laporan kimia anorganik

Author: syarif-dudynk-jhi

Post on 17-Jul-2015

201 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

to be the best

TRANSCRIPT

BAB II TINJAUN PUSTAKA

Aluminium dibuat dalam skala yang sangat besar, dari bauksit, Al2O3.nH2O (n=1-3). Ia dimurnikan dengan pelarutan dalam NaOH aqua dan diendapakan ulang sebagai Al(OH)3 dengan menggunakan CO2. Hasil dehidrasinya dilarutkan dalam larutan kryolit, dan lelehannya pada 800 0C sampai 1000 0C dielektrolisis. Aluminium adalah logam yang keras, kuat, dan berwarna putih. Meskipun sangat elektropositif, ia bagaimanapun juga tahan terhadap korosi karena lapiasan oksida yang kuat dan liat pada permukaannya. Lapaisan-lapaisan oksida oksida yang tebal seringkali dilapiskan secara elektrolitik pada aluminium, yaitu proses yang disebut anodasi; lapisan-lapisan yang segar dapat diwarnai dengan pikmen. Aluminium larut dalam asam mineral encer, tetapi dipasifkan oleh HNO3 pekat. Bila pengaruh perlindungan lapisan oksida dilakukan pengrusakan, misalnya dengan penggoresan atau dengan amalgamasi, penyerangan dengan cepat meskipun oleh air sekalipun dapat terjadi. Logamnya mudah bereaksi oleh larutan NaOH panas, halogen, dan berbagai nonlogam ( Cotton dan Wilkinson, 1989 ). Satu-satunya oksida aluminium adalah alumina, Al2O3. Meskipun demikian, kesederhanan ini diimbangi dengan adanya bahan-bahan polimorf dan terhidrat yang sifatnya bergantung pada kondisi pembutannya. Terdapat dua

bentuk anhidrat, Al2O3, yaitu, -Al2O3 dan -Al2O3. Logam-logam trivalensi lainnya misalnya Ga, Fe membentuk oksida-oksida yang mengkristal dalam sruktur yang sama. Keduanya mempunyai tatanan terkemas rapat ion-ion oksida tetapi berbeda dalam tatanan kation-kationnya ( Cotton dan Wilkinson, 1989 ).

Aluminium is manufactured by electrolysis at 950 0C of the oxide in solution in cryolite (to which calcium fluoride has been added to lower the meltingpoint), graphite lined steel tanks are used as the cathodes, graphite rods as the anodes. Molten aluminium sinks to the bottoms of the cell and is drawn off. The procces is expensive in terms of electric power used, and so aluminium production is usually associated with hydroelectric schemes. Aluminium is a hard white metal which has the cubic close-packed structure, it is used in building construction, domestic utensils, drinks containers, electric cables (it has a weight for weight conductance twice that of copper), and usually in alloys, in ship and in aircraft contruction. Thermodinamically it should react with both air and water, but in fact it is resistent to corrosion because of coating by a layer (10 -6- 10 -4mm thick) of the oxide. A thicker layer of the oxide (about 0,01mm) can be obtained by making aluminium the anode in the electrolysis of sulphuric acid, the product (anodised aluminium) will take up dyes and pigments to give a strong and decorative finish. If the ordinary surface film of oxide is broken by scratching or amalgamation, the metal is rapidly corroded. Aluminium dissolves in dilute mineral acids, but is made passive (i.e.coated with oxide) by concentrated nitric acid, aluminium hidroxyde is soluble in aqueous alkali, and the metal is rapidly attacked by the same reagent, hydrogen been liberated. The metal combines with halogens in the cold and with nitrogen on heating. Aluminium is often used as a reducing agent for the liberation of other metals from their oxides: the thermit process, for example, is based upon the reaction ( Sharpe, 1992). 2Al + Fe2O3 Al2O3 + 2Fe Aluminium diproduksi melalui elektrolisis pada 950 0C dari oksida dalam larutan kriolit (kalsium fluorida yang telah ditambahkan untuk menurunkan titik

leleh), karbon dilapisi baja anti karat yang digunakan sebagai katoda, batang karbon sebagai anoda. Aluminium cair tenggelam ke dasar sel dan ditarik. Pada proses ini digunakan energi listrik terlalu besar untuk produksi, sehingga aluminium biasanya dikaitkan dengan skema pembangkit listrik tenaga air. Aluminium adalah logam berwarna putih keras yang memiliki struktur kubikpadat, digunakan dalam konstruksi bangunan, peralatan rumah tangga, wadah minuman, kabel listrik (itu memiliki berat untuk konduktansi berat dua kali lipat dari tembaga), dan biasanya dalam paduan, di kontruksi kapal dan pesawat. Secara termodinamika, itu harus bereaksi dengan udara dan air, namun ternyata tahan terhadap korosi karena lapisan dengan lapisan (10-6 - 10-4 mm tebal) oksida. Sebuah lapisan oksida tebal (sekitar 0,01 mm) dapat diperoleh dengan membuat aluminium anoda pada elektrolisis asam sulfat, produk (anodisa aluminium) akan mengambil pewarna dan pigmen untuk memberikan menyelesaikan kuat dan dekoratif. Jika lapisan tipis permukaan oksida rusak oleh goresan atau penggabungan, maka logam cepat berkarat. Aluminium larut dalam asam mineral encer, tetapi dibuat pasif (dilapisi dengan oksida) dengan asam nitrat pekat, aluminium hidroksida larut dalam alkali berair, dan logam adalah cepat diserang oleh reagen yang sama, hidrogen telah dibebaskan. Logam menggabungkan dengan halogen dalam dingin dan dengan nitrogen pada pemanasan. Aluminium sering digunakan sebagai agen pereduksi untuk pembebasan logam lain dari oksida mereka: proses termit, misalnya, adalah didasarkan pada reaksi (Sharpe, 1992). 2Al + Fe2O3 Al2O3 + 2Fe We shall now see how the foregoing ideas, with certain changes of technical detail, can be used to describe the equilibrium properties of reaction taking place in electrochemical cells. The ability to make very precise

measurements of currents and potential differences (voltages) means that electrochemical methods can be used to determine thermodinamic properties of reaction that may be inaccessible by other methods (Atkins, 2006). Kita sekarang akan melihat bagaimana ide-ide sebelumnya, dengan perubahan tertentu dari detail teknis, dapat digunakan untuk menggambarkan sifat kesetimbangan reaksi yang terjadi dalam sel elektrokimia. Kemampuan untuk membuat pengukuran yang sangat tepat arus dan beda potensial (tegangan) berarti bahwa metode elektrokimia dapat digunakan untuk menentukan sifat

termodinamika reaksi yang dapat diakses oleh metode lain (Atkins, 2006). An electrochemical cell consist of two electrodes, or metallic conductors, in contact with an electrolyte, an ionic conductor (which may be a solution, a liquid, or solid ). An electrode and its electrolyte comprise an electrode compartment. The two electrodes may share the same compartment. The various kinds of electrode summarized in table 7.1. any inert metal shown as part of the specification is present to act as a source or sink of electrons, but no other part in the rection other than acting as a catalyst for it. If the electrolytes are different, the two compartments may be joined by a salt bridge, which is tube containinng a consentrated electrolyte solution (almost always potassium chloride in agar jelly) that completes the electrical circuit and enable the cell to function. A galvanic cell is an electrochemical cell that produces electricity as a result of the spontaneous reaction occuring inside it. An electrolytic cell is an electrochemical cell in which a non-spontaneous reaction is driven by an external source of current (Atkins, 2006). Sebuah sel elektrokimia terdiri dari dua elektroda, atau konduktor logam, kontak dengan elektrolit, sebuah konduktor ionik (yang mungkin menjadi solusi,

cair, atau padat). Sebuah elektroda dan bersifat elektrolit yang terdiri dari sebuah elektroda yang terpisah. Kedua elektroda dapat berbagi dalam ruang yang sama. Berbagai jenis elektroda diringkas dalam tabel 7.1. setiap logam inert disajikan sebagai bagian dari spesifikasi hadir untuk bertindak sebagai sumber atau tenggelam elektron, tetapi tidak ada bagian lain dalam koreksi selain bertindak sebagai katalis untuk itu. Jika elektrolit berbeda, dua kompartemen dapat bergabung dengan jembatan garam, yang merupakan tabung yang berisi larutan elektrolit pekat (hampir semua kalium klorida dalam bentuk gel agar) yang melengkapi rangkaian listrik dan memungkinkan sel berfungsi. Sebuah sel galvanik adalah sel elektrokimia yang menghasilkan listrik sebagai hasil dari reaksi spontan terjadi di dalamnya. Sebuah sel elektrolitik adalah sel elektrokimia di mana reaksi non-spontan didorong oleh sumber eksternal arus (Atkins, 2006). It will be familiar from introductory chemistry courses that oxidation is the removal of electrons a species, a rection is the addition of electrons to a species, and a redox reaction is a reaction in which there is a transfer of electrons from one species to another. The electron transfer may be accompanied by other events, such as atom or ion transfer, but net effect is electron transfer and hence a change in oxidation number of an element. The reducing agent ( or reductant ) is the electron donor, the oxidizing agent ( or oxidant ) is the electron acceptor. It should also be familiar that any redox reaction may be expressed as the difference of two reduction half reaction, which are conceptual reaction showing the gain of electrons. Event reaction that are not redox reaction s may often be expressed as the difference of two reduction half reactions. The reduced and oxidized species in a half reaction form a redox couple. In general we write a couple as Ox/Red and the corresponding reduction half reaction as (Atkins,2006).

Ox + Ve- Red Ini akan akrab dari kursus kimia pengantar bahwa oksidasi adalah penghilangan spesies elektron, koreksi adalah penambahan elektron ke spesies, dan reaksi redoks adalah reaksi di mana ada transfer elektron dari satu spesies yang lain. Transfer elektron dapat disertai oleh peristiwa lain, seperti atom atau transfer ion, tetapi efek bersih adalah transfer elektron dan karenanya perubahan bilangan oksidasi dari suatu elemen. Zat pereduksi (reduktor atau) adalah donor elektron, agen pengoksidasi (atau oksidan) adalah akseptor elektron. Hal ini juga harus akrab bahwa setiap reaksi redoks dapat dinyatakan sebagai perbedaan dari dua reaksi setengah reduksi, reaksi konseptual yang menunjukkan penambahan elektron. Acara reaksi yang tidak reaksi redoks ini sering dapat dinyatakan sebagai perbedaan dari dua setengah reaksi reduksi. Spesies berkurang dan teroksidasi dalam reaksi setengah membentuk pasangan redoks. Secara umum kita menulis rangkaian reaksi oksidasi/reduksi dan setengah reaksi reduksi yang sesuai sebagai (Atkins,2006). Ox + Ve- Reduksi Grafik 1.7 jenis- jenis elektroda Jenis elektroda logam/ion logam Gas Logam/garam larut Redox Pt(s)+M+(aq),M2+(aq M2+/ M+ M2+(aq)+e- M+(aq), Penunjuk M(s)M+ (aq) Pt(s)X2(g)X-(aq) M(s) MX(s)X-(aq) Pasangan redoks M+ / M X2 /XMX/M,XM+ (aq) + e- M (s) X+(aq) + e- 1/2 X2(g) 1/2 X2(g)+e- X-(aq) MX(s)+e- M(s) + X- (aq) Pt(s)X2(g) X+(aq) X+/ X2 Setengah reaksi

Untuk reaksi yang reversibel, jalan reaksi dapat dibalik hanya dengan menambah sedikit tenaga dari luar. Pada elektrolisis biasa, kita selalu menggunakan elektroda yang sama dimasukkan dalam larutan yang bersangkutan. Di sini elektrodanya sama, jadi seharusnya tidak ada emf lawan. Hal ini tidak benar. Pada elektrolisis yang menghasilkan gas H2 dan O2, ternyata timbulnya kedua gas ini baru mulai setelah E lebih besar dari 1,7 volt. Hal ini dapat diterangkan dengan menganggap bahwa adanya gas yang menempel pada elektroda menyebabkan elektroda berubah menjadi elektroda aktif yang seimbang dengan ion-ion yang bersangkutan. Dengan ini timbul emf lawan. Tidak hanya untuk gas saja, tetapi juga untuk logam-logam, dan sebagainya. Perbedaan konsentrasi, pada kedua elektroda akibat elektrolisis, menyebabkan timbulnya beda potensial. Beda potensial ini dapat melawan E luar. Perbedaan konsentrasi ini diperkecil oleh adanya aliran ion dan difusi. Juga dengan jalan pengadukan polarisasi konsentrasi dapat dieliminer (Sukardjo, 1997). Penggunaan penting lainnya dari aluminium ialah sebagai pengantar listrik. Untuk kabel dengan garis tengah tertentu, Al hanya mempunyai konduktivitas sekitar 60% dari konduktivitas Cu, tetapi karena rapatannya yang rendah maka bila berdasarkan massa, Al lebih baik bila dibandingkan Cu. Kerena hal ini, Al

digunakan dalam kabel transmisi listrik dalam masa kini. Tetapi, aluminium dalam kabel listrik rumah dipandang sebagai penyebab kebakaran. Diantar penggunaan yang umum dari aluminium adalah dalam pembuatan poci, panci, dan alat-alat dapur lainnya.baik logam maupun ionnya ( Al3+) tidak beracun ( Petrucci, 1992). Aluminium adalah bahan pereduksi yang baik dalam arti cukup mudah teroksidasi. Contoh, Al larut dalam asam membentuk H2(g). 2 Al(p) + 6 H+(aq) 2 Al3+ (aq) + 3H2(g)

Bila terdapat bahan pengoksidasi yang baik dalam larutan asam, beberapa spesies selain H+ direduksi, seperti dalam H2SO4(aq) yang SO42- nya direduksi menjadi SO2(g) (Petrucci, 1992). 2 Al(p) + 12 H+ (aq) + 3 SO42-(aq) 2 Al3+ (aq) + 6H2O + 3 SO2(g).

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK

ANODASI ALUMINIUM

NAMA NIM KEL/REGU HARI/TGL PERC ASISTEN

: SYARIFUDDIN : H 311 09 002 : I (SATU)/1 (SATU) : SENIN/19 SEPTEMBER 2011 : IHSAN CHARISMAWAN

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Dalam kehidupan di muka bumi ini, manusia tidak pernah lepas dari bendabenda yang anti karat, seperti peralatan rumah tangga dan kebutuhan lainnya yang tahan lama dan tidak cepat rusak. Benda demikian itu merupakan benda yang tidak asing lagi bagi manusia. Benda-benda tersebut terbuat dari aluminium. Berbagai benda yang terbuat dari aluminium tersebut sengaja dirancang oleh manusia karena keberadaannya sangat bermanfaat, selain sifatnya yang anti karat, kuat dan keras. Aluminium juga memiliki sifat seperti wujudnya yang mengkilap, ringan, mudah dibentuk sehingga tidak sulit mengubah bentuknya. Dengan sifatnya yang mudah dibentuk itu, maka dengan mudah manusia dapat membuat berbagai alat dan perabot yang sifatnya sangat mendukung dan membantu manusia. Bahanbahan yang paling banyak diproduksi untuk akhir-akhir ini berupa bahan bangunan, elektronik dan berbagai produk lainnya. Selain itu, jika produk dari aluminium itu rusak, maka dengan mudah pulah diperbarui kembali. Aluminium juga bersifat lebih reaktif sehingga lebih mudah dan lebih cepat bereaksi dengan larutan asam encer yang nantinya akan melepaskan hidrogen. Selain itu, aluminium juga dapat diubah ukuran ketebalannya dengan cara anodasi, sehingga dapat diperoleh logam aluminium yang tahan terhadap proses yang disebut oksidasi sehingga lebih tahan dalam melindungi suatu lapisan dibawahnya terhadap proses oksidasi yang berlangsung selanjutnya. Berdasarkan pengantar dari kehidupan luar dan teori yang ada di atas maka diadakanlah praktikum ini sebagai wadah membandingkan teori yang ada

sebelumnya dan untuk mengetahui cara melakukan teknik anodasi aluminium melalui proses elektrolisis. 1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan 1.1.1. Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini adalah untuk mempelajari kemungkinan peningkatan ketebalan lapisan oksida logam aluminium melalui proses anodasi dan pewarnaan. 1.1.2. Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini yaitu : 1. Manghitung berat logam aluminium sebelum dan sesudah proses anodasi. 2. Menghitung rendamen logam aluminium hasil anodasi. 1.2. Prinsip Percobaan Prinsip dari percobaan ini adalah logam aluminium dianodasi melalui proses elektrokimia dengan cairan elektrolit asam sulfat. Pewarnaan logam hasil anodasi melalui pencelupan logam ke dalam campuran kalium kromat dan amonium oksalat dan kemudian dicelupkan ke dalam air mendidih.

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu lempeng logam Aluminium (Al), asam sulfat (H2SO4), kalium kromat (KCrO4), amonium oksalat ((NH4)2C2O4), akuades, tissue roll, dan detergen. 3.2 Alat Alat yang digunakan dalan percobaan ini yaitu gelas kimia 50 mL, gelas kimia 250 mL, gunting, pinset, neraca analitik, stopwatch, power supply, kawat, penjepit alligator, kawat kasa, pipet tetes, pemanas, dan batang pengaduk. 3.3 Prosedur Percobaan 3.3.1 Proses Anodasi Aluminium Lempeng Al digunting dan dilekukkan menyerupai silinder sesuai dengan ukuran gelas kimia 50 mL, kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia 50 mL. Dengan penjepit aligator, aluminium yang berbentuk silinder dihubungkan dengan kawat. Keping aluminium lain digunting dengan ukuran yang hampir sama sebanyak 3 keping, dicuci dengan detergen, dan dibilas dengan aquades sampai bersih, lalu untuk memegang keping ini sebaiknya digunakan pinset. Kemudian keping aluminium dikeringkan, dan ditimbang. Dengan penjepit alligator, keping aluminium bersih dihubungkan dengan kawat lain. Keping ini diletakkan persis ditengah silinder aluminium di dalam gelas kimia, sedemikian rupa sehingga tidak

bersentuhan dengan silinder. Keping bertindak sebagai anoda, sedangkan silinder berperan sebagai katoda. Selanjutnya, dengan hati-hati, dituangkan larutan 3 M asam sulfat ke dalam gelas kimia sampai sebagian besar keping aluminium tercelup. Permukaan larutan asam diusahakan tidak menyentuh penjepit alligator. Untuk mencegah pemercikan, sebaiknya ditambahkan sedikit detergen. Kedua kawat dihubungkan ke sumber arus DC 6 volt. Setelah lima menit, sumber arus dinaikkan menjadi 12 volt. Jika pada proses elektrolisis ini terbentuk gelembung-gelembung gas, berarti percobaan berlangsung dengan baik. Mendapatkan perbandingan hasil, sebaiknya dilakukan variasi waktu anodasi, 5 menit, 10 menit, dan juga 15 menit. Kemudian hasilnya dibandingkan satu sama lain. 3.2.2 Proses Pewarnaan Larutan pewarna disiapkan dengan melarutkan kalium kromat dan ammonium oksalat dalam 200 mL aquades masing-masing 0,5 mL. Larutan ini dipanaskan sampai mendidih, dan dicelupkan keping aluminium I, II, dan III hasil anodasi ke dalam larutan selama beberapa menit (sesuai dengan waktu anodasi masing-masing keping). Pembentukan warna dapat diamati dengan seksama. Untuk tahap ini perlu diperhatikan perubahan yang terjadi. Setelah itu, keping aluminium dicelupkan ke dalam air mendidih selama 5, 10 dan 15 menit. Selanjutnya masingmasing keping Al ditimbang kembali.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel Pengamatan Tabel hasil pengamatan anodasi aluminium Keping Logam Aluminium I II III Berat Keping Logam Aluminium Sebelum Anodasi 0,41,07 gram 0,4120gram 0,3940gram Setelah Anodasi 0,4223 gram 0,4203 gram 0,3946 gram

Tabel waktu yang digunakan dalam anodasi aluminium Waktu Anodasi (menit) 5 10 15 Keterangan: tidak terjadi perubahan warna 4.2 Reaksi Kimia Anoda : 2Al Al3+ + 3e- x 2 x3+

Hasil Anodasi -

Katoda : 2H+ + 2e- H2 4Al + 6H+ 2Al3+ + 3H2 Reaksi lengkap : 4Al + 3 H2SO4 4Al + 3 H2SO4 + 3H2O

Al2O3 + Al2(SO4)3 + 3H2 Al2O3 + Al2(SO4)3 + 6H2

4.3 Pembahasan Pada percobaan ini kita akan menelaah kemungkinan peningkatan

ketebalan lapisan oksida logam melalui proses anodasi. Logam yang digunakan pada percobaan ini adalah aluminium. Sehingga akan dihasilkan logam yang lebih tahan terhadap oksidasi dan berpenampilan lebih menawan. Pertama-tama lempeng aluminium digunting dan dilekukkan menyerupai silinder sesuai ukuran gelas kimia 50 mL di mana selanjutnya akan bertindak sebagai katoda. Dengan penjepit aligator silinder lempeng aluminium dihubungkan dengan kawat dan dihubungkan dengan power supply sebagai sumber arus. Kemudian gelas kimia 50 mL tersebut diisi dengan asam sulfat 2 M berfungsi sebagai larutan elektrolit di mana nantinya asam sulfat akan mengalami reaksi reduksi dan kita menggunakan asam sulfat karena logam akan mengalami proses korosi dengan cepat pada suasana asam. Selanjutnya lempeng aluminium digunting dengan ukuran sekitar 1,5 x 3 cm sebanyak 3 keping dan dinamakan sebagai logam I, logam II, logam III, kemudian dicuci dan dibersihkan dengan aquades kemudian dengan air panas, air panas berfungsi agar pori-pori pada aluminium terbuka sehingga pencucian aluminium betul-betul bersih karena sampai masuk ke dalam pori-pori logam. Kemudian setelah dicuci pada air panas selanjutnya dicuci dengan detergen, detergen digunakan untuk menghilangkan lapisan lemak yang mungkin melekat dipermukaan logam. Jadi pencucian aluminium betul-betul bersih karena selain mencuci pada permukaan logam juga dilakukan pencucian sampai ke dalam poripori tersebut. Setelah dilakukan pencucian pada aluminium, agar tidak kotor dan betul-betul bersih, ketiga lempeng aluminium dijepit dengan menggunakan pinset yang bersih dan ketiga-tiganya ditimbang pada neraca Ohaus dengan tujuan untuk

mengetahui berat keping sebelum proses elektrolisis. Dengan penjepit aligator, keping aluminium bersih dihubungkan dengan kawat lain. Keping ini diletakkan persis ditengah silinder aluminium di dalam gelas kimia 50 mL, diatur sedemikian rupa sehingga tidak bersentuhan dengan silinder dan diusahakan agar keping aluminium tercelup setengahnya (agar dapat juga diamati mana yang mengalami dan yang tidak mengalami proses korosi akibat perendaman dengan asam sulfat) dan jangan sampai penjepit buaya terkena dengan larutan asam sulfat karena ditakutkan nantinya penjepit tersebut mengalami proses korosi. Kawat

dihubungkan ke power supply 6 volt. Untuk mengamati variasi waktu anodasi dilakukan pada waktu 5, 10, dan 15 menit. Pada saat dikeluarkan dari larutan asam sulfat logam aluminium mengalami pemudaran warna dan semakin pudar dengan bertambahnya waktu elektrolisis. Perbedaan warna tersebut menunjukkan adanya lapisan oksida pada logam aluminium yang mengandung sedikit ion sulfat dari alrutan asam sulfat. Lapisan oksida ini memiliki pori-pori yang jaraknya teratur. Dengan pori-pori yang teratur ini maka lapisan oksida sangat mungkin menyerap partikel berwarna sehingga logam aluminium yang nantinya akan mengalami proses pewarnaan dapat diwarnai dengan berbagai ragam warna yang diinginkan. Setelah dilakukan proses elektrolisis setiap kepingnya selanjutnya dilakukan pewarnaan pada logam aluminium. Pewarnaan yang disiapkan adalah dengan melarutkan kalium kromat dan ammonium oksalat dengan berat masingmasing 0,5 gram dalam 100 mL. Setelah dilakukan proses elektrolisis selama waktu yang ditentukan, setiap kepingnya dimasukkan dalam larutan selama waktu yang digunakan dalam elektrolisis. Setelah itu, keping aluminium dicelupkan kembali ke dalam air mendidih selama waktu yang ditentukan dan digunakan oleh

masing-masing keping aluminium. Pencelupan ini mengakibatkan beberapa oksida akan mengalami hidrasi dan mengembang dan dengan sendirinya akan menutupi pori-pori yang ada. Menurut teori yang ada bahwa warna yang terbentuk setelah proses pewarnaan dan pemanasan terhadap air panas adalah warna kuning muda atau kecoklatan. Warna kuning muda/coklat tersebut berasal dari larutan amonium oksalat dan kalium kromat. Namun, dalam percobaan yang kami lakukan tidak menimbulkan perubahan warna yang menonjol, tapi berat sampel mengalami perubahan berupa penambahan berat seiring lamanya perendaman dalam pewarna, elektrolisis dan pemanasan dalam air. Kemudian keping aluminium dikeringkan dengan menggunakan tissu dan ditimbang pada neraca Ohauss. Setelah dilakukan penimbangan, didapatkan berat aluminium setelah dianodasi untuk logam I, II dan III berturut-turut 0,4123 gram, 0,4203 gram, dan 0,3946 gram. Setelah dilakukan pengolahan data (perhitungan) didaptkan berat rendamen untuk keping I yaitu 6,06 %, keping II yaitu 15,72 %, dan keping III berat rendamennya sebesar 0,76 %. Sesuai hasil perhitungan rendamen, diperoleh data yang yang tidak beraturan. Semestinya persentase rendamen meningkat seiring dengan meningkatnya waktu yang digunakan. Hal ini kemungkinan diakibatkan ketidaktelitian dalam melakukan pengamatan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diperoleh setelah melakukan percobaan ini adalah: 1. Berat logam aluminium sebelum anodasi untuk keping I = 0,4107 gram, keping II = 0,4120 gram dan keping III = 0,3940. Berat logam aluminium setelah anodasi untuk keping I = 0,4123 gram, keping II = 0,4203 gram, dan keping III = 0,3946. 2. Rendamen dari logam aluminium untuk keping I = 6,06 %, keping II = 15,72 %, dan keping III = 0,76 %. 5.2. Saran Sebaiknya kebersihan laboratorium lebih diperhatikan lagi dan alat yang dipinjamkan sebaiknya diganti apabila sudah berkarat agar tidak mempengaruhi hasil praktikum dan dalam melakukan percobaan ini praktikan harus lebih teliti dalam penimbangan dan pewarnaan agar tidak terjadi kesalahan.

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 23 September 2011 Asisten Praktikan

IHSAN CHARISMAWAN

SYARIFUDDIN

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, Peter, 2006, physical chemistry Edisi kedelapan, University of oxford, New York. Cotton, F. Albert dan Wilkinson, G., 1989, Kimia Anorganik Dasar, Universitas Indonesia (UI- Press), Jakarta. Petrucci, R.H., 1992, Kimia Dasar Edisi Keempat Jilid 2, Erlangga, Jakarta. Sharpe, G. Alan, 1992, Inorganic Chemistry 3rd edition, University of Cabridge, Cabridge. Sukarjo, 1997, kimia fisika, PT Rieneka Cipta, Jakarta.

Lampiran 2. Perhitungan Berat Teori: Logam I (anodasi selama 5 menit = 300 sekon) Mr 102 g/mol BE Al2O3: = = 17 g/mol ekuivalen n 6e BE x I x t 17 x 0,5 A x 300 s 2550 Berat teori : = = = 0,0264 gram 96500 96500 96500 Logam II (anodasi selama 10 menit = 600 sekon) BE x I x t 17 x 0,5 A x 600 s 5100 Berat teori : = = = 0,0528 gram 96500 96500 96500 Logam III (anodasi selama 15 menit = 900 sekon) BE x I x t 17 x 0,5 A x 900 s 7650 Berat teori : = = = 0,0793 gram 96500 96500 96500 Berat Praktek Logam I (anodasi selama 5 menit = 300 sekon) Berat praktek = berat setelah anodasi berat sebelum anodasi = 0,4123 gram 0,4107 gram = 0,0016 gram Logam II (anodasi selama 10 menit = 600 sekon) Berat praktek = berat setelah anodasi berat sebelum anodasi = 0,4203 gram 0,4120 gram = 0,0083 gram Logam III (anodasi selama 15 menit = 900 sekon) Berat praktek = berat setelah anodasi berat sebelum anodasi

= 0,3946 gram 0,3940 gram = 0,0006 gram Rendamen Logam I (anodasi selama 5 menit = 300 sekon) Berat praktek Rendamen = x 100 % Berat teori 0,0016 gram = x 100 % 0,0264 gram = 0,0606 x 100 % = 6,06 % Logam II (anodasi selama 10 menit = 600 sekon) Berat praktek Rendamen = x 100 % Berat teori 0,0083 gram = x 100 % 0,0528 gram = 0,1572 x 100 % = 15,72 % Logam III (anodasi selama 20 menit = 1200 sekon) Berat praktek Rendamen = x 100 % Berat teori 0,0006 gram = x 100 % 0,0793 gram = 0,0076 x 100 % = 0,76 %