laporan praktikum biokimia kedoktera1

Click here to load reader

Post on 06-Aug-2015

596 views

Category:

Documents

41 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KEDOKTERAN BLOK HEMATOIMUNOLOGI PEMERIKSAAN FRAGILITAS ERITROSIT (Metode Daya Tahan Osmotik Cara Visual)

Disusun oleh : Nama NIM Asisten : Dera Fakhrunnisa : G1A009020 : Ayu Asyifa RF

Kelompok : V

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN PURWOKERTO 2010 LEMBAR PENGESAHAN

PEMERIKSAAN FRAGILITAS ERITROSIT (Metode Daya Tahan Osmotik Cara Visual)

Oleh : Dera Fakhrunnisa G1A009020 Kelompok V

Disusun untuk memenuhi tugas Praktikum Biokimia Blok Hematoimunologi Jurusan Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Diterima dan disahkan Purwokerto, September 2010 Asisten

Ayu Asyifa RF NIM. G1A007028

BAB I

DASAR TEORI

A. Struktur Eritrosit Sel darah merah mempunyai bentuk bikonkaf dengan diameter 7,8 m. Tepi luar dari sel darah merah mempunyai ketebalan 2,5 m, di bagian tengahnya mempunyai ketebalan 1 m (Guyton and Hall, 2006). Membran sel darah merah bersifat selektif permeabel, yaitu dapat ditembus oleh substansi atau ion-ion tertentu tapi tidak dapat ditembus oleh substansi dan ionion lain. Membran sel darah merah bersifat permeabel pada ion-ion H+, OH-, NH4+, PO4, HCO3-, Cl- dan juga oleh substansi-substansi lain seperti glukosa, asam amino, asam urat, dan urea. Sebaliknya membran sel darah merah tidak dapat di tembus oleh Na+, K+, Ca2+, Mg2+, fosfat organik dan juga substansi lain seperti hemoglobin dan protein plasma (Ascalbiass, 2010). Bentuk bikonkaf pada sel darah merah berfungsi untuk meningkatkan rasio permukaan terhadap volume sel darah merah sehingga mempermudah pertukaran gas. Untuk mempertahankan bentuknya agar tetap bikonkaf sela darah merah mengandung komponen sitoskeletal (Murray, 2009). Terdapat sejumlah protein sitoskeleton perifer yang melekat pada bagian dalam membran sel darah merah, yaitu :1) Spektrin yang merupakan protein utama sitoskeleton. Protein ini terdiri dari dua

polipeptida yaitu spektrin 1 (rantai ) dan spektrin 2 (rantai ). Kedua rantai tersebut mempunyai panjang sekitar 100 nm. Di spektrin terdapat sedikitnya empat tempat pengikatan yaitu untuk penyusun diri sendiri, untuk ankhirin, untuk aktin dan untuk protein 4.1 (Murray, 2009).

2) Ankirin adalah suatu protein berbentuk piramid yang mengikat spektrin. Ankirin

kemudian berikatan erat dengan pita 3 yang memperkuat perlekatan spektrin pada membran. Ankirin juga peka terhadap proteolisis (Murray, 2009). 3) Aktin terdapat di sel darah merah sebagai filamen pendek heliks ganda F-aktin. Ekor dimer spektrin berikatan dengan aktin. Aktin juga berikatan dengan protein 4.1 (Murray, 2009).4) Protein 4.1 adalah suatu protein globular yang berikatan erat dengan ekor

spektrin di tempat yang dekat dengan lokasi terikatnya aktin. Protein 4.1 berikatan dengan protein integral, glikoforin A dan C. Selain itu protein 4.1 juga berinteraksi dengan fosfolipid membran tertentu sehingga lapisan ganda lipid terhubung dengan sitoskeleton (Murray, 2009). 5) Protein tertentu lainnya (4.9, addusin dan tropomiosin) juga ikut serta dalam pembentukan sitoskeleton (Murray, 2009).

Gambar 1. Membran Eritrosit

B. Metabolisme Eritrosit a) Glikolisis Glikolisis menghasilkan laktat pada jalur produksi ATP. Sedangkan pada fosforilasi oksidatif tidak terjadi pembentukan ATP karena tidak terdapat

mitokondria di sel darah merah. Sel darah memiliki beragam pengangkut yang mempertahankan keseimbangan antara iondan air (Murray, 2009). Pembentukan 2,3-bifosfogliserat oleh reaksi-reaksi yang berkaitan erat dengan glikolisis penting dalam mengatur kemampuan Hb dalam mengangkut oksigen (Murray, 2009). Glikolisis menghasilkan seliseh 2 ATP yang dihasilkan pada fosforilasi oksidatif dan 2 NADH (Reece dan Mitchell, 1999). b) Pentosafosfat Jalur ini beroperasi dalam sel darah merah dan memetabolisme sekitar 510 % aliran total glukosa. Jalur ini menghasilkan NADPH (Murray, 2009). c) Glutation sintesis Glutation tereduksi (GSH) berfungsi mengimbangi efek peroksida yang berpotensi toksik, sel darah merah dapat membentuk glutation tereduksi dan memerlukan NADPH untuk mengembalikan glutation teroksidasi (Murray, 2009).d) HMP Shunt

HMP Shunt berfungsi untuk menghasilkan NADPH yang diperlukan untuk proses anabolik di luar mitokondria, misalnya sintesis glikogen, asam lemak dan asam nukleat. Selain itu HMP Shunt juga menghasilkan G6PD yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas (Murray, 2009).

C. Fragilitas Eritrosit Fragilitas sel darah merah adalah daya tahan sel darah merah terhadap hemolisis dalam keadaan tertentu (Newman, 2002).

Fragilitas sel darah merah mencerminkan kemampuan sel darah merah untuk memasukkan sejumlah larutan sebelum sel darah merah tersebut lisis akibat membran selnya tertekan oleh larutan di dalam sel yang memiliki tekanan osmotik lebih tinggi dibandingkan dengan diluar sel. Larutan yang memiliki tekanan osmotik lebih rendah dibandingkan dengan tekanan osmotik di dalam sel darah merah disebut larutan hipotonis (Kumar, 2002). Jika sel darah merah berada dalam larutan hipertonis, yaitu larutan yang memiliki tekanan osmotik lebih tinggi jika dibandingkan dengan tekanan osmotik di dalam sel, maka sel darah merah akan mengalami krenasi karena cairan di dalam sel darah merah keluar ke cairan di sekitarnya (Martini,2009). Tetapi jika sel darah merah berada dalam larutan isotonis, sel darah merah akan tetap normal karena tekanan osmotik di dalam dan di luar sel sama (Martini, 2009).

Gambar 2. Tekanan Osmotik pada Sel Darah Merah

D. Faktor Yang Mempengaruhi Fragilitas Eritrosit Fragilitas sel darah merah dipengaruhi oleh bentuk sel darah merah itu sendiri. Bentuk sel darah merah yang normal adalah bikonkaf, dengan bentuk seperti ini sel darah merah mampu menahan larutan hipotonis dengan meningkatkan volume sel sebanyak 70% sebelum akhirnya sel darah merah itu lisis (Kumar, 2002).

Gambar 3. Eritrosit normal

Sferosit adalah sel darah merah dengan bentuk yang abnormal yaitu berbentuk bulat, memiliki kemampuan yang terbatas untuk meningkatkan volume sel, sehingga sel darah merah tersebut tidak mampu mengakomodasi dengan baik tekanan osmotik pada larutan hipotonis. Hal ini menyebabkan sel darah merah lebih mudah lisis dibandingkan sel darah normal (Kumar, 2002).

Gambar 4. Sferosit

Leptosit adalah sel darah merah dengan bentuk abnormal seperti elips. Leptosit mengalami lisis pada konsentrasi larutan yang lebih rendah dibandingkan dengan pada sferosit maupun sel darah merah normal (Kumar, 2002).

Gambar 5. Leptosit atau Sel Target

Selain dipengaruhi oleh bentuk, fragilitas juga dipengaruhi oleh pH dan suhu. Penurunan pH dapat mengakibatkan fragilitas eritrosit meningkat. Sedangkan peningkatan suhu dapat mengakibatkan penurunan fragilitas eritrosit (Heffron and Mitchell, 1981).

Umur dari sel darah merah juga berpengaruh terhadap fragilitas, sel darah merah yang sudah tua memiliki membran sel yang sudah rapuh sehingga mudah mengalami lisis (Ascalbiass, 2010).

BAB II PEMBAHASAN A. Alat dan Bahan a) Alat : 1. Tabung reaksi 12 buah2. Vacum med

3. Rak tabung reaksi 4. Pipet 5. Label b) Bahan : 1. Darah EDTA 2. NaCl 0,5% 3. Aquades

B. Cara Kerja 1. Dilakukan pengenceran NaCl 0,9% menjadi NaCl 0,5% dengan

menambahkan aquades sebanyak 45 ml. 2. Disusun sebanyak 12 tabung reaksi pada rak dan dibagi menjadi 2 baris, masing-masing berisi 6 tabung. 3. Masing-masing tabung diberi nomor dari kiri ke kanan dengan urutan 25, 24, 23, 22, 21, 20, 19, 18, 17, 16, 15, 14. 4. Diteteskan NaCl 0,5% dengan pipet yang banyaknya disesuaikan dengan nomor tabung. 5. Diteteskan pula aquades pada tabung sampai volumenya berjumlah 25 tetes tiap tabung. Contoh: 24 tetes NaCl 0,5 % + 1 tetes aquades.

6. Konsentrasi pada masing-masing larutan menjadi 0,5%; 0,48%; 0,46%; 0,44%; 0,42%; 0,40%; 0,38%; 0,36%; 0,34%; 0,32%; 0,30%; 0,28%. 7. Diambil darah vena dari probandus dengan menggunakan spuit sebanyak 3 cc.8. Darah yang telah diambil dimasukkan ke dalam vacum med yang telah

dilapisi EDTA pada permukaan dindingnya.9. Masing-masing tabung diberi 1 tetes darah EDTA, diamkan selama 1 jam

pada suhu kamar. 10.Diperhatikan hasilnya, dilihat mana tabung yang terjadi hemolisis permulaan dan mana yang sudah terjadi hemolisis sempurna. 11.Hasil dibandingkan dengan kontrol normal.

C. Hasil Pengamatan Nama Probandus Umur Probandus : Rahmi Laksita Rukmi : 19 tahun

Jenin kelamin Probandus : Perempuan

25

24

23

22

21

20

0,50%

0,48%

0,46%

0,44%

0,42%

0,40%

19

18

17

16

15

14

0,38%

0,36%

0,34%

0,32%

0,30%

0,28%

Dari hasil pengamatan yang dilakukan, setelah campuran darah EDTA, NaCl 0,5% dan aquades diinkubasi dalam suhu ruangan selama 60 menit, didapatkan hasil yang mengalami permulaan hemolisa adalah tabung 21 dan yang sudah mengalami hemolisis sempurna yaitu tabung 15.

D. Interpretasi Hasil Pemeriksaan fragilitas eritrosit dengan mengunakan metode daya tahan osmotik cara visual memiliki nilai normal sebagai berikut : Permulaan lisis Hemolisis sempurna Pada 0,44 0,02 % NaCl Pada 0,34 0,02 % NaCl

Probandus pada mengalami permulaan hemolisis pada tabung 21 yaitu pada konsentrasi 0,42%. Berdasarkan tabel diatas dapat diihat bahwa probandus berada dalam keadaan normal. Akan tetapi probandus mengalami hemolisis sempurna pada tabung 15 yaitu pada konsentrasi 0,30%. Jika berdasarkan tabel diatas untuk hemolisa sempurna probandus kurang dari batas normal. Hal ini terjadi dikarenakan faktor kesalahan yang dilakukan ketika melakukan pengamatan, yaitu pemberian darah yang terlalu banyak pada tabung ke 15 se