laporan praktikum fistum

Download laporan praktikum fistum

Post on 20-Jun-2015

2.589 views

Category:

Education

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa: 1.Peristiwa plasmolisis adalah peristiwa lepasnya membrane sel dari dinding sel sebagai dampak dari hipertonisnya larutan dari luar sel, sehingga cairan yang berada di dalam sel keluar dari sel dan akibatnya tekanan turgor sel menjadi nol. 2.Sel tumbuhan yang dimasukan dalam larutan glukosa akan mengalami plasmolisis, dan semakin tinggi konsentrasi larutan maka semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis . 3.Inciepient plasmolysis adalah suatu keadaan dimana setengah sel dari seluruh jumlah sel menunjukkan tanda-tanda plasmolisis. 4. Inciepient plasmolysis (IP) pada percobaan ini terjadi pada konsentrasi 0,20 M 5. Semakin tinggi konsentrasi larutan maka semakin banyak sel yang berplasmolisis karena konsentrasi larutan semakin pekat dan semakin tinggi konsentrasi larutan maka semakin sedikit jumlah sel yang tidak berplasmolisis .

TRANSCRIPT

  • 1. LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN Tekanan Osmosis KELOMPOK 2 / SHIF III 1. Aini Maskuro(0910211107)2. Arizal irawan(0910211082)3. Efriyanti Nilasari(0910211100)4. Corina oktavia(5. Nur imamah(0910211088)PROGRAM STUDY PENDIDIKAN BIOLOGI JURUSAN PENDIDIKAN MIPA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER 2011

2. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Tujuan : Setelah menyelesaikan acara praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat menghitung tekanan osmosis cairan sel . 1.2 Dasar Teori Komponen potensial tumbuhan terutama terdiri dari atas potensial osmosis (solute) dan potensial turgor (tekanan). Dengan adanya potensial osmosis cairan sel,air murni cenderung memasuki sel. Sebaliknya potensial turgor di dalam sel mengakibatkan air meninggalkan sel. Untuk mengatur potensial osmosis , potensial turgor nol . potensial turgor sama dengan nol jika sel mengalami plasmolisis. Plasmolisis adalah peristiwa keluarnya cairan sel karena adanya tekanan osmosa,bilamana sel tersebut berada dalam larutan yang hipertonis dalam keadaan inspien plasmolysa, tekanan osmosa cairan sel sama dengan tekanan osmosa larutan dimana sel tersebut direndam. Jika sel dalam larutan yang encer (hipotonis) maka cairan yang untuk merendam sel tersebut akan mengalir masuk kedalam sel , sel menggembung. Inspien plasmolysa dapat dikenali apabila dalam suatu larutan dijumpai sekumpulan sel yang 50% tidak berplasmolisis.dalam hal ini digunakan nilai rata-rata karena potensial osmosis sel-sel tersebut tidak sama . Pada waktu terjadi plasmolisis inspien , sel berada dalam keadaan tanpa tekanan. Potensial osmosis larutan eksternal memiliki nilai sama dengan potensial osmosis ciran sel.dalam keadaan seperti ini larutan eksternal dikatakan isotonic terhadap cairan sel.Gambar perbedaan konsentrasi yang menyebabkan perubahan pada dinding sel 3. Dengan menghitung nilai potensial osmosis larutan sukrosa yang isotonic terhadap cairan sel,maka nilai potensial osmosis sel dapat diketahui. Nilai potensial osmosis cairan sel tumbuhan berkisar -10 dan -20 atm . Nilai potensial air di dalam sel dan nilainya di sekitar sel akan mempengaruhi difusi air dari dan ke dalam sel tumbuhan. Dalam sel tumbuhan ada tiga faktor yang menetukan nilai potensial airnya, yaitu matriks sel, larutan dalam vakuola dan tekanan hidrostatik dalam isi sel. Hal ini menyebabkan potensial air dalam sel tumbuhan dapat dibagi menjadi 3 komponen yaitu potensial matriks, potensial osmotik dan potensial tekanan (Wilkins, 1992). Sel tumbuhan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sel epidermis bawah daun Rhoeo discolor, sedangkan konsentrasi larutan sukrosa yang digunakan adalah 0 M; 0,16 M; 0,18 M; 0,20 M; 0,22 M; 0,24 M dan 0,26 M. Osmosis pada hakekatnya adalah suatu proses difusi. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa osmosis adalah difusi air melaui selaput yang permeabel secara differensial dari suatu tempat berkonsentrasi tinggi ke tempat berkonsentrasi rendah. Tekanan yang terjadi karena difusi molekul air disebut tekanan osmosis. Makin besar terjadinya osmosis maka makin besar pula tekanan osmosisnya. Menurut Kimball (1983) bahwa proses osmosis akan berhenti jika kecepatan desakan keluar air seimbang dengan masuknya air yang disebabkan oleh perbedaan konsentrasi. Sistem osmotik,alat ukur osmosis disebut osmometer.umunya osmometer adalah perkakas laboratorium,tapi sel hidup dapat pula di anggap sebagai sistem osmotik. Pada keduanya ,biasanya terdapat 2 hal yang penting pertama ,2 larutan atau lebih atau air murni ,dipisahkan satu sama lain oleh membran yang lebih membatasi pergerakan unsur terlarut daripada molekul pelarut.kedua,biasanya terdapat sarana untuk membangun membrannya bersifat semi permiable yang melakukan pelarut air dengan mudah tapi tidak melarutkan larutan. Larutan demikian kuat terbatasi sehingga pergerakan air kedalam osmometer tidak banyak menaikkan volume larutan.osmometer yang ha,pir sempurna dapat dibuat di laboratorium namun sel tidak pernah berfungsi sebagai sistem osmotik yang sempurna.(Frank B salisbury,1995;47) Menurut Tjitrosomo (1987), jika sel dimasukan ke dalam larutan gula, maka arah gerak air neto ditentukan oleh perbedaan nilai potensial air larutan dengan nilainya didalam sel. Jika 4. potensial larutan lebih tinggi, air akan bergerak dari luar ke dalam sel, bila potensial larutan lebih rendah maka yang terjadi sebaliknya, artinya sel akan kehilangan air. Apabila kehilangan air itu cukup besar, maka ada kemungkinan bahwa volum sel akan menurun demikian besarnya sehingga tidak dapat mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Membran dan sitoplasma akan terlepas dari dinding sel, keadaan ini dinamakan plasmolisis. Sel daun Rhoeo discolor yang dimasukan ke dalam larutan sukrosa mengalami plasmolisis. Semakin tinggi konsentrasi larutan maka semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis. Membran protoplasma dan sifat permeabel deferensiasinya dapat diketahui dari proses plasmolisis. Permeabilitas dinding sel terhadap larutan gula diperlihatkan oleh sel-sel yang terplasmolisis. Apabila ruang bening diantara dinding dengan protoplas diisi udara, maka dibawah mikroskop akan tampak di tepi gelembung yang berwarna kebiru-biruan. Jika isinya air murni maka sel tidak akan mengalami plasmolisis. Molekul gula dapat berdifusi melalui benangbenang protoplasme yang menembus lubang-lubang kecil pada dinding sel. Benang-benang tersebut dikenal dengan sebutan plasmolema, dimana diameternya lebih besar daripada molekul tertentu sehingga molekul gula dapat masuk dengan mudah (Salisbury, 1995). Komponen potensial air pada tumbuhan terdiri atas potennsial osmosis (solut) dan potensial turgor (tekanan). Dengan adanya potensial osmosis cairan sel, air murni cenderung memasuki sel. Sebaliknya potensial turgor di dalam sel mengakibatkan air meninggalkan sel. Pengaturan potensial osmosis dapat dilakukan jika potensial turgornya sama dengan nol yang terjadi saat sel mengalami plasmolisis. Nilai potensial osmotik dalam tumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : tekanan, suhu, adanya partikel-partikel bahan terlarut yang larut di dalamnya, matrik sel, larutan dalam vakuola dan tekanan hidrostatik dalam isi sel. Nilai potensial osmotik akan meningkat jika tekanan yang diberikan juga semakin besar. Suhu berpengaruh terhadap potensial osmotik yaitu semakin tinggi suhunya maka nilai potensial osmotiknya semakin turun (semakin negatif) dan konsentrasi partikel-partikel terlarut semakin tinggi maka nilai potensial osmotiknya semakin rendah (Meyer and Anderson, 1952). Adanya potensial osmosis cairan sel air murni cenderung untuk memasuki sel, sedangkan potensial turgor yang berada di dalam sel mengakibatkan air untuk cenderung meninggalkan sel. Saat pengaturan potensial osmosis maka potensial turgor harus sama dengan 0. Agar potensial turgor sama dengan 0 maka haruslah terjadi plasmolisis. Plasmolisis adalah 5. suatu proses lepasnya protoplasma dari dinding sel yang diakibatkan keluarnya sebagian air dari vakuola (Salisbury and Ross, 1992). Menurut Winduwati (2000), karakteristik permeasi air pada membran osmosis balik telah dipelajari dengan menggunakan membran komposit modul modul sopitral wound dan larutan klorida dalam air dalam larutan umpan.BAB II METODOLOGI 1. Timbang glukosa 342 g . setelah itu larutan stok glukosa 1 M ,dengan cara melarutkan 342 gr glukosa tersebut ke dalam 500 ml aquades.selanjutnya selanjutnya dibuat larutan sukrosa dengan konsentrasa 0M ; 0,16 M ; 0,18 M ; 0,20 M ; 0,22 M ; 0,24 M ; dan 0,26 M dengan cara mengencerkan larutan stok glukosa 1 M . misalnya akan dibuat larutan glukosa 0,16 M dari stok 1 M dengan volume sebanyak 100 cc.VIMI = V2M2 Keterangan : V1= Volume larutan sukrosa stok (1M)M1= Molaritas larutan sukrosa (1M) 6. V2= Volume larutan sukrosa yang akan dibuat (100ml)M2= Molaritas larutan sukrosa yang akan dibuat (0,16M)Contoh : V1.M1 = V2.M2 V1.1= 100.0,16V1= 16Jadi diambil larutan stok glukosas 1 M sebanyak 16 ml,kemudian ditambah aquades 84 ml sehingga volume akhir menjadi 100ml. dengan cara yang sama dibuat larutan glukosa lain . 2. Dalm botol vial diisi 5ml larutan glukosa.tiap botol digunakan untuk 1 konsentrasi larutan.3. Dengan menggunakan pisau silet ,dibuat sayatan membujur tipis epidermis bawah daun Rhoeo discolor yang berwarna ungu. Paling sedikit sayatan tersebut mengandung 25 buah sel epidermis yang berwarna ungu (mengandung antosianin). 4. 2 atau 3 sayatan epidermis dimasukkan kedalam botol yang sudah berisi larutan. 7. 5. Biarkansayatanberadadalamlarutansukrosaselama15menit.6. Setelah 15 menit syatan epidermis tadi diletakkan di atas gelas obyek . gelas obyek ini sebelumnya telah ditetesi larutan glukosa dengan konsentrasi larutan glukosa pada masing-masing botol. Dengan pertolongan ujung jarum ,gelas obyek ditutup dengan gelas penutup.periksasayatanepidermistadidibawahmikroskop.7. Tentukan 25 sel epidermis yang tampak dibawah mikroskop. Hitunglah jumlah sel yang berplasmolisis dan yang tidak berplasmolisis.catat hasil perhitungan ini dalam suatu table.kemudiandihitungjumlahselyangmengalamiplasmolisis.8. mencari konsentrasi larutan sukrosa 50 % jumlah epidermisnya mengalami plasmolisis. Untuk menentukan konsentrasi larutan yang menyebabkan plasmolisis inspient. 9. Sel epidermis pada keadaan plasmolisis inspient memiliki potensial osmosis larutan yang digunakan. 8. Menghitung nilai potensial osmosis cairan sel dengan menggunakan rumus : =22,4MT atm 273 9. BAB III HASIL PENGAMATAN VIMI = V2M2 Keterangan : V1= Volume larutan sukrosa stok (1M)M1= Molaritas larutan sukrosa (1M)V2= Volume larutan sukrosa yang akan dibuat (100ml)M2= Molaritas larutan sukrosa yang akan dibuat (0,16M)Pada saat praktikum tidak menggunakan sukrosa tapi menggunakan glukosa . 10. 1. V1.M1 = V2.M2 V1.1= 100.0 MV0 ml larutan stok gula + 100 ml aquades= 0 ml2. V1.M1 = V2.M2 V1.1= 100.0,16 MV16 ml larutan stok gula + 84 ml aquades= 16 ml3. V1.M1 = V2.M2 V1.1= 100.0,18 MV18 ml larutan