    Soil Loss Equation) merupakan metode yang umum digunakan untuk memperediksi laju

    erosi. Selain sederhana, metode ini juga sangat baik diterapkan di daerah- daerah yang

    faktor utama penyebab erosinya adalah hujan dan aliran permukaan. Metode USLE

    mempunyai kelebihan, yaitu proses pengolahan datanya yang sedehana, sehingga

    mudah dihitung secara manual maupun menggunakan alat bantu program komputer

    (software). Akan tetapi kelemahan model ini adalah tidak dipertimbangkannya

    keragaman spasial dalam suatu DAS dimana nilai input parameter yang diperlukan

    merupakan nilairata-rata yang dianggap homogen dalam suatu unit lahan.

    Wischmeier (1976) dalam Risse et al. (1993) mengatakan bahwa metode USLE

    http://www.g-excess.com/27545/pengertian-erosi-dan-dampaknya/http://www.g-excess.com/27545/pengertian-erosi-dan-dampaknya/
  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    didesain untuk digunakan memprediksi kehilangan tanah yang dihasilkan oleh

    erosi dan diendapkan pada segmen lereng bukan pada hulu DAS, selain itu juga

    didesain untuk memprediksi rata-rata jumlah erosi dalam waktu yang panjang

    (Hidayat, 2003).

    USLE memungkinkan perencana menduga laju rata-rata erosi suatu tanah

    tertentu pada suat kecuraman lereng dengan pola hujan tertentu untuk setiap

    macam pertanaman dan tindakan pengelolaan (tindakan konservasi tanah) yang

    mungkin dilakukan atau yang sedang dipergunakan (Arsyad, 1989).

    Prediksi erosi dengan metode USLE diperoleh dari hubungan antara

    faktor-faktor penyebab erosi itu sendri yaitu:

    A = R *K* L * S * C* P

    Dimana:

    A = Banyaknya tanah tererosi (ton ha-1 yr-1)

    R = faktor curah hujan dan aliran permukaan (Erosivitas) (MJ mm ha-1 hr-1 yr-1)

    K = faktor erodibilitas tanah (ton ha hr MJ-1 mm-1 ha-1)

    LS = faktor panjang dan kemiringan lereng (dimensionless)

    C = faktor vegetasi penutup tanah dan pengelolaan tanaman (dimensionless)

    P = faktor tindakan-tindakan khusus konservasi tanah (dimensionless)

    Erosivitas (R) hujan adalah daya erosi hujan pada suatu tempat. Nilai

    erosivitas hujan dapat dihitung berdasarkan data hujan yang diperoleh dari

    penakar hujan otomatik dan dari penakar hujan biasa. Adapun persamaan yang

    digunakan dalam untuk menentukan tinggkat erosivitas hujan dalam penelitian ini

    adalah (Bols, 1978 dalam Arsyad, 1989):

    R = 6,119(RAIN)1,21(DAY S)-0,47(MAXP)0,53

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Keterangan :

    { R adalah indeks erosivitas rata-rata bulanan

    { RAIN adalah curah hujan rata-rata bulanan (cm)

    { DAYS adalah jumlah hari hujan rata-rata perbulan

    { MAXP adalah curah hujan maksimum selama 24 jam dalam bulan bersangkutan

    Erodibilitas (K) tanah adalah mudah tidaknya tanah mengalami erosi, yang

    di tentukanoleh berbagai sifat _sik dan kimia tanah. Menurut Wischmeier (1971)

    dalam Arsyad (1989) persamaan umum kehilangan tanah adalah sebagai berikut :

    100K = 2, 1M1,14(10-4)(12 -a) + 3, 25(b - 2) + 2,5(c -3)

    Keterangan :

    { K adalah erodibilitas

    { M adalah ukuran partikel (% debu + % pasir halus)

    { a adalah kandungan bahan organik

    { b adalah kelas struktur tanah

    { c adalah kelas permeabilitas

    Erosi terbagi menjadi dua macam, yaitu erosi geologi dan erosi dipercepat

    (Hardjowigeno, 1995). Erosi geologi merupakan erosi yang berjalan lambat

    dengan jumlah tanah yang tererosi sama dengan jumlah tanah yang terbentuk.

    Erosi ini tidak berbahaya karena terjadi dalam keseimbangan alami. Erosi

    dipercepat (accelerated erosion) adalah erosi yang diakibatkan oleh kegiatan

    manusia yang mengganggu keseimbangan alam dan jumlah tanahnya yang

    tererosi lebih banyak daripada tanah yang terbentuk. Erosi ini berjalan sangat

    cepat sehingga tanah di permukaan (top soil) menjadi hilang (Askari wahyu,

    2010).

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Erosi mempunyai dampak yang kebanyakan merugikan, karena terjadi

    kerusakan lingkungan hidup. Menurut penelitian bahwa 15% permukaan bumi

    mengalami erosi. Kebanyakan disebabkan oleh erosi air kemudian oleh angin.

    Jika erosi terjadi di tanah pertanian maka tanah tersebut berangsur-angsur akan

    menjadi tidak subur, karena lapisan tanah yang subur makin menipis, dan jika

    terjadi di pantai, maka bentuk garis pantai akan berubah. Dampak lain dari erosi

    merupakan sedimen dan poluton pertanian yang terbawa air akan menumpuk di

    suatu tempat. hal ini bisa menyebabkan pendangkalan air waduk, kerusakan

    ekosistem di danau, pencemaran air minum (Nurina Endra, 2008).

    Pencegahan erosi merupakan usaha pengendalian terjadinya erosi yang

    berlebihan sehingga dapat menimbulkan bencana. Ada banyak cara untuk

    mengendalikan erosi antara lain Pengolahan Tanah, Pemasangan Tembok,

    Batu Rangka Besi, Penghutanan Kembali, Penempatan batu Batu Kasar

    Sepanjang pinggir pantai, Pembuatan Pemecah angin atau Gelombang,

    Pembuatan Teras Tanah Lereng (Nurina Endra, 2008).

    Menurut Arsyad (2006) konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan

    air hujan yang jatuh ke tanah untuk pertanian seefisien mungkin dan mengatur

    waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada

    waktu musim kemarau. Konservasi tanah mempunyai hubungan yang sangat erat

    dengan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan

    mempengaruhi tata air pada tempat itu dan tempat-tempat di hilirnya. Oleh karena

    itu konservasi tanah dan konservasi air merupakan dua hal yang berhubungan erat

    sekali; berbagai tindakan konservasi tanah adalah merupakan juga tindakan

    konservasi air (Sastro wijanarko, 2012).

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Usaha memperbaiki dan menjaga tanah agar tahan terhadap penghancuran

    agregat dan pengangkutan dapat dilakukan dengan menanam tanaman penutup

    tanah, karena dapat mengendalikan bahaya erosi, mencegah proses pencucian

    unsur hara dan mengurangi fluktuasi temperatur tanah (Sastro wijanarko, 2012).

    Menurut Ibnu (2011) jenis terasering antara lain teras datar, teras kredit, Teras

    Guludan, dan teras bangku.

    1. Teras Datar (level terrace), Teras datar dibuat pada tanah dengan kemiringankurang dari 3 % dengan tujuan memperbaiki pengaliran air dan pembasahan

    tanah. Teras datar dibuat dengan jalan menggali tanah menurut garis tinggi

    dan tanah galiannnya ditimbunkan ke tepi luar, sehingga air dapat tertahan

    dan terkumpul. Pematang yang terjadi ditanami dengan rumput.

    2. Teras Kridit (ridge terrace), Teras kridit dibuat pada tanah yang landai dengankemiringan 3 - 10 %, bertujuan untuk mempertahankan kesuburan tanah.

    Pembuatan teras kridit di mulai dengan membuat jalur penguat teras sejajar

    garis tinggi dan ditanami dengan tanaman seperti caliandra.

    3. Teras Guludan (cotour terrace), Teras guludan dibuat pada tanah yangmempunyai kemiringan 10 - 50 % dan bertujuan untuk mencegah hilangnya

    lapisan tanah.

    4.

    Teras Bangku (bench terrace) yang dibuat pada lahan dengan kelerengan 10 -

    30 % dan untuk mencegah erosi pada lereng yang ditanami palawija.

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    METODE

    Alat dan Bahan

    Alat

    Alat-alat yang digunakan dalam praktikun ini yaitu

    Alat tulis untuk mencatat hasil pengamatan Meteran untuk mengukur panjang lahan yang diamati Abney level untuk mengukur kemiringan lahan Clinometer untuk mengukur kemiringan lahan Slang (water pass) untuk untuk mengukur kemiringan lahan Ring sample untuk mengambil sampel tanah pH tester untuk mengukur pH tanah. Penentu warna tanah untuk menentukan sifat fisik dari warna tanah yang

    diamati

    Monzon soil color cat DHL Patok 13 Tuas pengebor untuk mengambil sampel tanah

    Bahan

    Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu

    Air Tanah

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Waktu dan Tempat

    Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 19 April 2012 - 2 Juni 2012

    bertempat diruangan pampaken dan di kebun karet dan TPA gunung kupang.

    Metode

    Prosedur kerja yang dilakukan oleh praktikan yaitu :

    1. Mendengarkan pengarahan dari dosen dan asisten praktikum2. Mengamati keadaan lahan3. Mencatat hasil pengamatan

    Pengamatan

    Pengamatan yang dilakukan oleh praktikan mencakup :

    1. Erosivitas2. Indeks bahaya erosi3. Bentuk permukaan lereng4. Tebal lapisan topsoil5. Struktur6. Tekstur7.

    Permeabilitas / drainase

    8. Bahan organik9. Kerikil permukaan10.Vegetasi11.Warna Tanah dan Bentuk erosi

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Hasil

    Tabel 1. Pengamatan erosivitas hujan harian (Rh) Januari-April tahunan 2007

    TGLTahun 2007

    Jan Rh Feb Rh Mar Rh Apr Rh

    1 1.6 8.2 4.5 58.9

    2 6.0 99.9 3.0 27.5

    3 0.9 2.7 0.2 0.1 2.6 21.0

    4 1.8 10.3 0.7 1.6 2.3 16.6

    5 1.9 11.5 2.0 12.7 3.0 27.5 8.9 201.9

    6 0.5 0.8 3.0 27.5 2.0 12.7 0.5 0.8

    7 4.0 47.3 0.2 0.1 0.7 1.6

    8 3.2 31.1 1.5 7.2 1.2 4.7

    9 0.6 1.2 0.4 0.5

    10 0.5 0.8 0.4 0.5

    11 1.4 6.3 1.0 3.3 2.4 18.0

    12 1.4 6.3 0.1 0.0 1.1 4.0

    13 2.7 22.5 0.2 12.7

    14 2.8 24.1 1.0 3.3

    15 1.0 3.3

    16 0.5 0.8 0.1 0.03

    17 0.5 0.8 4.4 56.518 1.0 3.3 0.1 0.0

    19 0.3 0.3 0.7 1.6

    20 0.3 0.3 3.7 40.9 4.5 58.9

    21 0.5 0.8 1.5 7.2 1.8 10.3

    22 1.5 7.2 0.5 0.8 1.8 10.3

    23 0.3 0.3 2.0 12.7 0.9 2.7

    24 0.3 0.3 0.6 1.2 0.7 1.6

    25 0.3 0.3 0.5 0.8 0.6 1.2 0.1 0.03

    26 0.5 0.8 1.5 7.2 1.1 4.0

    27 0.4 0.5 5.0 71.628 1.0 3.3 1.6 8.2 1.3 5.5 1.6 8.2

    29 0.8 2.1 0.4 0.5

    30 0.6 1.2

    31 0.4 0.5

    12.8 49.2 25.5 170.4 43.5 412.4 37.6 444.6

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Tabel 2. Pengamatan erosivitas hujan harian (Rh) Mei-Agustus tahunan 2007

    TGLTahun 2007

    Mei Rh Juni Rh Juli Rh Agst Rh

    1 0.8 2.1

    23 0.2 0.14 1.7 9.25 4.5 58.9 1.1 4.0 1.4 6.36 2.5 19.4 0.3 0.3

    7

    8

    9

    10 0.6 1.211 0.1 0.03 0.3 0.3

    12 0.9 2.713 0.7 1.6

    14 0.4 0.5 1.4 6.3

    15 1.0 3.3

    16 0.6 1.2 0.8 2.117 0.5 0.818 1.0 3.3 2.8 24.1

    19 1.2 4.7 1.2 4.7 0.2 0.1

    20 1.7 9.2 1.0 2.5

    21 0.5 0.8 0.3 0.3

    22 1.6 8.2

    23 0.2 0.1 0.7 1.3

    24 0.6 1.2 2.1 8.425 1.1 4.0

    26 0.2 0.1 1.2 4.7

    27 0.7 1.3

    28 1.6 8.2 0.1 0.03

    29 0.5 0.8 3.6 38.8 0.5 0.7

    30 0.5 0.731

    10.8 89.6 15.3 78.7 12.9 65.4 6.0 15.3

    Tabel 3. Pengamatan erosivitas hujan harian (Rh)September-Desember tahunan

    2007

    TGL Tahun 2007

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Sep Rh Okt Rh Nov Rh Des Rh

    1 0.4 0.5

    2 0.5 0.7 0.4 0.5 0.2 0.1

    3 0.4 0.5 0.5 0.8 1.0 2.5

    4 0.2 0.1 0.3 0.3 0.3 0.35 0.4 0.5 0.4 0.5 1.0 3.3 0.2 0.16 1.9 7.2 0.7 1.3

    7 2.5 11.0 2.4 18.0 0.0 0.0

    8 0.3 0.3

    9

    10 0.9 2.1 0.8 1.7

    11 3.1 29.3 1.9 7.212 3.5 18.0

    13 4.3 24.0

    14 0.4 0.5 1.9 7.215 0.7 1.3 4.8 66.4 1.0 2.5

    16 0.5 0.7

    17 2.1 13.9 1.5 4.9

    18 2.0 7.819 0.9 2.1 1.4 4.420 1.9 11.5 1.5 4.9

    21 1.1 2.9

    22 0.7 1.3 0.1 3.3 0.3 0.3

    23

    24 0.4 0.5

    25 0.6 1.0 0.6 1.2 1.3 3.926 0.0 0.0 1.7 6.0

    27 1.7 9.2

    28 0.4 0.5 0.4 0.5

    29 1.1 2.9

    30 0.4 0.531 0.5 0.7 6.7 21.3 6.2 11.9 19.7 158.8 27.8 101.3

    Keterangan :

    Rumus Erosivitas hujan

    Rh = Erosivitas hujan harian Hh = Curah hujan harian (cm)Tabel 4. Hasil pengamatan erosivitas hujan bulanan (Rh) tahun 2007

    No. Tahun Bulan Hb(cm) Days

    Maks

    Hb

    (cm)

    Rb

    Rumus

    I

    Rumus

    II

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    1

    2007

    Jan 12,8 15 1,8 51,16 70,83

    2 Feb 25,5 19 4,0 160,94 180,84

    3 Mar 43,5 24 6,0 341,17 373,88

    4 Apr 37,6 21 8,9 375,31 306,65

    5 Mei 10,8 10 4,5 81,91 56,21

    6 Juni 15,3 16 3,6 88,93 90,28

    7 Juli 12,9 10 2,8 78,97 71,58

    8 Agst 6,0 8 2,1 29,82 25,27

    9 Sept 6,7 7 2,5 39,81 29,37

    10 Okt 6,2 10 1,1 19,83 26,43

    11 Nop 19,7 14 4,8 149,75 127,31

    12 Des 27,8 22 4,3 173,29 203,37

    Jumlah 224,8 176 46,4 1590,90 1562,02

    Keterangan :

    Rumus I (Rb) = 6,11(Hb)1,21. (Days)-0,47. (Max Hb)0.53 Rumus II (Rb) = 2,21(Hb)1,36Tabel 5. Hasil pengamatan erosivitas hujan tahunan (Rt)

    No. Tahun

    Curah

    Hujan

    (cm)

    Rt

    Rumus IRumus

    II

    Rumus

    III

    1 2007 224,8 1590,90 1562,02 106113,97

    Keterangan :

    Rumus I (Rt) = [6,11(Hb)1,21. (Days)-0,47. (Max Hb)0.53] (Dalam1Tahun)

    Rumus II (Rt) = [2,21(Hb)1,36] (Dalam 1 Tahun) Rumus III (Rt) = 2,34(Ht)1,98 Curah Hujan (cm) = Hb (Dalam 1 Tahun)

    Tabel 6. Hasil nilai K dari setiap unit lahan

    No ParameterUnit Lahan

    1 2 3

    1. Tekstur :

    - % Debu & pasirsangat halus

    25 %

    50 %

    55 %

    10 %Silty ealy

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    - % pasir2 Bahan organik (%) 1 % 2 % 3 %

    3 Struktur Granular kasar Granular

    halus

    Granular

    sangat halus

    4 permeabilitas 6,9 cm/jam 1,67 cm/jam 0,48 cm/jam5 Nilai faktor K 0,1937 0,29 0,21

    Keterangan :

    ()

    Dimana :

    M = (% pasir sangat halus + % debu) x (100 - % liat)

    a = % bahan organik tanah (% C-organik x 1,724)

    b = kode struktur tanah (lihat tabel 13)

    c = kode permeabilitas tanah

    Unit Lahan 1

    Dik : m = = =

    a = b = c =

    Dit : K ?

    K =

    =

    =

    =

    =

    =

    Unit Lahan 2

    Dik : m = = =

    a = b =

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    c = Dit : K ?

    K =

    =

    =

    =

    =

    =

    Unit Lahan 3

    Dik : m = =

    a = b = c =

    Dit : K ?

    K =

    =

    =

    =

    =

    =

    Tabel 7. Menentukan nilai LS dari setiap units lahan

    No ParameterUnit lahan

    1 2 3

    1 Kemiringan lahan 10 % 30 % 50 %

    2 Nilai faktor LS 1,20 9,56 12,00

    Tabel 8. Menentukan nilai C dan P pada setiap unit lahan

    No Parameter C dan

    p

    Unit lahan

    1 2 3

    1 Tanaman (C)Padi + Kedelai

    (0,417)

    Hutan alam

    dengan serasah

    banyak (0,001)

    Alang-alang

    permanen

    (0,2)

    2 Teknik konservasi Terasberdasarkan Tanpa tindakankonservasi Tanpa

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    (P) lebar

    (0,12)

    (1.00) tindakan

    konservasi

    (1.00)

    Tabel 9. Hasil jumlah erosi dari setiap lahan pada tahun 2007

    No Rumus Unit lahanL= Luas

    lahan (ha)

    A = Erosi

    (Ton/ha/tahunan)A x L

    1 I

    UL 1

    UL 2

    UL 3

    3,0

    2,0

    1,5

    18,17

    4,39

    80,27

    54,51

    8,78

    120,41

    2 II

    UL 1

    UL 2

    UL 3

    3,0

    2,0

    1,5

    17,42

    4,30

    78,74

    53,46

    8,60

    118,11

    3 III

    UL 1

    UL 2

    UL 3

    3,0

    2,0

    1,5

    1210,67

    292,34

    5348,15

    3632.01

    584,60

    8002,22

    Keterangan:

    Tingkat erosi suatu lahan dapat diperkirakan dengan rumus Universal Soil Loss

    Equation (USLE) yang dikembangkan oleh Weiscmeier dan Smith, yaitu :

    A = R x K x L x S x C x P

    Dimana :

    A : Perkiraan tanah yang tererosi (ton/ha/th)

    R : Prosivitas hujan (MJ.cm/ha.jam/th)

    K : rodibilitas tanah (ton.ha.jam/ha MJ.cm)

    L : panjang lereng (tanpa satuan)

    S : kemiringan lahan (tanpa satuan)

    C : pengelolaan tanaman (tanpa satuan)

    P : Praktek penangulangan erosi/teknik konservasi (tanpa satuan)

    (A) Perkiraan Tanah Yang Tererosi

    Unit Lahan 1

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Unit Lahan 2

    Unit Lahan 3

    Tabel 10. Menentukan indeks bahaya erosi (IBE) dari setiap unit lahan

    No Unit

    A = Erosi

    (Ton/ha/tahu)

    Sifat-sifat dan

    substratum

    Besarnya erosi

    diperbolehkann

    ya (Edp) dalam

    ton/ha/tahun

    Index

    bahaya

    erosi

    (IBEN)

    1 UL 1

    Rumus 1

    18,17Tanah dalam

    dengan lapisan

    bawah

    berpermeabilitas

    sedang, di atas

    substrata telah

    melapuk

    2,0 mm/th

    2,0 x 1,2 x 10 =

    24 ton/ha/th

    0,76

    (Rendah)

    Rumus 2

    17,82

    0,74

    (Rendah)

    Rumus 3

    1210,67

    0,23

    (Sangat

    tinggi_

    2 UL 2

    Rumus 1

    4,39Tanah dengan

    lapisan bawah

    berpermeabilitas

    1,6 mm/th

    1,6 x 1,2 x 10 =

    19,2 ton/ha/th

    0,23

    (Rendah)Rumus 2

    4.30

    0,22

    (Rendah)

    Rumus 3

    292,34

    15,23

    (Sangat

    tinggi)

    3 UL 3

    Rumus 1

    80,27Tanah dalam

    dengan lapisan

    bawah kedap air

    di atas substrata

    yang telah

    melapuk

    1,4 mm/th

    1,4 x 12 x10 =

    16,8 ton/ha/th

    4,78

    (Tinggi)

    Rumus 2

    78,74

    4,69

    (Tinggi)

    Rumus 3

    5348,15

    318,34

    (Sangat

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    tinggi)

    Keterangan : BD (bulk density/kerapatan lindak) untuk setiap unit lahan

    berdasarkan analisa di laboratorium adalah 1,2 g/cm3.

    Rencana Pembangunan Sistem Terasering

    Gambar 1. Teras Pada Kemiringan Lahan

    Gambar 2. Penentuan Tekstur Tanah

    Gambar 3. Penampang Saluran Pembuangan Air dan Tanah

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Tabel 11. Hasil Lapangan Data dari Abney Level

    NoPengukuran Tinggi (t)

    (M)

    Pengukuran Jarak (d)

    (M)

    1 0,77 3,93

    2 0,81 4,27

    3 0,88 4,60

    4 0,72 4,40

    5 0,80 4,40

    6 0,25 4,31

    7 1,18 4,708 1,07 5

    9 0,92 5

    10 1,03 5

    11 0,89 5

    12 0,68 5

    13 0,92 5

    10,92 60,61

    Keterangan

    Perhitungan menentukan presentase kelerengan.

    Kemiringan =

    x 100 %

    =

    = 18 %

    Pembahasan

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Erosivitas Hujan merupakan kemampuan hujan untuk mengerosi tanah.

    Pada praktikum diketahui jumlah erosivitas hujan tahunan pada tahun 2007 yaitu

    1.592,39 dengan mengunakan rumus 1, 1.562.02 dengan rumus 2, sedangkan

    dengan mengunakan rumus 3 106.113,97 dengan curah hujan 224.8 semakin

    tinggi nilai erosivitas hujan suatu daerah, semakin besar pula kemungkinan erosi

    yang terjadi pada daerah tersebut. Erodibilitas merupakan suatu ketahanan dari

    tanah yang yang menunjukkan resistensi partikel tanah terhadap pengelupasan dan

    transportasi partikel-partikel tanah oleh adanya energi kinetik air hujan dan

    ditentukan oleh sifat fisik dan kimia tanah serta vegetasi penutup tanah.

    Pada Tabel 6 menunjukan asil nilai K dari setiap unit lahan. Dapat diketah

    unit lahan 1 memiliki nilai faktor K 0,19, unit lahan 2 0,29 dan pada unit lahan 3

    0,21. Nilai K yaitu Erodibilitas yang merupakan sifat tanah yang menatakan

    kepekaan tanah untuk tererosi sifat ini mencerminkan mudah tidaknya tanah

    tererosi. Pada praktikum. Weiscmeier (1971) mengatakan erodibilitas tanah

    ditentukan oleh tekstur, struktur, permeabilitas serta bahan organik tanah tersebut.

    Umumnya tanah yang bertekstur kasar biasanya lebih tahan terhadap daya

    angkutan aliran permukaan karena masa partikelnya lebih besar sedangkan tanah

    yang bertekstur lebih tahan terhadap gaya dispersi karena ikatan antar partikel

    lebih kuat.

    Pada tabel 7 Menunjukan nilai LS dari setiap units lahan, pada unit lahan 1

    dengan kemiringan lahan 10% didapat nilai faktor LS 1.20, unit lahan 2 dengan

    kemiringan lahan 30% faktor LSnya 9,56, dan pada unit lahan 3 denagan

    kemiringan 50% diperoleh nilai faktor LSnya yaitu 12,00. Pengukuran kemiringan

    lahan ini dilakukan dilapangan dengan mengunakan abney level. Pada dasarnya

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    panjang lereng dari tempat mulainya terjadi aliran air diatas permukaan tanah

    hingga ketempat pengendapan yang disebabkan oleh berkuragnya kecuraman

    lerang atau ketempat aliran air dipermukaan tanah yang masuk melalui saluran

    sungai. LS (Lerang Slop) merupakan rasio antara besarnya erosi dari sebidang

    tanah dengan panjang lereng dan kecuraman tertentu terhadap besarnya erosi dari

    tanah.

    Pada tabel 8 menentukan nilai C dan P pada setiap unit lahan Faktor C

    pada dasarnya digunakan untuk mengukur pengaruh kebersamaan jenis tanaman

    dan pengelolaan terhadap terjadinya proses erosi, sedang faktor P digunakan

    untuk mengukur tindakan konservasi tanah dalam rangka praktek pengendalian

    erosi. Pada unit lahan 1 tanaman padi + kacang kedelai 0,472 dengan teknik

    berdasar lebar, pada unit lahan 2 hutan alam dengan serasah banyak 0,001 dengan

    tanpa adanya tindakan konservasi dan pada unit lahan 3 alang-alang permanen

    0,02 tanpa adanya tindakan konservasi. Menurut Arsyat (1989) Tindakan

    konservasi tanah berarti penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan

    yang sesuai dengan kemampuan dan memberlakukannya dengan syarat-syarat

    yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah.

    Kartasapoetra dan Sutedjo (1986) Dengan melakukan tindakan konservasi

    pada suatu lahan maka kita telah berusaha untuk mengendalikan erosi pada lahan

    tersebut. Usaha pengendalian erosi seharusnya didasarkan pada prinsip

    memperbesar resistensi permukaan tanah sehingga lapisan permukaan tanah tahan

    terhadap pengaruh tumbukan butir-butir hujan dan memperkecil aliran permukaan

    dengan memperbesar kapasitas infiltrasi sehingga daya kikis terhadap tanah yang

    dilalui dapat diperkecil.

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Pada tabel 9 merupakan hasil jumlah erosi dari setiap lahan. Tingkatan

    erosi suatu lahan dapat dihitung dengan menggunakan rumus Universal Soil Loss

    Equation (USEL) yang dikembangkan oleh Weiscmeier dan Smith A = R x K x L

    x S x C x P. Sedangkan pada tabel 10 Menentukan indeks bahaya erosi (IBE) dari

    setiap unit lahan. Menurut Soule dan Piper 1992, (dalam Yakin A, 2004) erosi

    mempunyai dampak negatif terhadap usaha pertanian/ perkebunan maupun diluar

    pertanian. Dampak utama erositerhadap pertanian adalah kehilangan lapisan atas

    tanah yang subur, berkurangnya kedalamanlahan, kehilangan kelembapan tanah

    dan kehilangan kemampuan lahan untuk menghasilkantanaman yang

    menguntungkan.

    Dari praktikum lapangan yang dilakukan dapat diketahui adanya

    perbedaaan baik pada tekstur, struktur tanah, warna tanah, kerikil permukaan,

    serta vegetsi. Dari hasil pengamatan tekstur tanah, dapat disimpulkan bahwa

    semakin ke bawah kelerengannya, tekstur tanahnya semakin liat yang dikarenakan

    lapisan tanah pada permukaan yang tinggi terjadi erosi dan terbawa oleh hujan ke

    lapisan tanah yang rendah. Lapisan tanah pada permukaan yang tinggi terkikis dan

    mengendap di lapisan tanah yang rendah dan mengakibatkan struktur tanahnya

    menggumpal. Bahan organik tersebut, semakin ke bawah kandungan bahan

    organiknya semakin tinggi. Sebab dari warna tanah semakin ke bawah warnanya

    semakin gelap dan persentase kandungan bahan organiknya semakin tinggi.

    Pada tabel 11menunjuka hasil lapangan Data dari Abney Level dengan

    hasil presentase kelerengan yaitu 18%. Dapat diketahui lereng atau kemiringan

    lahan adalah salah satu faktor pemicu terjadinya erosi danlongsor di lahan

    pegunungan. Peluang terjadinya erosi dan longsor makin besar denganmakin

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    curamnya lereng. Makin curam lereng makin besar pula volume dan kecepatan

    aliran permukaan yang berpotensi menyebabkan erosi. Selain kecuraman, panjang

    lereng juga menentukan besarnyalongsor dan erosi. Makin panjang lereng, erosi

    yang terjadi makin besar.

    Erosi dapat dicegah dengan mempertahankan tanaman dan pepohonan

    sebanyak mungkin, dan dengan mengarahkan aliran air permukaan agar masuk ke

    dalam selokan, kolam, dan aliran air alami. Saat erosi sudah parah, masih ada

    kemungkinan untuk menghentikannya dan mengembalikan kesuburan tanah.

    Bahkan dengan meletakkan sebarisan batu atau membangun dinding batu yang

    rendah membujur di kemiringan lahan dapat mencegah tanah terhanyut ke kaki

    bukit, dan menciptakan tempat yang subur untuk pohon dan tanaman pangan.

    Metode penanaman pun dapat membantu tanah yang tererosi misalnya

    dengan menanam kacang tanah + kedelai dan jagung + ubikayu/kedelai. Metode

    usahatani berkelanjutan seperti penggunaan pupuk hijau, melakukan rotasi

    tanaman, pemberian mulsa, dan penanaman pohon bersama dengan tanaman

    pangan juga merupakan cara melindungi tanah dan mempertahankan sumberdaya

    air.

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    KESIMPULAN DAN SARAN

    Kesimpulan

    1. Tingkat erosi suatu lahan dapat diperkirakan dengan rumus Universal SoilLoss Equation (USLE) yang dikembangkan oleh Weiscmeier dan Smith,

    yaitu A = R x K x L x S x C x P.

    2. Dengan melakukan tindakan konservasi pada suatu lahan maka kita telahberusaha untuk mengendalikan erosi pada lahan tersebut.

    3. Makin panjang lereng, erosi yang terjadi makin besar.4. Dampak utama erositerhadap pertanian adalah kehilangan lapisan atas tanah

    yang subur, berkurangnya kedalamanlahan, kehilangan kelembapan tanah dan

    kehilangan kemampuan lahan untuk menghasilkantanaman yang

    menguntungkan.

    Saran

    Saran untuk praktikum ini adalah pada praktikum dilahan mengenai erosi

    serta reklamasinya ini dilakukan langsung oleh masinng-masing mahasiswa dan

    asistennya agar mahasiswa tidak hanya mendengar tetapi langsung melakukan

    cara reklamasinya tersebut serta dapat lebih memahaminya.

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    DAFTAR PUSTAKA

    Anonim. 2012. Konservasi Tanah. http://id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal

    17 Juni 2012.

    Askari wahyu. 2010. Bentuk-Bentuk Erosi. http://wahyuaskari.wordpress.com.

    Diakses pada tanggal 17 Juni 2012.

    Ibnu. 2011. Terasering. http://ibnuutd.blogspot.com. Diakses pada tanggal 17

    Juni 2012.

    Noerd. 2011. Konservasi Tanah. http://noerdblog.wordpress.com. Diakses pada

    tanggal 17 Juni 2012.

    Nurina Endra. 2008. Pendugaan Erosi Dengan Metode Usle.http://konservasisitudepok.wordpress.com. Diakses pada tanggal 17 Juni

    2012.

    Sastro wijanarko. 2012. Konservasi dan reklamasi lahan.

    http://sastrowijanarko.blogspot.com. Diakses pada tanggal 18 Juni 2012.

    http://wahyuaskari.wordpress.com/http://sastrowijanarko.blogspot.com./http://sastrowijanarko.blogspot.com./http://wahyuaskari.wordpress.com/
  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    LAMPIRAN

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Tabel 12. Pernilaian ukuran butir (M) (Hammer, 1978)

    Kelas Tekstur (USDA) Nilai M

    Liat Berat (Heavy Clay) 210

    Liat Sedang (Medium Clay) 750

    Liat Berpasir (Sandy Clay) 1231

    Liat Ringan (Light Clay) 1685

    Lempung Liat Berpasir (Sandy Clay Loam) 2160

    Liat Berdebu (Silty Clay) 2830

    Lempung Berliat (Clay Loam) 2830

    Pasir (Sand) 3035

    Pasir Berlempung (Loamy Clay) 3245

    Lempung Liat Berdebu (Silty Clay Loam) 3770

    Lempung Berpasir (Sandy Loam) 4005

    Lempung (Loam) 4390

    Lempung Berdebu (Silty Loam) 6330

    Debu (Silt) 8245

    Tabel 13. Kelas kandungan C-organik

    Kelas % C-org Nilai a (% bahan organik)

    sangat rendah < 1 0

    Rendah 1 -2 1

    Sedang 2,13 2

    Tinggi 3,15 3

    sangat tinggi > 5 4

    Tabel 14. Penilaian stuktur tanah (Hammer, 1978)

    Tipe Struktur Nilai b

    Granuler sangat halus (very fine granular) 1

    Granuler halus ( fine granular) 2

    granuler sedang dan besar (meduium, coarse granular) 3

    gumpal, lempeng, pejal (blocky, platy, massif) 4

    Tabel 15. Penilaian permeabilitas tanah (Hammer,1978)

    Kelas permeabilitas cm/jam Nilai c

    Cepat (rapid) > 25,4 1

    sedang sampai cepat (moderate to rapid) 12,7 - 25,4 2

    sedang (moderate) 6,3 - 12,7 3

    sedang sampai cepat (moderate to slow) 2,0 - 6,3 4

    lambat ( slow) 0,5 - 2,0 5

    sangat lambat (very slow)

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Tabel 16. Penilaian tekstur lapangan untuk dipergunakan dalam nomograph

    (Hammer 1978)

    Kelas tekstur Nilai

    Liat Berat (Heavy Clay) 2

    Liat Sedang (Medium Clay) 15

    Liat Berpasir (Sandy Clay) 16

    Liat Ringan (Light Clay) 20

    Lempung Liat Berpasir (Sandy Clay Loam) 23

    Liat Berdebu (Silty Clay) 26

    Lempung Berliat (Clay Loam) 33

    Pasir (Sand) 38

    Pasir Berlempung (Loamy Clay) 43

    Lempung Liat Berdebu (Silty Clay Loam) 45

    Lempung Berpasir (Sandy Loam) 45

    Lempung (Loam) 46

    Lempung Berdebu (Silty Loam) 68

    Debu (Silt) 74

    Tabel 17. Kelas kemiringan lahan (LS)

    No Kemiringan lereng (%) Nilai LS

    1 08 0,25

    2 815 1,20

    3 15 - 25 4,254 25 - 45 9,50

    5 >45 12,00

    Tabel 18. Nilai Kemiringan Lereng

    No Kelas Lereng Nilai Klasifikasi

    1 I 08 % Datar

    2 II 815 % Landai

    3 III 1525 % Agak cuiram

    4 IV 2545 % Curam5 V >45 % Sangat curam

    Tabel 19. Prakiraan Nilai C

    No Macam Penggunaan Nilai Faktor C

    1. Tanah terbuka tanpa tanaman 1,000

    2. Sawah 0,010

    3. Tegalan tidak dispesifikan 0,700

    4. Ubi kayu 0,800

    5. Jagung 0,700

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    6. Kedelai 0,399

    7. Kentang 0,400

    8. Kacang Tanah 0,200

    9. Padi 0,561

    10. Tebu 0,200

    11. Pisang 0,600

    12. Akar wangi (sereh wangi) 0,400

    13. Rumput bede (tahun pertama) 0,287

    14. Rumput bede (tahun kedua) 0,002

    15. Kopi dengan penutup tanah buruk 0,200

    16. Talas 0,850

    17. Kebun campuran

    - Kerapatan tinggi 0,100

    - Kerapatan sedang 0,200

    - Kerapatan rendah 0,500

    18. Perladangan 0,400

    19. Hutan alam

    - Seresah banyak 0,001

    - Seresah sedikit 0,005

    20. Hutan Produksi

    - Tebang habis 0,500

    - Tebang Pilih 0,200

    21. Semak belukar/ padang rumput 0,300

    22. Ubi kayu + kedelai 0,181

    23. Ubi kayu + kacang tanah 0,195

    24. PadiSorgun 0,345

    25. Padikedelai 0,417

    26. Kacang tanah + gude 0,495

    27. Kacang tanah + Kacang tunggak 0,571

    28. Kacang tanah + mulsa jerami 4 ton/ha 0,049

    29. Padi + mulsa jerami 4 ton/ ha 0,096

    30. Kacang tanah + mulsa jagung 4 ton/ ha 0,128

    31. Kacang tanah + mulsa clotaria 3 ton/ ha 0,136

    32. Kacang tanah + mulsa kacang tunggak 0,259

    33. Kacang tanah + mulsa jerami 2 ton/ ha 0,377

    34. Padi + mulsa crotalaria 3 ton/ ha 0,387

    35. Pola tanam tumpang gilir + mulsa jerami 0,079

    36. Pola tanam berurutan + mulsa sisa tanaman 0,357

    37. Alang-alang murni subur 0,001

    38. Karet * 0,200

    39. Permukiman** 0,500

    Sumber : Data Pusat Penelitian Tanah (19731981) tidak dipublikasikan

    *) Morgan, 1987 dalam Rahim, 2000

    **) Setya Nugraha, 1997

    Tabel 20. Nilai Faktor P untuk Berbagai Tindakan Konservasi Tanah Khusus

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    No. Tindakan khusus konservasi tanah Nilai P

    1. Teras bangku

    - Konstruksi baik

    - Konstruksi sedang

    - Konstruksi kurang baik- Teras tradisional

    0,04

    0,15

    0,350,40

    2. Strip tanaman rumput bahia 0,40

    3. Pengolahan tanah dan penanaman

    menurut garis kontur

    - Kemiringan 08 %

    - Kemiringan 920 %

    - Kemiringan lebih dari 20 %

    0,50

    0,75

    0,90

    4. Tanpa tindakan konservasi 1,00

    Tabel 21. Kode Permeabilitas Profil Tanah

    Kelas permeabilitas Kecepatan (cm/jam) Kode

    Sangat lambat < > 6

    Lambat 0,52,0 5

    Lambatsedang 2,06,3 4

    Sedang 6,312,7 3

    Sedangcepat 12,725,4 2

    Cepat > 25,4 1

    Tabel 22. Pengharkatan Indeks Bahaya Erosi (IBE)Indeks Bahaya Erosi (IBE) Kelas

    1,0 Rendah

    1,014,0 Sedang

    4.0110,00 Tinggi

    10,01 Sangat tinggi

    Tabel 23. Nilai faktor C dengan pertanaman tunggal (Abdulrachman, Sopiah, dan

    Undang, 1981), dan (Hammer, 1981).

    No. Jenis Tanaman Abdulrachman cs Hammer1. Rumput Brachiaria 0,3

    decumbers tahun I 0,287

    2. Rumput Brachiaria 0,002

    decumbers tahun II 0,002

    3. Karang Tunggak 0,161 -

    4. Sorghum 0,242 -

    5. Ubi Kayu - 0,8

    6. Kedelai 0,399 -

    7. Serai Wangi 0,434 0,4

    8. Kacang tanah 0,20 0,2

    9. Padi (lahan kering) 0,561 0,5

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    10. Jagung 0,637 0,7

    11. Padi sawah 0,01 0,01

    12. Kentang - 0,4

    13. Kapas, tembakau 0,50,7*) -

    14. Nanas dengan penanamanmenurut

    kontur : -

    a. dengan mulsa dibakar 0,20,5*) -

    b. dengan mulsa dibanam 0,10,3*) -

    c. dengan mulsa dipermukaan 0,01 0,2

    15. Tebu - 0,6

    16. Pisang (jarang yang monokultur) - 0,86

    17. Talas - 0,9

    18. Cabe, jahe, dan lain-lain - 0,1

    19. Kebun campuran (rapat) -Kebun campuran 0,2

    Ubi kayu + kedelai -

    Kebun campuran gude dan

    kacang0,5

    Tanah (jarang) 0,495 0,4

    20. Ladang berpindah - 1,0

    21. Tanah kosong diolah 1,0 0,95

    22. Tanah kosong tak diolah - -

    23. Hutan tak terganggu 0,001 -

    24. Semak tak terganggu 0,01 -

    Sebagian berumput 0,10 -

    25. Alang-alang permanen 0,02 -

    26. Alang-alang dibakar 1 kali 0,70 -

    27. Semak lantana 0,51 -

    28. Albizia dengan semak campuran 0,012

    29. Albizia bersih tanpa semak -

    dan tanpa serasah 1,0 -

    30. Pohon tanpa semak 0,32 -

    31. Kentang ditanam searah lereng 1,0 -

    32.Kentang ditanam menurut

    kontur0,35

    33.Pohon-pohon dibawahnya

    dipacul

    (diolah) 0,21 -

    34. Bawang daun ditanam dalam

    bedengan 0,09 -

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Tabel 24. Nilai faktor C dengan berbagai pengelolaan tanaman (Abdulrachman,

    Sopiah, dan Undang,1981).

    No. Pengelolaan Pertanian Nilai C

    1. Ubi kayu + kedelai 0,131

    2. Ubi kayu + kacang tanah 0,195

    3. Padi + sorghum 0,345

    4. Padi + kedelai 0,417

    5. Kacang tanah + gude 0,495

    6. Kacang tanah + mulsa jerami 4 ton/Ha 0,049

    7. Kacang tanah + kacang tunggak 0,571

    8. Padi + mulsa jerami 4 ton/Ha 0,096

    9. Kacang tanah + mulsa jagung 4 ton/Ha 0,120

    10. Kacang tanah + mulsa crotalaris 3 ton/Ha 0,136

    11. Kacang tanah + mulsa kacang tanah 0,259

    12. Kacang tanah + mulsa jerami 0,377

    13. Padi + mulsa crotalaris 3 ton/Ha 0,337

    14. Pola tanam tumpang gilir *) + mulsa jerami

    6 ton/Ha/tahun 0,079

    15.Pola tanam berurutan **) + mulsa sisa

    tanaman0,347

    16. Pola tanam berurutan 0,493

    17.Pola tanam tumpang gilir + mulsa sisa

    tanaman0,357

    18. Pola tanam tumpang gilir 0,583

    Keterangan :

    - Jagungpadiubi kayu, setelah panen padi kemudian ditanam kacang tanah- Padijagungkacang tanah

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    Tabel 25. Nilai Faktor P berbagai aktivitas konservasi tanah (Abdulrachman dkk,

    1984 dalam (Asdam, 1995))

    No. Teknik Konservasi Tanah Nilai P

    1. Teras bangkua. baik 0,20

    b. jelek 0,350

    2. Teras bangku : jagungubi kayu/kedelai 0,056

    3. Teras bangku : sorghum-sorghum 0,024

    4. Teras trasional 0,40

    5. Teras gulud : padijagung 0,013

    6. Teras gulud : ketela pohon 0,063

    7. Teras gulud : kacang kedelai 0,105

    8. Tanaman dalam kontur

    a. kemiringan : 03 % 0,50b. kemiringan : 920 % 0,75

    c. kemiringan : > 20 % 0,90

    9. Tanaman dalam jalur-jalur : jagung - kacang 0,05

    mulsa limbah jerami

    a. 6 ton/ha/tahun 0,30

    b. 3 ton/ha/tahun 0,50

    c. 1 ton/ha/tahun 0,80

    10. Tanaman perkebunan

    a. penutup rapat 0,10

    b. penutup sedang 0,50

    11. Padang rumput

    a. baik 0,04

    b. jelek 0,44

    Tabel 26. Dokumentasi Praktikum yang dilakukan

    No Gambar Keteragan

    1

    Mengukur kelerengan dengan

    menggunakan water pass dengan

    memasang selang pada ketinggian 50

    cm

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    2

    Mengukur lebar diameter pada

    ketinggian yang sudah dipatokkan

    dengan selang tersebut

    3

    Pengukuran kelerengan dengan

    menggunakan abney level dengan

    melihat patok yang sejajar di atas.

    4

    Kegiatan membor tanah dengan

    tujuan untuk mengklasifikasikan

    tanah dan kesesuaian lahan.

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    5

    Mengklasifikasikan tanah dengan

    melihat perbedaan warna tanah

    dilahan tersebut.

    6

    Mengetahui tekstur tanah dengan

    mengukur panjang tanah yang telah

    di kepal dan dibikin peta.

    7

    Mengetahui tekstur tanah dengan

    merasakan dan meraba tanah yang

    dicampur dengan air pada telapaktangan

  • 5/23/2018 Laporan Praktikum Konservasi Tanah dan Reklamasi Lahan

    8Alat yang digunakan untuk mengukur

    pH tanah

    9

    Untuk mengetahui perbedaan tanah

    yang ada di TPA dan yang ada di

    kebun karet dengan melihat

    perbedaan warna tanah

    10Mengukur tinggi dan rendahnya ph

    tanah yang ada dilahan.