laporan praktikum biokimia enmet

Click here to load reader

Post on 05-Aug-2015

303 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KEDOKTERAN BLOK ENDOKRIN DAN METABOLISME PEMERIKSAAN KOLESTEROL DARAH METODE CHOD-PAP

KELOMPOK 1 :

Kelompok 2 Anggota kelompok : Mutia Milidiah Gilang Rara Amrullah Dina Nurmala Sari Ainul Mardliyah Go Ferra Marchella G Daniel Pramandana Lumunon Gagah Baskara Adi Nugraha Annisa Noor Anindyasari G1A011003 G1A011004 G1A011033 G1A011060 G1A011061 G1A011081 G1A011108 G1A011109

Asisten : Zhita G1A010061

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEDOKTERAN 2012

LEMBAR PENGESAHAN PEMERIKSAAN KOLESTEROL DARAH

Oleh : Kelompok 2 Mutia Milidiah Gilang Rara Amrullah Dina Nurmala Sari Ainul Mardliyah Go Ferra Marchella G Daniel Pramandana Lumunon Gagah Baskara Adi Nugraha Annisa Noor Anindyasari G1A011003 G1A011004 G1A011033 G1A011060 G1A011061 G1A011081 G1A011108 G1A011109

Disusun untuk memenuhi persyaratan mengikuti ujian praktikum Biokimia Kedokteran Blok ENMET pada Fakultas Kedokteran Dan Ilmu-Ilmu Kesehatan Jurusan Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Diterima dan disahkan Purwokerto, Oktober 2012 Asisten

Zhita G1A010061

BAB I PENDAHULUAN

A. Judul Praktikum Pemeriksaan Kolesterol Darah dengan Metode CHOD-PAP. B. Tanggal Praktikum Sabtu, 13 Oktober 2012 C. Tujuan Praktikum 1. Mahasiswa akan dapat mengukur kadar kolesterol dengan metode CHODPAP. 2. Mahasiswa akan dapat menyimpulkan hasil pemeriksaan kadar kolesterol darah pada saat praktikum setelah membandingkannya dengan nilai normal. 3. Mahasiswa akan dapat melakukan diagnosa dini penyakit apa saja yang disebabkan oleh peningkatan kadar kolesterol dengan bantuan hasil praktikum yang dilakukan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Metabolisme Kolesterol Kolesterol adalah lipid amfipatik dan merupakan komponen struktural esensial pada membran dan lapisan luar lipoprotein. Kolesterol disintesis di banyak jaringan dari asetil-Koa dan merupakan prekursor semua steroid lain di tubuh, termasuk kortikosteroid, hormon seks, asam empedu dan vitamin D (Murray et al, 2009). Di dalam tubuh, kolesterol berasal dari 2 sumber, dari makanan dan dari biosntesis de novo (Mulyani & Wuryastuti, 2004). Sekitar separuh kolesterol tubuh berasal dari proses sntesis (sekitar 700mg/hari) dan sisanya diperoleh dari makanan. Hati dan usus masing-masing menghasilkan sekitar 10% dari sntesis total pada manusia. Hampir semua jaringan yang mengandung sel berinti mampu membentuk kolesterol, yang berlangsung di retikulum endoplasma dan sitosol (Murray et al, 2009). Biosintesis kolesterol dibagi menjadi 5 tahap, yaitu : 1. Biosintesis mevalonat Pada awalnya, 2 molekul asetil-KoA bersatu untuk membentuk asetoasetil-KoA yang dikatalis oleh tiolase sitosol. Asetoasetil-KoA mengalami kondensasi dengan molekul asetoasetil lain yang dikatalis oleh HMG-KoA sintase untuk membentuk HMG-KoA yang direduksi menjadi mevalonat oleh NADPH dan dikatalis oleh HMG-KoA reduktase. Ini adalah tahap regulatorik utama di jalur sntesis kolesterol dan merupakan

tempat kerja golongan obat penurun kadar kolesterol paling efektif, yaitu inhibitor HMG-KoA reduktase (golongan statin) (Murray et al, 2009).

Gambar 2.1. Biosintesis Mevalonat (Murray et al, 2009). 2. Pembentukan Unit Isopreniod Mevalonat mengalami fosforilasi secara sekuensial oleh ATP dengan tiga kinase, dan setelah dekerbooksilase terbentuk unit isoprediod aktif, isoopentenil difosfat (Murray et al, 2009).

Gambar 2.2. Pembentukan Unit Isopreniod (Murray et al, 2009). 3. Kondensasi 6 unit isopreniod untuk membentuk skualen Isopentenil difosfat mengalami isomerasi melalui pergeseran ikatan rangkap untuk membentuk dimetilalil difosfat, yang kemudian bergabung dengan molekul lain isopentenil difosfat untuk membentuk zat antara 10 karbon geranil difosfat. Kondensasi lebih lanjut dengan isopentenil difosfat membentuk farnesil difosfat. 2 molekul farnesil difosfat bergabung di ujung difosfat membentuk akualen. Pada awalnya, pirofosfat anorganik dieliminasi, yang membentuk praskualen difosfat, yang kemudian mengalami reduksi oleh NADPH disertai eliminasi 1 molekul pirofosfat anorganik lainnya (Murray et al, 2009).

Gambar 2.3. Pembentukan Skualen (Murray et al, 2009). 4. Pembentukan Lanosterol Skualen dapat melipat membentuk suatu struktur yang sangat mirip dengan inti steroid. Sebelum terjadi penutupan cincin, skualen diubah menjadi skualen 2,3-epoksida oleh oksidase berfungsi-campuran, skualen epoksidase di retikulum endoplasma. Gugus metil di C14 dipindahkan ke C13 dan ada yang di C18 ke C14 sewaktu terjadi sirkulasi, dikatalis oleh oksidoskualen:lanosterol siklase (Murray et al, 2009).

Gambar 2.4. Pembentukan Lanosterol (Murray et al, 2009).

5. Pembentukan Kolesterol Pembentukan kolesterol dari lanosterol berlangsung di membran retikulun endoplasma dan melibatkan pertukarn-pertukaran di inti steroid dan rantai samping. Gugus metil di C14 dan C4 dikeluarkan untuk membentuk 14-desmetil lanosterol dan kemudian zimosterol. Ikatan rangkap di C8 dan C9 kenudian dipindahkan ke C5-C6 dalam 2 langkah, yang membentuk desmosterol. Akhirnya, ikatan rangkap rantai samping direduksi, dan menghasilkan kolesterol (Murray et al, 2009).

Gambar 2.5. Pembentukan Kolesterol (Murray et al, 2009). Kisaran normal kadar kolesterol plasma total pada manusia adalah 45 tahun, dan wanita > 65 tahun 5. Adanya riwayat keluarga langsung/sedarah yang menderita penyakit jantung/stroke: a. Jika Pria b. Jika Wanita : < 55 tahun : < 65 tahun

Kolesterol yang berlebihan dalam darah akan mudah melekat pada dinding sebelah dalam pembuluh darah. Selanjutnya, LDL akan menembus dinding pembuluh darah melalui lapisan sel endotel, masuk ke lapisan dinding pembuluh darah yang lebih dalam yaitu intima. Makin kecil ukuran LDL atau makin tinggi kepadatannya makin mudah pula LDL

tersebut menyusup ke dalam Iintima. LDL demikian disebut LDL kecil padat ( Santoso, 2009). LDL yang telah menyusup ke dalam intima akan mengalami oksidasi tahap pertama sehingga terbentuk LDL yang teroksidasi. LDLteroksidasi akan memacu terbentuknya zat yang dpat melekatkan dan menarik monosit (salah satu jenis sel darah putih) menembus lapisan endotel dan masuk ke dalam intima disamping itu LDL-teroksidasi juga menghasilkan zat yang dapat mengubah monosit yang telah masuk ke dalam intima menjadi makrofag ( Santoso, 2009). Sementara itu LDL-teroksidasi akan mengalami oksidasi tahap kedua menjadi LDL yang teroksidasi sempurna yang dapat mengubah makrofag menjadi sel busa. Sel busa yang terbentuk akan saling berikatan membentuk gumpalan yang makin lama makin besar sehingga membentuk benjolan yang mengakibatkan penyempitan lumen pembuluh darah ( Santoso, 2009). Keadaan ini akan semakin memburuk karena LDL akan teroksidasi sempurna juga merangsang sel-sel otot pada lapisan pembuluh darah yang lebih dalam (media) untuk masuk ke lapisan intima dan kemudian akan membelah-belah diri sehingga jumlahnya semakin banyak ( Santoso, 2009). Akibatnya jantung kesulitan memompa darah dan timbul rasa nyeri di dada, suka pusing-pusing dan berlanjut ke gejala serangan jantung mendadak. Bila penyumbatan terjadi di otak, maka yang diderita adalah stroke dan bisa juga menyebabkan kelumpuhan ( Santoso, 2009).

Uraian tersebut diatas menunjukan bahwa terjadinya sumbatan pada pembuluh darah tidak semudah yang kita bayangkan. Kadar kolesterol yang tinggi perlu diwaspadai karena merupakan cikal bakal proses penyumbatan pembuluh darah, terlebih lagi bila yang meninggi adalah kadar kolesterol LDL, yang kita kenal sebagai lemak "jahat". Kalau kita lihat mekanisme pembentukan sumbatan pembuluh darah diatas, LDL semakin berbahaya bila mempunyai ukuran kecil dengan kepadatan tinggi atau yang kita kenal sebagai LDL-kecil-padat ( Santoso, 2009). 2. Atherosklerosis Atherosklerosis adalah suatu penyakit perubahan seluler pembuluh darah arteri yang berjalan kronis progresif, dengan berbagai bentuk lesi pada tunica intimadari pembuluh darah ukuran sedang dan besar seperti Aorta dan cabangnya yang menuju ke otak (Azalia, 2006). Lesi pada tunica intima disebut dengan plak steromatosa. Plak ini dimulai dengan penimbunan kristal kolesterol yang kecil dalam intima dan otot polos yang terletak di bawahnya. Seiring berjalannya waktu, kristal berkembang lebih besar dan bersatu membentuk kristal anyaman seperti kasur yang besar. Selain itu, jaringan otot halus dan jaringan fibrosa disekitarnya berproliferasi untuk membentuk plak yang makin lama makin besar. Penimbunan kolesterol ditambah proliferasi seluler dapat menjadi sangat besar sehingga plak menonjol jauh ke dalam lumen dan sangat mengurangi aliran darah, seringkali bahkan menutupi pembuluh darah. Bahkan tanpa penyumbatan, fibroblas plak akhirnya menimbun jaringan penyambung

padat yang sangat berlebihan sehingga sklerosis (fibrosis) menjadi sangat besar dan arteri menjadi kaku dan keras (Wilson, 2012). 3. Infark Miokard akut Infark miokard akut adalah suatu nekrosis iskemik pada miokard akibat sumbatan akut pada artei koroner. Infark miokard terjadi apabila arteri koroner tersumbat, miokard yang disuplai oleh arteri tersebut mengalami iskemik dan dalam beberapa jam terjadi nekrosis; pemulihan aliran darah dengan cepat bisa menceggah infark dan membatasi nekrosis. Penyebab yang amat sering adalah penyakit jantung koroner ateromatosa. Bila plak ateromatosa koroner (tidak selalu yang sangat mempersempit lumen arteri) mengalami erosi atau ruptur, terjadi penyebaran plak mendadak dan trombosis pada lumen arteri koroner (Alwi, 2009). Infark miokard akut dapat menyebabkan kematian di banyak negara maju, dan diprediksi dapat menyababkan kematian di negara berkembang pada seperempat abad mendatang. Lebih dari 500.000 orang meninggal setiap tahun karena Infark Miokard Akut (Murwani et al, 2007).

BAB V KESIMPULAN 1. Kadar kolest